top of page

Hasil pencarian

9952 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bung Hatta “Ngedumel” di Yogyakarta

    SELAIN ke villa Megamendung di kawasan Puncak, Bogor, Bung Hatta biasanya pergi ke Yogyakarta menghabiskan waktu rehat dari rutinintasnya sebagai wakil presiden di Jakarta. Untuk tujuan itulah Bung Hatta berkunjung ke Yogyakarta pada pekan pertama Maret 1956. Keberangkatan Bung Hatta ke Jogja disertai oleh kedua sekretaris pribadinya, yaitu Wangsanegara dan Mohammad Tamjiz. “Waktu untuk istirahat itu telah dipergunakan juga untuk memberikan kuliah-kuliah, dan ceramah untuk para mahasiswa, pertemuan dengan beberapa instansi, meninjau daerah Jogjakarta dengan cara incognito dan menghadiri dua kali peringatan Mi'radj Nabi Muhammad SAW, yaitu masing-masing yang diadakan oleh Angkatan Perang dan Panitia Hari Besar Islam Jogjakarta,” lansir Kedaulatan Rakjat, 14 Maret 1956, memberitakan aktivitas Bung Hatta selama di Jogja. Pada hari pertama di Jogja, Bung Hatta jalan pagi keliling kota usai salat subuh. Sepanjang jalan, pandangan matanya tertuju pada kebersihan kota. Di mana-mana ada sampah. Mulai dari Jalan Ngabean, tong-tong sampah terlihat penuh sesak dan berlimpah-limpah. Sepertinya sudah sekira 2-3 hari tidak diangkut oleh Dinas Pekerjaan Umum. Sementara itu, di Jalan Pathuk malahan sudah membentuk bukit sampah.

  • Mengukur Sejarah Tukang Cukur

    SEBUAH foto hitam putih dari dekade 1910-an. Seorang lelaki tua berdiri di bawah pohon rindang tepi jalan. Peci di kepala dan gunting di tangan kanan. Tangan kirinya memegang kepala lelaki muda berkumis yang duduk di kursi kayu sambil menyilangkan kaki. Kedua lelaki itu tak memakai alas kaki. Perkakas cukur tampak di meja dan tergantung pada pohon. Begitulah gambaran tukang cukur dan pelanggannya di Batavia dalam buku Greetings from Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950 karya Scott Merrilless. Tapi Scott tak banyak menjelaskan kegiatan dan jasa cukur rambut. Sesuatu yang agaknya baru lazim bagi orang-orang tempatan di Hindia Belanda setelah mereka mempraktikkan agama Islam dan berkontak dengan orang-orang dari negeri Barat. Anthony Reid, pakar sejarah Asia Tenggara, mencatat rambut sebagai sesuatu yang suci bagi kebanyakan orang Asia Tenggara. Mereka percaya rambut menyimpan kekuatan. “Oleh sebab itu pola yang berlaku hingga Kurun Niaga tampaknya ialah didorongnya pria dan wanita untuk menumbuhkan rambut sepanjang dan selebat mungkin,” ungkap Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680.

  • Pangkas Rambut Ko Tang Bertahan dari Tekanan Zaman

    DI sebuah gang sempit di kawasan Glodok, Jakarta Barat, ada sebuah tempat yang tak biasa di mana pemiliknya bisa memegang kepala siapapun, termasuk pejabat hingga presiden. Ya, tak mungkin ia tak memegang kepala sebab profesinya adalah pemangkas rambut. Namanya Pangkas Rambut Ko Tang –berasal dari bahasa Tiongkok, artinya kelas atas. Lokasinya di Gang Gloria, Glodok. Berdiri sejak 1936, Ko Tang menjadi salah satu pangkas rambut tertua di Jakarta.

  • Nazar Cukur Gundul dalam Sejarah

    SETELAH Joko Widodo dan Jusuf Kalla dinyatakan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2014-2019 oleh Komisi Pemilihan Umum, para pendukungnya seperti Nusron Wahid, ketua Gerakan Pemuda Ansor, dan sejumlah anggotanya menunaikan nazar menggunduli kepala. Di masa lalu, menurut Anthony Reid, laki-laki dan perempuan Asia Tenggara menghargai rambutnya seperti mencintai kepalanya. Rambut merupakan suatu lambang dan petunjuk diri yang menentukan. Tak heran jika hingga kurun niaga (abad ke-17), laki-laki dan perempuan didorong untuk menumbuhkan rambut sepanjang dan selebat mungkin. “Oleh karena itu, memotong rambut lebih merupakan pengorbanan,” tulis Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680.

