top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jalan Mangkyo Dekat Soeharto

    SEBAGAI mantri alas di Bojonegoro, Jawa Timur, Soetikno Kartoprawiro kerap bertugas menjaga hutan siang dan malam. Dia harus siap dan berani menghadapi pencuri kayu jati yang seringkali nekat. Tak tahan, Soekati, istrinya, usul kembali ke Blora, tempat orangtuanya tinggal. Ayah Soekati, Harun Parto Koesoemo, berasal dari Solo, masih darah biru, namun karena konflik keluarga dia menetap di Blora. Soetikno mengalah. Dia pun keluar kerja. Pindahlah pasangan ini. Di Blora, daerah miskin yang dipenuhi batu kapur nan tandus, Soetikno menjadi “agen Singer” lalu membuka usaha jahitan, sementara istrinya merintis usaha batik dan membuka toko. Pasangan ini sudah memiliki dua anak perempuan. Pada 24 September 1924, Soekati melahirkan seorang bayi lelaki yang diberi nama Ali Moertopo –kelak, semua anak lelaki mereka punya nama depan “Ali”, diambil dari nama keluarga Soekati.

  • Walikota Perempuan Pertama Ditangkap di Bandara

    LAPANGAN terbang Mapanget (kini Bandar Udara Sam Ratulangi) geger pada 28 Maret 1951. Walikota Manado Augustine Magdalena (AM) Waworuntu yang akan bertolak ke Jakarta, ditangkap di bandara itu oleh Letnan Dua Saraun. Penangkapan itu tak hanya membuat geger seisi bandara, pun seantero Manado, bahkan membuat gaduh pusat. Magdalena Waworuntu, yang akrab disapa Tiene, merupakan walikota Manado perempuan pertama. Ia juga merupakan walikota Republik Indonesia pertama pasca-perang yang dipilih lewat pemilihan umum. Tiene terpilih pasca-dibubarkannya Republik Indonesia Serikat (RIS) –sebelumnya, seluruh Indonesia Timur masuk ke dalam pemerintahan federal bentukan Belanda. Permata Minahasa Tiene, yang lahir pada 4 Juni 1899, merupakan putri mantan anggota Volksraad bernama Albertus Lasut Waworuntu. Kakeknya, Albertus Bernardus Waworuntu, pernah menjadi kepala Kejaksaan Manado pada 1856-1861 dan Mayor (kepala masyarakat berdasarkan etnis) untuk wilayah Sonder.

  • Pembuangan Semaoen ke Belanda

    SEORANG pemuda berkulit cokelat memasuki gedung konser di Amsterdam, Belanda. Kedatangannya disambut sorak-sorai hadirin. Pemuda itu adalah Semaoen, ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), yang diasingkan pemerintah kolonial ke Belanda. Empat bulan sebelumnya, pada September 1923, Semaoen yang belum lama kembali dari Uni Soviet, ditangkap pemerintah kolonial karena memimpin pemogokan buruh kereta api di Jawa. Ini bukan kali pertama dia berurusan dengan polisi kolonial. Pada 1919, dia dipenjara selama empat bulan karena delik pers. Pemerintah kolonial membuang Semaoen karena berpengaruh besar di kalangan buruh. Awalnya hendak dibuang ke Timor, tetapi Semaoen memilih ke Belanda. Pemerintah setuju dan dimulailah perjalanan Semaoen menuju negeri penjajah.

  • Unicorn dari Asia Tenggara

    BADAK jawa (Rhinoceros sondaicus), atau kadang disebut badak cula satu, adalah salah satu mamalia yang paling terancam punah. Habitatnya kini hanya tersisa di Ujung Kulon, area konservasi di ujung barat Pulau Jawa. Mereka hidup liar di hutan-hutan yang lebat dan dijaga dari perburuan. Namun, mereka terus diintai kepunahan. Badak adalah binatang purba. Leluhur keluarga besar badak, Rhinocerotoidea, telah berevolusi dari nenek moyang yang sama dengan kuda dan tapir sekitar 50 juta tahun yang lalu. Keluarga tersebut kemudian berkembang menjadi setidaknya 100 spesies yang tersebar di Afrika, Eurasia, Amerika Utara dan Tengah. Sebagian besar spesies punah sebelum zaman Pleistosen dengan hanya sembilan spesies yang bertahan hingga Pleistosen Akhir. Dari sembilan spesies tersebut, kini hanya tersisa lima spesies badak di dunia. Salah satunya adalah badak jawa.

