Hasil pencarian
9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jasa Biju Patnaik untuk Republik
PADA masa Republik Indonesia belum lama lahir, India dengan tokoh nasionalisnya, Jawaharlal Nehru yang kemudian perdana menteri, merupakan salah satu pendukung terpenting. Banyak bantuan India tiba di Indonesia karena simpati, keberanian, dan kerja keras Biju Patnaik. Bijayananda Patnaik, lebih dikenal dengan Biju Patnaik, merupakan pilot sekaligus pengusaha maskapai penerbangan Kalinga Air. Pria kelahiran Orissa (kini Odisha, India), 5 Maret 1916 itu merupakan pejuang nasionalis India sejak muda. Kesamaan pandangannya dengan Nehru membuatnya menjadi salah satu sahabat yang dipercaya Nehru. Keduanya sama-sama bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal itu menjadi pertimbangan Nehru memilihnya untuk memikul tanggung jawab dalam membantu perjuangan Indonesia.
- Charlie Chaplin Berkunjung ke Garut
PRESIDEN Joko Widodo mengadakan kunjungan kerja ke Bandung, Jawa Barat (17/1). Dari Bandung, Jokowi menuju Kabupaten Garut dengan kereta api untuk meninjau panel reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut. Dalam akun twitter -nya, Jokowi mencuit: “Komedian legendaris abad ke-20 Charlie Chaplin pernah dua kali berlibur ke Garut dengan kereta api. Jalur yang dilewati Charlie Chaplin di Garut kini jadi rel mati dan akan kita hidupkan lagi untuk pengembangan kawasan wisata dan perekonomian.” Menurut Haryoto Kunto, yang dijuluki “kuncen Bandung”, dalam Seabad Grand Hotel Preanger, 1897-1997 , Garut merupakan kota kecil yang sering dikunjungi kaum preangerplanters (tuan-tuan perkebunan) , yang dihubungkan oleh jalur kereta api, di mana Stasiun Cibatu merupakan tempat alih kereta rute Bandung-Surabaya.
- Nasib Pahit Kapal Perang Gegara Toilet
TERCANGGIH atau terbaru tak serta-merta menjadikan sebuah kapal perang bisa diandalkan setiap waktu. Kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS) contohnya. Kapal induk sepanjang 337 meter dan lebar dek terbang 78 meter serta bobot 100 ribu ton itu ditarik mundur dari Asia Barat gegara masalah toilet. Gerald R. Ford termasuk kapal induk terbaru dan terbesar AS. Biaya pembuatannya yang dimulai pada 2005 mencapai 13 miliar dolar Amerika (lebih dari Rp.220 triliun). Setelah dibangun di perusahaan Newport New Shipbuilding dan rampung pada 2013, kapal induk itu diberi nama Gerald R. Ford – mengabadaikan nama Presiden AS ke-38– dan ditugaskan di AL AS pada 2017 menggantikan pendahulunya, USS Enterprise (CVN-65), kapal induk AS pertama yang bertenaga nuklir (1961-2017). Ditenagai dua reaktor nuklir Bechtel A1B PWR yang menggerakkan empat baling-balingnya, Gerald R. Ford bisa berlayar dengan kecepatan maksimal 30 knot (56 kilometer per jam) dengan durasi 25 tahun sebelum proses mid-life refuel . Sebagai bandara terapung operasi udara, Gerald R. Ford mampu maksimal 75 pesawat berbagai jenis. Sebagai pertahanan diri, selain dilengkapi radar-radar canggih, Gerald R. Ford juga dipersenjatai empat pasang peluncur misil permukaan ke udara, tiga meriam otomatis berpandu radar Phalanx CIWS kaliber 20 milimeter, serta delapan sistem senapan mesin yang masing-masing empat kaliber 25 mm dan 12,7 mm. Sebelum diikutkan dalam operasi menyerang Iran, Gerald R. Ford tercatat pernah mendukung “Operasi Southern Spear” untuk blokade kapal-kapal tanker minyak dari Venezuela. Mengutip Reuters , Sabtu (28/3/2026), kapal induk itu sudah tiba di kota pelabuhan Split, Kroasia di untuk perbaikan. Sebelumnya ketika mendukung “Operasi Epic Fury” dari Laut Merah untuk menyerang Iran pada 12 Maret, Gerald R. Ford dilaporkan mengalami kebakaran di ruang binatu. Kebakaran itu merembet kabin-kabin kru hingga menghanguskan sekitar 100 tempat tidur. Butuh waktu sampai 30 jam hingga api bisa dipadamkan. “Kebakarannya begitu hebat sampai-sampai helikopter-helikopter harus memindahkan cucian kotor mereka ke kapal-kapal lain agar bisa dicuci,” terang Senator AS, Jack Reed, dikutip NY Post , Sabtu (28/3/2026). Kejadian pahit itu turut membuat sekitar 200 krunya harus dirawat karena menghirup asapnya. Kapal itu juga sebelumnya acap mengalami