top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jurnalisme Kepiting Jakob Oetama

    JAKOB Oetama masih bekerja di majalah Penabur, mingguan berhaluan Katolik, ketika pertama kali jumpa dengan Petrus Kanisius Ojong. Perkenalan mereka terjadi pada 1958. Jakob mengenal Ojong sebagai pemimpin redaksi majalah bermutu dan populer Star Weekly. Jakob datang berguru kepada Ojong. “Ketika terbetik berita Star Weekly akan ditutup, ia mendekati saya, apakah bersedia meneruskannya. Ia sempat ke Yogya, kami bersama menyaksikan Sendratari Ramayana di Prambanan,” tutur Jakob dalam Kompas, 2 Juni 1980. Jakob saat itu sedang menyelesaikan studi tahun terakhir pada Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada. Ojong lebih tua 11 tahun dari Jakob. Namun, mereka nyambung dalam bertukar pikiran karena sama-sama berlatar belakang sebagai guru. Pada awal 1960, Ojong sering bertemu dengan Jakob dalam gerakan asimilasi. Kemudian, mereka juga duduk dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Pada 1963, Ojong dan Jakob mendirikan majalah ilmu pengetahuan Intisari.

  • Lomba Bercocok Tanam di Masa Silam

    ISU ketahanan pangan akan selalu aktual dalam beberapa dekade mendatang. Lahan pertanian penghasil bahan makanan semakin berkurang. Sementara, populasi manusia terus bertambah. Jika hal ini dibiarkan, maka yang terjadi adalah krisis pangan. Di Indonesia, isu ketahanan pangan jadi persoalan hangat belakangan ini. Proyek food estate (lumbung pangan) pemerintah yang memakan biaya dan lahan besar, sampai saat ini masih belum menuai hasil signifikan. Targetnya memang untuk jangka panjang. Namun, sejumlah pihak, entah itu politisi, pengamat, maupun aktivis lingkungan, kadung menilainya sebagai proyek gagal. Di masa mendatang, proyek lumbung pangan ini tetap diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri.

  • Residen Lampung Pertama Diturunkan Rakyat

    PADA 9 September 1946, sekitar 15.000 orang turun ke jalan mendesak Residen Lampung pertama, Mr. Abdul Abbas melepaskan jabatannya. Ia hanya menjabat sekitar setahun. Abdul Abbas lahir di Binjai, Sumatra Utara pada 11 Agustus 1906. Setelah menamatkan pendidikan Recht Hogeschool (RHS) atau Sekolah Tinggi Hukum di Batavia pada 1938, ia melanjutkan studi hukum ke Universitas Leiden, Belanda. Sekembalinya ke Indonesia, ia bekerja sebagai pengacara di Lampung dan menjadi tokoh Parindra (Partai Indonesia Raya). Pada masa pendudukan Jepang, Abdul Abbas menjadi ketua Shu Sangi Kai, semacam dewan penasihat yang dibentuk Jepang di setiap keresidenan. Menyusul kekalahan Jepang pada 15 Agustus 1945, Komando Tantara ke-25 memilih tiga wakil Sumatra, yaitu Mr. Teuku Mohammad Hasan, Abdul Abbas, dan dr. Mohammad Amir, untuk mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta.

  • PON di Masa Perang

    DALAM suatu upacara di Istana Kepresidenan Yogyakarta (Gedung Agung), Presiden Sukarno menyerahkan bendera Pekan Olahraga Nasional (PON). Barisan pembawa bendera PON dan bendera Merah Putih kemudian membawanya dengan jalan beranting menuju Solo. Sesampai di Solo, rombongan pembawa bendera disambut GPH Soerio Hamidjojo, ketua penyelenggara PON I. Keesokan harinya, 9 September 1948, barisan pembawa bendera tiba di Stadion Sriwedari, tempat upacara pembukaan PON I. Kendati di tengah situasi genting, upacara pembukaan berlangsung meriah. Sejumlah tamu penting hadir seperti Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Susuhunan Pakubuwono XI, dan Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman.

