Hasil pencarian
Cari di situs ini
10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- VOC Sebagai Perusahaan Saham Gabungan
SAAT ini saham menjadi instrumen investasi yang banyak dipilih karena memberikan keuntungan yang menarik. Ternyata, sejarah saham terkait dengan pendirian Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Sejak akhir abad ke-16, perusahaan dagang bermunculan di Belanda dan melakukan pelayaran ke Asia. Persaingan yang ketat mengakibatkan harga-harga jatuh dan keuntungan rendah. Pemerintah Belanda menganggap jika masing-masing perusahaan berhenti bersaing maka perdagangan Belanda dengan Timur Jauh akan lebih menguntungkan. Perusahaan yang kuat dan bersatu juga dapat dikerahkan dalam perang melawan Spanyol dan Portugis. Berdasarkan hal itu, upaya melebur perusahaan-perusahaan dagang yang dikenal dengan sebutan voorcompagnieen dilakukan, dan akhirnya VOC berdiri pada 20 Maret 1602.
- Orang Semarang Melawan Jepang
BERITA Proklamasi kemerdekaan Indonesia menyulut euforia para pemuda di Semarang, Jawa Tengah. Mereka segera menguasai instalasi-instalasi sipil. Mr. Wongsonegoro, residen Semarang yang kemudian ditunjuk sebagai gubernur Jawa Tengah, berupaya menjembatani tuntutan pemuda dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk melucuti senjata tentara Jepang. Negosiasi berjalan lancar setelah Mayjen Nakamura Junji, panglima Tentara ke-16 Angkatan Darat Jepang di Jawa Tengah yang bermarkas di Magelang, mendapat restu dari Markas Besar Tentara ke-16 di Jakarta. Nakamura mengeluarkan perintah untuk menyerahkan senjata beserta amunisi. Hambatan datang dari Kido Butai, pasukan elite Jepang yang dipimpin Mayor Kido Shinishiro. Mereka menolak menyerahkan senjata dan tetap berjaga di markas di Jatingaleh. Bahkan, Kido menghubungi kesatuan-kesatuan lain, seperti di Sumowono dan Ambarawa, agar bergabung guna memperkuat pertahanan Semarang.
- Arswendo Atmowiloto Hidup untuk Menulis
RAMBUT gondrongnya masih basah. Disisir ke belakang. “Baru mandi, nih,” kata Arswendo Atmowiloto kepada saya dan seorang kawan di halaman rumahnya, Petukangan Selatan, Jakarta. Dia lalu mempersilakan saya dan seorang teman masuk ruang kerjanya. Kami menemuinya pada suatu hari tahun 2015 untuk keperluan penulisan artikel Historia.ID. Ruang kerja Wendo ramai beragam barang. Dindingnya penuh foto diri, karikatur wajah, dan bingkai penghargaan. Kasur lipat berada di belakang kursi kerjanya. Sudut lainnya berisi komputer lawas dengan floppy disk. Ada juga sebuah mesin tik klasik. Di ruang ini Wendo menulis selama puluhan tahun. Kalau lelah, dia gelar kasur lantas tertidur pulas. Wendo hidup dari menulis. Dia mengaku tak punya pekerjaan selain menulis. Kegiatan lainnya kelanjutan dari menulis. Dari menjadi produser, direktur, suami, bapak, sampai narapidana. “Pengalaman itu semua hanya berawal dari satu profesi. Sebagai penulis, pengarang,” ujar Wendo.