masalah sistem pipa air limbah di hampir semua 650 toiletnya. Padahal saat pembuatannya, Gerald R. Ford menggunakan sistem pipa eco-friendly untuk toilet-toiletnya sebagaimana yang terdapat di pesawat-pesawat komersil. “Toilet-toilet eco-friendly ini tidak bertekanan dengan cara yang sama (dengan di pesawat) – toilet-toiletnya tidak bisa terbilas,” jelas pakar maritim Steve Wills. Problem Toilet Kasel Jerman Teknologi terbaru semestinya mempermudah, memperkaya, hingga mempercanggih beragam keperluan perang. Namun, kenyataannya acapkali berbeda. Kasus yang dialami Gerald R. Ford juga pernah dialami sebuah kapal selam (kasel) Jerman delapan dekade silam. Petaka itu dialami kasel U-1206 di perairan Inggris ketika Perang Dunia II. Dalam “teater” Perang Dunia II, U-1206 termasuk alutsista baru Kriegsmarine (AL Jerman). Baru dibuat oleh maskapai Schichau-Werke di Danzig pada 1942 dan rampung pada akhir 1943, ia resmi bertugas pada 16 Maret 1944. Kasel sepanjang 50,5 meter dengan bobot 769 ton itu terbilang canggih di zamannya. Ditenagai masing-masing dua mesin diesel 2.800-3.200 PS dan tenaga listrik 750 PS guna menggerakkan sepasang baling-balingnya, U-1206 bisa berlayar dengan kecepatan maksimal 10 knot (19 km/jam) di permukaan dan 4 knot (7,4 km/jam) saat menyelam. Kasel U-995 dari kelas Type VII yang sejenis dengan Kasel U-1206 ( naval-encyclopedia.com ) Sebagai mesin perang, U-1206 bisa membawa maksimal 14 torpedo kaliber 53,5 milimeter yang bisa diluncurkan melalui lima tabung torpedonya. Dilengkapi pula masing-masing sepucuk meriam SK C/35 kaliber 8,8 cm dan meriam Flak M42 kaliber 3,7 cm, serta sepasang meriam ganda anti-pesawat kaliber 2 cm di dek atasnya. U-1206 juga dilengkapi snorkel bawah air untuk bisa menyelam sampai dengan kedalaman maksimal 250-295 meter. Toiletnya bersistem hi-tech bertekanan tinggi untuk menghemat ruang dan bobot kaselnya. “Kasel-kasel u-boat dengan Type VIIC/41 seperti U1206 dilengkapi sistem toilet bertekanan tinggi. Akan tetapi prosedur dan penggunannya cukup rumit karena jika salah bisa membuat air laut –ditambah limbah toilet– masuk dan mengalir kembali ke interior U-boat ,” tulis Lawrence Paterson dalam Dönitz’s Last Gamble: The Inshore U-Boat Campaign 1944-45. U-1206 menjalani patroli pertamanya pada 6 April 1954 dengan dinakhodai Kapitänleutnant Karl-Adolf Schlitt yang memimpin sekitar 50 kru. Kasel itu berpatroli dari Kristiansand, Norwegia ke perairan utara Kepulauan Inggris Raya, sebagai bagian dari unit Flotilla Kasel ke-11. Nahas, itu jadi patroli terakhir mereka. Pada 14 April 1945, saat sedang berada di kedalaman 200 meter lepas pantai Peterhead, Skotlandia, toiletnya mengalami malfungsi. Beberapa sumber menyebutkan petaka itu dipicu Kapten Schlitt sendiri ketika menggunakan toiletnya yang kemudian mengalami mampet. “Walaupun kemudian melalui pengakuan pribadi Schlitt, petaka itu terjadi ketika toiletnya sedang diperbaiki,” ungkap Roger Moorhouse dalam Wolfpack: Inside Hitler’s U-Boat War. Siapapun biang keroknya, lanjut Moorhouse, prosedur pembilasan toiletnya yang memerlukan pembukaan dan penutupan berbagai katup secara berurutan, tidak dilakukan dengan benar. Alhasil, air laut berikut limbah toiletnya pun masuk ke dalam kaselnya. Para kru berusaha mengendalikan arus airnya namun gagal. Air laut pun merembes ke kompartemen listrik hingga baterainya tenggelam dan melepaskan gas klorinnya ke berbagai kompartemen. “Dengan U-1206 mulai makin tenggelam dan kru berisiko keracunan, Schlitt memerintahkan mengosongkan tangki pemberat. Begitu kaselnya sudah dipermukaan, mereka segera membuka pintu-pintu kedap air demi masuknya udara melalui ventilasi,” imbuhnya. Ketika di permukaan tanpa bisa menyelam lagi, posisi U-1206 tepergok dua patroli pesawat Sekutu yang segera menjatuhkan bom-bomnya. Setelah memerintahkan menghancurkan dokumen-dokumen rahasianya, Schlitt menginstruksikan kaselnya ditenggelamkan dan para krunya menyelamatkan diri. Sekitar empat krunya tewas saat meloncat ke air laut dan tenggelam. Sementara 46 lainnya, termasuk Schlitt, menyelamatkan diri ke pantai terdekat hingga kemudian “diamankan” pasukan Inggris.
