top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tentara Rusia di Pesawat Tempur Indonesia

    SUATU hari di tahun 1962. Beberapa prajurit Resimen Tempur ke-831 dipanggil secara mendadak ke Moskow. Di depan para anggota Angkatan Udara Uni Soviet itu, seorang petinggi militer bernama Letnan Jenderal A.F. Semyonov mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa hari ke depan mereka akan ditugaskan di suatu tempat yang merupakan salah satu titik konflik di dunia. “Dia tidak menyebut tempat atau nama negara mana pun saat itu kepada kami. Yang jelas wilayah yang akan dituju, kata dia, memiliki perbedaan adat istiadat dan cuaca yang sangat berbeda dengan negara kami,” ungkap K. Dimitriev, seperti dikutip oleh sejarawan militer Uni Soviet Alexander Okorokov dalam buku Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Soviet). Beberapa hari kemudian, Dimitriev dan kawan-kawannya sudah berada di pesawat sipil Ilyushin-18 (Il-18). Setelah transit di Tashkent, New Delhi dan Rangoon, mereka belum juga mendapatkan kepastian akan menuju negara mana. Barulah ketika pesawat lepas landas, di atas Rangoon, kopilot memberikan kepada mereka masing-masing sebuah amplop.

  • Senembah Tan Malaka

    NUN jauh di Zurich, Swiss sana, terdapat bangunan megah bernama Villa Patumbah. Nama villa itu tak berbau Eropa, melainkan mirip nama sebuah daerah di Sumatra Utara. Villa itu dibantung Karl Fürchtegott Grob (1830-1893) setelah dia kaya sepulang dari Sumatra. Selagi muda, Grob merupakan lelaki yang putus sekolah lalu mengadu peruntungan dengan menjadi pedagang. Mula-mula dia pergi ke Messina, di sekitar pulau Sisilia, Italia. Di sana dia mengenal Hermann Naeher. Keduanya lalu bersatu dalam Firma Grob & Naeher. Kabar kesuksesan penanaman tembakau di Deli sampai kepada mereka sekitar tahun 1869. Mereka pun berangkat ke Medan. Mula-mula seorang Swiss bernama Albert Breker menampung mereka untuk sementara waktu di sekitar Medan. Breker adalah pendiri perkebunan yang dikenal sebagai Onderneming Halvetia. Sampai Kesultanan Serdang memberi mereka kesempatan.

  • Tiga Sopir Palang Merah yang Jadi Pesohor Dunia

    PALANG Merah Internasional muncul pada 1863, setelah pengalaman Jean Henry Dunant (1828-1910) dalam Pertempuran Salferino (1859). Pengalaman itu dibukukannya dalam Un Souvenir de Solferino (1862). Palang merah menjadi organ netral yang menolong siapa saja yang terluka tanpa memandang bangsa dan agama. Termasuk Dalam Perang Dunia I, palang merah hadir dan berperan penting. Kala itu kerja palang merah telah terbantu oleh teknologi bernama mobil, yang sudah dikembangkan sejak 1878 oleh Karl Benz di Jerman. Kendati punya banyak mobil, palang merah di peperangan amat kekurangan sopir sehingga membutuhkannya. Nun jauh di tanah Paman Sam, seorang pemuda bernama Ernest Hemingway ingin sekali menyaksikan langsung pertempuran dalam perang yang terjadi di Eropa itu. Maka setelah gagal mendaftar di Angkatan Darat karena penglihatannya buruk, Ernest memilih jalur lain untuk mendekati perang. Dia Menjadi tenaga sukarela untuk palang merah di Eropa.

  • Agus Widjojo Sang Jenderal Reformis

    SEMASA taruna di Akabri, Johny Lumintang dan Agus Widjojo berada dalam satu kompi. Di lapangan olahraga, Agus dikenal sebagai pemain sepakbola sementara Johny jago main tenis. Menjelang kelulusan, 20 orang dari angkatan mereka menjalani tes bahasa Inggris untuk mengikuti basic training di Amerika Serikat. Johny masih bisa mengikuti ujian writting, tapi sangat kesulitan ujian listening. “Gus, dari 50 soal hearing tuh, berapa [soal] yang kamu enggak tahu?” tanya Johny kepada Agus. “Yang paling enggak jelas paling satu,” jawab Agus santai. Johny kaget dan terbengong-bengong mendengarnya. Bagaimana tidak, dia dan kawan-kawan yang lain tidak mengerti dengan soal yang diujikan. Apalagi di Akabri saat itu belum ada lab bahasa Inggris.

