Hasil pencarian
Cari di situs ini
10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Polisi Berat Menjadi Seperti Hoegeng
HOEGENG Iman Santoso selama menjabat Kapolri (1968–1971) menunjukkan keteladanan yang luar biasa. Rasanya terlalu berat bagi polisi saat ini untuk memenuhi standar keteladanannya. Sehingga, menurut Aris Santoso, penulis dan pengamat militer, Hoegeng kurang relevan sebagai contoh polisi teladan hari ini. Sebab, hari ini seseorang menjadi polisi untuk mencari kesejahteraan. “Pengen jadi polisi, itu (mencari) kesejahteraan. Apakah masih relevan keteladanan Pak Hoegeng terhadap generasi sekarang?” kata Aris dalam diskusi bertajuk “Riwayat Hoegeng Kapolri Jujur”, live di Youtube Historia.ID, Kamis, 14 Juli 2022.
- Alkisah Beras Sintetis dari Zaman Orde Baru
BEBERAPA pekan terakhir, masyarakat ramai membicarakan isu beras plastik. Sebetulnya gonjang-ganjing soal beras tak terjadi kali ini saja. Pada awal era Orde Baru baru persoalan beras sudah menjadi buah bibir masyarakat. Meningkatnya kebutuhan akan beras yang tidak diimbangi kapasitas produksi padi yang memadai, mendorong pemerintah untuk mencari jawaban atas persoalan tersebut.
- Gombloh Berbagi BH
MAKAM di Kompleks Permakaman Islam Tembok Gede, Surabaya itu kondisinya menyedihkan ketika Historia mengunjunginya, Jumat 9 November 2018. Keramik merah berundak tiga di tubuhnya kusam. “Ya beginilah kondisinya, walau kompleks pemakaman ini di bawah Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Pemkot Surabaya. Dibersihkan kalau keluarga biasanya ziarah sebelum bulan puasa. Begitu juga kalau beberapa musisi lokal berziarah pas Hari Musik 9 Maret. Patung torso -nya saja di Taman Hiburan Rakyat hanya dijadikan jemuran sama masyarakat setempat,” terang Dhahana Adi Pungkas alias Ipung, penulis Surabaya Punya Cerita saat menemani Historia berziarah . Kondisi itu mungkin sama buruknya dengan kehidupan para pekerja seks komersial (PSK). Mereka, para PSK, itulah yang mendapat perhatian besar dari “si pemilik” makam selama hidupnya. Ya, Gombloh, musisi legendaris tanah air, itu sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk membantu PSK dan wong cilik lain . Gombloh dan Kehidupan Malam Meski mayoritas masyarakat memandang jijik para PSK, musisi legendaris Gombloh justru sebaliknya. “Dia sangat peduli dan menganggap banyak PSK teman-temannya sendiri,” lanjut Ipung. Musikus bernama asli Sudjarwoto Sumarsono itu tak suka membeda-bedakan kelas sosial meski namanya sohor di seluruh Indonesia. Gombloh yang lahir di Jombang pada 14 Juli 1948, datang dari keluarga kelas bawah. Ayahnya seorang pedagang ayam. Gombloh memahami betul kehidupan di akar rumput. Selain gandrung bergaul dengan seniman di Balai Pemuda Surabaya, di masa mudanya Gombloh getol nongkrong di berbagai klab malam dan lokalisasi di Bangunrejo, Surabaya. “Ya sekadar menghabiskan malam, mendengar banyak curhat,” sambung Ipung. Kedekatannya dengan PSK makin menumbuhkan jiwa sosial Gombloh. Pada medio 1979, Gombloh menyisihkan sebagian pendapatannya dari manggung di beberapa kafe, diskotek, dan pentas seni untuk membeli sejumlah BH alias bra. BH-BH itu lalu diberikannya pada para PSK Bangunrejo lantaran mayoritas mereka tak mampu membeli BH sehingga tak mengenakannya saat menjajakan diri. “Setiap Gombloh manggung dan dapat honor, dia selalu menyisihkan. Sebagian buat beli rokok, sebagian untuk beli BH. Almarhum Sys NS juga pernah bilang bahwa dia beli BH sampai se-becak penuh. Jadi satu becak itu BH-nya dibagi-bagikan ke PSK. Gombloh merasa PSK juga manusia dan punya hak untuk melindungi organ tubuhnya,” tambah Ipung lagi. Dhahana Adi Pungkas alias Ipung. (Randy Wirayudha/Historia.ID). Dalam kesempatan lain, Gombloh mendapat kabar ada seorang PSK di daerah Jarak