- Invasi Kelinci
PEMANDANGAN yang menyambut mata para peternak domba di sejumlah wilayah di Selandia Baru, sungguh mengerikan. Padang rumput berubah menjadi hamparan tanah tandus. Rumput, tanaman herba, hingga kulit kayu pohon-pohon muda lenyap oleh kawanan kelinci bak “mesin penyedot”. Nyaris tak ada yang tersisa bagi domba-domba penghasil wol. Produksi peternakan terkena dampaknya. Di Pulau Utara, suratkabar Poverty Bay Herald edisi 18 Desember 1922 melaporkan, jumlah domba berkurang drastis hampir 100.000 ekor di beberapa peternakan besar antara Taihape dan Hawke's Bay. Salah satu peternakan yang sebelumnya mampu memelihara 30.000 domba saat itu hanya menampung 8.000 ekor.
- Aksi Para Sailor untuk Emperor
MINGGU, 15 Mei 1932 di Kuil Yasukuni, Tokyo. Setelah turun dari dua taksi yang membawa ke depan pintu masuk samping kuil, sembilan perwira muda Angkatan Laut (AL) Kekaisaran Jepang langsung membungkuk ke arah Dewa Matahari. Usai melakukan ritual, mereka membeli sebuah jimat kepada seorang pendeta Shinto dan kembali ke dua taksi tadi. Mereka menuju kediaman resmi Perdana Menteri (PM) Tsuyoshi Inukai, politisi senior berpandangan moderat dari partai Rikken Seiyukai. Tak lama kemudian, mereka tiba di tujuan. “Di sini mereka memaksa melewati seorang sersan polisi dan masuk ke kamar Perdana Menteri Tsuyoshi Inukai, lelaki kecil berjenggot berumur 75 tahun,” tulis John Toland dalam The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire, 1936-1945 . Sejurus kemudian, peristiwa penting dalam sejarah Jepang yang ikut membentuk sejarah dunia pun diciptakan para perwira AL itu.
- Daun Kuping dan Isi Kepala van Gogh
ARLES, bagian selatan Prancis, pada malam sebelum Natal yang dingin tahun 1888. Paul Gauguin, pelukis pascaimpresionis Prancis, berjalan-jalan sendiri untuk menghirup udara segar yang bercampur aroma pohon salam yang berbunga. Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki yang familiar. Ketika berbalik, ia melihat Vincent van Gogh berlari ke arahnya sambil memegang pisau cukur yang terbuka. Ia bingung soal apakah ia mesti menenangkan van Gogh dan melucuti senjatanya atau tidak. Namun, van Gogh, pelukis pascaimpresionis Belanda, kemudian berbalik ke Rumah Kuning, tempat kumpul seniman yang didirikannya setelah meninggalkan tanah kelahirannya dan pindah ke Arles pada 19 Februari 1888.
- Nobar Film Terlarang di Rangkasbitung
TUA-muda, pria-wanita, bule-kulit berwarna, semua “tumplek-blek” jadi satu mengarahkan pandangan mereka ke sebuah layar putih bujur sangkar di depan. Tak ada kesan formal sama sekali. Banyak yang di bagian depan, termasuk seorang bule, duduk berselonjor kaki di atas hamparan karpet hijau. Itulah suasana “Nonton Bareng Film Max Havelaar: Saidjah dan Adinda (1976) karya Sutradara Fons Rademakers” di Pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Rabu (24/4/24) malam. Pemutaran film berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.30 WIB. Acaranya dihelat Museum Multatuli Lebak bekerjasama dengan Historia . id dan Arjanodw Foundation. Dalam pemutaran film ini, hadir Fonds Rademaker Jr., yang dulu ikut serta dalam pembuatan film tersebut.
