Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Geger Sampai ke Negeri Induk
PEMBERONTAKAN awak kapal De Zeven Provincien dengan cepat menimbulkan berbagai reaksi, baik di Hindia Belanda maupun di Belanda. Di Batavia, kecaman datang dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda B.C. de Jonge yang dalam pidatonya pada 7 Februari 1933 menyebut aksi para matros kapal perang Hindia Belanda itu sebagai tindakan tak bertanggungjawab. Pernyataan gubernur jenderal tersebut diamini oleh De Vaderlandse Club, sebuah perkumpulan warga Hindia Belanda beraliran konservatif sekaligus penyelenggara apel kesetiaan di mana de Jonge berpidato. Sebagaimana ditulis oleh Elly Touwen-Bouwsma dalam “Pemberontak atau Perintis Kemerdekaan: Tanggapan Indonesia terhadap Pemberontakan di Kapal De Zeven Provincien”, termuat di buku De Zeven Provincien: Ketika Kelasi Indonesia Berontak (1933), ribuan penduduk Eropa, pribumi, dan Tionghoa hadir dalam pertemuan di Waterlooplein (kini Lapangan Banteng), Batavia itu.
- Bukan Sekadar Urusan Upah
MASYARAKAT Nusa Tenggara Timur melakukan tabur bunga di makam para pahlawan pemberontakan kapal De Zeven Provincien di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, 4 Februari 2016. Dalam acara ini hadir keluarga dari pemimpin pemberontak, yaitu curu Martin Paradja serta anak, menantu dan cucu Josias Kolondam Kawilarang. “Kami sudah lama mendengar bahwa kakek kami adalah pelaut hebat. Orang tua saya dulu beberapa kali mengajak saya ziarah ke sini. Namun, bagi kami anak keturunan Martin Paradja, merasa ada kurang perhatian dari pemerintah,” ujar Dominggus Benggu, cucu Martin Paradja kepada Historia.
- Kesendirian Gajah Atraksi
“DAME… Me… Ayo kita pulang Me,” suara lantang mahout (pawang gajah) Wagino membelah keheningan sore. Dame berjalan menyeruak dari balik pepohonan. Seharian sudah gajah betina itu berjalan-jalan di bukit serta melahap rumput dan dedaunan. Belalainya menjelajah punggung sang mahout yang membawa tas goni berisikan pisang. “Sebentar dulu Me. Jalan dulu kita balik ke rumah.” Dame berjalan bebas tanpa belitan rantai. Ekor pendeknya berkibas ke kanan dan kiri. “Ekor Dame pernah digigit gajah lain saat masih di sirkus. Bagian yang digigit akhirnya diamputasi untuk mencegah pembusukan,” tutur Wagino. Dame hanyalah satu dari banyak gajah Asia (Elephas maximus) yang pernah dipekerjakan sebagai gajah atraksi. Ia kini hidup bersama belasan gajah lainnya di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), sebuah area konservasi gajah seluas 250 hektar yang berada di dekat Suaka Margasatwa Barumun, Sumatra Utara.
- Setelah Peluit Kapal Berbunyi
KAPAL Hr. Ms. De Zeven Provincien bertolak dari pelabuhan Surabaya pada 2 Januari 1933 untuk keliling Sumatra selama tiga bulan. Dalam pelayaran latihan ini, awak kapal terdiri dari 141 Eropa (30 perwira dan 26 perwira menengah) dan 256 pribumi (tujuh perwira menengah dan 80 siswa KIS atau Kweekschool voor Inlandse Schepelingen atau Pendidikan Dasar Pelaut Pribumi). Sesaat sebelum berlayar, komandan kapal P. Eikenboom menyampaikan bahwa belum ada keputusan tentang pengurangan gaji. Dia berharap masalah itu tidak menjadi penghalang selama perjalanan. Untuk mengendurkan ketegangan, selama perjalanan akan diadakan pesta persaudaraan dan pertandingan sepakbola. Di Tanjung Priok diadakan pertandingan tolak peluru. Di Padang Panjang, Sumatra Barat, ada acara pesta persaudaraan marinir dan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda).