- Pangeran Siam di Lintasan F1
PEMBALAP asal Thailand Alexander Philippe Albon Ansusinha amat berharap bisa memacu jet darat Formula One (F1) pada grand prix di tanah airnya. Maka ketika negeri yang dahulu bernama Siam itu mengajukan masuk kalender F1, Albon jadi pendukung utamanya. Albon, begitu sapaannya, merupakan blasteran Inggris-Thailand kelahiran London, 23 Maret 1996 dari pasutri Nigel Albon dan Kankamol Ansusinha. Sudah sejak 2019 Albon menembus pentas F1 dan di musim ini, Albon masih berkibar bersama tim Atlassian Williams. “Dengan senang hati saya bisa katakan bahwa saya sudah punya dua race kandang, tiada lain Singapura dan Malaysia. Tentu pada akhirnya, cita-cita saya punya tiga, yang sudah pasti adalah Thailand,” kata Albon, dikutip Times of India, 4 Oktober 2026. Untuk sementara –sebagai satu-satunya pembalap asal Asia Tenggara di F1– Albon hanya bisa menganggap Grand Prix Sepang, Malaysia dan Grand Prix Marina Bay, Singapura sebagai dua race kandangnya. Apalagi ia sangat bisa merasakan dukungan besar dari dua negara itu berkat atmosfer “SEAblings” atau persaudaraan sesama orang Asia Tenggara. “Secara umum para fans Asia Tenggara begitu mencintai saya dan saya beruntung untuk itu. Saya melihat kelompok masyarakat Asia Tenggara sudah seperti satu keluarga besar dalam banyak hal. Malaysia utamanya, di mana saya merasa Malaysia dan Thailand punya hubungan yang sangat kuat,” tambahnya. Thailand – dengan didukung pemerintah maupun kerajaan– sudah mulai mengajukan diri sejak medio 2025. Mereka berharap besar bisa masuk ke kalender musim F1 mulai 2028 hingga 2032. Dukungan pemerintah dibuktikan dengan kucuran anggaran sebesar 1,23 miliar dolar Amerika Serikat (AS) untuk menyokong pengajuannya sebagai tuan rumah asal Asia Tenggara ketiga di kalender F1. Adapun lintasan yang diajukan berupa balapan jalanan di Bangkok, sebagaimana Grand Prix Marina Bay di Singapura. “Dalam dua atau tiga tahun lagi, Thailand akan punya perlombaan berkelas dunia, yang sebelumnya tak pernah kami mimpikan bisa terjadi di Thailand,” ujar Jirayu Houngsub, juru bicara pemerintah Thailand, dilansir ESPN, 17 Juni 2025. Balapan jalanan F1 itu treknya punya jarak sekitar 5,7 kilometer. Merentang dari Stasiun Terminal Pusat Krung Thep Aphiwat sampai Taman Chatuchak. Tak disebutkan mengapa balapan jalanan yang diajukan meskipun Thailand punya lima sirkuit permanen: Nakhon Pathom, Kaeng Krachan, Chiangrai Raceway Maelao, Buriram –yang sudah masuk ke kalender balapan motor World Superbike dan MotoGP, serta Sirkuit Bira. Sirkuit terakhir mengabadikan nama seorang anggota kerajaan yang jadi pembalap F1 sejak kontes balapan bergengsi dunia itu start pada 1950, Pangeran Birabongse Bhanudej. Pangeran Bira tercatat jadi pembalap Asia Tenggara pertama yang mentas di F1 (1950-1954). Kiprahnya kemudian diikuti Alex Yoong asal Malaysia (musim 2001 dan 2002), dan Alex Albon (2019-sekarang). Alexander Philippe Albon Ansusinha bersama para fans Singapura pada F1GP Marina Bay 2026 (alexalbon.com) Lintasan Kehidupan Sang Pangeran Jika pernah menonton film garapan Hollywood, Anna and the King (1999), terdapat karakter sang raja Siam yang diperankan aktor China, Chow Yun-fat. Karakternya bernama Raja Mongkut, yang menggambarkan sosok penguasa Siam periode 1851-1868. Nah, Pangeran Bira adalah cucu dari Raja Mongkut dari garis ayahnya, Pangeran Bhanurangsi Savangwongse. Ia anak bungsu Raja Mongkut dari permaisuri keduanya, Debsirindra. Sebagai anggota keluarga Kerajaan Siam, Pangeran Bira lahir di Istana Phra Borom Maha Ratcha Wang di Krung Thep (kini Bangkok) pada 15 Juli 1914. Bira adalah putra keempat Pangeran Bhanurangsi Savangwongse dengan istri kelimanya, Lek Yongchaiyudh. Sebagaimana para sepupunya, Pangeran Bira dikirim sekolah ke Eton College di Inggris sejak usia 13 tahun dan “menumpang” dengan kerabat kerajaan yang jadi walinya selama di Inggris, Pangeran Chula Chakrabongse. Dari Pangeran Chula pula Bira mulai mengenal balapan mobil pada 1935. “Karier balapannya dimulai pada pertengahan 1930-an. Di musim semi 1935, ia mengikuti sebuah balapan bergengsi di Sirkuit Brooklands, mengendarai (mobil) modifikasi Riley Imp. Sejak awal bakatnya sudah luar biasa. Ketika ia membeli mobil balap ERA 1500cc pada hari ulang tahunnya yang