yang sakit parah. Bersama Djoko Suud Sukahar rekannya, dia langsung mendatanginya. Gombloh pun menanyakan keluhan perempuan itu layaknya dokter dan menyuruh perempuan itu berobat ke dokter. “Biaya dokter ditanggung sepenuhnya oleh Gombloh,” kata Ipung dalam bukunya. Tak heran ketika Gombloh meninggal dunia pada 9 Januari 1988 akibat sakit paru-paru, bukan hanya seniman yang merasa kehilangan tapi juga para PSK dan kalangan wong cilik lain. “Bisa dibilang peristiwa kematian Gombloh iring-iringannya salah satu yang terbesar di Surabaya setelah Bung Tomo, Dr. Sutomo, dan Purnomo Kasidi. Gombloh lebih dari sekadar musisi, dia milik rakyat Surabaya, milik bangsa Indonesia juga,” kata Ipung. Dunia Malam Inpirasi Lagu Gombloh Kehidupan dunia malam merupakan inspirasi bagi Gombloh dalam menulis lagu. Pada akhir 1970-an, Gombloh dan band The Lemon Tree’s Anno ’69 mulai bikin banyak lagu. Dari 1978-1979, mereka bahkan menelurkan album Nadia & Atmospheer dan Mawar Desa (1978) serta Kadar Bangsaku dan Kebyar-Kebyar (1979). Mengutip Musisiku terbitan Republika dan Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI), beberapa lagu Gombloh menceritakan tentang berbagai kehidupan masyarakat arus bawah, termasuk PSK. Di antaranya, “Loni” , “ Pelacur dan Pelacurku”, “Doa Seorang Pelacur”, “Poligami Poligami”. “Murni memang kepedulian sosial. Dia memang seniman, musisi, tapi enggak ngartis. Gombloh merasa bukan siapa-siapa. Dia merasa bisa seperti ini juga berangkat dari masyarakat bawah. Otomatis jiwanya itu terbawa terus,” kata Ipung. Namun, lagu-lagu Gombloh tak melulu soal keseharian. Lagu tentang kepedulian alamnya, “Berita Cuaca”, hingga kini masih kerap diperdengarkan. Beberapa tahun lalu lagu itu diaransemen ulang oleh band Boomerang. Lagu tentang nasionalisme, “Kebyar-Kebyar”, tak kalah greget. Hingga kini, lagu tersebut acap diperdengarkan dalam beragam event yang terkait dengan bangsa, seperti di pertandingan sepakbola. “Dikasih judul “Kebyar-Kebyar” itu maksudnya lampu yang kebyar - kebyar . Di lokalisasi itu kan ada kafe Gombloh biasa menghabiskan malam. Di kafe itu lampunya gemerlapan begitu. Maksudnya di sini lampunya yang kebyar - kebyar ,” lanjut Ipung.*
- Jejak Magellan dari Kapal Selam
RENCANA Pertemuan Paris 1960 antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet menjadi langkah maju usaha perdamaian di tengah konstelasi Perang Dingin. Namun, Presiden AS Dwight D. Eisenhower ingin menghadiri pertemuan itu dengan kaki selangkah di depan dalam kemajuan teknologi, yaitu dengan kapal selam USS Triton mengelilingi dunia. “ Triton akan mengelilingi dunia melalui bawah laut mengikuti rute Magellan melewati Tanjung Horn (Cili) dan Tanjung Harapan (Afrika Selatan), dan ia akan melakukannya tanpa diketahui baik kawan maupun lawan,” tulis Clive Tully dalam Confronting Poseidon: Around the World Against the Odds . Triton termasuk kapal selam bertenaga nuklir generasi pertama yang dimiliki AS. Ia dibangun pada 1959 dengan panjang 136 meter, berat 7.898 ton ketika menyelam, dan memakan biaya US$109 juta. Fungsi utamanya sebagai pendeteksi radar yang beroperasi dengan kecepatan tinggi, baik di atas maupun bawah permukaan laut. Operasi rahasia Triton berkode “Operasi Sandblast” dengan nakhoda Kapten Edward L. Beach. Kalangan sipil ikut sebagai awak kapal seperti wartawan, psikolog, hingga oseanografer. Kepulauan Saint Peter dan Saint Paul di garis ekuator Samudra Atlantik menjadi garis awal perjalanan Triton , yang memulai perjalanannya pada 24 Februari 1960. Ia memasuki laut Pasifik pada 7 Maret setelah mengarungi Tanjung Horn di selatan benua Amerika. Pada 31 Maret, ia memasuki laut Filipina. Pada 3 April, Triton memasuki perairan Indonesia melalui Selat Makassar, sambil berlayar terus ke arah