Hasil pencarian
Cari di situs ini
10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tangan Dingin Eddie van Halen di Balik Hit Michael Jackson
SEJAK lepas dari grup band yang berisi para saudaranya, The Jackson 5, Michael Jackson mulai bersinar sebagai solois. Dari sekian karyanya, tembang “Beat It” yang rilis pada 1983 tak hanya melejitkan album keenamnya, Thriller, tapi juga jadi album paling laris hingga membuatnya mulai jadi ikon pop culture dunia. Lagu “Beat It” yang diciptakan sang “Raja Pop” pada 1982 dan di-launching di bawah label Epic pada Hari Valentine 1983 itu punya komposisi musik yang unik –hasil aransemen gitaris rocker Eddie Van Halen– sekaligus punya makna tersendiri bagi Jackson. Di balik lirik dan beat hard rocknya, Jackson menyisipkan pesan untuk generasi muda di manapun yang rentan dengan kehidupan jalanan. “Saya memang ingin menulis lagu, sejenis lagu yang akan saya beli jika saya ingin membeli sebuah lagu rock. Itu pendekatan saya dan saya ingin ingin anak-anak bisa menikmatinya, anak-anak sekolah hingga mahasiswa,” kata Jackson dikutip Majalah Ebony edisi Mei 1984.
- Serba-serbi Hewan Kesayangan Michael Jackson (Bagian I)
SANG “Raja Pop” Michael Jackson mengembuskan nafas terakhirnya pada 25 Juni 2009 akibat malapraktik dokter pribadinya. Ia tak hanya meninggalkan keluarga tapi juga warisan beraneka properti, termasuk kebun binatang di Neverland Ranch. Neverland Ranch merupakan properti yang bukan sekadar kediaman mewahnya. Di properti yang dimiliki Michael sejak 1988 itu juga terdapat taman hiburan dan kebun binatang tempat Michael mengoleksi sejumlah hewan peliharaannya. Michael mengoleksi setidaknya 130 fauna eksotis dari 50 spesies berbeda. Di antaranya enam ekor jerapah, seekor beruang, 20 burung langka, tiga ekor gajah, empat harimau, tujuh kera, dan tiga simpanse. Hampir semua fauna malang itu tidak diketahui nasibnya setelah Neverland Ranch terbengkalai sampai kemudian penulis dan aktor Ross Kemp menguliknya via dokumenter Searching for Michael Jackson’s Zoo with Ross Kemp (2022). Beberapa mantan pelatih kebun binatangnya dan pakar primata yang pernah rutin mengecek kebun binatang itu diwawancarainya.
- Serba-serbi Hewan Kesayangan Michael Jackson (Bagian II)
SEJAK disidang atas kasus dugaan pelecehan anak, Michael Jackson sudah tak pernah lagi kembali ke Neverland Ranch meski dia diputuskan tak bersalah dan divonis bebas Pengadilan Tinggi Santa Barbara County pada 13 Juni 2005. Neverland Ranch merupakan wisma dengan taman hiburan dan kebun binatang di Los Olivos, California yang ia miliki sejak 1988 hingga empat tahun sebelum kematiannya pada 25 Juni 2009. Setelah Michael tak lagi meninggalinya, Neverland mulai mangkrak dan akhirnya dijual pada 2009. Meski begitu, propertinya baru laku terjual pada 2020 dan nahasnya, banyak hewan peliharaan yang tak terurus sejak 2005 bernasib pahit. Hal itu terungkap lewat film dokumenter Searching for Michael Jackson’s Zoo with Ross Kemp (2022). “Untuk seseorang yang menghabiskan banyak waktu dalam kariernya menuding para kritikus terhadapnya sebagai orang-orang bodoh, mungkin itu juga berlaku buat Jackson terkait perlakuannya terhadap binatang, atau mungkin lebih buruk karena ia tahu bagaimana merawatnya dengan layak namun pada akhirnya ia tak melakukannya,” kata Kemp saat menarasikan dokumenter tersebut.
