top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10068 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Sukarno Kecil di Mojokerto

    DARI Surabaya, ketika berusia enam tahun, Sukarno dan keluarga pindah ke Mojokerto, Jawa Timur. Mereka tinggal di daerah yang miskin. Meski demikian, tetangga-tetangga Sukarno masih punya uang untuk membeli jajan. Sedangkan Sukarno kecil tidak. Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno bercerita pada hari lebaran, ia mengurung diri di kamar karena tidak bisa membeli petasan. Ia hanya bisa mengintip dari lubang udara ketika teman-temannya sedang bermain petasan di luar. “Di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan disela oleh sorak-sorai kawan-kawanku karena kegirangan. Betapa hancur-luluh rasa hatiku yang kecil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu –dan aku tidak!” kisahnya.

  • Sukarno Memimpikan Presiden Penggantinya

    PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono bermimpi. Suatu hari, Presiden Joko Widodo mendatangi kediaman SBY di Cikeas. Mereka kemudian menjemput Ibu Megawati di rumahnya, Jl. Teuku Umar 29. Selanjutnya, SBY, Jokowi, dan Mega bersama-sama menuju Stasiun Gambir. Ada kejutan di Stasiun Gambir karena presiden RI ke-8 telah menunggu ketiganya. Sang presiden yang baru terpilih itu telah membelikan karcis kereta api Gajayana tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebelum berangkat, SBY, Jokowi, Mega, dan presiden RI ke-8 itu sempat ngopi-ngopi bareng sambil bercengkrama. Usai ngopi, SBY, Jokowi, dan Mega naik kereta api dengan tujuan masing-masing. Presiden RI ke-8 mengantarkan kepergian mereka. Di perjalanan, SBY, Jokowi, dan Mega menyapa segenap rakyat dengan hangat. “Rakyat yang pernah kami pimpin dengan penuh kesungguhan hati. Memimpin bangsa yang tak pernah sepi dari tantangan,” kata SBY.

  • Tiga Pemuda Menyusup ke Rombongan Sukarno

    PRESIDEN Sukarno mengadakan kunjungan ke Sumatra Selatan padaApril 1956. Ia menyapa rakyat di Palembang, Lahat, Tebing Tinggi, dan Talang Betutu. Nahas, dalam kunjungan initerjadi kecelakaan perahu di sungai Musi yang ditumpangi para penyambut rombongan Sukarno. Selain itu, ada kejadian penyusupan oleh tiga orang pemuda: dua orang guru sekolah rakyat dan seorang anggota kepanduan di Lahat. Mereka menyusup ke dalam rombongan Sukarno ketika kereta api istimewa berhenti di Lahat dalam perjalanan menuju Tebing Tinggi. Dalam perjalanan mereka mengaku wartawan yang turut dalam rombongan Sukarno. Sehingga mereka mendapat pelayanan seperti anggota rombongan lainnya dalam penginapan dan makanan. Begitu pula pelayanan dalam perjalanan kembali ke Palembang.

  • Kemaritiman Era Sukarno

    PRESIDEN Sukarno bertekad menjadikan Indonesia berjaya sebagai negara maritim. Hal itu disampaikannya dalam beberapa kesempatan. Salah satunya dalam amanatnya dengan judul “Kembalilah Menjadi Bangsa Samudera” pada resepsi pembukaan Munas Maritim ke-I di Jakarta pada 23 September 1963. “Kita sekarang satu persatu, seorang demi seorang harus jakin bahwa Indonesia tidak bisa mendjadi negara jang kuat, sentausa, sedjahtera, djikalau kita tidak menguasai pula samudera, djikalau kita tidak kembali mendjadi satu bangsa samudera, djikalau kita tidak kembali mendjadi satu bangsa bahari, bangsa pelaut sebagai kita kenal dizaman bahari itu,” ujar Presiden Sukarno. Setahun kemudian Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 249 tahun 1964 yang menetapkan tanggal 23 September sebagai Hari Maritim Nasional.

  • Ada Jalan Sukarno di Tunisia

    SEIRING hari lahir bapak bangsa cum proklamator Ir. Sukarno, gaung ketokohannya turut diapresiasi sampai ke Afrika Utara. Di Tunisia, nama Bung Karno diabadikan menjadi nama jalan ibukota Tunisia. Nama jalan itu diresmikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Tunisia pada Kamis (6/6/2024). “Rue Du Leader Ahmed Soekarno”, demikian nama jalan itu, diresmikan oleh Dubes RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi di kawasan Lac, kota Tunis dengan dihadiri Sekretaris Walikota Tunis Kamal Liwahisyi dan beberapa perwakilan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Luar Negeri Tunisia, serta sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di Tunisia. Peresmian ini merupakan apresiasi penting dari pemerintah Tunisia. Itu sekaligus jadi hadiah amat bermakna untuk memperingati hari lahir figur Bung Karno yang juga tokoh yang disegani dunia.