selatan untuk memasuki Samudra Hindia melalui Selat Lombok. Di perairan Makassar mereka memotret sebuah kapal pinisi yang lewat, juga sempat mengamati permukaan pantai Bali dan Gunung Rinjani di Lombok. Kapten Beach menuturkan pengalaman dramatisnya ketika memasuki Samudra Hindia dalam bukunya, Around the World Submerged: The Voyage of the Triton (1962). Perbedaan tekanan dan kepadatan air laut sempat membuat Triton tiba-tiba menyelam tanpa kendali. “Saat kami merasakan adanya perubahan tekanan di kedalaman laut, kelihatannya adalah sebuah arus laut yang datang. Kemungkinan adalah arus bawah laut yang terjadi ketika Selat Lombok bertemu dengan Samudra Hindia,” tuturnya. “Saya sudah pernah mengalami perubahan kepadatan air laut berkali-kali, tapi tidak pernah yang sebesar ini.” Triton sampai di Tanjung Harapan pada 17 April, dan mulai memasuki Samudra Atlantik kembali. Dan pada 25 April, ia mencapai titik awal di Kepulauan Saint Peter dan Saint Paul. “Selama 84 hari di tahun 1960, kapal selam USS Triton selesai mengelilingi dunia melalui jalur di bawah permukaan laut, layaknya proyek rahasia seperti peluncuran misil atau satelit, dan hanya dipublikasikan secara luas ketika misi itu selesai terlaksana,” tulis Joyce E. Chaplin dalam Round About the Earth: Circumnavigation from Magellan to Orbit . Keberhasilan Triton urung dirayakan besar-besaran karena wajah AS tercoreng di mata dunia. Pesawat mata-matanya, U-2, ditembak jatuh di wilayah Soviet pada 1 Mei, tepat ketika Triton dalam perjalanan pulang ke AS. Insiden itu membuat Pertemuan Paris dibatalkan. Di tengah krisis politik tersebut, publik AS tetap mengapresiasi pencapaian Triton . Media massa mengenang keberhasilan Triton sebagai salah satu pencapaian penting dalam sejarah eksplorasi. Semua awak kapalnya mendapat medali penghargaan dari pemerintah AS.
- W.R. Supratman Tutup Usia di Rumah Kakaknya
RUMAH cilik itu tempak antik dan sederhana namun asri. Gaya era kolonialnya begitu terlihat. Letaknya sekitar 100 meter dari Taman Mundu dan 200-an meter dari Stadion Gelora 10 November di Tambaksari, Surabaya. Persisnya di Jalan Mangga nomor 21 Tambaksari, Surabaya. Rumah yang terlihat sepi pada 10 Juli 2025 itu dulunya ditempati oleh seorang perempuan Jawa bernama Roekiyem Soepratijah. Roekiyem bersuamikan seorang Indo, Willem Mauritius van Eldik, yang suka memakai nama alias Sastrodihardjo (1882-1954). Willem seorang guru musik, bahkan pernah menjadi guru musik bagi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Pasangan Indo-Jawa itu telah tinggal lama di sana, yakni pada tahun 1924. Sanak-famili mereka yang dari luar kota kadang menginap di rumah mereka itu. Tak terkecuali adik Roekiyem yang berusia jauh lebih muda, yakni Wage Rudolf (WR) Supratman.
- Keistimewaan Candi Zaman Majapahit
BANGUNAN candi pada masa Hindu Buddha di Jawa Timur, khususnya era Kerajaan Majapahit memiliki keistimewaan yang berbeda dari masa sebelumnya. Dari segi fungsi, misalnya. Candi pada era Jawa Tengah lebih dikenal sebagai kuil pemujaan. Sedangkan pada periode Jawa Timur, candi berkaitan dengan ritus pemujaan leluhur, candi berfungsi sebagai tempat pendharmaan, dan wadah untuk mengenang raja yang sudah berpulang. “Dari pembangunan candi-candi Majapahit ini kita mengetahui adanya raja sponsor. Raja yang sudah mangkat, 12 tahun kemudian oleh keturunan yang menggantikan akan dibuatkan candi pemujaannya,” jelas Agus Aris Munandar, guru besar arkeologi Universitas Indonesia, dalam bedah bukunya Keistimewaan Candi-candi Zaman Majapahit, di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (9/6). Agus menegaskan, candi bukanlah tempat untuk menguburkan abu jenazah. Dengan konsep pendharmaan, candi berfungsi sebagai monumen sejarah dan eksistensi raja-raja terdahulu.
