top of page

Hasil pencarian

Search this site

9978 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kunjungan Pertama Penguasa Belanda ke Indonesia

    RAJA Belanda Willem-Alexander tiba di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/3). Bersama sang istri, Ratu Maxima, rombongan Kerajaan Belanda tiba sekira pukul 10.30 WIB. Raja dan Ratu Belanda disambut langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana. Pada kesempatan tersebut, Ratu Maxima menerima karangan bunga dari cucu presiden, Sedah Mirah. Mengutip pemberitaan yang dilansir oleh laman milik pemerintah Indonesia setkab.go.id, setelah diperdengarkan lagu kebangsaan kedua negara, presiden dan raja saling mengenalkan para menteri dan delegasi yang mendampingi kunjungan kenegaraan kali ini. Acara lalu dilanjut sesi foto bersama. Kemudian seluruh rombongan menuju beranda Istana Bogor untuk berbincang dan menyampaikan keterangan pers bersama. “Merupakan tanda yang sangat menjanjikan bahwa dua negara yang pernah berada di pihak yang berlawanan dapat menjalin hubungan yang semakin erat dan mengembangkan sebuah hubungan baru berdasarkan rasa hormat, saling percaya, dan persahabatan. Ikatan di antara kita semakin erat dan beragam. Ini sungguh menggembirakan saya,” ungkap Raja Willem.

  • Ketika Indonesia jadi Pelampiasan Maradona

    FIFA matchday antara timnas Indonesia versus Argentina jadi partai yang paling ditunggu publik di tanah air. Kendati bukan dalam rangka kompetisi resmi, laga yang akan bergulir di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Senin (19/6/2023) malam itu jadi pertemuan perdana tim senior kedua negara. Di level U-20, tim Garuda Muda sudah pernah merasakan bagaimana tak berdayanya mereka saat bersua Argentina di Kejuaraan Dunia Yunior (kini Piala Dunia U-20) 1979 di Jepang. Kosasih Kartadiredja salah satu saksi matanya. Ia memang bukan bagian dari skuad yunior Indonesia yang diarsiteki Soetjipto Soentoro 44 tahun silam itu, tapi hadir di Kejuaraan Dunia Yunior 1979 itu sebagai pengadil lapangan, kendati peraturan saat itu tentu menghindarkannya bertugas di laga-laga yang satu grup dengan Indonesia. Indonesia sendiri tergabung di Grup B bersama tiga raksasa sepakbola: Argentina, Polandia, dan Yugoslavia. Sementara, Kosasih kebagian jatah bertugas di laga Spanyol vs Aljazair (Grup A) sebagai wasit utama, serta duel Uni Soviet vs Hungaria (Grup D) dan partai Spanyol vs Meksiko (Grup A) sebagai hakim garis.

  • Mengenang Aksi Maradona di Jakarta

    DUNIA sepakbola berduka. Diego Armando Maradona, maestro sepakbola berjuluk "si tangan Tuhan" itu wafat. Dia meninggal setelah penyakit menggerogoti otak dan jantungnya. Operasi telah dilakukan, tapi tak mampu menyelamatkan mantan pemain sepakbola asal Argentina itu. Warga Argentina mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda duka.

  • Gunung Agung dan Masagung

    TOKO Buku Gunung Agung yang menjadi pemberitaan tanah air sepekan belakangan akhirnya buka suara terkait isu akan PHK karyawan secara besar-besaran. Pihak manajemen toko buku legendaris itu akhirnya mengumumkan keputusan pilu, yakni akan menutup toko-tokonya yang masih tersisa di tahun ini. “Penutupan toko/outlet tidak hanya kami lakukan akibat dampak dari pandemi Covid-19 pada tahun 2020 saja, karena kami telah melakukan efisiensi dan efektifitas usaha sejak tahun 2013 untuk berjuang menjaga kelangsungan usaha dan mengatasi kerugian usaha akibat permasalahan beban biaya operasional yang besar. Penutupan toko/outlet yang terjadi pada tahun 2020 bukan merupakan penutupan toko/outlet kami yang terakhir karena pada akhir tahun 2023 ini kami berencana menutup toko/outlet milik kami yang masih tersisa,” ujar manajemen Gunung Agung sebagaimana diberitakan cnbcindonesia.com, 23 Mei 2023. Padahal, toko buku yang berpusat di Kwitang, Jakarta Pusat itu telah puluhan tahun ikut “mencerdaskan bangsa”. Hal itu memang menjadi obsesi pendiri Gunung Agung, Tjio Wie Tay, sejak memutuskan berbisnis buku. Maka setiap kesempatan untuk mencerdaskan bangsa datang, ia tak ragu untuk ambil bagian.

