Hasil pencarian
Cari di situs ini
10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ganefo, Sukarno’s Attempt to Challenge the Olympics
JAKARTA was brimming with a festive mood. Many people had been flocking to the Gelora Bung Karno Main Stadium since morning, passing Jalan Sudirman that was heavily decorated with hundreds of banners and red-and-white flags. Vehicles flooded the road that was jam-packed with enthusiastic people. The admission was free, so no one wanted to miss the rare opportunity. At three in the afternoon, the stadium was already filled with 100,000 spectators, while many others were swarming on the other side of the gate. An hour later, President Sukarno arrived by helicopter. The opening ceremony for The Games of the New Emerging Forces (Ganefo), the grand sporting event subsequently began. One by one the contingents of each country paraded and marched while being greeted by the excited spectators. An Indonesian athlete, Harun Al-Rasjid, ran with a torch to light the Ganefo cauldron. The blazing flame was then accompanied by the raising of the Ganefo flag and the chanting of the Ganefo hymn. The ceremonial event felt familiar, yet at the same time had great significance for the participants.
- Totalitas Negara dalam Pesta Olahraga Ganefo
“ON Ward! No Retreat!” Terjang Terus! Pantang Mundur! Demikian semboyan Ganefo (Game of New Emerging Forces) yang begitu populer pada masanya. Tagline itu terus bergaung selama Ganefo diselenggarakan. Ganefo merupakan pesta olahraga terbesar yang pernah diselenggarakan Indonesia tahun 1963. Perhelatan Ganefo, menurut Russel Field, sejarawan Universitas Manitoba, Kanada, sarat muatan politik. Ganefo jadi momentum bagi Indonesia untuk unjuk diri sebagai pelopor kebangkitan kekuatan baru (New Emerging Forces). Saat itu, Presiden Sukarno memandang, semangat kekuatan baru ini dapat ditransformasikan ke dalam sebuah kompetisi olahraga. Tak ayal, hal ini memantik perhatian serius dari badan olahraga internasional. “Penyelenggaraan Ganefo menuai reaksi dari badan olahraga dunia. Komite Olimpiade Internasional, yang diwakili presidennya Avery Brundage, misalnya, menganggap Ganefo bertentangan dengan azas olahraga. Indonesia melalui Ganefo berupaya mencampuradukkan olahraga dengan politik,” ujar Russel Field dalam diskusi publik “Ganefo: Politik dan Olahraga dalam sejarah di Indonesia” di Erasmuis Huis, Kuningan, Jakarta Selatan, 22 Februari 2017.
- Ganefo Mengganyang Olimpiade
BARU kali ini, atlet-atlet Indonesia bisa berlaga di ajang pesta olahraga sedunia Olimpiade di Tokyo. Jalan menuju laga ini juga berliku, mereka harus melewati proses kualifikasi di tengah kecamuk pandemi Covid-19 belum usai. Gelaran ini juga mengalami penundaan selama satu tahun, dari rencana awal berlangsung pada 2020. Pada gelaran Olimpiade Tokyo 1964, atlet-atlet Indonesia tak bisa berlaga di pesta olahraga sejagat ini gegara sanksi yang dijatuhkan oleh IOC (International of Olympic Committee). Sanksi ini dijatuhkan karena pada tahun sebelumnya, tepatnya di bulan November 1963, Indonesia menggelar Ganefo (Games of New Emerging Force) yang diikuti oleh 43 negara. Ganefo yang kerap disebut sebagai Olimpiade tandingan ini berlangsung saat gelora anti nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) memuncak di Indonesia. Selain memanfaatkan keberhasilan Indonesia menggelar Asian Games 1962 di Jakarta, gelaran ini juga menjadi ajang artikulasi kepemimpinan Indonesia dalam proyek dekolonisasi Asia-Afrika yang titik apinya mulai nyala dari penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika.
- Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung
SEJARAH militer Indonesia tak pernah sepi dari insiden bentrokan antara sesama kesatuan. Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus) pernah bentrok dengan kesatuan elite Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL, kini Marinir) pada 1964 di Kwini dan Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara (PGT) pada 1965 di Halim Perdanakusumah. Namun, tak banyak orang tahu bahwa RPKAD pun pernah bentrok dengan Menpor (Resimen Pelopor, sekarang Brimob). Dalam Resimen Pelopor, Pasukan Elit yang Terlupakan, Anton Agus Setiyawan dan Andi M. Darlis mengungkap bentrokan yang terjadi pada pertengahan 1968 itu. Insiden diawali oleh datangnya seorang sopir oplet ke asrama Menpor di Kelapa Dua, Depok pada suatu siang. Dia menyerahkan jasad seorang prajurit Menpor. Sebelum pingsan, sopir itu mengatakan kepada petugas pos jaga bahwa prajurit Menpor itu tewas ditembak dari jarak dekat oleh personel RPKAD.
