top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mencari Prabu Siliwangi

    KEAN Santang menetapkan pilihannya beralih agama, memeluk Islam sebagai jalan hidup. Pilihan itu berseberangan jalan dengan ayahnya, Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Kean Santang (juga kerap disebut Kian Santang atau Keyan Santang) lantas pergi berkeliling Jawa untuk menimba ilmu dan memperdalam pengetahuan agama. Di sela pengembaraan, ia berganti nama menjadi Sunan Rahmat. Ia mengemban tugas mengislamkan wilayah barat Pulau Jawa. Dan salah satu tujuan utamanya, mengajak sang ayah beralih keyakinan. Ajakan itu ditolak Sang Prabu dan para pengikutnya. Pertempuran pun tak terelakkan. Prabu Siliwangi bersama para pengikutnya melarikan diri ke hutan Sancang di selatan Garut. Putranya terus memburu. Demi menghindari pertempuran lebih lanjut dengan anaknya, Sang Prabu ngahiang (moksa) dan bersalin rupa menjadi Macan Putih. Sementara para pengikutnya berubah wujud menjadi Macan Sancang.

  • Demi Jalan Layang, Bunker Jepang Dihancurkan

    DI WILAYAH Pattunuang –jalan poros Maros menuju Camba dan Kabupaten Bone– pembangunan jalan layang tahap pertama sudah dimulai awal tahun 2016. Kendaraan berat hilir mudik. Tebing-tebing karst terlihat memutih karena telah dipotong. Tanah merah bercampur batuan telah tersingkap. Ratusan pepohonan pun sudah tertebas tak tahu di mana lagi. Belum hilang rasa penasaran itu, ketika sampai di kelokan pertama menuju tanjakan, memasuki kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), saya kembali terperangah melihat sebuah bangunan kotak terbuat dari beton. Seakan berdiri telanjang, tanpa penghalang dan pelindung. Inilah bunker peninggalan Jepang. Tempat untuk mengintai dan perlindungan dari musuh. Beberapa tahun lalu pertama kali mengetahui adanya bunker di tempat itu, saya harus menghentikan kendaraan dan menelisik lebih detail. Berjalan menanjaki tebing karst untuk memastikannya. Tapi kini, melintas dengan kecepatan pun hanya perlu menoleh untuk melihat keberadaan bunker.

  • Cerita dari Lampegan

    SENJA baru saja jatuh di Stasiun Lampegan, Cianjur ketika sebuah lokomotif yang membawa 4 rangkaian gerbong keluar dari mulut terowongan Lampegan. Bak ular besi raksasa, rangkaiannya meliuk-liuk. Sesekali suara klakson berbunyi nyaring, mengingatkan orang-orang yang terlihat masih santai melewati rel di pintu perlintasan. “Awas! Awas kereta api lewat! Kereta api lewat!” teriak penjaga pintu perlintasan. Lampegan merupakan salah satu perlintasan kereta api tertua di tanah Jawa. Dibuat sekitar tahun 1879, mengacu pada angka yang tertera di atas pintu terowongan sepanjang 415 meter tersebut. Proses pembangunannya sempat menemui kesulitan karena harus menembus Gunung Kancana. Namun, setelah bagian tengah bukit besar itu diledakkan dengan dinamit, pembangunan berjalan lancar.

  • Lobang Maut Saudara Tua

    SELINTAS lubang besar di dinding tanah merah laiknya terowongan pertahanan gerilyawan Viet Cong. Saat menuruni tangganya yang berjumlah 132, situasi rapat dan terlindungi sangat terasa. Begitu rapatnya hingga saat memasuki lebih dalam, bau lembab tanah yang mendominasi udara pengap pun menyeruak tajam di rongga hidung. Menurut pemandu, Jefry (45), di goa yang panjangnya 1470 meter tersebut –sisanya 4730 meter belum tereksplorasi– ribuan pekerja paksa (romusha) mati mengenaskan. Bukti kisah horor tersebut terekam dari banyaknya ruangan mirip penjara yang difungsikan sebagai tempat penyiksaan. Dengan rongga berbentuk setengah lingkaran yang rata-rata tingginya dua meter –kecuali beberapa rongga memaksa para pengunjung membungkuk– goa ini ditujukan untuk pertempuran gerilya panjang melawan Sekutu.

