Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menjelang Sumitro Pulang
TOKOH-tokoh PRRI-Permesta di luar negeri segera pesan tiket pulang begitu mendengar rezim Sukarno berhasil dipreteli oleh Jenderal TNI Soeharto. Nama pakar ekonomi Sumitro Djojohadikusumo paling santer diberitakan menjelang kepulangannya ke Indonesia. Kepulangan Sumitro begitu dinanti karena dia termasuk pentolan pemberontak yang masih tersisa pada paruh kedua 1960. Pada awal 1960, Sumitro melewatkan kesempatan amnesti dari pemerintah karena mensyaratkan sumpah setia pada Sukarno. “Pada umumnya masyarakat ibu kota menyambut lega rencana kembalinya Sumitro, karena mereka melihat bahwa Sumitro sebagai ekonom kaliber internasional akan sangat banyak dapat membantu stabilisasi ekonomi kabinet sekarang,” demikian diwartakan mingguan Mahasiswa Indonesia, minggu ke III, Mei 1967.
- Gurkha Berkelit di Posisi Terjepit
JAMAAH salat Jumat di Masjid Besar Semarang mendadak gaduh. Menjelang khotbah Jumat, mereka mendengar kabar gembira dari pengurus masjid bahwa Sukarno-Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sekira pukul 10.00 di Jakarta. Usai Jumatan, kabar itu meluas ke seantero Semarang. Pemuda dan pegawai menyambut proklamasi dengan membentuk badan-badan perjuangan untuk melucuti senjata tentara Jepang. Pelucutan senjata berjalan lancar sepanjang September 1945. Lantas kabar berembus di kalangan tentara Jepang bahwa para pejuang bakal membunuh mereka. Tentara Jepang mulai menolak pelucutan senjata dan melawan. Tindakan mereka menyulut kemarahan pejuang Semarang. Pertempuran pun pecah pada 14 Oktober 1945. “Diperkirakan sejumlah 2000 orang Indonesia tewas dalam pertempuran enam hari itu, di samping mungkin 500 orang Jepang,” tulis Benedict Anderson dalam Revolusi Pemoeda.
- Gurkha Datang, Menang Kemudian
KAPAL HMS Waveney merapat ke pelabuhan Surabaya pada 25 Oktober 1945, selepas matahari terbit. Brigadir Mallaby, pemimpin pasukan perintis Sekutu dari Brigade ke-49, berdiri di dek kapal bersama Kapten MacDonald. Mereka memeriksa keadaan pelabuhan secara sambil lalu. “Kami lihat penduduk lokal berdiri gagah dengan tampang waspada. Mereka bersenjata lengkap, berkalung peluru, dan membawa tommy gun, senapan, granat, pedang, dan senjata lainnya,” kata MacDonald, dikutip Richard McMillan dalam The British Occupation of Indonesia. Brigade ke-49 datang ke Surabaya untuk menjalankan tiga misi utama: mengevakuasi orang-orang sipil Belanda, mengevakuasi tawanan perang dan interniran Eropa, serta memulangkan orang-orang Jepang. Sadar kedatangan Brigade ke-49 memantik kewaspadaan penduduk setempat, Mallaby memerintahkan MacDonald turun dari kapal. Tanpa senjata.
- Gurkha Tentara dari Bukit
PASUKAN Gorkha bergerak cepat menuruni bukit, menuju pos polisi di Butawal, perbatasan India dan Nepal, pada malam 22 April 1814. Mereka melepas tembakan. 18 polisi tewas seketika. Pos polisi itu dibangun Kongsi Dagang India Timur Inggris (EIC) demi memuluskan rencana ekspansi dari India ke Nepal. Maharajah Bim Shen Thapa, perdana menteri Nepal, menganggapnya sebagai tantangan perang. Dia tak mengakui kekuasaan EIC dan berambisi memperluas kerajaan Nepal. Maka dia menyerang lebih dulu dengan menggunakan pasukan Gorkha. Sebutan Gorkha mengacu pada nama sebuah kota di perlembahan Gandak, Nepal. Di sana hidup beberapa suku seperti Rais, Limbus, dan Gurung. Laki-lakinya turun-temurun menjadi tentara kerajaan sejak 1768.
