Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jalan Sukarno Menuju Kursi RI-1
UNTUK kali pertama, pemilihan presiden dan wakilnya berlangsung dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Itu terjadi pada 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
- Jejak Film dalam Poster
LUAS ruangan itu hanya sekira 3 x 5 meter, dengan bentuk memanjang. Lima rak dijejali tumpukan poster film. Sebuah rak kayu penuh dengan gulungan film. Dua lemari kabinet menyimpan foto-foto adegan, beberapa proyektor tua, rol-rol film, kardus-kardus, dan sebuah televisi tua. Ia lebih cocok disebut gudang ketimbang ruang pengarsipan.
- Kejahatan Perang dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia
PERDANA Menteri Belanda Mark Rutte mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pernyataan itu disampaikan di sela sesi debat di Tweede Kamer (Parlemen Belanda) terkait penelitian “Onafhankelijkheid, Dekolonisatie, Geweld en Oorlog in Indonesië, 1945–1950” (Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia, 1945–1950) pada Rabu, 14 Juni 2023. Rutte juga meminta maaf atas kekerasan ekstrem yang dilakukan militer Belanda kepada korban sipil di Indonesia selama masa revolusi. Ia menyebutnya kekerasan ekstem bukan kejahatan perang. Rutte tidak mengakui adanya kejahatan perang militer Belanda. Alasannya, kata Rutte, “konflik ini mendahului Konvensi Jenewa (1949) dan ini perang kemerdekaan, oleh karenanya secara yuridis itu adalah konflik internal dan bukan konflik internasional. Interpretasi kami adalah bahwa kekerasan bisa disebut kejahatan perang jika terjadi setelah 1949.” Baca juga: Akhirnya Belanda Mengakui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 Pengungkapan kejahatan perang atau kekerasan ekstrem militer Belanda selama masa revolusi telah dilakukan sejak tahun 1969. Merespons pernyataan Joop Hueting, veteran perang Belanda, yang mengungkap adanya kekejaman yang dilakukan militer Belanda, pemerintah Belanda menerbitkan Excessennota (Nota Ekses), yaitu laporan resmi pemerintah Belanda mengenai kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan yang dilakukan tentara Belanda selama 1945–1949. Laporan ini menyebut 110 kasus kekerasan yang dilakukan tentara Belanda terhadap pejuang dan penduduk sipil Indonesia. Namun, kekerasan tersebut dinyatakan sebagai “ekses”, yaitu kejadian tidak disengaja yang dilakukan individu-individu tentara Belanda. Selama lebih dari seperempat abad, versi sejarah resmi itu tak mendapatkan penentangan, walaupun diskusi publik dan polemik tentang perang terus berlangsung di berbagai media, forum, bahkan parlemen Belanda. Baca juga: Alasan PM Belanda Menolak Istilah "Kejahatan Perang" Baru pada lima tahun terakhir, Excessennota mendapatkan bantahan serius dari sejarawan Belanda. Dalam disertasinya, De Gecensureerde Oorlog yang dipertahankan pada 2013, Louis Zweers menyatakan bahwa pemerintah Belanda menutup-nutupi aksi kekerasan dan kejahatan perang yang dilakukan tentaranya di Indonesia selama 1945–1949. Remy Limpach, juga dalam disertasinya De Brandende Kampongs van General Spoor , menegaskan bahwa kekerasan yang dilakukan tentara Belanda pada dasarnya bersifat struktural, bukan semata-mata ekses. Karya Limpach telah diterjemahkan menjadi Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia: Perang Kemerdekaan Indonesia 1945–1949 . Sejarawan lainnya, Geert Oostindie, menerbitkan Soldaat in Indonesie 1945–1950 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1950 . Dalam buku ini, Oostindie menyimpulkan bahwa kejahatan perang di Indonesia bersifat struktural. Baca juga: Thierry Baudet: Harusnya Indonesia Masih Jajahan Belanda Kebetulan karya-karya tersebut muncul setelah kasus kejahatan perang di Rawagede dan Sulawesi Selatan oleh Kapten Raymond Westerling dibawa ke pengadilan pada 2011 dan 2012. Pengadilan di Den Haag, Belanda memutuskan pemerintah Belanda harus meminta maaf dan memberikan kompensasi kepada keluarga korban. Selain dua peristiwa tersebut, tentu saja masih banyak peristiwa kejahatan perang militer Belanda lainnya. Laporan khusus Historia di bawah ini mengangkat kejahatan perang selama revolusi kemerdekaan Indonesia, tidak hanya dilakukan tentara Belanda tetapi juga pihak Indonesia. Pada akhirnya perang hanya mengakibatkan kehancuran. Berikut ini laporan khusus kejahatan perang selama revolusi kemerdekaan Indonesia: Kisah Pelanduk di Tengah Perang Setelah Peluit Terakhir Berbunyi Pembantaian Kilat di Rengat Aksi Brutal Baret Hijau Spesialis Pencabut Nyawa Kisah dari Masa Berdarah Dendam Harus Dibalas Tuntas Menghabisi Telik Sandi Gert Oostindie: Perang Belanda di Indonesia, Salah!
