top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10075 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cerita di Balik Nama Fredy S

    JUARIYAH tergopoh-gopoh membawa anak keduanya yang baru berusia tiga bulan ke sebuah rumah sakit di Kalisari, Semarang. Dokter mendiagnosis bayi itu sakit paru-paru basah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Sementara Juariyah hidup pas-pasan. Tak ada lagi sandaran hidup setelah berpisah dari suaminya, M. Zein, seorang keturunan Arab, yang memutuskan kembali ke Jakarta. Dalam keputusasaan, ia bergumam: “Aku sudah capek di rumah sakit. Kalau ada yang mau anak ini, aku akan memberikannya.”

  • Hikayat Roman Sepicis

    AYUNING Tias anak seorang juragan tembakau kaya dari Jenggawah, sebuah desa kecil di selatan Jember. Parasnya nan rupawan kesohor hingga kampung sebelah. Dari sekian banyak kumbang, Marlan berhasil mengisap madu sang kembang. Menjelang lulus sekolah, Ayu pun hamil. Namun Marlan justru mencampakkannya setelah mengeruk kekayaan orang tua Ayu. Dengan bantuan seorang dukun beranak, Ayu menggugurkan kandungannya. Trauma ini membuat Ayu mengambil jarak dengan laki-laki. Hingga suatu hari ia termakan rayuan Yudi Margono, pemuda tampan bermobil dan tinggal di rumah gedongan.

  • Mengukir Nama di Ladang Cinta

    RUMAH dua tingkat di Bintara, Bekasi itu berpagar jerajak besi. Halamannya dipenuhi aneka bunga. Beranda dibiarkan kosong; tak ada meja maupun kursi. Sebuah sepeda mini terparkir di garasi. Dua bocah laki-laki asyik bermain. Mereka cucu si empunya rumah: Fredy Siswanto atau Fredy S. Ruangan di dalamnya cukup luas. Agak menjorok ke dalam, anak tangga meliuk ke lantai dua. Di bawahnya, kolam ikan mini tak lagi terawat. Dinding kolam itu bercorak ala lembah di pegunungan. Kering. Berdebu. “Maaf, agak berantakan. Semenjak Fredy sakit, sempit sekali waktu untuk mengurus rumah. Anak-anak juga sudah tinggal di rumah masing-masing dengan keluarganya. Paling seminggu sekali datang ke mari,” kata Sri Suyati, biasa disapa Yati, istri pertama Fredy S.

