top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah “Robin Hood” dari Pantura

    DALAM penelitiannya, sejarawan Anton Lucas mewawancarai banyak saksi peristiwa Tiga Daerah, revolusi sosial di wilayah Karesidenan Pekalongan yang meliputi wilayah Brebes, Tegal dan Pemalang, pada bulan Oktober 1945. Beberapa saksi berkisah tentang peran lenggaong atau para jago yang mencitrakan diri sebagai kaum republiken, pendukung kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Sukarno dan Mohammad Hatta di Jakarta, 17 Agustus 1945. Anton merumuskan peranan para jago tersebut sebagai ciri-ciri dari revolusi sosial pascaproklamasi kemerdekaan. “Pengaruh lenggaong dalam revolusi sosial Tiga Daerah memang sangat jelas. Merekalah yang memimpin aksi dombreng dan menyerang lurah-lurah semasa revolusi sosial di bulan Oktober,” tulis Anton Lucas dalam bukunya Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi. Mengapa lurah menjadi sasaran penyerangan dan apa yang dimaksud dengan “dombreng”? Pada era penjajahan Jepang sebagian besar sumber daya dan bahan pangan dieksploitasi demi kepentingan perang Jepang. Takluknya kolonialisme Belanda di tangan Jepang tidak membuat keadaan lebih baik, justru situasi semakin buruk. Elit-elit lokal tetap berkuasa di bawah pendudukan Jepang, sementara masyarakat harus bertahan hidup dengan jatah beras pembagian Jepang yang sangat minim.

  • Pengaruh Kebudayaan India di Pantura

    NUR ROHMAT, ketua pengurus pembangunan musala, membidik lokasi di tengah lahan persawahan Desa Tohyaning. Di situlah musala akan didirikan bagi para peziarah makam Ki Gede Miyono, tokoh cikal bakal masyarakat Desa Kayen, Kabupaten Pati. Ketika pembangunan musala dimulai, Nur Rohmat dan kawan-kawan menemukan struktur bangunan dan reruntuhan bata berukuran besar. Mereka kumpulkan bata yang masih untuh untuk merenovasi makam Ki Gede Miyono. Meski pondasinya telah rampung, pembangunan musala dihentikan. Lokasinya digeser 5 meter dari penemuan bata kuno. Penemuan bata kuno itu dilaporkan kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Setelah ditinjau oleh BP3, diketahui bahwa di Desa Kayen terdapat struktur bata kuno yang terpendam dalam tanahhampir seluas kolam renang standar Olimpiade. Temuan lain berupa arca Siwa Mahakala, keramik, dan artefak perunggu.

  • Revolusi Indonesia yang Memantik Gerakan Dekolonisasi

    SEBAGAIMANA preambul UUD 1945 bahwa kemerdekaan menjadi hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, sosok Sukarno sebagai sebuah ide dalam perannya di dunia internasional membebaskan negeri-negeri terjajah akan selalu relevan untuk dibicarakan. Bahkan ketika zaman begitu cepat bergulir dengan teknologi 4.0. Dunia bisa menyaksikan dengan mata telanjang secara langsung lewat gawai masing-masing tentang kegetiran yang masih berlangsung di Palestina: pendudukan dan sistem apartheid di Tepi Barat serta genosida di Jalur Gaza terus dilakukan zionis Israel. Ironisnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun gagal menghentikan pelanggaran itu hingga mengusik rasa kemanusiaan. Gencatan senjata di Gaza sejak 10 Oktober 2025 yang diklaim berhasil dicapai Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun dianggap angin lalu oleh Israel yang hingga kini sudah lebih dari 40 kali melanggarnya. Sejarawan Belgia David Grégoire Van Reybrouck turut prihatin atas situasi itu. Ditemui selepas memberikan public lecture bertajuk “Sukarno and the Making of the New World” di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (22/10/2025) malam, ia mengatakan spirit Bandung hail Konferesi Asia-Afrika (KAA) pada 1955 bisa jadi cermin bagaimana banyak negara berkepentingan bisa satu suara untuk menggugat penjajahan.

  • Agung Jambe Dibunuh dan Kerisnya Dirampas

    KOLEKSI museum dengan nomor inventaris RV-3600-193 itu berasal dari Bali. Gagang dan sarungnya sudah cukup untuk menunjukkan benda itu khas Bali. Ya, benda dengan gagang berhias permata itu merupakan keris yang sudah lama menjadi bagian dari koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen (Museum Nasional Kebudayaan Dunia) di Negeri Belanda. Benda ini termasuk pusaka yang akan dikembalikan ke Indonesia. Bagaimana keris asal Bali itu bisa sampai ke Negeri Belanda, kemungkinan terbesarnya adalah ia dibawa setelah dirampas oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) pada April 1908. Ada dugaan keris itu milik Dewa Agung Jambe II, penguasa Klungkung. Pada Maret 1909, keris itu dibawa ke Museum Etnografi Akademi Militer Kerajaan (KMA) di Breda, lalu di tahun 1956 menjadi koleksi Museum Volkenkunde. April 1908 adalah bulan yang panas antara tentara Belanda dengan orang-orang Bali di Klungkung. Pemerintah Hindia Belanda menginginkan Kerajaan Klungkung menjadi daerah pembayar pajak. Pada 18 April 1908, rumah candu dibakar di Gelgel dan mantri candu yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda juga dibunuh.