- Secuil Kisah Penerjunan Pasukan Komando
LETNAN II Benny Moerdani mesti menghadapi perjudian nasib di tengah gelap langit Pekanbaru pada dini hari 12 Maret 1958. Dalam pembukaan Operasi Tegas untuk merebut Pangkalan Udara Simpang Tiga yang dikuasai pasukan PRRI itu, dia mesti memimpin terjun pasukan Kompi A RPKAD (kini Kopassus). Lucunya, hanya Benny seorang yang belum pernah merasakan terjun. Benny tak sempat mendapat latihan terjun payung sebab saat rekan-rekannya mendapat latihan terjun di Margahayu, Jawa Barat, dia sakit. Sebulan terbaring di rumahsakit membuatnya kehilangan kesempatan meraih kualifikasi para. Maka kerisauan membalut hatinya begitu pesawat C-47 Skytrain mengudara mengangkut dia dan pasukannya menuju Pekanbaru. Briefing singkat oleh wakilnya, Letnan II Soeweno, di pinggir landasan sebelum terbang menjadi satu-satunya bekal Benny untuk terjun.
- Hikayat Pasukan Komando Indonesia
DI PELABUHAN Ratu, latihan penyerbuan dari laut itu berlangsung tegang. Dalam skenario, para siswa peserta pelatihan dengan menggunakan beberapa perahu karet akan melancarkan penyerangan ke arah sebuah lapangan udara di muara Sungai Cimandiri. Namun saat tiba di tengah lautan, mendadak mereka disiram dengan peluru-peluru senapan mesin. Siapa gerangan yang melakukan manuver berbahaya tersebut? Tak lain dan tak bukan, dia adalah Mayor Mochammad Idjon Djanbi, instruktur utama mereka. Yang mengagumkan, kendati peluru-peluru tajam itu ditembakan dari darat ke laut dalam situasi gelap gulita namun tetap terukur sehingga tak seorang prajurit pun terluka. “Kami hanya menyaksikan peluru-peluru itu jatuh tak lebih satu meter jaraknya dari perahu kami” kenang Marzoeki Soelaiman (89), salah seorang prajurit yang ikut dalam latihan tersebut. Selain penyerangan dari laut, sebelumnya para siswa pelatihan pasukan khusus itu dibekali juga dengan pengetahuan survival, perang hutan, membaca gelombang, belajar mendayung secara efektif dan melancarkan penyerangan senyap.
- Konco Pendiri Kopassus Kombatan Perang Dunia II
ANAK juragan dari Arnhem ini memlih jalan berbeda. Usai bersekolah di sekolah menengah Hogere Burger School (HBS), jiwa mudanya menuntunnya berpetualang ala film laga. Maka mendaftarlah dia ke Legion d’Estranger alias Legiun Asing Prancis di Afrika Utara. Dari rumah yang nyaman dia harus hidup di barak dan tempat latihan. Waktu bersantainya tergerus. Latihan keras dengan disiplin dan kekerasan jadi pengalaman hariannya. Semua itu dijalaninya agar siap ketika mendapat giliran jaga malam di bawah langit berbintang Afrika Utara. Hidupnya dilingkupi bahaya, apalagi ketika Perang Dunia pecah. “Dialah Légionnaire Michels, yang melindungi mundurnya Pasukan Ekspedisi Inggris dengan rentetan peluru dari senapan mesinnya. Dia adalah salah satu yang terakhir naik ke pesawat,” tulis Arnhemse Courant edisi 24 Maret 1949 tentang Robert Cornelis Michels yang bernama alias Bob (1917-1988).
- Agus Hernoto, Legenda Kopassus
APRIL 1962, bertepatan dengan Hari Kopassus. Pasukan gabungan, 30 prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (kemudian menjadi Kopassus), 18 anggota Pasukan Gerak Tjepat TNI AU, dan dua prajurit Zeni, diterjunkan di sebelah utara Fakfak, Irian Barat. Operasi Banteng I ini dipimpin oleh anggota RPKAD, Letda Agus Hernoto. Agus bergabung dengan RPKAD pada awal tahun 1956. Dia menerima pelatihan langsung dari Mayor Idjon Djanbi. Mantan anggota Korps Speciale Troepen bernama Rokus Bernardus Visser itu ditunjuk sebagai komandan RPKAD pertama. Setelah digembleng untuk menjadi pasukan elite, Agus dan pasukan RPKAD diterjunkan menumpas DI/TII di Jawa Barat. Agus kemudian membuat geger kompleks asrama RPKAD di Batujajar, Jawa Barat. Dia akan menangkap Komandan RPKAD, Mayor Djaelani, karena terlibat dalam Gerakan Zulkifli Lubis. Gerakan yang akan menculik KSAD Kolonel A.H. Nasution itu gagal.