  • Antara Versailles dan Jawa

    GEJOLAK revolusi di Prancis tak hanya merengut ribuan jiwa manusia tapi juga binatang. Seekor badak jantan tak bernama, yang sudah 23 tahun menjadi salah satu koleksi binatang di kandang-kandang pameran (menagerie) di Istana Versailles, menemui ajal pada 1793. Di tengah ketidakpastian masa revolusi, beberapa ilmuwan di Prancis merasa perlu melestarikan pengetahuan tentang badak. Jasad badak jantan tak bernama dipindahkan ke Taman Botani (Jardin des Plantes) di Paris. Di sana, profesor anatomi binatang Jean-Claude Mertrud bersama dokter dan ahli anatomi Felix Vicq d’Azyr, serta Direktur Museum d'Histoire Naturelle Louis Jean-Marie Daubenton membedah jasad serta mengawetkan kerangka badak jantan. Lewat kerja keras para ilmuwan, kerangkanya menjadi bagian dari awal yang mengungkap spesies baru badak di belahan dunia lain.

  • Kisah Badak Tak Bernama

    BADAK jantan itu pun menjejakkan kaki di pelabuhan kota Lorient di Prancis pada 11 Juni 1770 setelah turut serta dalam pelayaran selama enam bulan dari Kolkata, India. Sebagai hadiah dari M. Chevalier, gubernur Prancis di Chandernagor, untuk Raja Louis XV, ia akan bergabung dengan koleksi binatang raja di kandang-kandang pameran (menagerie) di Istana Versailles. Namun, kedatangannya jauh dari tabuhan dan perayaan. Sebagaimana gajah dan singa yang terlebih dahulu tiba, badak jantan dan sekelompok pekerja yang mengiringinya masih harus menempuh perjalanan darat sekira tiga bulan menuju Versailles. Setibanya di menagerie, tidak ada pesta sambutan. Juga tidak ada dokumen mengenai pemberian nama untuknya.

  • Selayang Pandang Lanud Atang

    PATAKA biru itu masih terpegang erat di tangan kirinya. Beberapa gompalan kecil tampak di “seragam” coverall oranyenya. Ia bergeming dalam sikap tegap meski rintik gerimis menaungi langit Semplak, Bogor siang itu. Patung di dekat gerbang masuk Pangkalan Udara TNI AU Atang Sendjaja (Lanud ATS) itu menyimpan banyak cerita mewakili para pengawal dirgantara kebanggaan Indonesia. “Ini ikon kita dan kita menyebutnya Tugu Airman karena di TNI AU kita semua adalah Airman. Tugu atau monumen peringatan terhadap tugas dan bakti kita untuk negara,” kata Kepala Dinas Personel Lanud ATS Letkol (Pnb) Sigit Gatot Prasetyo kepada Historia. Mengingat setiap hari diguyur hujan atau “ditembak” sinar matahari, sang Airman yang berdiri di atas dasar monumen persegi berbahan keramik itu tampak lusuh. Di empat sisi bagian dasar situs bernama resmi Monumen Perjuangan Satuan Helikopter TNI-AU itu juga tertera banyak cerita.

  • Tarik-Ulur Lanud Bugis Antara Yogya dan Malang

    BUKAN hal mudah bagi Kepala Staf Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Komodor Suryadi Suryadarma mengonsolidasikan kekuatan semenjak AURI (kini TNI AU) didirikan via Penetapan Pemerintah No. 6/SD tanggal 9 April 1946. Sejak masih bernama Tentara Republik Indonesia (TRI) Jawatan Udara, alutsista maupun sumber daya manusianya (SDM) masih tersebar dan belum satu komando. “Sejak diresmikannya AURI, praktis telah mendorong pimpinan untuk menyempurnakan organisasi. Betapapun sulitnya masalah waktu itu, khususnya dalam usaha mempersatukan TKR Bagian Penerbangan yang otonom telah kuat kedudukannya di masing-masing daerah, tidak jarang terbentur ketegangan pendirian yang sebetulnya tak perlu terjadi,” tulis Irna HN Sowito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950. Ketegangan pendirian itu terjadi antara lain di Pangkalan Udara (Lanud) Bugis di Malang, Jawa Timur (kini Lanud Abdulrachman Saleh). Butuh waktu hingga setahun sejak AURI berdiri sampai Lanud Bugis bisa diambil alih Markas AURI di Yogyakarta dari TRI Divisi VII/Suropati di bawah Jenderal Mayor Imam Soedja’i.

