top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10075 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Melacak Maestro Lukis Indonesia

    MUSEUM Basoeki Abdullah menggelar pameran dokumentasi sang maestro dari 7 November hingga 22 November 2017. Sejumlah arsip yang dipamerkan antara lain surat pribadi, surat tagihan, undangan/katalog pameran, laporan kekaryaan lukisan, informasi pribadi, pesan tertulis pelukis, catatan harian, fotografi, sampul majalah, kartu pos, poster, materi iklan produk, buku-buku dan kliping berita surat kabar. Menurut Mikke Susanto, kurator pameran, dibutuhkan tenaga, waktu yang memakan waktu beberapa tahun, dan kesabaran tinggi dalam melacak dokumentasi Basoeki Abdullah. Hal terindah dari proses pelacakan justru karena kepopulerannya. Selama hidupnya Basoeki Abdullah kerap menjadi berita media massa. Dari sejumlah mitra kerja pameran ini terkumpul lebih dari 200 judul kliping media massa.

  • Imajinasi Wajah Pahlawan Nasional

    SEPULUH lukisan wajah Pahlawan Nasional karya pelukis Basoeki Abdoellah menjadi salah satu koleksi yang dipamerkan dalam eksebisi dokumentasi bertajuk "Lacak" di Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan, 7-22 November 2017. Pada sisi dinding pertama, lima lukisan dipajang sejajar, mulai dari Teuku Umar hingga Tuanku Imam Bonjol. Lima lukisan lainnya, mulai I Gusti Ngurah Rai hingga Robert Wolter Monginsidi, di dinding sebaliknya yang juga dipasang berjajar. “Jika lukisan-lukisan tersebut dijajar, saya merasakan kita tengah menyaksikan para ‘ avengers Indonesia’ ada di depan, tengah beraksi. Itulah nilai estetika lukisan-lukisan pahlawan yang dikreasi oleh Basoeki Abdullah,” ujar Mikke Susanto, kurator pameran, kepada Historia . Pada 1975, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Syarif Thayeb mengadakan Proyek Biografi Pahlawan Indonesia. Tujuannya mengumpulkan dan menerbitkan materi-materi biografi Pahlawan Nasional. Sasaran dari publikasi ini adalah anak-anak sekolah dasar hingga menengah, mahasiswa, dan masyarakat umum. Menurut Klause H. Schreiner, “Penciptaan Pahlawan-Pahlawan Nasional” termuat dalam Outward Appearancess, proyek itu sebetulnya berasal dari Lembaga Sejarah dan Antropologi pada masa Sukarno (1959) guna mengkoordinasikan semua sumber publikasi dan tulisan historis untuk mendapatkan historiografi nasional yang bertalian. Biografi tersebut berupa buklet bersampul gambar pahlawan dan tebal isinya mulai dari 50 hingga 200 lembar. Tidak ada yang tahu seperti apa wajah sebenarnya dari para pahlawan ini. Potret yang diwujudkan ini hanya menampilkan wajah yang kokoh. Pemerintah pun menunjuk pelukis Basoeki Abdullah untuk menjadi pelukis wajah pahlawan-pahlawan nasional itu. “Wajah-wajah pahlawan itu dilukis tahun 1976, dan tidak semua Pak Bas (panggilan Basoeki Abdullah, red ) tahu wajahnya. Imajinasi. Salah satu kasus adalah lukisan wajah Cut Nyak Dhien, itu jilbaban atau enggak . Nah, foto yang didapat Pak Bas bukan berjilbab. Mengenai lukisan Sisingamangraja diinspirasi dari pelukis sezaman. Dia karikaturis yang kemudian melukis dengan meriset di keluarga-keluarga Sisingamangaraja. Lukisan itu lalu diterima Sukarno. Nah, Pak Bas melihat itu lalu melukisnya,” terang Mikke. Karikaturis yang dimaksud adalah Agustin Sibarani. Menurut Mikke, Basoeki mampu menerjemahkan pesanan pemerintah Orde Baru yaitu mengedepankan nasionalisme. “Imajinasi Basoeki yang amat kuat dicampur dengan realisasi teknik yang mumpuni, membuat pemerintah nyaris tak punya pilihan yang lebih baik daripada