- Partai Nasional Indonesia dan Ahli Warisnya
SETIAP Juni, juga Juli menjadi momentum penting dalam hidup Sukarno. Pada 6 Juni 1901 dia lahir di Surabaya, sementara 1 Juni 1945 adalah saat Sukarno menyampaikan buah pikirannya tentang Pancasila yang kemudian menjadi dasar negara. Setiap tahun, bulan Juni selalu diperingati sebagai Bulan Bung Karno. Bahkan, pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Sedangkan Juli menjadi penting karena dia bersama kompatriotnya mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927 di Bandung. Partai ini jadi alat perjuangan bagi mereka untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, seiring kebijakan pemerintah kolonial yang reaksioner, para pemimpin partai ini ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Empat tahun setelah berdiri, PNI membubarkan diri. Perpecahan kembali terjadi. Sebagian pendiri membentuk Partai Indonesia (Partindo) sedangkan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir yang belum lama tiba di Indonesia mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), sebagai ganti PNI yang telah membubarkan diri. Untuk beberapa saat, ideologi nasionalisme bisa memikat sekaligus mengikat orang banyak untuk bergabung ke dalamnya. Nasionalisme membuka kemungkinan bergabungnya unsur-unsur politik yang berbeda-beda di dalam satu wadah dan tujuan. Pada awal abad ke-20, nasionalisme memukau banyak pemikir dan aktivis pembebasan dari negeri-negeri jajahan. Ideologi nasionalisme, yang menurut sejarawan John D. Legge disebut sebagai “suatu istilah yang samar-samar, sesuatu yang mempunyai makna yang sangat berbeda-beda bagi berbagai bangsa” pada kenyataannya tetap menjadi pemikat di atas panggung politik. Bahkan, hingga ke abad 21 ini, partai-partai berhaluan nasionalis tetap memainkan peran penting dalam arena politik, tak terkecuali di Indonesia. Salah satu partai nasionalis terbesar di negeri ini adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) yang tak hanya mengklaim memiliki trah biologis Sukarno, tetapi juga mendekap ajaran nasionalismenya. Namun demikian, klaim itu tak hanya diaku sendiri. Ada partai lain yang juga pernah berdiri dan mengusung ideologi nasionalisme, sebut saja PNI yang pernah dihidupkan kembali pada Pemilu 1999, 2004, dan 2009. Lantas partai kecil lain pun mencoba untuk beradu siasat dalam Pemilu dengan mengkhidmati nasionalisme sebagai haluan ideologinya. Pelopor, PNBK, Nasdem, bahkan Partai Demokrat menepuk dada sebagai partai nasionalis. Konsep nasionalisme menjadi lebih terbuka dan bebas ditafsirkan, selama ia punya komitmen pada rakyat, bangsa dan negaranya, betapapun komitmen itu menjadi samar apabila dilihat dari perspektif yang lain, marxisme misalnya. Historia menyajikan laporan khusus sejarah PNI. Partai ini partai penting yang mewarisi cara berpikir dari Indische Partij, partai nasionalis Hindia pertama. Selain tentu karena momentum yang pas dengan Bulan Bung Karno dan hari lahir PNI, kami juga ingin menyajikan kepada pembaca tentang pergerakan kaum nasionalis dalam sejarah di Indonesia.* Berikut ini laporan khusus PNI: Berawal dari Sebuah Paviliun Tentang Lambang PNI Habis PNI Terbit Partindo Mendidik Dulu, Merdeka Kemudian Cerita dari Kota Kelahiran PNI Lahir Kembali di Masa Revolusi Simpang Jalan Milisi Partai Kaum Perempuan Nasionalis Kiprah Buruh Nasionalis Kisah Anak-anak Marhaen Dendang Liris Sastra Marhaenis Layu Setelah Melaju Merawat Semangat Oposan Cara Mulus Mendulang Fulus Mendulang Suara dari Desa Dalam Jaring-jaring Kekuasan Nyanyi Sumbang Desa Kingkang Menggusur Marhaenis Gadungan Memasung Kaki Banteng Nasib PNI Setelah Fusi Kusut Masai Aset Partai Pahit Manis Kisah Ahli Waris
- Perdebatan dalam Seminar Sejarah Nasional Pertama
Penulisan sejarah (historiografi) nasional yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan jadi topik hangat yang terus disorot belakangan hari ini. Gagasan tentang historiografi nasional menjadi penting karena menyangkut identitas dan perjalanan masa lalu berbangsa dan bernegara. Namun, para sejarawan maupun pemerhati sejarah menyoal penggunaan terminologi sejarah resmi (official history) dalam proyek tersebut.