  • Nyi Sombro dan Keris di Tangan Perempuan

    PADA zaman dahulu di Kerajaan Pajajaran pernah hidup Nyi Sombro. Ia adalah pembuat keris yang sakti. Konon saking saktinya Nyi Sombro mampu menciptakan keris sambil mengambang di atas Samudra. Ia hanya butuh alas kain jarik untuk membuatnya. Katanya juga, saking saktinya, Mpu Sombro tak butuh perapian ketika membuat keris. Tak perlu pemukul juga. Ia cukup memijit bilah keris itu. Itulah kenapa keris hasil karyanya selalu berciri lekukan yang seolah bekas dipijat jari. Begitulah cerita yang berkembang di masyarakat. Tak diketahui sumber asalnya. “Sebagian besar sumber ceritanya dari cerita tradisi, walaupun ada yang kemudian ditulis,” kata Boedi Adhitya kepada Historia.ID. Boedi adalah pemerhati keris dari Paheman Memetri Wesi Aji (Pametri Wiji), organisasi pecinta budaya keris yang didirikan di Yogyakarta.

  • Sebelum Keris Berfungsi Magis

    PUTRI Indumati mendekati Raja Awanti yang sudah menunggu penuh harap. Ia sudah berkhayal sang putri akan memilihnya di antara raja dan pangeran lainnya dalam sayembara itu. Namun, Putri Indumati berpaling. Dirinya tidak tertarik, tak ada tanda gairah sedikit pun. Meranalah raja negeri Awanti karena sudah diabaikan. Air matanya mengalir deras. Karena berduka, ia menulis puisi yang mengharukan pada sarung kerisnya. Kisah itu ditulis Mpu Monaguna pada abad ke-13 dalam karyanya, Kakawin Sumanasantaka. Dalam penggalan kisah itu, Mpu Monaguna menggambarkan bahwa keris tak selalu berfungsi sebagai alat tikam. Raja negeri Awanti, raja yang berani di medan perang, menjadikan keris miliknya sebagai media meluapkan perasaan. Guru Besar Arkeologi UGM, Timbul Haryono menjelaskan masyarakat Jawa, khususnya pada masa lalu, percaya bahwa keris berperan dalam seluruh perjalanan hidupnya, sejak lahir hingga mati.

  • Keris Pangeran Diponegoro yang Dijual

    KERIS Pangeran Diponegoro dikembalikan kepada Indonesia dan menjadi koleksi tetap Museum Nasional. Keris ini ditemukan melalui penelitian panjang (2017-2018 dan 2019). Para peneliti dari Nationaal Museum van Wereldculturen, Leiden, menyimpulkan bahwa keris bernomor register RV-360-8084 adalah keris Pangeran Diponegoro bernama Kiai Nogo Siluman. Nama itu berdasarkan sumber pertama tentang keris itu, yaitu surat Sentot Alibasah Prawirodirdjo tanggal 27 Mei 1830. Panglima perang Diponegoro itu menyebut Kiai Nogo Siluman adalah keris Pangeran Diponegoro yang diberikan kepada Kolonel Jan-Baptist Cleerens, komandan pasukan Belanda. Pada bagian pinggir surat itu, pelukis Raden Saleh memberikan penjelasan mengenai arti Kiai Nogo Siluman, setelah diminta mengidentifikasi keris itu oleh S.R.P. van de Kasteele, Direktur Koninklijk Kabinet van Zaldzaamheden (Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik). Cleerens berperan dalam mengakhiri Perang Jawa dengan cara membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding yang ternyata jebakan. Diponegoro ditangkap Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock dalam perundingan di Karesidenan Kedu, Magelang, pada 28 Maret 1830.

  • Dhapur dan Penamaan Keris yang Berbeda Itu Biasa

    KEMBALINYA keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro ke Indonesia dari Belanda memunculkan perdebatan. Banyak yang mempertanyakan kesahihan keris itu lantaran keris itu ber-dhapur Nagasasra bukan Nogo Siluman. Namun, perdebatan soal itu tampaknya tak perlu diperpanjang lagi. Pasalnya, menurut Boedhi Adhitya, pemerhati keris dari Paheman Memetri Wesi Aji (Pametri Wiji), organisasi pecinta budaya keris yang didirikan di Yogyakarta, persoalan nama keris dan nama dhapur keris seharusnya dipisahkan. Nama dhapur adalah nama bentuk keris. Nama ini diberikan sesuai dengan ciri-ciri bentuk yang ada pada sebilah keris. Utamanya ditentukan dari lurus atau jumlah lekukan pada bilah keris (luk). Pun dari ragam ricikan yang dimiliki.