  • Jasa Pengiriman Surat dan Barang pada Zaman Belanda

    KEMAJUAN teknologi membuat transaksi jual beli tak hanya secara tatap muka. Belanja daring telah menjadi kebiasaan masyarakat di era serba digital, yang kian populer di masa pembatasan aktivitas sebagai imbas pandemi Covid-19. Berbagai barang, mulai dari makanan, keperluan rumah tangga hingga elektronik, dapat dibeli melalui beragam situs jual beli daring. Belanja daring sangat mengandalkan jasa ekspedisi. Pertumbuhan jasa pengiriman barang beriringan dengan meningkatnya minat masyarakat dalam belanja daring. Kehadiran jasa pengiriman barang tak terbatas pada perusahaan milik negara seperti Pos Indonesia, tetapi banyak pula pihak swasta yang menjalankan bisnis ini. Dukut Imam Widodo dalam Djember Tempo Doeloe menyebut kantor pos pertama di Hindia Belanda merupakan Kantor Pos di Batavia yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff pada 26 Agustus 1746. Empat tahun kemudian kantor pos dibuka di Semarang, Surabaya, dan selanjutnya menjamur di berbagai kota besar di Hindia Belanda.

  • Ratu Bendara, Perempuan Korban Pernikahan Politis

    PERCERAIAN dapat menjadi solusi bagi individu (seringnya perempuan) untuk menyelamatkan dirinya dari kekerasan dalam rumah tangga. Ada banyak alasan di balik terjadinya perceraian. Salah satunya politis, seperti perceraian Ratu Bendara, putri Hamengkubuwono I, yang sempat menikah dengan Raden Mas Said (Mangkunegara I). Hal ini sengaja dilakukan untuk memperkuat misi antara Raden Mas Said dan Mangkubumi, nama lain Hamengkubuwono I. Sebelumnya Mangkubumi dan Raden Mas Said merupakan satu kubu yang melawan Belanda dan Pakubuwono. Namun, kemudian terjadi perselisihan antara dua pembesar tersebut. Akibatnya, keduanya berjalan secara terpisah hingga Mangkubumi diberi kewenangan oleh VOC untuk berkuasa di Keraton Yogyakarta. Perceraian Ratu Bendara dipicu oleh konflik antara suaminya (Mas Said) dan ayahnya (Hamengkubuwono I). Konflik tersebut semakin memanas usai Perjanjian Salatiga (1757), yang membuat Raden Mas Said dinobatkan menjadi Adipati Mangkunegara I dengan kekuasaan bernama Mangkunegaran.

