top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pernikahan Orang Jawa Kuno

    KETIKA seseorang menikah, pertama-tama dia akan pergi ke rumah mempelai perempuan untuk menyelesaikan pernikahan ini. Tiga hari kemudian dia membawa sang istri pulang ke rumah. Pada saat itu, kerabat mempelai perempuan menabuh genderang dan gong tembaga, meniup tempurung kelapa, menabuh genderang bambu, dan menyalakan kembang api. Sejumlah pria bersenjata pedang pendek mengelilingi mereka. Rambut sang mempelai perempuan dibiarkan tergerai. Bagian atas tubuhnya tidak ditutupi pakaian. Kakinya tak mengenakan alas kaki. Sehelai kain hijau bercorak bunga dililitkan di pinggangnya. Rangkaian manik-manik emas menghiasai kepalanya. Gelang emas dan perak yang indah menghiasi pergelangan tangannya. Para kerabat, rekan-rekan dan tetangga membawakan daun sirih dan pinang. Mereka merangkai bunga dan dedaunan membentuk sebuah kapal kecil. Barang-barang ini mereka bawa bersamaan dengan kepindahan keduanya sebagai bentuk ucapan selamat. Setelah tiba di rumah mereka menabuh genderang dan gong dan bergembira selama beberapa hari. Kemudian mereka semua pulang.

  • Yap Thiam Hien Membela Soebandrio

    DALAM kasus besar yang menarik perhatian masyarakat, pengacara kerap menjadi sorotan. Pembela korban atau pelaku itu kerap tampil mewakili kliennya. Dari merekalah publik mendapatkan banyak informasi seputar kasus yang tengah bergulir. Bahkan, seperti dalam kasus pembunuhan Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, pengacaranya menyampaikan keterangan-keterangan yang mengejutkan. Dalam sejarah, salah satu pengacara yang menjadi perhatian publik adalah Yap Thiam Hien, yang dijuluki sang pendekar keadilan, karena menjadi pembela para terdakwa dalam kasus-kasus besar. Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia menulis, Yap Thiam Hien pernah membela perkara Lim Koe Nio, miliarder yang berafiliasi dengan KMT (Kuomintang) di Surabaya; perkara dr. Soebandrio, Wakil Perdana Menteri dalam Mahmilub (Mahkamah Luar Biasa); perkara Oei Tjoe Tat, Menteri Negara Pembantu Sukarno tahun 1976; dan perkara Lie Hok Tay, Direktur PT Quick.

  • Yap Thiam Hien dari Pengajar ke Pengacara

    SEKIRA tahun 1994, Harry Wibowo, mantan Koordinator Tim Pencari Fakta kasus pembunuhan Marsinah, ditarik pengacara Todung Mulya Lubis untuk menjadi pengurus Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Yapusham). Dia diminta Todung untuk memperbaiki kinerja Yapusham khususnya program database mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Program pusat informasi HAM yang dimiliki Yapusham ini juga digunakan untuk melakukan penjaringan tokoh masyarakat yang berjuang dalam penegakan HAM sehinga layak mendapat Yap Thiam Hien Award. “Guna mendapat database HAM yang lengkap, kami berlangganan 32 koran kuning (sebutan bagi koran yang memberitakan masalah kriminal dan seks, red.), lalu kami teliti pemberitaan mengenai pelanggaran HAM. Koran kuning ini kan isinya kejadian-kejadian di daerah yang luput dari perhatian pusat. Sekaligus dari penelitian ini, kami memberi masukan siapa-siapa saja yang bisa menjadi nominator penerima Yap Thiam Hien Award,” ujar Harwib kepada Historia.ID. Siapakah Yap Thiam Hien sehingga namanya dijadikan penghargaan bagi pejuang HAM di Indonesia? Yap Thiam Hien lahir di Banda Aceh pada 25 Mei 1913 sebagai anak pertama dari pasangan Yap Sin Eng dan Hoan Tjing Nio. Leluhurnya adalah eksodus dari Tiongkok Selatan, tepatnya dari Provinsi Kwantung Distrik Moi-yan Subdistrik Lo-yi, sekira 1844.

  • Makan Daging Masa Jawa Kuno

    JAMUAN mereka sering kali sangat bersahaja, terdiri dari domba, kambing, atau seperempat sapi dan kerbau panggang. Dengan itu mereka mengadakan pesta besar-besaran. Nasi ditumpuk begitu tinggi, setinggi bahu orang yang duduk bersila. Ayam dan unggas panggang, serta berbagai jenis makanan kering dari daging lembu, ditumpuk sebanyak-banyaknya, di mana-mana. Seolah itu merupakan pemborosan yang nista. Namun tidaklah demikian. Begitu raja dan kaum bangsawan selesai makan, sisanya dipindahkan bersama tikarnya. Lalu diberikan semuanya kepada para pelayan raja. Bagi kaum bangsawan, jika ada yang tersisa, mereka membawanya pulang untuk dinikmati bersama anak-anak mereka atas tanggungan raja.

