Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cinta Mati Bupati Madiun
BUCIN (budak cinta) menjadi istilah populer kalangan milenial dan generasi Z untuk menggambarkan sesorang yang sangat mencintai pasangannya. Orang-orang yang tidak rela ditinggal pasangannya sering disebut bucin. Bucin merupakan orang yang memiliki rasa cinta mendalam kepada pasangan atau orang yang didambakannya. Kondisi seperti itu pernah dialami Bupati Madiun periode 1796-1810 Raden Ronggo Prawirodirjo III saat ditinggalkan pasangannya. Ia amat merasa kehilangan hingga membuatnya terpuruk. Raden Ronggo memiliki seorang istri bernama Gusti Bendara Raden Ayu (RA) Maduretno yang biasa dipanggil Raden Ayu Ontowiryo. RA Ontowirjo merupakan putri ketiga Hamengkubuwono II dari istri Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton. RA Ontowiryo dianggap sebagai putri tercantik di antara tiga putri sultan kedua Yogyakarta tersebut.
- Menilik Kembali Keterkaitan Belanda dalam Peristiwa Madiun
KETIKA Madiun membara akibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) medio September 1948, Belanda menawarkan bantuan pasukan untuk upaya pasifikasi. Namun benarkah Belanda punya peran, bahkan ikut mendalanginya sebagaimana yang diindikasikan Presiden Prabowo Subianto? Presiden Prabowo mengungkitnya dalam pidatonya di sela Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/5/2025). Ia menyampaikannya dalam konteks pembicaraan tantangan menghadapi globalisasi dan berkaca bahwa sejak awal kemerdekaan pun upaya pembangunan Indonesia selalu diganggu campur tangan pihak asing. “Mungkin 25-28 tahun kita merdeka tidak pernah berhenti dari campur tangan asing. Peristiwa Madiun itu seolah-olah komunis, ternyata yang membawa (Munawar) Musso, Semaoen, semua itu adalah Belanda. Difasilitasi oleh Belanda. Belanda kuasai Batavia, semua lapangan terbang dikuasai. Bagaimana dia bisa sampai ke Madiun?” kata Prabowo dalam pidatonya yang diunggah akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin (5/5/2025).
- Belanda dan Amerika Serikat dalam Peristiwa Madiun
PIDATO Presiden Prabowo Subianto pada sidang kabinet paripurna beberapa waktu lalu mencuri perhatian publik. Alih-alih menyebut kelompok komunis, Prabowo justru mengatakan bahwa Peristiwa Madiun tahun 1948 atau Madiun Affair didalangi oleh pihak Belanda. “Peristiwa Madiun, seolah-olah itu komunis, ternyata yang membawa Musso, Semaoen, semua itu adalah Belanda, difasilitasi oleh Belanda,” jelas Prabowo dalam pidatonya di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/5/2025). Peristiwa Madiun yang terjadi pada 18 September 1948 kerap menjadi topik diskusi yang memicu kontroversi. Ada beberapa faktor pemicu meletusnya Peristiwa Madiun, mulai dari kembalinya Musso, pentolan PKI yang puluhan tahun mengembara di Eropa, hingga permasalahan di dalam negeri terkait hasil Perundingan Renville yang merugikan posisi Republik di tengah kemelut dengan Belanda sehingga berujung pada jatuhnya Kabinet Amir Sjarifoeddin, tokoh sayap kiri yang terlibat dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR), serta rasionalisasi TNI pada masa pemerintahan Mohammad Hatta.
- Jalan Baru Musso dalam Peristiwa Madiun
PADA 11 Agustus 1948, Soeripno tiba di Yogyakarta untuk menyerahkan teks perjanjian dan menjelaskan tentang perjanjian yang dilakukannya dengan Uni Soviet seputar tukar-menukar konsul. Bersamanya seorang sekretaris bernama Soeparto, yang tak lain adalah tokoh gaek Partai Komunis Indonesia (PKI): Musso. Keduanya bertemu di Praha pada Maret 1948. Musso meminta bantuan kepada Soeripno agar bisa pulang ke Indonesia karena dia membawa misi baru dari Moskow. Soeripno dan Musso diterima Sukarno. Pertemuan sahabat lama yang mengharukan. Setelah cukup bersenda-gurau, Musso dan Soeripno minta diri. Sebelum berpisah, Sukarno minta supaya Musso membantu memperkuat negara dan melancarkan revolusi. Musso menjawab: “Itu memang kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen! (Saya datang di sini untuk menciptakan ketertiban).” Menurut Harry A. Poeze dalam buku jilid keempat dari seri Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia ini, “kalimat terakhir itu yang diucapkan dalam bahasa Belanda mengandung sasmita buruk.”
