Hasil pencarian
Cari di situs ini
10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Mobil Biru yang Ditunggu
MUNIAR, seorang transmigran di Tempuling, Riau, tinggal terpisah dengan anaknya yang kuliah di Yogyakarta. Untuk sekadar berkomunikasi dengan anaknya menggunakan surat, Muniar seringkali harus pergi ke Kantor Pos yang jaraknya cukup jauh. Kala itu warung telekomunikasi (wartel) belum masuk ke daerahnya. Jumlah wartel pada 1991 pun masih 181 unit yang didirikan Telkom dan 176 wartel didirikan swasta. Namun, kesulitan Muniar hilang sejak kehadiran Jasa Telekomunikasi Mobil (Jastel Mobil). Dia tak lagi pakai surat untuk berkirim kabar. Rute keliling Jastel diumumkan di koran maupun radio sehingga masyarakat yang hendak memakai bisa dengan mudah menemukannya. Muniar selalu menanti kehadiran mobil berwarna biru itu. Di bagian pintu depan mobil terpampang logo Telkom. Di dalamnya, seorang petugas layanan akan membantu tiap pelanggan mengoperasikan telepon atau telegram. “Dalam kota max. 3 jam, luar kota max. 5 jam,” demikian peringatan di Warteling itu tertulis. Dari warteling itulah Muniar menelepon anaknya di Yogyakarta.
- Sebelum Ponsel Merajalela
UNTUK mengangkat perekonomiannya, Rini, gadis asal Randublatung, Blora, merantau ke Jakarta. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah Kebayoran Baru. Ketika pulang kampung untuk berlebaran, Rini bertemu Biyoso, pemuda asal Jawa Timur yang juga mudik. Biyoso bekerja sebagai satpam di bilangan Kuningan, Jakarta. Dari perkenalan di Terminal Pulo Gadung itu, mereka menjalin hubungan asmara. Pacaran di tahun 1990-an, hubungan Rini-Biyoso tak bisa seperti muda-mudi sekarang yang dengan mudah mengetik pesan di aplikasi obrolan atau melakukan panggilan video lewat telepon pintar. Untuk bisa saling berkomunikasi, saban siang Rini selalu berusaha mencuri waktu untuk keluar sejenak dari rumah majikannya dan pergi ke telepon umum. Setelah mengantri sebentar, memasukkan koin, dia baru bisa menyapa Biyoso dari telepon kantornya. Lelah Rini mengantri terbayar kala suara Biyoso terdengar dari gagang telepon. Pada 1980-an-1990-an, kebutuhan komunikasi jarak-jauh masyarakat mendapat wujud baru. Sebelumnya, hanya kalangan tertentu yang dapat menikmati sambungan telepon di rumah masing-masing. Kalau tak punya telepon, surat jadi pilihan. Sampai pertengahan 1990-an, ketika pemerintah belum menggalakkan pemasangan telepon rumah, telepon umum pun jadi tempat tujuan banyak orang.
- Ponsel Segede Sepatu
SEUKURAN genggaman tangan, bisa masuk saku, dan harga terjangkau. Telepon selular (Ponsel) pintar dimiliki hampir semua orang di Indonesia sekarang. Lewat benda tipis itu, orang bisa menelepon, mengirim pesan, dan mengakses internet. Banyaknya fungsi bikin orang kecanduan menggunakannya. Di angkutan umum, di ruang tunggu, bahkan di toilet. Padahal, ketika pertama keluar, harga ponsel selangit, 13-15 juta rupiah ketika kurs dollar Amerika masih 1386 rupiah. Ponsel pertama di Indonesia itu muncul tahun 1986 sebagai buah kerjasama Telkom dengan PT Rajasa Hazanah Perkasa (PT RHP). Teknologinya menggunakan Nordic Mobile Technology (NMT) dengan perangkat merek Ericsson. Telkom menyediakan jasa komunikasinya, sementara PT RHP menyediakan perangkatnya. Ketika pengguna ingin mendapatkan telepon seluler, mereka tidak membeli perangkat telepon dan nomor provider secara terpisah, melainkan satu telepon hanya satu nomor dan tidak bisa diganti.
- Musabab Ponsel Murah
CUMA bos-bos dan orang kaya yang sanggup beli telepon selular (Ponsel) pada pertengahan 1980-an sampai 1990-an. Maklum, harganya selangit. Ketika muncul tahun 1986, ponsel generasi pertama di Indonesia dibanderol 15-20 juta rupiah dengan kurs 1 dolar Amerika sama dengan 1.386 rupiah. Jika dibandingkan dengan kurs dolar saat ini, kisaran 14 ribu-an, harga ponsel generasi pertama itu setara 150-250 juta rupiah. Wow! Orang biasa apalagi kaum papa, jangan pernah mimpi punya ya! Ponsel jadi barang asing di masyarakat. Mayoritas orang jelas tak tahu model penjualan ponsel kala itu yang masih satu paket dengan operatornya. Artinya, ponsel yang dibeli sudah termasuk nomor di dalamnya.
