Hasil pencarian
Cari di situs ini
10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Operasi Hantu Amerika Serikat di Perang Vietnam (Bagian I)
BERAGAM cara dilakukan Amerika Serikat untuk memenangkan perang di Vietnam yang berlangsung sejak 1955 hingga 1975. Salah satunya dengan psywar menggunakan propaganda, manipulasi informasi, ancaman, atau tekanan mental untuk memengaruhi emosi dan sikap Viet Cong, pasukan gerilya komunis Vietnam Utara yang melawan pemerintah Vietnam Selatan. Salah satu taktik perang non-fisik adalah memanfaatkan para pembelot dari Viet Cong untuk membujuk rekan-rekannya agar bergabung dengan pasukan Vietnam Selatan yang didukung Amerika. Menurut jurnalis Inggris, Tom Mangold dan John Penycate, dalam The Tunnels of Cuchi: A Harrowing Account of America’s “Tunnel Rats” in the Underground Battlefields of Vietnam, jika seorang Viet Cong dibujuk membelot dan menjadi Hoi Chanh, pembelotannya dimanfaatkan untuk tujuan propaganda sesegera mungkin. Ia dipaksa merekam pesan untuk meyakinkan rekan-rekannya agar keluar dari persembunyiannya. Taktik ini semakin mudah dilakukan dengan penemuan sistem Early Word oleh perwira Big Red One.
- Kala Aktivis Malaysia Diciduk dan Kedutaan China Digeruduk
KEADAAN negara, utamanya di ibukota Jakarta, tak pernah sama lagi usai Peristiwa 30 September 1965. PKI beserta kader-kadernya hingga orang-orang yang dituduh terlibat aktivitas kekiri-kirian jadi sasaran amuk massa anti-komunis. Tak terkecuali para aktivis negeri jiran dan para staf Kedutaan Besar Republik Rakyat China (RRC). Hal itu dialami Eu Chooi Yip, Abdullah Sudin, dan Ibrahim Mohammad beserta istrinya yang aktivis perempuan Malaysia keturunan Minangkabau, Shamsiah Fakeh. Keempatnya merupakan aktivis Malayan National Liberation League (MNLL), onderbouw Malayan Communist Party (MCP). Keempatnya aktif di Jakarta sejak Februari 1965. Setelah membuka kantor perwakilan resmi di Jakarta atas izin pemerintah, mereka menjalankan aktivitas dibantu Suroso, kader Partai Komunis Indonesia (PKI) yang jadi penghubung antara MNLL dan CC PKI.
- Pesawat PSSI Hampir Jatuh ke Laut
ROMBONGAN tim sepak bola sering melakukan perjalanan menggunakan pesawat dari satu tempat ke tempat lain untuk bertanding. Akan tetapi, perjalanan itu tidak melulu mulus. Ada kalanya takdir pahit terjadi di tengah penerbangan yang berakhir kedukaan bagi banyak orang. Sepanjang sejarah, kecelakaan pesawat yang mengangkut tim sepak bola terjadi beberapa kali. Contohnya, klub Liga Inggris, Manchester United, beberapa pemainnya tewas dalam Tragedi Munich pada 1958. Jauh setelah itu, pada 1993 timnas Zambia mengalami hal serupa bahkan lebih nahas karena hampir seluruh pemain tim generasi emas meninggal dunia di lepas pantai Gabon. Nasib yang sama dirasakan klub Brasil, Chapecoense setelah pesawat LaMia 2933 jatuh ketika terbang menuju Medelin, Kolombia pada 2016. Jika saja tak bernasib mujur, mungkin rombongan pemain timnas Indonesia dan ofisialnya masuk dalam catatan kelam itu. Ceritanya, pada 1953 rombongan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) itu menumpang pesawat yang bermasalah menuju Manila, Filipina, sehingga melakukan pendaratan darurat. Setelah diperbaiki, pesawat mencoba terbang lagi, tetapi hampir saja jatuh ke laut.