- Legenda Shachihoko Sang Maskot Asian Games
TUBUHNYA berupa humanoid api berwarna merah dan putih, sepasang mata besarnya bersolek kumadori dengan bentuk telinga menyerupai makhluk mitos Shachihoko. “Honohon” nama sosok itu, kata bahasa Jepang untuk menyebut api. Figur itulah yang jadi maskot resmi Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Hajatan olahraga terbesar Asia tahun ini, Asian Games Aichi-Nagoya 2026, akhirnya digelar mulai Sabtu (19/9/2026) besok, berlangsung sampai 4 Oktober. Ini kali ketiga Jepang jadi tuan rumah setelah Asian Games Tokyo 1958 dan Asian Games Hiroshima 1994. Seperti sebelumnya, Prefektur Aichi dan kota Nagoya juga akan kembali jadi tuan rumah Asian Para Games yang dihelat 18-24 Oktober 2026. Sebagaimana di gelaran sebelumnya, Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 juga punya maskot mirip, yakni berupa humanoid air berwarna biru dan putih dengan mata besar dan telinga yang juga menyerupai Shachihoko. Namanya Uzumin, yang berarti pusaran air musim semi.
- Identitas Brontë Bersaudara
JAUH sebelum novel pertamanya terbit, Charlotte Brontë pernah mengirimkan surat dan puisi-puisi karyanya kepada penyair terkemuka Robert Southey pada 29 Desember 1836. Dia berharap memperoleh masukan. Balasan surat tiba namun isinya mengejutkan. Kendati dinilai memiliki “kemampuan berpuisi”, Charlotte diminta untuk tidak melanjutkan niatnya untuk mengejar karier di bidang sastra. “Sastra tidak bisa menjadi fokus utama di dalam hidup seorang perempuan, dan memang seharusnya tidak demikian,” tulis Southey dalam surat balasannya kepada Charlotte tertanggal 12 Maret 1837, dikutip Elizabeth Gaskell dalam The Life of Charlotte Brontë. Jawaban itu terdengar kejam. Tapi begitulah sudut pandang yang dominan dan dipengaruhi oleh nilai-nilai era Victorian.
- Kekalahan Pasukan Diponegoro dalam Pertempuran Plered
OPERASI pengejaran Pangeran Diponegoro diteruskan ke wilayah Yogyakarta Utara. Mayor Jenderal Joseph van Geen mengerahkan kekuatan dua kolone. Masing-masing pasukan dipimpin oleh Kolonel Frans David Cochius dan Kolonel Bernard Sollewijn. Kolonel Cochius, perwira zeni paling senior, mendapatkan informasi adanya pemusatan pasukan Diponegoro di Plered, bekas keraton Sunan Amangkurat I. “Benteng Plered dengan tinggi lebih dari 20 kaki dan tembok tebal merupakan tempat pertahanan yang bagus. Benteng ini dipertahankan oleh 800-1000 orang yang dipimpin oleh Tumenggung Kerto Pengalasan,” tulis sejarawan Saleh Asʼad Djamhari dalam Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel Benteng 1827–1830.
- Kado Istimewa Pernikahan
KGPAA Mangkunegara VII ingin memberikan kado istimewa untuk pernikahan Putri Juliana, anak Ratu Belanda Wilhelmina, dengan Pangeran Bernhard. Sementara raja-raja lain di Nusantara mempersembahkan permata dan benda-benda berharga, dia memilih pentas tari. Kado itu semakin istimewa karena putrinya yang cantik, Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemo Wardhani atau kerap disapa Gusti Nurul, bakal jadi penarinya. “Romo (bapak), mempunyai gagasan dalam tarianku,” ujar Gusti Nurul, lahir pada 17 September 1921, dalam Lembar Kenangan Gusti Noeroel. Pementasan tari akan diiringi gamelan Kyai Kanyut Mesem yang dimainkan di Pura Mangkunagaran, Solo. Alunan gamelan dipancarkan secara langsung melalui stasiun radio Solosche Radio Vereeniging (SRV) ke Negeri Belanda. Tarian yang dipilih Sari Tunggal, “tari dari Keraton Yogyakarta yang selama ini telah kupelajari dari kakak ibuku, Pangeran Tedjo Koesoemo,” kata Gusti Nurul.