  • Jejak Langkah Aedy Moward dalam Perfilman

    KEMATIAN sudah bukan lagi barang baru bagi Sersan Mula (diperankan Aedy Moward). Ia sudah terbiasa dengan alam revolusi kemerdekaan. Maka saat mengaso di sebuah rumah berbilik bambu, ia berbicara santai pada rekannya, Letnan Leo (Awaloedin Djamin). Dia tak begitu merisaukan kematian kepala staf batalyonnya, Kapten Adam (R. Sutjipto). “Sudah mampus?” celetuk Mula enteng, kepada Leo. “Bapakmu mampus?” jawab Leo. “Hey, ajudan kita ini bisa marah juga?” tutur Mula lagi. Leo lantas memarkirkan bokongnya di kursi bambu. Lama-lama, Leo muak mendengar sejawatnya itu mengeluh melulu akibat long march mereka dari Yogyakarta ke Jawa Barat tak hanya menghindari kejaran pasukan Belanda namun juga harus meladeni kombatan-kombatan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang saudara sebangsa sendiri. “Ah, rokok yang enak itu satu dulu ah,” pinta Mula yang sekadar menggulung-gulung kertas koran untuk dijadikan pembungkus tembakau. “Payah, payah. Digasak Belanda, dikejar-kejar bangsa sendiri. Ini kan kertas koran, nih. Eh nyo, kalau begini naga-naganya Republik alamat gulung tikar. Rokok saja kertas koran, baju bau enggak ditukar-tukar. Tentara disuruh disiplin. Disiplin, disiplin melulu,” keluh Mula. “Kadang-kadang aku eneg mendengar omongmu. Mengapa tidak memihak saja pada Belanda? Ada captain, baju NICA, ada keju,” sahut Leo kesal. “Jadi usulmu itu? Kalau begitu, baik. Kupikirkan nanti. Kau pikir aku senang diburu-buru macam babi hutan. Keadaan macam begini, macam-macam aja mau merdeka,” kata Mula sambil melekatkan kertas rokok dengan liurnya dan pergi berlalu. Mula pasti bukan pengkhianat. Ia sekadar mencurahkan keluh kesah yang manusiawi. Sisi itulah yang ditampilkan sutradara Usmar Ismail pada karakter-karakter berbeda yang dimainkan para aktor di film Darah dan Doa (1950). Para prajurit di tengah revolusi toh juga manusia biasa dan Usmar menginginkan karakter-karakter humanis yang berbeda dari setiap para pemainnya. Hebatnya, banyak aktornya yang berhasil membawakan sisi-sisi manusiawi itu. Termasuk Aedy Moward si pemeran karakter Sersan Mula. Padahal, sebagaimana banyak cast lain Aedy menjalani debut pertamanya di layar perak di film yang hari pertama syutingnya itu dijadikan Hari Film Nasional. Adegan Sersan Mula (kiri) berkeluh-kesah pada Letnan Leo (Tangkapan Layar Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Bali) Aktor Watak dari Generasi Pertama Lahir di Kutaraja (kini Banda Aceh) pada 29 November 1929, Aedy punya nama lahir Edy Muwardi Abdul Aziz bin Abbid. Menurut Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978, Aedy selepas masa revolusi kemerdekaan merantau ke Jakarta untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Sebagaimana Del Juzar dan Awaloedin Djamin, ia mahasiswa FHUI yang juga menjajal pengalaman ketika Usmar Ismail membuka seleksi untuk film Darah dan Doa. Baik Del Juzar, Awaloedin, maupun Edy, semua lolos jadi barisan “generasi pertama” di bawah naungan Perfini. “Aedi adalah angkatan I yang mengisi awal produksi Perfini. Ia bersama dua rekan lainnya – Del Juzar dan Awaludin, adalah angkatan pertama itu yang didampingi oleh satu pemain wanita, Lili Handuran. Saat itu mereka adalah mahasiswa yang pertama-tama memberikan dukungan dan sekaligus menyatakan diri bersedia mengisi film-film Perfini, memperkuat barisan Perfini,” tulis majalah Minggu Pagi edisi 3 April 1966 lewat artikel “Hadji Aedi Moward: Bintang ‘Berat’, Tjemerlang dalam Tiap Pembawaan”. Dalam Darah dan Doa, Aedy mendapat peran sebagai Sersan Mula. Karakter prajurit Divisi Siliwangi itu digambarkan lugas dengan senjatanya dan bicaranya ceplas-ceplos. Aedy kembali tampil bareng Del Juzar di dua film Perfini lain, Enam Djam di Jogja (1951), dan Kafedo (1953). Jika Del Juzar kemudian memilih pensiun dini untuk jadi pengacara dan Awaloedin Djamin memilih karier di kepolisian, Aedy tetap di perfilman. Aedy bekerja keras untuk membagi waktu antara kuliah dan film. Belum lagi setelah lulus, ia sempat bekerja di kantor