Hasil pencarian
Cari di situs ini
10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bukan Sembarang Usman
BIASANYA nama bapak melekat pada anaknya. Ini justru sebaliknya. Haji Usman, seorang jawara kharismatik, lebih dikenal dengan sebutan Usman Debot. Pangkalnya karena anak perempuannya yang cantik jelita. “Nama aslinya Usman. Anak pertamanya perempuan, namanya Debot. Anaknya cakep. Bahenol dah. Makanya dia dipanggil Usman Debot. Umurnya dua tahun lebih tua dari saya,” ujar Adung Sakam, 85 tahun, kawan seperjuangan Usman Debot kepada Historia. Usman Debot memimpin laskar Bambu Runcing di Cibinong, yang kesohor dan disegani. Bambu Runcing merupakan pasukan rahasia, dibentuk Tan Malaka dan Jenderal Sudirman awal 1948 untuk mengisi kekosongan pasukan di Jawa Barat setelah Divisi Siliwangi hijrah ke Yogyakarta sesuai kesepakatan dalam Perjanjian Renville. Bahar Rezak, pemimpin Laskar Rakyat Jakarta Raya, menjadi komandan tertingginya.
- Mat Depok, Sekondan Menteri Keamanan Rakyat
NAMA aslinya Daeran. Lahir tahun 1910. Pernah ditahan Belanda di Pulau Onrust karena merampok. Pada 1935, bebas dari Onrust, dia ke Berland, Matraman. Di sana Daeran bertemu Nyai Emah, perempuan cantik dari Karawang yang jadi “nyainya” orang Belanda. Dengan kepandaiannya, Daeran berhasil mencuri hati Nyai Emah. Si Nyai dibawa kabur ke kampong halamannya di Tanah Baru (kini masuk wilayah Depok –berbatasan langsung dengan Ciganjur, Jakarta Selatan). Jadilah Daeran buronan kompeni. Agar aman, Nyai Emah dititipkan di Pengasinan, Sawangan, di rumah guru silatnya. Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Daeran berada di garis depan. Dia berkawan dengan Imam Syafe’i alias Bang Pi’ie, pemimpin para jago di Pasar Senen dengan organisasinya Oesaha Pemoeda Indonesia. Selain di kancah perjawaraan, Daeran dan Bang Pi’ie kawan seperjuangan di Karawang.
- Depok, Tanah Warisan Saudagar VOC
KENDATI sama-sama mendulang kekayaan di Hindia Belanda, Cornelis Chastelein bersilang jalan dengan VOC. Pada 1691, Chastelein memutuskan pensiun sebagai saudagar. Dia mengundurkan diri dari kongsi dagang Belanda itu karena menolak politik eksploitasi yang diterapkan Gubernur Jenderal Mr. Willem of Outhoorn. Chastelein menyadari bahwa sebuah koloni akan stabil dan makmur apabila penduduknya tidak ditindas. Pada 1695, Chastelein membeli beberapa lahan partikelir di selatan Batavia di antaranya adalah Serengseng (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. Tanah di Serengseng dibangun menjadi rumah peristirahatan menikmati masa pensiunnya. Sementara itu, tanah Depok hendak dijadikannya sebagai lahan penghasil produk-produk pertanian. “Sebagai penguasa tanah Depok, Chastelein ingin mewujudkan cita-cita memerintah dengan pendekatan soft-power dan penyebaran nilai Kristen,” ujar Lilie Suratminto, dosen Sastra Belanda FIB UI.
