Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ahmadiyah dan Sukarno
ENDEH, 25 November 1935, rasa gundah datang menyelimuti Sukarno. Sudah beberapa hari pikirannya begitu terbebani oleh sebuah surat dari kawannya, A. Hassan, di Bandung. Pasalnya, ia dituduh telah mendirikan cabang Ahmadiyah di Sulawesi. Bahkan menjadi propagandis untuk penyebaran Ahmadiyah di wilayah itu. Menurut sang kawan, berita tentang hubungan dirinya dan Ahmadiyah pertama kali tersebar di surat kabar Pemandangan, pada sebuah kolom berita singkat. Mengingat surat kabar yang dimaksud baru sampai di Endeh tiga sampai empat hari, Sukarno belum sempat membacanya. Namun ia sangat yakin dengan kabar dari kawan yang dipercayainya itu. Kerisauan Bung Karno kemudian dituangkan di dalam sebuah surat berjudul “Tidak Percaya Bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi”, yang dimuat dalam Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Pertama. Sukarno tidak habis pikir bagaimana bisa tuduhan sebagai propagandis Ahmadiyah di Sulawesi ini dialamatkan kepadanya, sedangkan di dalam pengasingan ia tidak bisa begerak secara bebas. Sukarno lalu meminta kepada A.Hasan untuk membantunya membantah segala berita tentang dirinya di surat kabar Pemandangan.
- Suatu Hari di Yerusalem
YERUSSALEM, 637. Begitu mendengar derap kuda pasukan Arab Islam mulai mendekat, Putra Mahkota Costantine menjadi putus asa. Alih-alih melaksanakan perintah Kaisar Heraklius (yang tak lain ayah Costantine) untuk mempertahankan kota suci itu, dia justru kabur ke pelabuhan Caesarea: menyusul sang ayah menuju Costantinople lewat jalur laut. “Praktis di Yerussalem hanya menyisakan Panglima Artavon dan Patriach Sophorius sebagai wakil resmi dari bangsa Romawi,” demikian menurut The Historians of the World Vol. VII (Rome). Dalam sumber klasik yang diselia oleh Henry Smith Williams itu disebutkan, sepeninggal Costantine, terjadilah perbedaan pendapat yang tajam antara Artavon dengan Sophorius. Sebagai seorang jenderal, Artavon bersikeras akan mempertahankan Yerussalem sampai titik darah terakhir dengan mengerahkan seluruh penduduk untuk melakukan perlawanan. Sementara Uskup Agung Sophorius lebih memilih jalan damai mengingat musuh terlalu kuat dan kondisi rakyat yang sudah tidak memiliki nyali lagi untuk berperang.
- Para Pembangun Yerusalem
KESUCIAN Yerusalem atau al-Quds dalam bahasa Arab, telah lama diyakini jauh sebelum kemunculan tiga agama monoteistik: Islam,Yudaisme, dan Kristen. Adalah orang Kanaan yang diyakini mendirikan kota di wilayah Yerusalem sekarang pada 3.000 SM. Selain orang Islam, Kristen, dan Yahudi yang mengakui kesakralan Yerusalem, orang Kanaan pun menganggap kota ini sebagai ciptaan Tuhan mereka. Sebagaimana ditulis Haitham F. Al-Ratout, arsitek dan arkeolog An-Najah National University, Palestina, dalam The Architectural Development of Al-Aqsa Mosque in the Early Islamic Period: Sacred Architecture in the Shape of the ‘Holy’, makna religius wilayah Yerusalem itulah yang mungkin telah mendorong kemakmuran arsitektur dan perkotaan kawasan itu bahkan sebelum ketiga agama itu lahir. Kesuciannya telah lebih dulu dipercaya bahkan sejak periode Kanaan pada 3.300–1.200 SM. “Itu karena nama paling awal Uru-Salim mengacu pada nama Tuhan orang Kanaan,” tulis Haitham.
- Prahara Yerusalem Diusik Amerika
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump melempar bola panas pada Rabu, 6 Desember 2017, lalu. Selain secara sepihak mengakui Yerusalaem resmi sebagai ibukota Israel, dia juga memerintahkan Kedutaan Besar (Kedubes) AS segera dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem. Pernyataan itu langsung membuat berang negara-negara yang selama ini berada di belakang Palestina, termasuk Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) melayangkan kecaman di Istana Bogor sehari setelah pernyataan Trump itu. “Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak AS terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel dan meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan tersebut. Pengakuan sepihak tersebut melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan (DK) dan Majelis Umum PBB yang AS menjadi anggota tetapnya, serta bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia,” kata Jokowi dalam pernyatan pers.