- Asam Garam Jacksen F. Tiago di Indonesia (Bagian I)
TIDAK sedikit pesepakbola legendaris yang tak pernah bisa jauh dari urusan permainan si kulit bundar. Jacksen F. Tiago bukan pengecualian. Selepas gantung sepatu pada 2001, hingga kini ia tetap berkecimpung di dunia sepakbola. Sebagai pelatih. Padahal, kalau dari segi usia saat pensiun, 33 tahun, Jackson terbilang masih cukup “muda” bila dibandingkan legiun asing lain di jagat persepakbolaan Indonesia. Keith Kayamba Gumbs asal St. Kitts and Nevis yang melegenda di Sriwijaya FC pensiun di umur 41 tahun pada 2013. Cristian Gonzales asal Uruguay yang sejak 2010 menjadi warga negara Indonesia (WNI) bahkan yang kini hampir 50 tahun usianya juga belum mau pensiun. “Kalau saya merasa sudah tidak bisa bersaing di satu tempat, saya harus cari hal lain di mana saya masih bisa bersaing. (Pensiun) ini sudah waktu yang tepat dan beralih jadi pelatih karena saya juga selalu fokus pada masa depan,” kata Jacksen di siniar Sportcast77: “Jacksen F. Tiago Buka-bukaan di Depan Mamat Alkatiri dan Coach Riphan!!” di Youtube Sport77 Official, 19 September 2022.
- Jenderal Benny Moerdani Diganti
DI PENGUJUNG masa pemerintahannya, Presiden Joko Widodo kembali melakukan perombakan kabinet. Menteri Energi dan SDM Arifin Tasrif diganti Bahlil Lahadalia. Menteri Investasi/BKPM yang sebelumnya dijabat Bahlil Lahadalia diisi Rosan Roeslani, eks Dubes RI untuk Amerika Serikat sekaligus ketua Tim Kampanye Prabowo-Gibran pada Pemilu 2024. Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly diganti politisi dan anggota DPR dari Gerindra Supratman Andi Agtas. Dari tiga menteri yang diganti, dua di antaranya kader PDI Perjuangan (Arifin Tasrif dan Yasonna Laoly). Keduanya dicopot sebelum masa jabatannya berakhir atau kabinet demisioner dua bulan lagi. Hal ini kian menyiratkan pecah kongsi antara Presiden Jokowi dengan PDIP. Pencopotan pejabat tinggi sebelum periode tugasnya berakhir juga pernah terjadi di masa Orde Baru. Tak tanggung-tanggung, nasib itulah yang pernah dialami Jenderal Benny Moerdani semasa menjabat Panglima ABRI merangkap Pangkopkamtib. Hanya tinggal kurang dari sebulan lagi masa jabatannya selesai, Presiden Soeharto keburu mencopot Benny Moerdani.
- Dicopot dari Panglima ABRI, Jenderal Benny Moerdani Santai
HARI-HARI setelah kedudukannya dicopot dari panglima ABRI, Jenderal TNI Leonardus Benjamin “Benny” Moerdani tampak lebih santai dari biasanya. Padahal, semasa menjabat panglima, Benny di kalangan wartawan dikenal sebagai sosok angker yang jarang mengumbar senyum. Raut wajah Benny yang keras kadang-kadang lebih memperlihatkan intimidasi meski tanpa banyak bicara. “Benny memancarkan kesan seorang pendiam, tapi angker. Itu kesan pertama saya,” kenang pakar politik-militer Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto. Pada 1974, Salim Said selaku wartawan Majalah Tempo untuk kali pertama mewawancarai Benny Moerdani. Benny masih berpangkat mayor jenderal yang mengepalai intelijen Dephankam dan Kopkamtib merangkap Wakil Kepala Bakin. Wawancara berlangsung di Saigon (kini Ho Chi Minh City), Vietnam, ketika Benny meninjau pasukan perdamaian Indonesia dalam Perang Vietnam Utara-Selatan.
