top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10070 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Terowongan Kuno di Bawah Bendungan

    PROYEK Bendungan Tamblang di Buleleng, Bali yang masih berjalan kelak akan memenuhi kebutuhan irigasi. Pada masa lalu pernah ada pembuatan saluran irigasi di tempat yang sama. Terowongan air kuno itu ditemukan di bawah poros fondasi utama Bendungan Tamblang. Tim peneliti Balai Arkeologi Bali sudah meninjau terowongan kuno itu pada 8 Desember 2020. Peneliti mencatat terowongan itu memiliki lebar 70 sentimeter dan tinggi 170 sentimeter. Ada banyak ceruk kecil di dinding terowongan. Kemungkinan dulu digunakan sebagai tempat menaruh sumber penerangan selama proses pembangunan. Agaknya sedimen sudah masuk ke dalam lubang terowongan yang berada di tebing tepi Sungai Aya itu. Keberadaan terowongan air di proyek Bendungan Tamblang menambah penemuan sistem irigasi peninggalan masa Bali Kuno. Balai Arkeologi Bali memperkirakan terowongan kuno itu merupakan peninggalan abad 11. Mereka mengambil rujukan dari Goa Raksasa yang memiliki kemiripan dimensi.

  • Kegagalan Cinta dalam Kisah Zaman Kuno

    CERITA bermula ketika Panji Kudawaningpati, putra mahkota Kerajaan Jenggala, mengunjungi kepatihan. Ia jatuh cinta pada putri Patih Kudanawarsa. Panji pun menikahi Dewi Angreni, putri sang patih. Padahal, Panji sudah bertunangan dengan Sekartaji, putri Kerajaan Kediri. Panji tak mau menikah dengan perempuan lain karena sudah memperistri Angreni. Karenanya Raja Jenggala menyuruh Brajanata untuk membunuh Angreni agar perkawinan Panji dan Sekartaji dapat terlaksana. Panji sedih dan memutuskan berkelana. Panji mengubah namanya menjadi Klana Jayengsari. Dalam pengembaraan, dia melakukan berbagai penaklukkan. Dia mencari kematian lewat pertempuran agar bisa segera berkumpul dengan Angreni.

  • Dewi Sri dan Hariti dalam Masyarakat Jawa Kuno

    PEREMPUAN atau ibu dalam berbagai peradaban kuno dianggap sumber kehidupan. Penjelmaannya sebagai dewi kesuburan dan reproduksi. Di Indonesia, dewi ibu atau dewi kesuburan identik dengan Dewi Sri. Arkeolog Titi Surti Nastiti dalam “Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia” yang terbit dalam jurnal Tumotowa Vol. 3 No. 1 (2020), menjelaskan kata “Sri” diambil dari bahasa Sanskerta, śrī. Artinya kesuburan, kekayaan, keberuntungan, kesehatan, keindahan, dan personifikasi. Śrī juga biasa dipakai sebagai awalan menyebut nama orang terhormat atau suci, misalnya Śrī Krisna. Pun dalam bahasa Indonesia, misalnya Sri Baginda. Dewi Sri dihormati masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Legendanya di setiap daerah hampir sama, yakni tentang tumbuhan yang berasal dari tubuh seorang perempuan. Cerita Dewi Sri tertua ditemukan dalam teks Tantu Panggelaran yang ditulis pada abad ke-16. Teks ini berkisah tentang keadaan Pulau Jawa ketika baru diciptakan. Dewa-dewa turun untuk menyempurnakannya. Termasuk Batara Wisnu dengan Batari Sri yang menjelma jadi raja di Mdang Gana bernama Sang Kandyawan dan permaisurinya. Pasangan ini dikaruniai lima orang putra.

  • Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno

    ORANG-orang dari mancanegara sudah sejak lama datang ke Jawa. Pemerintah kerajaan di Jawa pun merasa perlu membentuk petugas dan sistem untuk mengatur keberadaan orang-orang asing itu. Munculnya aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta dalam berbagai prasasti merupakan bukti bahwa pengaruh asing sudah diterima masyarakat Nusantara. Contohnya prasasti-prasasti dari Kutai di Kalimantan dan Tarumanegara di Jawa yang berasal dari abad ke-5. “Tapi dulu belum ada penyebutan yang eksplisit tentang orang asing. Baru ada pada masa Airlangga. Selanjutnya makin sering muncul di Prasasti Majapahit,” kata Asri Hayati Nufus dalam webinar berjudul “Kajian Prasasti Masa Airlangga” yang diadakan Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) dalam rangka purnabakti arkeolog Universitas Indonesia, Ninny Soesanti pada Selasa (25/05/2021).

