Hasil pencarian
Cari di situs ini
10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Awak Bus Patas AC Menggugat Operator
LIMA lelaki menghentikan bus Patas AC. Lagak mereka seperti penumpang biasa. Mereka naik dari pintu depan, sesuai aturan. Dua duduk di depan, tiga menuju kursi deretan belakang. Baru saja duduk, dua lelaki di depan berdiri kembali. Mereka menodongkan pisau ke leher sopir beserta kondektur. Tiga lelaki di belakang ternyata juga bersenjata tajam.
- Patas AC, Bus Kota Kaum Eksekutif
NAIK bus kota berpendingin udara di Jakarta pada 1993 menjadi kesenangan tersendiri bagi Bayu Kusuma Yuda, karyawan swasta. “Busnya bagus dan baru. Jika ingin turun dari bus, kita bisa memencet bel untuk memberi tahu sopir. Lalu pintu terbuka otomatis. Canggih. Sangat keren pada masanya untuk anak kecil seperti saya,” cerita Bayu dengan fasih.
- Bus Patas dari Cepat Terbatas Jadi Tanpa Batas
DUA bus kota melaju hampir seiring. Satu bus Patas (Cepat Terbatas) di lajur kiri, satunya lagi bus reguler di lajur kanan. Sopir bus Patas menambah kecepatan, mendahului bus reguler dari sisi kiri. Tak terima disalip, sopir bus reguler pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Tapi sopir bus Patas buru-buru menutup ruang. Hampir tabrakan. Sopir bus reguler mengalah.
- Patas, Bus Kaum Berdasi
ANDA masih ingat adegan Dono mengamen di bus kota dalam film Godain Kita Dong (1989)? Dia berambut gimbal dan memainkan alat musik tuts. Madonna (Lisat Patsy), pacarnya, menyanyi parodi lagu Hati Yang Luka karya Betharia Sonata. Penumpang, semuanya duduk, menikmati sajian tersebut. Sebagian mereka tampak perlente: berkemeja, berdasi, dan berpantofel.
- Suka Duka Sopir Bus Dodge
SEBUAH bus Dodge sarat penumpang melaju kencang. Sopirnya ber-zig zag, menyalip belasan kendaraan bermotor. Pengendara bermotor lain hampir terserempet. Sumpah serapah keluar. “Mampus Kau, nanti!” kata pengendara sedan kepada sopir bus Dodge. Tiba di persimpangan yang agak menurun, sopir bus Dodge kehilangan kendali. Bus menabrak tiang listrik dan terguling. Ringsek. Penumpang bergelimpangan.
- Bus Dodge Penguasa Jalanan Jakarta
BUS tua itu berusia hampir 60 tahun. Warnanya putih dominan dengan garis penegas biru. Mengkilap, sebab baru dicat ulang. Interiornya kecokelatan dengan kursi berbusa. Hasil modifikasi. Panel speedometer dan tongkat persneling masih asli. Terdapat moncong di bagian depan untuk menaruh mesin. Ciri paling khas bus ini.
- Try Sutrisno Jadi Tobang Dulu Baru Tentara
SEBELUM revolusi kemerdekaan Indonesia meletus pada 1945–1949, Soebandi adalah sopir mobil ambulans di sebuah rumah sakit di Surabaya. Perang tentu membuatnya bertambah sibuk. Soebandi bersama istrinya, Mardheyah, dan anak-anaknya tinggal di kampung Genteng, Bandar Lor, Surabaya. “Waktu itu saya baru berumur hampir 10 tahun duduk di bangku Sekolah Rakjat kelas IV Taman Siswa, Jalan Kedungdoro di kota Surabaya,” kata salah satu anak Soebandi yang lahir pada 15 November 1935 dalam Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan. Anak Soebandi yang satu ini melihat bagaimana pesawat melintasi Surabaya dan menyampahi Surabaya dengan pamflet-pamflet yang isinya tidak dipahami olehnya karena berbahasa Inggris.
- Try Sutrisno Harapan Djatikusumo
TRY Sutrisno merintis masuk dunia tentara dengan menjadi tobang pada masa revolusi kemerdekaan. Tobang adalah pesuruh tentara yang bertugas membersihkan alat militer, menyiapkan makan, dan membelikan rokok untuk tentara. Tak hanya itu, ia bahkan pernah dipercaya menjadi mata-mata yang menyusup ke daerah pendudukan tentara Belanda. Setelah perang kemerdekaan selesai, anak Soebandi itu kembali ke sekolah.Bermodal ijazah SMA bagian B (ilmu pasti dan ilmu alam) di Surabaya, Try Sutrisno kembali ke dunia tentara. Ketika ia masih SMA, Akademi Militer di Magelang belum dimulai. Ia pun mendaftar masuk ke sekolah calon perwira Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) di Bandung.
- Try Sutrisno, Benny Moerdani, dan Soeharto
MELETUSNYA Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Barat membuat tentara di Jawa menjadi sibuk. Pasukan pemukul harus dikirimkan, di antaranya pasukan dengan keahlian terjun payung seperti yang dipimpin Letnan Leonardus Benjamin Moerdani. Meski sebelumnya belum pernah latihan terjun payung, Benny Moerdani memimpin perebutan lapangan udara Pekanbaru.
- Rencana Pengasingan Bung Karno ke Jepang
TERNYATA di sekitar laporan pertanggungjawaban Presiden Sukarno yang dikenal dengan Pelengkap Nawaksara (10 Januari 1967), pembesar Tentara Nasional Indonesia (TNI) di lingkaran Soeharto berupaya mengasingkan Bung Karno ke Jepang secara hormat. Menurut arsip Departemen Luar Negeri Jepang yang baru dibuka atas tuntutan penulis, oknum TNI (namanya dihitamkan dalam dokumen) secara diam-diam menghubungi staf Kedutaan Jepang di Jakarta. Mereka menyampaikan keinginan untuk memberangkatkan Bung Karno ke Jepang dan tinggal di sana dalam jangka waktu cukup lama, paling tidak sampai selesai pemilihan umum yang rencananya digelar tahun 1968.
- Gedung Bappenas Bekas Loji Freemason
ANGGOTA Freemason Hindia Belanda kerap mengadakan pertemuan rutin. Tempat pertemuan itu disebut loji. Oleh penduduk sekitar, loji diartikan sebagai rumah setan. Hingga 1930-an, jumlah loji mencapai 25 dan tersebar di beberapa kota. Sebagian kecil loji masih berdiri hingga sekarang. Salah satunya menjadi Gedung Bappenas di Jakarta.
- Rasa Sejati Paulus Tosari
SETELAH mendapat surat izin dari pemerintah Hindia Belanda pada 3 Juli 1827, Coenrad Laurens Coolen membuka hutan Ngoro, yang berjarak sekira 60 kilometer dari Kota Surabaya. Banyak orang Jawa datang dan mendapatkan tanah. Ngoro menjadi desa makmur, yang saat kelaparan melanda Jawa Timur bisa menyediakan beras bagi ribuan orang. Di Ngoro tak ada paksaan dalam beragama. Coolen tak melarang orang membangun masjid. Tapi, dalam memimpin desanya, dia tetap bertindak sebagai seorang Kristen. Dia mengampuni para pendatang yang melakukan kejahatan di Ngoro, bahkan berusaha menunjukkan jalan kebaikan dengan “ilmu Kristen” tentang pelepasan manusia dari dosa oleh Juru Selamat. Setiap hari Minggu, Coolen mengadakan kebaktian di pendopo rumahnya. Mereka lalu menghabiskan waktu dengan bermain gamelan, wayang, dan zikir.





















