Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- 23 April 1880: Raden Saleh Meninggal Dunia
RADEN Saleh disebut pelopor seni lukis modern Indonesia. Lukisan-lukisannya sangat dihargai di Indonesia dan dunia. Karya-karyanya yang berada di Indonesia diperkirakan tak lebih dari 20, di antaranya lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” dan “Berburu Singa” koleksi Istana Negara. Pada 1829, Raden Saleh pergi ke Belanda untuk belajar seni dengan biaya pemerintah Belanda. Semula hanya akan sebentar, tetapi akhirnya Raden Saleh mengembara di Eropa (Belanda, Jerman, dan Prancis) selama 20 tahun. Sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah menyebut selama di Jerman, Raden Saleh bersahabat dengan groothertog (adipati agung) van Saksen-Coburg-Gotha, saudara suami Ratu Victoria.
- Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia
SUATU hari, beberapa pelukis muda Belanda yang sedang belajar, melukis bunga dan memperlihatkannya kepada Raden Saleh. Beberapa kumbang dan kupu-kupu hinggap di atasnya. Mereka mencemooh Raden Saleh. Panas dan terhina, diam-diam Raden Saleh menyingkir selama berhari-hari. Karena cemas, teman-temannya mendatangi rumahnya dan masuk dengan mendobrak pintu. Mereka menjerit. “Mayat Raden Saleh” terkapar di lantai berlumuran darah. Sebelum suasana bertambah panik, Raden Saleh muncul. “Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tapi gambar saya bisa menipu manusia,” ujarnya tersenyum. Raden Saleh adalah seniman Indonesia pertama yang melukis dengan disiplin Barat. Kelak ia dinobatkan sebagai pelopor seni lukis modern Indonesia.
- Kejahatan Tokeitai di Balikpapan dan Sulawesi
SEBAGAI daerah dengan banyak orang Belanda, Sulawesi Selatan di zaman pendudukan Jepang punya banyak orang Eropa yang menjadi tawanan perang. Mereka tersebar di berbagai kamp di Sulawesi Selatan. Kampili adalah salah satu kamp di sana. Isinya perempuan dan anak-anak. Yang bertanggungjawab di sana Sersan Yamadji dan seorang pembantu yang bisa dipukuli Yamadji jika kinerjanya tidak sesuai standar dan harapan Yamadji. Seorang bekas tukang daging yang juga jadi pemuka agama, yang disapa sebagai Bapak Beltjens, ditempatkan di sana. Ia sebelumnya ditugaskan di kamp Pare-pare. Bermodalkan beberapa ekor babi yang kakinya patah karena terguncang-guncang di atas truk waktu dalam perjalanan menuju kamp, sebuah peternakan babi lalu diadakan di dalam kamp itu.
- Misteri Kematian Aktor Inggris yang Dibenci Nazi
PESAWAT komersial Flight 777 rute Lisbon, Portugal-London, Inggris ditembak jatuh pesawat Jerman di atas Teluk Biscay pada 1 Juni 1943. Keberadaan Alfred Chenhalls yang dikira Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dianggap sebagai penyebab pesawat Kerajaan Belanda yang dipinjamkan kepada British Overseas Airways Corporation itu diburu pesawat Jerman. Namun, insiden di masa Perang Dunia II itu menyisakan misteri. Tak sedikit yang beranggapan bahwa target sesungguhnya adalah Leslie Howard, aktor Inggris yang tersohor di Hollywood berkat perannya sebagai Ashley Wilkes dalam film box office, Gone With the Wind (1939). Mengapa Leslie Howard menjadi target pembunuhan agen Nazi? Hal ini bermula pada akhir tahun 1930-an, ketika pria kelahiran Forest Hill, London, 3 April 1893 itu tengah mengembangkan kariernya di Hollywood. Kesuksesan Leslie memberinya kehidupan yang glamor dan nyaman di Los Angeles dan New York. Namun, seminggu sebelum Perang Dunia II pecah di Eropa pada 1939, ia kembali ke Inggris di mana kegiatan seninya dibentuk dan ditentukan oleh aktivisme politiknya.