- Pancasila dan Gerakan yang Bersimpang Jalan
SETELAH diusulkan oleh Sukarno pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, Pancasila kemudian dibawa ke sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam sidang ini, muncul perdebatan terutama pada sila pertama Piagam Jakarta. Lobi-lobi politik terjadi dan akhirnya Pancasila diresmikan sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945. Pasca perdebatan dalam PPKI, bukan berarti Pancasila tak pernah lagi mengalami penolakan. Ragam ideologi memang awalnya boleh tumbuh dan hidup di Indonesia. Mereka yang memiliki cita-cita sebuah negara dengan ideologi berbeda pun kemudian juga muncul. Ada yang hendak mendirikan negara berazas komunisme, ada pula yang berpegang pada Islamisme. Mereka yang dianggap melawan atau memberontak kepada pemerintahan yang sah kemudian diberantas. Tragedi berdarah mewarnai tiap peristiwa.
- Operasi Jatayu, Penerjunan Terakhir di Irian Barat
PANGLIMA Komando Mandala, Mayor Jenderal TNI Soeharto dibekap rasa gelisah. Perintah untuk menginvasi Irian Barat dari Panglima Tertinggi Presiden Sukarno belum tiba. Padahal, rencana operasi besar-besaran dengan sandi “Jayawijaya” telah dipersiapkan. Tidak mau berdiam diri dengan menunggu, Soeharto mendahuluinya dengan melancarkan sebuah operasi penerjunan. Pada 9 Agustus 1962, Soeharto menginstruksikan infiltrasi ke kota-kota penting. Operasi yang diberi sandi “Jatayu” ini terbagi atas tiga kelompok pasukan. Masing-masing bernama Elang, Gagak, dan Alap-alap. Operasi penerjunan ditetapkan pada 14 Agustus 1962. Sebelum terjun, Soeharto sempat memberikan pengarahan dan motivasi kepada anak buahnya. “Untuk meninggikan moril pasukan, beliau menyatakan agar mereka tidak usah kuatir karena rakyat di daerah Irian Barat siap menyambut kedatangan pasukan Indonesia,” ujar Kolonel (Purn.) Rachman kepada Saleh Djamhari dan tim pusat penerangan sejarah ABRI dalam Tri Komando Rakyat Pembebasan Irian Barat.
