top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Haji yang Ikut Belanda

    PADANG menjadi kota penting bagi bekas kombatan Diponegoro dari Barisan Sentot Alibasa setelah Perang Jawa berakhir. Usai “menyeberang” ke pihak Belanda, di antara mereka ada yang hidup dengan tunjangan cukup besar. Sekira 40-an dari mereka bahkan mendapat jatah tanah ladang untuk melanjutkan hidup di sana dan Beberapa di antaranya mendapat pasangan hidup perempuan Minangkabau. “Yang cukup menarik dipandang adalah besarnya pensiun yang diberikan Pemerintah Belanda kepada para kiai bekas barisan Sentot. Yang tertinggi adalah Haji Nisa, menetap di Padang, menerima pensiun tidak kurang dari 224 gulden sebulan. Mungkin karena dia juga dianggap mengepalai semua orang asal suku Jawa di sana,” tulis Rusli Amran dalam Cerita-cerita Lama dalam Lembaran Sejarah. Tunjangan lebih 200 gulden yang diterima Haji Nisa tentu amat besar. Sebab, pada 1940 saja harga emas masih sekitar 2 gulden per gram. Namun, tak banyak catatan tentang Haji Nisa. Sebab, sumber-sumber Belanda tak mengeja namanya sebagai Haji Nisa, melainkan Hadjie Nissoeh atau Hadji Nisoeh.

  • Shigeru Ono, Pejuang Jepang Telah Berpulang

    SHIGERU Ono, bekas tentara Jepang yang memihak Indonesia, meninggal dunia pada 25 Agustus 2014 akibat penyakit tifus dan pembengkakan pembuluh darah. Dia menyusun buku taktik perang gerilya untuk militer Indonesia di masa revolusi. Ketika kalah melawan Sekutu, banyak tentara Jepang bingung; kembali ke negerinya atau bertahan. Tak sedikit yang melakukan harakiri (bunuh diri untuk memulihkan kehormatan). Shigeru Ono, serdadu Tentara Ke-16 Angkatan Darat Jepang di Jawa, pun sempat tergoda namun mengurungkan niatnya. Ono, yang lahir pada 26 September 1919 di Furano, Hokkaido, memutuskan bertahan di Indonesia. “Indonesia sudah banyak membantu Jepang. Kami ingin memberikan yang tidak bisa dilakukan oleh negara kami,” ujarnya dalam Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik karya Eiichi Hayashi.

  • Tepung Seharga Nyawa

    SEORANG ibu dengan tubuh gemetaran menjejaki reruntuhan tempat tinggalnya. Sambil menggenggam tas berisi tepung yang baru didapatkan, ia menangis sejadi-jadinya dan meneriakkan nama-nama anggota keluarganya. “Di mana anak-anakku? Di mana suami, ketiga putri, dan sepupu-sepupuku? Kembalikan putri-putriku. Mereka semua di dalam [rumah],” ucapnya histeris. Ia tak tahu apa-apa lantaran sebelumnya ia pergi untuk mendapatkan tepung demi kebutuhan keluarganya. Namun sepulangnya mendapatkan tepung, sang ibu mendapati nyawa segenap keluarganya sudah menguap seiring kediaman mereka rata dengan tanah akibat kebrutalan serangan Israel.