  • Konferensi Asia Afrika di Mata Pelajar Indonesia

    TANGGAL 24 April diperingati sebagai Hari Solidaritas Asia Afrika. Penetapannya bertepatan dengan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika pada 2020. Konferensi Asia Afrika kali pertama berlangsung pada 18–24 April 1955 di Bandung. Tujuannya membangun kerja sama dan solidaritas panjang untuk mewujudkan dunia yang adil, bebas dari penjajahan, dan damai. Selama KAA, pelajar Indonesia dilibatkan. Mereka berkumpul di lapangan Tegalega, Bandung pada 18 April pagi. Mereka berbaris rapi, menunggu tetamu penting dari 29 negara peserta KAA. Saat matahari agak tinggi, tetamu bermunculan di lapangan. Antara lain Gamal Abdul Nasser dan Jawaharlal Nehru. Melihat tetamu datang, para pelajar mulai bersenam. Mereka sangat antusias. Tak hirau cuaca terik demi menghibur tetamu. Peristiwa ini terekam dalam album 30 Tahun Indonesia Merdeka 1955–1965. Ini menunjukkan para pelajar turut menyambut KAA.

  • Ketika Ali Sastroamidjojo Menutup Konferensi Asia-Afrika

    Para Sri Paduka. Para Paduka Yang Mulia, Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan! Saudara-saudara sekalian! Setelah kita sekarang tiba pada penutupan Konperensi ini, sesudah mengalami suatu minggu yang amat penting, saya ingin untuk mengucapkan terima kasih kepada tuan-tuan sekaliannya atas semangat goodwill dan kesudian untuk memaklumi yang tuan-tuan telah perlihatkan dengan nyata dan terus menerus selama pembicaraan-pembicaraan kita yang berhasil itu: Adalah semangat dan kesudian ini yang memungkinkan untuk bekerja sama dan mendapatkan hasil-hasil yang baik, serta apabila tuan-tuan memperkenankan saya menyatakan suatu perasaan hati saya sendiri yang membuatnya suatu kegembiraan bagi saya, untuk menjadi ketuanya. Paragraf di atas merupakan penggalan pidato penutupan acara Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Kota Bandung, Jawa Barat, yang dibacakan oleh Ketua Umum Kofrensi Asia-Afrika (KAA) Ali Sastroamidjojo.

  • Fasilitas “Plus-plus” dalam Konferensi Asia Afrika

    SEPEKAN setelah Konfrensi Asia Afrika (KAA) rampung dengan sukses, bau skandal justru tercium ke tengah publik. Koran Indonesia Raya bikin geger dengan berita adanya “Panitia Ramah Tamah” selama konferensi tersebut. Isu itu dibongkar langsung oleh pemimpin redaksinya, Mochtar Lubis. Pada waktu meliput konferensi, seperti terkisah dalam biografinya, Mochtar Lubis diberitahu desas-desus kartu “hospitality comitee” dari Panitia Ramah Tamah. Dengan kartu itu, si empunya bakal punya akses memasuki “rumah aman” (safe house). Rumah itu seperti halnya rumah bordil yang menyediakan perempuan untuk layanan prostitusi. Untuk membuktikannya, Mochtar bahkan melakukan investigasi langsung ke rumah-rumah itu, mewawancarai para perempuan yang menjadi penghuninya dan menyiarkan berita itu sebagai liputan eksklusif. “Kemudian Mochtar menyatakan secara pribadi bahwa ia tak keberatan jika laki-laki dalam kedudukan berwenang berkunjung ke pelacur, tetapi yang ia tolak adalah pemerintah menyediakan perempuan bagi para utusan konferensi,” ungkap David T. Hill dalam Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004).

  • Polemik Panitia Ramah Tamah Konferensi Asia-Afrika

    KETIKA hadir di perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA), raut wajah Bung Hatta tampak merenggut. Agak aneh memang kalau dalam suatu momen maha penting itu Bung Hatta malah bermuka muram. Sebagai ajudan, Mayor Soegih Arto menangkap suasana “mendung” yang ditampilkan wakil presiden. Sang mayor lantas bertanya, ada apa gerangan dengan Bung Hatta. “Bung Hatta menanyakan apakah saya sudah mendengar mengenai Hospitality Committee,” tutur Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto. Isu Hospitality Comitee (HC) berkaitan dengan kartu akses yang dikeluarkan Panitia Ramah Tamah bagi delegasi negara peserta untuk menikmati fasilitas khusus. Menurut Hatta, panitia itu telah mengorganisasi dan menyediakan perempuan untuk menghibur para anggota delegasi. Hatta kemudian meminta Soegih Arto agar memanggil Roeslan Abdulgani, sekretaris jenderal KAA.