- Naga Bonar Lahir Kembali
TOKOH bandit legendaris dari Medan, Naga Bonar, kembali meramaikan bioskop Indonesia. Film berjudul Naga Bonar Reborn ini tayang di seluruh bioskop mulai 21 November 2019. Naga Bonar Reborn disutradarai oleh Dedi Setiadi dan tokoh Naga Bonar diperankan oleh Gading Marten. Sedangkan Kirana diperankan oleh Citra Kirana dan tokoh Emak diperankan oleh Rita Matumona. Dalam peluncuran trailer Naga Bonar Reborn , Gusti Randa, selaku produser mengatakan bahwa tim produksi telah berkonsultasi dengan Mutiara Sani, istri Asrul Sani pencipta karakter Naga Bonar. Gusti juga mengatakan film Naga Bonar kali ini akan berbeda dengan versi-versi sebelumnya. "Kalau ditanya apa hebatnya, kita adalah versi yang paling lengkap. Jadi bukan part of Naga Bonar tapi dari awal sampai Naga Bonar," kata Gusti. Sementara itu, Gading Marten, pemeran Naga Bonar mengaku enggan menonton film Naga Bonar yang sebelumnya agar tidak terpengaruh dengan karakter lawas Naga Bonar. "Saya cuma pernah nonton sepotong-sepotong. Jadi per adegan doang gitu . Takutnya kalau terlalu suka banget nanti jatuhnya kita jiplak dia gitu ," jelas Gading. Kisah Naga Bonar pertama kali dibuat oleh Asrul Sani dan difilmkan dengan judul Naga Bonar pada 1987. Kemudian pada 2007, film kedua Naga Bonar dibuat dengan judul Naga Bonar (Jadi) 2. Dalam kedua film tersebut, tokoh Naga Bonar diperankan Deddy Mizwar. Lakon Naga Bonar sendiri disebut-sebut terisnpirasi dari tokoh Timur Pane. Timur Pane ialah tokoh laskar yang mengangkat diri sendiri menjadi jenderal. Sebelumnya, Timur Pane dikenal sebagai bandit dan copet di Kota Medan. Sebelum 1945, Timur Pane ialah seorang pedagang jengkol dan sayuran di Pasar Sambu, Medan sekaligus menjadi copet dan jagoan. Kemudian sesudah 1945, dia bergabung dengan Nasional Pelopor Indonesia (Napindo) yang merupakan organ bersenjata Partai Nasional Indoenesia (PNI) di Sumatra Utara. Timur Pane bersama pasukan Napindo Naga Terbang ikut dalam pertempuran Medan Area. Pada 1946, Timur Pane keluar dari Napindo lalu membentuk Brigade Marsose. Dia mengangkat diri menjadi jenderal serta meminta 120 juta gulden kepada gubernur. "Mungkin juga (Timur Pane) sangat ditakuti, karena tindakannya kerapkali radikal, dan musuh yang ditangkapnya terus dipotong saja," ujar wartawan Antara , Mohammad Radjab dalam reportasenya Tjatatan dari Sumatera. Pada 1947, dia diterima dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai panglima Legiun Penggempur. Wakil Presiden Mohammad Hatta, dalam kunjungannya ke Tapanuli dan Sumatra Utara memerintahkannya merebut Kota Medan atas permintaan Timur Pane sendiri. "Pada hari itu juga kuperintahkan kepadanya (Timur Pane) memasuki daerah Belanda sekitar Medan," kata Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku Jilid 3: Menuju Gerbang Kemerdekaan. Namun, ketika tentara Belanda berhasil mendarat di Pantai Cermin dan mengalahkan pasukan TNI, Timur Pane membatalkan rencananya. Dia dan pasukannya mundur ke markas. Pada 1948, Legiun Penggempur dilikuidasi. Timur Pane tergabung dalam Divisi Banteng Negara Sektor II Komandemen Sumatra, membentuk Sang Gerilya, lalu membuat kekacauan dan mengundurkan diri ke Sektor III pada 1949. Di Sektor III pun Timur Pane lagi-lagi membuat ulah. Pada tahun yang sama, Timur Pane bergabung dengan Gerakan Rakyat Murba Indonesia yang menentang Sektor III. Sang Gerilya menjadi pasukan tempurnya. Namun, Sang Gerilya kemudian ditumpas oleh Sektor III. Akhir perjalanan Timur Pane belum diketahui. Kabar kematian atau di mana dia meninggal dunia pun demikian. Sejarah mencatat namanya identik sebagai bandit sekaligus pejuang yang melegenda.*
- Gubernur Polisi dalam Sejarah
USULAN Mendagri Tjahjo Kumolo untuk mengangkat perwira polisi menjadi pejabat gubernur menuai pro-kontra. Polemik mengemuka setelah Tjahjo mengajukan dua nama: Irjen Pol. Iriawan untuk Jawa Barat dan Irjen Martuani Sormin untuk Sumatra Utara. Hal ini sebagai langkah untuk mengisi kekosongan posisi gubernur menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) sekaligus menjaga keamanan di daerah tersebut. Beberapa partai politik menilai usulan itu bermuatan politis yang dapat mempengaruhi netralitas dalam pilkada. Wacana ini masih menanti keputusan Presiden Joko Widodo. “Banyak (terjadi) kok sejak Republik ini berdiri,” ujar Muradi, dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Padjadjaran kepada Historia. “Baik dari kepala daerah menjadi polisi atau sebaliknya polisi menjadi kepala daerah.” Untuk contoh terakhir, Muradi menyebut Raden Soemarto Soekardjo, perwira polisi sekaligus wakil kepala polisi pertama Soekanto Tjokrodiatmodjo, yang sebelumnya menjabat sebagai wedana (setara camat). Sejarah mencatat Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa menjadi perwira polisi pertama yang menjabat gubernur. Kepala Polisi Sumatra Tengah ini menjadi Gubernur Sumatra Barat periode 1958—1965. Pemerintah menunjuk Kaharoeddin ketika daerah-daerah di Sumatra bergejolak melalui gerakan (Pemerintahan Revolusiner Republik Indonesia).