  • Mencicipi Masakan Kuno

    MAKANAN disajikan melimpah di atas tikar, dialasi daun pisang sepanjang dua kaki dan selebar satu kaki sebagai ganti taplak. Makanan mereka seperti makanan kita, bergaram. Ada yang dipanggang, dirempahi, digoreng. Namun mereka hanya menggunaan minyak sebagai ganti mentega. Jamuan mereka seringkali sangat bersahaja, terdiri dari domba, kambing, atau seperempat sapi dan kerbau panggang. Dari catatan Van Goens itu, dapat sedikit terbayang penyajian masakan pada masa lalu. Duta VOC di Batavia itu beberapa kali mengunjungi Keraton Mataram ketika Amangkurat I (1645-1677) berkuasa. Sayang, penjelasannya kurang detail, sehingga masih sulit membayangkan rasa makanan itu, selain kalau masakan itu dirempahi. Epigraf asal Australia, Antoinette M. Barret Jones dalam Early Tenth Century Java from the Inscriptions, memperkirakan bumbu masakan pada zaman kuno, paling tidak di Jawa pada abad ke-10 M. Dia menyebut rasa masakannya berbeda dengan sekarang.

  • Pepes Ikan ala Masyarakat Kuno

    PADA Bulan Magha tanggal sembilan, untuk upacara besar kepada Sang Hyang I Turuñan, penduduk Desa Turuñan mempersembahkan ikan simbur lima ekor, pepes ikan nalyan 20 buah, ikan kering dua gunja, sedangkan kepada Pracaksu diberikan dua ekor ikan simbur, 10 pepes ikan nalyan, dan ikan kering satu gunja serta air untuk menyucikan diri melebur kekotoran atau dosa. Berita dalam Prasasti Trunyan AI, dari Bali 813 Saka (891 M) itu menggambarkan penduduk Desa Turuñan yang diwajibkan untuk menghaturkan beberapa jenis makanan sebagai persembahan. Penduduk Desa Air Rawang juga diwajibkan mempersembahkan makanan serupa, sebagaimana diterangkan dalam Prasasti Turunyan B dari Bali Kuno 833 Saka (911 M). Tertulis di sana, persembahan makanan dari Desa Air Rawang berupa 30 pepes ikan nyalian, tiga gunja ikan kering, 30 butir telur dan 10 ekor ikan gabus untuk keperluan upacara pada setiap hari ke lima bulan separuh gelap pada bulan Asuji. Mereka juga diwajibkan mempersembahkan bumbu-bumbuan dan meramu bumbu tersebut oleh Lampunan Bungsu.

  • Sumber Pemasukan Kerajaan Kuno

    KERAJAAN-kerajaan kuno punya kebijakan meringankan pajak bagi desa-desa perdikan (sima). Namun, pemasukan negara tetap terjaga, salah satunyaa dari pajak. Semua penduduk wajib membayar pajak. Di samping mereka harus kerja bakti untuk raja atau kerajaan. Menurut arkeolog UGM, Djoko Dwiyanto membayar pajak merupakan komitmen rakyat untuk menjaga keselarasan hubungan sosial dengan rajanya. “Seorang raja dianggap dapat melindungi, melayani, dan menyejahterakan rakyatnya,” tulisnya dalam “Pungutan Pajak dan Pembatasan Usaha di Jawa Pada Abad IX-XV Masehi” dalam Jurnal Humaniora I/1995.

  • Poligami pada Zaman Kuno

    AMAT senang baginda raja bersuami istri, permaisuri baginda amat berhati-hati ketika beliau melayani baginda raja. Tidak ada yang saling cemburu, ketiga istri baginda seiya sekata dan taat serta patuh kepada baginda raja. Begitu teks Ramayana menggambarkan hubungan suami istri antara Dewi Kekayi, Sumitra, Kausalya dengan Raja Dasaratha, penguasa Kerajaan Ayodya. Ketiganya sama-sama berkedudukan sebagai permaisuri. Mereka diibaratkan seperti Dewi Durga, Dewi Gangga, dan Dewi Gauri, yaitu tiga sakti Dewa Siwa yang cantik berbudi luhur. Pada masa Kuno, terutama masa kerajaan-kerajaan Jawa, bukan hal yang kontroversial jika seorang lelaki punya istri lebih dari satu. Data tekstual dan artefaktual membuktikannya. Terutama dalam dunia kakawin, praktik poligami digambarkan sebagai praktik yang damai. Artinya, tak ada yang saling cemburu di antara istri.

