Hasil pencarian
Cari di situs ini
10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cerita di Balik Lagu “Ayah”
BEBERAPA tahun silam, Ariel Noah dan Candil, eks vokalis Serieus, menyanyikan lagu berjudul “Ayah”. Lagu lawas itu pun populer lagi. Lagu “Ayah” diciptakan dan dipopulerkan pertama kali oleh sebuah band asal Medan yang populer di tanah-air awal 1970-an. Nama band itu adalah The Mercy’s. The Mercy’s berisi anak-anak keluarga kelas menengah di Medan. Pendirinya Rizal Arsyad, Erwin Harahap, dan Rinto Harahap. Kecuali Harahap bersaudara, para pemainnya datang silih berganti. Sebagaimana umumnya band baru, mereka meretas kesuksesan dengan manggung dari pesta ke pesta dan membawakan lagu-lagu orang yang sudah terkenal. Namun, band ini pernah juga bermain di negeri jiran. Suatu ketika, The Mercy’s memainkan lagu “Tiada Lagi” di Radio Republik Indonesia (RRI) Medan. Tak dinyana, itu membuat nama The Mercy’s terangkat di Medan. Majalah Aktuil No. 110 1972 menyebut mereka kemudian hijrah ke Jakarta sejak September 1971.
- Catatan Hitam Pendukung Kemerdekaan
SETELAH Jepang melihat bayang-bayang kekalahan dari Sekutu, dan Perdana Menteri Kuniaki Koiso mengumumkan janji kemerdekaan Indonesia di kemudian hari, sejumlah tentara Jepang memihak Indonesia. Di negeri sendiri, sikap mereka menjadi catatan hitam. “Bahkan mereka yang lari dari kamp interniran dinilai pemerintah Jepang sebagai desertir, bahkan subversi,” ujar Aiko Kurasawa, guru besar Keio University, Jepang, dalam acara peluncuran dan diskusi buku Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi karya Wenri Wanhar, di aula Ir Sukarno, Universitas Bung Karno, Jakarta (13/9). Pada Juli 1944, Jepang berada di ujung tanduk. Kepulauan Saipan jatuh ke tangan Sekutu. Garis pertahanan di Pasifik, yakni Kepulauan Solomon dan Kepulauan Marshall, bobol. Sebulan kemudian, Perdana Menteri Kuniaki Koiso mengumumkan Indonesia diperkenankan merdeka di kemudian hari.
- Pemerintahan di Tangan Orang-orang Tidak Kompeten
AKSI unjuk rasa di berbagai wilayah menjadi gambaran dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap inkompetensi para pemangku kebijakan. Kritik tidak hanya diarahkan kepada kinerja mereka, tetapi juga pada respons dan pernyataan para pejabat yang nirempati sehingga memicu kemarahan publik. Respons masyarakat terhadap kinerja pemerintah yang menyengsarakan rakyat mengingatkan pada sebuah istilah tua yang muncul pertama kali pada abad ke-17, yakni kakistokrasi. Berasal dari kata Yunani, kakistoraksi secara harfiah dapat diartikan sebagai pemerintahan oleh orang-orang yang terburuk. Menurut ilmuwan politik Amerika Serikat, Norman J. Ornstein dalam “Political Disruption: Is America Headed Toward Uncontrollable Extremism or Partisan Goodwill?” termuat di Public Service and Good Governance for the Twenty-First Century, secara lebih luas, istilah kakistokrasi dapat berarti jenis pemerintahan yang paling tidak kompeten dan mengerikan.
- Juru Foto di Bawah Desingan Peluru
PESISIR Normandia, Prancis Utara pada pagi 6 Juni 1944. Desingan peluru senapan mesin dan ledakan-ledakan artileri Jerman di bibir pantai saling berlomba memekakkan telinga. Hari itu “Operasi Overlord” –atau sering disebut D-Day adalah operasi pendaratan pasukan Sekutu untuk membebaskan Eropa Barat dari tangan Jerman-Nazi– dimulai. Prajurit Satu Huston Riley merupakan satu di antara pasukan Kompi F, Batalyon ke-2, Resimen ke-16, Divisi Infantri ke-1 Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat yang mesti mendarat pada gelombang pertama D-Day atau Invasi Normandia. Keadaan chaos tak sedikitpun memberi waktu buat Riley menebalkan nyali begitu ia turun dari kapal pendarat LCVP di sektor Omaha Beach. Riley sempat terjatuh dan setengah tenggelam. Ia berlindung sebisa mungkin selama setengah jam di pinggir pantai. Peluru senapan mesin Jerman mulanya hanya menyerempet ransel perbekalan di punggung serta di ujung sepatu boot-nya. Namun ketika ia kemudian tergeletak pasrah, empat peluru bersarang di bahunya. Tetapi hari itu maut belum menjemputnya. Seorang sersan dan seorang lagi yang tak familiar bagi Riley menarik tubuhnya untuk berlindung ke gundukan pasir yang lebih aman.