- Konflik Keluarga dalam Perang Dunia I
SEJAK Minggu 4 November 2018 hingga 11 November 2018, Tower of London takkan gelap gulita di malam hari. Total 10 ribu lilin disulut para Beefeaters atau pengawal khusus Kerajaan Inggris untuk memperingati seabad gencatan senjata yang mengakhiri Perang Dunia I (PD I), 11 November 1918. Great War atau PD I (28 Juli 1914-11 November 1918) memakan korban total 19 juta jiwa, militer maupun sipil. Terlepas dari adanya Perjanjian Versailles 28 Juni 1919, Gencatan Senjata Compiègne pada 11 November 1918 jadi upaya awal mengakhiri perang yang mengglobal sampai ke Pasifik itu.
- Kanker Masa Prasejarah
KETIKA melakukan penggalian pada sebuah gundukan kuburan Scythian –masyarakat nomaden prasejarah Iran– di daerah Tuva di Rusia sepuluh tahun lalu, tanpa diduga para arkeolog menemukan “harta karun”. Dua tengkorak manusia, laki-laki dan perempuan, berjongkok di lantai sebuah ruangan di dalam kuburan. Mereka dikelilingi perlengkapan mewah dari 27 abad lalu; mahkota-mahkota dan jubah yang berhiaskan gambar kuda emas, macan kumbang, dan hewan suci lainnya. Namun bagi para paleopatolog, ahli penyakit purba, tengkorak punya nilai jauh lebih besar: tumor memenuhi sekujur tubuh tengkorak laki-laki. Diagnosis mereka: tumor itu kasus kanker prostat paling purba yang pernah ditemukan dalam sejarah peradaban manusia.
- Kanker Payudara dari Masa ke Masa
ARTIS komedi televisi Amerika Serikat Christina Applegate gemetar ketika pada April 2008 dokter rumah sakit menelepon dan mengabarkan hasil diagnosis keberadaan sel kanker di payudara sebelah kirinya. Kata-kata itu adalah mimpi buruk bagi semua perempuan. Applegate saat itu berusia 36 tahun. Sebagai anak seorang survivor kanker payudara, ia dengan sadar rutin melakukan pemeriksaan tahunan dengan mammogram (alat pemindai kanker pada payudara) sejak berusia 30 tahun. Hingga 2008, dokter memintanya menjalani screening MRI (Magnetic Resonance Imaging, alat diagnostik) dan tes biopsi sebagai tambahan. Vonis dokter membenarkan ketakutannya.
- Dunia yang Terhubung Kabel
IMPERIUM mulai terbentuk di Eropa pada akhir abad ke-18. Mereka butuh berhubungan dengan koloni-koloninya untuk tujuan politik dan militer –juga memperluas pasar. Tapi, saat itu, dengan sebuah kapal, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengirimkan pesan dari koloni ke ibu kota imperium, atau sebaliknya. Di darat, kurir atau kuda tak kalah lambat. Cuaca dan keamanan juga jadi kendala. Keterbatasan itu bisa berdampak luar biasa. Salah satu pertempuran dalam Perang Amerika Serikat-Inggris yang menimbulkan banyak korban adalah Pertempuran New Orleans pada 8 Januari 1815. Padahal Perjanjian Ghent (Belgia) yang mengakhiri perang sudah ditandatangani pada 24 Desember 1814 –sekira dua minggu sebelum pertempuran. Tak ada pihak yang menyadari bahwa perang sudah berakhir. Pemerintah Belanda juga kena imbas akibat keterbatasan komunikasi selama Perang Jawa. John Tully dalam “A Victorian Ecological Disaster: Imperialism, the Telegraph and Gutta-Percha”, dimuat di Journal of World History terbitan University of Hawaii Press, No. 4 tahun 2009, menulis bahwa pemerintah Belanda tak bisa tahu kebutuhan pengiriman balabantuan ke Jawa untuk menghentikan perlawanan Diponegoro selama berbulan-bulan setelah pecah pada 1825. Kendala komunikasi memberi kontribusi bagi berlarut-larutnya Perang Jawa.