ke-21, ia kemudian jadi rising star di beberapa ajang balapan,” tulis Miroslav Nožina dalam Siam Undiscovered: Czech-Thai Encounters Between the 16th and 21th Centuries. Pangeran Bira dengan mobil Maserati 4CLT-48 di Grand Prix Zandvoort 1948 (nationaalacief.nl) Namun Bira harus menepi sementara ketika Perang Dunia (1939-1945) pecah. Karena juga punya ketertarikan besar pada dunia penerbangan, Bira ikut belajar terbang bersama Angkatan Udara Inggris, RAF. Setelah lulus, Bira jadi instruktur pilot glider di Pangkalan Udara St Merryn yang merupakan pangkalan untuk patroli udara Angkatan Laut Inggris. “Selebihnya mereka menghabiskan waktu di Tredethy di rumah besar milik Chula, di mana Bira bersama Chula, dua sepupu lain dan para istri muda mereka, membincangkan dan memimpikan masa damai dan dunia balap. Meskipun setelah perang Bira berpisah dan tidak akur dengan Chula namun Chulalah yang pernah menulis buku tentang kehebatan Bira sebelum perang yang membuat nama Bira jadi tenar,” ungkap Anthony Meredith dan Gordon Blackwell dalam Silverstone’s First Grand Prix: 1948 the Race on the Runways. Usai perang, Bira kembali meneruskan gairahnya terhadap ajang balapan mobil. Ia tercatat jadi kampiun di ajang Ulster Trophy 1946, Grand Prix des Frontières ke-17 pada 1947, serta Stockholm Grand Prix dan Zandvoort Grand Prix ke-1 pada 1948. Sementara mulai 1949, Pangeran Bira memilih bergabung ke dalam sebuah tim balap asal Swiss, Scuderia Enrico Platé dan meraih sejumlah raihan podium dengan mobil Maserati 4CLT. Ia balapan dengan menyandang nama “B Bira” tanpa embel-embel gelar kerajaannya. “Saat balapan mobil sudah mulai profesional, Bira sudah jadi pembalap kontrak. Chula tak menyukainya karena ia sudah berusaha keras melakukan pengadaan mobil Alfa Romeo Grand Prix untuk mempertahankan tim White Mouse miliknya. Maka sejak 1949 mereka sudah tak bersama lagi,” imbuh Meredith dan Blackwell. Pangeran Bira memacu mobil Maserati 250F di lintasan F1 pada GP Prancis 1954 (maserati-alfieri.co.uk) Maka ketika tim Scuderia Enrico Platé masuk ke ajang F1 dengan pembukaan perdananya di Sirkuit Silverstone pada 13 Mei 1950, Bira dan rekan setimnya, Toulo de Graffenried, diikutsertakan Scuderia Enrico Platé mengendarai mobil Maserati 4CLT/48. Namun meski di sesi kualifikasi Bira mampu finis urutan kelima, pada sesi balapnya Bira hanya mampu finis urutan ke-21. Di musim perdana F1 1950, Bira hanya tercatat punya finis terbaik di posisi keempat pada Grand Prix Swiss, 4 Juni 1950. Hasil yang sama pernah ia capai lagi pada musim 1954 di Grand Prix Prancis, 4 Juli 1954. Bira menutup buku kariernya di dunia balap mobil pada 1955. Namun ia tetap berkecimpung di dunia olahraga. Ia bahkan ikut dalam kontingen Thailand sebagai atlet cabang layar di Olimpiade Melbourne 1956, Olimpiade Tokyo 1964, dan Olimpiade Munich 1972. Pangeran Bira wafat di London karena serangan jantung pada 23 Desember 1985 di usia 71 tahun. Jenazahnya dikremasi di Wihara Wat Buddhapadipa di Wimbledon setelah dilakukan prosesi keagamaan Buddha. Sebagai bentuk penghormatan, ketika sebuah sirkuit selesai dibangun pada 1986 di Pattaya kemudian dinamai untuk mengabadikan namanya, Sirkuit Bira.
- Bung Hatta dan Orang Kaya-kaya
DALAM sejarah Indonesia, bila ada tokoh yang berniat lama menetap di tempat pembuangan, maka orang itu ialah Bung Hatta. Hal itu bisa diketahui dari barang-barang yang dibawa ketika pemerintah kolonial mengasingkannya ke Boven Digul. Di samping sekoper pakaian, Hatta memboyong serta buku-bukunya sebanyak 16 peti. Perlu waktu tiga hari untuk mengemasnya dari kediaman Hatta di Jalan Sawah Besar, Batavia. Pada 28 Januari 1935, Hatta tiba di Tanah Merah, Boven Digoel, Merauke. Kekhawatiran melanda Hatta waktu akan memulai perjalanan ke tempat pembuangan: bagaimana caranya mengangkut kumpulan buku-buku. Dari kantor pemerintahan setempat ke kampung pembuangan jaraknya sekira 1,5 km berjalan kaki. Tidak terbayangkan betapa melelahkannya jika itu dilakukan secara bolak-balik. “Seorang anggota Panitia Penerimaan mengusulkan kepadaku, supaya barang-barangku itu diminta tolongkan mengusungnya oleh orang Kaya-kaya (penduduk asli) yang ada disitu yang sudah agak ‘jinak’, yang sebagian sudah bekerja pada orang buangan,” tutur Hatta dalam Memoir.
