Hasil pencarian
Cari di situs ini
10077 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- 27 Maret 1968: Wilhelmus Zakaria Johannes Menjadi Pahlawan Nasional
HARI ini dalam sejarah, 27 Maret 1968, Prof. dr. Wilhelmus Zakaria Johannes ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 06/TK/1968. Wilhelmus Zakaria Johannes lahir di Termanu, Rote, Nusa Tenggara Timur pada 16 Juli 1895. Dia sepupu Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (pejuang, ilmuwan, guru besar dan rektor UGM) dan paman dari Helmi Johannes (presenter berita dan produser eksekutif VOA Indonesia). Herman Johannes ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2009. WZ Johannes lulus dari School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputra pada 1920. Setahun kemudian dia menjadi dosen di Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) atau Sekolah Dokter Hindia Belanda di Surabaya. Setelah itu, pada 1930 dia bertugas di rumah sakit Muara Aman Bengkulu, Kayu Agung Sumatra Selatan, dan Palembang.
- A.A. Maramis, Pejabat Republik Urusan Candu
JIKA ada pejabat negara yang menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia berkali-kali, maka orang itu ialah Alexander Andries Maramis. Tokoh asal Minahasa tersebut menjabat sebagai bendahara negara sejak 25 September 1945 pada Kabinet Presidensial I. Maramis memangku lagi jabatan itu pada Kabinet Amir Sjarifuddin I (1947), II (1947), dan Kabinet Hatta (1948). Jadi, Maramis menjabat sebagai menteri keuangan sebanyak empat kali. “Dalam jabatan tersebut, Alex Maramis menandatangani uang RI yang pertama. Uang tersebut adalah Oeang Repoeblik Indonesia, yang lebih terkenal dengan ORI,” kata Fendy E.W. Parengkuan dalam biografi A.A. Maramis, SH yang diterbitkan Depdikbud pada 1982. Selain memprakarsai pencetakan ORI, Maramis bertugas mencari dana untuk membiayai angkatan perang Indonesia. Ketika itu, Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan menghadapi Belanda yang menjajah kembali. Sebagai menteri keuangan (menkeu), Maramis mesti mengupayakan sendi-sendi keuangan negara mampu berjalan dengan baik.
- Bisnis Haram Kaum Republik
TAHUN 1948, Letnan Muda Sho Bun Seng adalah anggota telik sandi TNI (Tentara Nasional Indonesia) dari unit Singa Pasar Usang di Padang, Sumatera Barat. Selain memata-matai posisi musuh, Sho juga dikenal sebagai piawai dalam urusan penyelundupan, terutama menyelundupkan candu. “Barang-barang haram itu kami jual dengan harga tinggi di Singapura lalu hasilnya dibelikan senjata dan amunisi,” kenangnya. Selama berlangsung Agresi Militer Belanda II di Sumatera Barat, Sho mengaku aktif ”berniaga” candu. Barang-barang itu didapat rata-rata dari rekan-rekannya sesama gerilyawan seperti Letnan Kolonel Abdul Halim melalui Kompi Bakapak dan Letnan Samik Ibrahim dari Kesatuan Hizbullah.
- Candu untuk Revolusi Indonesia
PERJALANAN kereta api Surakarta-Yogyakarta itu berlangsung lancar. Tak ada gangguan berarti sepanjang rute kecuali para pengungsi yang kadang nekat menyetop kereta api di tengah jalan. Sebelum masuk kota Yogyakarta, tetiba kereta api berhenti di Stasiun Lempuyangan. Letnan Satu Anom (bukan nama sebenarnya) dari Brigade III Kiansantang Divisi Siliwangi lantas turun dan memerintahkan anak buahnya membongkar muatan berupa peti-peti besar. Di dalam stasiun, penjagaan begitu ketat dilakukan oleh pasukan penjemput yang berjumlah satu kompi (sekira 100 orang). Setelah berbicara sebentar dengan Anom dan memperlihatkan surat perintah, tanpa banyak cakap lagi, seorang kapten menyuruh sebagian anak buahnya membawa peti-peti itu ke atas truk yang sudah siap sedia di halaman stasiun. Sebagian lagi nampak masih mempertahankan posisi siaga.
