Hasil pencarian
Cari di situs ini
10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jejak Samar di Kota Merah
MEI 1913, kesempatan itu datang. Hanya tiga bulan setelah tiba di Hindia Belanda, dan sempat bekerja di Surabaya sebagai staf editor Soerabajaasch Handelsblad, Henk Sneevliet hijrah ke Semarang. Ia menyambut tawaran yang lebih menarik, menggantikan DMG Koch sebagai sekretaris Semarang Handelsvereeniging. Bagi Sneevliet, kepindahan ini punya arti penting. Bukan soal gaji besar, lebih dari itu, keinginan menemukan suasana yang cocok bagi aktivitas pergerakan. Merujuk Ruth T. McVey, Semarang pada masa itu tumbuh menjadi pusat kepentingan komersial orang-orang Eropa yang hendak membangun pasar di Jawa. Kota ini tengah membentuk dirinya menjadi enclave industri besar yang menyerap banyak tenaga kerja dari wilayah hinterland. Keberadaan kelas buruh menciptakan suasana revolusioner lebih kental dari kota-kota besar lain di Hindia Belanda. Sejarah mencatat, selama berada di Semarang, anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda (SDAP) itu aktif melakukan kerja-kerja revolusioner: menyokong aktivitas Serikat Pekerja Kereta Api dan Trem (VSTP), mendirikan Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda (ISDV), memerahkan Angkatan Laut dan tentara Belanda, serta menyusupkan paham marxisme di kalangan aktivis pergerakan nasional. Ikhtiar Sneevliet melahirkan manusia-manusia radikal seperti Semaoen, Darsono, dan Mas Marco Kartodikromo yang gencar melakukan perlawanan politik terhadap pemerintah kolonial.
- Kisah Semaoen dan Suratnya untuk Komintern
PADA 8 Mei 1923 pemerintah kolonial menangkap Semaun, tokoh PKI, karena dituduh membuat onar Hindia Belanda. Ia memimpin pemogokan buruh kereta api di Semarang yang juga dilakukan oleh buruh kereta api di Surabaya. Pemogokan tersebut jadi alasan kuat bagi pemerintah kolonial untuk mengasingkan Semaun keluar dari Hindia Belanda. Dengan menggunakan hak untuk mengusir orang yang dianggap berbahaya (exorbitante rechten), gubernur jenderal Hindia Belanda memerintahkan Semaun meninggalkan Hindia Belanda dan tiba di Belanda pada 23 September 1923. Menurut sejarawan Harry Poeze, tiga hari setelah kedatangannya di Amsterdam, sejumlah orang menyelenggarakan rapat penyambutan yang diadakan untuknya di gedung konser (concertgebouw) Amsterdam. Selama dia berada di Eropa, Semaoen “memperlihatkan kegiatan yang luar biasa dan kegiatan itu diarahkan ke berbagai jurusan,” tulis Harry Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950.
- Langkah Pemuda dari Rotterdam
HENK Sneevliet baru menginjak usia tiga tahun ketika ibunya, Hendrika Johanna Mackelenbergh meninggal dunia karena sakit paru-paru kronis. Suaminya, Antonie Sneevliet, pembuat cerutu di Rotterdam yang berpenghasilan minim tak mampu membiayai perawatan terbaik bagi istrinya. Nyawa Hendrika tak tertolong lagi. Dia meninggalkan dua anak: Henk dan adiknya yang masih kecil, Christina. Henk sebenarnya anak kedua. Lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Dia punya abang yang meninggal saat masih kecil, juga karena penyakit paru-paru. Ellen Santen, cucu tiri Henk dari istri keempatnya, Mien Draaijer, mengisahkan keluarga Antonie hidup serba kekurangan di tengah merebaknya wabah TBC. “Warga Belanda kelas bawah waktu itu banyak menderita TBC. Mereka hidup miskin dan Henk dibesarkan dalam keadaan demikian,” ujar Ellen kepada Historia saat ditemui di rumahnya di bilangan Nieuwe Prinsengracht, Amsterdam, pertengahan April yang lalu. Sepeninggal istrinya, Antonie membawa Henk dan Christina dari Rotterdam ke rumah ibunya di s-Hertogenbosch, sebuah kota kecil di sebelah selatan Belanda. Sementara kedua anaknya dititipkan di rumah ibunya, dia bekerja sebagai penjaga penjara di Roermond, 90 kilometer ke selatan s-Hertogenbosch. Ketika menikah lagi, Henk dan Christina diboyong ke Roermond. Namun Henk tak betah tinggal dengan ibu tirinya dan memilih pulang ke rumah neneknya di s-Hertogenbosch. Dari pernikahan keduanya, Antonie punya dua anak.
- Tarumanagara Through Wangsakerta and Chinese Records
The origins of Tarumanagara as the first kingdom on the island of Java are still debated by experts and historians. The consensus is that Tarumanagara existed for no more than three centuries. However, there are still differing accounts of its collapse. Various historical sources mention that Tarumanagara existed from the 4th to the 7th century AD. From archaeological findings in the form of seven inscriptions, only one ruler's name can be proven with certainty: King Purnawarman. One popular manuscript that tells the story of the origins and collapse of Tarumanagara is Wangsakerta. The Wangsakerta manuscript is a collection of manuscripts compiled by a committee led by Prince Wangsakerta on the orders of Panembahan Girilaya, Sultan of Cirebon.