  • Ki Narto Sabdo Sang Pembaru Kesenian Tradisi Jawa

    BUNG KARNO merupakan pecinta seni sekaligus seniman. Salah satu kesenian yang paling disukainya adalah tari. Ia suka menari, bahkan Bung Karno menciptakan tari Lenso. Bung Karno juga kerap mengundang banyak penari untuk pentas di Istana. Salah satu tari yang kerap diundang untuk tampi di Istana adalah tari Bambangan Cakil. “Dahulu Presiden Sukarno sering mengundang pethilan (versi singkat red.) tari Bambangan Cakil oleh Bu Suwarni dan Pak Sucipto. Pak Karno menghendaki yang gendangi Pak Narto Sabdo diiringi oleh karawitan RRI Jakarta,” kata Dhanang Respati, dosen Program Studi Sejarah Universitas Diponogoro, dalam wawancara daring dengan Historia.ID. Pak Narto yang dimaksud Dhanang adalah Ki Narto Sabdo, seniman serba bisa. Ia banyak dikenal sebagai pencipta gending-gending Jawa dan lakon-lakon wayang kulit. Perjalanan karier Ki Narto Sabdo tidak terlepas dari peran Ki Sastro Sabdo, pendiri wayang orang Ngesti Pandowo.

  • Warna-warni Kehidupan Sean Connery

    SANG “James Bond” pergi dengan tenang. Aktor legendaris Sir Thomas Sean Connery mengembuskan napas terakhirnya di usia 90 tahun dalam tidurnya di kediamannya di Nassau, Kepulauan Bahama, pada Sabtu (31/10/2020). Disebutkan putra semata wayangnya, Jason Connery, sang ayah memang sudah sakit-sakitan, meski tanpa menyebut penyakit apa yang dideritanya. “Ayah sudah tidak sehat beberapa waktu belakangan ini. Sebuah hari yang menyedihkan untuk semua orang yang mengenal dan mencintai ayah saya dan sebuah kehilangan yang pedih untuk semua orang di dunia yang menikmati bakat luar biasanya sebagai aktor,” ujar Jason sebagaimana disitat BBC, Sabtu (31/10/2020). Siapa tak mengenal Sean yang memerankan sosok agen Inggris 007 James Bond di tujuh seri filmnya selama 1962-1983. Walau kemudian peran James Bond dimainkan aktor-aktor lain, Sean tetap tak tergantikan dan fondasi yang diwarisinya tetap abadi.

  • The Cost of Opposing Suharto

    EXACTLY 32 years after the battle of November 10, 1945, Surabaya was once again in an uproar. This time, the youth weren't opposing the presence of the Allies, but rejecting Suharto’s reelection as president. On November 10, 1977, a crowd of about 3,000 people staged a demonstration in Surabaya, which is known for its moniker the City of Heroes. They weren't only disillusioned by rampant corruption and a flawed democracy; they also opposed Suharto’s reappointment as president. At that time, the president was elected by the People’s Consultative Assembly (MPR) during the MPR General Session, held every five years in Senayan, Jakarta. It wasn't the first or second time that the MPR building in Senayan had been visited by students opposing Suharto’s return to the presidency. Among the demonstrators, Chalimi and his friends from various universities were received by Adam Malik, Chairman of the DPR/MPR RI Council.

  • Lima Belas Menit yang Mematikan di Pompeii

    PENDUDUK Pompeii tak mampu melarikan diri ketika Gunung Vesuvius meletus pada 79 M. Ledakan gunung berapi aktif satu-satunya di Eropa Daratan sebelah timur Napoli, Italia ini hanya butuh waktu 15 menit untuk menghabisi penduduk kota Romawi Kuno itu. Hal itu diketahui para peneliti Departemen Ilmu Bumi dan Geo-lingkungan Universitas Bari, Italia, lewat studi mereka yang bekerja sama dengan Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi (INGV) dan Survei Geologi Inggris di Edinburgh. “Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model untuk mencoba memahami dan mengukur dampak aliran piroklastik di daerah yang dihuni Pompeii, sekitar 10 km dari Vesuvius,” kata Roberto Isaia, peneliti senior Vesuvius Observatory di INGV kepada The Guardian.