- Dendam Harus Dibalas Tuntas
KETIKA berpatroli dengan mendaki sebuah pegunungan di Jawa Tengah, serdadu Belanda dari kesatuan 4-6 Resimen Infanteri bertemu dengan lima orang berpakaian hitam. Sang komandan yang berpangkat mayor meminta senjata kepada Harrie Krol, prajurit penembak bren, dan kemudian terdengar: “tar-tar-tar…” Kelima orang Indonesia itu tewas tanpa melawan. Tak jauh dari situ, mereka bertemu lagi dengan dua orang berpakaian hitam. Sang mayor menebas kepala mereka dengan kelewang. Masih jelas terbayang dalam benak Harrie Krol bagaimana kepala-kepala itu menggelinding dan darah muncrat. “Yang terjadi hanyalah balas dendam. Mayor itu sangat marah karena dia menemukan dua anak buahnya tewas tanpa alat kelamin,” kata Harrie Krol dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1950 karya Gert Oostindie.
- Wisata Ziarah dan Akulturasi di Ganjuran
SETELAH melewati pepohonan di kiri-kanan jalan, sawah, dan ladang tebu, sampailah saya di kompleks gereja dan candi di Ganjuran, Bantul. Celoteh burung menyambut di pintu masuk. Kompleks ini lengkap. Ada gereja, rumah sakit, biara, panti asuhan, sekolah, dan sebuah candi yang mengesankan: Candi Hati Kudus Yesus. Angin pagi semilir menemani,saat memasuki kompleks peninggalan Joseph dan Julius Schmutzer, dua bersaudara Belanda pendiri gereja Ganjuran pada 1924. Mereka memulainya dari membangun pabrik gula Gondang Lipuro pada 1912. Ini satu-satunya pabrik gula yang emoh ikut dalam Sindikasi Gula Hindia Belanda. Pabrik ini relatif stabil, bahkan bisa bertahan dari krisis moneter Black Friday 1929, yang melanda Amerika dan Eropa serta merebak ke dunia. Schmutzer bersaudara bahkan membangun sekitar 12 sekolah rakyat, sekolah asrama putri Stella Duce, rumah sakit, hingga irigasi dari Sungai Progo –sala satunya yang masih berdiri adalah RS Panti Rapih. Sukses dengan pabriknya, Schmutzer ingin membangun sebuah gereja yang menyatu erat dengan budaya setempat. Namun cita-citanya kandas. Izin dari Vatikan tak keluar. Ia hanya boleh mendirikan candi, patung, dan altar. Maka, pada 16 April 1924, bedirilah gereja khas desain Barat dengan altar dan patung-patung bernuansa kental Jawa. Ganjuran adalah pioner akulturasi gereja.
- DNA Sepakbola dan Tinju Ricky Hatton
LEBIH dari 50 ribu penonton menyesaki Etihad Stadium pada laga derby Manchester mempertemukan tuan rumah Manchester City kontra Manchester United pada matchday ke-4 Premier League musim ini. Menjelang laga, para pemain serta ofisial meleburkan diri dengan penonton untuk menggemuruhkan aplaus selama satu menit guna mengenang sosok legendaris yang potretnya ditayangkan di videotron stadion dengan keterangan: “Ricky Hatton, MBE (1978-2025)” “Ia selalu tampil dengan (lagu klub) ‘Blue Moon’. Ia seorang Manchester Biru sejati. Kami dan siapapun yang pernah bertemu denganmu akan selalu merindukanmu. Semua pihak di klub ingin mengucapkan belasungkawa dari hati terdalam kepada keluarga dan para sahabat. Hanya akan ada satu Ricky Hatton. Marilah dalam momen ini kita memberikan aplaus untuk merayakan hidupnya, Ricky ‘The Hitman’ Hatton!” seru announcer stadion. Hatton bukan bintang sepakbola namun ia fans Manchester City. Ia bukan fans biasa, melainkan seorang petinju legendaris yang punya pengaruh besar dalam dunia tinju dunia, apalagi Inggris.
