top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sepuluh Keluarga di Arena Bulutangkis (Bagian I)

    BULUTANGKIS sudah puluhan tahun mendarah daging di Indonesia. Hampir setiap keluarga di perkampungan maupun perkotaan memainkannya, sebagaimana digambarkan Koko Koswara dalam lagu “Badminton”. Wajar bila banyak bintang bulutangkis, lawas maupun kini, yang punya hubungan keluarga baik satu darah ataupun lewat pernikahan. Dari 10 keluarga bulutangkis yang melahirkan bintang dengan prestasi membanggakan buat negeri ini, beberapa di antaranya berdarah Tionghoa. Mayoritas dari Pulau Jawa, sementara satu “dinasti” lainnya datang dari Indonesia Timur. Siapa saja mereka? Berikut rangkuman ke-10 keluarga bulutangkis tanah air sepanjang sejarah:

  • Sepuluh Keluarga di Arena Bulutangkis (Bagian II)

    SEJAK 1950-an sampai kini, bulutangkis masih jadi olahraga paling mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia. Kontinuitas prestasi yang tercetak tak hanya berkat pembinaan, melainkan juga karena garis keturunan dari orangtua ke anak ataupun dari kakak ke adik. Tak heran bila dalam bulutangkis, sebagaimana dalam sepakbola, terdapat banyak pemain satu darah yang acap menghasilkan prestasi di era berbeda. Setidaknya ada 10 yang tercatat mendirikan “dinasti” bulutangkis, lima di antaranya sudah diuraikan di bagian pertama. Berikut lima keluarga bulutangkis lainnya:

  • Putri Bulutangkis dengan Segudang Prestasi

    SUDAH lebih dari sepekan pebulutangkis legendaris Verawaty Fadjrin tergolek di Rumahsakit Pusat Kanker Nasional Dharmais, Jakarta Barat. Sejak 17 September 2021, Verawaty dirawat intensif karena kanker paru-paru dan semenjak itu pula perhatian dan bantuan terus mengalir dari banyak pihak. Selain Presiden Joko Widodo, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri BUMN Erick Thohir, Menpora Zainudin Amali juga ikut menyumbang. Kemenpora bahkan menanggung biaya perawatannya di RS Dharmais. “Saya sampaikan pada keluarga maupun pada Pak Dirut (RS Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito), silakan dirawat secara maksimal dan pemerintah akan menanggung semuanya. Jadi enggak ada masalah, karena kita tahu ibu Verawaty ini adalah legenda bulutangkis Indonesia sehingga pemerintah memberikan perhatian dan apresiasi,” ungkap Zainudin di laman Kemenpora, 20 September 2021.

  • Sebelum Ferry Sonneville Juara Dunia Bulutangkis

    ORANG mengenalnya sebagai legenda bulutangkis Indonesia. Bersama timnya, dia ikut mengantarkan Indonesia menjuarai Thomas Cup pada 1958, 1961, dan 1964. Dialah Ferry Sonneville. Ferry merupakan anak dari pasangan Dirk Jan Sonneville yang berdarah Belanda-Perancis dan Leoni Elizabeth de Vogel berdarah Indo-Belanda. Dirk kelahiran Maos, daerah Banyumas, pada 22 Juli 1906. Dirk bekerja di perusahaan gas di sekitar Jatinegara, Jakarta. Hidup mereka berkecukupan untuk ukuran zamannya. Mereka tinggal di bilangan Kemayoran. “Sang suami gemar bermain tenis dan bahkan pernah menjadi juara tenis di Jakarta. Sedang sang istri gemar bermain bulutangkis, dan terkenal sebagai pemain yang tangguh,” tulis Wisnu Subagyo dalam Ferry Sonneville, Karya dan Pengabdiannya.