- Demokrasi
PADA 1959 Presiden Sukarno membubarkan Konstituante sekaligus menandai berakhirnya demokrasi parlementer dan mengembalikan UUD 1945 sebagai konstitusi. Kabarnya presiden merasa jengah setelah lebih dari tiga tahun, Konstituante tak kunjung mencapai kata sepakat. Kepentingan presiden bermuara ke kepentingan yang sama dengan kelompok militer, yang telah lebih dahulu kurang begitu nyaman berhubungan dengan politisi sipil. Pada 17 Oktober 1952, sekelompok kecil tentara mengarahkan moncong meriam ke arah Istana Merdeka. Mereka geram atas ulah para politikus di Parlemen yang dianggap merecoki urusan internal militer. Kabar yang beredar, ada rencana untuk mereorganisasi sekaligus mengurangi anggaran tentara demi efisiensi. Versi lain, ini intrik politik persaingan antarpartai. Maka demi menciptakan kestabilan politik, Sukarno kemudian datang dengan ide Demokrasi Terpimpin. Sebagaimana Pancasila, ide itu pun diakuinya berdasarkan nilai-nilai yang ada pada masyarakat Indonesia: musyawarah untuk mufakat. Dalam sebuah wawancara dengan wartawan TV Belanda, dia mengatakan, “Demokrasi terpimpin bukanlah sebuah kediktatoran, demokrasi terpimpin adalah demokrasi dengan kepemimpinan.” Ada semacam trauma berkepanjangan (yang mungkin sengaja dibuat-buat) pada era Demokrasi Parlementer yang dimeriahkan oleh puluhan partai itu. Soeharto, dalam sebuah kesempatan lain, pada masa kepresidenannya pernah mengatakan bahwa demokrasi dengan tiga partai itu lebih efisien ketimbang masa demokrasi parlementer di era 1950-an. Banyak partai menurutnya menciptakan ketidakstabilan dan tentu saja tak sesuai dengan kepribadian bangsa. Benarkah demokrasi darlamenter dengan banyak partai seburuk itu? Apakah demokrasi yang seringkali ditandai oleh kegaduhan itu membawa petaka semata? Ilmuwan politik Afan Gaffar dalam bukunya Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi mencatat ada lima hal yang membuat masa demokrasi parlementer (1950-1959) dihitung sebagai masa kejayaan pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Pertama , parlemen memainkan peranan yang sangat tinggi dalam proses politik. Ini diperlihatkan dengan adanya sejumlah mosi tak percaya kepada pemerintah. Kedua , akuntabilitas pemegang jabatan dan politisi pada umumnya sangat tinggi. Hal ini dapat terjadi karena berfungsinya parlemen dan juga sejumlah media massa sebagai alat kontrol sosial. Ketiga , kehidupan kepartaian yang memiliki peluang untuk berkembang secara maksimal. Ada hampir 40 partai yang memiliki otonomi untuk mengembangkan dirinya, mulai dari rekrutmen anggota sampai dengan memiliki ketuanya sendiri. Keempat , Pemilu hanya sekali dilaksanakan namun berkualitas, mulai dari pelaksanaan kampanye, pengawasan sampai dengan pemilihan. Kelima , tak ada pembatasan atas hak dasar masyarakat untuk berserikat dan berkumpul. Ide politik apapun leluasa berkembang. Pertanyaannya, mengapa demokrasi yang tengah bertumbuh-kembang itu bubar jalan? Herbert Feith bilang itu terjadi karena ada dua gaya kepemimpinan elite yang saling bertabrakan, antara solidarity maker versus administrator . Tapi sejarawan Harry Benda membantahnya dengan melontarkan pertanyaan lebih mendasar lagi dari sekadar kenapa demokrasi bisa gagal, melainkan mengapa ada demokrasi di Indonesia? Kritik Benda pada Feith berpusar pada konsep legitimasi kekuasaan. Sebagai negara pascakolonial, Indonesia mewarisi bentuk negara kolonial dengan politik aliran yang masih kental. Sehingga para administratur yang diharapkan bisa memecahkan problem-problem keseharian justru tak punya basis kekuasaan yang jelas bila dibandingkan dengan para penggalang solidaritas, seperti Sukarno misalnya. Tapi apakah pertanyaan itu masih relevan bila diajukan