top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Benarkah Kesultanan Demak Bagian dari Turki Usmani?

    DALAM video yang beredar terdapat cuplikan pidato sambutan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta pada 8–11 Februari 2015, sebagai berikut: “Pada 1479 Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan Kekhalifahan Islam Turki untuk Tanah Jawa dengan menyerahkan bendera Laa Ilaaha Illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain kiswah Ka’bah dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Keraton Yogyakarta sebagai pusaka penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat sebagai wakil Kekhalifahan Turki.” Mengomentari pernyataan tersebut, Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengatakan bahwa dalam konteks sejarah, data harus ditampilkan apa adanya, bahwa kemudian ada penafsiran tentu saja sah asalkan sesuai ketentuan keilmuan. Penafsiran itu biasa tapi menjadi masalah ketika penafsiran itu diarahkan untuk menjustifikasi apa yang sudah ada di kepala kita. Karena dalam konteks akademik, kita yang harus mengikuti data, bukan data yang dipaksa mengikuti keinginan kita. Jadi, harus hati-hati dalam menafsirkan.

  • Senandung Nada di Lokananta

    DI jantung Kota Solo, terdapat tempat yang menjadi saksi perjalanan musik Indonesia. Di antara riuhnya tradisi dan gema seni Nusantara, tempat ini hidup sebagai ruang yang bersenandung sejak tahun 1956. Lokananta turut berperan dalam perkembangan karier sosok-sosok hebat nan terkenal seperti Titiek Puspa, Gesang, Waldjinah, Bing Slamet, Sam Saimun, hingga Didi Kempot. Lokasi Lokananta berada di Jalan Ahmad Yani Nomor 379, Kerten, Solo, Jawa Tengah. Dalam Pekan Kebudayaan Nasional, Senin-Minggu, 7-13 Oktober 2019 terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan disebutkan Lokananta menyimpan lebih dari 53.000 piringan hitam dan 5.670 master rekaman bersejarah. Rekaman yang paling fenomenal adalah pembacaan teks Proklamasi kemerdekaan oleh Presiden Sukarno.

  • Chemistry Lee Kuan Yew Pada Soeharto

    JAUH sebelum Lee Kuan Yew memutuskan untuk melepaskan diri dari Federasi Malaysia pada 9 Agustus 1965, hubungannya dengan Indonesia sudah lebih dulu terjalin. Pada Agustus 1960, dia melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Jakarta. Dia menemui Presiden Sukarno yang menjamunya di Istana Merdeka. Namun, dalam 20 menit perbincangannya itu, Lee Kuan Yew menemukan Sukarno berlawanan dari yang dia kagumi sebelumnya. Menurutnya, Sukarno terlalu “angkuh” dan dia kurang nyaman dengan sikap Sukarno yang menempatkan dirinya seakan seorang kakak yang selalu menasihati adiknya.

  • Rahasia Lee Kuan Yew

    DI BAWAH Lee Kuan Yew, Singapura membuat peraturan Internal Security Act (ISA), yang mengizinkan pemerintah menahan seseorang tanpa proses hukum dengan dalih keamanan nasional. Meski kemajuan ekonomi Singapura mencitrakan wajah liberal layaknya negara-negara dunia pertama, nyatanya Singapura masih menjunjung langkah represif dalam menghadapi aspirasi warganya sendiri. “Meskipun ada pemilu berkala yang dilaksanakan dengan jujur, dan peraturan pemilu yang masih mengizinkan semua partai untuk berpartisipasi (kecuali Partai Komunis), adanya penyitaan agenda sosial dan politis oleh elite pemimpin memiliki arti masyarakat telah disingkirkan secara efektif dari partisipasi politik,” tulis Stephen Mccarthy dalam The Political Theory of Tyranny in Singapore and Burma.

  • Kesaksian Korban Rezim Lee Kuan Yew

    LEE Kuan Yew, sosok yang mentransformasi Singapura, negara kecil bersumber daya alam nyaris nol menjadi pemain besar ekonomi dunia tersebut, meninggal dunia pada usia 91 tahun. Perdana menteri Singapura, yang berkuasa dari tahun 1959 sampai 1990 tersebut meninggal karena penyakit pneumonia. Namun bagi sebagian orang, kematian Lee Kuan Yew adalah jalan menuju kebebasan dari tirani. Beberapa bersuara mengomentari kepemimpinan pragmatis, atau dalam istilah yang lebih keras, ‘kediktatoran terselubung’ Lee Kuan Yew selama dirinya berkuasa. Di balik menara pencakar langit dan kekuatan finansial Singapura, bentuk-bentuk otoriterianisme mewujud.

  • Luciano Leandro Melabuhkan Cinta di Makassar

    KETIKA mengingat Kota Makassar, Luciano Leandro sesekali terdiam sebelum bertutur. Ia mesti memilih momen saking banyaknya pengalaman berkesan di kota terbesar Indonesia Timur itu. Makassar merupakan kota pertama dari kiprahnya dalam persepakbolaan Indonesia. Ia merantau dari Brasil ke Indonesia pada 1995, dibawa agen bola Angel Ionita. PSM Makassar jadi klub pertamanya bareng sesama jogador (pesepakbola) senegaranya, Marcio Novo.

  • Mimpi Juara Luciano Leandro Diraih di Ibukota

    MIMPI menjadi juara mendorong Luciano Leandro memutuskan harus mengadu nasib ke negeri orang. Maka ketika kesempatan untuk merumput di negeri seberang menghampirinya, ia tak menyia-nyiakannya. Ia tak peduli tujuan yang akan dicapainya merupakan negeri yang sama sekali tak dia kenal. Masih kental di dalam ingatan Luciano kala meminta izin ayahnya untuk merantau sekira 15 ribu kilometer ke belahan bumi lain. “Karena saya ingin berhasil. Waktu mau ke Indonesia, aku bilang mau juara di sini. Papa (Cecilio Leandro, red.) saya juga bilang agar jangan takut gagal. Kalau gagal, mereka tetap akan menyambut saya pulang,” kata Luciano mengenang, kepada Historia.ID.