  • Pionir Kejayaan Bulutangkis Itu Bernama Tan Joe Hok

    BULUTANGKIS Indonesia tengah dinaungi kabut duka. Tan Joe Hok alias Hendra Kartanegara, bintang bulutangkis legendaris, wafat di usia 87 tahun. Sebagaimana yang dikabarkan PBSI, Tan Joe Hok tutup usia di Rumahsakit Medistra, Jakarta pada Senin (2/6/2025) pagi. “Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia menyampaikan dukacita yang mendalam dan doa terbaik untuk almarhum dan keluarga. Selamat jalan Tan Joe Hok. Warisanmu untuk bulutangkis (a)kan abadi,” tulis pernyataan PBSI di laman X-nya, @INABadminton, Senin (2/6/2025). Tan Joe Hok bukan sekadar legendaris, ia juga pionir kejayaan bulutangkis Indonesia. Pada dekade awal 1950-an, bulutangkis Indonesia masih dianggap “anak bawang” di panggung dunia. Namun bersama sejumlah bintang pelopor seperti Njoo Kiem Bie, Eddy Yusuf, hingga Ferry Sonneville, Tan Joe Hok membuat Indonesia mulai disegani di pentas internasional.

  • Kudeta Perwira Muda Negeri Sakura

    KENDATI bersalju dan udara dingin menusuk tulang pada pagi 26 Februari 1936, Ahmad Subardjo (di kemudian hari menjadi menteri luar negeri Republik Indonesia pertama) tetap memutuskan untuk pergi ke pusat kota Tokyo dari tempat tinggalnya di Distrik Hunchu. Namun belum lagi menginjakkan kakinya ke tangga, seorang penjaga pintu mencegatnya. “Penjaga pintu membisiki saya, lalu lintas di kota sedang macet karena suatu kecelakaan yang ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. Sekalipun demikian, saya memasuki jalanan yang masih ada lalu lintas. Saya melihat rombongan orang-orang Jepang berhenti di jalan berbicara satu sama lain dengan suara yang lemah. Karena saya tidak dapat berbahasa Jepang, saya tidak dapat keterangan mengenai apa yang terjadi,” kata Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional. Di pusat kota, tempat dia bertemu banyak relasi dari kalangan ilmiah, barulah Subardjo mendapat sedikit informasi mengenai apa yang terjadi pagi itu. "Ternyata, ada rencana dari opsir-opsir muda dan tentara untuk membunuh pejabat-pejabat tinggi pemerintah yang dekat pada takhta kaisar, tetapi belum ada keterangan-keterangan yang terperinci,” kata Subardjo.

  • Suara Titisan Dewa Mengakhiri Perang Dunia II

    SORE 14 Agustus 1945 itu, Kepala kantor berita Jepang Nippon Hōsō Kyōkai (NHK) Hachiro Ohashi sibuk mengatur anak buahnya dari tim perekam. Selepas menerima pesan dari Menteri Biro Informasi Hiroshi Shimomura, ia segera memerintahkan Direktur Teknis Daitaro Arakawa memasang alat-alat yang dibutuhkan ke Kementerian Dalam Negeri. Para teknisi NHK itu lantas mengecek ruangan demi ruangan untuk mendapatkan spot yang takkan bergaung ketika dipasangi aneka peralatan rekaman. Dipilihlah ruangan Goseimu (kantor administrasi kekaisaran) di lantai kedua yang lantainya diselimuti karpet dengan tirai tebal yang menutup jendelanya. Ruangan itu paling pas. “Lalu para teknisi NHK itu menyiapkan piringan hitam yang akan direkam, juga mikrofonnya. Yang tak kalah penting, aliran listriknya juga mereka sambungkan dengan gulungan kabel dari generator kecil, seandainya listrik padam mengingat Tokyo tengah sering dibombardir (Sekutu) dari udara,” tulis Jim Smith dan Malcolm McConnell dalam The Last Mission: The Secret History of World War II’s Final Battle.