Bea dan Cukai. Namun akhirnya ia membulatkan tekad untuk memilih film sebagai jalan hidup. “Aedi Moward pertama-tama telah dicegah oleh keluarganya, pun dalam saat-saat kuliahnya berdampingan dengan pembuatan film – secara ultimatum guru besarnya meminta Aedi menetap: film atau bangku kuliah. Film belum habis tentangan dan tantangan itu tatkala ia menjabat sebagai Perwira Imigrasi. Sedang dua rekannya, Del Juzar kini S.H. dan Awaludin (kini Kombespol drs yang baru saja diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja) lebih dulu pamit dari perfilman. Tinggalnya Aedy justru berarti untuk mempertahankan mata rantai satu angkatan dengan angkatan berikutnya,” imbuh artikel tersebut. Hingga akhir hayatnya, Aedy sudah membintangi lebih dari 70 judul film. Termasuk Tauhid (1964), film pertama yang bertemakan dakwah dan ibadah haji. Film itu diprakarsai Menteri Agama KH. Saifuddin Zuhri dengan bekerjasama dengan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi). Filmnya digarap sutradara Asrul Sani didampingi Misbach Yusa Biran, dan syutingnya pun dihelat di Makkah –membuat para kru dan cast-nya sekalian menunaikan ibadah haji. Aedy memerankan karakter petugas kesehatan rombongan haji, dr. Halim. “Di samping membantu Asrul dalam menangani film cerita berjudul Tauhid, saya juga membuat sendiri film instruksional manasik haji, Panggilan Nabi Ibrahim. Yang dapat kamar juga adalah pemain utama wanita, Nurbani Yusuf, bersama ibunya; Rd. Mochtar dan isteri, lalu sutradara Asrul Sani. Pemain pria Ismed M. Noor, Aedy Moward, dan M.E. Zainuddin tidur di palka bersama kru lain,” kenang Misbach dalam Kenang-kenangan Orang Bandel. Karakter dokter Halim di Tauhid digambarkan mulanya skeptis tentang pentingnya rukun Islam yang ke-5 itu. Di film itu ia beradu akting dengan Ismed M. Noor sebagai pilot pesawat rombongan haji, serta Nurbani Jusuf dan ME Zainuddin yang memerankan jamaah haji dengan latar belakang berbeda. Plotnya simpel namun mampu dimainkan dengan apik oleh Aedy hingga membuat kesan tersendiri bagi para penontonnya, usai ditayangkan pada 4 Februari 1966. “Dokter (Halim, red.) yang berangkat sebagai petugas kesehatan itu pun punya pengalaman pahit di masa kecilnya. Ibunya sakit keras, dia berdoa, tapi ibunya meninggal juga. Pengalaman mayor-penerbang bertentangan dengan itu, rekan-rekannya meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang, dia sendiri selamat. Pada akhirnya dokter mau juga ikut melaksanakan rukun Islam yang ke-5,” kata artikel mingguan Minggu Pagi edisi 20 Februari 1966, “Dengan 300 Perak ke Mekkah Melalui ‘TAUCHID’, Film Pertama (Didunia) tentang Mekah & Ibadah Hadji”. Aedy Moward di film Ateng Mata Keranjang (Youtube Rumah Film Indonesia) Seiring perjalanan karier, Aedy membuktikan diri sebagai aktor watak lintas genre. Dari film drama, film bertema dakwah, hingga komedi pun ia bintangi. Antara lain Ateng Raja Penyamun (1974), Ateng Mata Keranjang (1975), atau “trilogi” komedi: Inem Pelayan Sexy (1976), Inem Pelayan Sexy II serta Inem Pelayan Sexy III yang keduanya diproduksi 1977. Film yang jadi milestone Aedy berada di jajaran legenda hidup adalah film Bulan di Atas Kuburan (1973). Filmnya juga disutradarai Asrul Sani dan mendapat dua Piala Citra di Festival Film Indonesia 1975 dari kategori Film Aktuil Masyarakat Terbaik dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik atas nama Aedy Moward. “Aedy Moward, bintang lama yang muncul dengan dialek Medan dalam film Bulan di Atas Kuburan disepakati oleh dewan juri menjadi pemain pendukung pria terbaik. Pilihan ini tepat. Aedy jarang dapat peran yang pas itu, ketemu batunya dalam film tersebut. Dan kesempatan yang diberikan sutradara Asrul Sani, tidak disia-siakan oleh Aedy,” tulis Tempo, 10 Mei 1975. Sebelum wafat di usia 50 tahun, Aedy sempat menuntaskan empat film produksi 1979: Cinta Segitiga, Kutukan Nyai Roro Kidul, Di Ujung Malam, dan Rojali dan Zuleha. Aedy tutup usia secara mendadak pada 6 November 1980 dan kemudian dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat.