- Film Nasional Rasa “Asing”
SEPASANG kakinya melangkah, menyusuri kegelapan, di tengah gerimis hujan. Iskandar bergeming saat langkah bertemu genangan air, tak menghindar. Namun, selembar kertas pengumuman di dinding berhasil menarik perhatiannya. Langkahnya terhenti. Sehelai kertas itu berisi pengumuman jam malam yang diberlakukan tentara pada 1950-an di Bandung. Usia membaca, dia lanjut melangkah. Tak lama, bunyi serupa suara lonceng terdengar. Enam anggota Corp Polisi Militer (CPM) yang tengah berpatroli menghentikannya. Dia berlari ketakutan. Ternyata sudah lewat jam malam. Dia lolos dari kejaran. Saat memasuki sebuah rumah, tunangannya sudah menunggunya. “Is...,” sapa Norma, mesra.
- ACI, Film Seri Idaman Tahun 1980-an
SUATU siang, di sebuah sekolah menengah pertama, terjadi kegaduhan. Uang milik salah satu siswi yang disimpan di dalam tas tiba-tiba raib. Berita itu sampai ke telinga wali kelas. Dilakukanlah penggeledahan terhadap setiap tas siswa di kelas itu. Uang itu ditemukan di tas seorang siswi bernama Wati. Seluruh kelas mencapnya sebagai pencuri. Tak merasa mengambil uang itu, Wati sakit hati. Ia merasa difitnah. Pihak sekolah bersiap memberikan sanksi tegas: mengeluarkan Wati dari sekolah. Kabar itu menyebar. Pada akhirnya terkuak cerita sesungguhnya. Seorang siswa menemukan gulungan uang di bawah meja Wati saat jam istirahat dan ruangan kelas kosong. Mengira uang milik Wati, ia langsung memasukkannya ke tas Wati. Setelah tahu cerita sebenarnya, Amir segera meminta sebagian temannya menghubungi kepala sekolah dan yang lain meminta maaf kepada Wati.
- Tokio Jokio, Film Animasi Propaganda AS Masa Perang Dunia II
DI MASA Perang Dunia II, film tak hanya diproduksi untuk tujuan hiburan, tetapi juga menjadi media propaganda. Negara-negara seperti Jerman, Amerika Serikat, hingga Jepang berlomba-lomba menayangkan film live action maupun animasi yang sarat akan pesan-pesan propaganda. Tak jarang film tersebut menampilkan karakter serta adegan yang memiliki maksud untuk mempermalukan musuh, selain yang utama yakni untuk meningkatkan semangat patriotisme di kalangan penduduk negaranya. Industri film memang tak begitu saja menghilang ketika perang berkecamuk pada 1940-an. Besarnya peran film sebagai media propaganda dimanfaatkan pemerintah untuk menarik minat masyarakat agar mau ikut ambil bagian dalam mempertahankan negara, serta melawan musuh yang dianggap mengancam kedamaian dunia. Di Amerika Serikat, sepanjang tahun 1941 hingga 1945, para animator Hollywood memproduksi banyak kartun yang tak hanya untuk menghibur tetapi juga menjadi corong propaganda di masa perang.
- Mengelola Film Lama
FIRDAUS, staf pemeliharaan film Sinematek Indonesia, masuk ke ruang penyimpanan film di basement gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), yang berlokasi di Jalan Rasuna Said Kav C-22, Jakarta Selatan. Begitu melewati pintu masuk, aroma pengap yang kuat tercium. Bau itu, yang berasal dari film seluloid, bisa membuat pusing. Namun, tanpa mengenakan masker, Firdaus tetap melenggang masuk. Di dalam ruangan, rak-rak dengan tinggi sekitar 3 meter menyimpan wadah-wadah kaleng berisi film seluloid. Ada sekira 719 judul film seluloid, baik negatif maupun rilis. Jumlah itu belum termasuk film dari Bangun Citra Nusantara (yayasan milik kroni Soeharto) dan sumbangan dari pemerintah Jerman, Prancis, dan Kanada.
- The Long Road of the “Film Butcher”
THREE members of the Film Censorship Board (BSF) watched a new movie called Perawan Desa (The Village Virgin) in 1978. The film was directed by Frank Rorimpandey, written by Putu Wijaya, and produced by Safari Sinar Sakti. Like other films, Perawan Desa had to pass censorship before being screened in theaters. As a sign of passing the censorship, a Certificate of Passing Censorship must be included with the roll of film sent to the theater. Perawan Desa is based on the true story of 17-year-old Sumarijem in Yogyakarta in 1970. She was gang-raped by the sons of officials. In the end, the perpetrators were acquitted of the charges. This case is known by the people of Yogyakarta as the Sum Kuning case. In the movie, Sumarijem's character was changed to Sumira, played by Yati Surachman.






