  • Melongok Harta Karun Lombok

    SEPERANGKAT perhiasan berkilau di salah satu kotak etalase Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda. Sumber kerlapnya berasal dari bros emas yang bertakhtakan berlian 75 karat. Selain itu, terdapat pula perkakas berlapis emas dan batu rubi seperti pada kotak tembakau dan pegangan keris. Inilah segelintir harta karun Lombok yang kesohor di negeri Belanda hasil jarahan dari Istana Cakranegara Kerajaan Mataram. “Barang rampasan ini disebut di Belanda sebagai ‘harta karun Lombok’. Setelah dikirim ke Belanda, lebih dari 500 benda jarahan disimpan di Rijksmuseum Amsterdam. Kumpulan benda ini kemudian dipindahkan oleh Rijksmuseum ke Museum Volkenkunde, yang sekarang menjadi bagian dari Museum Nasional Kebudayaan Dunia,”, situs resmi pemerintah Kerajaan Hindia Belanda pada 12 Mei 2023. Pada 1894, Pulau Lombok dianeksasi dengan kejam oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda di Batavia. Ribuan pria, wanita, dan anak-anak Lombok tewas dalam aksi militer tentara Kerajaan Hindia Belanda terhadap Kerajaan Mataram Cakranegara itu. Di puri Cakranegara dan di medan perang, KNIL menyita 230 kg emas, 7000 kilogram perak, dan banyak perhiasan serta batu mulia. Menilik sejarahnya, harta karun Lombok “berlumuran darah”.

  • Gordon Tobing dan Gitarnya

    PENYANYI lagi-lagu Batak, Gordon Tobing memang tak diragukan lagi kareirnya sebagai seorang musisi. Penyanyi kelahiran 25 Agustus 1925 ini merasa kepiawaiannya bermusik adalah anugerah yang diturunkan dari keluarganya. “Bagi kami, menyanyi dapat dikatakan suatu gave. Suatu bakat khas yang turun-temurun,” kata Gordon seperti dikutip Mingguan Djaja, 13 Juli 1963. Ayahnya, R.L. Tobing merupakan juara keroncong Sumatra Utara berturut-turut sejak 1925 hingga 1938. Bahkan, Gordon mengaku tak pernah lebih baik dari ayahnya dalam menyanyi.

  • Secuplik Kiprah Del Juzar

    SUASANA tak mengenakkan antara sejawat seperjuangan, Kapten Sudarto (diperankan Del Juzar) dan Kapten Adam (R. Sutjipto), membuat ruangan sederhana di sebuah rumah bilik bambu terasa kian sempit. Adam tak habis pikir Sudarto tak henti-hentinya punya hubungan asmara dengan perempuan sepanjang mereka longmarch kembali ke Jawa Barat. Namun, Sudarto membela diri. Hubungannya dengan seorang gadis pengungsi asal Jerman, Connie (Ella Bergen), dan kemudian perawat bernama Widya (Farida) menurutnya terjadi begitu saja seiring keadaan, bukan disengaja. Duduk di kursi kayu dengan tangan kanan masih dibelit perban, Sudarto mulanya hanya terdiam saat Adam mulai protes. Sembari melepas sabuk, sarung pistol, dan seragamnya, Adam mengungkapkan unek-uneknya. “Petualangan cinta” Sudarto, katanya, sudah jadi bahan omongan anak-anak buahnya, pasukan Siliwangi.

  • Pasang Badan Demi Proklamasi Kemerdekaan

    AHMAD Subardjo baru beberapa jam tidur ketika dua pemuda utusan Barisan Pelopor menyambangi rumahnya di Cikini, Jakarta beberapa menit jelang pukul 10 pagi Jumat, 17 Agustus 1945. Kedua pemuda itu mengaku datang diutus Sukarno. Subardjo amat lelah, fisik maupun mental, pagi itu. Selain hampir kepala lima usianya, selama beberapa hari sebelumnya dia super sibuk. Namun, karena Sukarno yang memanggil, keluarganya pun membangunkan Subardjo. Di hadapan Subardjo, dua pemuda tadi memintanya untuk datang ke kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur (kini, Jalan Proklamasi). Sebab, teks proklamasi kemerdekaan sudah akan dibacakan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page