- Dipenjara Karena Menyembelih Ayam
PEMERINTAH mengambil tindakan tegas setelah peristiwa penculikan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Pasca hilangnya Sjahrir pada 27 Juni 1946, Presiden Sukarno berpidato menuntut Sjahrir dilepaskan. Meski Sjahrir dibebaskan, pihak yang bertanggung jawab atas penculikannya tetap diburu pemerintah. Pada dini hari, 1 Juli 1946, aparat dikerahkan. Mereka yang dicurigai sebagai dalang penculikan Sjahrir diciduk dari tempatnya masing-masing. Beberapa di antaranya tokoh politik oposisi. “Telah dilakukan penangkapan atas diri pejuang-pejuang revolusioner di Yogyakarta, yaitu Mr. Boediarto, Dr. Buntaran, Sayuti Melik, Sumantoro, Wiranatakusumah, Marlan, Maruto Nitimihardjo, Mohammad Saleh, dan lain-lainnya lagi. Setelah sehari ditahan di kantor polisi pusat Yogyakarta, keesokan harinya dimasukkan ke dalam penjara di Wirogunan, kecuali Wiranatakusumah,” ujar Iwa Kusuma Sumantri dalam otobiografinya, Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah.
- Ketika Bung Hatta Murka
JAKARTA, 16 Agustus 1945. Mohammad Hatta baru saja berpisah dengan Sukarno, Sukarni dan Achmad Soebardjo selepas perjalanan panjang dari Rengasdengklok, Karawang. Rasa penat menjangkiti seluruh tubuhnya. Usai membersihkan diri dan akan memasuki kamar tidur, suara telepon berdering membatalkan niatnya untuk beristirahat sejenak. “Malam itu juga jam 10, kami dipanggil menghadap Soomubucho (Kepala Departemen Urusan Umum Pemerintah Militer Jepang di Indonesia) Mayor Jenderal (Otoshi) Nishimura,” kenang Hatta dalam Memoirs. Setelah berkoordinasi dengan Sukarno, mereka berdua kemudian pergi ke rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, kepala penghubung Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang) dengan Rikugun (Angkatan Darat Kekaisaran Jepang). Bersama Maeda, mereka berdua kemudian pergi ke tempat Nishimura.
- Di Balik Studi Hatta ke Belanda
PADA 1921, Mohammad Hatta dinyatakan lulus dari Prins Hendrik Handels School di Batavia. Segera setelah itu, Hatta memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Dia merasa perlu mempersiapkan diri agar bisa membawa perubahan bagi bangsanya. Pilihan pun dijatuhkan ke Handels Hogeschool di Rotterdam, Belanda, mengambil jurusan ekonomi. Kepergian Hatta itu menimbulkan pertanyaan besar: mengapa harus ke tempat orang-orang yang menjajah negerinya? Terlebih hubungan Belanda dan Minangkabau (tempat kelahiran Hatta) bisa dikatakan tidak pernah baik. Apalagi ketika masih kecil Hatta melihat dan merasakan perlakuan yang tidak adil dari pemerintah Belanda terhadap pamannya, dan terhadap banyak orang di sekitarnya. Deliar Noer dalam Mohammad Hatta: Biografi Politik menyebut kekhawatiran terbesar dari keputusan Hatta itu adalah kekhawatiran keluarganya andai arus sekularisasi, westernisasi, dan pengasingan terhadap budaya sendiri mempengaruhi pola pikir Hatta ketika kembali dari pengembaraannya di Belanda.
- Bung Hatta dan Rakyat Tapanuli Selatan
PADANG Sidempuan, kota kecil di Tapanuli Selatan itu mendadak ramai. Orang-orang dari balik gunung-gunung datang berpuluh ribu banyaknya. Mereka berbaris di sepanjang jalan, semata-mata untuk melihat wajah seorang pembesar negeri. Mereka tak lain ingin menyaksikan dan mendengarkan Mohammad Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu. Bung Hatta, seturut dengan reportase wartawan Antara, Muhammad Radjab, tiba di Padang Sidempuan pada 19 Juli 1947. Kedatangan Hatta disambut dengan gembira dan meriah sekali. Dari pagi sampai jam 5 petang, rakyat menunggu di tepi jalan. Yang tua renta juga tidak ketinggalan. “Seorang kakek berkata,” tutur Radjab dalam memoarnya Tjatatan dari Sumatra, “Sekarang aku relalah mati, karena sudah melihat Raja Islam.”
