Hasil pencarian
Cari di situs ini
10072 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- THR, Waktu, dan Uang
PRESIDEN Soeharto dalam suatu kesempatan pernah mengatakan kalau korupsi itu persoalan ekonomi. Artinya tingkat penghasilan seseorang menjadi faktor pemicu apakah dia berpotensi korupsi atau tidak. Semakin rendah penghasilan, semakin tinggi potensi melakukan korupsi. Pernyataan Soeharto bahwa penyebab korupsi itu adalah faktor ekonomi dikemukakan saat mengomentari kasus megakorupsi Pertamina yang menyeret keterlibatan direkturnya, Ibnu Sutowo. Memang uang bukan segala-galanya kendati banyak orang bilang segala-galanya butuh uang. Segala-galanya butuh uang sampai banyak orang menempuh segala cara untuk mendapat uang. Itulah hukum besi kehidupan bila terlalu keseringan mengikuti musik keroncong yang mengalun dari dalam lambung. Memang kenyataan selalu kejam, tergantung bagaimana kita menyikapi kekejaman itu. Ngomong-ngomong soal sikap-menyikapi apakah benar apa yang dikatakan oleh Soeharto itu? Apakah benar orang yang tinggi penghasilannya, yang secara ekonomi mapan, mampu mengendalikan diri untuk tidak menempuh segala jalan meraih kekayaan? Tentu saja jawabannya tidak. Karena perkara ngentit duit itu bukan soal kaya atau miskin tapi soal mentalitas. Kurang besar bagaimana gaji Gayus Tambunan, Rp12 juta per bulan, usia masih 30-an tahun, menghidupi keluarga kecil.
- Kisah Zona Waktu di Indonesia
SANDFORD Fleming, perencana perjalanan kereta api dan teknisi asal Kanada, baru saja ketinggalan kereta ketika dia mengunjungi Irlandia dalam tahun 1876. Dia bingung. Jadwal keberangkatan kereta ternyata tak sesuai dengan waktu sebenarnya. Dia mengira kereta berangkat malam, tetapi kereta telah berangkat pada pagi hari. Ada perbedaan meridian antara Fleming dengan jadwal yang disusun oleh orang Irlandia. Ini karena kala itu belum ada pembagian waktu secara baku. Tiap negeri, tiap kota memiliki aturan waktunya sendiri. Akibatnya, orang asing sering salah mengerti waktu jika berkunjung ke suatu negeri jauh. Sejak peristiwa itu, Fleming berpikir tentang kebutuhan ukuran pembagian waktu yang baku. Sebagai perencana perjalanan kereta jarak jauh, dia tak mau ada kekacauan jadwal hanya karena orang salah membaca waktu.
- Pada Mulanya Adalah Waktu
ORANG Mesir Kuno adalah yang pertama menciptakan 24 jam per hari. Patokannya bayangan matahari dan posisi bintang di langit. Mereka juga menciptakan jam matahari, kendati bangsa lain seperti Tiongkok, Babilonia, Yunani, dan Romawi sudah menggunakan instrumen itu untuk memberi tahu mereka tentang waktu. Namun, alam mengenal musim, yang menyebabkan matahari tak selalu muncul atau memberikan waktu yang tepat. Pemikiran soal waktu terus berkembang. Bukan hanya untuk menentukan pagi, siang, hingga malam tapi juga bagaimana mengetahui ketepatan waktu dari jam, menit, dan detik. Jam Matahari Mengamati perubahan bayangan matahari merupakan metode tertua untuk menandai perubahan waktu. Jam matahari, yang dilengkapi skala dan gnomon (alat penanda waktu yang memanfaatkan bayangan sinar matahari), digunakan sejak milenium ketiga sebelum masehi.
- Waktu Bagian Tengger
HAWA dingin masih menyelimuti kawasan Tengger di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sedari pagi Sutomo sibuk menemui tamu yang datang ke rumahnya di gang kecil sekitar jalan menuju puncak Bromo. Sutomo atau biasa dipanggil Mbah Tomo adalah dukun pandhita yang berasal dari Desa Ngadisari, tak jauh dari lautan pasir Gunung Bromo. Dia harus menyiapkan acara penting bagi masyarakat Tengger. “Besok purnama bulan Kasada, tanggal 10-12 Juni 2025 ada perayaan Yadnya Kasada. Seluruh masyarakat Tengger, tidak hanya dari sini (Probolinggo) tapi juga dari Malang, Lumajang, dan Pasuruan akan berkumpul di Segara Wedi menuju Pura Luhur Poten,” ujar Mbah Tomo (66 tahun) kepada saya, akhir Mei 2025. Yadnya Kasada adalah upacara adat suku Tengger di sekitar Gunung Bromo yang dilaksanakan setiap tahun. Upacara ini merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) dan leluhur (Dewa Kusuma), dengan melarung sesajen berupa hasil bumi dan hewan ternak ke kawah Gunung Bromo.