  • Kisah Horor Tambang Batubara Loa Kulu

    SETELAH tentara Jepang memasuki daerah sekitar Sungai Mahakam, arus lalu lintas kapal niaga berkurang. Setidaknya kapal-kapal pengangkut batubara tak lewat lagi. Sebelum 1942, arus kapal yang melintas lima kali lebih banyak dibanding pada zaman Jepang. Penguasa Jepang membatasi pelayaran di pesisir Kalimantan dan sekitarnya. Ekonomi di sana memburuk setelah Maret 1942. Perdagangan antar-daerah menjadi sepi. Pertanian padi di sekitar Loa Kulu, hulu sungai Mahakam (sekarang Kabupaten Kutai Kartanegara) tidaklah bisa diharapkan untuk mencukupi semua perut warga daerah itu. Tanpa beras, rakyat Loa Kulu terancam kelaparan di zaman pendudukan Jepang. Menurut Het Dagblad, 1 Oktober 1946, daerah tersebut bergantung pangan dari luar. Daerah ini sangat bergantung pada beras dari Sulawesi Utara maupun Sulawesi Selatan. Selain dengan uang, dulunya beras sering ditukar dengan rotan, damar, dan lilin lebah yang dikirim ke Jawa, ikan asin, kayu dan lain-lain.

  • Biaya Perjalanan Presiden Sukarno Dipertanyakan

    KUNJUNGAN Presiden Sukarno ke Bojonegoro, Jawa Timur, menuai tanda tanya. KH Misbach, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Masyumi, mempertanyakan biaya kunjungan tersebut yang dibebankan kepada rakyat. Pertanyaan itu disampaikan kepada pemerintah sebagai bagian dari “hak menanya” yang dimiliki oleh anggota DPR sesuai pasal 69 Undang-Undang Dasar Sementara 1950. Surat berisi pertanyaan Misbach diterima oleh Sekretariat DPR pada 1 Agustus 1957. Ketua DPR lalu membuat surat yang ditujukan ke perdana menteri tertanggal 7 Agustus 1957. Surat-surat terkait kunjungan Presiden Sukarno ke Bojonegoro tersimpan dalam Inventaris Arsip Sekretariat Negara Kabinet Perdana Menteri Tahun 1950–1959 Jilid II No. 2344 di Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

  • The Rise of Cougars in Indonesia

    Contrary to its name, the city of Kudus, which means holy in Indonesian, was once flooded with erotic literature. This pornographic material included mimeographed pamphlets, erotic books, and obscene images. Authorities took action out of concern that such material would encourage readers to imitate the content. “Tante Girang by Motinggo Boesje was among the books deemed morally corrupting to readers that were recently seized by authorities in Kudus,” reported Kompas on May 22, 1969. However, Motinggo Boesje, the author whose name was misattributed, objected to the report. The following day, Motinggo refuted it in the Kompas readers’ column. According to Motinggo, such erroneous reports could harm him and damage his reputation. Nevertheless, he believed the misattribution occurred unintentionally by the Kompas editorial staff.

  • Hubungan Diplomatik Indonesia dan Vanuatu

    PERDANA Menteri Republik Vanuatu Bob Loughman menyuarakan masalah Papua dalam Sidang Umum PBB, Sabtu, 26 September 2020. Dia menyebut masyarakat Papua menderita. Dia pun meminta pemerintah Indonesia menyetujui seruan para pemimpin Forum Kepulauan Pasifik untuk mengizinkan Komisi HAM PBB masuk ke Papua. Diplomat muda Indonesia, Silvany Austin Pasaribu, menggunakan hak jawab Indonesia untuk menanggapi pernyataan tersebut. Menurutnya sangat memalukan, negara yang satu ini terus menerus dan berlebihan berkomentar tentang bagaimana Indonesia harus bersikap tentang urusan dalam negerinya. Dia menyebut Vanuatu tidak mengerti prinsip dasar Piagam PBB yaitu tidak ikut campur dalam urusan domestik negara lain. “Dan untuk melakukan yang benar adalah dengan menghormati kedaulatan dan integrasi teritorial negara lain. Sebelum Anda melakukan itu semua, simpan saja ceramah itu untuk Anda sendiri,” kata Silvany dikutip KompasTV.

