top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Daging Kucing dalam Perang Kemerdekaan

    BEBERAPA waktu lalu, jagad dunia maya dihebohkan dengan viral video seorang lelaki paruh baya memakan hidup-hidup seekor kucing di Pasar Jiung Kemayoran, Jakarta Pusat. Kejadian ini langsung direspon oleh pihak kepolisian setempat. "Jadi setelah itu viral kan saya langsung koordinasi dan perintahkan anggota. Termasuk saya nyariin yang bersangkutan. Cuma yang bersangkutan sudah tidak ada," kata Kapolsek Kemayoran Kompol Syaiful Anwarsaat dikonfirmasi oleh Kumparan, Senin (29/7).Hingga kini, polisi tengah menyelidiki kasus tersebut. Mengkosumsi daging kucing sejatinya pernah dilakukan oleh para pejuang kita di era Perang Kemerdekaan (1945-1949). Setidaknya itu yang pernah dikisahkan oleh Itoh (92), seorang eks petugas dapur umum di wilayah Bandung Selatan, kepada saya.

  • Tujuh Pejuang Asing dalam Perang Kemerdekaan Indonesia

    PERANG Kemerdekaan di Indonesia (1945-1949), ternyata tidak melibatkan para pejuang bumiputera semata. Sejarah mencatat beberapa nama orang asing yang aktif berjuang sebagai kombatan, demi Indonesia merdeka. Awalnya mereka sebagian besar tergabung dalam pasukan musuh. Namun, karena bisikan hati nurani mereka menjadi ragu terhadap apa yang mereka sedang lakukan: memerangi bangsa yang ingin merdeka. Ketika rasa berdosa itu semakin kuat, pada akhirnya mereka justru menjadi pembelot dan bergabung dengan gerakan pembebasan tanah air di Indonesia. Siapa saja mereka? Berikut tujuh serdadu asing dari Belanda, Jepang, India, Nepal, Jerman, Korea dan Inggris yang kemudian menjadi gerilyawan Republik Indonesia.

  • Bung Hatta “Ngedumel” di Yogyakarta

    SELAIN ke villa Megamendung di kawasan Puncak, Bogor, Bung Hatta biasanya pergi ke Yogyakarta menghabiskan waktu rehat dari rutinintasnya sebagai wakil presiden di Jakarta. Untuk tujuan itulah Bung Hatta berkunjung ke Yogyakarta pada pekan pertama Maret 1956. Keberangkatan Bung Hatta ke Jogja disertai oleh kedua sekretaris pribadinya, yaitu Wangsanegara dan Mohammad Tamjiz. “Waktu untuk istirahat itu telah dipergunakan juga untuk memberikan kuliah-kuliah, dan ceramah untuk para mahasiswa, pertemuan dengan beberapa instansi, meninjau daerah Jogjakarta dengan cara incognito dan menghadiri dua kali peringatan Mi'radj Nabi Muhammad SAW, yaitu masing-masing yang diadakan oleh Angkatan Perang dan Panitia Hari Besar Islam Jogjakarta,” lansir Kedaulatan Rakjat, 14 Maret 1956, memberitakan aktivitas Bung Hatta selama di Jogja. Pada hari pertama di Jogja, Bung Hatta jalan pagi keliling kota usai salat subuh. Sepanjang jalan, pandangan matanya tertuju pada kebersihan kota. Di mana-mana ada sampah. Mulai dari Jalan Ngabean, tong-tong sampah terlihat penuh sesak dan berlimpah-limpah. Sepertinya sudah sekira 2-3 hari tidak diangkut oleh Dinas Pekerjaan Umum. Sementara itu, di Jalan Pathuk malahan sudah membentuk bukit sampah.

  • Mengukur Sejarah Tukang Cukur

    SEBUAH foto hitam putih dari dekade 1910-an. Seorang lelaki tua berdiri di bawah pohon rindang tepi jalan. Peci di kepala dan gunting di tangan kanan. Tangan kirinya memegang kepala lelaki muda berkumis yang duduk di kursi kayu sambil menyilangkan kaki. Kedua lelaki itu tak memakai alas kaki. Perkakas cukur tampak di meja dan tergantung pada pohon. Begitulah gambaran tukang cukur dan pelanggannya di Batavia dalam buku Greetings from Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950 karya Scott Merrilless. Tapi Scott tak banyak menjelaskan kegiatan dan jasa cukur rambut. Sesuatu yang agaknya baru lazim bagi orang-orang tempatan di Hindia Belanda setelah mereka mempraktikkan agama Islam dan berkontak dengan orang-orang dari negeri Barat. Anthony Reid, pakar sejarah Asia Tenggara, mencatat rambut sebagai sesuatu yang suci bagi kebanyakan orang Asia Tenggara. Mereka percaya rambut menyimpan kekuatan. “Oleh sebab itu pola yang berlaku hingga Kurun Niaga tampaknya ialah didorongnya pria dan wanita untuk menumbuhkan rambut sepanjang dan selebat mungkin,” ungkap Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680.