- Petisi untuk Negeri Matahari
MEMPERINGATI 71 tahun pendudukan Jepang di Timor Leste, Koalisi Jepang-Timor Timur mengajukan petisi untuk Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida yang mendesak penyelesaian masalah perbudakan seksual (ianfu) selama menjajah bumi Timor Lorosae. “Pendudukan Jepang menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi orang-orang, dan satu masalah yang belum diselesaikan adalah keadilan bagi para korban perbudakan seksual militer atau disebut comfort women,” tulis Akihisa Matsuno dari Koalisi Jepang-Timor Timur dalam pengantar petisi yang diterima Historia. Jepang menyerbu Timor Portugis –sekarang Timor Leste– pada 20 Februari 1942 dan mendudukinya selama tiga setengah tahun. Meski Jepang telah memberikan bantuan pembangunan untuk Timor Leste selama beberapa tahun, namun Jepang belum memenuhi tanggungjawabnya berkaitan dengan masalah iafu.
- Perempuan Penghibur Disiplinkan Tentara
KETUA partai oposisi, Asosiasi Restorasi Jepang, Toru Hashimoto melontarkan pernyataan kontroversial mengenai perempuan penghibur (ianfu) pada 14 Mei 2013. Menurut Walikota Osaka tersebut, perekrutan perempuan penghibur pada masa perang diperlukan untuk menjaga kedisiplinan tentara Jepang. “Dia juga mengatakan bahwa tentara dan prostitusi merupakan satu paket yang berjalan berdampingan,” demikian dilansir China Radio Internasional Online, indonesian.cri.cn, 15 Mei 2013. “Dia menambahkan bahwa Jepang harus mengoreksi kesalahannya apabila Jepang terbukti pernah menculik dan memaksa perempuan penghibur.” Namun, dalam rapat kabinet, pemerintah Jepang membantah dan memastikan bahwa tiada bukti terkait perekrutan ianfu. Meski pemerintah Jepang berkali-kali menekankan akan mengintrospeksi kesalahannya di masa lalu, sejumlah politisi sayap kanan kerap melontarkan pernyataan yang membenarkan agresi yang memicu protes dari negara-negara bekas jajahan Jepang.
- Jagung yang Limbung
KALA berpetualang ke Nusantara, sekira tahun 1500, bangsa Spanyol dan Portugis membawa jenis tanaman pangan baru yang belum dikenal sebelumnya: jagung. Tanaman dari benua Amerika ini dengan cepat menyebar dan berkembang di Nusantara. Jagung cepat populer terutama karena bisa tumbuh di lahan-lahan marjinal. Bahkan Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) pun terkesan sehingga memerintahkan pejabat mereka di Banda mengujicoba penanamannya pada 1663. “Makanya, jagung menemukan jalannya ke pusat perdagangan terpenting di Indonesia Timur sebelum 1700, dan saat itu pula berakar kuat sebagai tanaman penting, bahkan tanaman pokok yang dominan,” tulis Peter Boomgaard dalam “Maize and Tobacco in Upland Indonesia 1600–1940”, termuat dalam Transforming the Indonesia Uplands yang disunting Tania Li.
- “Kiai Bajingan Tengik” dalam Serat Cebolek
ALKISAH, di masa Mataram Islam Kertasura, ada seorang kiai yang dituntut hukuman bakar. Syekh Ahmad Mutamakkin namanya. Dia dijuluki Kiai Cebolek, nama yang menunjukkan asal daerahnya, Cebolek, salah satu desa di Tuban –kini diyakini menjadi Dukuh Winong, Desa Sugiharjo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Tuntutan itu datang dari sekelompok ulama pesisir yang resah atas praktik keagamaannya. Dia memelihara anjing, mengaku sebagai Muhammad sejati, dan dituduh mengingkari syariat. Ketib Anom Kudus, ulama pengulu yang ikut marah terhadap kelakuan Kiai Cebolek, melaporkannya ke Keraton Kertasura. Kala itu raja Kertasura yang bertakhta ialah Amangkurat IV (berkuasa 1719-1726). Namun sebelum Kiai Cebolek diadili, Amangkurat IV wafat karena sakit. Persidangan akhirnya dilaksanakan oleh penerusnya, Pakubuwana II (berkuasa 1726-1742).