sekarang, pada hari-hari di saat demokrasi yang mirip-mirip situasi era 1950-an sedang berlaku? Pemerintahan di masa lalu yang bercorak otoritarianistik telah memberikan banyak pelajaran tentang arti penting berdemokrasi. Boleh dikata situasi kekinian kita terbentuk oleh pengalaman-pengalaman kolektif di masa lalu. Sehingga agaknya pertanyaannya bukan lagi menyoal tentang kenapa demokrasi bisa ada di Indonesia, melainkan mengapa demokrasi harus tetap dipertahankan di negeri ini? Tentu ada banyak jawaban. Salah satunya: karena kita terlalu beragam untuk diseragamkan begitu saja.* Majalah Historia Nomor 27, Tahun III, 2016
- Buronan Singapura Lari Ke Gorontalo
JANGAN pernah menyia-nyiakan kesempatan, sebab kesempatan tak datang dua kali. Begitu kata pepatah. Sekali gagal memanfaatkannya, nasib baik bisa jadi takkan pernah menghinggapi hidup kita lagi. Itulah yang dialami Philip Roeland Sigar di pedalaman Minahasa. Di zaman Hindia Belanda, ketika tak semua orang bisa membaca dan menulis Latin akibat akses pendidikan hanya untuk kalangan bangsawan, Philip bisa mendapatkannya. Bahkan, dengan kemampuan baca-tulis Latin itu dia sampai bisa bekerja sebagai juru tulis di pemerintahan sekitar 1870-an. Namun, Philip tak memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Kariernya pun buruk. Pada 1878 ketika usianya 20-an tahun, kata koran Bataviaasch handelsblad edisi 11Desember 1878, Philip diberhentikan dari pemerintahan sipil sebagai juru tulis di bagian Sekretariat Umum. Hidup Philip Roeland Sigar pun kemudian berantakan. Dia lalu berlayar ke Singapura, koloni Kerajaan Inggris di Selat Malaka. Namun hidupnya di Singapura bertambah rumit. Philip dituduh menipu beberapa orang. Jika ditotal, nilai kerugian yang dibuatnya mencapai 5.000 dolar. Begitu yang diberitakan koran Java Bode tanggal 10 April 1885. Akibat penipuan yang dilakukannya itu, Philip diadili oleh pengadilan di Singapura pada Mei 1882. Namun, Philip tak menyelesaikan proses hukumnya lantaran berhasil kabur. Pemerintah setempat masih mencarinya hingga pertengahan tahun 1885. Philip, kata Java Bode , “telah menemukan tempat persembunyian yang bagus di rumah orang tuanya.” Untuk beberapa saat Philip ngumpet di rumah orangtuanya. Rumah orangtua Philip jauh dari Singapura, butuh berhari-hari pelayaran dari Singapura. Rumah itu berada di Gorontalo, bagian utara pulau Sulawesi. “Kita ditanya apakah pengurus Gorontalo tidak tahu apa-apa soal ini? Saat itu, konsul Belanda di Singapura menyebarkan permintaan ke seluruh Hindia Belanda bahwa jika orang tersebut muncul, ia harus ditangkap dan diekstradisi ke pengadilan Inggris,” begitu koran Java Bode mewartakan. Pemerintah kolonial Inggris tampak berharap untuk bisa mengadili Philip dan jika terbukti berhasil, akan menghukum Philip di Singapura. Setelahnya, tak ada lagi cerita mengenai Philip. Hanya diketahui, makamnya kemudian ada di Langowan, dekat makam Mayor Benjamin Thomas Sigar. Nama belakang Philip kebetulan sama dengan nama salah satu orang berpengaruh di Minahasa. Sebelum pertengahan 1885, di Minahasa, tepatnya di Langowan, ada seorang kepala distrik yang disebut Hukum Besar dengan gelar Mayor. Nama kepala distrik itu Lourens Roeland Sigar. Dia berkuasa di sana dari 1870 hingga 1884. Lourens Roeland Sigar jelas orang kaya di Langowan, sebagaimana disebut koran Soerabaijasch Handelsblad tanggal 3 Oktober 1879. Dia memiliki tanah seluas sekitar 230 bau (1 bau = 0,7 atau 0,8 hektare) di Noongan, sebuah daerah di antara Langowan dan Ratahan. Lahan tersebut dibelinya dari masyarakat setempat sekitar tahun 1875. Dia dianggap berhak memiliki tanah tersebut karena dia adalah orang Minahasa. Dia berharap tanah tersebut bisa disewakannya kepada orang-orang Eropa. Desa Noongan belakangan dikenal orang Minahasa sebagai daerahnya keturunan Belanda.*