  • Main Judi Masa Jawa Kuno

    BANGO Samparan, seorang penjudi dari Karuman. Suatu hari, dia kalah judi, ditagih tak bisa membayar. Dia kemudian pergi bertapa di Rabut Jalu. Di sana, dia mendengar suara dari langit yang menyuruhnya pulang ke Karuman. Kata suara itu: “Anak saya yang akan melunasi utangmu. Namanya Ken Angrok.” Bango Samparan pun pulang. Dia berjalan semalaman sampai akhirnya bertemu anak yang dimaksud. Dia bawa pulang anak itu dan jadi anak angkat. Besoknya, Bango Samparan mengajak Ken Angrok pergi ke tempat judi. Di sana, dia diajak berjudi oleh malandang. Dia menang. “Sungguh pertolongan dewa,” pikirnya. Bango Samparan kemudian pulang bersama Ken Angrok.

  • Pakaian pada Masa Jawa Kuno

    PADA 992, raja Jawa mengirim utusan ke Cina. Utusan itu membawa persembahan berupa kain sutra bersulam hiasan bunga, sutra bersulam benang emas, dan sutra beraneka warna lainnya. Penduduk Jawa memelihara ulat sutra. Mereka menenun kain sutra yang halus, sutra kuning, dan kain dari katun. Demikianlah berita Sejarah Dinasti Sung (960–1279) mencatat produksi kain di Jawa. Informasi mengenai pembuatan dan penjualan pakaian juga tercatat dalam prasasti. Sebagian besar prasasti mencatat pakaian atau kain merupakan hadiah (pasek pasek) yang diberikan kepada pejabat yang menghadiri upacara penetapan daerah perdikan (sima). Jenis pakaiannya disebut wdihan.

  • Pakaian Mewah pada Masa Jawa Kuno

    ORANG Jawa Kuno sehari-hari mengenakan kain yang menutupi dada hingga bawah lutut. Rambut mereka dibiarkan terurai. Sementara raja memakai mantel dari sutra, sepatu dari kulit, dan rambutnya disanggul memakai kerincingan emas. Demikian catatan utusan Dinasti Sung saat mendatangi Jawa pada abad ke-10. Pada masa itu, pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga mencerminkan status sosial. Hal itu digambarkan dalam relief candi. Pada relief Prambanan dan Borobudur, laki-laki dan perempuan berpakaian dengan membiarkan bagian dada terbuka. Rambutnya disanggul, diurai sebahu, atau memakai penutup kepala.

  • Memulangkan Artefak Kuno Yunani dari Genggaman Inggris

    SUDAH dua abad lamanya Marmer Parthenon berdiam di Inggris. Sudah bertahun-tahun pula pemerintah Yunani berupaya merepatriasinya, namun hingga sekarang belum juga berbuah. Meski begitu, pihak Inggris bukan berarti tak mau membuka pintu kerjasama. Marmer Parthenon atau acap disebut Marmer Elgin adalah kumpulan artefak kuno berupa 17 patung dan relief berbahan marmer hasil karya seniman Yunani, Phidias. Mulanya, Marmer Parthenon berada di Kuil Parthenon dan bangunan kuno lain di Kompleks Akropolis, Athena, Yunani yang berasal dari masa antara 447-438 SM. Di antara karya itu menggambarkan banyak kisah pertempuran kaum Lapith dan makhluk mitos Centaur. Pada awal abad ke-19, ke-17 artefak itu dibawa Duta Besar (Dubes) Inggris untuk Kesultanan Utsmaniyah Thomas Bruce, alias Lord Elgin, ke Inggris. Sejak 1816, artefak itu menjadi koleksi milik British Museum, London.

