top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Persahabatan Bung Karno dengan Seorang Pelayan

    Rabu, 22 Desember 1948. Pagi sebentar lagi berakhir menyambangi Pulau Sumatra, ketika iring-iringan konvoi 6 kendaraan militer Belanda memasuki Pesanggrahan Brastagi. Setelah berhenti di depan gedung pesanggrahan, tiga orang Indonesia terlihat turun dari salah satu mobil. Mereka adalah para pemimpin Republik Indonesia (RI): Presiden Sukarno, Penasehat Presiden Sutan Sjahrir dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim. Para pelayan cepat menyongsong. Karno Sobiran, salah satu dari mereka, langsung membawakan kopor Bung Karno menuju kamar nomor satu. Usai meletakan kopor di kamar utama, dia lantas mengambil minuman untuk disuguhkan kepada Bung Karno.

  • Ketua Umum PSI Jadi Perdana Menteri

    SETELAH lulus sekolah AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung pada 1929, Sutan Sjahrir melanjutkan pendidikan ke Belanda. Di Amsterdam, dia tinggal bersama kakaknya, Sjahrizad, istri dr. Djoehana Wiradikarta yang sedang kuliah pascasarjana kedokteran. Sjahrir masuk Fakultas Hukum di Universitas Amsterdam. “Tapi, dia jarang mengikuti kuliah. Minat perhatiannya ada di tempat lain. Sjahrir dengan serius mempelajari sosialisme,” tulis Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya. Sejarawan Rudolf Mrazek dalam Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia menyebut beberapa hari setibanya di Amsterdam, Sjahrir kemudian menulis surat kepada perhimpunan mahasiswa di kota itu, Sociaal Democratische Studenten Club (Klub Mahasiswa Sosial Demokrat), menanyakan keterangan tentang gerakan pemuda tersebut. Ketika menerima surat Sjahrir, ketua klub itu, Salomon Tas, segera menaiki sepedanya dan pergi menemui Sjahrir.

  • Bung Hatta Membayar Beasiswa di Belanda

    SETELAH lulus Prins Hendrik School (PHS) di Batavia, Mohammad Hatta berencana melanjutkan pendidikan tinggi ke Rotterdam, Belanda, dengan biaya dari pamannya, pengusaha Mak Etek Ayub. Oleh karena itu, dia tidak mengajukan beasiswa ke pemerintah Belanda. Rencananya buyar setelah nasib malang menimpa pamannya yang ditahan karena perkara utang. Hatta kemudian mendatangi Duyvetter, pegawai Departemen Pengajaran dan Agama. Tugasnya memperhatikan murid-murid sekolah menengah dari luar Batavia yang meminta tolong kepadanya untuk memperoleh beasiswa. Karena Hatta terlambat mengajukan beasiswa dari pemerintah Belanda, Duyvetter mencoba mencarikan beasiswa dari Van Deventer-Stichting. Dia menelepon perwakilannya, J.E. Stokvis. Hatta diminta datang langsung menemui Stokvis. Stokvis memberi tahu Hatta bawah beasiswanya diproses di Belanda kurang lebih satu-dua bulan. Jadi, Hatta harus berangkat dulu ke Rotterdam dengan biaya sendiri. Hatta menyanggupinya.

  • Rencana Menghabisi Sukarno di Berastagi

    TIGA hari setelah Belanda melancarkan agresi militer yang kedua, Presiden Sukarno dipaksa meninggalkan Istana Negara Yogyakarta. Hanya lima menit waktu yang diberikan tentara Belanda bagi Sukarno untuk berkemas dan pamitan kepada keluarganya. Terbayang oleh Sukarno barangkali itulah ucapan selamat tinggal terakhir. Pesawat Bomber B-25 Mitchell memboyong Sukarno ke Berastagi di Tanah Karno, Sumatra Utara. Selain Sukarno, turut serta pejabat tinggi Republik lainnnya, yaitu Sutan Sjahrir (penasihat presiden) dan Haji Agus Salim (menteri luar negeri). Rombongan tiba pada 22 Desember 1948. Mereka ditempatkan di suatu pesanggrahan di Desa Lau Gumba sebagai tawanan Belanda.

  • Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

    SUASANA Kota kecil Buzancy di Ardennes, Prancis begitu tenang. Populasinya per 2022 pun tak lebih dari 400 jiwa. Namun kota seluas 22,67 km² di pelosok timur laut Prancis yang dekat dengan perbatasan Belgia itu menyimpan catatan warisan yang hilang tentang sebuah masjid yang terkait dengan penguasa besar dari dunia Islam, Sultan Salahuddin al-Ayyubi (ejaan Barat: Saladin). Sisa-sisa warisan itu terdapat di sebuah bangunan sekolah dasar Ecole Primaire Jacques Prévert, di bilangan Rue du Mahomet alias Jalan Nabi Muhammad, yang ditandai dengan plang nama jalan: Rue du Mahomet. Bangunan sekolah itu dibangun di atas reruntuhan Masjid Buzancy. Diimbuhi sebuah lambang bangsawan d’Anglure berupa perisai kuning dengan kombinasi dekorasi sejumlah lonceng burung perak dan bulan sabit merah.

  • Tembang Gerilya Seorang Menteri Negara

    TANPA arti bahasa Indonesia di bawah judulnya, buku ini akan cenderung mengesankan sebagai buku berisi kisah pewayangan, kumpulan cerpen, atau novel. Maklum, judulnya menggunakan bahasa Jawa. Atau, buku ini bisa juga dikira buku pelajaran sekolah karena desain sampulnya terlalu formil layaknya buku pelajaran sekolah dasar di era 1980-an. Begitu halaman demi halamannya dibuka, kesan pertama tadi akan semakin kuat karena kalimat-kalimat dalam buku ini berbahasa Jawa. Pula, kalimat-kalimatnya disusun singkat dalam bait-bait seperti pantun, puisi, atau tembang Jawa.

  • Misteri Kematian Seorang Demonstran

    CATATAN harian itu berbicara banyak. Sebagai salah satu pimpinan demonstran KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), Yozar Anwar mengisahkan secara detail peristiwa demonstrasi di Jalan Merdeka Utara pada Kamis, 24 Februari 1966. “Jam 9 pagi, mahasiswa mulai berbondong-bondong dengan membawa jaket kuning yang berlumuran darah,” tulis Yozar dalam Angkatan 66: Sebuah Catatan Harian Mahasiswa. Darah siapakah gerangan yang memenuhi jaket kebanggaan Universitas Indonesia (UI) itu? Menurut Yozar, darah yang berlumuran pada jaket kuning itu adalah milik Arief Rahman Hakim, seorang demonstran KAMI dari Fakultas Kedokteran UI yang tewas sehari sebelumnya. Ceritanya, Arief tengah berdemonstrasi di sekitar Lapangan Banteng ketika barisan demonstran didesak oleh aparat kemananan yang terdiri dari pasukan Resimen Pelopor (Menpor), Divisi Siliwangi (Batalyon 317 dan Batalyon 323) dan Resimen Tjakrabirawa sebagai lapis terakhir penjagaan Istana Negara.

  • Setelah Arief Tewas di Ujung Peluru

    HAKIM Sorimuda Pohan (77), masih ingat kejadian itu. Jumat, 25 Februari 1966, dirinya termasuk dalam iringan puluhan ribu mahasiswa dan rakyat yang mengantarkan jenazah Arief Rachman Hakim ke Tempat Pemakaman Umum Blok P Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Begitu banyaknya orang yang mengiringi jenazah Arief, hingga ketika kepalanya sudah di Blok P, ekornya masih tertinggal di Salemba,” ujar lelaki yang saat itu menjabat sebagai ketua senat Fakultas Kedokteran UI tersebut. Arief Rachman Hakim, mahasiswa FKUI, tewas tertembak saat melakukan aksi demonstrasi di depan Istana Merdeka pada 24 Februari 1966. Sampai detik ini, pelaku penembakannya secara persis tak pernah terungkap. Para demonstran anti Presiden Sukarno menuduh prajurit-prajurit dari Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno, sebagai penembak Arief. Namun soal itu kemudian dibantah secara keras oleh Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, Kolonel (CPM) Maulwi Saelan.