Basoeki. Lukisan-lukisan Pahlawan Nasional karya Basoeki Abdullah yang dikerjakan kisaran 1976 ini telah menjadi representasi kepahlawanan di mata para siswa dan rakyat kebanyakan di Indonesia. Lukisan dari Pak Bas lalu menghiasi buku-buku mengenai sejarah Indonesia, dan untuk digunakan pula dalam buku-buku PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa),” ujar Mikke. Selama bertahun-tahun Mikke mengamati dengan cermat karya-karya Basoeki Abdullah, termasuk karya wajah pahlawan. Menurutnya, pemerintah Orde Baru berusaha menampilkan jiwa nasionalis dan patriotik melalui wajah-wajah Pahlawan Nasional. “Secara teknis, belasan lukisan tema pahlawan karya Basoeki Abdullah, sangat kuat, bahkan terdapat kesan yang melampaui citra aslinya. Jiwa maskulinitas sang figur tajam. Hal ini bisa dirasakan dari warna yang dipakainya. Warna coklat tua, biru dan hijau gelap, dengan kuning oker yang mencitrakan tanah dan air yang membentuk ras Melayu amat kental. Wajah mereka rata-rata keras dan raut muka serius dengan ciri khas masing-masing makin menguatkan kesan maskulin, meskipun di antaranya adalah tokoh perempuan. Goresan kasar yang dipakai dicampur dengan sedikit arsiran halus membuat lukisan mengesankan kelembutan dan kekerasan terpadu,” ujar pengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini. Saat disinggung mengenai berapa besar proyek lukisan wajah pahlawan yang diterima Basokei Abdullah dari pemerintah, Mikke mengaku belum mendapat angka pasti. “Belum kutemukan informasinya. Rasionalnya begini, setiap pesanan lukisan sepanjang sejarah seni, biasanya pelukis mendapat sejumlah dana. Hal ini sudah dibuktikan pada masa revolusi ketika Sukarno memesan belasan lukisan potret pahlawan pada Sudjojono, Dullah, Harijadi, dll. Apalagi Basoeki Abdullah mengerjakan lebih dari 10 lukisan, pasti dapat ongkos kerja. Info mengenai jumlah dana belum diketahui. Hanya efeknya yang cukup menarik, setelah lukisan tersebut dikerjakan oleh Basoeki, nama dan eksistensinya makin kuat. Kedua, pekerjaan ini tentu memerlukan riset ala seniman, yaitu mencari data visual yang terdekat dengan wajah sang pahlawan,” ujar Mikke. Jika lukisan wajah pahlawan itu hasil imajinasi, tentu timbul pertanyaan, seperti apa wajah asli pahlawan tersebut. “Ini kan perlu mendekonstruksi lagi lukisan pahlawan itu. Misalnya, seperti Pattimura, apakah betul wajahnya seperti itu,” ujar Restu Gunawan, direktur kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selain kesepuluh lukisan wajah Pahlawan Nasional itu, lukisan wajah Pattimura karya Basoeki Abdullah juga dipamerkan namun sebagai sampul majalah Pembinaan Pendidikan edisi November 1977.*

  • Slebew, Slang, dan Walikan

    ADA banyak hal yang dapat dibahas dari popularitas Citayam Fashion Week yang sempat menghebohkan publik. Salah satunya istilah yang menarik yaitu “slebew”. Kata ini kerap diucapkan anak-anak muda yang nongkrong di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Arti “slebew” mungkin hanya mereka yang tahu. Kata ini tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karena bentukan baru sebagai bahasa informal atau slang. Gorys Keraf dalam Diksi dan Gaya Bahasa menjelaskan bahwa slang merupakan kata-kata nonstandar yang informal, yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer (manasuka); atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga, dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadang kala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang kala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain.