  • Strategi Diplomat Menghadapi Jimat

    HARI sudah terang. Jamuan makan malam masih tersisa di meja itu. Lemper, kroket, dan pisang goreng. Melihat itu, Mohamad Roem, ketua delegasi Indonesia dalam pelaksanaan keputusan Persetujuan Renville, menahan liurnya. Perutnya keroncongan. Dia belum sempat sarapan di rumah. Tapi panggilan untuk menghadap presiden sudah datang pagi itu. Di meja itulah dia menunggu Presiden Sukarno. Dia tak berani menyantap panganan itu sebelum Sukarno datang. Setelah ditunggu beberapa lama, Sukarno muncul. Roem berharap Sukarno segera mempersilakannya makan atau minum. “Menjadi kebiasaan presiden, sebelum tamu duduk, diminta dulu mau minum apa, dan kalau meja itu penuh dengan makanan, meskipun sisa tadi malam, tamu diminta ikut menikmati,” kata Roem dalam Bunga Rampai Dari Sejarah I.

  • Diplomat Bagaikan Tahanan Kota

    KOLONEL M. Jasin menjabat Panglima Daerah Militer I/Iskandar Muda, Aceh, selama tiga tahun (1960–1963). Dia berhasil menyelesaikan gerakan DI/TII yang dipimpin Teuku Daud Beureuh. Pangkat Jasin pun naik menjadi Brigadir Jenderal dan mendapat penugasan baru sebagai Atase Militer di Moskow. Namun, sebelum bertugas di Uni Soviet, Jasin menjabat Kepala Departemen Masalah Pertahanan Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat). “Setelah dua tahun bertugas di Seskoad, pada tahun 1965 Brigjen TNI M. Jasin menerima perintah dari pemerintah untuk berangkat ke negara Rusia bertugas sebagai Atase Militer (Atmil) pada KBRI Moskow,” demikian disebut dalam Sejarah TNI-AD 1945-1973: Riwayat Hidup Singkat Pimpinan TNI AD.

  • Diplomat Bagaikan Tahanan Kota (2)

    PADA 1972, Mayjen TNI Sayidiman Suryohadiprojo, Ketua Gabungan III/Personel Departemen Pertahanan dan Keamanan, mengadakan kunjungan ke beberapa negara, termasuk Uni Soviet. Kunjungan pertama kali ini jadi pengalaman penting untuk mengenal Negeri Beruang Merah itu. Setelah mendarat di Moskow, Sayidiman harus melalui proses yang rumit dan lama. Kopernya digeledah dengan teliti sampai uang yang dibawa pun harus ditunjukkan. Atase Pertahanan (Athan) Laksamana Pertama Suhardjo dan semua atase militer, Atase Darat Kolonel Inf. Sularso dan Atase Udara Kolonel Sunarjo, telah menunggu di luar bandara. Sayidiman heran mengapa mereka membawa serta keluarganya. Ternyata, itu bukan semata-mata untuk menghormati kedatangannya melainkan kesempatan plesiran. “Dijelaskan kepada saya bahwa di Moskow kesempatan untuk plesir demikian terbatasnya sampai pergi ke airport termasuk pula salah satu cara untuk menenangkan pikiran,” kata Sayidiman dalam otobiografinya, Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI.

  • Ali Sastroamidjojo, Diplomat yang Terlupa

    TAHUN 1953, situasi perang di Vietnam kian memanas. Hampir setiap waktu pertempuran terjadi di sana. Negara itu bahkan semakin terpecah tatkala negara-negara adidaya sekelas Amerika Serikat dan Rusia membagi pengaruhnya di sana. Perang Dingin antara keduanya meluas ke wilayah Asia. Kondisi itu membuat pemimpin-pemimpin negara Asia gusar. Maka Perdana Menteri Sri Lanka Sir John Kotelawala mengusulkan kepada negara-negara Asia yang baru merdeka seperti India, Indonesia, Pakistan, dan Burma, berkumpul untuk membahas bahaya Perang Dingin di Asia. Pada awal 1954, bertempat di Colombo, Sri Lanka, konferensi lima negara merdeka itu pun terselenggara. Indonesia mengrimkan sejumlah perwakilan, dipimpin langsung Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Dalam konferensi itu, Ali mengusulkan diadakannya sebuah konferensi yang melibatkan negara-negara di Asia dan Afrika.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page