- Asa Jawa-Suriname Buyar di Negeri Asal
DI SUDUT ruang pamer Erasmus Huis, Jakarta, di mana sekira 60 foto orang Jawa-Suriname dipamerkan dari 20 September-15 November 2014, film pendek berjudul Javaanse Jongen: Its Way of Life diputar berulang-ulang. Soundtrack-nya lagu pop Jawa-Suriname berjudul “Lagu Tentrem”, dinyanyikan Stanlee Rabidin yang juga tokoh sentral film tersebut. Dalam pameran ini juga tersedia belasan buku mengenai Jawa-Suriname yang bisa dibaca pengunjung. Tahun 2015, genap 125 tahun migrasi orang Jawa ke Suriname, koloni Belanda. Mereka menjadi pekerja kontrak di perkebunan sebagai pengganti budak yang dilarang tahun 1863. Sebelum mereka, pekerja kontrak berasal dari India-Britania, yang banyak ulah dan menuntut upah besar. Gelombang pertama imigran dari Jawa datang pada 1890. Mereka, berjumlah seratus orang Jawa, ditempatkan di Marienburg, perkebunan tebu terbesar di Suriname. Periode 1890-1916, rerata orang Jawa datang ke Suriname berjumlah 700 orang per tahun. Jumlahnya berlipat pada 1916 setelah pekerja kontrak India-Britania tak lagi dipakai.
- The Twilight of Telenovelas in Indonesia
As a private television station that aired telenovelas, SCTV was often playfully referred to as “Saluran Cerita Telenovela” (Telenovela-centric Channel). Throughout the 1990s, SCTV aired several top-rated telenovela series that garnered high ratings. These included Kassandra (1992), Maria Mercedes (1993), Morena Clara (1994), Maria la del Barrio (1995), and Esmeralda (1997). In 2000, SCTV aired Esmeralda for the second time. This rerun of the Mexican telenovela from Televisa was due to high viewer interest. Esmeralda, which stars Leticia Calderon, tells the story of a blind girl who was switched at birth, whose love is hindered by social status, and her struggle to regain her sight and find love. The premiere of Esmeralda used an English dub. The rerun, however, used Indonesian. Yet, the second broadcast didn't go smoothly due to protests. “The airing of the telenovela Esmeralda was halted due to protests from the Islamic Defenders Front (FPI),” reported the Bali Post on July 1, 2000.
- The Two Popes, Dua Paus dalam Sejarah Kelam
USAI menggelar sebuah kebaktian umum di Buenos Aires pada suatu hari di bulan April 2005, Kardinal Jorge Mario Bergoglio (diperankan Jonathan Pryce) mendapat kabar Paus Yohanes Paulus II wafat. Ia pun bergegas menuju Vatikan untuk bergabung dengan 116 kardinal lain menghadiri Konklaf atau pemilihan paus baru di Kapel Sistina di Vatikan. Bergoglio bersama Kardinal Joseph Ratzinger (Anthony Hopkins) dari Jerman jadi kandidat terkuat. Keduanya seolah jadi “pertarungan” gereja Katolik yang reformis dan konservatif. Saking sengitnya, pengambilan suara sampai harus dilakoni empat kali lantaran seorang kardinal baru bisa diputuskan menjadi paus jika mendapat sedikitnya 77 suara dari total 117 pemilih. Kardinal Ratzinger akhirnya terpilih menjadi paus baru. “Hebemus Papam (Kita memiliki Paus)!” demikian pengumuman yang diterima ribuan umat Katolik yang menanti kabar di Lapangan Santo Peter usai melihat cerobong di atap Kapel Sistina mengeluarkan asap putih pertanda paus baru telah terpilih. Ratzinger kemudian keluar balkon dan menyapa umatnya sebagai paus baru dengan mengambil nama Benediktus XVI.