  • Melontarkan Sejarah Kursi Lontar

    JATUHNYA pesawat tempur BAe Hawk 200 TNI AU di Kampar, Riau pada Senin, 15 Juni 2020 menambah panjang daftar hitam petaka alutsista. Namun yang patut disyukuri, sang pilot selamat berkat ejection seat (kursi lontar) sebelum pesawat itu jatuh. Nyawa seorang pilot tempur terlatih masih jauh lebih berharga ketimbang pesawat yang ringsek. “Pilot Lettu Pnb Apriyanto berhasil selamat menggunakan ejection seat saat pesawat Hawk 209 yang dipilotinya mengalami gangguan teknis menjelang mendarat di runway 36 Lanud Rsn (Pangkalan Udara Roesmin Noerjadin) Pekanbaru,” sebut Dinas Penerangan TNI AU di akun Twitter @_TNIAU. Kursi lontar sudah jadi sistem keselamatan yang diwajibkan bagi pilot setiap pesawat tempur era pasca-Perang Dunia II. Berbagai varian pesawat Hawk buatan Inggris seperti pesawat nahas yang dipiloti Lettu Apriyanto, sudah dilengkapi kursi lontar canggih dengan Canopy Destruct System (Sistem perusak kanopi) kokpit otomatis dan Flexible Linear Shaped Charge (FLSC) sebagai pemicu lontarannya.

  • Aparat Keamanan dalam Pemilihan Umum

    PENGAMANAN pemilihan presiden 9 Juli 2014 sangat ketat. Sekira 1,2 juta personel TNI/Polri bersenjata lengkap, ditambah panser, telah siaga di seluruh Indonesia. Unjuk kekuatan ini dianggap terlalu berlebihan. Namun aparat keamanan tak ingin kecolongan. Pada pemilu pertama tahun 1955, aparat keamanan juga disiagakan karena saat itu keamanan negara tidak kondusif. Beberapa daerah, seperti Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, dirundung kekacauan oleh gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di bawah pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Menurut Andi Tjatjo, kepala kantor pemilihan daerah XII Sulawesi Selatan, dengan koordinasi aparat dan penyelenggara pemilu, “Sulawesi Selatan siap menyelenggarakan pemilu,” tulis Harian Rakjat, 3 September 1955.

  • Di Balik Rapat Raksasa di Surabaya

    BULAN September 1945 menjadi kurun waktu meledaknya emosi rakyat Indonesia terhadap keadaan di mana serdadu Jepang masih petantang-petenteng meski sudah kalah perang. Ungkapan kekecewaan sekaligus euforia kemerdekaan mereka salurkan satunya dengan rapat raksasa. Sayangnya, porsi terbesar penulisan sejarah tentang rapat raksasa didominasi Rapat Raksasa di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas), Jakarta pada 19 September 1945. Langka masyarakat mengenal rapat raksasa di kota-kota lain, termasuk yang terjadi di Surabaya. “Selain di Jakarta, ada dua rapat raksasa (serupa Ikada). Satu di Tambaksari. Satu lagi di Lapangan Pasar Turi,” ujar Ady Setiawan, peneliti sejarah dari Roodebrug Soerabaia, kepada Historia.ID.

  • Hadiah untuk Sang Ratu

    PADA akhir abad ke-19, Amsterdam ada di ambang perpecahan. Jurang perbedaan antara kaya dan miskin semakin menganga. Api konflik mengintip untuk berkobar hebat. Satu percikan saja, dipastikan dapat membakar salah satu kota terbesar di Belanda tersebut. Amsterdam ibarat api dalam sekam. Di tengah suasana panas itulah, pada 1896 sekelompok masyarakat Amsterdam dari kalangan atas dan bawah berinsiatif menurunkan tensi konflik. Caranya mereka membuka donasi untuk mempersembahkan sesuatu bagi Putri Wilhelmina yang baru saja dinobatkan sebagai ratu Belanda. Setelah terkumpul uang sejumlah 120.000 gulden, maka mereka memutuskan untuk membuat sebuah kereta kencana yang sangat indah. “Firma Spyker terpilih untuk menangani proyek pembuatan kereta kencana itu,” demikian menurut Thijs van Leewen dan Alberto Strofberg dalam Gouden Koets.

bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bottom of page