  • Mohamad Hasbi dari Petrus ke Kedung Ombo

    HINGGA hari ini, istilah “gali” masih ada di Yogyakarta. Gali adalah singkatan dari gabungan anak liar. Istilah ini sudah populer di awal dekade 1980-an, ketika diadakan operasi berdarah terhadap premanisme di sekitar Yogyakarta. Apapun nama operasi berdarah itu, lebih banyak orang mengingatkanya sebagai Petrus alias Penembakan Misterius. Kota Yogyakarta adalah wilayah teritorial dari Komando Distrik Militer (Kodim) 0734 yang berada di bawah Komando Resort Militer (Korem) 072 —yang membawahi kabupaten-kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) plus Kabupaten Temanggung, Megelang, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen. Ketika para preman itu diburu, komandan Kodim (Dandim) Yogyakarta adalah Letnan Kolonel CZI Mohamad Hasbi (1939-2022). Dialah yang dianggap sebagai pelopor Petrus tersebut. “Landasan hukum operasi yang ditanganinya adalah Operasi Clurit. Sedang landasan pelaksanaannya adalah tingkat keresahan masyarakat,” terang Hasbi sebagaimana diberitakan Kompas , 15 April 1983. Operasi Petrus Kendati dijalankan secara terukur oleh militer, banyak yang mengkhawatirkan praktik tersebut. Salim Said, pakar politik, termasuk orang yang khawatir dengan Petrus. “Kalau kurang hati-hati Petrus bisa menjalar dari pembunuhan kriminal menjadi pembunuhan politik,” ujar Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto . Sekitar tahun 1983, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang dipanglimai Laksamana Sudomo melancarkan Operasi Clurit untuk menghantam para kriminal yang akhirnya dianggap pemerintah meresahkan. Ketika Jenderal Benny Moerdani menjadi panglima Kopkamtib, operasi terhadap para preman bercap kriminal pun semakin dikeraskan. Operasi yang dipelopori Letnan Kolonel Mohamad Hasbi itu, menurut Salim Said, “kemudian diam-diam diambil alih Pangkopkamtib Moerdani dan diberlakukan di seluruh Indonesia.” Sebelum menjadi Dandim Yogyakarta, Hasbi menjadi Dandim di Kodim 0703 dari tahun 1979-1982. Pria kelahiran Tapaktuan, Aceh, 20 Januari 1939 ini sekitar dua tahun menjadi Dandim di Yogyakarta. Setelah Petrus menewaskan 532 orang yang dicap preman kriminal dan hampir lima tahun Hasbi menjadi Dandim di Cilacap dan Yogyakarta, jabatan Hasbi dinaikkan. “Gubernur Jawa Tengah Ismail tanggal 16 Juni (1984) melantik Letkol CZI M. Hasbi sebagai Bupati Boyolali di gedung Pemda Boyolali. Hasbi menggantikan posisi pejabat sebelumnya MC Tohir,” demikian diwartakan Mimbar Kekaryaan ABRI  edisi 162, Juni 1984. Waduk Kedung Ombo Masalah yang dihadapi Hasbi di Boyolali bukan “gali” lagi. Masalah yang dihadapinya, sebuah proyek pembangunan waduk di Kedung Ombo. Sebagai bupati, Hasbi jelas diajak bicara terkait masalah pembebasan tanah. Kala itu, banyak yang menolak ganti rugi untuk pembebasan tanah tersebut. Namun, “tangan besi” rezim Orde Baru meresponnya dengan tindakan tak manusiawi. “Di Kedung Ombo, petani yang membangkang untuk menyerahkan tanahnya dicap sebagai PKI dengan cara diberi kode ET di KTP mereka,” kata Ikrar Nusa Bhakti dalam Militer dan Politik Kekerasan Orde Baru: Soeharto di Belakang Peristiwa 27 Juli . Pelabelan PKI terhadap siapapun yang melawan kehendak pemerintah merupakan praktik umum yang “sakti” rezim Orde Baru. Dengan pelabelan itu, pemerintah tak perlu buang banyak tenaga karena masyarakat dengan sendirinya akan mengucilkan mereka yang dicap, meskipun mereka yang dicap PKI itu sebetulnya tak ada kaitannya dengan masalah 1965. Dengan begitu, cap PKI adalah sesuatu kutukan yang menakutkan banyak orang di zaman Orde Baru. Saking menakutkannya, pernah ada isu bahwa ada petani yang masuk hutan karena takut. Namun, lewat Kompas tanggal 20 Juni 1986, Hasbi membantah isu tersebut. Hasbi menjadi bupati Boyolali selama 10 tahun (1984-1994). Ketika tak jadi bupati lagi, dia masih militer aktif namun hampir memasuki masa pensiun di ABRI. Meski karier militernya kurang cemerlang, sang jebolan Sekolah Calon Perwira ini setidaknya berhasil menjadi perwira tinggi dengan pangkat Brigadir Jenderal. “Tidak banyak data tentangnya,” terang Donny Alamsyah Syeoputra yang mengkurasi keseluruhan jenderal Angkatan Darat. Menurut Apa & Siapa Caleg Golkar Jawa Tengah, DPRD I Pemilu 1997, Hasbi kemudian bergabung dengan Golongan Karya (Golkar) dalam Pemilu 1997, pemilu terakhir Orde Baru.  Hingga beberapa tahun setelahya, dia menjadi wakil ketua DPRD Jawa Tengah sebelum tutup usia pada 25 November 2022.*

  • Samudra Pasai Kaya Lantaran Berdagang Lada

    JELANG dinihari 21 Juni 2024, KRI Dewaruci sudah memasuki perairan Aceh dalam pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah. Paginya, Dewaruci sudah melewati kawasan Lhoksumawe dan Lhoksukon. Kawanan lumba-lumba sempat terlihat di perairan Aceh Timur sekitar pukul 10.00 pagi. Mereka terlihat di bawah anjungan kapal latih TNI AL itu. Beberapa di antaranya melompat. Dari kejauhan, terlihat tangki-tangki minyak berukuran besar. Aceh dikenal juga karena minyaknya. Kawasan ini dulunya diperkirakan wilayah dari kerajaan Samudra Pasai, salah satu kerajaan besar di Aceh. Dulu, murid-murid sekolah dalam pelajaran sejarah Indonesia diajari bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Namun setelah ada upaya pelurusan sejarah, disebutkan bahwa Peurelak atau Perlak justru yang merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia. Baik Samudra Pasai maupun Perlak sama-sama di Aceh. Lokasi bekas kerajaan Perlak itu kini menjadi Kabupaten Perlak.

  • Viva Vivian! Transeksual yang Mengubah Jenis Kelamin

    INI hari yang membahagiakan bagi Vivian. Bergaun pengantin warna putih, dia terlihat begitu anggun ketika turun dari sebuah Mercy 300 SEL. Dengan luwes dia melangkah memasuki ruangan resepsi di sebuah restoran mewah di Jakarta, menggandeng tangan Felix Rumayar. Dia merasa jadi ratu semalam setelah sebelumnya menikah di sebuah gereja Katolik di Petamburan dan mencatatkan pernikahan di kantor Catatan Sipil, awal November 1975. Sejumlah orang penting hadir, antara lain pengacara kondang Adnan Buyung Nasution dan Gubernur Jakarta Ali Sadikin. Kuncoro, sejawatnya di Viva Kosmetik, memberi sambutan dengan kisah pertemuan kedua mempelai, lalu mengakhirinya dengan teriakan: “Viva Vivian, Viva Felix!”

