Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Riuh Rendah Hari Buruh
PERINGATAN Hari Buruh 1 Mei 1948 berlangsung meriah. Sebanyak 200-300 ribu buruh, petani, dan pemuda membanjiri alun-alun Yogyakarta. Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Panglima Besar Jenderal Soedirman menghadiri rapat raksasa tersebut. Peringatan Hari Buruh kala itu terasa istimewa. Pasalnya, pada 20 April 1948, pemerintah telah menetapkan UU No 12/1948 tentang Kerja. UU ini dianggap pencapaian tertinggi bagi gerakan buruh. UU ini juga dinilai progresif karena memberikan perlindungan dan jaminan yang besar bagi buruh, melebihi apa yang mungkin didapat buruh di Eropa. UU ini antara lain berisi larangan mempekerjakan anak; larangan buruh perempuan bekerja di pertambangan dan tempat lain yang membahayakan keamanan, kesehatan, dan moralitas; serta bekerja di malam hari (kecuali yang bekerja di sektor publik seperti bidan atau perawat); pemberian waktu bagi ibu menyusui anaknya; serta cuti melahirkan dan cuti haid.
- Rais Abin, Panglima Perdamaian Dunia
SETELAH lama mengalami masa diaspora, bangsa Israel berusaha kembali ke tanah yang dijanjikan. Mereka mendambakan rumah bagi bangsa Yahudi sendiri. Dan Palestina menjadi pilihan mereka, sebagai tanah yang dijanjikan. Dari sini, perang pun dimulai. Perang Arab-Israel pertama pecah pada 1948. Israel menang meski dikeroyok enam negara Arab. Peperangan berikutnya terjadi pada 1956, 1967, dan 1973. Keadaan genting di Timur Tengah mendorong pembentukan pasukan perdamaian PBB (UNEF). Indonesia mengirimkan Kontingen Garuda yang tergabung dalam UNEF.
- Korea Utara di Antara Konflik Israel-Palestina
KOREA Utara (Korut) jadi salah satu negara yang paling lantang menentang serangan membabi-buta Israel ke Jalur Gaza sejak bulan lalu. Gerah dengan kelakuan negeri Zionis yang menewaskan ribuan warga sipil Palestina itu, pemimpin Korut Kim Jong-un dikabarkan berniat mengirim bantuan senjata untuk milisi Hamas. Kabar itu diembuskan badan intelijen Korea Selatan (Korsel) NIS dan disuarakan anggota parlemen cum anggota Komite Intelijen di Majelis Nasional Korsel, Yoo Sang-bum. Pernyataan Yoo itu memperkuat tudingan Amerika Serikat dan Israel pada pertengahan Oktober silam bahwa beberapa senjata yang digunakan Hamas berasal dari Korut. “Sepertinya Korea Utara mencoba mengambil keuntungan dari Perang Israel-Hamas dalam berbagai cara,” tutur Yoo, dikutip kantor berita Turki, Anadolu Ajansı, Rabu (1/11/2023).
- Ketika Sukarno Murka kepada Presiden Amerika Serikat
SELAMA memimpin Republik Indonesia (RI), Presiden Sukarno sempat berhubungan dengan empat presiden Amerika Serikat (AS). Mereka antara lain Harry S. Truman (1945–1953), Dwight David Eisenhower (1953–1961), John Fitzgerald Kennedy (1961–1963), dan Lyndon Baines Johnson (1963–1969). Dari semuanya, Sukarno hanya menyebut satu nama sebagai sosok yang menjengkelkan. Orang itu ialah Eisenhower. Dalam otobiografinya yang disusun oleh jurnalis perempuan asal AS (Cindy Adams), Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno sempat melontarkan kemarahannya itu. "Mengapakah Presidenmu menolakku dengan kasar? Mengapakah Presidenmu dengan sengaja menampik dan menghinaku,” gugatnya. Sukarno sejatinya menaruh rasa hormat kepada Eisenhower. Pada 1945, Jenderal Eisenhower adalah panglima tertinggi pasukan Sekutu yang memenangi Perang Dunia II. Pada saat yang sama, Sukarno yang baru saja memerdekakan Indonesia sedang ketar-ketir dicap sebagai penjahat perang karena pernah berkolaborasi dengan Jepang. Lagi pula, Sukarno ingin menjalin persahabatan dengan AS. Pada masa revolusi kemerdekaan, pemerintah AS sejatinya cukup banyak "membantu" Indonesia dalam soal sengketa dengan Belanda.
