top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tirpitz, Benteng Terapung Hitler

    POSTURNYA begitu gagah, meriam-meriam utamanya pun ditakuti lawan-lawannya. Begitulah kapal tempur milik Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman) bernama Tirpitz. Pada 25 Februari 1941, kapal yang menyandang nama besar pahlawan matra laut Jerman era kekaisaran cum arsitek Kaiserliche Marine, Laksamana Alfred von Tirpitz, itu resmi mendapat mandat tugas. Tirpitz didesain menyamai Bismarck sebagai satu dari dua kapal tempur kelas-Bismarck pada 1935. Kanselir Adolf Hitler merestui proyek pembangunannya demi menandingi ekpansi AL Prancis yang melahirkan dua kapal tempur kelas-Richelieu: Richelieu dan Jean Bart. Prancis juga membangun dua kapal tempur cepatnya itu dalam rangka merespons AL Italia yang lebih dulu membangun empat kapal tempur kelas-Vittorio Venetto: Vittorio Venetto, Littorio, Roma, dan Impero. Meski terikat Traktat AL Washington yang membatasi bobot kapal perang sebatas 35 ribu ton, Kriegsmarine diam-diam menambah ukuran dan bobot kapal Tirpitz hingga 52 ribu ton ketika mulai dibangun di galangan Kriegsmarinewerft Wilhelmshaven pada 2 November 1936. Tirpitz lalu dibaptis lewat upacara khusus yang dihadiri Hitler dan juga Ilse von Hassell, putri mendiang Laksamana Alfred von Tirpitz, pada 1 April 1939.

  • Bangkai Kapal Hitler Muncul di Danube

    UNTUK kesekian kalinya warga kota pelabuhan Prahovo, Serbia, diresahkan oleh bangkai-bangkai kapal era Perang Dunia II (PD II) yang tetiba muncul di Sungai Danube. Kekerinan parah yang terjadi di Eropa membuat sekira 20 bangkai kapal terekspos dengan sendirinya dan membahayakan warga Prahovo dan sekitarnya. Eropa tengah mengalami musim kering paling ekstrem sejak lima abad terakhir. Sungai Danube yang jadi sungai terpanjang kedua di Eropa turut terimbas. Di Prahovo, penurunan ketinggian airnya mencapai 150 meter. Bangkai kapal-kapal itu menjadi ancaman bagi warga sekitar sekaligus lingkungan. Terlebih di kapal-kapal itu masih terkandung beragam senjata peledak dan amunisi yang membahayakan. “Flotilla (armada) Jerman telah meninggalkan bencana ekologi yang besar dan itu mengancam kami, penduduk Prahovo,” kata salah satu warga cum sejarawan lokal, Velimir Trajilovic (74), kepada Reuters, Sabtu (20/8/2022).

  • Alkisah Berghof dan Sarang Elang Hitler

    PELELANGAN sebuah barang acapkali menghebohkan publik. Terlebih bila barang yang dilelang punya cerita di baliknya. Hal itulah yang dialami sebuah arloji klasik keemasan yang dilingkari tali kulit hitam buatan LeCoutre ketika dilelang baru-baru ini. Pasalnya, arloji yang diberi merk Andreas Huber, supplier resmi arloji tersebut, itu memiliki kaitan dengan Nazi, partai fasis Jerman. Maka, komunitas Yahudi pun naik pitam ketika mengetahuinya. European Jewish Association memprotesnya. Pihak rumah lelang mengklarifikasi bahwa pelelangan itu bukan untuk mempropagandakan kembali Nazi atau nama Hitler. Terlebih pemenang lelang arloji itu seorang Yahudi yang tak diumbar identitasnya. “Baik buruknya sejarah, bendanya sendiri tetaplah harus dilestarikan. Jika Anda menghancurkan sejarah maka takkan ada bukti bahwa sejarah itu terjadi,” tutur Mindy Greenstein, wakil presiden rumah lelang tersebut, diberitakan New York Post, Senin (1/8/2022).

  • Kartini Martir, Bukan Pelakor!

    SETIAP hari Kartini tiba, selalu saja ada perdebatan. Itu bagus tentu saja, namun beberapa di antara perdebatan itu berbumbu olok-olok, mengejek Kartini: dia pejuang perempuan penentang poligami namun pasrah diperistri seorang bupati berbini tiga. Lantas meme beredar, pesan WA berantai disebar kemana-mana. Intinya mau mengatakan bahwa perjuangan Kartini sia-sia karena perempuan tetaplah perempuan yang pada akhirnya harus jadi istri, beranak, dan mendekam di dapur seumur hidupnya. Ada juga narasi lain yang terkesan menyudutkan Kartini sebagai seorang yang memandang sebelah mata agama Islam –namun akhirnya insyaf setelah bertemu Kyai Soleh Darat. Dia digambarkan seakan-akan seorang mualaf tobat yang akhirnya menemukan jalan menuju Tuhannya, setelah tiada henti-hentinya mempertanyakan agamanya sendiri. Itu terjadi karena Kartini hanya diwajibkan membaca Alquran tanpa pernah diajari apa arti di baliknya. Sementara itu sebuah pesan WA yang mengedarkan artikel tentang “Sisi Lain Sosok RA. Kartini,” mengutip pendapat sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah. Menurut artikel itu ada sisi lain Kartini yang selama ini ditutup-tutupi oleh “pihak Barat” dan “kaum sekuler”, yakni perlawanan Kartini terhadap praktik “kristenisasi” dan “westernisasi”.