- Umar Jatuh Cinta di Zaman PDRI
BELUM juga rampung kursus kepolisian yang diadakan pimpinan Angkatan Udara Republik Indonesia, Opsir Muda Udara III (setara Pembantu Letnan) Umar Said Noor dan beberapa rekannya malah ditugaskan ke Sumatra. Para siswa itu baru belajar tiga bulan. Padahal rencananya kursus itu akan diadakan enam bulan. Kala itu Sumatra sedang butuh personel. Untuk menuju Bukittinggi, Umar dkk. naik pesawat amfibi Catalina (RI-005) dari Campurdarat di pesisir selatan Tulungagung, Jawa Timur. Pilot pesawat itu seorang Australia bernama Cobley dan teknisinya seorang Manado bernama belakang Londa. Setelah perjalanan panjang, pesawat itu mendarat di Danau Singkarak. Mereka tiba tepat tanggal 17 Agustus 1948. Umar –kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah pada 24 Maret 1924– kemudian menuju ke lapangan terbang Palmerah di Jambi. Selanjutnya, sejak 28 Agustus 1948 dia menjadi operator stasiun radio AURI di pangkalan udara tersebut. Tugas pentingnya adalah mengirim berita-berita rahasia dari Jambi ke pusat pemerintahan di daerah lain. Namun dia tidak lama bertugas di sana. Tentara Belanda keburu menyerbu Jambi. Lari bersama peralatan radio adalah jalan terbaik dalam perjuangannya sebagai kru radio AURI. Namun Tak semua alat perjuangan bisa selamat. Menurut Soewardi Idris dkk. dalam Pengalaman Tak Terlupakan Pejuang Kemerdekaan Sumbar-Riau , pesawat yang dipiloti Cobley ketika serangan Belanda itu terjadi sedang berada di Jambi. Ketika hendak meninggalkan Jambi pada 29 Desember 1948, pesawat itu terkena benturan benda keras saat akan lepas landas. Akibatnya, kata buku Sejarah TNI Angkatan Udara: 1945-1949 , pesawat carteran itu tenggelam di Sungai Batanghari. Pilot RR Cobley dan Opsir Muda Udara I JN Londa terbunuh dalam peristiwa tersebut. Sementara, Umar bergerilya dengan Sawir, Sjarkawi, Sawal Wahidin, Sriyono, Zainal Abidin, Nuainah, Zubaidah, Tondowibowo dan lain-lain. Dari Jambi mereka berjalan kaki Sumatra Barat. Selain menyusuri hutan, mereka juga memasuki banyak kampung. Penduduk kampung yang mereka singgahi biasa memberi mereka makan. Jelang tahun baru 1949 dijalani Umar dan kawan-kawan dengan berperjalanan ke Desa Merlung. Mereka melewati Desa Sangeti. Tepat tahun baru 1949, mereka berada di tengah kebun singkong milik transmigran dari Tegal. Di masa gerilya itu Umar berperan penting lantaran terlibat dalam komunikasi antara Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat dengan para pemimpin lain Republik Indonesia (RI) di luar Sumatra, termasuk perwakilan RI di India maupun petinggi militer yang sedang gerilya di Jawa. Selain untuk mengkoordinasi perjuangan, komunikasi tersebut menjadi bukti RI masih eksis walau Sukarno-Hatta dan para pejabat teras lain ditawan tentara Belanda. Salah satu peran terpenting jaringan radio AURI (kini TNI AU) di masa clash ke-2 itu adalah penyiaran Serangan Umum 1 Maret 1949. Siaran itu dilakukan oleh stasiun radio “PC2” di Gunungkidul, Yogyakarta. “PHB AURI di Playen, Wonosari pada tanggal 2 Maret dini hari, memberitahukan kepada PHB AURI di Bukittinggi bahwa pada tanggal 1 Maret, Yogyakarta diduduki kembali oleh TNI. Berita langsung dikirikm ke Takengon, Aceh. Selanjutnya diteruskan ke Rangoon, Burma. Sore harinya, Kusnadi dan kawan-kawan sudah mendengar berita tersebut disiarkan oleh Radio di New Delhi, All India Radio menyiarkan berita kemenangan ini ke seluruh penjuru dunia, hingga sampai ke PBB,” tulis Irna Hanny Nastoeti dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . Untuk bisa terus menyiarkan berita kondisi tanah air dalam masa perjuangan itu, para awak radio rutin berpindah dari satu kampung