- Perang dan Pandemi
DI TENGAH pandemi Covid-19 masih melanda dunia, Presiden Rusia Vladimir Putin memutuskan menyerang Ukraina pada 24 Februari 2022. Militer Rusia menyerang berbagai tempat di Ukraina. Ledakan terdengar di mana-mana. Korban pun berjatuhan. World War 3 atau Perang Dunia 3 menjadi trending topic. Dan Perang Dunia I (1914–1918) juga terjadi di tengah pandemi Flu Spanyol pada 1918. Bahkan, perang itu berandil besar dalam menyebarkan wabah Flu Spanyol. Sejarawan Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial, 1918–1919, menyebut bahwa pandemi Flu Spanyol terjadi ketika Perang Dunia I tengah berkecamuk. Peperangan itu sendiri menjadi salah satu alasan kuat di balik penyebaran virus influenza tersebut.
- Sepakbola Iran di Antara Senjata dan Minyak
KENDATI sarat kontroversi, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko kini sudah melewati separuh turnamen. Ketimbang Meksiko dan Kanada sebagai co-host, AS paling problematik. Alhasil, timnas Iran jadi satu dari 48 peserta yang paling terzalimi. Sederet kontroversi sudah tercipta menjelang turnamennya. Banyak suporter dari negara-negara peserta dilarang masuk wilayah AS dengan tak diberikan visa, mulai dari Iran, Pantai Gading, Senegal, hingga Haiti. Bahkan wasit resmi FIFA asal Somalia yang harusnya ikut tampil jadi pengadil, Omar Abdulkadir Artan, ditolak masuk. Beberapa tim peserta seperti Uruguay, Senegal, Uzbekistan, dan Irak harus menjalani pengecekan keamanan lebih ketat ketimbang tim-tim lain, sampai isi bagasi mereka diperiksa. Sebulan pasca-negerinya dikeroyok oleh AS dan Israel yang menewaskan banyak pejabat tinggi Iran –termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei– serta 168 siswi sekolah di Minab, federasi sepakbola Iran pada Maret 2026 mempertimbangkan untuk mundur dari Piala Dunia 2026. Sebulan kemudian, permintaan Iran untuk merelokasi venue pertandingan mereka ke Kanada atau Meksiko ditolak FIFA.
- Ketika Kapten Toni Mrlak “Ditumbalkan” dalam Perang Kemerdekaan Slovenia
KAPTEN Udara Toni Merlak, komandan Squadron Helikopter Gazelle AU Yugoslavia di Brnik, Ljubljana, Slovenia, segera menghentikan laju helikopter Gazelle SA 341 yang dipilotinya begitu mencapai Distrik Potrčeva. Helikopter AU Yugoslavia bernomor seri 664 itu pun melayang di atas flat-flat penduduk pada 27 Juni 1991 malam itu. Toni segera melambaikan tangannya begitu ibu mertuanya sudah terlihat keluar ke balkon dari flatnya di lantai delapan. Lambaian itu dibalas lambaian tangan oleh mertuanya. Menyapa anggota keluarga sesaat dari udara merupakan hal biasa yang dilakukan Toni ketika terbang di atas Potrčeva. “Toni selalu terbang agar kami bisa mendengarnya dan kami semua lari ke balkon,” kata Dragica Potočnjak, aktris sekaligus penulis yang merupakan ipar Toni, sebagaimana dikutip jurnalis Patricia Malicev dalam “Why did Toni Mrlak have to Die?” yang dimuat di old.delo.si. Malam itu, Toni mendapat tugas mengantar roti ke barak militer Vrhnika. Toni nekat menjalankan misi tersebut. Selain helinya tidak dipersenjatai, barak Vrhnika dikelilingi wilayah kantong-kantong pertahanan pasukan perjuangan kemerdekaan Slovenia. Padahal, 27 Juni itu merupakan hari pertama Perang 10 Hari atau Perang Kemerdekaan Slovenia.