  • Van der Plank dan Kejahatan Perang di Sumatra

    DI KAMPUNG Berastepu, Tanah Karo, puluhan serdadu Belanda melepaskan tembakan secara membabi-buta. Rumah-rumah penduduk digerebek. Mereka merampas harta benda pemilik rumah. Selain itu, beberapa warga kampung yang dicurigai ditangkap lalu ditembak tanpa pemeriksaan. Menurut Sumbul Ginting warga setempat yang menyaksikan kejadian tersebut, ada 9 penduduk kampung Berastepu yang ditembak mati oleh Belanda. Mereka antara lain: Meltah Sembiring, Mestik Karo-Karo, Muniken Karo-Karo, Manik Ginting, Alar Karo-Karo, Kitik Sitepu, Masar Ginting, Naik Sembiring, dan Baban Sembiring. “Demikianlah pada tanggal 1 Juni 1949 tentara Belanda yang berkekuatan 60 orang di bawah pimpinan Van der Plank telah menggerakan pasukannya dari Simpang Empat Surbakti ke Kampung Berastepu, melalui jalan setapak Jeraya dan Tambesi,” catat mantan veteran Perang Kemerdekaan, Letkol (Purn.) A. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Tanah Karo Jahe dan Dairi Area.

  • Teror Van der Plank di Tanah Karo

    TANAH KARO, 5 Maret 1949, segerombolan pasukan Belanda pimpinan Mayor Van der Plank mengadakan gerakan ke daerah Empat Teran (Simpang Empat) . Begitu tiba di Kampung Sigarang-garang, mereka menyatroni beberapa rumah lalu membakarnya. Di tengah aksi intimidasi itu, sebanyak 5 penduduk diberondong peluru. Kelimanya ditembak mati karena tidak mau menunjukan tempat persembunyian gerilyawan Indonesia. “Kelima penduduk yang menjadi korban keganasan Van der Plank tersebut ialah Benih Karo-karo (kepala kampung yang diangkat oleh pemerintah RI), Katan, Menet, Maca, dan Pa Ngaku,” ujar saksi mata Sumbul Ginting, seperti dikutip Letkol (Purn.) A.R. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Tanah Karo Jahe dan Dairi Area. Peristiwa penggerebekan berdarah yang terjadi di Kampung Sigarang-garang tadi bukan hanya terjadi sekali. Sepanjang paruh pertama 1949, Van der Plank melancarkan serentetan teror ke berbagai kampung di Tanah Karo. Van der Plank memimpin satuan polisi antigerilya (Troopen Intellegence Vor Gerilya/TIVG) yang bertugas memburu pejuang Republik. Namun dalam menjalankan tugasnya, pasukan Van der Plank kerap menyertakan tindakan brutal. Di beberapa tempat, mereka menjarah dan membakar kampung yang disambangi hingga membunuh warga setempat.

  • Sudiro Membenahi Jakarta

    JAUH sebelum istilah “blusukan” dipopulerkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (2012-2013), aksi turun ke lapangan telah dilakoni oleh pendahulunya, Sudiro, wali kota Jakarta periode 1953–1960. Saat itu, sebutan kepala daerah Jakarta masih wali kota. Alih-alih pencitraan, Sudiro blusukan untuk mengetahui permasalahan masyarakat Jakarta. Itulah yang dilakukannya kala meninjau kali Pacebokan di bilangan Glodok. Sungai kecil ini terkenal kotor dan jadi sarang penyakit. Tanto Sudiro, putra bungsu Sudiro, masih ingat ayahnya tak punya banyak waktu di rumah. Usai pulang dari kantor balai kota, Sudiro biasanya bergegas lagi untuk pergi blusukan. Sekali waktu, Sudiro bersama sopirnya ke Pacebokan. Di pinggir jalan, mereka makan sate sembari menunggu orang-orang datang ke kali.

  • Trauma Serdadu Belanda

    MAARTEN HIDSKES tidak menampik jika Piet Hidskes, ayah kandungnya, mengalami trauma dan penyesalan dengan apa yang pernah dia buat puluhan tahun lalu di Sulawesi Selatan. Kendati tidak dihindari, kata “Indonesia” selalu tidak pernah secara mendalam dibahas di rumah mereka. “Padahal dia pernah menghabiskan salah satu fase hidupnya sebagai seorang prajurit komando di Sulawesi Selatan,” ungkap jurnalis Belanda itu kepada Historia.ID. Menurut penulis buku Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya itu, tidak hanya sang ayah yang mengalami trauma di masa senjanya, kawan-kawan sesama anggota DST (Depot Pasukan Khusus) banyak mengalami situasi yang sama.