- Obrolan Tak Nyambung Sukarno dengan Eisenhower
KETIKA isu Palestina disampaikan kepadanya, Presiden AS Joe Biden malah bicara soal iklim. Itulah secuplik pembicaraan Biden dengan Presiden Joko Widodo dalam kunjungan bilateral di Gedung Putih, Washington D.C pada 13 November 2023 silam. Kedatangan Jokowi ke Amerika dalam rangka undangan pemerintah AS menjelang KTT APEC di San Francisco. Meski logat Jawanya masih medok, Presiden Jokowi mengucapkan pernyataannya dengan bahasa Inggris yang cukup jelas. Jokowi membuka pembicaraan dengan menyatakan AS adalah salah satu mitra terpenting Indonesia dalam kerjasama ekonomi dan rantai pasokan. Ditambahkannya pula bahwa Indonesia berharap kemitraan tersebut dapat berkontribusi terhadap perdamaian serta kemakmuran regional dan global. Pada penutup, Jokowi menyinggung tentang serangan militer Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza yang kini masih terus berlangsung. “Oleh karena itu, Indonesia mengimbau AS untuk berbuat lebih banyak untuk menghentikan kekejaman di Gaza. Gencatan senjata adalah suatu keharusan demi kemanusiaan. Sekali lagi, terimakasih atas undangan Anda. Presiden Biden, terimakasih,” kata Presiden Jokowi.
- 2 November 1963: Kudeta Paman Sam di Vietnam
HARI ini, 2 November 1963, Presiden Vietnam Selatan Ngo Dinh Diem dan saudaranya Ngo Dinh Nhu tewas dibunuh sekelompok Tentara Republik Vietnam Selatan (Army of the Republic of Vietnam/ARVN). Pembunuhan itu merupakan kelanjutan dari kudeta yang dilakukan sehari sebelumnya di bawah pimpinan Jenderal Duong Van Minh yang populer disapa Big Minh, penasehat militer Presiden Ngo Dinh Diem. Kudeta di Vietnam Selatan semasa Perang Vietnam tengah berkecamuk itu membuka rangkaian kudeta militer yang kemudian datang silih berganti. Kudeta November itu sendiri dilatari kekecewaan banyak pihak, temasuk Amerika Serikat (AS) yang awalnya merupakan penyokong utama Diem. Sejumlah jenderal teras di ARVN, termasuk Minh, sudah lama kecewa terhadap diktator Diem yang sarat KKN dan diskriminatif terhadap mayoritas umat Budha. Dua upaya penggulingan Diem pun dilakukan militer pada 1960 dan 1962. Namun semua upaya itu gagal dan berujung pada penghukuman terhadap otak pemberontakan-pemberontakan itu.
- Menata Koleksi Istana
KARTINI tampil menawan dengan balutan baju hijau lengkap dengan bros emas berbentuk surya majapahit. Sanggulnya terlihat glamor, dengan aksesoris cundik emas yang tertancap. Latarnya lebih menarik lagi: alun-alun utara keraton Yogyakarta dengan dua beringin kembarnya dan sebuah kereta kuda tengah melintas. Oleh Trubus Sudarsono, Kartini ‘dibawa’ dari Rembang yang pesisir ke vorstenlanden, Yogyakarta. Lukisan Kartini (1946/1947), yang dibuat Trubus pada 1947 di Yogyakarta, berada satu larik dengan Potret Jendral Sudirman (1956) karya Gambiranom Suhardi dan lukisan H.O.S Tjokroaminoto (1946) yang ditorehkan Affandi dengan gaya plethetan atau melukis langsung dengan menekan tube cat. Ketiganya merupakan bagian dari pameran 17/71: Goresan Juang Kemerdekaan, bertempat di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, yang diselenggarakan Kementerian Sekretariat Negara.