  • Tekad Sukarno di Konferensi Asia-Afrika

    BANDUNG, 1928. Sebuah gagasan tentang perjuangan muncul dari goresan tangan seorang anak muda asal Surabaya yang baru saja menamatkan sekolah teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Tulisannya berjudul “Indonesianisme dan Asiatisme”, dimuat harian Suluh Indonesia Muda, cukup membuat gempar Hindia Belanda. Sukarno, nama sang anak muda itu, membawa gagasan baru untuk gerakan kemerdekaan di tanah airnya. Sebuah ide perjuangan yang nantinya akan membawa semangat persatuan di wilayah Asia dan Afrika. Di dalam artikel tersebut, Bung Karno banyak menyebut tentang semangat Asia. Dijelaskan Bakran Asmawi, dkk dalam Pesan Pembaharuan dari Bandung, Si Bung menggambarkan kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905, dan kemenangan Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha di medan perang Afyonkarahisar, sebagai kemenangan Asia atas Eropa. Demikian halnya dengan kemenangan Mesir, Cina, dan India atas imperialisme Inggris yang telah bercokol lama di sana. Tidak hanya untuk bangsa Asia secara umum, kemenangan atas bangsa-bangsa Eropa itu, bagi Sukarno, merupakan kemenangan Indonesia juga, sebab imperialisme yang menjerat Indonesia bukan hanya Belanda saja, tetapi imperialisme internasional.

  • Dampak Konferensi Asia-Afrika Terhadap Dunia

    SEJAK Konferensi Asia-Afrika sukses diselenggarakan di Bandung pada 18 hingga 24 April 1955, ibu kota Jawa Barat itu dipandang sebagai pusat gerakan pembebasan dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme yang mengancam perdamaian dunia. Perwakilan dari 29 negara Asia dan Afrika hadir di Bandung untuk membahas berbagai isu global dan menggalang solidaritas di tengah perebutan dominasi Barat dan Timur. Konferensi Bandung ini lebih dari sekadar pertemuan internasional terbesar pertama setelah Perang Dunia II. Konferensi ini merupakan tonggak penting dalam sejarah dunia. Sebab, dalam pertemuan inilah untuk pertama kalinya negara-negara non-Barat secara kolektif menggabungkan kekuatan tanpa Barat. Sejarawan Belgia, David van Reybrouck, mengatakan dalam kuliah umum “Peran Indonesia dalam Pembebasan Asia-Afrika” yang menjadi bagian dari acara peringatan 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan PDI Perjuangan di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 April 2025, Indonesia bukan saja negara pertama yang mendeklarasikan kemerdekaannya sesaat setelah berakhirnya Perang Dunia II, tetapi juga menjadi salah satu negara yang berdiri paling depan dalam melawan kolonialisme dan imperialisme, serta memberikan dukungan kepada bangsa-bangsa yang tengah memperjuangkan kemerdekaan sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia serta kehidupan yang adil dan setara untuk semua bangsa.

  • Suku Biak, Suku Vikingnya Papua

    DALAM berbagai catatan sejarah Indonesia timur, selama ini hanya orang Bugis yang diakui sebagai pelaut-pelaut tanggguh. Selain pernah ke Madagaskar, mereka pun dikisahkan kerap bolak-balik Makassar-Australia untuk menjalin hubungan dagang dengan Suku Aborigin. Namun, tak banyak orang tahu jika suku Biak (yang mendiami Pulau Biak dan Numfor) dari Papua, juga telah di kenal lama sebagai para penjelajah lautan yang tangguh. Demikian pernyataan sejarawan A.B. Lapian dalam buku Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. “Suku Biak menjelajah lautan hingga Maluku, Sulawesi, Jawa bahkan konon antara 1400-1800, mereka pernah sampai di semenanjung Malaka,” tulis A.B. Lapian. Sejatinya, masih kata Lapian, pelayaran orang Biak dan Numfor terdorong oleh beberapa hal, yaitu motif persaingan atau korfandi, lingkungan georafis Biak yang tandus dan kurang menghasilkan secara ekonomis, perang antar suku, dan adat budaya. Namun menurut Albert Rumbekwan, ada aktor lain yang menyebabkan terjadinya penjelajahan laut yang dilakukan oleh Suku Biak Numfor.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page