top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Soekaesih Bersuara di Belanda

    SENIN malam, November 1937. Seorang wanita bertubuh mungil berbicara menggunakan bahasa Melayu di hadapan orang-orang Belanda di aula besar Lybelle, Rotterdam. Ia menceritakan pengalamannya selama ditahan bertahun-tahun di kamp Boven Digul, Papua. Wanita asal Indonesia itu bernama Raden Soekaesih. Pidato Soekaesih, yang diterjemahkan oleh G.J. van Munster, tak hanya mengisahkan penderitaannya selama menjadi tahanan di kamp Digul. Ia juga menuntut agar kamp-kamp konsentrasi seperti kamp Digul ditutup. Soekaesih sontak menjadi sorotan publik Belanda. Tak sedikit masyarakat yang bersimpati atas pengalaman pahit yang dilaluinya. Pidatonya diberitakan banyak surat kabar di Belanda.

  • D.I. Pandjaitan Berkhotbah di Jerman

    KETIKA menjabat Atase Militer (Atmil) Indonesia untuk Jerman, Kolonel Donald Isaac Pandjaitan punya pengalaman berkesan. Pendeta de Kleine, tokoh Gereja Protestan Jerman di Wuppertal-Barmen mengundangnya untuk memberikan ceramah. Dengan senang hati, Pandjaitan menerima undangan Pendeta de Kleine. Momentum itu berlangsung pada tahun 1960. “Mungkin maksudnya agar masyarakat Jerman mengetahui dan bangga, bahwa ada perwira TNI yang berasal dari Tanah Batak, tempat Mission Zending bertugas menyebarkan agama Kristen di sana sejak sebelum penjajahan,” kenang istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran. Kesediaan Pandjaitan bukan tanpa alasan. Sedari kecil waktu tinggal di Tarutung, Pandjaitan dibesarkan dalam lingkungan sekolah Zending Batakmission yang didirikan misionaris Jerman, Inger Ludwig Nommensen. Uniknya, Pandjaitan diminta mengenakan seragam formal TNI sedangkan istrinya memakai kebaya sebagai perlambang kebudayaan Indonesia. Dan tentu saja, Pandjaitan menyampaikannya dalam bahasa Jerman.

  • Dokter Jerman Populerkan Pengobatan Tradisional Negeri Jajahan

    TAK lama setelah tiba di Hindia-Belanda pada 1823 untuk menjalani tugas di Semarang, Friedrich August Carl Waitz baru menyadari ketiadaan bahan-bahan obat yang biasa dia gunakan di Eropa. Dokter asal Jerman itu pun baru menyadari ada penyakit yang baru ia temui di negeri tropis, seperti disentri dan frambusia. Alhasil, ia kelimpungan dan kehilangan kepercayaan diri pada kemampuan medisnya. Menurut Profesor Hans Pols dari Universitas Sydney dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation”, di tahun itu banyak ahli kesehatan Eropa yang mengeluh tentang kondisi medis di Hindia-Belanda. Para dokter kulit putih itu meragukan kemampuan medis mereka karena temuan lapangan berbeda dari yang biasa mereka temui di Eropa. Obat-obatan yang sudah dikirimkan dari Eropa pun tak bisa maksimal lantaran kehilangan khasiat akibat menempuh perjalanan jauh dan penyimpanan yang kurang apik. Para dokter kulit putih, termasuk Waitz, sendiri memprotes penggunaan zat penenang yang berlebihan.

  • Sisi Kelam Etnis Kulit Hitam di Jerman

    PERKARA rasial dan imigran menghebohkan publik Jerman pekan lalu. Gara-garanya, pemain timnas Jerman berdarah Turki, Mesut Özil, merasa mengalami rasisme dan diskriminasi hingga mencuit di akun Twitter-nya. Perlakuan itu membuatnya memilih pensiun dari Die Mannschaft. Rasisme dan imigran, dua hal sensitif di Jerman, sejatinya tak hanya jadi persoalan para imigran asal Turki, melainkan juga yang berasal dari sub-sahara alias Afrika berkulit hitam. Pada 2016, rekan setim Özil, Jérôme Boateng, juga jadi obyek rasisme. Alexander Gauland, politikus dari partai Alternative für Deutschland (AfD), partai sayap kanan anti-pengungsi dan imigran, menghinanya. “Orang-orang asli Jerman takkan mau tinggal bertetangga dengan Boateng,” cetusnya kepada Suratkabar Frankfurter Allgemeine Zeitung, 5 Juni 2016. Sontak Gauland banjir kecaman. Kebanyakan mengutuknya karena Gauland tak tahu terimakasih atas jasa Boateng yang turut mengantar timnas Jerman menjuarai Euro U-21 2009 dan Piala Dunia 2014. Boateng merupakan bek kelahiran Berlin Barat 3 September 1988 dari orangtua campuran Jerman-Ghana, Martina dan Prince Boateng.