- Panggung Sejarah Henk Sneevliet
PADA buku-buku sejarah di Indonesia, nama Henk Sneevliet selalu disebut dalam sederet kalimat saja: Henk Sneevliet adalah orang pertama yang membawa ajaran komunisme ke Hindia Belanda (Indonesia). Selebihnya sudah bisa ditebak: komunisme adalah momok yang menakutkan sehingga upaya untuk menguak perannya berhenti seketika. Versi resmi kerap menyebut sosok inilah yang merusak negeri ini; seorang kiri dan … asing pula, dengan menggunakan cara-cara kotor: menyusup dan memecah-belah Sarekat Islam demi menarik massa ke organisasi komunis. Padahal saat itu bukan hal aneh keanggotaan ganda dalam organisasi. Situasi sosial-politik juga menentukan pertarungan ide dan gagasan. Sneevliet, orang Belanda –bukan Soviet atau China– yang memperkenalkan komunisme di Indonesia, ternyata memang punya peran penting dalam sejarah di Indonesia. Dia memang berkulit putih, orang Belanda totok kelahiran Rotterdam, tapi ketika berada di Hindia Belanda sejak 1913 sampai 1918, dia justru menjadi advokat terdepan dalam membela rakyat. Sepak terjang Sneevliet mencuat setelah ikut mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV) di Surabaya, yang setelah mengalami perpecahan internal berubah menjadi PKI, organisasi komunis pertama di Asia. Komunisme, seperti ideologi lainnya, memberi warna dalam perjalanan sejarah Indonesia. Tak mungkin dihapuskan. Begitu juga Sneevliet. Mas Marco Kartodikromo, jurnalis bumiputra terkemuka saat itu, menulis bahwa rakyat jajahan seharusnya malu kepada Sneevliet. “Berapa orang bangsa kita yang berani membela kepada bangsa kita seperti Sneevliet yang dibuang lantaran membela kita orang itu? Apakah pemimpin pergerakan kita juga berani dibuang?” kata Marco dalam tulisannya di Sinar Hindia , 10 Desember 1918, menggugat pembuangan Sneevliet keluar Hindia Belanda. Sneevliet akhirnya memang dibuang pada 1918. Dia dianggap menghasut rakyat Hindia Belanda untuk melawan pemerintah kolonial. Tapi pembuangan tak menghentikan langkahnya. Dia tercatat sebagai orang yang menggagas kongres pertama Partai Komunis Tiongkok yang dihadiri Mao Zedong sekaligus berperan memperkuat pondasi awal partai itu. Usai tugas dari Tiongkok, dia tak pernah berhenti melawan. Sampai akhirnya senjata serdadu Nazi menuntaskan riwayat hidupnya pada 13 April 1942.* Berikut ini laporan khusus Henk Sneevliet: Langkah Pemuda dari Rotterdam Kerja Revolusioner di Tanah Jajahan Angan-Angan “Kemenangan” Semaoen Anak Didik Sneevliet Jejak Samar di Kota Merah Aksi Ma Lin di Negeri Tiongkok Dari Dalam Rumah Sang Revolusioner “Saya Terperdaya oleh Henk Sneevliet” “Cerita Rumah Tangga dalam Empat Babak” Atas Nama Rakyat Indonesia Perjalanan Terakhir Henk Sneevliet
- PKI Tak Sempat Tua
SEBUAH kado ulang tahun Partai Komunis Indonesia (PKI) ke-45 dipersiapkan Lembaga Sejarah PKI. Bentuknya berupa sebuah buku yang merangkum perjalanan partai tersebut. Konsep penulisannya sudah selesai. Judulnya Sejarah 45 Tahun PKI. Pada 4 Mei 1965, Busjarie Latif, sekretaris Lembaga Sejarah PKI, berkirim surat kepada “kawan-kawan”-nya menyampaikan manuskrip tersebut. Isinya bersumber dari dokumen-dokumen partai, hasil riset kepustakaan, dan bahan-bahan kuliah Akademi Politik Aliarcham. Kepada “kawan-kawan” itu, yang konon berjumlah 35 orang, dia menyampaikan “penentuan diskusi selanjutnya akan kami beritakan lebih lanjut.” Namun diskusi tersebut tak pernah terjadi. Sialnya lagi, lima bulan kemudian pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965, yang disusul pembantaian massal orang komunis, termasuk Busjarie Latif. Sejak itu, segala hal yang berbau komunis dirampas dan dihancurkan, tak terkecuali manuskrip ini.