- Sniper Kopassus Menembaki Orang-orang di Lapangan Terbang Timika Papua
PADA 3 November 2015, Serda Y.H, anggota Divisi I Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), menembak seorang pengendara ojek di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Penyebabnya, ojek yang menyerempet mobilnya tidak berhenti untuk meminta maaf. Penembakan oleh oknum tentara sering terjadi. Korbannya, bisa sipil maupun militer, seperti terjadi pada 1996. Pada 15 April 1996, Letnan Sanurip, seorang sniper atau penembak jitu Kopassus, menembaki orang-orang di lapangan terbang Timika, Papua. Sepuluh tentara tewas, empat warga sipil dan satu orang pilot maskapai Twin Otter Airfast, berpaspor Selandia Baru. Sepuluh tentara dan tiga warga sipil luka-luka. Brigadir Jenderal Amir Syarifudin, Kepala Pusat Penerangan ABRI, menceritakan kejadian itu bahwa Letnan Sanurip bangun pagi hari di dalam hanggar. Karena berisik (mungkin karena gangguan kejiwaan), dia ditegur oleh rekannya. Tidak terima ditegur, dia langsung memberondong rekan-rekannya dengan senapan yang dibawanya. “Setelah menembaki rekan-rekanya, dia berlari keluar dari hanggar dan menembaki siapa saja yang ada di situ,” kata Amir, dikutip Kompas, 16 April 1996.
- Aksi Ma Lin di Negeri Tiongkok
PADA musim gugur 1920, Henk Sneevliet bertolak dari Belanda ke Tiongkok di bawah nama samaran Maring. Berbekal sangu 4000 pounds dan surat tugas sebagai perwakilan Executive Committee of the Communist International (ECCI) di Timur, dia membawa dua misi: membantu pengembangan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan menjajaki kemungkinan kerja sama antara PKT dengan nasionalis Kuomintang. Dalam perjalanannya, Sneevliet singgah di Singapura pada Mei 1921 untuk menemui Adolf Baars dan Darsono, kawan seiring membangun gerakan komunis di Hindia Belanda. Mereka dibuang oleh pemerintah kolonial dan sedang dalam perjalanannya menuju Moskow untuk menghadiri kongres Komintern ketiga. Ketiganya melanjutkan perjalanan bersama dan berpisah setibanya di Shanghai awal Juni 1921. Baars dan Darsono ke Moskow, sedangkan Sneevliet tetap tinggal di Shanghai. Di kota pelabuhan itu Sneevliet tetap menyembuyikan identitasnya dengan nama Ma Lin (ejaan Tiongkok untuk Maring) dan keberadaannya hanya diketahui sedikit kalangan. “Tidak ada orang yang mengetahui dia pergi ke Tiongkok. Apabila diketahui, dia dapat diusir dengan segera. Pertemuannya dengan tokoh-tokoh komunis Tiongkok diadakan di lokasi rahasia,” kata Marien van der Heijden, peneliti International Institute for Social History, Amsterdam, Belanda, seperti dikutip rnw.nl, 29 Juli 2009.
- Banjiha, Potret Kemiskinan Korea dalam Parasite
LEMBAB, pengap, lusuh, dan suram. Di banjiha, ruang semi bawah tanah berukuran kecil, seperti itulah keluarga Kim hidup di sebuah komplek apartemen padat di Seoul, Korea Selatan. Mereka hidup pas-pasan dengan mengandalkan nafkah ayah sebagai pelipat kardus pizza part-time. Kakak-beradik dari keluarga Kim, yakni Ki-jeong (diperankan Park So-dam) dan Ki-woo (Choi Woo-shik), sampai harus berebut ruang sempit di kamar mandi yang klosetnya lebih tinggi dari lantai untuk mendapatkan sinyal telepon. Keluarga Kim jelas mendambakan punya kehidupan di atas kelayakan. Gambaran kemiskinan di negeri terkaya ke-12 dunia (per 2019) itulah yang ditonjolkan sutradara Bong Joon-ho dalam film black comedy berjudul Parasite. Film itu mencetak sejarah di Academy Awards ke-92 di Dolby Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (9/2/2020) malam waktu setempat. Dari dari enam nominasi, Parasite menggondol empat Piala Oscars. Salah satunya, kategori Best Picture alias film terbaik. Parasite menjadi film Asia dan berbahasa asing pertama yang menang kategori prestisius itu.
- Habibie, Menhankam, dan Tank Korea Selatan
SUATU hari di tahun 1995, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) B.J. Habibie mengajak Letnan Jenderal (Purn.) Sintong Panjaitan berdiskusi. Dia mengeluhkan soal seringnya Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam) Edi Sudradjat absen dalam berbagai rapat mengenai “sistem senjata Hankam” yang dipimpinnya. “Padahal ada yang ingin sekali saya diskusikan dengan Pak Edi mengenai rencana pembelian tank buat ABRI,” ujar Habibie kepada staf ahli Menristek itu. Sebagai orang yang merasa dekat dengan kedua lelaki yang secara politik bersebrangan itu, beberapa hari kemudian Sintong berinsiatif menemui Edi yang tak lain adalah seniornya di ABRI tersebut. Dia mendatangi Kantor Departemen Hankam dan menyatakan kekecewaan dirinya secara langsung kepada Menhankam.





















