top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Harimau-Harimau Garut

    DUA BELAS pusara tua itu terpuruk dimakan zaman. Nisan-nisan mereka yang bentuknya serupa nampak sudah agak berlumut. Sementara sisi kanan dan kiri, depan-belakang, ratusan ilalang berdiri tegak lengkap dengan bulu-bulunya yang berwarna putih kecoklat-coklatan. Sedikit orang yang paham asal muasal pusara-pusara itu berada di Kompleks Pemakaman Umum Cinunukan (masuk dalam wilayah Kecamatan Wanaraja, Garut). Salah satunya adalah Dadang Koswara. Menurut lelaki berusia setengah abad tersebut, sejatinya 12 pusara itu diisi oleh jasad-jasad para pejuang dari Pasukan Pangeran Papak (PPP) yang gugur dalam berbagai pertempuran melawan militer Belanda di Garut.

  • Perburuan Harimau Zaman Kolonial Belanda

    ANCAMAN harimau di Batavia mendorong VOC mengadakan sayembara berhadiah bagi penduduk yang berhasil menangkap atau membunuh hewan buas tersebut. Pemberian hadiah ini telah dilakukan sejak tahun 1640-an. Pemberian hadiah kemudian diberlakukan di sejumlah daerah di Jawa dan Sumatra. Imbalan semakin besar bila proses menangkap hewan buas dramatis hingga mengancam nyawa. Menurut sejarawan Peter Boomgaard dalam Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600–1950, pada 1747 telah ditetapkan melalui publikasi resmi bahwa hadiah yang diberikan kepada mereka yang berhasil menangkap atau membunuh harimau –semua ukuran– dan badak sebesar 10 Ringgit.

  • Perburuan Harimau Berhadiah, Dikira Harimau Ternyata Batu

    PERBURUAN hewan buas seperti buaya, harimau, dan macan menjadi kegiatan yang digemari sejumlah orang di zaman kolonial Belanda. Pasalnya, mereka yang berhasil menangkap atau membunuh hewan-hewan buas tersebut dan membawanya ke hadapan pemerintah kolonial akan mendapatkan hadiah uang tunai dengan jumlah bervariasi. Sejarawan Peter Boomgaard dalam Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600–1950 menulis dari tahun 1817 hingga 1823, beberapa residen mengajukan permohonan kepada penguasa di wilayah koloni untuk diizinkan menawarkan hadiah kepada mereka yang berhasil menangkap maupun membunuh harimau hingga badak. Permintaan ini kemudian disetujui oleh gubernur jenderal. Orang nomor satu di wilayah koloni itu mengizinkan pemberian hadiah sebesar 22 gulden di Tegal, Surabaya, dan juga Priangan.

  • Mengenal Pahlawan Nasional Rahmah El Yunusiyah

    SUMATRA Barat kembali mendapat kehormatan tahun ini. Dari 10 tokoh yang dianugerahi pahlawan nasional usai upacara Hari Pahlawan pada Senin (10/11/2025), satu di antaranya adalah Hj. Rahmah El Yunusiyah, tokoh pelopor pendidikan Islam untuk kaum perempuan. Pada upacara penganugerahan pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025), 10 tokoh dianugerahi pahlawan nasional melalui Keppres No. 116/TK Tahun 2025. Selain Rahmah El Yunusiyah dari Provinsi Sumatra Barat, sembilan figur lainnya adalah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Jawa Timur), Jenderal H.M. Soeharto (Jawa Tengah), Marsinah (Jawa Timur), Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat), Jenderal (Purn.) Sarwo Edhi Wibowo (Jawa Tengah), Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat), Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur), Tuan Rondahaim Saragih (Sumatra Utara), dan Zainal Abidin Syah (Maluku Utara). Nama Hj. Rahmah El Yunusiyah sudah diusulkan pemerintah Provinsi Sumatra Barat sejak 2023. Presiden RI Prabowo Subianto menyerahkan anugerah pahlawan nasionalnya secara langsung kepada ahli warisnya. Sebagai ulama dan pejuang kemerdekaan, Rahmah diangerahi pahlawan nasional bidang perjuangan pendidikan Islam.

  • Bantuan Kolonial untuk Pengangguran

    PEMUTUSAN Hubungan Kerja (PHK) merebak di berbagai sektor usaha menyusul pandemi Covid-19 sejak Maret 2020. Roda ekonomi melambat. Pemasukan perusahaan mampat. Ratusan ribu orang menjadi penganggur. Menanggapi keadaan ini, pemerintah mengeluarkan kartu prakerja bagi para penganggur terpilih. Bentuknya transferan uang untuk pelatihan dan kebutuhan hidup sementara. Sejarah Indonesia mencatat campur tangan pemerintah dalam menekan kenaikan angka penganggur. Terlebih lagi pada masa ekonomi sulit seperti ini. Dekade 1930-an menjadi titik mula melihat kembali fenomena ini. Saat itu, perekonomian Hindia Belanda rontok tertular depresi ekonomi dari Amerika Serikat dan Eropa. Dua wilayah ini membatasi impor dari negara lain.

  • Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

    TANPA pelindung kepala dan pengawalan ketat para pengawalnya, Sultan Mehmed II (diperankan Cem Yiğit Üzümoğlu) turun dari atas kuda putihnya. Matanya begitu awas bergerak ke segala arah. Sebaliknya, sang musuh Vlad Dracula (Daniel Nuță) bersama para pengawalnya masih belum terlihat meski diketahui Mehmed II. Mereka bersembunyi di hutan-hutan di atas bukit. “Sekarang kau bersembunyi di hutan, seperti kau berlindung di bawah rok raja Hungaria bertahun-tahun! Kau tak lagi melawan perempuan dan anak-anak tak berdaya! Keluarlah dan akhiri apa yang telah kau mulai! Kau bahkan lebih pengecut dari ayahmu yang lemah. Dengarkan aku, Vlad Dracula! Fatih Sultan Mehmed akan datang untukmu!” seru Mehmed yang kesal pasukan terdepannya dikalahkan dengan taktik gerilya Vlad Dracula.

  • Sebuah Pledoi untuk Snouck

    SEKITAR 40 orang keturunan Snouck Hurgronje berkumpul dalam peluncuran Biografi Ilmuwan Christian Snouck Hurgronje karya Wim van den Doel di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu pekan lalu. Memandang raut wajah mereka mengingatkan saya kepada pidato Bung Karno, 17 Agustus 1964: “… jangankan 1-2 generasi, 10 generasi pun tak bisa meniadakan ‘rahang Batak’, atau ‘sipit Tionghoa’, atau ‘mancung Arab’, atau ‘lidah Bali’, atau ‘kuning langsat Menado’, atau ‘ikal Irian’, dan sebagainya.” Ya, Bung Karno benar, hidung mancung pada raut wajah blasteran Indo-Belanda masih jelas terlihat dari keturunan ketiga dan keempat dari perkawinan Snouck Hurgronje dengan Sangkana dan Siti Sadiah, dua gadis Pasundan yang dinikahinya pada 1890 dan 1898. Kehadiran keturunan Snouck Hurgronje dalam acara tersebut cukup mengesankan buat saya. Beberapa kali saya mendengar bahwa Snouck memang punya anak dari pernikahannya dengan dua perempuan bumiputra semasa dia tinggal di Hindia Belanda. Namun saya belum pernah melihat mereka hadir di muka publik sebagaimana yang saya temui dalam acara tersebut.

  • Selintas Riwayat Snouck Hurgronje

    Snouck Hurgronje masyhur karena pengetahuannya, kontroversial karena perannya.

  • Dua Sisi Snouck Hurgronje

    SEBAGIAN besar orang Indonesia memandang Snouck Hurgronje sebagai sosok kontroversial. Peran Snouck dalam upaya memadamkan perlawanan rakyat Aceh membuatnya dianggap sebagai tokoh antagonis dalam Perang Aceh (1873–1914). Di sisi lain, pria yang lahir pada 8 Februari 1857 itu juga dikenal sebagai akademisi dan orientalis yang disegani. Wim van den Doel, penulis buku Snouck: Biografi Ilmuwan Christian Snouck Hurgronje menyebut tak sedikit pula pihak yang memandang Snouck sebagai pemikir yang progresif. Pembahasan mengenai dua sisi Snouck Hurgronje itu menjadi tema utama dalam peluncuran buku, simposium mini, dan pameran foto bertajuk “Admired and Despised: The Life and Works of Snouck Hurgronje” yang diselenggarakan di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (13/5/2022). Pameran foto yang menampilkan foto-foto koleksi digital Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, berlangsung dari 13 hingga 25 Mei 2023.

  • Akhir Pernikahan Sjahrir

    KETIKA kuliah di Belanda, Sutan Sjahrir bersahabat dengan Salomon Tas, wartawan dan ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat. Setelah tinggal bersama kakaknya, Sjahrir kemudian pindah ke apartemen Tas. Di situ tinggal istri Tas, Maria Johanna Duchateau bersama dua anaknya yang masih kecil, serta teman Maria, Judith van Wamel. Sjahrir hadir saat hubungan Tas dan Maria renggang karena Tas menjalin hubungan asmara dengan Judith. Sjahrir pun mengisi posisi Tas. Maria menerimanya. Mereka saling memanggil dengan panggilan sayang: Mieske untuk Maria dan Sidi untuk Sjahrir. Sjahrir mengajak Maria ketika akan pulang ke Hindia Belanda pada 1932. Sjahrir terpaksa menghentikan studinya untuk mengambil alih pimpinan partai Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI-Baru. Empat bulan kemudian, Maria menyusul bersama kedua anaknya.

  • Ketika Ahmad Subardjo Menolak Ajakan Sjahrir

    PADA 13 November 1945, melalui sebuah siaran di radio San Francisco, seluruh dunia mengetahui kondisi politik di Indonesia yang baru tiga bulan merdeka. Dalam keterangannya, kabinet Republik Indonesia disebut telah mengubah bentuk pemerintahannya dari presidensial menjadi parlementer, dengan penunjukkan Sutan Sjahrir sebagai perdana menteri. Besoknya, Sjahrir secara resmi mengumumkan susunan kabinetnya. Terdapat 14 jabatan menteri yang diisi oleh 11 nama. Sjahrir dan Amir Sjarifuddin menduduki jabatan ganda. Di samping perdana Menteri, Sjahrir menempati posisi menteri luar negeri dan menteri dalam negeri. Sementara Amir mengisi jabatan menteri keamanan rakyat dan menteri penerangan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page