- Jenderal Surono Peduli Anak Buah
JENDERAL TNI (Purn.) Surono Reksodimedjo merupakan perwira yang solider dengan bawahan. Sifat ini diketahui betul oleh kolega dekatnya, Letjen TNI (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo. Sewaktu Surono menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) pada 1974, Sayidiman menjadi deputinya (kini Wakasad). Namun, pertautan Surono dan Sayidiman telah terjalin lebih lama sejak mereka masih perwira menengah pada dekade 1950-an. Ketika itu, Surono menjabat gubernur Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang dan menugaskan Sayidiman sebagai komandan Resimen Taruna Akademi Teknik AD (Atekad) di Bandung. “Pak Surono mengatakan bahwa di Atekad belum ada Dan Mentar-nya, padahal jumlah tarunanya waktu itu sama atau lebih banyak dari AMN Magelang. Beliau mengatakan bahwa beliau menghendaki para Taruna Atekad, sekalipun sudah diarahkan untuk masuk Korps Zeni, Peralatan dan Perhubungan, menjadi perwira TNI dengan sikap yang tak beda dari Perwira TNI yang dibentuk di AMN Magelang. Sebab itu saya sebagai perwira infanteri dan cukup berpengalaman sebagai komandan pasukan infanteri, harus mendidik dan melatih mereka seperti taruna yang dididik di Magelang,” kenang Sayidiman. Meski dekat dengan anak buah, Surono yang kelahiran Banyumas, 6 September 1923, dikenal suka bicara blak-blakan. Seperti dicolek Berita Yudha, 19 Maret 1994, Surono kalau sudah marah cukup seram, tetapi itu hanya sesaat saja. Lebih dari itu, Surono selalu perhatian sama anak buahnya.
- Jenderal Nasution Setelah Pensiun
SERAGAM militer Angkatan Darat lengkap dengan empat bintang berjajar di pundaknya telah ditanggalkan Jenderal Abdul Haris Nasution sejak pensiun dari TNI. Tidak seperti sindrom jenderal kebanyakan, yang masih berlagak jenderal meski telah pensiun, Nasution sehari-hari malah lebih sering tampil sederhana pakai kaos oblong dan sarung. Begitulah Pak Nas –panggilan akrabnya– yang nyaris tak pernah pakai seragam militer lagi walau menghadiri acara di lingkup TNI tatkala status purnawirawan melekat pada dirinya pada 1972. Pun demikian kalau kedatangan tamu penting di rumahnya, Nasution seolah cuek saja. “Misalnya saat menemui Menristek BJ Habibie, mantan Kassospol TNI Letjen TNI (Purn.) Harsudiono Hartas yang justru berpakaian jas dan seragam, Pak Nas tetap hanya berkaos dan sarungan,” diwartakan Berita Yudha, 5 Oktober 1997. Namun, ketika menjadi undangan kehormatan dalam serah terima jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dari Jenderal TNI R. Hartono ke Jenderal TNI Wiranto pada 13 Juni 1997, Nasution datang mengenakan seragam hijau AD berikut empat bintang di pundak. Kehadiran Nasution sontak jadi buruan wartawan. Dia mengatakan, terakhir kali dirinya mengenakan seragam hijau itu adalah saat serah terima jabatan KSAD dari Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar ke Jenderal TNI Hartono pada 1995.
- Amerika, Hamburger, dan Perang Dunia I
SIAPA yang tak mengenal hamburger? Makanan yang terdiri dari roti, daging olahan, sayur dan berbagai saus ini begitu populer di berbagai belahan dunia, khususnya Amerika Serikat. Popularitas hamburger meningkat seiring dengan munculnya gerai makanan siap saji (fast-food) di Negeri Paman Sam pada awal abad ke-20. Gerai-gerai makanan tersebut berlomba menyediakan menu hamburger dengan berbagai variasi bahan dan ukuran untuk menarik minat konsumen. Alhasil kemudian hamburger menjadi salah satu ikon budaya populer Amerika. Kendati dianggap sebagai makanan khas Amerika, asal-usul hamburger disebut berkaitan erat dengan Jerman, tepatnya kota Hamburg. Hamburg merupakan kota pelabuhan penting di Jalur Hamburg-Amerika dan menjadi salah satu titik keberangkatan utama para emigran Eropa menuju Negeri Paman Sam pada abad ke-19. Para imigran yang kebanyakan orang Jerman inilah yang kemudian mempopulerkan sebuah hidangan bernama Hamburg steak yang kelak menjelma menjadi hamburger. Sejarawan makanan Amerika Josh Ozersky menulis dalam The Hamburger bahwa di Hamburg pada abad ke-19 daging sapi biasanya disajikan dalam bentuk cincang atau potongan, sebuah hidangan yang konon berasal dari Rusia (Tatar). Dimasak dengan olesan mentega yang menggugah selera, Hamburg steak adalah jenis makanan yang cukup diminati karena harganya murah namun bergizi. Lambat laun, cita rasa Hamburg steak yang mengguggah selera tak hanya disukai para imigran Eropa, orang-orang Amerika juga mulai melirik dan tertarik untuk mencicipi makanan ini.