- Tradisi Pengetahuan yang Digerus Zaman
MASHADI, petani asal Desa Pandansari, Brebes, Jawa Tengah, pusing dan gelisah. Dia mengeluhkan perubahan iklim dan gejala-gejala cuaca ekstrem yang membuatnya kesulitan menentukan waktu menanam bibit. Sejak dulu dia mempraktikkan pranata mangsa, ajaran orangtua dalam hal bercocok-tanam yang tak sebangun dengan penanggalan Masehi. “Tapi sekarang, susah juga ditebak, kapan musim hujan datang,” ujar Mashadi. Mashadi hanya contoh kecil dari banyak petani tradisional yang nasibnya kian sulit akibat perubahan iklim. Perhitungan berdasar pranata mangsa kerap meleset. Sebelumnya, eksistensi pengetahuan tradisional ini juga terpinggirkan oleh kemajuan teknologi pertanian. Rekayasa genetika yang mampu melahirkan bibit-bibit jenis baru, beragam pupuk, serta peralatan modern membuat sistem pranata mangsa seperti tak punya masa depan. Hitung-hitungannya melulu soal produktivitas.
- Mr. Laili Rusad, Diplomat Perempuan Pertama Indonesia
Diplomat perempuan pertama di Indonesia. Menurut Presiden Sukarno, ia tak hanya mewakili negara tetapi juga seluruh perempuan Indonesia.
- Kisah Kang Aeng dan Bung Karno
SUATU pagi di tahun 1920-an, Sukarno mengayuh sepeda tak tentu arah dan tujuan. Hingga tanpa sadar dia sudah ada di pelosok Bandung bagian selatan. Pandangannya membentur sosok petani yang tengah mencangkul sawah. Sukarno menghentikan sepedanya dan mendekati sang petani. Terjadilah dialog yang cukup akrab sebagaimana dikisahkan dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Siapa pemilik tanah yang kau garap ini?” tanya Sukarno. “Saya, Juragan,” jawab sang petani.
- Rumor Doppelgänger Hitler (Bagian II)
RUMOR tentang doppelgänger atau sosok pengganti Adolf Hitler tak hanya muncul ketika pasukan Soviet mencari keberadaan pemimpin Nazi itu setelah menguasai Berlin pada akhir Perang Dunia II. Kabar Hitler memiliki sosok pengganti untuk menyesatkan musuh juga muncul tahun 1930-an. Sebuah surat kabar memuat berita bahwa Hitler memiliki sosok pengganti yang bertugas untuk menggantikannya dalam acara-acara tertentu. Menurut Sven-Felix Kellerhoff dalam artikel “Hatte Hitler Doppelgänger–Oder Nicht?” di WELT, 29 September 2023, taktik itu terbongkar karena sosis. “Semuanya berawal dari Bratwurste (sosis khas Jerman, red.). Makanan itulah yang mengungkap rahasia tersebut –setidaknya menurut South China Morning Post. Surat kabar berbahasa Inggris dari Hong Kong itu pada 18 Januari 1939 memuat berita spektakuler di halaman 14, pojok kanan bawah, dengan judul ‘Hitler Memiliki Kembaran’,” tulis Kellerhoff.
- Habis Sudah Sang Antagonis
PADA 2004, lembaga Frontier Consultant & Riset Jakarta mengadakan survei marketing celebrity image di enam kota besar dengan tiga ribu responden. Juara untuk kategori image antagonis jatuh kepada Torro Margens, aktor senior yang meninggal dunia pada 4 Januari 2019. Ya, karakternya sebagai penjahat yang melekat di benak banyak orang. Torro Margens, bernama asli Sutoro Margono, lahir di Pemalang, Jawa Tengah pada 5 Juli 1950. Sejak kecil dia bercita-cita menjadi aktor dan sutradara. “Saya mulai tertarik dengan dunia seni peran karena kecintaan saya pada fim India, pada waktu kecil. Setiap pulang nonton filmnya, selalu saya menirukan gerak akting pemain India di kaca. Lho kok beda? Kenapa tubuh saya yang kelihatan cuma sebagian? Kenapa nggak seperti di film, seluruh tubuh bisa kelihatan. Berangkat dari keinginan tubuh saya kelihatan di film seperti artis India, akhirnya saya menekuni seni teater,” kata Torro dalam wawancara dengan majalah Film tahun 1993.
- Melengserkan Dekan yang Suka Perempuan
MENTERI Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Peraturan Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi sebagai upaya melindungi korban dan menghukum pelaku pelecehan seksual. Peraturan ini didukung banyak pihak, namun ada yang menolak dengan alasan melegalkan zina. Permendikbudristek itu dikeluarkan setelah terjadi banyak kasus pelecehan seksual di perguruan tinggi yang penyelesaiannya tidak berpihak kepada korban. Bahkan, korban yang berani bersuara diserang balik oleh pelaku. Seperti kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Syafri Harto, dekan FISIP Universitas Riau. Dia melaporkan balik korban, mahasiswi berinisial L, dan akun instagram @komahi-ur yang memposting video pengakuan korban. Dalam sejarah pernah terjadi pemberhentian dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FHIPK) Universitas Indonesia karena perilakunya tidak senonoh. Ini diceritakan oleh Adnan Buyung Nasution (1934–2015), alumni FHIPK yang kemudian menjadi pengacara terkemuka, dalam biografinya, Pergulatan Tanpa Henti: Dirumahkan Soekarno, Dipecat Soeharto.





