  • Susu Kedelai Saridele

    SEJAK tahun 1950, slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang dipelopori oleh Poorwo Soedarmo selaku ketua Lembaga Makanan Rakyat dikampanyekan secara luas. Konsep tersebut terdiri dari makanan pokok (karbohidrat), lauk-pauk (protein), sayuran, buah-buahan, dan disempurnakan oleh susu. Slogan tersebut masih melekat dalam ingatan masyarakat sebagai simbol pentingnya gizi seimbang. Namun, pada masa itu, susu tidak mudah diperoleh. Dalam Alamanak Pertanian tahun 1954 dijelaskan, susu tergolong mahal karena bergantung pada impor. Susu encer dalam kaleng dijual Rp4,50 per liter, sedangkan susu peras di Jakarta antara Rp4 hingga Rp5. Harga tersebut membuat masyarakat sulit membeli susu, terlebih produksi susu dalam negeri belum memadai. Persoalan lain muncul karena keterbatasan sapi perah. Sekalipun jumlah ternak dapat ditambah, ketersediaan pakan masih sangat terbatas. Melihat kondisi tersebut, pemerintah mencari alternatif pengganti susu sapi yaitu kedelai. Lahirah susu nabati bernama Saridele.

  • Jual-Beli Semasa Bali Kuno

    TAWAR-menawar antara pedagang dan pembeli riuh di Pasar Tradisional Sukawati, Bali, pada 18 Oktober 2022. Pasar yang sudah ada sejak tahun 1983 ini masih menjadi idola wisatawan saat berkunjung ke Bali. Suasana pasar menjadi sensasi tersendiri bagi para wisatawan untuk mengunjunginya. Pasar Sukawati awalnya merupakan pasar seni patung hasil kreativitas seniman Bali. Seiring berjalannya waktu, rupa-rupa benda tersedia di sana. Pengunjung umumnya membeli berbagai souvenir untuk oleh-oleh. Kegiatan jual-beli di pasar sudah ada di Bali sejak sekitar abad IX. Pada masa Bali Kuno, pasar dikenal dengan berbagai istilah seperti pèkèn, tèntèn, pasar, dan rgas pasar. Istilah terakhir merupakan istilah khusus untuk pasar yang buka pada hari-hari tertentu (pasaran).

  • Seni Pertunjukan dalam Resepsi Pernikahan Jawa Kuno

    PUTRA terakhir Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, dikabarkan akan melangsungkan pernikahan akhir tahun ini. Kendati belum diketahui pasti kapan pernikahan tersebut akan diselenggarakan, berita rencana pernikahan Kaesang Pangarep sudah berseliweran di media sosial. Bukan hanya dirinya sendiri, kakak-kakak Kaesang yakni Gibran dan Kahiyang memberi tanda-tanda mengenai rencana tersebut. Pernikahan bagi orang Jawa adalah suatu acara sakral. Oleh sebab itu, perencanaannya dilakukan sebaik mungkin dan dilakukan jauh hari. Termasuk berbagai hiburan dan pertunjukan yang akan tersaji dalam acara tersebut. Hal itu sudah terjadi sejak masa Jawa Kuno. Antara lain digambarkan dalam Kakawin Sumanasantaka. Kakawin Sumanasantaka yang merupakan karya fiksi ciptaan Mpu Monaguna, seorang pujangga asal Kediri abad ke-13. Meskipun cerita rekaan, dalam kakawin ini sang pujangga menggambarkan kehidupan sosial di Jawa pada masanya.

  • Kurug, Pakaian Istimewa Masyarakat Jawa Kuno

    BILA dulu busana batik hanya ditemui dalam acara-acara formal, kini hal itu sudah usang. Batik menjadi salah satu motif yang mewarnai gaya busana harian laki-laki dan perempuan masa kini. “Nafas” kekinian membuat fleksibilitas batik tinggi. Kini lazim ditemukan di tempat umum motif batik dalam bentuk blouse, kemeja, bahkan kaos sebagai atasan, atau tetap dibiarkan sebagai bawahan berupa kain lembaran dan juga sarung. Motif batik Jlamprang dari Pekalongan dan motif batik Nitik dari Yogyakarta merupakan motif populer yang dikenal masyarakat Jawa modern saat ini. Motif ini merupakan adaptasi motif Patola dari India yang amat populer di berbagai wilayah Nusantara. Menurut buku Mapping India: Transitions and Transformations, 18th-19th Century yang dieditori Nilanjana Mukherjee dan Sutapa Dutta, salah satu pola patola tertua, diidentifikasi oleh Buhler sebagai Motif Tipe 25 dari berlian ganda dan tekstil patola imitasi lain yang lebih tua dengan motif X dapat dilihat berulang pada patola imitasi yang diproduksi di Jawa, masuk ke Bali, Kalimantan dan Indonesia bagian timur karena tersebar luas dan mudah tersedia di Asia Tenggara, menurut John Guy.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page