top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10073 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menggoreskan Kisah Tragis Adinda dalam Lukisan

    EKSPRESI sesosok dara dalam sebuah potret lukisan itu begitu datar tapi sepasang mata bolanya menatap tajam. Beberapa helai rambut hitamnya melambai ke samping tertiup angin. Namun takkan ada satupun pesan yang bisa keluar dari bibir manisnya karena ia terbungkam beraneka simbol –berupa barisan titik-titik, tentakel bercapit seperti kepiting, seekor kerbau terbalik, dan seekor kupu-kupu– yang saling bertumbukan dan menyumpal mulutnya. Tidak hanya mulut yang ditutupi. Dadanya juga tertutup gambar seporsi burger dan kepala kerbau yang bak menggambarkan pembungkaman terhadap hatinya. Burger berbendera VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur, red.) itu kemudian dicokoti tiga ekor tikus putih. Lukisan unik yang tersapu dengan cat akrilik di atas kanvas berdimensi 120 x 100 cm itu merupakan lukisan realis bertajuk “Kesaksian Adinda-Keganasan Kapitalisme” karya Bambang Prasadhi. Sang pelukis terinspirasi dari buku Max Havelaar (1860) karya Eduard Douwes Dekker yang bernama pena Multatuli.

  • Kisah Pemalsu Lukisan-lukisan Terkenal

    ELMYR de Hory dikenal sebagai pemalsu karya seni terbesar pada abad ke-20. Kariernya sebagai pemalsu karya seni dimulai pada suatu sore pada April 1946. Ketika itu, kenalannya Lady Malcolm Campbell, istri mendiang pembalap Sir Malcolm Campbell, mengunjungi studio seninya di Paris, Prancis. Kenalannya yang kaya raya itu berkeliling melihat sejumlah lukisan yang terpajang di studio seni De Hory, dan di antara lukisan-lukisan De Hory yang beraliran post-impresionisme, Campbell melihat sebuah lukisan abstrak tanpa tanda tangan dan tanpa bingkai yang ia kira karya Pablo Picasso. Tertarik dengan lukisan tersebut, Campbell yang salah mengidentifikasi lukisan itu sebagai karya Picasso segera bertanya kepada De Hory, apakah ia berniat untuk menjualnya. Campbell bersedia membelinya dengan harga sekitar 100 dolar AS. De Hory menyetujui penawaran itu.

  • Pembatasan Sosial dan Isolasi Diri dalam Lukisan

    SIAPAPUN Anda, yang berada di epicenter pandemi virus corona (SARS-Cov-2) diimbau keras untuk membatasi diri dari aktivitas sosial (physicaland social distancing). Isolasi diri jika tak punya keperluan penting ke luar rumah. Demikianlah inti pesan pemerintah setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan di ibukota per Jumat (10/4/2020). Imbauan, bahkan peringatan keras senada juga digaungkan sejumlah negara yang melakoni lockdown dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus corona. Intinya, setiap orang diimbau untuk tetap berada di rumah. Tentu kebosanan datang. Yang biasanya sering kelayapan entah untuk bekerja atau nongkrong, kini terpaksa harus anteng di rumah. Pasti ada banyak di antara kita yang hanya bisa menatap kosong ke arah luar dari jendela rumah, kangen akan dunia di luar rumah, dan mengharap pandemi virus corona ini segera berlalu.

  • Badilah Perintis Aisyiyah

    SUATU siang di masa pendudukan Jepang. Badilah Zuber, Ketua Aisyiyah, sedang di sekolahnya ketika segerombolan Kempeitai mendatanginya. Sekonyong-konyong mereka mengajukan pertanyaan. “Apakah Nyonya menjadi ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah?” “Saya menjadi ketua karena saya yang paling tua di antara mereka,” jawab Badilah. “Hasil Nyonya menjadi guru itu cukup atau Nyonya mempunyai kekayaan?” “Kami orang dituntun untuk memohon kepada Tuhan agar diberi kecukupan hidup,” kata Badilah. Itu merupakan kali kedua Kempeitai mendatangi Badilah. Sebagai pemimpin organisasi perempuan Islam Aisyiyah, beberapakali ia dipanggil untuk diinterogasi. Jepang mengawasi gerakan perempuan dengan amat ketat. Semua naskah pidatonya diperiksa sebelum dibacakan kepada khalayak.