  • Keraguan terhadap Keris Diponegoro

    BUTUH waktu 36 tahun hingga akhirnya keris yang disimpan di Belanda diidentifikasi sebagai Kiai Nogo Siluman. Benda itu dipulangkan ke Indonesia dan diserahkan ke Museum Nasional, Jakarta, pada Kamis 5 Maret 2020. Namun, menyusul kepulangannya, keraguan apakah keris itu benar Kiai Nogo Siluman pun merebak. “Secara ilmu padhuwungan (ilmu pengetahuan perkerisan Jawa, red.) nggak kena,” kata Toni Junus, konsultan keris yang menulis buku Tafsir Keris, kepada Historia.ID. Secara umum, Nogo Siluman dikenal sebagai salah satu dhapur atau tipologi bentuk keris. Adanya kepala naga dengan mahkota di kepalanya lalu unsur nama “Siluman” yang berkaitan dengan kemampuan untuk menghilang, kata Toni, setidaknya cocok dengan karakteristik keris Nogo Siluman.

  • Keris Sakti dan Pagebluk Corona

    WABAH penyakit Coronavirus Disease (COVID-19) sedang merongrong Indonesia. Sejak 30 Desember sampai 9 Maret 2020, pemerintah resmi menyatakan sudah ada 19 orang positif tertular virus corona. Penyakit yang pertama kali mewabah di Wuhan, Cina itu kini telah menyebar ke berbagai negara, menjadikannya bencana yang menakutkan tanpa diketahui cara pengobatannya. Sementara itu pada momen yang sama tersiar kabar bahwa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Rabu, 4 Maret yang lalu mengumumkan pengembalian sebilah keris Jawa kepada Indonesia. Keris tersebut diserahkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Ingrid van Engelshoven kepada Duta Besar Indonesia I Gusti Agung Wesaka Puja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Sehari kemudian keris tersebut dibawa ke Indonesia dan kini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Toni Junus peneliti keris sekaligus penulis buku Kris: An Interpretation, menanggapi berita Corona yang beriringan dengan kembalinya keris Diponegoro sebagai sebuah pertanda. Menurutnya kedua peristiwa tersebut memiliki hubungan yang bisa dimaknai secara magis.

  • Cerita di Balik Perjalanan Pulang Keris Diponegoro

    DUTA Besar Republik Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja merasa sedikit lega setelah keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro diserahkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Inggrid van Engelshoven, Selasa, 3 Maret yang lalu di kantor KBRI, Den Haag, Belanda. Masih ada satu tugas lain menanti: membawa keris pusaka itu pulang kembali ke Tanah Air sehari setelah serah terima tersebut. Pada Rabu, 4 Maret, pukul 11 pagi waktu Belanda, Dubes Puja didampingi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Din Wahid dan Francine Brinkgreve, kurator Museum Volkenkunde, Leiden, membawa pulang keris pusaka yang tersimpan selama ratusan tahun di negeri Belanda. Setahun setelah Perang Jawa berakhir, keris Kiai Nogo Siluman itu dihadiahkan Kolonel Jan-Baptist Cleerens kepada Raja Willem I. Pada tahun 1831 itu pula keris jadi koleksi di Koninklijk Kabinet van Zaldzaamheden (KKZ) atau Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik di Den Haag. Barangkali semacam simbol penaklukan Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825–1830) yang nyaris membuat Belanda bangkrut. Dubes Puja mengisahkan beberapa pengalaman uniknya saat mempersiapkan perjalanan pulang membawa keris tersebut ke Indonesia. Cuaca Belanda di awal Maret masih tak menentu. Angin kencang dan awan mendung kerap terjadi sepanjang hari.

  • Keris Kiai Nogo Siluman Tak Pernah Hilang

    DALAM kotak kayu itu tersimpan keris bergagang kayu dengan ukiran kepala naga emas di bagian bawahnya. Tubuh naga itu menjalar sampai ke ujung keris di antara sulur-sulur tanaman yang juga berwarna emas. Mungkin dulunya tubuh sang naga juga ditutupi dengan emas, yang sekarang hanya menyisakan bagian kecil dekat ujung ekornya. Sisi kanan dan kiri keris itu tak lagi halus, gempil di beberapa bagian. Warangka-nya yang dari kuningan pun demikian. Penyok di banyak sisi. “Saya membayangkan keris ini dipakai untuk perang, diadu dengan senjata-senjata lain. Ini bukan senjata seremoni atau pusaka biasa. Ini senjata untuk perang,” ujar Sri Margana, ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada, kepada Historia.ID. Margana adalah salah satu peneliti yang diminta untuk mengkonfirmasi identitas koleksi keris di National Museum of World Cultures (NMVW) di Leiden, Belanda. Keris berhias kepala naga tadi salah satunya. Bukan keris biasa, keris yang konon bernama Kiai Nogo Siluman ini milik Pangeran Diponegoro.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page