- Pak Azis, Tukang Cukur Bung Karno
SEKALI waktu, Mangil Martowidjojo, ajudan pribadi Presiden Sukarno, diminta presiden mencari seorang tukang cukur bernama Pak Azis. Waktu itu, sekira tahun 1950, Mangil baru datang dari Yogyakarta untuk bertugas sebagai pasukan polisi pengawal pribadi Bung Karno, cikal-bakal Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Mangil agak kesulitan mencari Pak Azis karena alamatnya tidak diketahui. Sejak ibukota pindah ke Yogyakarta di masa perang, Bung Karno tidak pernah lagi dicukur Pak Azis. Bung Karno hanya memberi petunjuk terbatas. “Orangnya sudah tua dan dulu badannya agak kurus,” kata Bung Karno merujuk Pak Azis. Petunjuk itu nyatanya tidak cukup membantu Mangil menemukan Pak Azis dengan lekas. Walhasil, Mangil mengubek-ubek setiap rumah di Jakarta yang bertuliskan “tukang cukur”. Mujur bagi Mangil tiba setelah salah seorang tukang cukur di bilangan Cikini mengetahui alamat Pak Azis tukang cukur, yakni dekat perkuburan Menteng Pulo. “Jadi kalau Bung Karno mau cukur, seminggu sebelumnya saya sudah harus memberi tahu Pak Azis,” kenang Mangil dalam memoarnya Kesaksian tentang Bung Karno 1945—1967.
- Rofiqoh, Generasi Pertama Kasidah Modern
NAMA Rofiqoh Dharto Wahab tak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah musik kasidah di Indonesia. Rofiqoh merupakan generasi awal penyanyi kasidah Indonesia yang pertama masuk dapur rekaman, RRI, dan TVRI. Rofiqoh, yang kelahiran 18 April 1945 di Keranji, Pekalongan, memiliki latar belakang keluarga yang religius. Menurut Jamal D. Rahman dalam tulisannya “Rofiqoh Dharto Wahab; Qariah dan Seniman Kasidah” di buku Ulama Perempuan Indonesia, orang tua Rofiqoh adalah orang terpandang di Pekalongan. Ayahnya, Kiai Haji Munawir memiliki pesantren Munawwirul Anam. Latar belakang keluarganya inilah yang membentuk karier Rofiqoh mentereng di kemudian hari.
- Sudomo Sumber Berita
SEKALI waktu, Laksamana TNI (Purn.) Sudomo meninjau Asrama Embarkasi Haji Donohudan di Boyolali. Waktu itu, Sudomo menjabat ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Sembari memeriksa fasilitas asrama, Sudomo bercengkrama dengan para calon haji yang sedang menunggu pemberangkatan. Perhatian Sudomo tertuju kepada calon haji tua yang duduk di pinggiran ranjang. “Berapa umur Bapak,” tanya Sudomo. Bapak tua tersebut menjawab bahwa umurnya sudah 80 tahun. Mendengar jawaban itu, Sudomo pun menimpali, “orang yang berumur di atas 80 tahun, Insya Allah dosa-dosanya sudah luntur, alias diampuni Allah,” kata Sudomo yang langsung dijawab, “Amin,” oleh si bapak tua. Sudomo melanjutkan obrolan. “Umur saya sendiri 71 tahun, tapi umur dari alis ke mata atas,” kata Sudomo sambil menunjuk rambutnya yang sudah memutih. Sudomo lahir pada 20 September 1926 di Malang, Jawa Timur.
- Revolusi Amerika dalam Pidato Sukarno di KAA
AMERIKA Serikat berusaha menggagalkan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika. Caranya dengan merencanakan pembunuhan tokoh utamanya seperti Sukarno dan Zhou Enlai, hingga menandinginya dengan membentuk Pakta Pertahanan Asia Tenggara (SEATO, South East Asia Treaty Organization). Sekretaris Jenderal KAA Roeslan Abdulgani mengetahui hal itu. “Berita-berita sandi yang kita terima dari Amerika menunjukkan bahwa di sana ada kecurigaan dan kekhawatiran tentang jalannya Konperensi Bandung ini. Diperkirakan bahwa kolonialisme Barat akan menjadi bulan-bulanan dan sasaran pokok. Apalagi akan hadirnya RRC. Ini akan merugikan kedudukan Amerika di Bandung,” kata Roeslan dalam Bandung Connection. Roeslan berusaha menetralisir kekhawatiran AS itu demi hubungan baik Indonesia-Amerika. Dia teringat peristiwa penting bagi sejarah Amerika pada 18 April 1775 yaitu Revolusi Amerika.