  • Raja Ali Haji dan Pulau Bahasa Indonesia

    LUAS Pulau Penyengat tak sampai 2 km persegi, berada di perbatasan Indonesia dan Singapura. Namun, pulau ini menjadi pusat kebudayaan Melayu dan tumbuh kembang bahasa Indonesia. Pada awal abad ke-19, Pulau Penyengat terkenal sebagai pusat kesusastraan dan literatur. Bisa dibilang, pulau ini menjadi pusat kajian Melayu Islam. "Bukan Melayu kalau belum ke Pulau Penyengat," kata Surjadi, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, dalam seminar daring berjudul "Warisan Budaya Pulau Penyengat, Tantangan, dan Peluang Pelestarian Serta Pengelolaannya" yang diadakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat. Berkat dorongan kerabat istana, pulau yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga itu tumbuh menjadi pusat kegiatan penulisan naskah Melayu. Naskah-naskah Melayu-Riau ditulis dan disalin ke dalam aksara Jawi.

  • Jenderal Douglas MacArthur: Rebut Manila!

    SUDAH tiga bulan sejak Jenderal Douglas MacArthur menginjakkan kaki lagi di Filipina untuk menunaikan janjinya, “I Shall Return!”, namun Manila masih belum dikuasainya. Padahal, bagi MacArthur Manila merupakan yang utama di Filipina. MacArthur mendarat kembali ke Filipina pada 20 Oktober 1944. Dia mendarat di Pantai Merah Leyte. Saking semangatnya, MacArthur yang ditemani Presiden Filipina Sergio Osmeña turun dari kapal sesegera mungkin walau celananya harus kebasahan oleh air laut di bibir pantai. “Bagi MacArthur, kembali ke Filipina dan menunaikan janjinya sudah jadi obsesi lamanya, sebagaimana paus beluga bagi Ahab dalam novel (Herman) Melville, Moby Dick. Kepala staf intelijen MacArthur Brigjen Charles Willoughby mengatakan: ‘Setiap pertempuran di Papua, setiap raid di Rabaul atau serangan kapal patroli terhadap kapal-kapal tongkang Jepang, adalah pendahuluan bagi penaklukan kembali Filipina,’” tulis James M. Scott dalam Rampage: MacArthur, Yamashita, and the Battle of Manila.

  • Sultan Ternate Diselamatkan Jenderal Douglas MacArthur

    PANGKALAN Morotai kala senja 8 April 1945 diwarnai cuaca bersahabat dan kesibukan 33 kombatan gabungan di bawah Unit Khusus Z Angkatan Laut Amerika Serikat yang memuat dua motor torpedo (MBT) 364 dan 178. Tepat pukul 17.30, keduanya bertolak menuju Pulau Hiri di utara Kepulauan Ternate. Butuh waktu sekira lima jam bagi kedua MBT itu mengarungi Laut Maluku guna mencapai Desa Saki di pesisir Pulau Hiri, 20 kilometer utara Kota Ternate yang masih jadi basis militer Jepang. Setibanya di Saki pada pukul 22.45, mereka langsung disambut seorang warga setempat yang merangkap jadi agen penghubung misi mereka. Kapten Kroll yang memimpin Unit Khusus Z segera menuliskan pesan dalam secarik kertas yang diberikan kepada si penghubung untuk dikirimkan ke Sultan Ternate Iskandar Mohammad Djabir Sjah yang jadi tujuan utama misi mereka. Sementara si penghubung berlayar lagi bersama sejumlah loyalis sultan ke utara Ternate, Kapten Kroll bersama Mayor George Bosworth, dan Letnan Richard Hardwick membawa tiga prajurit komando untuk menelusuri wilayah di pesisir timur dan selatan Pulau Hiri guna memastikan posisi mereka tak diendus serdadu atau mata-mata Jepang.

  • Selamat Jalan Kobe Bryant!