  • Samurai dalam Pembantaian Banda

    PULAU kecil di bawah Maluku ini memang tidak semewah Batavia. Tapi ketenarannya mampu memikat orang-orang dari belahan bumi lain untuk datang dan menguasai kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Dalam The Banda Islands: Hidden Histories & Miracles of Nature, disebutkan sebelum VOC datang menguasai kepulauan Banda, Inggris telah lebih dahulu melakukan kontak dengan masyarakat di sana. Mengetahui adanya ladang rempah yang sangat melimpah di Banda, Belanda pun merangsak masuk. Kedua negara penjelajah itu akhirnya bersinggungan, dan melakukan cukup lama perang untuk menentukan kekuasaan pulau.

  • Petualangan Inspektur Frans Najoan

    SEHARI setelah kekacauan akibat Peristiwa APRA –yang dipimpin Raymond Paul Pierre Westerling; menewaskan hampir 100 anggota TNI– di Bandung pada 23 Januari 1950, Kapten Westerling ke Jakarta. Dia mendatangi Hotel Des Indes di bilangan Harmoni untuk menemui Menteri tanpa portofolio Republik Indonesia Serikat (RIS) bernama Sultan Hamid II. Westerling datang bersama Frans Najoan. “Saya memerintahkan Westerling supaya Frans Najoan pada kira-kira jam tujuh menyerbu sidang dewan menteri yang akan bersidang pada jam lima sore. Di dalam penyerbuan itu, semua menteri harus ditangkap sedangkan Menteri Pertahanan Sultan Hamengkubuwono, Sekretaris Jenderal Ali Budiardjo, dan Kolonel Simatupang harus ditembak mati seketika itu juga. Saya harus mendapat luka enteng,” aku Sultan Hamid II –yang mengaku kemudian ingin minta kepada presiden dan wakil presiden RIS untuk diperbolehkan menyusun kabinet baru dan menjadi menteri pertahanan– dalam sidang perkaranya seperti tercatat dalam Process Peristiwa Sultan Hamid II.

  • Awak Bomber Perang Dunia II Ikut Westerling

    KETIKA tentara Jepang merangsek masuk ke Hindia Belanda pada awal 1942, pemuda Pieter Elia Donald Titaley masuk milisi tentara Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Dia termasuk tentara Belanda yang dikirim ke Australia ketika Hindia Belanda hampir dikalahkan tentara Jepang. Dengan segera, pemuda kelahiran 25 Juni 1918 itu dijadikan bintara calon penerbang. Titaley dilatih di sekolah pilot dan navigator di Amerika Serikat, yang dicapainya dengan naik kapal SS Mariposa dari Australia.

  • Dendam Si Londo Klaten

    MASA tuanya di Negeri Belanda berisikan kemalangan. Ada kenyataan yang tidak bisa dia terima di masa mudanya. Kedaulatan Republik Indonesia atas Nusantara yang dulunya disebut Hindia Belanda tidak dapat diterimanya. “Jika itu tidak terjadi, saya tidak akan berada di sini hari ini. Maka tidak akan ada orang kulit putih yang kembali dari Indonesia,” kata laki-laki tua itu di koran Nieuwsblad van het Noorden tanggal 27 April 1991.

  • Suromo DS, Maestro Seni Cukil Indonesia

    PADA awal 1950-an, seni cukil belum diminati secara serius oleh para seniman. Para pelukis dan pematung biasanya hanya membuat cukilan kayu untuk mengisi waktu luang. Peralatan dan bahannya pun sederhana. Misalnya menggunakan kentang atau ubi jalar yang digores seperti membuat stempel, maupun menggunakan batang bambu yang dicukil kemudian dicapkan ke atas kertas merang atau kertas padi. Saat itu, menurut Mustika dalam Seni Rupa Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei, seni cukil hanya dianggap sebagai latihan untuk memperlancar atau mengembangkan teknik atau cara melukis. Namun, dengan ketelatenan yang lebih, seorang seniman asal Surakarta, Suromo DS berhasil menghidupkan nyawa seni cukil di kancah seni rupa Indonesia.

  • Unjuk Bedil Serdadu Ratu Adil

    MUSEUM Wangsit Mandala Siliwangi di Jalan Lembong No. 38 Bandung menjadi saksi bisu sejarah berdarah. Museum itu diresmikan Panglima Kodam VI/Siliwangi Kolonel Ibrahim Adjie pada 23 Mei 1966 untuk mengenang pengorbanan Letkol Adolf Lembong, korban peristiwa APRA (Angkatan Perang Ratu Adil). Jalan yang membentang di depan gedung bergaya late romanticism itu pun diganti menjadi Jalan Lembong (sebelumnya Oud Hospitaalweg). Sebelum dijadikan museum, bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 4.176 meter persegi ini dipakai sebagai markas Stafkwartir Divisi Siliwangi sepulang hijrah dari Jawa Tengah. “Gedung ini sebelum dipakai Divisi Siliwangi dulunya sekolah zaman Belanda. Pada 1950, pasukan Westerling APRA menyerang dan merebut gedung ini,” kata Kapten Heru Tri, kepala Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page