  • Penggerak Kaum Perempuan

    UDARA pagi menerpa wajah kaum perempuan yang berbaris di depan kantor Wani (Wanita Negara Indonesia) di gedung SKP (Sekolah Kepandaian Putri) (kemudian menjadi gedung bioskop Metropole atau Megaria) di kawasan Jalan Pegangsaan, Menteng, Jakarta, pada 17 Agustus 1946. Mereka akan pawai menuju tempat pembacaan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Saat itu, kediaman Presiden Sukarno menjadi kantor Sutan Sjahrir, perdana menteri merangkap menteri luar negeri. Sementara Sukarno hijrah ke Yogyakarta karena Jakarta tidak aman setelah diduduki Belanda yang membonceng Sekutu dan mendirikan NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Mengenakan pakaian berwarna merah dan putih, kaum perempuan bergerak menuju Pegangsaan Timur 56. Meski diadang pasukan Gurkha, mereka terus bergerak untuk merayakan satu tahun kemerdekaan sekaligus menyaksikan peresmian Tugu Proklamasi.

  • Leo Wattimena, Si Gila Kebanggaan AURI

    GELANG akar bahar selalu melekat di lengan kanan Leo Wattimena kala menerbangkan pesawat. Untuk keberuntungan, katanya. Di kalangan teman-temannya sesama penerbang, dia mendapat julukan kehormatan "penerbang gila" karena ulahnya yang sering kelewat berani. “Ulahnya memang macam-macam, tapi penuh perhitungan,” kenang kolega Leo yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn.) Ashadi Tjahyadi dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Serenceng gelar melekat pada diri Leo Wattimena. Mulai dari good pilot, G-maniac, sampai dianggap orang yang paling mengenal pesawat tempur P-51 Mustang. Salah satu kebiasaan “gila” Leo adalah kesukaannya melakukan manuver putar balik 360 derajat.

  • “Aku Ingin Dengar Permintaan Maaf”

    PEMENANG hadiah Nobel Perdamaian Timor Leste Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo selama bertahun-tahun melakukan pelecehan seksual terhadap banyak remaja laki-laki, seperti terbukti dari beberapa kesaksian. “Kita harus berbicara tentang ini dan meneriakkannya dengan lantang ke dunia luar”. Pada suatu hari Minggu pagi. Paulo berdiri di antara sekian banyak umat Katolik lain yang dengan penuh perhatian mengikuti misa yang diunjukkan oleh Uskup Belo di sebuah taman dekat kediamannya di Dili, ibu kota Timor Leste. Sesudah misa Monseigneur Belo mendekati Paulo yang waktu itu masih remaja, berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun. “Ia minta saya ikut ke kediaman beliau,” kata Paulo (42 tahun), yang demi privasi dan keamanannya sendiri serta keluarganya harus tetap anonim, karena itu diberi nama samaran. Undangan itu adalah kehormatan. “Saya senang sekali,” kata Paulo. Sebagai Uskup, Carlos Felipe Ximenes Belo bukan hanya pimpinan tertinggi gereja Katolik Timor Leste, tapi juga pahlawan nasional dan mercusuar tempat orang bertumpu harapan. Dia tampil membela tanah airnya yang begitu menderita akibat pendudukan berdarah-darah yang dilakukan Indonesia dari 1975 sampai 1999, menuntut penghargaan hak-hak asasi manusia dan hak untuk menentukan nasib sendiri.

  • 15 Mei 1940: Para Pemuda Indonesia yang Melawan Nazi

    HARI ini, 15 Mei 1940, pemerintah Belanda secara resmi menyerah kepada Nazi-Jerman. Keputusan tersebut diambil setelah pihak Belanda pesimis memenangkan pertempuran melawan pasukan Jerman dan menghindari korban sipil lebih banyak. Lima hari sebelumnya, pasukan Jerman memulai serangannya terhadap kota pelabuhan Rotterdam. Begawan ekonomi Indonesia Soemitro Djojohadikusumo ingat betul hari ketika serangan Jerman itu dimulai. Saat itu dia sedang menggarap disertasi di kamar kosnya. Tak berapa lama kemudian, pesawat-pesawat Luftwaffe Jerman membombardir kota. Bukan hanya kamar kos beserta isinya yang hancur berantakan akibat pemboman itu, nyawa Soemitro juga nyaris melayang. Menurut Richard Overy dalam The Bombing War: Europe, 1939-1945, “Prioritas Jerman adalah merebut bandara-bandara Belanda dan titik-titik kunci komunikasi, yang secara umum tercapai, meski dengan bayaran tinggi.”