- Kurt Waldheim Mantan Nazi Jadi Sekjen PBB
SEPANJANG masa jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) kurun 1972-1981, Kurt Waldheim asal Austria menangani beragam isu. Mulai dari hukum laut, mempromosikan kerjasama perdagangan negara-negara berkembang, hingga kekerasan Israel di Palestina. Meski begitu, masa lalunya selalu dipersoalkan. Waldheim masuk jadi kandidat Sekjen PBB pada Juni 1971 atau dua bulan setelah kalah dalam pemilihan presiden (Pilpres) Austria pada April 1971. Dalam pemilihan Sekjen PBB di Dewan Keamanan (DK) sepanjang 17-20 Desember 1971, Waldheim hanya menerima 11 dari total 15 suara, sementara pesaingnya dari Argentina, Carlos Ortiz de Rozas mendapat 12 dari total 15 suara. Akan tetapi perolehan suara De Rozas diveto Uni Soviet hingga DK PBB memutuskan Sekjen PBB yang baru suksesor U Thant adalah Waldheim. Selama delapan tahun menjabat Sekjen PBB, Waldheim mendorong banyak agenda. Di antaranya UNCTAD (Konferensi PBB untuk Perdagangan Negara-Negara Berkembang) dan Konferensi PBB untuk Lingkungan pada 1972 yang melahirkan UNEP (Program Lingkungan PBB), Konferensi Pangan Dunia 1974, hingga mengecam diskrimasi rasial dan kekerasan Israel di Palestina. Kecaman tersebut direalisasikan dengan Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 yang menyebutkan Zionisme adalah bentuk rasisme yang tak ubahnya sistem apartheid di Afrika Selatan. Namun pada 1991 di era Sekjen PBB Javier Pérez de Cuéllar asal Peru, resolusi itu dicabut via Resolusi 46/86 atas desakan Israel dan Amerika Serikat.
- Spion Wanita Nazi Dijatuhi Hukuman Mati
KISAH agen rahasia dalam menjalankan misi untuk mencuri informasi atau mengelabui musuh selalu menarik untuk diikuti. Kali ini kisah spion wanita Nazi, yang kemampuannya dalam mencuri informasi dan membungkam mereka yang kontra dengan sang Führer, Adolf Hitler, patut diacungi jempol. Ia adalah Reissa von Einem atau kerap dipanggil Baronnes von Einem. Pada 1935, Reissa mengirim surat ke pihak Jerman dengan maksud meminta pekerjaan. Surat tersebut tidak dibuat sembarangan. Di dalam suratnya, Reissa menyatakan pernah bekerja untuk dinas rahasia pada 1917, ketika berusia belasan tahun. Kurt D. Singer, yang pernah terlibat aksi spionase kontra Nazi, dalam Spies and Traitors of World War II menyebut wanita yang terlahir dengan nama Maria Elizabeth von Einem itu merupakan seorang bangsawan. Namun, surat kabar New York Herald Tribune, 30 Mei 1940, melaporkan bahwa Baroness von Einem, yang memiliki nama kecil Reissa von Scheurn Schloss, merupakan putri seorang jenderal Jerman dalam Perang Dunia II.
- Pembantaian VOC di Ambon (Ambonse Moord)
VOC mengeksekusi 10 orang Inggris, 10 tentara bayaran Jepang, dan 1 orang Portugis yang dituduh berencana menyerang Benteng Victoria di Ambon tahun 1623.