  • Pangkas Rambut Ko Tang Bertahan dari Tekanan Zaman

    DI sebuah gang sempit di kawasan Glodok, Jakarta Barat, ada sebuah tempat yang tak biasa di mana pemiliknya bisa memegang kepala siapapun, termasuk pejabat hingga presiden. Ya, tak mungkin ia tak memegang kepala sebab profesinya adalah pemangkas rambut. Namanya Pangkas Rambut Ko Tang –berasal dari bahasa Tiongkok, artinya kelas atas. Lokasinya di Gang Gloria, Glodok. Berdiri sejak 1936, Ko Tang menjadi salah satu pangkas rambut tertua di Jakarta.

  • Nazar Cukur Gundul dalam Sejarah

    SETELAH Joko Widodo dan Jusuf Kalla dinyatakan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2014-2019 oleh Komisi Pemilihan Umum, para pendukungnya seperti Nusron Wahid, ketua Gerakan Pemuda Ansor, dan sejumlah anggotanya menunaikan nazar menggunduli kepala. Di masa lalu, menurut Anthony Reid, laki-laki dan perempuan Asia Tenggara menghargai rambutnya seperti mencintai kepalanya. Rambut merupakan suatu lambang dan petunjuk diri yang menentukan. Tak heran jika hingga kurun niaga (abad ke-17), laki-laki dan perempuan didorong untuk menumbuhkan rambut sepanjang dan selebat mungkin. “Oleh karena itu, memotong rambut lebih merupakan pengorbanan,” tulis Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680.

  • Cerita Sedih dari Bukittinggi

    BUKITTINGGI, 2008. Pagi baru saja menyeruak, ketika Sutan Iskandar berdiri mematung tepat di bawah Jam Gadang. Matanya seolah menyapu pemandangan sekeliling. Angin bulan Desember berdesir lembut, mengarahkan hawa sejuk pegunungan ke pori-pori tubuh. Dalam wajah sendu dan bibir agak gemetar, mulut Iskandar nampak komat-kamit membaca sebait doa. “Semoga ninik mamak kita yang sudah berpulang dan menjadi korban perang saudara di masa lalu diterima di haribaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Amiiinnn…” ujarnya, nyaris tak terdengar. Sutan Iskandar masih berusia 12 tahun ketika kejadian itu berlangsung. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan tentara-tentara pusat (sebutan orang-orang Minang saat itu kepada tentara pemerintahan Sukarno) menggiring ratusan orang dalam kelompok-kelompok kecil ke sekitar monumen Jam Gadang. Mereka mayoritas adalah laki-laki.

  • Menggali Harta Karun Jaap Kunst

    DALAM buku tahunan yang diterbitkan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Museum Nasional) tahun 1933, Jaap Kunst disebut menyerahkan sekitar 1000 alat musik koleksinya. Etnomusikolog itu juga meninggalkan banyak ‘harta karun’. Dari silinder lilin, positif kaca, hingga surat-surat korespondensi. Namun, hampir setengah abad koleksi Jaap Kunst di Museum Nasional tak teridentifikasi. Satu persatu peninggalan Jaap Kunts mulai terungkap pada 2004 ketika Museum Nasional hendak menggelar pameran alat musik. Saat itu, karena Museum Nasional tidak memiliki kurator musik, Nusi Lisabilla, Staf Seksi Koleksi Etnografi dan Ita Yulita, Staf Seksi Konservasi diminta berguru kilat kepada etnomusikolog Rizaldi Siagian. Selama dua hari, dari pagi hingga malam, Nusi dan rekan-rekannya dijejali ilmu tentang musik.