- Belajar dari Dostoevsky
FYODOR Mikhailovich Dostoevsky tengah berbincang dengan saudara perempuan dari istrinya, Anna Grigorievna, yang baru dinikahinya. Tiba-tiba wajahnya berubah pucat. Tubuhnya merosot dari permukaan sofa dan bersender lunglai pada sisi tubuh istrinya. “Tiba-tiba kami mendengar suara tangisan penuh ketakutan, sebuah tangisan tanpa titik kemanusiaan di dalamnya –hampir menyerupai raungan. Tubuh lunglai suami saya semakin tersender pada saya,” tulis Anna, stenograf yang dinikahi Dostoevsky tahun 1867 setelah kematian istri pertama, dalam Anna Dostoevskaya’s Diary in 1867 (1923). Dostoevsky, penulis besar kelahiran Rusia, mengalami serangan epilepsi dan dia tak menutupi kenyataan. Bahkan, dia mencatat rapi berbagai detail serangan epilepsi yang dialaminya dalam buku harian.
- Breaking the Stigma of Epilepsy
IT was almost five o'clock in the morning. Ahmad Sururi, a student at the Vocational School of Pharmacy, woke up and rushed to ablution. The prayer mat was spread out, and he began to pray. When he prostrated, then rose for the second rakat, his eyes widened. His body suddenly felt light, and in seconds, he lost consciousness. Ahmad fell down and fainted for a few minutes. Once he woke up, he stood up and got ready for school, completely forgetting that he was in the middle of praying. At school, Ahmad had many activities which often made him exhausted. His mind was drained, and he fainted several times. Typical fatigue, Ahmad thought. However, his condition worsened over time and it interfered with his activities. He finally went to the hospital, and the doctor diagnosed him with epilepsy symptoms. Knowing Ahmad had epilepsy, his family became protective and forbade him from participating in many activities. Friends began to rarely invite him to activities. Upset by the different treatment, Ahmad was determined to prove that people with epilepsy could undertake normal activities.
- Beraksi Mengatasi Epilepsi
HAMPIR pukul lima pagi. Ahmad Sururi, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi, bangun dan bergegas wudu. Sajadah terhampar. Dia mulai salat. Ketika sujud, lalu bangkit masuk rakaat kedua, pandangannya melamur. Tubuhnya terasa ringan. Kesadarannya hilang. Dan... bluk! Ahmad terjatuh dan pingsan selama beberapa menit. Begitu tersadar, dia berdiri dan bersiap ke sekolah. Lupa bahwa tadi dia sedang salat. Di sekolah, Ahmad punya banyak kegiatan. Dia sering kelelahan. Pikirannya juga terkuras. Dia sempat pingsan beberapa kali. Keletihan biasa, pikir Ahmad. Tapi lama-lama kondisinya memburuk dan mengganggu aktivitasnya. Dia pergi ke rumah sakit. Dokter mengatakan dia terkena gejala epilepsi. Mengetahui Ahmad kena epilepsi, keluarga bersikap protektif dengan melarangnya ikut kegiatan ini-itu. Teman-teman mulai jarang mengajaknya berkegiatan. Kesal menerima perlakuan berbeda, Ahmad bertekad membuktikan penyandang epilepsi bisa beraktivitas normal.
- Kisah Cinta Tragis di Masa Pendudukan Nazi
SELAMA dekade awal abad ke-20, seiring meningkatnya asimilasi Yahudi di Jerman, proporsi orang Yahudi yang menikah dengan non-Yahudi mencapai hampir 50 persen saat Nazi berkuasa. Jumlah ini membuat rezim yang dipimpin Adolf Hitler melakukan tekanan dengan propaganda, pengucilan sosial, hingga memiskinkan orang-orang Jerman yang menikah dengan orang Yahudi. Menurut Nathan Stoltzfus dalam Hitler’s Compromises: Coercion and Consensus in Nazi Germany, orang Yahudi yang menikah dengan pria maupun wanita berdarah Jerman dipandang lebih berbahaya karena memberikan ancaman yang lebih besar bagi tujuan Nazi dibandingkan dengan orang-orang Yahudi lainnya. Bahkan, bagi sejumlah pemimpin Nazi, orang-orang Jerman yang terlibat dalam pernikahan campur dengan orang Yahudi juga sama berbahayanya hingga dipandang sebagai musuh negara. “Goebbels berpikir bahwa perkawinan campur dapat menghancurkan karakter nasional, seperti yang ditulisnya pada Maret 1942, tak lama sebelum meminta persetujuan Hitler untuk mendeportasi semua orang Yahudi di Berlin,” tulis Stoltzfus. “Sementara itu, Himmler mengeluh bahwa melalui perkawinan campurlah orang-orang mengembangkan perasaan terhadap orang Yahudi.”
