Hasil pencarian
Cari di situs ini
10073 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Evolusi Angkatan Perang Indonesia
“ANEH, negara zonder tentara.” Itulah pernyataan terkenal dari Oerip Soemohardjo, mantan perwira Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), tak lama setelah Indonesia merdeka. Atas dorongan Oerip dan sejumlah rekannya, terbitlah Dekrit Presiden 5 Oktober 1945 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang kini dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Sejarah lahirnya TNI itu unik sekali. Kenapa unik? Indonesia merdeka bulan Agustus, sementara TKR baru dibentuk dua bulan setelahnya (bulan Oktober). Dalam dua bulan lebih, negara ada, tetapi zonder tentara,” ujar sejarawan militer Genoveva Ambar Wulan Tulistyowati. Pernyataan Ambar disampaikan pada acara “Ekspose Guide Arsip Pertahanan dan Keamanan Negara Era Presiden Sukarno 1945-1967” yang digelar oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Hotel Aston Priority Simatupang & Conference Center Jakarta, 26 September 2024.
- Ikut HUT ABRI Berujung Dieksekusi
ATAS perintah Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto di Jakarta, beberapa kompi pasukan dari batalyon infanteri 530/Para Brawijaya yang berkedudukan di Madiun secara bergelombang berangkat ke ibukota. Perwira yang ikut tak hanya para komandan kompi tapi juga perwira staf seperti Letnan Satu (Lettu) Ngadimo Hadisuwignjo. Sehari-harinya dia adalah perwira Seksi I/Intelijen. “Tanggal 26 September saya berangkat ke Jakarta bersama dua kompi dari Madiun lewat jalur selatan,” terang Ngadimo dalam persidangan perkara Untung tahun 1966, seperti dikutip dalam G-30-S, Gerakan 30 September, dihadapan Mahmillub di Djakarta: Perkara Untung. Pada hari yang sama, dua kompi dari batalyon 531/Para dari Malang juga berangkat ke Jakarta melalui jalur utara. Esoknya, dua kompi dari batalyon 530 berangkat lagi. Mereka ditempatkan di daerah Kebun Jeruk, Jakarta.
- Pencabutan TAP MPR Membuka Lagi Wacana Gelar Pahlawan Soeharto, Begini Kata Sejarawan
PEMBERIAN gelar pahlawan pada seseorang semestinya pada yang telah mendarmabaktikan dirinya pada negeri dalam upaya mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan dan mesti tanpa cela. Maka menjadi perdebatan apakah rekam jejak sosok Jenderal (Purn.) Soeharto yang merupakan presiden RI kedua itu memenuhi kriteria dan moralitas itu? “Dari tahun 2014, kemudian tahun 2019, kemudian sekarang dan seringkali wacana (gelar pahlawan) itu mulai hidup ketika mendekati tahun-tahun politik, tahun-tahun ada kontestasi politik,” tutur sejarawan Bonnie Triyana dalam diskusi SINTAStalk bertajuk “Habis Sukarno, Terbitlah Soeharto: Manipulasi Memori dan Politik Sejarah di Indonesia” yang digelar kelompok akademisi Sejarah Lintas Batas secara daring via Zoom, Sabtu (5/10/2024) petang.
- Sejak Kapan Orang Tersenyum Saat Difoto?
BERPOSE dengan mengatakan cheese telah menjadi ciri khas budaya foto populer masa kini. Tak heran bila kemudian kata ini umum digunakan untuk mengarahkan orang agar tersenyum saat difoto. Kebiasaan tersenyum di depan kamera mulai muncul pada awal abad ke-20. Sebelum itu, foto-foto yang dipotret pada abad ke-19 umumnya menampilkan wajah-wajah dengan ekspresi serius atau datar dengan tatapan mata yang seringkali kosong. Di era Victoria, senyum menampilkan gigi saat difoto tak umum untuk dilakukan. Hal ini dianggap tidak sopan bagi orang-orang kalangan atas. Menurut Marcus Collins dalam For the Culture: The Power Behind What We Buy, What We Do, and Who We Want to Be, tersenyum di depan kamera semakin dihindari karena pada masa itu para praktisi seni rupa menganggap bahwa tersenyum adalah sebuah praktik yang hanya dilakukan oleh para petani, pemabuk, atau anak-anak.
- Menelusuri Leluhur B.J. Habibie
SETELAH berkonflik salama setengah abad dengan VOC, Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Perjanjian ini menandai awal kekuasaan penuh Kompeni di bagian timur Nusantara. Banyak orang, termasuk para ksatria dan bangsawan, memilih pergi daripada hidup di bawah kekuasaan penjajah. Mereka tersebar ke berbagai daerah Nusantara. Salah satunya Lamakasa, nama singkatnya Lakasa, dari suku Bugis. Bagi orang Bugis, kata “La” biasanya ditambahkan di depan nama seorang anak laki-laki. Lamakasa dan kawan-kawan meninggalkan kampung halamannya dengan kapal layar yang memuat perbekalan dan dilengkapi persenjataan. Mereka mendarat di Sulawesi bagian utara. Pada masa itu, daerah Gorontalo sering diganggu bajak laut dari Mangginano atau orang-orang Mindano yang merampok dan membunuh penduduk yang tinggal di pesisir pantai.