  • Kisah Luciano Leandro Adu Nasib Lintas Benua

    DARI Brasil untuk berhasil. Motto itu masih tertanam dalam hati Luciano Leandro, mantan bintang Persija dan PSM Makassar asal Brasil. Meski kini sudah berganti profesi menjadi pelatih, motto itu masih dipegangnya erat-erat menjadi “ruh” guna mewujudkan ambisinya. Pun begitu, ia tetap rendah hati dan selalu bersahabat. Sapaan lebih dulu terlontar darinya ketika ditemui Historia.ID. Hampir setiap kalimat ia buka dengan kata friend alias teman. Dengan bahasa Indonesia yang kadang masih terbolak-balik strukturnya, ia berkisah banyak tentang kariernya pasca-dipecat Persipura pada Juli 2019. Luci, begitu ia biasa disapa, masih optimis berkarier di klub lain untuk musim depan.

  • Mayor Bedjo dan Mayor Liberty Malau Gelut di Tapanuli

    PERANG Kemerdekaan di Tapanuli meninggalkan cerita kelam tentang para pejuang yang saling bertempur satu sama lain. “Porang ni si Bedjo-Malau” begitu kata orang-orang zaman dulu dalam bahasa setempat. Perang saudara antara Mayor Bedjo dan Mayor Liberty Malau ini jadi kenangan pahit bagi masyarakat Tapanuli masa itu. “Saya pada waktu itu menggambarkan pihak yang bertentangan ini sebagai iblis dan setan. Satupun di antaranya jangan ditemani, karena bagaimanapun suatu ketika kita akan ditelan juga,” kenang Maraden Panggabean dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi. Perseteruan Bedjo-Malau bermula dari Peristiwa 10 September 1948. Saat itu, Bedjo menerbitkan perintah penangkapan terhadap pejabat tinggi Sub Komandemen Sumatra Timur dan Tapanuli. Mereka yang masuk daftar penangkapan yaitu Mr. Abdul Abbas (komandan Sub Komandemen), Mangaraja Gunung (oditur militer Padang Sidempuan) dan sejumlah perwira TNI dari Brigade XI dan XII: Mayor H. Siagian, Mayor Maraden Panggabean, Mayor Ricardo Siahaan, Letkol Pandapotan Sitompul, Kapten Koima Hasibuan, Kapten Daulay, Letnan Sinta Pohan, Letnan Abdul Rivai Harahap, Letnan Augus Marpaung, Kapten Batu. Pelaksanaan operasi diserahkan kepada Kapten Payung Bangun yang bertindak sebagai kepala Polisi Militer Sub Komandemen.

  • Kenapa Australia Menyebutnya Soccer ketimbang Football?

    GEMURUH puluhan ribu suporter tuan rumah yang memerahkan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Selasa (10/9/2024) malam berperan menyuntik spirit tim nasional Indonesia sekaligus meneror tim tamu, Australia. Tim berjuluk “Socceroos” itu melakoni laga tandang pada matchday kedua Grup C di babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona AFC (Asia). Sebagaimana dilansir laman resmi federasi sepakbola Australia, julukan Socceroos pertamakali dimunculkan jurnalis olahraga asal Sydney Tony Horstead pada 1960-an seiring pertandingan tur timnas Australia ke Vietnam. Lema tersebut merupakan perpaduan antara kata soccer dan kangaroos si fauna khas Australia.

  • Setelah PAI Tak Ada Lagi

    SETELAH Wakil Presiden Mohammad Hatta mengeluarkan Maklumat No. X tanggal 3 November 1945 mengenai pembentukan partai politik, para pemimpin Partai Arab Indonesia (PAI) justru menolak menghidupkan kembali partai yang sudah dibubarkan Jepang. Alasannya, selain tak sesuai dengan semangat kemerdekaan, partai-partai politik yang akan muncul membuka pintu bagi mereka. Para tokoh PAI pun bergabung dengan partai politik sesuai ideologi masing-masing. Umumnya memilih Masyumi, termasuk A.R. Baswedan. Hamid Algadri masuk Partai Sosialis Indonesia (PSI). Selebihnya bergabung dengan partai politik lainnya, seperti Said Bahreisj (Partai Nasional Indonesia) dan Ahmad Bahmid (Nahdlatul Ulama).

  • Patra Mokoginta Gagal Jadi Raja dan Dibuang

    SUKSESI raja Bolaang Mongondow sepeninggal Datu Cornelis Manopo pada 1927 memberi “berkah” pada Abraham Patra Mokoginta. Pria cendekia asal Bolaang itu berpeluang naik takhta menggantikan mertuanya itu. Namun, tidak mudah baginya menyelesaikan langkah politik yang tinggal setapak lagi itu. Patra merupakan menantu dari Raja Bolaang Mongondow Datu Cornelis Manopo. Dia menikah dengan Bua Baay Manoppo, putri sang raja. Namun bukan posisi sebagai menantu raja yang membuat Patra dikenal publik. Patra merupakan bangsawan-cendekia progresif Bolang Mongondow yang aktif berpolitik dan membangun masyarakat. Kiprahnya itu membuatnya dipercaya menjadi Jogugu, setara perdana menteri atau patih di Jawa. Dia memangku jabatan itu dari 1911 hingga 1928.

bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
bottom of page