- Perempuan Bali Model Lukisan Rini Karya Sukarno
SALAH satu lukisan koleksi Istana yang dipamerkan dalam pameran “17/71: Goresan Juang Kemerdekaan” di Galeri Nasional Jakarta, selama Agustus 2016, adalah karya Sukarno. Lukisan itu berjudul Rini . Dalam katalog pameran disebutkan bagaimana lukisan ini lahir. Ketika beristirahat ke Bali, Sukarno mengajak Dullah, pelukis istana. Sepeti biasa Dullah mencoba membuat lukisan. Baru membuat garis-garis ( sketch ), Dullah kembali ke Jakarta. Pada November masuk Desember 1958 Sukarno kembali lagi ke Bali untuk beristirahat. Dullah tidak ikut. Selama sepuluh hari di Bali, Sukarno menyelesaikan sketch Dullah. Tentu saja Sukarno membuat banyak perubahan dan tambahan dari sketch semula. Menurut kurator pameran Mikke Susanto, model lukisan Rini misterius. Namun ada yang mengatakan perempuan itu kemungkinan besar adalah figur Sarinah, pengasuh Sukarno. Entah kenapa lukisan itu berjudul Rini . Soimun Hp dalam Istana Bogor: Istana Kepresidenan di Bogor , terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1985, menyebut lukisan yang sama dengan judul Sarinah. “Sarinah merupakan ciri wanita Indonesia menurut Bung Karno,” tulis Soimun. Soimun juga punya versi berbeda tentang proses kreatif lukisan itu. “Konon ceritanya lukisan ini mempunyai arti tersendiri karena saat itu Bung Karno sedang berada di salah sebuah pantai di Bali, ketika seorang wanita lewat dibonceng sepeda oleh tunangannya. Entah mengapa, Bung Karno merasa tertarik untuk menjadikan wanita itu sebagai model lukisannya. Kedua orang berboncengan tersebut diminta berhenti, dan gadis itu diminta menggantikan kebayanya dengan kebaya yang lebih bagus yang dipinjamkan oleh Bung Karno pada saat itu juga, entah dari mana. Rambut wanita tadi dirapikan, dan Bung Karno mulai melukis.” Soimun melanjutkan, “Setelah selesai melukis Bung Karno bertanya apa yang diinginkan gadis itu sebagai imbalan. Wanita Bali yang remaja ini hanya meminta kemeja dan bahan celana untuk pacarnya. Ini diluluskan oleh Bung Karno disertai dengan sedikit uang.”*
- CIA dan Penelitian tentang Indonesia
SEMASA Perang Dunia II, OSS (Office of Strategic Services), cikal bakal CIA, memiliki Divisi Riset dan Analisis (R&A) yang merekrut para peneliti atau akademisi untuk mengumpulkan informasi berbagai wilayah di dunia. Antropolog Cora DuBois menjadi direktur Divisi Asia Tenggara R&A. Peneliti yang direkrut adalah Claire Holt yang pernah tinggal di Yogyakarta pada 1930-an untuk meneliti seni dan budaya Jawa. Selain itu, Raymond Kennedy dari Yale University karena menulis buku The Ageless Indies yang membahas mengenai praktik kolonial Belanda di Indonesia. Tragisnya, setelah tak lagi bekerja untuk R&A, Kennedy mati dibunuh di Indonesia.
- Affandi yang Tak Pernah Pergi
GALERI Nasional Indonesia di Jakarta menggelar pameran luar jaringan (luring) pertama sejak pandemi Covid-19 melanda. Tak tanggung-tanggung, pameran ini menyuguhkan karya-karya sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi Koesoema. Pameran ini berlangsung hingga 25 November 2020. Affandi, begitu dia lebih dikenal, punya masa lalu yang unik. Dia semula bekerja sebagai tukang sobek karcis bioskop sekaligus pembuat gambar reklame di papan bioskop kawasan Bandung. Kemudian dia bergabung dengan kelompok Lima Bandung, yang terdiri dari Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi pada 1930-an. Semuanya pelukis dan senang belajar bersama antar pelukis secara informal.
- Affandi dan Pengakuan Karya Zainal Beta
KERTAS A4 itu segera berwarna kecoklatan setelah “berselimut” adonan tanah liat dan air. Dengan sebilah potongan bambu, tangan Zainal Beta beberapakali mengoleskan adonan itu. Setelah hampir semua bidang kertas itu dilumuri “adonan”, Beta mengganti “senjatanya” dengan potongan bambu lebih kecil. Sret…sret…sret! Tiga menit kemudian, kertas putih bersih itu telah menjadi sebuah lukisan tanah liat. “Ini yang saya buat, lukisan bergambar Bastion Bone,” ujarnya kepada Historia yang menghitung waktu pengerjaan sembari merekam dengan kamera ponsel, 15 Oktober 2019.





