- Diburu Kapten Westerling
MOEHIDIN masih ingat bagaimana aksinya bersama Batalyon 22 Djaja Pangrerot Brigade Guntur Divisi Siliwangi di wilayah Batujajar, Cililin, dan Gunung Halu pada 1947-1949. Nyaris setiap minggu, mereka selalu mengganggu para prajurit KST (Korps Pasukan Khusus) pimpinan Kapten R.P.P. Westerling. Bentuk gangguan tersebut bisa lewat aksi penyangongan (penghadangan) atau bisa melalui penyerangan langsung ke markas musuh. “Kami buat pasukan Baret Hijau (KST) tidak pernah tenang tidurnya,” ungkap veteran pejuang berusia 101 tahun itu. Salah satu penyerangan yang tak terlupakan oleh Moehidin adalah saat mereka menyambangi para prajurit KST di kandangnya sendiri (Markas Batujajar, sekarang menjadi Pusdiklat Kopassus TNI AD). Masih segar dalam ingatannya, suatu malam pada Juli 1948, dia bersama kawan-kawannya yang dipimpin oleh Letnan Satu Udaka menyergap secara tiba-tiba pasukan lawan. Kontan, mereka yang tengah beristirahat di markasnya itu menjadi panik dan kacau.
- Siregar Bikin Bendera Merah Putih Berkibar
SUSI Susanti bakal beraksi lagi. Mulai 24 Oktober 2019, ia bakal memperlihatkan bagaimana kecintaannya pada keluarga, bulutangkis, dan negeri bisa mendorongnya terus bekerja keras dalam tiap pertandingan hingga akhirnya berbuah prestasi yang mengharumkan nama Indonesia. Tentu, bukan Susi asli peraih medali emas pertama olimpiade bagi Indonesia yang akan beraksi itu. Tapi, Susi yang diperankan Laura Basuki dalam Susi Susanti: Love All . Film bertema olahraga kedua setelah 3 Srikandi (2016) itu bakal diputar di bioskop-bioskop tanah air empat hari sebelum Hari Sumpah Pemuda. Sutradara Sim F mengangkat kisahnya berpusar pada prestasi Susi kala bertarung di Olimpiade Barcelona 1992. Bagaimana perjuangannya yang menguras tenaga dan emosi itu dilakukan sebelum akhirnya berbuah emas. Di balik keberhasilan itu, ada nama lain yang berjasa selain pelatih Liang Chiu Hsia (diperankan Jenny Zhang). Dialah Mangombar Ferdinand Siregar (Lukman Sardi), teknokrat olahraga yang kala itu menjabat Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PBSI. “Pak Siregar ini salah satu orang yang dihormati di olahraga. Dari zamannya Bung Karno, dia sudah ada (berkiprah, red. ). Pada saat itu dia diminta oleh Pak Try Sutrisno (Ketum PB PBSI) untuk menangani PBSI yang sedang punya target juara di dunia internasional, terutama olimpiade,” tutur Lukman saat konferensi pers launching poster resmi Susi Susanti: Love All , Selasa (20/8/2019). Memerankan Siregar jadi tantangan tersendiri buat putra mendiang komposer Idris Sardi itu. Pasalnya, Lukman tak bisa menyelami karakter si tokoh lantaran sudah tiada sejak 2010. Lukman hanya bisa mendalami lewat buku biografinya karya duet jurnalis olahraga senior Brigitta Isworo dan Primastuti Handayani, Matahari Olahraga Indonesia , maupun bertanya pada beberapa orang yang kenal almarhum. “Pendalamannya lumayan challenging karena bukunya cuma ada satu. Saya juga enggak sempat ketemu keluarganya. Lebih banyak baca bukunya dan karakternya saya tanya-tanya ke teman-teman bulutangkis. Dia memang orang yang sangat dekat dengan atlet-atlet, sehingga mereka manggilnya ‘Opa’,” lanjutnya. Aktor Lukman Sardi perankan MF Siregar di film Susi Susanti : Love All (Foto: Fernando Randy/Historia) Dari dua “metode” pendalaman itu Lukman menafsirkan sosok “Opa” Siregar sebagai orang yang tak berjarak dengan anak-anak asuhnya. Ia juga pribadi yang sangat perhatian pada orang-orang di sekitarnya. Termasuk soal kewarganegaraan pelatih Susi, Liang Chiu Hsia, yang dianggap Siregar sebagai kekalahan di balik kesuksesan Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992. “Dia berusaha keras agar sang pelatih mendapatkan kewarganegaraan. Tapi situasi justru menyudutkan. Saat itu akhirnya dia merasa tidak berhasil dengan bagaimana dia menjanjikan ‘Habis ini elo dapat kewarganegaraan Indonesia.’ Tapi ternyata tidak terjadi dan itu menjadi suatu ganjalan tersendiri buat dia,” sambung Lukman. Beban Emas Olimpiade dari Soeharto Semua berawal dari prestasi trio pemanah Nurfitriyani Saiman-Lilies Handayani-Kusuma Wardhani yang berhasil mempersembahkan medali (perak) pertama buat Indonesia di Olimpade Seoul 1988. Sukses itu memicu Presiden Soeharto menuntut lebih di pesta olahraga empat tahunan terbesar dunia itu. Permintaan Soeharto itu, sebagaimana ditulis Brigitta dan Primastuti, dititipkannya kepada Ketum PB PBSI Try Sutrisno via Menpora Akbar Tandjung. Try lantas membagi beban itu ke pundak Siregar dengan menunjuknya sebagai kepala Bidang Binpres pada Munas PBSI di Manado, 18 Desember 1989. “Pak Siregar, You langsung pegang pasukan tempur,” kata Try. “Lho, saya kan sudah tua. Apa tidak ada kader-kader muda di kalangan bulutangkis?” jawabnya. “Pokoknya Pak Siregar langsung pegang pasukan tempur, langsung bimbing kader,” perintah Try. Dengan terpaksa, Siregar mengiyakan. Maklum, meski lulusan sport science dengan gelar Master of Physical Education dari Springfield Collenge, Massachusetts, Amerika Serikat pada 1964, ia belum tahu banyak soal bulutangkis. Kiprahnya saat itu baru di federasi renang (PRSI), gulat (PGSI), dan senam (Persani). Banyak istilah maupun peraturan bulutangkis yang tak diketahuinya. Oleh karena itu, Siregar belajar secara otodidak dengan bertanya pada para pebulutangkis seperti Verawaty Fajrin dan Ivana Lie. Butuh waktu enam bulan bagi Siregar untuk mengenal satu per satu pemain pelatnas. Namun, itu hanya masalah teknis sepele. Yang jauh lebih penting baginya, soal konsep. Maka untuk memompa mental atlet, Siregar pun menggandeng psikolog Belanda Dr. N. Singer. Ia juga mengajak ahli farmasi Titus Kurniadi. Dari dia pula Siregar ambil keputusan untuk mengasupi para atletnya mengonsumsi vitamin dan suplemen impor dari Amerika ketimbang melakukan blooddoping , demi menghindari sanksi doping International Olympic Committee (IOC). Untuk teknis di lapangan, pelatihan diserahkannya pada masing-masing pelatih. Christian Hadinata dipercayanya tetap menangani ganda putra, Rudy Hartono dan Indra Gunawan di tunggal putra, dan Liang Chiu Hsia di tunggal putri. Selebihnya, Siregar enggan ikut campur. Ia lebih ingin mengayomi demi menstabilkan mental pemain, mengingat para energi para atletnya sudah terkuras dalam latihan. “Opa (Siregar) figur pengurus yang sangat kebapakan. Dia selalu mau mendengarkan orang lain dan sangat perhatian. Ia bukan orang Batak yang menggebu-gebu, cenderung kalem. Berkomunikasi dengannya