- Ketika Bung Hatta Kehabisan Uang
SUATU pagi di pertengahan Agustus 1925. Serangkaian kereta berhenti di jalur antara Oslo dan Bergen, Norwegia. Masinis memberi kesempatan selama setengah jam kepada para penumpang untuk menikmati pemandangan alam yang sangat menakjubkan di area tersebut, terutama melihat keindahan lembah Fjord. Mohammad Hatta menjadi salah seorang penumpang itu. Dia sedang dalam perjalanan menuju Bergen, kota pelabuhan di pantai barat Norwegia. Bersama seorang kawan dari Perhimpunan Indonesia (PI), Samsi Sastrawidagda, Hatta ditugasi untuk mempelajari sistem kooperasi di Norwegia, Swedia, dan Denmark. Sebagai ekonom andalan organisasi mahasiswa Indonesia di negeri Belanda itu, keduanya harus mempelajari cara orang-orang Skandinavia mengelola keuangannya. Tujuan misi belajar tersebut juga antara lain meningkatkan keuangan di tubuh PI secara efektif, serta menerapkan pengetahuannya kelak di tanah air setelah terbebas dari penjajahan. Setelah melalui perjalanan cukup panjang, kira-kira pukul 4 sore, Hatta tiba di Bergen. Dia segera mencari tempat untuk bermalam. Selesai menaruh barang, keduanya bergegas menuju kantor pos untuk mengambil surat kiriman Nazir Pamontjak dari Belanda. Ketika di Denmark, Samsi sempat mengirim surat kepada Nazir untuk memberitahukan kesulitan yang sedang dihadapi mereka: kehabisan ongkos.
- Uang Saku Bung Hatta untuk Rakyat Papua
KETIKA Papua baru bergabung dengan Indonesia, berbagai upaya dilakukan untuk memperkenalkan provinsi baru ini. Salah satunya adalah dengan mendatangkan proklamator kemerdekaan ke bumi cendrawasih. Dari dua tokoh proklamator, baru Bung Karno yang telah mengunjungi Papua pada 1963. Waktu itu, Papua masih bernama Irian Barat. Bung Hatta yang telah lama menjadi orang sipil belum pernah lagi mengunjungi Papua. Padahal, pada masa kolonial, Bung Hatta pernah diasingkan pemerintah Belanda ke pelosok Papua, tepatnya di Boven Digul, Merauke. Kesempatan itu baru tiba pada 1970, ketika Soemarmo, pejabat Departemen Penerangan mendatangi kediaman Bung Hatta. Soemarmo menawarkan kepada Hatta perjalanan untuk meninjau Papua yang sudah resmi menjadi keluarga besar Republik Indonesia. Hatta sempat menolak tawaran Soemarmo. Pertimbangannya, ongkos perjalanan ke Papua sangat besar dan kesehatannya sudah jauh menurun. Lagi pula, kata Hatta, dirinya bukan lagi pejabat negara. Soemarmo tidak kurang akal dengan meyakinkan Bung Hatta bahwa segala sesuatu yang dibutukan akan dipersiapkan. Semua biaya ditanggung pemerintah.
- Ketika Bung Hatta Mempelajari Nippon Sheishin
SUATU pagi di bulan September 1943. Mohammad Hatta bergegas menyambut kedatangan seorang Jepang di rumahnya. Dia adalah seorang juru bicara Kempetai (polisi rahasia militer Jepang) bernama Myoshi. Hari itu rencananya Hatta akan diantar memenuhi undangan minum kopi dari wakil ketua Kempetai bernama Murase di kediamannya. Pada waktu itu Hatta sebenarnya sedang menjalankan ibadah puasa. Tetapi karena undangan minum kopi tersebut cukup penting, Hatta memilih tetap datang. Terlebih di antara pemimpin-pemimpin Indonesia hanya tinggal Hatta yang belum bertemu dan berkenalan secara langsung dengan Murase. Sekira pukul 10, Hatta tiba di kediaman Murase. Setelah dipersilahkan masuk, Hatta dibawa ke sebuah ruangan di belakang rumah, tempat sang tuan rumah berada. Di sana sudah tersedia kopi dan berbagai makanan pendampingnya. Murase ada di balik meja penuh makanan tersebut. Begitu melihat Hatta masuk, dia lantas berdiri dan memberi salam.




