  • The Life of a Martyr

    AN elderly woman wearing a black khimar walked feebly out of her bedroom then sat on a wheelchair with the help of her daughter. I reached out and shook her quivering hand. Her eyes dimmed once I started the conversation and mentioned a name. She paused for a few seconds. “What do you wish to know about Aman, child?” she asked with a faint, almost inaudible voice. The question about Aman, her younger brother, reminded Nursima (84) of the incident that happened way back in 1966 amid the heated national political situation. That day, one of her neighbors showed up at her parents’ house in Alang-Alang Lawas, Padang, West Sumatra. “Sima, what is Aman’s full name?” her neighbor asked. “Arief Rachman Hakim. What’s the matter?” Nursima replied. There was a brief silence. “Sima. Something happened to your brother in Jakarta. You and your family have to be strong.”

  • Kisah Seorang Martir

    PEREMPUAN sepuh itu keluar dari kamar. Dengan tertatih-tatih, dipapah putrinya, dia menaiki kursi roda. Saya menyalaminya. Terasa gemetar. Matanya terlihat redup ketika saya memulai pembicaraan dan menyebut sebuah nama. Hening sejenak. “Apa yang Nak mau tahu tentang Si Aman?” dia bertanya lirih. Nyaris tak terdengar. Pertanyaan tentang Aman, adiknya, mengingatkan Nursima (84 tahun) kembali pada peristiwa tahun 1966. Saat itu, di tengah situasi politik nasional yang memanas, seorang tetangganya datang berkunjung ke rumah orang tuanya di Alang-Alang Lawas, Kota Padang, Sumatra Barat. “Sima, siapakah nama lengkapnya si Aman?” tanyanya. “Arief Rachman Hakim. Ada apakah?” Nursima balik bertanya. Hening sejenak. “Sima. Ada sesuatu yang telah terjadi dengan adikmu di Jakarta. Kalian harus kuat.”

  • Beasiswa dari Masa ke Masa

    FAKTOR ekonomi masih menjadi penyebab utama seseorang sulit melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Oleh karena itu, program bantuan biaya pendidikan atau beasiswa, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, merupakan solusi untuk memberikan kesempatan yang sama bagi masyarakat dalam mendapatkan pendidikan. Beasiswa yang diberikan beragam. Ada beasiswa bagi murid maupun lulusan yang berprestasi di bidang akademik, dan ada pula beasiswa bagi mereka yang berprestasi di bidang nonakademik, seperti olahraga atau kesenian. Beasiswa umumnya dibagi dua, yakni beasiswa penuh di mana penerima tidak hanya mendapat bantuan biaya pendidikan (SPP atau uang semester), tetapi juga mendapat dana untuk kebutuhan hidup sehari-hari selama masa studi; dan beasiswa parsial atau sebagian. Beasiswa yang disediakan oleh lembaga pemerintahan, organisasi, dan swasta membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Tak heran bila informasi mengenai program beasiswa selalu ramai dicari.

  • Dihabisi Seperti Anjing Gila

    KIRA-kira dua ratus meter dari jalan antara Kaliurang dan Pakem yang menikung ke kanan. Banyak pohon bambu. Sebuah jurang. Dari pinggiran yang tertimbun daun-daun tampak Kali Kuning mengalir. Pagi 21 Desember 1948 pasukan Korps Speciale Troepen (KST atau Korps Pasukan Khusus) di bawah komando Letnan Rudy de Mey dengan jip melaju ke arah tingkungan. Di situ mereka menembak Masdoelhak Nasoetion, Soemarsono dan seorang Jawa lain yang tidak dikenal. Yang terakhir ini penjaga rumah Menteri, dr. Soekiman, yang kelak menjadi perdana menteri. Dua lainya, Tje Kiemas dan Dirdjoatmodjo selamat pada serangan ini. Kiemas yang luka akibat tiga peluru jatuh ke jurang dan tertahan tanah yang empuk. Dirdjoatmodjo meskipun terkena peluru, berhasil menyelamatkan diri. Mereka berdua kemudian dipanggil polisi militer untuk bersaksi. Penulis ingat sebelas tahun lalu menerima surat dari pembaca yang menulis tentang pembunuhan kejam yang terjadi di sini, dua hari setelah pasukan payung Belanda menduduki lapangan terbang Maguwo di Yogyakarta. Itu terjadi pada Operasi Kraai (Operasi Gagak); di Indonesia disebut Agresi Militer Belanda II dan di Belanda disebut Tweede Politionele Actie (Aksi Polisionil Kedua). Surat itu dilengkapi foto-foto dan salinan pernyataan tersangka utama saat itu, Sersan Mayor Marinus Geelhoed pada November 1949. Dalam pernyataan itu ada kalimat-kalimat:

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page