- Tentara India Memihak Indonesia
SUATU hari, Ghulam Ali, serdadu India Muslim dari Brigade Infantri I Divisi India ke-23, dan kawan-kawannya berpatroli ke kampung-kampung. Mereka mendapati rumah-rumah penduduk yang kosong. Penghuninya mengungsi ke luar Jakarta. Seketika Ghulam Ali terharu begitu melihat tulisan bismillahirochmanirrohim di pintu rumah dan menemukan Al-Qur’an di dalam rumah-rumah penduduk. Belakangan, Ghulam Ali dan kawan-kawannya diberitahu orang-orang India Muslim yang telah lama tinggal di Indonesia bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah Muslim. “Di situlah awal-mula mereka desersi. Mereka berbalik bukan membantu tentara Inggris melucuti tentara Jepang, tapi bergabung dengan tentara Indonesia,” kata Firdaus Syam, dosen Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta, kepada Historia. Firdaus Syam menulis buku Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Komunitas India yang tergabung dalam Himpunan Keluarga (HK) memainkan peranan dalam pembelotan tentara-tentara itu. “Bagi mereka haram untuk memerangi saudara sendiri dalam konteks seiman Islam. Hal ini beberapa kali dipertegas ketua HK,” kata Yuanita Aprilandini, dosen sosiologi Universitas Negeri Jakarta yang menulis tesis tentang diaspora India, kepada Historia.
- Misi Kemanusiaan Berubah Menjadi Peperangan
TAK ada sambutan selamat datang ketika pasukan Inggris (Sekutu) mendarat di Tanjung Priok, Jakarta, pada 29 September 1945. Hanya beberapa anak-anak melambaikan tangan kepada serdadu India yang rata-rata tinggi besar dan berkulit gelap. Pasukan Sekutu bersiap menjalankan tugas di Indonesia: melindungi dan mengungsikan tawanan perang Sekutu dan tawanan lainnya, melucuti dan mengembalikan tentara Jepang, serta memelihara hukum dan ketertiban. Untuk memenuhi misi itu, Jenderal Lord Louis Mountbatten, pemimpin Komando Asia Tenggara (SEAC), menunjuk Letjen Sir Philip Christison. Pasukan Sekutu datang dengan keterbatasan. Mereka kekurangan kapal pengangkut, berkas intelijen, dan terutama personel. “Hanya ada satu divisi yang terdiri dari orang-orang Inggris totok di Timur Jauh dan divisi itu sedang bertugas di India dan Burma,” tulis Benedict Anderson dalam Revoloesi Pemoeda. “Karena itu Mountbatten terpaksa menaruh kepercayaan pada pasukan-pasukan India dan Gurkha.”
- Teuku Mohammad Hasan Terpaksa Jadi Gubernur
BILAMANA musim pemilihan kepala daerah (Pilkada) bersemi, para politisi berbondong mencalonkan diri. Entah itu jadi gubernur atau bupati. Cara yang ditempuh guna menarik pemilih pun beragam. Mulai dari kampanye obral janji hingga menggelontorkan uang untuk meraup suara. Praktik demikian berbeda halnya pada masa awal kemerdekaan. Gubernur pertama Sumatera terpilih secara musyawarah. Bermula dari pembicaraan antara dr. Mohammad Amir dan Mr. Mohammad Hasan. Keduanya adalah anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang sama-sama mewakili Sumatera. Amir berasal dari Minangkabau sedangkan Hasan berasal dari Aceh. Namun keduanya lebih dikenal sebagai orang terkemuka dari kota Medan. Amir dikenal sebagai dokter pribadi Sultan Langkat. Sementara Hasan merupakan pegawai pemerintahan di masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang.
- Adolf Baars, Guru Sukarno dan Mentor Semaoen Berakhir di Auschwitz
UDARA dingin masih menusuk tulang pemilik tubuh-tubuh kurus tahanan kamp konsentrasi Auschwitz di awal musim semi itu, 6 Maret 1944. Kematian –entah karena dieksekusi maupun di kamar-kamar gas– bukan hal baru di sana. Satu dari ratusan nyawa yang melayang di hari itu adalah nyawa Adolf Baars, Yahudi Belanda yang pernah jadi mentor Semaoen dan guru Sukarno. Pada dekade kedua abad ke-20, Baars bersama Henk Sneevliet memperkenalkan sosialisme dan komunisme di Hindia Belanda. Nasib keduanya setali tiga uang. Sneevliet dua tahun lebih dulu ke alam baka. Sejak Belanda diduduki Jerman pada Mei 1940, Sneevliet jadi salah satu tokoh komunis yang diburu. Dua tahun lamanya ia bersembunyi sampai pada 6 Maret 1942 ia diciduk Nazi di Bergen op Zoom.