  • 21 April 1619: Pejabat VOC yang Mendirikan Cape Town Lahir

    21 APRIL 1619, Johan Anthoniszoon “Jan” van Riebeeck lahir di Culemborg, Belanda. Dia adalah pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) yang menjadi pendiri Cape Town, ibukota legislatif Afrika Selatan. Di bawah komandonya, kawasan ini terbuka lebar bagi para pemukim kulit putih, terutama dari Belanda. Van Riebeeck bergabung dengan VOC pada 1639. Dia sempat bekerja sebagai asisten dokter bedah di Batavia (kini Jakarta) sebelum memimpin pos perdagangan VOC di Tonkin, Indochina (sekarang Vietnam). Namun, dia diberhentikan dari jabatannya karena ketahuan melakukan perdagangan untuk mengisi kantong pribadinya. Dalam perjalanan pulang, van Riebeeck berhenti di Table Bay di Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di ujung barat daya Semenanjung Cape, Afrika Selatan. Dia melihat potensi daerah ini sebagai tempat singgah kapal-kapal VOC untuk mengisi perbekalan. Pendapatnya kemudian disetujui oleh para petinggi VOC.

  • Habis Antar Surat Terbitlah Cinta

    TAK sampai hati melihat tawaran cerita Dian (Melayu Nicole), guru baru, ditolak murid-muridnya, Rangga mengambil alih kelas. Dia enggan menawarkan cerita yang sudah umum, seperti tentang Kartini yang ditawarkan Dian. Rangga memilih cerita yang belum pernah didengar para murid, tentang seorang tukang pos yang setia mengantarkan surat-surat Kartini. Para murid tak lagi menawar. Didampingi Dian yang duduk sembari memangku salah seorang murid, mereka duduk manis mendengar Rangga mendongeng. Ditimpali musicscoring bernuansa Jawa dan suara Rangga mendongeng, adegan beralih ke kehidupan tukang pos bernama Sarwadi (diperankan Chicco Jerikho) di Jepara tahun 1901. Seperti kebiasaan orang Jawa, Wadi sarapan di rumah sambil berbincang dengan Ningrum (Christabelle Grace Marbun), anak semata wayangnya. Ini hari pertama Wadi sebagai tukang pos. Wajahnya memancarkan kebahagiaan. Setelah menerima ucapan selamat bergabung dari bosnya, Wadi mengayuh sepedanya ke alamat-alamat di surat-surat yang dia bawa.

  • Elizabeth Latief dan Semangat Kartini

    NAMANYA memang tak setenar Susy Susanti. Namun jika bicara semangat juang, Elizabeth Latief boleh diadu. Lema “menyerah” tak pernah ada dalam kamusnya kala membela merah putih bersenjatakan raket. Tak ayal budayawan Udaya Halim menjuluki perempuan yang akrab dipanggil Itje itu sebagai salah satu Kartini Tionghoa modern. Mengutip Baktiku Bagi Indonesia karya jurnalis Broto Happy, Itje yang turun di pentas bulutangkis nasional dan internasional mulai 1983 punya segudang prestasi mentereng. Lima medali emas SEA Games 1983, 1985, dan 1987 baik di nomor individu maupun beregu putri berhasil dibawanya pulang. Lalu sekeping medali emas Kejuaraan Asia 1987 dan Konica Cup (kini Singapore Open) 1987 serta perannya ikut membawa tim Indonesia jadi runner-up Piala Uber 1986, melengkapi. Namun, siapa nyana srikandi bulutangkis kelahiran 27 Maret 1963 itu bukan berasal dari keluarga bulutangkis. Dalam Webinar yang dihelat Museum Benteng Heritage bertajuk “Asal Oesoel Badminton” pada Rabu (21/4/2021) malam, Itje mengatakan bahwa dia mengenal bulutangkis justru dari pembantu atau asisten rumah tangganya (ART) saat usia sekolah dasar.

  • Patung Kartini Pemberian Jepang

    PATUNG Kartini di Monumen Nasional itu cukup unik. Ada aksara kanji di bagian dasar patung. Dulu orang sempat mengira tulisan di dasar patung itu huruf Tionghoa dan penghinaan terhadap Pahlawan Nasional. Tapi sesungguhnya, patung itu merupakan pemberian dan penghormatan pemerintah Jepang kepada Indonesia pada April 1963. Pembuat patung itu adalah Prof. Kato Kensei dari Akademi Kesenian Jepang. Dia tertarik membuat patung itu karena kekagumannya pada perempuan Indonesia. “Tertarik akan wanita-wanita Indonesia yang tanpa meninggalkan unsur-unsur keindahan, unsur-unsur kepribadian, telah maju demikian pesat,” ungkap Djaja, 27 April 1963. Kato pun berkunjung ke Indonesia pada 1961. Dia bertemu dengan Presiden Sukarno dan mengutarakan keinginannya membuat patung yang merepresentasikan perempuan Indonesia. Sukarno menerima baik keinginan Kato. Dari sinilah sosok Kartini diusulkan untuk model patung Kato. Dia pun segera mempelajari Kartini, lekas terpikat, dan setuju sosok Kartini menjadi model patungnya.