    DARI Lionel Messi sampai Diego Maradona, mulai Tiger Woods hingga Lewis Hamilton. Bukan hanya mereka yang berkecimpung di dunia basket, para atlet hingga legenda hidup dari beragam cabang olahraga terguncang oleh kabar getir meninggalnya Kobe Bryant. Kobe dan Gianna Maria Onore (13), putri keduanya, turut jadi korban dalam kecelakaan helikopter yang menewaskan sembilan orang di Cabalasas, California, Amerika Serikat, Minggu (26/1/2020) waktu setempat.

  • Awal Mula Bisnis Eka Tjipta Widjaja

    SEPASANG cincin berbatu zamrud melingkar di dua jari telunjuknya. Hijau di telunjuk kanan dan merah di kiri. Hijau lambang banyak relasi, sedangkan merah tanda murah rezeki. Semasa muda, dia hanya memakai cincin zamrud hijau. Suatu hari seorang teman menyarankannya untuk juga memakai cincin merah. Tujuannya mengimbangi aura cincin hijau. Temannya seorang ahli batu. Dia percaya sarannya. “Maka saya pakai dua ini, yang satu hoki, yang lain buat sosial,” kata dia pada suatu hari dalam tahun 1989 di ruang kerjanya, Gedung Bank International Indonesia (BII), Jakarta, seperti termuat dalam Eksekutif, Mei 1989.

  • Cara Eka Tjipta Widjaja Membangun Usaha

    SETELAN jas gelap, dasi, dan pantofel. Begitulah pilihan busana Eka Tjipta Widjaja untuk menghadiri urusan bisnis semasa hidup. Dari pergi ke kantor, bertemu relasi, menghadapi wartawan, sampai ke seminar. Kelihatan serius, formal, dan kaku. Tapi dengan gaya begitu pun dia masih bisa bikin ngakak lawan bicaranya. “Kami ini disebut sebagai seorang konglomerat. Tapi, kami ini konglomerat yang banyak utang. Kami banyak usaha, tapi banyak utang juga. Dengan kata lain, besar usahanya besar juga utangnya,” kata Eka dalam suatu seminar pada 1991, seperti diceritakan oleh Dahlan Iskan dalam Eka Tjipta Widjaja Kisah dan Liku-likunya Menjadi Konglomerat.

  • Pedagang dan Pejuang dari Tanah Rencong (Bagian I)

    DARI gerbang utama TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, areal sisi utara, beberapa ratus meter dari belakang kantor unit TPU, kita akan menemukan lebih sedikit pusara yang berhias bambu runcing dan bendera merah putih dari material besi. Salah satunya milik tokoh pejuang asal Aceh yang jarang dikenal, Teuku Abdul Hamid Azwar.

  • Sukarno dan Johny Indo Menemukan Tuhan di Penjara

    BAGI sejumlah narapidana (napi), penjara tak bikin mereka menyadari kesalahannya. Mereka justru jadi lebih jahat dan pandai berbohong. Tapi buat segelintir orang lainnya, penjara telah memberi mereka gagasan dan pengalaman segar tentang agama. Misalnya, terjadi pada Sukarno dan Johny Indo. Mari mulai dari Sukarno. “Saya pernah hidup di dalam penjara: satu kali dalam penjara tahanan Banceuy di Bandung, dua kali di penjara besar Sukamiskin. Satu kali lagi di penjara Mataram, dan juga di penjara Surabaya,” tulis Sukarno dalam artikelnya “Propaganda Islam di dalam Pendjara”, termuat di Pedoman Masjarakat, 9 Maret 1938. Berbeda dari pelaku kriminal umumnya, Sukarno masuk penjara lantaran kena tuduh pasal menghasut orang untuk melawan pemerintah kolonial pada Desember 1929. Pemerintah kolonial menjebloskannya ke sel tunggal supaya tak mempengaruhi tahanan lain. Ini berarti pemerintah kolonial menilai Sukarno masuk kategori tahanan berbahaya atau khusus.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page