- Keruntuhan Bisnis Dasaad
DI balik reputasinya sebagai konglomerat besar, Agus Musin Dasaad dikenal sebagai pengusaha yang menaruh perhatian pada politik. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, ketika ia masih berstatus sebagai pekerja kantoran biasa, Dasaad sudah aktif memberikan dukungan kepada tokoh-tokoh politik, terutama Sukarno. Dukungan itu terlihat ketika Sukarno keluar penjara Sukamiskin pada 31 Desember 1931 setelah dihukum karena aktivitas politiknya bersama Partai Nasional Indonesia (PNI). Ini adalah pertemuan pertama Dasaad, yang kala itu masih berusia sekitar 26 tahun, dengan Sukarno. Momen ini dikisahkan Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, yang ditulis oleh Cindy Adams.
- Hilangnya Mutiara Hitam
PERISTIWANYA terjadi nun jauh di negeri orang: Kongo. Namun, di Labuan Batu, Sumatra Utara, buruh-buruh perkebunan marah. Mereka mengambil-alih perkebunan-perkebunan milik pengusaha Belgia di daerah Mrangir, Aek Paminke, Pernantian, Perlabian, Kanopan Ulu, Padang Halaban, Negeri Lama, dan Sennah. Aksi buruh itu tanpa disertai tindak kekerasan. Tak ada korban jiwa. Mereka juga melaporkan ke pihak berwajib setelah selesai aksi. Di Jawa Barat, aksi serupa gagal. Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie keburu mengeluarkan larangan. “Terhadap perbuatan-perbuatan yang demikian dapat diambil tindakan sesuai dengan ketentuan undang-undang/peraturan-peraturan yang ada dan berlaku bagi Penguasa Keadaan Bahaya,” tulis Pikiran Rakjat, 23 Maret 1961.
- Kakek Marissa Haque dan Kemerdekaan Indonesia
AKTRIS penghias layar lebar dan layar kaca era 1980-an dan 1990-an Marissa Haque tutup usia pada 2 Oktober 2024 silam. Perempuan yang pernah menjadi anak-didik Guruh Sukarnoputra di Swara Mahardika ini lahir di Balikpapan pada 15 Oktober 1962 ketika ayahnya yang bekerja di perusahaan minyak ditugaskan di sana.
- Petualangan Said Abdullah di Lombok
SEBERMULA dari berniaga, Said Abdullah bin Abdurachim Alkadrie Djelani berkembang menjadi saudagar. Ia kemudian punya jabatan penting sehingga pengaruhnya pun menjadi besar di Ampenan, Lombok pada awal abad ke-20. Dengan kekuasaan yang dimilikinya itu, kans orang-orang Arab berniaga di sana kian terbuka. Pasalnya, sejak akhir abad ke-19 Ampenan –yang dulunya merupakan tempat orang-orang Sasak– merupakan tempat mengadu nasib banyak orang dari beragam suku-bangsa. Selain orang-orang Arab, di sana ada para pedagang Tionghoa, Armenia, Bugis, dan juga Ambon.
- Lima Invasi Israel ke Lebanon
PASUKAN Irlandia yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) teguh pada tugas dan misinya. Mereka menolak tuntutan Israel untuk meninggalkan pos perbatasan sering invasi darat Israel ke selatan Lebanon yang dilancarkan sejak 1 Oktober 2024.
- TAP MPR Dicabut, Sejarah Makin Berkabut
MPR baru saja merehabilitasi nama tiga mantan presiden Indonesia, yakni Sukarno (presiden RI ke-1), Soeharto (presiden RI ke-2), dan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (presiden RI ke-4). Sukarno dan Gus Dur dipulihkan namanya menyangkut pertanggungjawaban yang ditolak MPR menjelang lengser. Sementara itu, Soeharto dipulihkan namanya karena lekat dengan stigma korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) selama rezimnya berkuasa. MPR resmi mencabut TAP MPR menyangkut hal tersebut dari masing-masing presiden terkait.
- Saat Ringo Starr Turut Mempopulerkan Thomas & Friends
SIAPA yang tak mengenal Thomas & Friends? Serial menghibur dan edukatif dengan karakter-karakter lokomotif keretaapi antropomorfik itu sudah digemari kalangan anak-anak sejak serialnya ditayangkan di layar kaca hari ini, 9 Oktober, empat dekade silam. Serial tersebut ternyata juga dibintangi dan dipopulerkan drummer band sohor The Beatles, Ringo Starr.





