- Getah yang Nyaris Punah
ADA pertautan antara teknologi dan lingkungan dalam kisah pembangunan kabel bawah laut. “Persis pada saat telegraf listrik diciptakan,” kata sebuah manual di masa itu, seperti dikutip Simon Wenchester dalam Krakatau, “saat itu juga ditemukan gutta-percha, bahan yang sangat dibutuhkan untuknya.” Ketika telegraf ditemukan, mudah untuk membangun jalur telegraf di darat. Tapi di laut, butuh pelapis kedap udara untuk kabel-kabel yang menghantarkan listrik. Bahan itu juga mesti lentur serta tahan tekanan tinggi dan suhu dingin di bawah laut. Timah, lilin, tar, dan karet sudah dicoba tapi tak berhasil. Hoplah, gutta-percha memberikan solusi. Dengan gutta-percha, kabel-kabel telegraf tak lagi terputus di tengah laut dan pengiriman sinyal jadi bisa diandalkan. Gutta-percha tergolong dalam keluarga Sapotaceae. Keluarga tumbuhan ini terdiri dari berpuluh jenis, di antaranya Palaquium. Jenis Palaquium gutta, yang umum dikenal dengan Isonandra gutta, paling dicari dan digunakan dalam produksi gutta-percha. Di Indonesia, tanaman hutan ini tersebar luas di daerah pegunungan di kepulauan Sumatra, Bangka, Riau, dan Kalimantan.
- 4 Februari 1921: Tjong A Fie Meninggal Dunia
SEORANG tokoh asal Tiongkok, Tjong A Fie pergi meninggalkan duka bagi kota Medan. Ia berperan dalam bidang ekonomi hingga pembangunan dan sosial. Tjong A Fie lahir pada 1869 di Distrik Meixian, Guang Dong, Tiongkok, dengan nama Tjong Fung Nam. Ia juga dikenal sebagai Tjong Yiauw Hian. Terlahir dari keluarga yang tergolong miskin, sehingga ia tidak menyelesaikan pendidikannya. Aktivitas kesehariannya bekerja di toko kelontong milik keluarganya.
- Problematika Hak Veto PBB dan Kritik Bung Karno
DALAM suasana yang khidmat di ruang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), New York pada 18 April 2024, Duta Besar (Dubes) Malta untuk PBB yang memimpin sidang, Vanessa Frazier, dengan cermat membacakan pernyataan menjelang pengambilan suara terkait resolusi pengajuan Palestina sebagai anggota penuh PBB. Resolusi itu diajukan Aljazair di saat Israel masih melancarkan aksi-aksi brutalnya terhadap warga sipil di Jalur Gaza dan Tepi Barat, Palestina sejak Oktober 2023. “Bagi mereka yang mendukung draf resolusi di dalam dokumen S224/312, silakan mengangkat tangan,” ujar Dubes Frazier kepada 15 perwakilan anggota DK PBB dalam potongan video yang dilansir The Guardian, 18 April 2024. Secara kompak dan serempak, 12 perwakilan mengangkat tangan. Ke-12 perwakilan itu yakni Malta, Aljazair, Ekuador, Guyana, Jepang, Mozambik, Sierra Leone, Slovenia yang merupakan anggota tidak tetap DK PBB, serta Rusia, China, dan Prancis yang merupakan tiga dari lima anggota tetap DK PBB pemilik hak veto selain Inggris dan Amerika Serikat (AS).
- Sukarno Tantang PBB
AMNESTI Internasional merilis laporan berjudul "The State of the World′s Human Rights" pada 24 Mei 2012. Laporan itu menyoroti kegagalan Dewan Keamanan PBB dalam menjaga perdamaian global. Salah satu akibatnya, menurut laporan itu, pelanggaran HAM meningkat. Bukan barang baru sebetulnya bila Dewan Keamanan atau PBB secara keseluruhan mendapat kritik keras. Sejak akhir 1950-an Sukarno berulangkali mengkritisi PBB. Dalam pandangannya, PBB sudah tak netral. Kepentingan bangsa-bangsa baru selalu dikalahkan oleh negara besar. Sukarno memberi contoh, PBB tak menghukum Amerika Serikat, Inggris, atau negara besar lain yang mencampuri bahkan mengganggu urusan dalam negeri negara lain.





