- Riwayat Rudolf Höss Si Jagal Auschwitz
SEPERTI biasa, Bruno (diperankan Asa Butterfield) selalu menyelingi perjalanan pulang sekolahnya dengan bermain bersama tiga temannya. Tetapi sesampainya di depan rumah, Bruno mendapati suasana berbeda. Ia hanya berdiri terpaku. Pandangannya terkunci pada sejumlah serdadu yang membawa keluar barang-barang dari rumahnya. Saat duduk bersama ayah dan ibunya, Bruno menelan penjelasan bahwa mereka harus ikut sang ayah ke tempat tugas barunya di luar kota Berlin. Ayah Bruno merupakan perwira Schutzstaffel (SS/Paramiliter Nazi). Oleh karena itu demi menenangkan hati Bruno, sang ibu meyakinkannya bahwa toh nanti di rumah baru Bruno akan punya teman baru. Benar apa yang dikatakan sang ibu. Di rumah barunya di sebuah kawasan terpencil di Polandia yang diduduki Jerman, Bruno mendapat kawan baru, Shmuel (Jack Scanlon). Namun yang diherankan Bruno, Shmuel tak seperti anak biasa karena selalu memakai pakaian lusuh bermotif garis-garis yang dianggap Bruno sebagai piyama. Persahabatan mereka pun dipisahkan pagar berduri yang dialiri listrik.
- Kisah Batalyon Sepatoe Roesak
DE OOST (The East) kini tengah diperbincangkan khalayak di Belanda dan Indonesia. Drama perang besutan sutradara Jim Taihuttu itu dianggap telah kembali menorehkan luka lama tentang kejahatan perang militer Belanda selama era Perang Kemerdekaan Indonesia (1946-1949). Aksi boikot terhadap film itu bahkan telah diserukan oleh para veteran Belanda dan keluarganya. Salah satunya adalah Palmyra Westerling, putra dari tokoh antagonis dalam De Oost (Kapten R.P.P. Westerling) yang secara resmi telah membuat sepucuk surat terbuka di media sosial. “[Mengimbau kepada] seluruh pembaca surat saya dan saudara sebangsa untuk tidak mendukung fim fantasi ini,” ungkap Palmyra. De Oost sendiri berkisah tentang pengalaman seorang serdadu bernama Johan de Vries selama bertugas di wilayah timur (Indonesia). Sebelum bergabung dengan Korps Pasukan Khusus (KST) pimpinan Westerling, sang prajurit muda itu dikisahkan merupakan anggota dari kesatuan militer Belanda yang memiliki tanda pengenal “sepatu yang menganga”. Apakah simbol tersebut hanya fiksi belaka?
- Pangeran Haryasudirja Hampir Mati Ditembak Jepang
UDARA Bandung pagi itu masih terasa segar untuk memulai aktivitas. Namun, lima mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Bandung (kini ITB) sudah berkumpul di depan laboratorium hidrolik kampus. Kelimanya berturut-turut bernama Kadirman, Haryasudirja, Kamin, Ruhadi, dan Hartoyo. Rentang usia mereka 19-21 tahun. Salah satu dari mereka, yaitu Haryasudirja, merupakan pangeran Kadipaten Pakualaman bergelar lengkap Kanjeng Pangeran Haryo Petrus Kanisius Haryasudirja Sasraningrat. “Sambil berbincang-bincang, mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, seperti bensin, kondisi kendaraan berupa sedan hasil curian dari tentara Jepang dan senjata-senjata yang akan dibawa serta,” seperti terkisah dalam biografi Prof. Dr. Ir. P.K. Haryasudirja: Tokoh Pejuang Kemerdekaan, Pembangunan dan Pendidikan yang disusun J. Pamudji Suptandar, dkk. Pada pukul 09.00 pagi 12 Oktober 1945, Haryasudirja dan kawan-kawan berangkat meninggalkan kampus menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Misi mereka mencari senjata guna membantu perjuangan rekan-rekannya di Bandung.Modal utama mereka nyali dan nekat saja. Tanpa bekal pakaian, makanan, dan minuman. Uang pun hanya secukupnya. Pokoknya bila ketemu balatentara Jepang di manapun, rampas senjata mereka, untuk mempertahankan kemerdekaan. Begitulah rencana anak-anak muda revolusioner itu. Dalam mobil sudah siap alat-alat tempur berupagranat, pistol, mitraliur, senjata laras panjang, dan amunisi yang disimpan rapi di bawah jok.





