- Awal Mula Ponsel Pintar
DI MASA kini smartphone atau ponsel pintar menjadi benda yang tak pernah lepas dari genggaman. Berbagai fitur dan aplikasi dalam perangkat elektronik yang tersambung dengan internet ini, tak hanya memudahkan penggunanya berkomunikasi jarak jauh maupun mengakses informasi, tetapi juga mempermudah aktivitas sehari-hari. iPhone disebut sebagai pionir perkembangan ponsel pintar. Namun, gagasan mengenai perangkat elektronik canggih yang memiliki fitur seperti ponsel pintar sudah ada sejak akhir abad ke-19. Sejarawan Amerika Robert Phillip Kolker menulis dalam Media Studies: An Introduction, pada 1879 kartunis Inggris terkemuka George du Maurier menggambar kartun untuk majalah satir London, Punch, yang mengkhayalkan komunikasi jarak jauh tak hanya mengandalkan suara tetapi juga gambar. Kartun yang populer disebut Edison’s telephonoscope itu, mengisahkan pasangan Victoria yang berusia senja di Inggris tengah menyapa putri mereka di Antipodes, sebuah koloni di belahan dunia lain.
- Wushu dan Telepon Merah RI Satu
TEPAT di Hari Pahlawan 10 November 1992, Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) berdiri. I Gusti Kompyang (IGK) Manila yang sedari awal membidani dan membina wushu, punya pekerjaan rumah besar sebagai Ketua Umum pertama PBWI. Terlebih, target jangka pendek organisasi itu adalah pembinaan dan pengembangan para atlet untuk persiapan SEA Games 1993 di Singapura. Manila langsung mengagendakan beragam tur sosialisasi dan pengguliran kejuaraan di 27 provinsi. “Pak Manila ingin wushu lebih dikenal masyarakat,” kenang Ahmad Idris, praktisi dan salah satu atlet pertama wushu Indonesia yang sempat diminta ikut sosialisasi di berbagai kota selama tiga bulan, dikutip koran Tempo, 28 Januari 2004. Namun, kendala bermunculan. Dua hal paling mendesak adalah dana untuk perlengkapan berstandar internasional dan kebutuhan pelatih yang berkualifikasi. Manila lantas membawa persoalan ini ke Cendana, tempat kediaman Presiden Soeharto.
- Mula Kedatangan Telepon Umum
KETIKA melakukan perjalanan dinas ke London, Inggris, beberapa karyawan Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) melihat baiknya layanan dan ketersediaan telepon umum di negeri tersebut. Pengalaman itu menginspirasi mereka untuk meniru dan menerapkannya di Indonesia. Begitu kembali ke tanah air, mereka langsung mengusulkan agar Perumtel membuat layanan telepon umum jenis kartu. Namun Direktur Utama Perumtel Willy Moenandir meragukan terwujudnya gagasan mereka. Pasalnya, ketersediaan dan persebaran kartu akan jadi PR baru untuk perusahaan plat merah tersebut. Dus, masyarakat masih awam dengan telepon umum. Sebagai jalan tengah, pada 1981 Perumtel meluluskan ide mereka membuat layananan komunikasi telepon umum namun dengan jenis berbeda. “Akhirnya telepon umum pertama itu yang koin. Di eranya Pak Cacuk jadi dirut, dibangun besar-besaran tahun 89, dimasukkan juga dalam proyek pembangunan,” kata Setyanto P. Santosa, kepala Bagian Pemasaran Jasa Telekomunikasi periode 1980, kepada Historia.ID.
- Telepon Umum Primadona yang Kini Dilupa
DIDIK, 43 tahun, masih ingat betul bagaimana kenangan dia bersama telepon umum. Ketika itu benda yang didominasi warna biru tersebut benar-benar menjadi primadona bagi siapapun. “Wah ini benda dulu yang paling dicari ini, dulu saya masih ingat sekali tahan ngantri demi bisa menelpon disini,” ujarnya. Telepon umum yang dimaksud oleh Didik sendiri hingga kini masih berdiri tegak di kawasan Taman Mataram Jakarta Selatan, persisnya di samping SMKN 15. “Cerita lainya disini itu dulu ada orang gila, suka mainan ini. Kalo dia udah mainan ini kita kesel sendiri karena dia ngomong sendiri dan lama, sedangkan kita nungguin banyak urusan penting,” lanjutnya sambil ketawa.