  • Kudeta Seumur Jagung di Istana Kaisar Jepang

    SEBAGAI titisan Dewa Amaterasu, suara Kaisar Jepang Hirohito terlalu suci untuk didengar kuping siapapun, termasuk pejabat pemerintahan sekalipun. Namun, untuk kedua kalinya Tennō Heika (Yang Mulia Kaisar Shōwa) harus kembali bicara demi menyetop debat kusir tiada henti anggota kabinet di Dewan Tertinggi untuk Haluan Perang, 14 Agustus 1945. Upaya kaisar utamanya bertujuan untuk mencegah kemusnahan bangsanya. Pada rapat besar itu, kaisar menegaskan bahwa keinginannya tak berubah. Seperti pada rapat serupa empat hari sebelumnya, Tennō Heika berinisiatif mengintervensi keputusan untuk menerima Deklarasi Postdam (26 Juli 1945) dari Sekutu sebagai syarat menyerahnya Jepang. Dijatuhkannya bom atom di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) kian membuka mata sang kaisar akan bahaya kehancuran negerinya di depan mata. Diperparah lagi, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang dengan menginvasi negeri boneka Jepang, Manchukuo (Manchuria), pada 8 Agustus 1945. Invasi yang mengakhiri Pakta Netralitas Soviet-Jepang yang disepakati pada 13 April 1941 itu membuat Jepang kian terpojok.

  • “We Were Deceived by Emperor Hirohito”

    IN a war, no one wins. War doesn't only inflict suffering to those who are attacked. In some cases, the aggressors can be the indirect victims of the hidden political agenda of the ruler. While still living in Japan, Mitsuhiro Tanaka worked as a woodcutter. After being drafted, he was trained in Manchuria, China, at the age of 20, before being assigned as a warship machinist in Indonesia. When Japan lost the war, Tanaka came to Magelang and subsequently decided to live there and marry a Chinese woman. Tanaka reasoned that at that time, there were no more ships carrying prisoners of war, and even if he insisted on returning home, he was sure he would be killed by the Allies.

  • “Kami Ditipu Kaisar Hirohito”

    MENANG jadi arang, kalah jadi abu. Perang bukan saja menyisakan kisah pedih bagi pihak yang diserang. Sesungguhnya, pihak penyerang pun merupakan korban secara tidak langsung, korban dari kepentingan politik terselubung penguasa. Ketika masih tinggal di Jepang, Mitsuhiro Tanaka berprofesi sebagai penebang pohon. Setelah mendapat panggilan wajib militer, dia dilatih di Manchuria (Tiongkok) pada usia 20 tahun. Dia kemudian ditugaskan sebagai ahli mesin kapal perang di Indonesia. Ketika Jepang kalah perang, Tanaka datang ke kota Magelang, lalu memutuskan tinggal dan menikah dengan perempuan Tionghoa. Tanaka beralasan, waktu itu kapal yang mengangkuti tawanan perang sudah tak ada lagi. Seandainya pulang pun, dia yakin akan dibunuh Sekutu.

  • Gelar Juara di Tengah Prahara

    MEI 1998. Huru-hara melanda ibukota dan beberapa kota lain Indonesia. Periode 13-14 Mei menjadi puncak chaos bernuansa rasialis. Rumah dan pertokoan milik orang Tionghoa nyaris tak ada yang luput jadi sasaran penjarahan dan pembakaran. Puluhan bahkan ratusan orang Tionghoa jadi korban pelecehan, pemerkosaan, hingga pembunuhan. Namun di tengah gejolak itu, setitik embun penyejuk datang dari para pendekar bulutangkis yang bertarung di Thomas dan Uber Cup di Hong Kong. Ironisnya, embun itu datang justru dari mereka yang mayoritas keturunan Tionghoa.

  • Thomas Cup, Piala Dunia-nya Bulutangkis

    SEJAK juara kali pertama tahun 1958, Indonesia masih jadi negara pengoleksi juara Thomas Cup terbanyak dengan 14 gelar. Rekor ini dikuntit China dengan mengoleksi sebelas trofi. Thomas Cup merupakan turnamen bulutangkis beregu putra paling prestisius. “Thomas Cup digagas Sir George Alan Thomas, pebulutangkis Inggris yang sangat sukses di awal 1900-an, di mana dia terinspirasi Piala Davis tenis dan Piala Dunia sepakbola yang sudah ada sejak 1930,” tulis Anil Taneja dalam World of Sports Indoor. Sir Thomas, presiden International Badminton Federation (IBF), pada 11 Maret 1939 mengajukan ide itu ke komite IBF saat berlangsungnya turnamen All England di London’s Royal Horticultural Hall. Dalam majalah Allsports edisi Mei 1984, Sir Thomas mengajukan gagasan itu karena merasa sudah waktunya ada turnamen internasional yang lebih global dari All England.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page