  • Ahmad Subardjo di Palestina

    ORGANISASI Kerja Sama Islam (OKI) mengeluarkan dua resolusi dalam Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri Luar Biasa ke-23 di Jeddah, Arab Saudi, pada 27 Agustus 2026. Salah satunya masih menyangkut Palestina. Indonesia punya ekspektasi lebih dari sekadar seruan dan kecaman semata. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta, yang turut menghadiri konferensi itu. Terorisme Israel lewat ekspansi dibarengi tindak kekerasan dan pembunuhan warga Palestina di Tepi Barat oleh para pemukim ilegal takkan berhenti hanya dengan seruan dan kecaman, ujarnya. “OKI harus mampu membangun wibawa organisasi, tidak dengan kecaman dan pernyataan tetapi melalui aksi nyata dan berkelanjutan. OKI harus memaksimalkan kemampuan dan mekanismenya untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas berbagai kejahatannya serta mengkategorikan tindakan kekerasan para pemukim ilegal sebagai aksi terorisme,” ungkap Anis seperti dimuat di laman resmi Kemlu RI, 27 Agustus 2026.

  • Semaoen Pelopor Gerakan Buruh

    KOTA Semarang menyimpan banyak catatan sejarah tentang ketokohan Semaoen. Kendati lahir di Jombang dan bertumbuh di Surabaya, Jawa Timur, Semaoen meninggalkan jejak pergerakan di Semarang, Jawa Tengah. Pada 1917, Semaoen menjadi ketua Sarekat Islam cabang Semarang. Sejak itu, reputasinya sebagai aktivis pergerakan dan propagandis serikat buruh mulai diperhitungkan pemerintah kolonial. Menurut sejarawan dari Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang, Rukardi Achmadi, ada beberapa tempat yang pernah ditinggali dan disinggahi Semaoen. Salah satunya rumah Semaoen di Kampung Suburan yang sempat ditumpangi Tan Malaka. Selain itu, gedung Sarekat Islam (SI) Semarang dan kantor pusat Serikat Buruh Kereta Api dan Trem (VSTP) juga lekat dengan Semaoen. “Ada lagi bekas kantor PKI di Tegalwareng, tapi sampai sekarang keberadaannya belum terlacak,” terang Rukardi kepada Historia.ID. “Kalau yang masih asli ya gedung SI dan eks kantor VSTP.”

  • Akhir Tragis Sahabat Marie Antoinette

    KEMARAHAN rakyat Prancis yang berujung pada gejolak revolusi tak hanya mengarah kepada Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette. Sejumlah bangsawan lain yang memiliki hubungan dekat dengan pasangan itu juga turut menjadi sasaran massa, salah satunya adalah Putri de Lamballe, teman dan pelayan yang setia kepada Marie Antoinette. Putri de Lamballe lahir di Turin, 8 September 1749, dengan nama Marie Thérèse de Savoie-Carignan, putri Pangeran Louis-Victor de Savoie-Carignan. Dia menikah dengan Louis-Alexandre-Stanislas de Bourbon, Pangeran de Lamballe, putra tunggal bangsawan Duc de Penthièvre. Keduanya masih belia saat pernikahan digelar pada 1767, Pangeran de Lamballe berusia 20 tahun, sedangkan sang pengantin wanita baru akan menginjak umur 18. Nahas, pernikahan ini tak berlangsung lama karena Pangeran de Lamballe meninggal dunia. Antonia Fraser dalam Marie Antoinette: The Journey menyebut pernikahan dengan Pangeran de Lamballe nantinya akan mempengaruhi kedudukan sang putri di Istana Versailles. “Dalam kasus Putri de Lamballe, peringkatnya di istana berasal dari pernikahannya dengan keluarga pangeran yang sah, bukan berdasar pada kelahirannya. Menikah lagi dengan orang yang pangkatnya lebih rendah mungkin akan mengorbankan pangkatnya sendiri,” tulis Fraser.

  • Seberg Melawan Arus

    KEKANGAN rantai yang membelenggu dirinya ke sebuah kayu membuat pikiran Jean Seberg (diperankan Kristen Stewart) melayang. Seiring mata kamera membidiknya makin dekat, napasnya kian berat. Histeria lantas melandanya kala api mulai membakar dirinya. Itu merupakan ending dari film Saint Joan (1957) yang jadi debut Jean di layar perak. Sineas Benedict Andrews merekonstruksinya sebagai “pintu masuk” political thriller garapannya mengenai sosok sang aktris, Seberg. Andrews seolah ingin mengidentikkan sosok Jean laiknya Joan of Arc yang mulanya dipuja namun akhirnya terbakar oleh keyakinannya sendiri melawan arus di sekitarnya. Alur cerita lalu melompat ke medio Mei 1968 ketika Jean sudah bertransformasi menjadi ikon new wave sinema Prancis. Kini ia siap kembali ke tanah airnya untuk menembus Hollywood. Namun dalam perjalanan di atas pesawat maskapai Pan Am, Jean berkenalan dengan aktivis HAM dan anti-rasisme Hakim Jamal (Anthony Mackie), sepupu mendiang Malcolm X.