  • Lima Atlet Muslim Turki Pengabdi Jerman

    MESUT Özil misuh-misuh. Playmaker Jerman berdarah Turki itu merasa jadi korban diskriminasi rasial induk sepakbola Jerman DFB, media, dan fans Jerman. Padahal, dia merasa mestinya bisa lebih dihargai mengingat pengabdiannya di timnas Jerman telah membuahkan satu trofi Piala Dunia 2014. “Orang-orang dengan latar belakang diskriminatif secara rasial mestinya tak diperbolehkan bekerja di federasi sepakbola terbesar di dunia, di mana banyak pemainnya berasal dari keluarga asing… Saya takkan bermain lagi untuk Jerman, sementara saya mengalami rasisme dan rasa tidak hormat,” cetus Özil dalam berlembar-lembar pernyataannya yang diunggah ke akun Twitter@MesutOzil1088, Minggu (22/7/2018). Publik sepakbola Jerman pun geger. Gara-gara ini, isu etnis muslim Turki di Jerman meroket lagi. Banyak orang bersimpati namun tak sedikit yang menganggap Özil playing victim. Pengamat bola berdarah Jerman Timo Scheunemann tak sepakat jika DFB dan publik Jerman secara keseluruhan berlaku rasis terhadap Özil.

  • Terangsang Sejarah Tante Girang

    TAK seperti namanya, Kota Kudus sekali waktu malah kebanjiran bacaan erotis. Bacaan yang bersifat pornografi meliputi brosur stensilan, buku “perangsang”, dan gambar cabul. Pihak berwajib turun tangan karena khawatir bacaan tersebut memancing pembacanya untuk menirukan hal-hal yang ditulis di dalamnya. “Tante Girang karangan Motinggo Boesje termasuk di antara buku-buku yang dianggap dapat merusak moral bagi pembacanya yang baru-baru ini disita oleh pihak yang berwajib di Kudus,” demikian diwartakan Kompas, 22 Mei 1969. Namun, Motinggo Boesje, pengarang yang namanya dicatut, keberatan dengan berita tersebut. Sehari berselang, Motinggo menyanggahnya di kolom pembaca Kompas. Menurut Motinggo, berita keliru seperti itu dapat merusak reputasi dan merugikan dirinya. Meski demikian, dia meyakini kekeliruan pengutipan berita terjadi tanpa disengaja oleh redaksi Kompas.

  • Perempuan Melawan Jerman

    PEARL Witherington Cornioley bangun dari duduknya. Dia menuju pintu belakang pesawat lalu merebahkan tubuhnya di dinding pesawat. Tiba-tiba pesawat pembom Halifax yang ditumpanginya bermanuver tajam. Jantungnya berdegup kencang. Matanya terus menatap petugas pemberi aba-aba untuk terjun. Misi penerjunan ke Prancis pada 15 September 1943 itu menjadi puncak mimpinya selama beberapa tahun belakangan. Pendudukan Jerman membuat Pearl dan keluarganya terpaksa keluar dari Prancis. Dia kembali ke Prancis setelah bergabung dengan Special Operation Executives (SOE), badan intelijen yang dibentuk pemerintah Inggris untuk membantu perjuangan bawah tanah negara-negara yang diduduki Jerman. Ketika Halifax mengurangi ketinggian sampai 500 kaki, perasaan Pearl campur aduk antara senang, bangga, dan khawatir. Kekhawatirannya makin bertambah karena perintah terjun tak kunjung datang. Ketidakpastian itu baru usai setelah pilot mengumumkan: misi dibatalkan. Pearl kecewa.

  • Peran Pelaut Jerman dalam Angkatan Laut Republik Indonesia

    PADA akhir 1963 atau awal 1964, Horst Henry Geerken, wakil perusahaan telekomunikasi Jerman AEG-Telefunken, beberapa kali berdiskusi tentang stasiun pemancar gelombang pendek untuk Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dengan Menteri/Panglima Angkatan Laut Laksamana R.E. Martadinata. Mengingat Geerken dari Jerman, Martadinata memuji peran seorang pelaut Jerman bagi ALRI, yaitu Kapten August Friedrich Hermann Rosenow. Geerken pun penasaran dengan sosok Rosenow. Akhirnya, Geerken dapat bertatap muka dengan Rosenow di kapal Hamburg American Line HAPAG yang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Acara jamuan makan malam itu dihadiri para perwira senior dari ALRI dan perwakilan sejumlah perusahaan Jerman. “Saya beruntung menjadi salah satu yang diundang. Rosenow berambut lurus, tubuhnya tinggi kekar dengan wajah lebar, dada bidang, gambaran seorang pelaut sejati. Dia orang yang menyenangkan dan para perwira Indonesia sangat menghormatinya. Petang itu saya mendengar banyak cerita mengenai kisah hidup dan petualangannya yang mengagumkan,” ungkap Geerken dalam bukunya, Jejak Hitler di Indonesia.