- 27 Juni 1991: Perang 10 Hari Antar Slovenia Gapai Kemerdekaan
HARI ini, 27 Juni 1991. Kapten Toni Mrlak, pilot AU Yugoslavia asal negara bagian Slovenia sekaligus komandan satuan heli Gazelle di kota Brnik, akhirnya bisa santai. Sejak pagi dia melakukan tugas terbang mengantarkan Jenderal Marjan Vidmar, kepala Staf Umum Garnisun ke-14 Ljubljana, melakukan pengintaian udara di atas wilayah Slovenia. Waktu santainya itu dia pergunakan untuk mengobrol bareng Letnan Ljubomir Sandevski, rekannya sesama pilot, di kantin barak Sentvid. Namun saat mereka serius berbincang itulah sekira pukul 6.30 Letkol Miko Stamenkovic, komandan mereka, datang. Toni diperintahkan Stamenkovic membeli roti ke toko roti di Kodeljevo dan mengangkutnya ke barak militer Vrhnika di Slovenia. Dengan suka hati menerimanya Toni. Tak berapa lama kemudian, dia pun berangkat menerbangkan helikopter Gazelle SA 341 bernomor 664 ditemani teknisi Bojanče. Kendati tugas itu berbahaya, Toni menerimanya karena melihat ada peluang untuk mewujudkan cita-cita rahasianya lewat tugas itu. Dia bisa melarikan heli milik AU Yugoslavia untuk dijadikan heli Slovenia.
- Saat Pelantikan KSAD Diboikot
UPACARA pelantikan Kolonel Bambang Utoyo sebagai orang nomor satu di Angkatan Darat (KSAD) barangkali paling menyedihkan sepanjang sejarah TNI. Seremoni yang sedianya berlangsung di halaman Istana Merdeka secara kebesaran militer, dipindahkan ke aula Istana Negara. Batalion Kehormatan tidak tampak. Kumandang lagu “Indonesia Raya” bukan diiriingi oleh barisan musik militer, melainkan barisan musik dari pasukan pemadam kebakaran. “Pelantikan KSAD Bambang Utoyo diboikot,” demikian berita harian Pemandangan, 28 Juni 1956. Hari itu, 27 Juni 1955, Presiden Sukarno melantik Bambang Utoyo menjadi KSAD menggantikan Jenderal Mayor Bambang Sugeng. Tidak seperti pelantikan KSAD sebelum dan sesudahnya, pelantikan Bambang Utoyo berlangsung secara sederhana. Meski demikian, pelantikan Bambang Utoyo akhirnya rampung juga. Presiden Sukarno selaku panglima tertinggi mengangkat sumpah Bambang Utoyo secara Islam. Setelah itu, Bung Karno menanggalkan tanda pangkat kolonel pada pundak Bambang Utoyo dan menggantinya dengan pangkat jenderal mayor. Pada tangan kanan Bambang Utoyo, perban putih tampak di ujung menutupi luka cacat permanen semasa Perang Kemerdekaan.
- Luhut Tak Sempat Menjabat KSAD
RASA haru membuncah di raut wajah Luhut Binsar Panjaitan kala menyaksikan menantunya, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Tangisnya bahkan pecah saat merangkul dan menyematkan ucapan selamat kepada Maruli, yang tak lain suami dari Paulina br. Panjaitan –putri sulung Luhut Panjaitan. Boleh jadi itu adalah luapan kebahagian Luhut atas pencapaian karier militer yang ditorehkan sang mantu. Sebelum dilantik menjadi KSAD, Maruli menjabat sebagai panglima Kostrad. “Jadi kalau kita di keluarga, Pak Luhut dulu juga bercita-cita menjadi KSAD. Cuma ya, sekarang cukup menantunya sajalah,” kata Jenderal Maruli seraya tersenyum dalam keterangan persnya usai dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, 29 November 2023. Semasa masih aktif di TNI, Luhut memang bercita-cita menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat. Namun, harapan itu tak kesampaian. Padahal, Luhut disebut-sebut sebagai salah satu perwira militer terbaik yang pernah dimiliki TNI Angkatan Darat. Ketika lulus Akabri tahun 1970, Luhut menyandang predikat Adhi Makayasa (taruna terbaik).