- Kisah Cinta Aktor Jerman di Bawah Cengkeraman Nazi
SEIRING didapuknya Adolf Hitler sebagai pemimpin Nazi Jerman dan didirikannya Dewan Budaya Reich (Reichkulturkammer) pada 1930-an, kampanye di media massa mendorong penonton untuk tidak menoleransi aktor dan aktris non-Arya dan menuntut semua bintang film untuk memberikan bukti asal-usul ras mereka. Lembaga Biro Promosi Seni (Amt für Kunstpflege) didirikan untuk mengurusi urusan pribadi para aktor, sutradara, produser, penulis naskah, penerbit, dan sejenisnya. Menurut sejarawan David Welch dalam Propaganda and the German Cinema, 1933–1945, biro itu pada dasarnya adalah organisasi partai dan bekerja sama dengan Filmkontingenstelle, yang berada di bawah pengawasan Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda. “Tidak puas dengan menyelidiki asal-usul ras orang-orang yang bekerja di dunia seni, biro ini juga memiliki perhatian yang besar terhadap ‘sikap’ dan pergaulan mereka,” tulis Welch. RMVP atau Kementerian Negara bidang Penerangan dan Propaganda Reich di bawah Joseph Goebbels. Biro tersebut menerima kiriman banyak surat dari pembaca yang bertanya tentang asal-usul ras para aktor kenamaan Jerman. Salah satu pertanyaan yang paling banyak diajukan adalah tentang hubungan aktor Hans Albers dengan aktris berdarah Yahudi bernama Hansi Burg.
- Unit 731, Alat Pembunuh Massal Militer Jepang
TAHUN 1918. Perang Dunia I berakhir. Saling adu kekuatan negara-negara besar ini menyisakan dua kubu: pemenang dan pecundang. Satu negara di Asia yang terlibat, Jepang, ada di antara para pemenang. Kejadian itu menjadi hajat pertama militer mereka di dunia internasional, pasca kemenangan saat berperang dengan Rusia. Kemenangan di Perang Dunia I begitu membekas di dalam diri prajurit-prajurit Jepang. Sebagai negara yang sedang menarget posisi nomor wahid di wilayah Asia-Pasifik, kuasa atas Perang Dunia I merupakan hadiah yang amat besar. Peristiwa itu menjadi ajang unjuk gigi Jepang di hadapan negara Barat. Juga memberi kesempatan bagi negeri para samurai itu mengembangkan kekuatan militernya. Demi mewujudkan ambisi menjadi negara terkuat di Asia, Jepang berani menggunakan segala cara, termasuk menepikan sisi kemanusiaan mereka. Salah satunya dengan membentuk unit penelitian senjata biologis: Unit Manchuria No. 731 atau Unit 731. Sebuah kesatuan di dalam militer kekaisaran yang disiapkan untuk membuat senjata pemusnah dan menjadi pendukung kekuatan tempur utama. Unit itu turut menyumbang peran menghantarkan Jepang ke panggung utama Perang Dunia II di Asia Pasifik pada 1939 sampai 1945.
- Unit 731 yang Tak Tersentuh
UNIT 731 berhasil menebar teror di Perang Dunia II. Unit penelitian senjata biologis dan kimia milik Pasukan Kekaisaran Jepang tersebut disiapkan untuk menyokong kekuatan tempur Jepang di garis depan pasca kemenangan tidak memuaskan pada PD I. Kesatuan itu beroperasi secara baik hingga Negeri Matahari Terbit mengibarkan bendera putih tanda menyerah pada 14 Agustus 1945. Kawasan Asia-Pasifik, khususnya timur laut Cina, saat itu seolah dijadikan “taman bermain” militer Jepang. Uji senjata hasil kreasi Unit 731 bebas dilakukan terhadap manusia di sana. Ribuan nyawa dari kalangan sipil dan militer melayang. Kekejaman militer Jepang semakin tergambar jelas ketika para sejarawan menyamakan teror Unit 731 dengan Kamp Auschwitz milik Nazi, Jerman.
- Operasi Unit 731 di Indonesia
PADA Agustus 1944, sebanyak 478 (sumber lain menyebut 900, bahkan 1000 lebih) romusha ditemukan kritis. Para pekerja paksa di masa pendudukan Jepang (1942-1945) itu secara bertahap menunjukkan gejala penyakit tetanus. Sekitar 365 orang di antaranya kemudian meninggal dunia. Peristiwa kelam itu terjadi di Klender, Jakatra, salah satu lokasi kamp romusha di ibukota. Menurut sejarawan Jepang Aiko Kurasawa, para romusha itu umumnya berasal dari Pekalongan dan Semarang. Dalam hasil penelitiannya yang pernah dipublikasikan Majalah Tempo pada 2002, Aiko Kurasawa menyebut selama di kamp para pekerja menerima beberapa jenis vaksin imunisasi, termasuk pes dan campuran vaksin TCD (Typhus Cholera Dysentry). Suntikan vaksi inilah yang diketahui menjadi penyebab tewasnya para romusha tersebut.




