- Perwamu dari Politik Hingga Sosial
ISTRI-istri dari anggota terkemuka Murba tak mau tinggal diam. Pada 17 September 1950, mereka memprakarsai terbentuknya Persatuan Wanita Murba (Perwamu). Ny. Maroeto Nitimihardjo terpilih sebagai ketua. Selain mendukung kegiatan Partai Murba, Perwamu bergerak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Menurut sejarawan Harry A. Poeze, Perwamu tak punya kantor sendiri. Di kantor Partai Murba di Jalan Tanah Abang No. 85, ada dua kamar disediakan untuk Perwamu, dan di sanalah para pemimpin Perwamu bersidang setiap bulan. Dalam The Women’s Movement in Postcolonial Indonesia, Elizabeth Martyn menyebut Perwamu bergiat dalam sektor pendidikan, sosial, dan ekonomi. Aktivitasnya termasuk indoktrinasi dan pendidikan politik tentang “masalah-masalah yang berhubungan dengan perjuangan rakyat” dan pendidikan umum untuk kaum perempuan. Untuk itu, mereka mendirikan sekolah dan taman bacaan.
- Cerita di Balik Sinetron Si Doel Anak Sekolahan
MESKI sudah lulus kuliah dan meraih gelar insinyur, Doel (diperankan Rano Karno) tak kunjung mendapat pekerjaan. Sabeni (Benyamin S), ayah Doel, gelisah bukan kepalang lantaran sudah menghabiskan banyak harta untuk menyekolahkan Doel. Leila (Aminah Cendrakasih) lantas menyarankan Sabeni berziarah ke makam leluhur. Begitulah tradisi Betawi kaulan, yaitu janji untuk menunaikan nazar atas berkah yang dirindukan. Sabeni setuju usulan istrinya. Keesokan hari, oplet, kendaraan andalan keluarga Sabeni, mengantar rombongan ke Senayan. Mereka antara lain Sabeni, Leila, Engkong Ali (mertua Sabeni diperankan Haji Tile), Mandra (adik ipar Sabeni), Doel, dan Atun (putri bungsu Sabeni diperankan Suti Karno). Mandra bahkan membawa teko berisi kopi sebagai suguhan saat ziarah. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Stadion Istora Senayan (kini Gelora Bung Karno). Lanjut kemudian ke lapangan golf Senayan, tempat ayah Sabeni dimakamkan. Setibanya di Stadion Senayan, Sabeni sekeluarga menggelar tikar. Sabeni lantas berkisah di tempat itulah dirinya dilahirkan. Di sudut sana dia bilang dulu ada pohon gatet. Di sudut lain ada tempat jamban. Tiba-tiba, seorang pelatih sepakbola datang mengusir mereka karena lapangan sedang dipakai untuk latihan.
- Batalyon Jawa yang Merepotkan Tuan Tanah di Toraja
BATALYON Andjing Laut melawan tentara Belanda pada masa revolusi kemerdekaan di Jawa Timur. Komandannya Mayor Ernest Julius Magenda (1919–1972), mantan perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Anak buahnya di antaranya Bungkus, Djaharup, dan Dul Arif. Bungkus menyebut Magenda berasal dari Sangihe-Talaud (Sangir, Sulawesi Utara). “Ia terlihat seperti peranakan Portugis atau Belanda. [Posturnya] Cukup tinggi,” kata Bungkus kepada Ben Anderson dalam “The World of Sergeant-Major Bungkus”, di jurnal Indonesia, No. 78, Oktober 2004. Bungkus menyebut 85 persen personel Batalyon Andjing Laut adalah orang Madura. Andjing Laut pernah dianggap bagian dari bekas Angkatan Laut yang masuk Brigade 18 dari Tentara dan Teritorium Brawijaya, Jawa Timur. Batalyon ini terlibat dalam penumpasan pemberontakan di Indonesia Timur.
- Persahabatan Petinju Jerman dan Afro Amerika
SELEMBAR kertas berisi alamat itu dilihatnya kembali sesaat keluar dari mobil. Kegugupan mulai muncul di benaknya saat melangkah ke pintu di hadapannya. Bel di pintu rumah yang dikunjunginya pun beberapakali dipencetnya untuk memanggil tuan rumah. Sembari memencet bel, ia terus memainkan topi fedoranya dari tangan kiri ke kanan dan sebaliknya. Kegugupannya belum pergi. Pada hari di tahun 1954 itu, Max Schmeling, pria tadi, sengaja berperjalanan dari Jerman ke Chicago, Amerika Serikat. Dia ingin melakukan klarifikasi. Seorang perempuan lalu muncul dari balik pintu. Schmeling menuturkan niat kedatangannya untuk bersua sang tuan rumah. Namun, kata si perempuan, sang tuan rumah tengah bermain golf. Seraya mempersilakan Schmeling menunggu di dalam, perempuan itu menyampaikan pesan ke klub golf bahwa di rumah sedang ada tamu.




