- Ibnu Hadjar, Pejuang yang Kecewa
DI LUAR kampungnya, Haderi tak dikenal sebagai Haderi atau nama aliasnya, Angli. Pelajaran sejarah menyebut namanya sebagai Ibnu Hadjar yang memimpin pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Kalimantan Selatan. Haderi lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan, pada 19 April 1920. Buku Sedjarah TNI-Angkatan Darat, 1945–1965 menyebut Haderi berwatak keras. Sedari bocah suka berkelahi dan sangat ingin menjadi kepala jagoan. “Dia tidak berpendidikan tinggi. Dia masih bersemangat komunal. Setahu aku buta huruf [Latin]. [Hanya] berpendidikan agama standar,” kata sejarawan Muhammad Iqbal kepada Historia.ID.
- Akhir Cerita Ibnu Hadjar
SUATU hari pada Juli 1963, menjelang Magrib sekitar pukul 6 sore. Rumah panggung Siti Kadijah didatangi oleh anaknya yang telah lama berkelana di pedalaman hutan. Haderi bin Umar sudah seperti anak hilang selama lebih dari sepuluh tahun di pedalaman Kalimantan Selatan. Haderi tinggal di rumah itusekitar dua pekan. Kedatangannya yang belum tentu setahun sekali dan entah kapan terjadi lagi, membuat keluarga besarnya berkumpul. Meski sebentar, pertemuan inilebih baik bagi mereka. Tak sekadar silaturahmi, si anak hilang itu datang untuk berpamitan kepada Siti Kadijah. Seolah anak ini akan pergi lebih lama lagi dari yang sudah-sudah. Salah seorang cucu Kadijah pun ikut bertanya apa yang akan dilakukan pamannya.
- Ibnu Sutowo Urung ke Meja Hijau
PERTAMINA nyaris bangkrut pada dekade 1970-an lantaran dililit utang proyek kapal tanker. Angkanya cukup fantastis untuk masa itu dan Pertamina terancam gagal bayar. Karena menyebabkan kerugian negara, sejumlah pimpinan Pertamina diberhentikan. Tak terkelcuali Direktur Utama (Dirut) Pertamina dr. Letjen TNI (Purn.) Ibnu Sutowo, yang sudah sepuluh tahun menjabat, jadi sorotan publik. Menurut Kompas, 5 Maret 1976, Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri Widjojo Nitisastro pada 25 Januari 1975 pernah merinci jumlah utang Pertamina. Pinjaman dalam negeri mencapai Rp47 miliar, pinjaman jangka pendek kepada bank dan perusahaan luar negeri sebesar 1,5 miliar dolar AS (setara Rp622 miliar). Sementara itu, utang jangka panjang mencapai 800 juta dolar AS atau sekitar Rp322 miliar. “Sementara itu, kewajiban pajak Pertamina sendiri dan kewajiban pajak perusahaan-perusahaan minyak lain yang dipercayakan lewat Pertamina yang tidak disetorkan kepada negara berjumlah 999,5 juta dolar AS atau mendekati Rp 415 miliar,” demikian diwartakan Kompas.
- Ibnu Sutowo dan Anak Buahnya Kibuli Wartawan
SEWAKTU menjabat direktur utama (dirut) PN Permina, Ibnu Sutowo pernah dikabarkan memiliki 21 mobil pribadi. Berita seperti itu pada tahun 1967 terbilang sensitif. Sebab, pada saat yang sama perekonomian Indonesia sedang dalam pemulihan. Inflasi dan krisis ekonomi setelah gonjang-ganjing politik 1965 banyak bikin orang jatuh miskin. Cari makan saja susah, apalagi beli mobil. Pers pun berupaya mencari tahu kebenaran tentang sepak terjang Ibnu Sutowo. Menurut seorang pejabat PN Permina Medan, di garasi rumah Ibnu Sutowo memang banyak berjejer mobil-mobil mewah berbagai tipe. Tapi, itu semua bukan kepunyaan pribadi Ibnu, melainkan kepunyaan perusahaan. Meski terjawab, keterangan itu masih belum memuaskan. Kejanggalan dalam manajemen Permina saat itu cukup disoroti oleh publik. Beberapa kalangan pers dalam dan luar negeri mensinyalir adanya korupsi besar-besaran dan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan Ibnu. Selain menjabat dirut Permina, Ibnu juga merangkap sebagai dirjen migas Departemen Pertambangan. Ibnu sendiri menyangkal pemberitaan dirinya termasuk rumor tentang pemeriksaan kasusnya oleh pihak berwajib. Itu semua, kata Ibnu, fitnah saja.





