- Penari Eksotis Mengelabui Nazi
TEPUK tangan dan sorak sorai meriah terdengar setelah musik, yang mengiringi penampilan seorang penari eksotis di tempat hiburan, berhenti mengalun. Mengenakan pakaian berhias mutiara, serta rok pisang berayun dan bergetar mengikuti tariannya yang penuh semangat, Josephine Baker sukses memukau mata para penikmat hiburan di kota Paris pada 1920-an. Baker yang lahir dengan nama Freda Josephine McDonald, tiba di Cherbourg, Prancis pada 25 September 1925. Gadis keturunan Afrika-Amerika itu dibawa ke Paris oleh Caroline Dudley Reagan, seorang sosialita dan istri pejabat Amerika Serikat yang bertugas di Prancis. Hanna Diamond menulis dalam Josephine Baker's Secret War: The African American Star Who Fought for France and Freedom, Reagan ingin menciptakan pertunjukan baru untuk memenuhi hasrat masyarakat Prancis terkait negrophilia yang sedang populer.
- Bertemu Gurkha Lagi di Konfrontasi
SUATU pagi pada 28 September 1963. Kopral Tejbahadur Gurung, seorang tentara Gurkha Rifles 1/2, terkesiap mendengar informasi dari petugas patroli perbatasan tentang keberadaan pasukan Indonesia di Desa Long Jawai, sekira 80 km dari Borneo (Kalimantan Utara). Dia memerintahkan tiga petugas operator radio untuk meminta bantuan ke kantor pusat di Belaga, kota kecil di sepanjang Sungai Rejang, Sarawak. Tejbahadur mengambil kotak berisi granat kemudian bergerak. Ketika mencapai puncak bukit, dia dan anak buahnya diserang mortir 60 mm. Terjadi baku tembak. Tejbahadur kewalahan. Seorang Gurkha tewas dan lainnya tertembak. Sementara bantuan tak kunjung tiba. Rupanya, petugas operator radio yang turun ke desa tak mendapatkan sinyal sehingga tak bisa mengontak kantor pusat. Mereka bahkan diberondong pasukan Indonesia yang berada di sebuah sekolah. Satu Gurkha dan satu polisi lapangan (Police Field Force atau PPF) tewas. Seorang polisi PFF yang terluka melarikan diri. Lima orang tewas dari pihak Indonesia.
- Dari Mława hingga Benteng Modlin
PUKUL enam pagi Kamis, 28 September 1939. Kapten Tadeusz Dorant, komandan Batalyon ke-3, Resimen Legiun Infantri ke-2 Polandia, tengah menyiapkan sekira 200 pasukannya yang bertahan di Benteng I Zakroczym untuk menyerahkan diri. Ia tunduk pada perintah atasannya, Brigjen Wiktor Thommée, panglima Tentara Modlin yang berbasis di Kompleks Perbentengan Modlin, 50 kilometer di utara Warsawa, Polandia. Kala itu gencatan senjata sudah dicapai. Sehari sebelumnya, pertahanan Polandia di Modlin dikepung Armeekorps (Korps AD ke-2 Jerman) II pimpinan Generalobertst (kolonel jenderal) Adolf Strauss. Pasukan Strauss jadi bagian dari pasukan 4. Armee, Heeresgruppe Nord (AD ke-4, Grup AD Utara) yang dipimpinan Generaloberst Fedord von Bock. Gugus tempur itulah yang menyerang Polandia dari Prusia Timur dan Pomerania Barat sejak pembukaan Perang Dunia II, 1 September 1939. Dari pusat Benteng Modlin, Brigjen Thommée mengibarkan bendera putih untuk mengindikasikan keinginannya menegosiasikan penyerahan. Pasukannya diinstruksikan untuk menghentikan tembak-menembak, termasuk di Benteng I, kantong pertahanan Modlin di ujung barat yang dikomando Kapten Dorant.
- Jejak Langkah Gusmiati Suid
NAMA Gusmiati Suid tak dapat dilepaskan dalam perkembangan seni tari Indonesia. Selama hidupnya, wanita kelahiran Batusangkar, Sumatra Barat, 16 Agustus 1942 itu aktif melahirkan karya-karya tari monumental seperti Kabar Burung (1997), Api dalam Sekam (1998), Asa di Ujung Tanduk (1999), hingga Menggantang Asap (2000). Tak heran, Ibu Yet, sapaan akrab Gusmiati, kemudian dikenal sebagai salah satu ujung tombak sejarah tari kontemporer di Tanah Air. Perkenalan Gusmiati dengan tari dimulai sejak belia. Gusmiati muda kerap mengisi waktu luang dengan belajar menari. Salah satu tokoh yang menjadi mentornya adalah Huriah Adam, seorang penari dan koreografer asal Padang Panjang. Menurut peneliti dan kurator seni lepas, Helly Minarti dalam Gusmiati Suid: Arsip & Refleksi, Huriah merupakan koreografer pascakolonial Indonesia pertama yang mengulik kedalaman khazanah tari dan kebudayaan Minang sebagai sumber inspirasi dan mentransformasikannya menjadi ekspresi artistik individual.





