- Yang Santai di KAA
DUA hari jelang KAA dibuka, para delegasi negara undangan sudah tiba di Indonesia. Para delegasi ini dari negaranya masing-masing tiba di Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan melalui darat ke Bandung. Kota Bandung sudah dipenuhi dengan poster-poster tentang penyelenggaraan KAA. Tepat malam Minggu, 16 April 1955, Sekretariat Bersama KAA, menghelat acara penyambutan berupa makan malam di Gedung Merdeka, yang semula disebut Gedung Concordia. Tampak dalam gambar, seorang pelayan, menuangkan minuman kepada keempat delegasi dari Afrika. Lelah akibat perjalanan panjang seolah sirna. Suasana santai, akrab, terlihat dalam acara makan tersebut.
- Sejarah Awal BNI
TAK lama setelah Indonesia merdeka, R.M. Margono Djojohadikusumo, pegawai Volkscredietwezen (perkreditan rakyat) dan jawatan koperasi sejak masa kolonial, memiliki gagasan mendirikan bank nasional yang akan melayani lalu lintas perdagangan. Sejak masa kolonial hingga saat itu bangsa Indonesia tidak memiliki bank nasional. Bank-bank yang ada, seperti bank perkreditan serta bank dagang dan sirkulasi, milik bangsa-bangsa asing, seperti De Javasche Bank. Margono mengajukan gagasannya kepada kemenakannya, Ir. Surachman, wakil menteri keuangan. Namun, Surachman menanggapinya dengan mengatakan, “Mengapa anda mau bersusah-susah. Nanti kita ambil alih seluruh Javasche Bank lengkap dengan aparatnya yang berpengetahuan dan berpengalaman itu.” Margono kemudian mendatangi Wakil Presiden Mohammad Hatta. Hatta menyambut baik gagasan tentang satu bank pusat itu. Keduanya bersama-sama menyusun Surat Kuasa kepada Margono untuk membentuk Bank Negara Indonesia. Surat Kuasa bertanggal 16 September 1945 ini ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta dalam rapat kabinet pada 19 September 1945 jam empat sore.
- Pesta Ulang Tahun yang Gagal
PENDUDUKAN ibukota, Yogyakarta, oleh pasukan Belanda (Desember 1948) membuat Dan Yon 307/Kala Hitam Divisi Siliwangi Mayor Kemal Idris memutuskan untuk long march membawa pulang pasukannya kembali ke Jawa Barat. Rute yang ditempuh untuk mencapai Jawa Barat adalah Wonosobo-Banyumas-Brebes. “Dalam waktu relatif singkat saya instruksikan untuk segera berangkat. Sesuai rencana semua keluarga batalyon, termasuk istri saya yang sedang hamil 7 bulan mengandung anak kedua saya, Anggreswara Kemalawati, tetap tinggal di Yogyakarta. Tetapi ada di antara keluarga yang memaksa ikut. Akhirnya saya perkenankan keluarga yang memaksa harus turut dengan menanggung risiko apa yang terjadi,” kata Kemal Idris dalam otobiografinya, Bertarung dalam Revolusi. Long march dapat berjalan dengan segera karena telah direncanakan secara matang sebelumnya. Perencanaannya bahkan sampai tingkat divisi.
- Para Penyemir Cilik
SIANG terik di Masjid Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Jemaah baru saja kelar tunaikan salat Jumat. Sebagian besar beranjak mengambil sepatunya dari penitipan. Tapi ada segelintir orang masih duduk di sekitar penitipan. Mereka menunggu sepatunya kelar disemir agar lebih mengilap. Semua penyemir sepatu berusia dewasa. Tak ada anak-anak. Berbeda sekali jika membandingkan awal kehadiran penyemir sepatu di Indonesia. Tukang semir sepatu telah merentangi pelbagai zaman. Bukti awal keberadaan pekerjaan ini berasal dari sebuah foto lawas karya Louis Daguerre, penemu kamera, pada 1838. Foto tersebut menangkap suasana Boulevard du Temple, Paris, Prancis. Di pojok kiri foto, dua orang kelihatan melakukan aktivitas. Orang pertama berdiri mengangkat salah satu kakinya ke sebuah meja pendek, sedangkan orang kedua terlihat menggosok sepatu orang pertama. Di belahan dunia lain, penyemir sepatu terekam dalam lukisan koleksi Connecticut Historical Society (CHS), Amerika Serikat. Lukisan memuat dua orang lelaki: kulit putih dan kulit hitam. Lelaki kulit putih berdiri memperhatikan lelaki kulit hitam yang duduk di sebuah kursi sembari memegang sikat dan sepatu bot. Menurut laman chs.org, lukisan itu peninggalan dekade 1850-an.





