  • Kisah Perwira Luksemburg di Jawa

    LEBIH dari separuh hidupnya dihabiskan sebagai serdadu. Laki-laki kelahiran Fusange, Luksemburg (sebelah Negeri Belanda) pada 12 Agustus 1825 itu jadi serdadu saat berusia 19 tahun. Anak dari Michel Kohn dan Magdalena Lahaye itu memulainya dengan jadi milisi di Resimen Tombak Kedua. Ia sampai pangkat kopral di resimen itu. Lelaki itu, Jan Pieter Kohn, dipindahkan ke Resimen Dragonder pada 12 Oktober 1849. Pasukan berkuda ringan itu bisa bertempur seperti infanteri juga. Pieter lalu pergi ke luar negeri untuk menjadi serdadu lagi. Koran Het Nieuws van den Dag, 13 September 1905, menyebut pada 1856 dia sempat berdinas dalam Legiun Inggris-Jerman tak lebih dari setahun. Setelah itu, Pieter masuk militer Belanda. Dia kemudian dikirim ke Hindia Belanda. Studbook Stamboeken Officieren Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), 1815-1940 koleksi Arsip Nasional Belanda menyebut, dia memulai karier di kemiliteran Belanda dari prajurit rendahan. Selain di Ambon, dia pernah ditugaskan ke Madiun, Serang, dan Yogyakarta.

  • Pekik Merdeka di Ladang Huma

    SEKIRA akhir September 1945, keluarga besar Presiden Sukarno sempat “mengungsi” ke Bogor. Kepindahan itu terjadi karena di Jakarta teror tentara Belanda mulai merajalela. Namun ketika di Bogor pun, Fatmawati Sukarno merasakan hal serupa. Dia tidak merasa betah dengan situasi revolusiener yang tengah melanda kota hujan itu. “Bung Karno dan aku pulang kembali ke Jakarta, tetapi Guntur dan nenek-kakeknya tetap tinggal di Bogor (Jalan Ciwaringin No. 33), bersama keluarga Harun Kabir,” ujar Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I. Hingga kini sosok Harun Kabir dikenal sebagai tokoh pejuang di Jawa Barat. Namanya tertabalkan di tiga kota: Bogor (Jalan Kapten Harun Kabir yang lalu berganti menjadi Jalan Taman Safari), Cianjur (Jalan Mayor Harun Kabir) dan Sukabumi (Jalan Kapten Harun Kabir).

  • Membangun Ulang Pengetahuan Pasca Merdeka

    PROSES memerdekaakan diri tidak hanya dilakukan para pendiri negeri ini melalui perjuangan fisik. Upaya jauh lebih mendasar yang dilakukan ialah meningkatkan kualitas manusia melalui pendidikan dan membangun ilmu pengetahuan yang terbebas dari unsur penjajahan. Usai proklamasi, upaya menyebarkan pengetahuan pun dilakukan dalam berbagai aspek, seperti pembangunan institusi pendidikan tinggi atau pengembangan riset. Ada pula upaya memelihara dan mengembangkan pengetahuan untuk tujuan yang lebih praktis. Ilmu pengetahuan tersebut amat dibutuhkan setelah kemerdekaan untuk membangun negara dan mendidik warganya. “Dari pendekatan inilah proyek penelitian ini berjalan. Bagaimana Indonesia pasca-merdeka mencoba membangun kembali budaya pengetahuannya,“ kata Profesor Remco Raben dari Universitas Amsterdam dalam pembukaan seminar “The Construction of Indonesian Knowledge Culture since Independence” di UGM, Rabu, 5 Februari 2020.

  • Solidaritas Prajurit India Untuk Indonesia Merdeka

    SUATU hari di bulan Maret 1971. Mayor Z.A. Maulani bersama rekannya dari KKo-AL, Mayor Suharmo Haryanto bertamu ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Pakistan. Saat akan memasuki pintu gerbang kedutaan, mereka berdua disambut dengan penghormatan “jaga jajar” dari para satpam KBRI. Begitu turun dari mobil, betapa terkejutnya kedua perwira itu saat melihat di saku kiri kameja para petugas satpam tersebut terpasang Bintang Gerilya. Itu nama medali penghargaan bagi seorang tentara Indonesia yang pernah terlibat aktif dalam Perang Kemerdekaan (1945-1949). “Setelah memberi salut secara sempurna kepada mereka, sebagai tanda hormat kepada senior, saya tidak dapat menahan diri untuk bertanya tentang Bintang Gerilya yang mereka kenakan,”ujar Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara era Presiden B.J. Habibie itu.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page