  • Selamat Jalan Alfred Riedl

    MENJELANG akhir 2010, asa pendukung tim nasional sepakbola Indonesia melambung. Dalam helatan piala AFF 2010, Timnas Garuda tampil memikat di bawah asuhan Alfred Riedl. Serangannya bagai badai tornado dan pertahanannya menjadi serapat beton. Kuku Garuda benar-benar bikin Laos porak poranda, Malaysia hancur lebur, dan Thailand minta ampun di babak penyisihan. Filipina, sang kuda hitam, ngos-ngosan tak kuasa melawan kuku Garuda di semifinal.

  • Elizabeth Ida dan Gambar yang Bicara

    GAMBAR beringin, mozaik orang baris-berbaris, lelaki berpeci dengan mata menyalang, monumen Lubang Buaya, yang terbingkai dalam satu poster foto, menyambut pengunjung di ruang pamer Kedai Tempo, Jalan Utan Kayu 68 H-Jakarta. Poster foto itu tidak sendiri, masih ada empat instalasi video dan sepuluh karya fotografi di sana, yang tersaji dalam pameran tunggal Elizabeth Ida Mulyani dengan tajuk "De/Re Konstruksi 1965, Sejarah Siapakah?" yang dikuratori oleh Joachim Naudts. Pada sudut ruangan, terpampang 24 potongan foto seukuran kartu pos dari film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer, mulai dari penjemputan jenderal, tentara yang menembak, hingga ekspresi pada jenderal yang akan dieksekusi.

  • Kunjungan Ratu Elizabeth II ke Indonesia

    RATU Inggris Elizabeth II meninggal dunia pada 8 September 2022 di usia 96 tahun. Dia bertakhta selama 70 tahun sejak 1952. Penggantinya sebagai raja Inggris adalah anak tertua, Charles III yang berusia 73 tahun. Ratu Elizabeth II menjadi kepala negara Inggris pertama yang berkunjung ke Indonesia. Kunjungan kenegaraan ini untuk memperbaiki hubungan Indonesia dan Inggris. Pasalnya, pada 1960-an, hubungan Indonesia dan Inggris memburuk setelah Presiden Sukarno melancarkan konfrontasi karena menolak pembentukan Federasi Malaya yang didukung Inggris. Kedutaan Besar Inggris di Jakarta sampai dibakar massa yang berdemonstrasi. Setelah merebut kekuasaan dari Sukarno, Jenderal TNI Soeharto mengakhiri konfrontasi. Presiden Soeharto kemudian menerima kunjungan kenegaraan Ratu Elizabeth II pada 1974.

  • Ratu Elizabeth II Mengundang Bung Karno Ke London

    SEPANJANG masa kepresidenannya, Sukarno telah melakukan kunjungan kenegaraan ke berbagai belahan dunia. Tapi, ada dua negara Eropa yang belum disambanginya: Belanda dan Inggris. Keengganan Sukarno ke Belanda jelas perkara prinsip dan harga diri. Ia tak sudi menginjakkan kaki ke negeri penjajah tersebut. Sementara Inggris, belum kesampaian saja. “Aku sudah ke mana-mana kecuali ke London, sekalipun Ratu Inggris sudah dua kali mengundangku untuk berkunjung,” kata Sukarno dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Ada kisah di balik undangan Kerajaan Inggris terhadap Bung Karno. Bermula ketika Sukarno berpidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-15 pada 30 September 1960. Dalam pidatonya berjudul To Build The World Anew (Membangun Dunia Kembali), Bung Karno mempromosikan Pancasila untuk dianut dalam piagam PBB. Ia juga menyentil PBB yang lebih condong terhadap kepentingan adikuasa daripada negara-negara dunia ketiga. Tak luput pula kecaman dilayangkannya terhadap kuasa penjajahan Belanda di Irian Barat (kini Papua).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page