  • Datu Adil, Raja Tarakan yang Melawan Belanda

    DARI sekian landmark yang dimiliki Kota Tarakan, terdapat sebuah stadion bernama Datu Adil. Jaraknya tak sampai lima kilometer dari Bandara Juwata sebagai pintu masuk ke kota yang jadi pusat pemerintahan Kalimantan Utara itu. Nama Datu Adil berasal dari nama orang penting di Tarakan tempo dulu. Kendati hanya sedikit catatan tentangnya, Datu Adil dikenal sebagai raja Tarakan. Orang Tarakan terkait dengan etnis Tidung. Menurut Kapten Pieter van Genderen Stort dalam Nederlandsch-Tidoengsch Tinggalèn DajèkscheWoordenlijst, orang Tidung berbeda dari orang Bulungan yang keturunan Kayan. Orang Tidung dianggap sebagai bagian dari Murut atau Murutic.

  • Kisah Atlet Wanita Jerman yang Ternyata Laki-laki

    DORA RATJEN merupakan salah satu atlet wanita Jerman yang ambil bagian dalam Olimpiade Berlin 1936. Bertanding di nomor lompat tinggi putri cabang olahraga atletik, Ratjen yang berada di nomor empat klasemen gagal meraih medali untuk Jerman. Dia kalah dari Ibolya Csák, atlet Hongaria yang meraih medali emas; Dorothy Odam, atlet Inggris mendapatkan medali perak; serta Elfriede Kaun, rekan senegara Ratjen, meraih medali perunggu. Kekalahan Ratjen mengecewakan, sebab dia dan Kaundianggap berpotensi besar menyabet medali. “Kekecawaan atas penampilan buruk Ratjen menjadi lebih besar karena Csák, peraih medali emas, adalah seorang Yahudi,” tulis George Constable dalam XI, XII & XIII Olympiad. Kegagalan Ratjen meraih medali bukan penyebab munculnya kontroversi di kemudian hari. Dua tahun setelah Olimpiade Berlin 1936, Ratjen mencoba memperbaiki kesalahan-kesalahannya ketika bertanding di Olimpiade. Hasilnya, dia berhasil melompat lebih tinggi hingga mencapai 1,67 meter. Selain meraih medali emas, Ratjen juga sukses mencetak rekor dunia baru untuk wanita di Kejuaraan Eropa di Wina tahun 1938. Namun, rekor ini hanya bertahan dua hari.

  • Nostalgia Wolverine yang Orisinil

    WALAU ditolak bergabung ke kelompok pahlawan super Avengers, diputuskan pacarnya, dan pensiun dari kerjaan medioker sebagai sales mobil bekas, Wade Winston Wilson alias Deadpool (diperankan Ryan Reynolds) ternyata masih berharga di mata sebuah organisasi penjaga lini waktu, Time Variance Authority (TVA). Agen TVA, Mr. Paradox (Matthew Macfadyen), berniat merekrut Deadpool demi menyelamatkannya sebelum semestanya hancur. Semesta yang ditinggali Deadpool dan teman-temannya, Bumi 10005, berangsur-angsur akan hancur. Pasalnya Logan alias Wolverine (Hugh Jackman) yang jadi entitas jangar atau sosok yang menopang eksistensi semestanya sudah tiada. Namun bukannya menerima tawaran Paradox, Deadpool justru mencuri TemPad untuk kabur melintasi semesta demi mencari Logan/Wolverine versi semesta lain. Serumit itulah sutradara Shawn Levy membuka babak konflik Deadpool & Wolverine di 10-15 menit pertama. Film superhero yang jadi film Deadpool ketiga pasca Deadpool (2016) dan Deadpool 2 (2018) serta jadi film ke-34 dalam semesta Marvel Cinematic Universe (MCU).

  • Mula Duel Selebritas di Arena Tinju

    TINJU belakangan ini semarak lagi dan menyedot perhatian publik tanah air. Namun, sayangnya bukan dilakukan petinju amatir atau profesional seperti di masa Ellyas Pical dan Nico Thomas di era 1980-an hingga Chris John di awal 2000-an, melainkan dilakukan para selebriti. Pada 2011, dihelat duel tinju selebriti antara Raffi Ahmad melawan Mario Lawalata yang berakhir seri. Lalu, ada duel Vicky Prasetyo vs. Aldi Taher dan Vicky Prasetyo vs. Azka Corbuzier pada 2022, serta viralnya kembali duel El Rumi vs. Jefri Nichol pada 2023. Seperti tak mau kalah, para selebriti perempuan juga ada yang ikut menyemarakkannya. Setelah duel Nikita Mirzani vs Dinar Candy pada 2022, lantas disusul Zara Adhisty vs. Lula Lahfah pada tahun berikutnya.

  • Empat Selebriti Hollywood yang Berseragam Pasukan Israel

    PRAHARA yang terjadi di Jalur Gaza, Palestina sejak 7 Oktober 2023 tak hanya “membelah” para tokoh dunia namun juga para selebriti Hollywood. Mereka yang membela Palestina bersimpati karena negeri itu terjajah selama puluhan tahun. Seperti kakak-adik supermodel Gigi dan Bella Hadid, Mia Khalifa, penyanyi Zara Larsson, aktor John Cusack, aktris Jessica Chastain, aktor Mark Ruffalo, ataupun Riz Ahmed. Mereka menyuarakan perlindungan penduduk sipil Gaza. Tetapi di lain pihak, tak kalah banyak yang berdiri di barisan Israel. Mereka menggaungkan dukungan pada Israel baik di media massa maupun akun pribadi media sosial. Ramai-ramai mereka mengutuk serangan milisi Hamas sebagai aksi teror dan menyuarakan dukungan pada Israel, tak peduli negeri Zionis itu tak pandang bulu menyerang penduduk Palestina di Gaza. Di antara para selebritis itu adalah aktor dan komedian Jerry Seinfeld, aktor laga Dwayne “The Rock” Johnson, aktris Natalie Portman, aktor cum komedian John Gad, aktris komedi Amy Schumer, komedian Sarah Silverman, penyanyi dan aktris Barbra Streisand, penyanyi Madonna, dan sosialita Kim Kardashian.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page