- Masa Jaya Telepon Umum Kartu
YURI Arief Waspodo, kolektor kartu telepon, masih duduk di bangku SMPN 2 Depok ketika telepon umum kartu pertamakali terpasang di Depok, paruh kedua 1990-an. Yuri ingat betul telepon umum pertama itu dipasang di dekat rumahnya, Perumahan Nasional Depok 1. Seperti remaja dan orang dewasa pada umumnya, Yuri memanfaatkan betul alat komunikasi jarak jauh itu. Ketika mengabari keluarganya karena akan telat pulang akibat kegiatan sekolah, Yuri biasa menggunakan telepon umum yang terpasang di sekolah. “Zaman dulu telepon umum jadi andalan karena belum ada HP,” kata Yuri. Beroperasi pertamakali pada 1988, telepon umum kartu mengalami masa uji coba sejak November-Mei di 12 titik di Jakarta, sebelum dioperasikan di kota besar lain. Gema Telekomunikasi edisi Desember 1988 menyebut, 12 titik strategis yang dipilih Telkom antara lain Gedung Depparpostel di Jalan Merdeka Barat, Bandara Soekarno Hatta, Stasiun Gambir, Dunia Fantasi Ancol, toko buku Gramedia Matraman, Sarinah Thamrin, Pasaraya Sarinah (kini Pasaraya Blok M), Wisma Nusantara, BCA Jalan Sudirman, Ratu Plaza, Hotel Indonesia, dan Hotel Hilton.
- Telepon Sepanjang Zaman
KOMUNIKASI jarak jauh jadi hal lumrah saat ini. Dalam beberapa detik, pertukaran informasi bisa dilakukan dari satu titik ke titik lain. Bentuk komunikasinya pun beragam tak sebatas sambungan suara, tapi bisa juga teks, gambar, pesan audio, atau bahkan audio visual. Model komunikasi ini dimungkinkan berkat evolusi pesawat telepon yang berubah seiring zaman. Kemunculan telepon di Indonesia bermula ketika Belanda membangun sambungan telepon di Batavia pada 1882. Penyedianya Posterijen Telegrafie Telefonie (PTT), perusahan milik pemerintah kolonial. Telepon pun jadi sarana yang bisa dinikmati di rumah-rumah meski terbatas di kalangan pejabat dan orang kaya. Dari Royal KPN Belanda, panggilan telepon internasional pertama yang dilakukan Hinda-Belanda terjadi pada 1929 dengan tujuan Amsterdam yang berjarak 12000 kilometer. Panggilan luar negeri termasuk langka dan mewah di zaman itu, sebab sentral telepon masih manual dan teknologinya pun masih sangat terbatas. Namun, teknologi, sistem, dan fungsi telepon terus berubah makin canggih dari masa ke masa. Berikut evolusinya:
- Sebelum Telepon Jadi Pintar
PERTUKARAN informasi seringkali dilakukan oleh manusia dengan berbagai sarana. Mulanya sarana yang ada terbatas dan jarak pun menjadi kendala. Pertukaran informasi jarak jauh mulai dilakukan sekitar abad 2000 SM di Mesir ketika sarana surat mulai dikenal. Tak cukup bertukar informasi jarak jauh dengan tulisan, gagasan berkomunikasi jarak jauh secara lisan mulai terpikirkan. String Telephone Robert Hooke, seorang ilmuwan Inggris, pada 1667 menemukan string telephone yang dikenal juga dengan nama tin can telephone atau lovers’s telephone. String telephone atau telepon benang adalah alat transmisi suara yang terdiri dari benang atau kawat tegang dengan dua kaleng atau barang serupa di ujungnya. String telephone digunakan pada abad ke-17 sebagai alat komunikasi di kantor, menghubungkan satu ruangan dengan ruangan lainnya. Alat ini kini sering dijadikan alat peraga di sekolah-sekolah untuk membuktikan prinsip kerja getaran mekanis. String telephone pun mengilhami speaking tube yang masih digunakan sebagai alat komunikasi di dalam kapal-kapal laut.
- Halo Pentil Kecakot
PERKEMBANGAN teknologi yang begitu pesat berdampak pada kehadiran ponsel pintar yang semakin memudahkan berkomunikasi tanpa terbatas jarak dan waktu. Selama ada kuota internet atau wifi, komunikasi melalui telepon dan chat dapat dilakukan kapan saja. Tentu saja ini jauh berbeda dengan zaman dulu pada awal telepon hadir di Indonesia. Berkomunikasi melalui telepon tak sesederhana memasukkan nomor lalu mengobrol dengan lawan bicara. Kala itu, ada seorang operator yang bertugas menghubungkan sambungan telepon antara pembicara dengan lawan bicaranya yang berada di tempat lain. “Operator telepon tersebut dipanggil Pentil Kecakot yang memiliki arti Penjaga Tilpun Kecamatan Kota,” tulis Dukut Imam Widodo dalam Malang Tempo Doeloe. Keberadaan Pentil Kecakot pun berperan penting dalam menghubungkan dua orang yang akan berkomunikasi jarak jauh.





