  • Sultan Hamengkubuwono IX dan Alimin

    SULTAN Hamengkubuwono IX sering kali dianggap sebagai penentang komunisme. Dalam Peristiwa Madiun 1948 misalnya, ia berdiri berseberangan dengan Muso. Ia bersama Presiden Sukarno, Jenderal TNI Soedirman, dan Sukiman Wirjosandjojo membuat siaran menolak “kudeta” dan menyerukan agar rakyat mendukung pemerintahan yang sah. John Monfries, visiting fellow di Australian National University, dalam A Prince in a Republic menyebut Sultan Hamengkubuwono IX memang telah mengidentifikasikan dirinya begitu kuat dengan kepemimpinan Sukarno-Hatta. Lebih lagi, ia merupakan Menteri Negara Koordinator Keamanan kala itu, yang juga diangkat oleh Hatta. “Hamengkubuwo meminta rakyat untuk berdiri di samping pemerintah Hatta, menegaskan bahwa itu artinya berdiri untuk pembangunan negara, sementara Muso dan para komunis hanya menginginkan kehancuran,” tulis Monfries.

  • Membuka Topeng Psikopat

    VERA Renczi lahir pada 1903 dengan anugerah kecantikan. Namun kecantikan seolah pisau bermata dua untuk putri aristokrat Rumania ini: Vera posesif dan pencemburu meski dihujani perhatian banyak pria. Sepanjang hidupnya, ia menikah dua kali. Masing-masing pernikahan tak berlangsung lama. Kedua suaminya, menurut Vera, meninggalkannya begitu saja. Tak ada yang curiga dengan pernyataannya hingga seorang perempuan melaporkan melihat suami Vera masuk ke rumah dan tak pernah kembali. Polisi yang menggeledah rumah Vera kemudian menemukan 35 peti mayat di ruang penyimpan anggur berisi jenazah pria yang membusuk: dua suami, 32 kekasih, dan putranya, Lorenzo. Vera mengaku terpaksa membunuh Lorenzo karena berniat memerasnya setelah menemukan peti-peti mati itu. Sementara kedua suami dan sejumlah kekasihnya ia racuni dengan arsenik manakala ia merasa cinta mereka berkurang atau telah terbagi dengan orang lain.

  • Empat Pelatih Asing yang Diapresiasi Positif Negeri Besutannya

    BANYAK pelatih asing yang punya prestasi gemilang saat menukangi tim nasional negara-negara berkembang. Meski begitu, cukup langka kesuksesan mereka diapresiasi positif secara resmi. Shin Tae-yong (STY) satu di antara yang sedikit itu. Datang dari negara mapan sepakbola Asia, Korea Selatan, STY memang harus diakui masih nirgelar –baik di level senior maupun timnas U-23– sepanjang menukangi timnas Indonesia sejak Desember 2019. STY dinilai sukses mengangkat sepakbola Indonesia kembali disegani di level Asia dengan membawa timnas senior untuk pertamakalinya sejak 18 tahun lolos babak 16 besar Piala Asia 2023. STY tak hanya mencetak sejarah membawa timnas Indonesia U-23 lolos pertamakali di Piala Asia U-23, tapi bahkan sampai membawa Nathan Tjoe-A-On dkk. melangkah sampai semifinal. Lalu, baru-baru ini STY kembali membuka peluang timnas Indonesia senior ke Piala Dunia 2026 dengan mengantarkannya ke putaran ketiga kualifikasi zona Asia (September 2024-Juni 2025).

  • Philippe Troussier Si Dukun Putih

    STADION Nasional Mỹ Đình di kota Hanoi, Rabu (26/3/2024) malam itu disesaki atmosfer yang campur aduk antara pilu, getir, dan kemarahan puluhan ribu suporter timnas Vietnam usai wasit meniup peluit terakhir. Kekalahan 0-3 dari tim tamu, Indonesia, membuat rasa muak mereka kepada pelatih Philippe Troussier sudah pada titik klimaks. Sejak menggantikan Park Hang-seo di kursi kepelatihan timnas Vietnam pada Februari 2023 silam, Troussier sudah banjir kritik dari publik dan media “Negeri Nguyen” itu. Sebelumnya, ia gagal mengantar Đỗ Hùng Dũng dkk. lolos fase Grup Piala Asia 2023 yang menjadi kegagalan terburuk dalam sejarah sepakbola modern Vietnam. Pun pada Kualifikasi Piala Dunia Zona AFC (Asia) Grup F. Hingga empat laga yang sudah dimainkan, Vietnam baru menang sekali. Terakhir adalah kekalahan tiga gol tanpa balas di kandang sendiri dari Indonesia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page