  • Para Jenderal Nirbaya

    PERISTIWA Gerakan 30 September (G30S) 1965 menjerumuskan sejumlah jenderal ke dalam tahanan. Alasan penahanan mereka bermacam-macam. Mulai dari tuduhan terlibat dalam G30S hingga diidentifikasi sebagai loyalis Presiden Sukarno. Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya di Pondok Gede Jakarta Timur, dipersiapkan untuk mengamankan para jenderal yang dicurigai itu. Gelombang penahanan dimulai sejak 1966. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) memberi kuasa bagi Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) merangkap Panglima Kopkamtib Jenderal Soeharto untuk menangkapi orang-orang terindikasi G30S. Oei Tjoe Tat, salah satu menteri negara yang ditangkap dan ditahan di Nirbaya, dalam memoarnya mengenang sejumlah perwira tinggi yang juga pernah masuk dalam tahanan Nirbaya. Dari Angkatan Darat adalah: Mayjen Moersjid (Deputi I Menpangad), Mayjen Pranoto Reksosamudro (Asisten III Menpangad), Mayjen Soedirgo (Komandan POM ABRI), Brigjen A.M. Soetardhio (Menteri/Jaksa Agung), Mayjen Rukman (Panglima Komando Wilayah Indonesia Timur), Mayjen S. Suadi (Gubernur Lemhanas), Brigjen Sabur (Komandan Tjakrabirawa), Brigjen Shaifuddin (Panglima Kodam Bali), Brigjen Soenarjo (Wakil Jaksa Agung). Selain itu, sejumlah perwira tinggi dari Angkatan Udara, Laut, dan Kepolisian juga turut jadi penghuni Nirbaya. Beberapa nama yang cukup popular seperti Laksamana Madya Omar Dani (Menteri/Panglima Angkatan Udara) dan Brigjen (Pol.) Soetarto (Kepala Staf Badan Pusat Intelijen).

  • Benshi, Suara di Balik Film Bisu Jepang

    ORANG-orang berdatangan ke salah satu bioskop terbesar di Jepang pada 1920-an. Mereka ramai-ramai mencari tempat duduk paling nyaman di dalam bioskop. Namun, alih-alih menonton film asing yang ditayangkan pihak bioskop, para penonton justru hadir untuk menyaksikan benshi. Benshi merupakan orang-orang yang memberikan narasi suara pada film bisu, baik film produksi dalam negeri maupun luar negeri. Sejarawan Giannalberto Bendazzi menulis dalam Animation: A World History Volume 1 bahwa sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman menonton film bisu, benshi berperan sebagai narator dengan menyediakan “komponen verbal” yang menjadi hiburan bagi penonton hingga munculnya film bersuara tahun 1930-an. “Benshi adalah bagian penting dari penayangan film, dan dianggap sebagai salah satu alasan mengapa film bersuara membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang di Jepang dibandingkan dengan negara lain di dunia,” tulis Bendazzi.

  • Selamat Jalan Emon, Si Anak Manja

    “Mas Boy…,” teriak Emon dengan gerak-gerik kemayu dalam film Catatan Si Boy (1987) . Nama Didi Petet melambung setelah memerankan Emon, yang oleh banyak orang disebut sebagai peran bencong. Padahal, Didi berulang kali menyatakan bahwa peran Emon bukanlah banci. “Didi Petet memerankan tokoh Emon, si anak manja (bukan bencong seperti dugaan sementara orang) sangat berhasil,” tulis majalah Pertiwi, 1989. Selain Didi, aktor yang juga memainkan peran sebagai gay adalah Ucok Hasyim Batubara (Cok Simbara) dalam Terang Bulan di Tengah Hari (1987) dan Mathias Muchus dalam Istana Kecantikan (1988). Namun, Mathias memerankan Nicko yang digambarkan sebagai lelaki tulen, tidak klemar-klemer seperti bencong. Film ini dianggap sebagai film Indonesia pertama yang bertema homoseksualitas. Berkat perannya ini, Mathias terpilih sebagai aktor terbaik dalam Piala Citra Festival Film Indonesia 1988, sedangkan Didi terpilih sebagai pemeran pembantu pria terbaik lewat film Cinta Anak Zaman.

  • Riwayat Tangan Kanan Ali Moertopo

    SEBUAH cuitan bersambung atas nama @abirekso mengungkap siapa sosok ayah Johannes Suryo Prabowo. Sebagaimana umum diketahui, Suryo Prabowo merupakan politisi loyalis Prabowo Subianto yang belakangan getol menggugat hasil pemilu dalam laman media sosialnya. Sebelum menggeluti dunia politik, Suryo Prabowo adalah seorang militer yang pernah menduduki sejumlah posisi penting. Jabatan terakhirnya Kepala Staf Umum TNI (2011-2012) dan pensiun dengan pangkat letnan jenderal. Menurut @abirekso, karier militer Suryo Prabowo tak lepas dari peran sang ayah, Rakimin Ngaeran, perwira asal Madura yang merupakan tangan kanan sang master intel Ali Moertopo. Ngaeran banyak terlibat dalam serangkaian operasi khusus intelijen. Beberapa diantaranya seperti penyusupan rahasia ke pejabat tinggi Malaysia dan menjalin penggalangan Darul Islam (DI) untuk menghantam PKI. Pada 1965, Ngaeran disebut mengepalai badan intelijen cikal bakal Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page