- Pangeran Bernhard, dari Partai Nazi hingga Panglima Belanda
SUDAH dua dekade Pangeran Bernhard mangkat (1 Desember 2004), namun masa lalunya terus menghantui publik Belanda. Sepanjang hidupnya, suami Ratu Juliana itu membantah pernah mengucap sumpah setia pada pentolan Nazi Jerman, Adolf Hitler. Tetapi bukti-bukti sahih berkata lain. Satu dari sekian bukti sahih itu adalah kartu keanggotaan Nationalsozialistische Deutsche Arbeitpartei (NSDAP) alias Partai Nazi atas nama Pangeran Bernhard. Bukti penting itu ditemukan Direktur Koninklijke Huisarchief (Arsip Kerajaan) Flip Maarschalkerweerd di koleksi arsip pribadi Pangeran Bernhard di Istana Soestdijk pada 2019. Maarschalkerweerd kemudian menuliskan kisah penemuannya itu dalam bukunya yang rilis 2023 lalu, De Achterblijvers. Kini, kartu keanggotaan Partai Nazi Pangeran Bernhard bersama beberapa dokumen lain dikembalikan ke Bundesarchiv atau Arsip Federal Jerman. Hanya salinan-salinannya semata yang tetap disimpan di Den Haag, Belanda.
- Irawan Soejono Melawan Nazi Jerman
DI sebuah sudut di bilangan Osdorp, pinggiran Amsterdam, terhampar sebuah jalan yang tak terlalu panjang. Jalan itu merentang 200 meter, menghubungkan Jalan Rudi Bloemgartensingel dengan Trijn Hullemanlaan dan diapit oleh dua jalan: Jacob Paffstraat dan Geertruide Lierstraat. Pemerintah Kota Amsterdam menamai jalan itu Irawan Soejonostraat. Irawan Soejono bukan sosok terkenal, terlebih bila dibandingkan tokoh-tokoh Indonesia lain yang dijadikan nama jalan di Belanda, seperti R.A. Kartini (Kartinistraat), Mohammad Hatta (Hattastraat), dan Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat). Nama Irawan diabadikan karena perjuangan dan pengorbanannya di negeri, yang ironisnya, menjajah tanah airnya. Jalan Irawan Soejonostraat diresmikan pada 4 Mei 1990, bersamaan dengan peringatan para pahlawan dan korban-korban pendudukan Nazi-Jerman.
- Johanis Jan Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik
KETIKA tentara Jerman menduduki Negeri Belanda sejak 10 Mei 1940, para taruna di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda sedang menjalani pendidikan. Termasuk empat taruna dari Indonesia: Soemiarto Abdurachman, Victor Louise Makatitta, Saleh Sadeli, dan Kanido Rachman Masjhur. "Saya sedang berlatih sebagai perwira infanteri KNIL di akademi militer di Breda ketika perang pecah," kata Joop Nortier alias Johanis Jan Nortier (1917-2002), dikutip De Telegraaf, 3 September 1988. Kala itu Nortier sudah berpangkat sersan kadet, harusnya tinggal sebentar lagi dia belajar di Breda dan kemudian menjadi perwira dalam tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Namun kedatangan Jerman menghalangi karier pria kelahiran Poortvliet, 6 Agustus 1917 ini.
- Andi Azis Habis Lawan Nazi
WAKTU Perang Dunia II mengganas di Eropa, Andi Abdul Azis tidak sedang berada di Sulawesi Selatan. Dia di tempat yang jauh dari kampung halamannya. Dia sedang berada di Negeri Belanda. Andi Azis menjadi anak angkat pensiunan pegawai kolonial Belanda yang pernah bertugas di kampung halamannya, Barru di Sulawesi Selatan. Ketika pejabat ini masih bertugas di Barru, seperti diceritakan Andi Idris, salah satu adiknya, Andi Azis kecil sering diajak pejabat ini berkunjung ke rumahnya di daerah perbukitan Barru. Andi Azis sudah berada di Negeri Belanda sejak tahun 1935 ketika berusia sekitar sepuluh tahun. Dia pernah merasakan bangku sekolah menengah di Baarnsch Lyceum. Ben van Kaam dalam “De rebel die een bloedbad voorkwam” yang dimuat koran Trouw, 29 Maret 1980, menyebut Andi Azis adalah bocah yang ceria ketika masih bersekolah di sana. Dia bersekolah hingga kelas tiga tahun 1943.





