- Pekik Sunyi dari Jalan Kenari
DERETAN kios pedagang peralatan listrik memanjang hingga 300 meter di Jalan Kenari Raya yang hanya muat dilalui dua mobil minibus. Mobil boks yang parkir berjejer di sisi kiri dan kanan mempersempit ruas jalan tembus yang memintas jarak dua jalan utama dari Salemba Raya ke arah Jalan Diponegoro. Menjelang sebuah tikungan di pengujung Jalan Kenari II, sebuah gedung tua masih berdiri tegak. Kecuali warna dan suasana sekitar, bentuk bangunan yang kini berfungsi sebagai Museum M.H. Thamrin itu dibiarkan seperti sediakala. Di halaman berlantai batu alam itu berdiri patung M.H. Thamrin. Pagar besi bercat hijau nyaris menutup rapat halaman, menyisakan sebuah celah masuk bagi motor. Pada sisi kiri dalam pagar terdapat pos keamanan, sementara di sisi kiri luar pagar terpajang sebuah memorabilia setinggi satu meter memuat keterangan sosok M.H. Thamrin. Sejak dipugar pada 1985, gedung yang menempati lahan seluas 3.000 meter persegi tersebut dikembangkan sebagai pusat dokumentasi perjuangan M.H. Thamrin. Menurut pengelola museum, gedung itu dibangun pada abad ke-19. Namun tak banyak catatan mengenai fungsi dan siapa pemilik awalnya. Riwayatnya baru diketahui sejak awal abad ke-20. Saat itu, gedung masih berfungsi sebagai rumah pemotongan hewan dan penyimpanan buah-buahan dari luar negeri. Pemiliknya seorang Belanda yang biasa dipanggil Meneer de Has. Dari tempat itu, De Has mendistribusikan daging dan buah ke pasar yang ada di Batavia. Karena itu, gerobak-gerobak kuda sering kali hilir mudik di tempat itu.
- Kentang dalam Karamnya Kapal Selam Jepang
PERTEMPURAN pasukan Amerika Serikat dan Jepang di Pasifik pada masa Perang Dunia II tak hanya melahirkan beragam kisah heroik, tetapi juga legenda yang menarik perhatian. Salah satu legenda yang banyak dibicarakan adalah peran kentang dalam karamnya kapal selam Jepang pada April 1943. Ketika itu, kapal perang Amerika Serikat, USS O’Bannon (DD-450) tengah berlayar kembali ke pangkalan setelah terlibat dalam kampanye militer di Kepulauan Solomon. Kapal itu berlayar di tengah malam dan bertemu kapal selam Jepang, RO-34. Menurut Glenn M. Hardin dan James W. Grace dalam “Depth Charges, Rods, and Spuds!”, termuat di majalah Naval History Volume 19, Nomor 3, Juni 2005, saat itu wilayah operasi kapal O’Bannon adalah The Slot, sebuah jalur yang sangat diperebutkan di tengah Kepulauan Solomon, tempat pasukan Angkatan Laut AS berjuang melawan Armada Gabungan Jepang untuk memperebutkan kendali.
- Menghitung Lelembut di Jawa
MOHON dimaafkan hamba hendak menghitung, makhluk halus di Nusa Jawa, yang menjadi penjaga setiap kota, para raja makhluk halus, besar kegunaannya, jika bisa mengingatnya satu per satu, mampu untuk menolak ilmu hitam, bisa dibuat membantu kesembuhan yang sakit karena guna-guna, pohon dan tanah yang angker akan jadi tawar. Begitulah bait pembuka dari 26 bait dari apa yang dinamakan Suluk Plencung. Suluk ini sudah lama tak dilantunkan. “Dituliskan pada era Sultan Agung. Suluk ini dilagukan dengan Sinom, itu berarti ditujukan kepada Sunan Giri, sebagai wali tertua,” ujar Herman Sinung Janutama, peneliti manuskrip kuno dari Yogyakarta.





