  • Perempuan Terpelajar Masa Jawa Kuno

    BANYAK tokoh utama perempuan dalam sastra Jawa dikisahkan gemar mempelajari ilmu sastra. Seperti Kakawin Krsnayana karya Mpu Triguna menyebut Rukmini,kekasih Kresna, terbiasa membaca lontar seusai berhias dan berbedak. “Dia tidak dapat dipisahkan dari lontar yang tersebar dan terawat untuk dibaca dan dipelajari dengan tekun. Tidak berhenti dia mempelajari ilmu-ilmu sastra, benar-benar mirip dengan orang bijaksana. Kakawin yang dipelajarinya secara sempurna konon dijadikan kutipan olehnya,” tulis Mpu Triguna. Perempuan juga mempelajari agama seperti dicatat dalam Ramayana. Disebutkan Rama tengah memikirkan keberadaan Sita. Dia bertanya apakah Sita sedang memetik bunga atau sedang mendengarkan pelajaran tentang dharmasastra yang diberikan oleh pertapa perempuan.

  • Cara Perempuan Zaman Kuno Mengakhiri Pernikahan

    TERUTAMA gadis bangsawan, mereka seringkali menikah karena alasan politik. Kendati begitu, banyak perempuan yang tak bahagia dalam pernikahannya boleh mengajukan cerai. Pada masa Majapahit pernikahan diatur dalam teks hukum Agama atau Kutaramanawa. Disebutkan seorang istri boleh membatalkan perkawinannya jika suaminya menderita beberapa penyakit tertentu. Jika laki-laki menderita penyakit gila, batuk kering, ayan, impoten, banci, dan akhirnya istri tak suka kepadanya, sang istri diimbau untuk menunggu tiga tahun. Selama itu sang suami diberi kesempatan untuk berobat.

  • Menikahi Saudara Sepupu pada Zaman Kuno

    KONON kabarnya, perkawinan Wijaya dan keempat putri Kertanagara adalah perkawinan antara misan ketiga. Sang Sri Parameswari Tribhuwana, si sulung yang tanpa cela; Dyah Duhita yang sempurna kecantikannya; Prajnaparamita, dikenal dengan nama Jayendradewi, dewi yang sempurna kemolekannya; Lalu si bungsu Gayatri yang ramah, yang dijadikan Rajapatni di dalam keraton, keempatnya masih bersaudara dekat dengan Sang Kertarajasa. Ayahnya, Dyah Lembu Tal ialah sepupu Kertanagara. Sang Narendra senang menjadi sepupu ketiga para putri. Mereka pun jadi punya cita-cita yang sama. “Karena itu juga bagaimana istri-istri raja bersatu dengannya, mempunyai cita-cita yang sama, apapun perintahnya kepada mereka semua memberikan kesenangan kepada dunia,” tulis Prapanca dalam Nagarakrtagama. Berbeda dengan di India, di Jawa perkawinan antarsaudara sepupu umum dilakukan. Prasasti dan naskah menjadi buktinya. Utamanya, perkawinan ini dilakukan di antara keluarga kerajaan.

  • Kisah Tanah Kuno Leluhur Barus

    BERTEMPAT di antara dua muara kuno, Aek Busuk dan Aek Maco, Lobu Tua mendiami daerah pesisir di kawasan pantai barat pulau Sumatera. Keberadaannya amat penting dalam mengungkap jaringan laut internasional abad ke-6 hingga ke-11 di Nusantara. Para peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Indonesia, bekerja sama dengan École française d’Extrême-Orient tahun 1995-2000, telah membuka kurang lebih lahan seluas 1000 m² di situs Lobu Tua. Mereka pernah menemukan ribuan benda kuno, seperti perhiasan, emas, mata uang, prasasti, keramik, kaca, tembikar, dan lain sebagainya. “Dari jumlah pecahan, artefak kaca merupakan salah satu jenis temuan yang paling banyak di Lobu Tua. Jumlah seluruh temuan kaca mendekati seribu buah,” tulis Calude Guillot dan Sonny Ch. Wibisono dalam “Temuan Kaca di Lobu Tua: Tinjauan Awal” dimuat Lobu Tua Sejarah Awal Barus.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page