  • Romansa Bung Karno dan Kartini Manoppo

    DARI Bandara Kemayoran, Jakarta Presiden Sukarno menumpang pesawat Garuda. Waktu itu Bung Karno punya agenda ke Jawa Timur karena hendak meresmikan pabrik tenun di Batu Ceper, Malang. Salah seorang kru pesawat bernama Kartini Manoppo melayani penerbangan itu selaku pramugari. “Tidak ada kesan istimewa. Kecuali setelah selesai perjalanan itu saya mendapat kenang-kenangan kain tenunan. Hanya itu. Tak ada yang lain,” kenang Kartini dalam majalah Info No. 78, 31 Juli 1978. Pertemuan pertama itu terjadi pada 1958. Tidak lama setelahnya, Kartini berhenti sebagai pramugari. Dia kembali pulang ke kampung halamannya di Mobago, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

  • Operasi Hantu Amerika Serikat di Perang Vietnam (Bagian II)

    MILITER Amerika Serikat menyadari pasukan Viet Cong yang menggunakan strategi perang gerilya bukan lawan yang mudah ditaklukan. Oleh karena itu, Amerika dan Vietnam Selatan menggunakan berbagai strategi salah satunya Wandering Soul Operations atau Operasi Jiwa-jiwa yang Tersesat untuk memanipulasi dan melemahkan emosi serta persepsi serdadu komunis itu. Operasi ini memanfaatkan kepercayaan masyarakat Vietnam akan kematian. Menurut Edgar Wollstone dalam The Dark Encounters in Vietnam, militer Amerika memanfaatkan konsep hantu dalam budaya Vietnam untuk melemahkan musuh. “Pihak Amerika memanfaatkan ide tentang pemakaman yang tidak layak bagi jenazah dan konsekuensi yang terkait dengannya. Melalui gagasan ini, tentara Amerika memutar rekaman yang mengatakan, ‘seseorang telah mati dan jangan berakhir seperti itu.’ Hal ini dilakukan untuk menakuti tentara Vietnam agar menyerah,” tulis Wollstone.

  • Kartini yang Pluralis

    R.A. KARTINI bisa jadi hidup hanya pada setiap 21 April. Anak-anak perempuan di sekolah merayakannya dengan mengenakan kebaya sebagai perlambang identitas gender. Sementara itu, Kartini dimasukan ke dalam sangkar emas sebagai pendekar feminisme. Namun nyatanya, dalam membaca pemikiran Kartini ada hal yang abai diperbincangkan, yaitu pandangannya tentang hak asasi manusia dan pluralisme. Demikian pendapat sejarawan Didi Kwartanada dalam diskusi panel Seminar Sejarah Nasional “Membayangkan Indonesia di Hari Depan” di Aston Priority Hotel & Conference, 4 Desember 2019. Apabila merujuk surat-suratnya dalam versi asli, Kartini juga mengungkapkan kegelisahannya tentang diskriminasi minoritas pada zaman kolonial. Menurut Didi, membaca ulang pemikiran Kartini tentang pluralisme, yang belum banyak diungkap, merupakan isu yang relevan bagi keadaan Indonesia dewasa ini. Dalam makalahnya “Membayangkan Indonesia yang Berbhineka: Kartini dan Pandangannya Mengenai Tionghoa dan Arab”, Didi mencatat empat surat Kartini yang memperlihatkan empatinya terhadap kalangan minoritas Tionghoa dan Arab. Mengapa Tionghoa dan Arab? Dalam struktur masyarakat kolonial, kedua etnis ini menempati posisi warga kelas dua sebagai kelompok vreemde oosterlingen (timur asing).

  • Komikus Medan Menggambar Kartini

    R.A. KARTINI dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan. Jauh sebelum pemerintah menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional, hari lahirnya sudah diperingati sebagai Hari Kartini oleh sejumlah kalangan. Lukisan wajahnya pun menghiasi buku-buku sekolah. Pada akhir 1949, Zainal Abidin Mohamad atau dikenal dengan nama Zam Nuldyn diminta oleh Departemen Penerangan untuk membuat ilustrasi dan lukisan wajah Kartini. Siapa Zam Nuldyn? Marcel Bonneff, peneliti komik asal Prancis, dalam bukunya Komik Indonesia menyebut Zam –bersama Taguan Hardjo– sebagai seorang kreator. Zam menyumbangkan nilai estetis pada komik, yang sebelumnya kurang mendapat perhatian para komikus.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page