ke kampung. Sebagaimana Opsir Oedara III Boediardjo di pedalaman Yogyakarta, Umar pun berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di Sumatra Barat dan sekitarnya. Pengalaman tidak terlupakan yang dialami Umar di masa gerilya itu terjadi di Desa Siaua, pedalaman Sumatra Barat. Desa ini aman dari jangkauan tentara Belanda. Lantaran cukup lama di desa ini, Umar dkk. tentu berinteraksi dengan penduduk desa ini. Termasuk dengan Ramonah, gadis yang lirikannya mengaduk hati Umar. Pemuda Umar yang masih berusia 25 tahun ini pun jatuh cinta kepadanya. Suatu hari, sebuah bingkisan datang kepada Umar dengan diantar oleh dua anak kecil. “Dari siapa ini?” tanya Umar,dikutip buku berjudul Pengalaman Tak Terlupakan Pejuang Kemerdekaan Sumbar-Riau . “Dari Uni Monah, Ramonah,” jawab anak itu, “untuk Bapak Umar.” Setelah itu, Umar dan Ramonah sering bertemu di tepi kolam, sebuah tempat umum yang terbuka. Tak ada yang mereka sembunyikan dari orang lain. Dalam pertemuan-pertemuan itu, mereka biasa membicarakan soal apa saja. Suatu hari, rombongan Umar diundang ke rumah keluarga Ramonah. Di rumah Ramonah, Umar salah tingkah ketika acara makan. Kegugupannya itu membuat Umar susah membedakan mana air kobokan dan mana air minum. Umar mengira air minum sebagai air kobokan untuk cuci tangan. “Habis, kamu pikirkan Ramonah,” kata kawan-kawan seperjuangannya meledek Umar. Setelah acara makan itu, rombongan pulang ke pondokan mereka. Umar diantar Ramonah ke pintu. Ramonah rupanya ingin mengatakan sesuatu. “Hati-hati di jalan. Dan maaf, tadi aku menumpahkan air di depan Bapak,” kata Ramonah. “Ah tentu saja kumaafkan seribu kali. Ini justru kenangan yang tak mungkin terlupakan. Akan kutulis dalam buku kenanganku kemudian hari,” jawab Umar yang tak melupakan peristiwa itu. Lebih dari 42 tahun kemudian, Umar tetap tak bisa melupakannya. Pada 1991, Umar sudah menjadi bapak lima anak dan suami dari Suratmi. Pada tahun itu, Umar diajak Marsekal Sibun (Kepala Staf Angkatan Udara waktu itu) ke Paraklubang. Di sana Umar bertemu warga Sumpukuduih. Rupanya mereka ini tahu siapa Ramonah ketika Umar bertanya tentang Ramonah dari Desa Siaua itu. “O, gadis yang jatuh cinta pada orang radio di Gaguak itu?” “Orang radio itu adalah saya,” jawab Umar. Orang-orang yang mendengar percakapan itu bersorak. Mereka lalu bercerita bahwa Ramonah telah menikah setelah Umar dan kawan-kawan diperintahkan bertugas di daerah lain. Namun, Ramonah yang ditanyakan Umar ternyata sudah tutup usia beberapa tahun sebelum 1991. Umar pun sedih mendengarnya. Dia pun berdoa agar Ramonah diterima disisi-Nya.*
- Komandan AURI Pantang Kabur Menghadapi Pasukan Gaib
JEMBATAN Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur di suatu siang pada pertengahan Januari 1949. Segelintir pasukan Detasemen Udara Prigi yang merupakan bagian dari pasukan Pangkalan Udara (Lanud) Campurdarat memasang bom tarik dari sisa-sisa peledak peninggalan Jepang. Namun, upaya peledakan itu berkali-kali gagal meski bomnya sudah dirakit dan dipasang dengan seksama. Sebulan sebelumnya, Detasemen Udara Prigi pimpinan Opsir Moeda Oedara (OMU) III Hanandjoeddin yang menyisakan 83 kombatan itu mengungsi dari pertahanan Pantai Prigi. Mereka mengungsi karena kapal perang Belanda membombardir kubu pertahanan gabungan Detasemen Udara Prigi (AURI) dan Corps Armada IV (ALRI) pada Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948. “Anggota telik sandi melaporkan bahwa Belanda telah mencapai Kewedanan Kampak. Satu-satunya cara untuk menghambat pergerakan Belanda di wilayah Watulimo adalah memutus jembatan penghubung antara Kewedanan Watulimo dan Kampak,” tulis Haril M. Andersen dalam biografi Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI.