selalu enak. Rasanya semua atlet bisa terbuka dengan opa. Kami semua menganggapnya seperti ayah,” ungkap Susi. Tak ayal, Siregar disayang oleh anak-anak asuh dan para asistennya. Susi pernah begitu khawatir akan kondisi fisik Opa Siregar yang kendati kesehatannya sedang tidak prima namun berusaha selalu menemani pelatnas. “Dia sangat sadar akan konsekuensi dan tanggungjawab tugasnya itu. Mungkin karena beban berat di pundaknya, dia sampai serangan jantung. Sebagai pribadi, yang saya pikirkan adalah berjuang untuk opa,” tambahnya. Mangombar Ferdinand Siregar (kedua dari kanan) saat berbincang dengan para atletnya pada persiapan Olimpiade 1992 (Foto: Repro M.F. Siregar: Matahari Olahraga Indonesia) Saat memantau para anak asuhnya sebulan sebelum pembukaan olimpiade, 6 Juni 1992, Siregar kena serangan jantung akibat penyempitan pembuluh darah di jantungnya. Serangan jantung itu dipicu kecemasan berlebih Siregar saat melihat Susi jatuh dengan kondisi split – hal yang biasa Susi lakukan sejak kecil sebagai penari balet. Dada kiri Siregar langsung nyeri. Ia lantas dibawa pelatih ganda campuran Richard Mainaky dan Aryono Miranat pulang ke Kemanggisan, Jakarta Barat. Kondisi Siregar tak kunjung membaik hingga malam membuatnya dilarikan ke Rumahsakit Abdi Waluyo. Alhasil, ia gagal menemani para atletnya berangkat ke Barcelona karena lantas dirujuk ke rumahsakit San Francisco Heart Institute, Amerika Serikat. Meski dirawat, pikirannya tetap melayang ke Barcelona. Larangan dokter tak menyurutkan keinginannya untuk bertemu “anak-anaknya”. Dokter pun akhirnya memberi Siregar izin berangkat ke Barcelona pada 19 Juli. Bersama istri dan salah satu putrinya, Siregar tiba di Barcelona empat hari berselang. Dia langsung memberi wejangan agar menghiraukan dulu kabar-kabar yang berkembang di media nasional. “Saya tak mau menerima kenyataan bahwa media massa di Jakarta hanya menumpahkan harapan pada Susi. Di sini ada 13 pemain. Semua punya hak dan kewajiban yang sama. Kamu tak perlu takut lawan. Lawan yang harus takut sama kamu. Raket adalah temanmu,” tutur Siregar di hadapan ke-13 atletnya. Siregar lantas memilih pulang ke tanah air lantaran dilarang dokter menonton langsung final cabang bulutangkis. Kondisi jantungnya belum bersahabat. Saat final tunggal putri, ia hanya dikabari pertandingannya oleh Richard Mainaky. Betapa haru perasaannya kala tahu Susi menang. “Saya bermimpi Pak Siregar datang lagi (dalam tidurnya sebelum final). Itu berarti dorongan buat saya untuk memenangkan pertandingan. Gelar ini untuk Pak Siregar,” kata Susi.
- Misteri Seorang Turki dalam Perang Saudara di Jawa
ANTARA tahun 1746–1757, perang saudara yang dikenal sebagai Perang Suksesi Jawa III, memorak-morandakan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka yang terlibat di dalam peristiwa tersebut adalah Pangeran Mangkubumi (kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta), Susuhunan Pakubuwana II dan III di Surakarta, Pangeran Mangkunegara (kelak pangeran senior di Surakarta, juga dikenal sebagai Mas Said Suryakusuma dan berjuluk Pangeran Samber Nyawa), serta Kompeni Belanda (VOC) yang mendukung pihak keraton Surakarta yang pada waktu itu sudah dalam kondisi kian merosot.





