  • Tentara Jerman dalam Perang Kemerdekaan Indonesia

    SELAMA penggojlokan di Sarangan, kadet Sayidiman Suryohadiprojo mengenal lelaki berkulit putih sebagai pelatih jasmani terbaik: disiplin dan ulet. Dengan gayanya, dia berhasil menjadikan anak-anak Akademi Militer Yogyakarta menguasai gerakan-gerakan senam yang sebelumnya hanya bisa dikuasi orang-orang Belanda. Adalah Her Hufper, seorang Jerman yang mengajar senam dan atletik bagi para kadet Akademi Militer Yogyakarta. “Hufper bukan pelatih sembarangan, dia adalah pelatih senam tim Jepang dalam Olympiade tahun 1940 yang kemudian gagal diadakan,” ujar Sayidiman, terakhir pangkat Letnan Jenderal. Menurut lulusan terbaik Akademi Militer Yogyakarta angkatan pertama tersebut, Hufper bukanlah satu-satunya orang Jerman yang terlibat dalam pendidikan calon-calon perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di Sarangan terdapat para instruktur Jerman yang mengajarkan bahasa asing (Jerman, Inggris, Prancis) dan keterampilan morse. Untuk materi yang terakhir ini, para kadet Akademi Militer Yogyakarta dididik secara khusus oleh bekas markonis Jerman yang memiliki kemampuan mengirimkan dan menangkap tanda morse dalam kecepatan tinggi.

  • Kisah di Balik “Pabrik” Bayi Nazi

    HILDEGARD TRUTZ baru saja menyelesaikan sekolahnya pada 1936. Ia tidak tahu pekerjaan apa yang dapat membuat masa depannya cerah. Gadis berusia 18 tahun itu kemudian meminta saran kepada seorang pemimpin Bund Deutscher Mädel (BDM, organisasi perempuan yang setara dengan Hitler Youth atau Pemuda Hitler), tempatnya bergabung sebagai anggota sejak tahun 1933, yang menyarankannya untuk ambil bagian dalam progam Lebensborn. “Apa yang dibutuhkan Reich adalah pasokan tenaga yang sehat dan murni secara rasial,” kata pemimpin BDM setempat kepada Hildegard sebagaimana dikutip oleh Paul Roland dalam Nazi Women of the Third Reich: Serving the Swastika. Lembaga Lebensborn, yang berarti “mata air kehidupan”, didirikan pada Desember 1935. Menurut sejarawan Amy Carney dalam Marriage and Fatherhood in the Nazi SS, Lebensborn didirikan tidak semata-mata untuk menyokong para ibu yang tidak menikah dan anak-anak yang lahir di luar pernikahan, tetapi juga bermanfaat bagi para ibu yang sudah menikah dan anak-anak yang sah.

  • Kakek Elon Musk Simpatisan Nazi dan Apartheid?

    ELON Musk diserbu kritik berbagai kalangan, dari warganet biasa, sejarawan, politikus Eropa, hingga petinggi pemerintahan Jerman. Pasalnya, saat menyudahi pidatonya di perayaan pelantikan Presiden Donald Trump, Senin (20/1/2025), Musk melakukan gestur yang dianggap meniru salam pentolan Nazi, Adolf Hitler. Tentu kemudian bos media sosial X, provider internet Starlink, serta manufaktur roket Space X dan otomotif Tesla itu menyanggahnya. Musk menganggapnya sebagai fitnah dan menanggapi aneka hujatan itu dengan santai. “Sejujurnya, mereka butuh trik-trik kotor yang lebih baik. Serangan ‘semua orang adalah Hitler’ sungguh membosankan,” cuit Musk di akun X-nya, @elonmusk, Selasa (21/1/2025). Banyak pendukung Musk membelanya. Salah satunya penasihat Musk, Andrea Stroppa, yang menganggap itu sejatinya salam Romawi. Namun, pembelaan itu justru memantik hujatan balik. “Itu jelas salam Nazi dan [gestur] yang juga memperlihatkan sikap bermusuhan juga,” sebut sejarawan New York University Ruth Ben-Ghiat dikutip The Guardian, Selasa (21/1/2025).

  • Dari Kamp Nazi Lalu Desersi di Surabaya

    HARRY Hulskar dan Freddy Weerenstijn masih mendekam di kamp tawanan Jerman-Nazi pada 1944. Kala itu mayoritas Eropa Barat masih diduduki Jerman. Jangankan membayangkan negeri ataupun sekadar nama Indonesia, yang jelas belum eksis, menerka nasib mereka sendiri pun masih lebih sulit ketimbang mengatasi perut yang lapar. Namun, nasib orang siapa yang tahu. Bombardir artileri Prancis ikut mengubah nasib keduanya. Dari bombardir itu Harry dan Freddy lalu bisa mendapatkan kebebasan. Dengan kebebasan itu, keduanya bisa bertualang. Ketika artileri berat Perancis membombardir kamp mereka, Harry dan Freddy hanya bisa menanti sambil berharap akan ada kesempatan keluar. Benar saja. Setelah bersabar menanti bombardir reda, keduanya kabur ke Amsterdam, tempat asal keduanya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page