- Murba Bangkit Lagi Gagal Lagi
PAGI, 28 Mei 1998, Forum Komunikasi Murba (FKM) menggelar konferensi pers di Gedung Joeang 45 Menteng 31 Jakarta Pusat. Nelly, istri Adam Malik, selaku penasihat FKM yang membuka pertemuan menyebutkan soal rencana menghidupkan kembali Partai Murba, yang kemudian menyebut dirinya Partai Musyawarah Rakyat Banyak. Ketua Umum FKM Hadidjojo Nitimihardjo menambahkan, kongres akan diadakan untuk mengambil keputusan pendirian Partai Murba. Dia juga menyatakan kontak sudah dijalin dengan 24 daerah. Empat hari kemudian, mantan anggota Dewan Partai memberikan pernyataan bahwa mereka menyetujui pembentukan kembali Partai Murba dan mengalihkan pengurus FKM menjadi Dewan Partai.
- “Winston Churchill” Tewas dalam Kecelakaan Pesawat
PESAWAT British Overseas Airways yang mengangkut aktor terkenal Leslie Howard dan 12 penumpang lainnya dilaporkan hilang kontak. Sebelumnya, pesawat itu sempat mengabarkan telah diserang oleh pesawat musuh dalam perjalanan dari Lisbon ke Inggris. Demikian berita surat kabar The New York Times, 3 Juni 1943. Kabar kecelakaan pesawat yang dialami aktor dan sutradara berkebangsaan Inggris, Leslie Howard, mengejutkan publik. Pesawat komersial rute Lisbon-London itu ditembak jauh di atas Teluk Biscay. Insiden ini semakin menuai sorotan karena melibatkan Angkatan Udara Jerman. “Pertama, pertanyaan-pertanyaan bernada marah diajukan di Parlemen Inggris tentang bahaya terbang di siang hari pada rute Lisbon. Kemudian laporan-laporan mulai beredar yang menunjukkan beberapa misteri tentang insiden tersebut,” tulis Ian Colvin, wartawan Inggris yang menginvestigasi kecelakaan pesawat itu, dalam Flight 777: The Mystery of Leslie Howard.
- Pesawat Jatuh di Tinombala
PADA 29 Maret 1977, pesawat Twin Otter DHC-6 bernomor registrasi PK-NUP MZ-516 milik Merpati Nusantara Airlines, hilang jejak setelah lima menit lepas landas dari bandara Mutiara, Palu. Menurut jadwal, pesawat dari Manado menuju Luwuk, kemudian Palu dan Toli-Toli. Pesawat berpenumpang 20 orang dengan 3 awak itu jatuh di lereng Gunung Tinombala, Sulawesi Tengah. Badan SAR Nasional (Basarnas) TNI AU segera memerintahkan Kantor Koordinasi Rescue (KKR) Makassar untuk melakukan pencarian. Untuk menunjang Operasi Tinombala ini, dikerahkan sembilan pesawat, yaitu 1 Twin Otter, 1 Fokker-27, 1 C-130B Hercules, 1 SCSkyvan, 1 Helikopter Alloutte-III, 2 Helikopter B0-105, 1 Helikopter Hughes-500 dan 1 Helikopter Puma SA-330. Selain itu juga dikerahkan 33 anggota Paskhas TNI AU dan Linud TNI AD. Namun, pencarian tidak membuahkan hasil sampai 5 April 1977, kopilot Masykur dan dua penumpang, Hasan Tawil dan Haji Salim Midu, muncul di daerah transmigrasi Ongka Malino, sekitar 70 km di sebelah utara Gunung Tinombala atau 12 jam lebih perjalanan dengan jip dari kota Palu.





