- Kriminalitas Kecil-kecilan Sekitar Serangan Umum 1 Maret
SEBELUM hari yang ditentukan tiba, sebuah batalyon yang dipimpin Mayor Andi Mattalata sudah ada di tempatnya. Malam 28 Februari 1949 mereka –kebanyakan berasal dari Sulawesi Selatan– sudah bersiap. Batalyon tersebut dari Resimen Hasanuddin, yang dikomandani Abdul Kahar Muzakkar. “Pasukan yang kami hadapi ialah pasukan Belanda yang ada Hotel Merdeka dan pasukan yang berada di bawah tenda-tenda di pekarangan kantor KNIP,” aku Andi Mattalata dalam Menata Siri dan Harga Diri . Posisi pasukan Mattalata berdekatan dengan posisi Kompi 100 yang dipimpin Kapten Abdul Latief. Sepengahuan Latief, dalam catatannya Serangan Umum 1 Maret 1949 , dirinya tak bertemu Mattalata dan hanya bertemu bawahannya sehingga sulit berkordinasi. Keduanya berasal dari atasan yang berbeda pula. Sebagai perwira yang pasukannya akan menyerang, Mattalata tentu berpikir bagaimana mesti bertahan. Pasukan lawan tentu akan menyerang balik pasukannya. “Dan untuk mengadakan barikade saya terpaksa menyuruh bongkar rumah dan toko-toko Cina. Lalu semua lemari, meja, dan benda apa saja yang dapat digunakan menjadi barikade, saya suruh pasang di jalan. Sehingga dengan demikian panser-panser tidak dapat menerobos masuk ke sektor saya,” aku Mattalata. Setelah sirine penanda pagi berbunyi di kota Yogyakarta, pasukan Mattalata dan juga pasukan-pasukan lain yang terlibat dalam penyerangan terhadap Yogyakarta pun bergerak. Semua mencari posisi tentara Belanda dan berupaya melumpuhkannya pada pagi 1 Maret 1949 tersebut. Tujuannya tentu saja merebut kembali ibukota Yogyakarta. Setelah penyerangan oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Yogyakarta itu, tentara Belanda bereaksi. Dari arah Magelang dan Klaten, tentara Belanda bergerak dengan pansernya. Sebagian kombatan bawahan Mattalata melawan. Letnan Dua Muhammad Nur mencoba menembak lubang pengintip pengemudi panser, namun dia malah ditembak pasukan infanteri bersenjata senapan. Letnan Satu Abdul Rahim mencoba memasukkan granat tangan ke dalam panser lawan, namun begitu mendekat dia juga ditembak pasukan infanteri Belanda yang ada di sekitar panser. Letnan Satu Kipu juga berusaha melakukan seperti yang dilakukan Abdul Rahim, namun juga berakhir nahas. Begitulah yang diingat Andi Mattalata. Namun, belum juga gempuran tentara Belanda berakhir, Andi Mattalata dapat laporan yang tidak diingikannya. "Pak, komandan saya melanggar perintah Bapak!" kata bawahan dari Kapten Hasan Daeng Marala. “Perintah apa yang dilanggar komandanmu?” tanya Mattalata. "Waktu kita membongkar lemari dari rumah orang Cina, berhamburan ringgit perak, lalu Bapak saya Kapten Hasan memungutnya dan memasukkan di kantongnya." "Panggil saja Komandanmu Kapten Hasan!" Kapten Hasan pun datang menghadap Mayor Andi Mattalata. Ia langsung ditegur dalam bahasa Makassar. Namun ternyata Hasan tidak paham paham bahasa tersebut. " Annggapainanupakkasiri Daeng Hasan! Siapa kamu? punga!" kata Mattalata yang menunjukkan bahwa tindakannya memunguti uang ringgit yang bukan miliknya itu adalah hal yang tidak terpuji dan memalukan. " Lakualleji pa'ngurangi !," kata Hasan sambil mengeluarkan uang ringgit yang dipungutinya tadi. Setelahnya, Hasan disuruhnya kembali ke posnya. Hasan dan Andi Mattalata bergerak ke luar kota usai Serangan Umum 1 Maret 1949 itu. Mereka mengantisipasi jika ada pembersihan tentara Belanda yang bergerak ke pinggir kota.*
- Cerita Tak Biasa Mata-mata Nazi
MATA-mata memainkan peran penting di masa Perang Dunia II. Mereka bertugas menggali informasi rahasia terkait pertahanan maupun strategi dan rencana serangan musuh. Namun, bagaimana bila informasi yang diberikan oleh seorang spion sudah menjadi rahasia umum? Spion itu bernama Bertrand Stuart Hoffman, seorang pemuda berusia 27 tahun yang bertugas di Angkatan Laut Amerika Serikat. Sebelum bergabung dengan Angkatan Laut AS, Hoffman yang pernah bekerja sebagai sopir truk di Detroit, berkenalan dengan seorang anggota organisasi spionase Jerman di wilayah tersebut. Majalah Minggu Pagi, 26 April 1953 menyebut organisasi itu dipimpin oleh Grace Buchanan-Dineen, seorang wanita berkebangsaan Hungaria lulusan sekolah spionase di Hamburg, Jerman, di bawah pimpinan Paul Krauss. Mengutip surat kabar The New York Times, 25 Agustus 1943, Grace yang digambarkan sebagai “keturunan bangsawan Prancis yang menarik dan berpendidikan tinggi” direkrut oleh dinas spionase Nazi di Budapest pada 1941 oleh Sari de Hajek, seorang mantan mahasiswa pertukaran pelajar di Vassar College. Sari sendiri bersama suami, Gyula Rozinek, berada di Hungaria untuk membantu dinas spionase Jerman.





