- Kampiun Persatuan Pemuda Islam
ATAS dorongan sesepuh Masyumi, mahasiswa Sekolah Tinggi Islam yang didirikan Masyumi, mengonsep pembentukan organisasi pemuda Islam. Setelah matang, pada 2 Oktober 1945, mereka menghelat pertemuan di Balai Muslimin di Kramat Raya 19 Jakarta. Hadir tokoh-tokoh Islam seperti Wahid Hasyim (NU), Anwar Tjokroaminoto (PSII), dan Mohammad Natsir. Dalam pertemuan itu diresmikanlah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Harsono Tjokroaminoto menjadi ketua pertamanya. GPII merekrut pemuda dan pemudi berusia 15–35 tahun, dan mengembangkan sayap khusus pemudi: GPII Putri. Dalam anggaran dasar GPII, pengurus pusat berkedudukan di tempat Pengurus Besar Masyumi dan GPII berjuang di bawah pengawasan Masyumi. Namun, hubungan GPII dengan Masyumi mengalami dinamikanya sendiri.
- Demonstrasi Menolak Olimpiade Berujung Pembantaian
PLAZA de las Tres Culturas di Distrik Tlatelolco, Mexico City masih disesaki sekitar 10 ribu massa mahasiswa dan pelajar di pengujung petang 2 Oktober 1968. Unjuk rasa dan orasi menolak penyelenggaraan Olimpiade masih bergema ketika aparat militer Meksiko mulai mengepung. Menjelang pukul 6 petang, tetiba saja dua peluru suar ditembakkan ke arah massa yang memicu kepanikan dan berujung tragedi. Di hari itu, ribuan mahasiswa kiri dari UNAM, IPN, serta beberapa kampus lain dan pelajar dari berbagai sekolah menengah atas yang tergabung dalam Consejo Nacional de Huelga (CNH) atau Dewan Mogok Nasional menggelar demonstrasi besar-besaran. Sudah sejak Juli CNH menentang pemerintah yang dikuasai rezim otoriter Partai Revolusioner Institusional (PRI) yang sudah berkuasa sejak 1944. “Tahun 1968 di Mexico City jadi masa di mana aliansi antara pelajar, kaum pekerja, dan kalangan miskin kota mulai berani menentang rezim pemerintah. Para pelajar turun ke jalan-jalan, ke alun-alun, di dalam bus-bus, membentuk brigade rakyat. Tidak ada pemimpin sentral dalam gerakan mereka, hanya ada komite-komite yang punya tujuan menuntut demokrasi,” tulis pakar studi Amerika Latin Jeffrey Rubin di kolom majalah Dissent, edisi musim panas 2002, “From Che to Marcos”.
- Dari Markas Penentang Hitler Jadi Sarang Intelijen Nazi
HOTEL Lutetia pernah menjadi tempat berkumpul kalangan intelektual Jerman yang menentang pemerintahan fasis Adolf Hitler. Namun, di masa Perang Dunia II, hotel tersebut beralih fungsi sebagai markas Abwehr, dinas intelijen militer Jerman. Diresmikan pada 28 Desember 1910, Hotel Lutetia menjadi salah satu penginapan paling modern di Prancis. Kamar-kamarnya dilengkapi fasilitas mutakhir, mulai dari pendingin udara, air panas, telepon untuk menghubungi resepsionis, hingga perabotan terkini dari Le Bon Marché, pusat perbelanjaan pertama di Paris yang inovatif. Dua bangunan ini berkaitan yang dibangun oleh keluarga Boucicaut. Sejarawan Michael R. Marrus mencatat dalam “Lutétia: A Luxury Hotel in Paris Meets the Holocaust”, termuat di Beyond “Ordinary Men”, Hotel Lutetia dibangun untuk menampung para pembeli dan pemasok kaya dari luar kota yang hendak berbelanja di Le Bon Marché. Hotel itu tidak hanya dibangun dengan fasilitas mewah kelas atas, tetapi juga dirancang dengan gaya art deco yang memukau serta dihiasi karya-karya avant-garde dari seniman terkemuka Prancis.
- Padel dari Pekarangan Belakang Jadi Olahraga Global
DALAM setiap perhelatan pesta olahraga, macam-macam olahraga baru acap memulai debutnya. Dalam Asian Games Aichi-Nagoya 2026 ini, padel termasuk cabang olahraga anyar yang resmi dipertandingkan bareng lima cabang lain: BMX gaya bebas, selancar, teqball, beladiri campuran MMA, dan taekwondo virtual. Nagoya City Higashi Sports Center di pusat kota Nagoya akan jadi venue yang memperlombakan dua kategori cabangnya –ganda putra dan ganda putri– pada 28 September-3 Oktober 2026. Mengutip laman resmi Asian Games 2026, cabang padel bakal diramaikan 13 negara partisipan: Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Jepang, Lebanon, Iran, Kazakhstan, Hong Kong, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Indonesia tak mau ketinggalan. Belakangan padel memang populer di berbagai kalangan, dari rakyat biasa hingga para artis dan pejabat. Namun, meskipun padel telah memiliki induk organisasi, tim padel Indonesia berangkat dengan ongkos pribadi dari dana internal partai dan sumbangan pihak swasta.
- Wing Chun Lahir dari Masa Pergolakan
TIADA pasang kuda-kuda berlebihan. Teriakan pemacu semangat dan adrenalin khas kungfu pun tak dilantangkan. Dengan tenang serangan lawan dipatahkan. Diam-diam menghanyutkan setiap lawan. Tiap gerakannya efektif, cepat, dan mematikan saat pertarungan jarak dekat. Begitulah ciri khas Ip Man, guru besar wing chun. “Karena setiap gerakannya harus rileks. Perhatikan, di film-filmnya pun Ip Man (diperankan Donnie Yen) enggak ada teriakan sama sekali. Memang wing chun terkenalnya close combat (pertarungan jarak dekat). Enggak pakai awalan (kuda-kuda), enggak pakai tarikan baru pukul seperti beladiri lain. Dari depan langsung pukul. Keistimewaan wing chun memang begini,” ujar Sifu Martin Kusuma, salah satu pendiri Tradisional Ip Man Wing Chun (TIMWC) Indonesia, kepada Historia.ID. Sejak 2008, kungfu aliran wing chun booming di Asia hingga Amerika seiring dirilisnya sejumlah film drama-action yang menonjolkan karakter Ip Man. Utamanya yang diperankan Donnie Yen, yang seri terakhirnya, Ip Man: The Finale, tayang di bioskop-bioskop Indonesia sejak 1 Januari 2020.
- Perjalanan Hidup Ip Man
MENGENAKAN kacamata hitam untuk menutupi air matanya, Bruce Lee (diperankan Danny Chan) berusaha berjalan tegap. Beberapa langkah di hadapannya tampak foto mendiang guru paling dihormatinya, Ip Man, yang wafat pada 2 Desember 1972. Perjalanan Ip Man juga ditampikan dalam beberapa cuplikan di akhir bagian film Ip Man 4: The Finale, seri layar lebar paripurna Ip Man yang diperankan Donnie Yen. Dari empat seri Ip Man yang diperankan Donnie Yen, diakui Sifu Martin Kusuma, pendiri Tradisional Ip Man Wing Chun (TIMWC) Indonesia, bahwa sebagian besar kisah-kisahnya didramatisir. “Kisah aslinya Ip Man enggak seperti itu. Memang banyak sekali dramatisasinya. Kalau diurutin dari seri yang pertama, enggak ada yang benar sebetulnya,” ujar Martin kepada Historia.ID.
- Jurus-jurus Penghabisan Ip Man
BERTARUNG, bertarung, dan bertarung. Ke manapun Ip Man (diperankan Donnie Yen) melangkah, ia acap terpaksa adu ilmu. Betapapun upaya menghindar dari konflik selalu dilakukan sang sifu Wing Chun itu, ujung-ujungnya ia pasang kuda-kuda juga. Kisah Ip Man, klasik lantaran ke manapun ia bertualang pada akhirnya bakal dihadapkan pada situasi pertarungan untuk menegakkan keadilan. Kisah klasik itu kembali dihadirkan sutradara Wilson Yip dalam Ip Man 4: The Finale. Itu menjadi biopik action keempat dan terakhir seri Ip Man yang digarap Yip. Premis Ip Man 4 pun mirip dengan tiga film sebelumnya. Pembeda yang signifikan hanya sekadar latar belakang dan lokasi. Ip Man 4 mengisahkan sang guru berkelana ke San Francisco, Amerika Serikat pada musim gugur 1967. Ip Man bersikeras mencarikan sekolah buat putra bungsunya, Ip Ching (Jim Liu), kendati sang anak lebih memilih menggali ilmu beladiri ketimbang “makan” bangku sekolah.
- Lahir Hanung, Negara Berkabung
ROMAN Bumi Manusia sudah sangat “personal” buat Hanung Bramantyo. Tak heran jika membuat roman ini jadi film adalah beban untuk Hanung. Peraih dua Piala Citra sebagai sutradara terbaik 2005 (Brownies) dan 2007 (Get Married) mengaku sejatinya perkenalan pertamanya dengan Pram bukan lewat Bumi Manusia, melainkan Perburuan. Semua itu terjadi tak lain lantaran sejak kecil Hanung selalu heran mengapa setiap berulangtahun bendera merah-putih selalu berkibar setengah tiang. “Saya lahir 1 Oktober 1975. Tepat di Hari Kesaktian Pancasila. Sepuluh tahun sebelumnya terjadi peristiwa Lubang Buaya (Gerakan 30 September-1 Oktober 1965). Kalau jam 2 malam para jenderal diculik, ibu saya (10 tahun berselang) masuk ke bidan. Jam 6 para jenderal dimasukkan ke (sumur) Lubang Buaya, saya 1975 lahir,” tutur Hanung berkisah kala bertandang ke redaksi Historia.ID, Selasa (20/8/2019) malam. Hanung kecil mencari tahu apa yang terjadi dengan bertanya kepada gurunya. Namun jawaban gurunya tidak memuaskan Merasa tak puas penjelasan gurunya, ia pun bertanya kepada ibunya.





