  • Kabar Angin Tan Malaka di Palestina

    SORE 25 Agustus 1945 itu, seorang asisten rumah tangga di kediaman Ahmad Subardjo di Cikini, Jakarta menginformasikan kepada sang tuan bahwa ada seorang tamu. Dari perawakannya, Subardjo sepintas mengira itu bekas kawannya semasa di Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, Iskaq Tjokroadisoerjo. Tapi ternyata bukan. Yang datang Tan Malaka. “Wah, kau Tan Malaka,” seru Subardjo menyambut sang tamu, sebagaimana dikisahkan Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Subardjo tak asing dengan Tan. Ia pertamakali bertemu dan mengenal Tan saat kuliah dan aktif di PI semasa di Belanda. Dalam pertemuan di rumah Subardjo tadi, Tan mengakui dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Jilid 3: Terbuang di Rumah Sendiri, bahwa Subardjo yang pertamakali menyebut nama aslinya. Sebab, bertahun-tahun Tan memakai banyak nama samaran. “Mulanya Mr. Subardjo kelihatan lupa. Tetapi sesudah saya tanyakan, apakah dia sudah lupa kepada saya, maka Mr. Subardjo, sambil berdiri kembali dijawab dengan, ‘o, Tan Malaka. Saya sangka sudah mati.’ Mr. Subardjolah yang pertama sekali mengucapkan nama saya yang sebenarnya, semenjak saya mendarat di Sumatera Timur pada 10 Juni 1942. Ganjil benar bunyinya nama itu di telinga saya sendiri, semenjak lebih dua puluh tahun tak pernah lagi nama itu diucapkan kepada saya dalam pergaulan sehari-hari,” kenang Tan. Subardjo sempat mengira Tan sudah tinggal nama. Pasalnya sejak tujuh tahun sebelumnya ramai berembus kabar angin soal Tan yang turut dimuat banyak suratkabar. Kabar itu menyebutkan Tan bersama dua tokoh kiri Indonesia lain, Alimin Prawirodirdjo dan Willem Sapuliti, terlibat bahu-membahu dengan para pejuang Palestina dalam Pemberontakan Arab 1936-1939. Subardjo jadi satu dari sekian tokoh yang ‘kecele’ alias percaya pada hoaks itu. “Saya kira kau sudah mati, sebab saya baca di surat kabar bahwa kau disebut menjadi korban dalam kerusuhan di Birma (kini Myanmar, red.), ada lagi kabar bahwa kau berada di Yerusalem, dan dikatakan mati dalam kerusuhan (Pemberontakan Arab),” kata Subardjo. “Okruid vergaat toch niet (alang-alang tak dapat musnah),” jawab Tan dalam bahasa Belanda sembari tertawa. “Apa maksudmu?” tanya Subardjo. “Sampai sekarang saya hidup incognito di bawah tanah. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Saya ingin hidup dan bergerak di atas tanah, secara resmi. Saya ingin menemui dan mengenal pemimpin-pemimpin Indonesia,” Tan menjelaskan maksud kedatangannya. Tajuk pemberitaan tentang rumor Tan Malaka di Palestina di artikel De Indische Courant edisi 25 Oktober 1938. (delpher.nl). Palestina di Mata Tan Malaka Sejarawan Harry Albert Poeze dalam bukunya, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, 1925-1945, turut melacak dari mana rumor itu berasal. Pada Oktober 1938, terdapat dua suratkabar yang mendasarkan pemberitaannya pada korespondennya di Alexandria, Mesir. Sang koresponden mengaku mendapatkan informasi itu dalam sebuah pembicaraan dengan seorang wartawan Amerika Serikat. “Wartawan Amerika itu sempat ikut bertempur bersama pejuang Arab melawan Yahudi dan Inggris di Palestina. Selama tiga pertempuran, ia berkenalan dengan tiga orang Indonesia: Tan Malaka, Alimin, dan seorang Ambon Willem Sapuliti,” tulis Poeze. Wartawan Amerika itu menguraikan kepada sang koresponden bahwa Tan, Alimin, dan Willem Sapuliti tak berdiri di belakang pihak Arab-Palestina karena fanatisme agama. Mereka bergerak dan angkat senjata karena cita-cita kemanusiaan. Kabar itu, lanjut Poeze, sempat dikutip media massa di Hindia Belanda, baik suratkabar bumiputera seperti Pewarta Deli dan Pemandangan, maupun koran-koran berbahasa Belanda seperti De Indische Courant atau Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. Dalam artikel-artikel mereka disebutkan bahwa Tan terluka di bagian bahu sedangkan Sapuliti mengalami tekanan mental, dan Alimin gugur dalam sebuah pertempuran di suatu malam. Alimin, lanjutnya, kemudian dikebumikan dengan hormat, di mana Tan memberikan pidato perpisahan dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. “Setelah pemberontakan komunis 1926, dua pemimpin ternama, Alimin dari Jawa dan Tan Malaka dari Minangkabau, berhasil kabur ke luar negeri dan tetap tak terlacak. Koresponden Mesir untuk Pewarta Deli mendapat kabar bahwa Alimin, yang ambil bagian dalam pemberontakan di Palestina bersama pihak Arab, telah tewas akibat peluru Inggris, sementara Tan Malaka yang bertempur di sampingnya, juga harus mendapat perawatan di rumah sakit akibat luka serius,” tulis De Indische Courant edisi 25 Oktober 1938 dalam artikelnya, “Twee Communisten, Volgens geruchten is Alimin gedood en Tan Malaka ernstig gewond bij gevechten in Palestina”. Kabar itu pun dianggap Subardjo benar. Sebab, Tan Malaka tak pernah secara resmi membantah meskipun diketahui Alimin tak tewas di ujung senapan Inggris. Alimin baru tutup usia pada 26 Juni 1964 di Jakarta. Tan memang belum pernah menginjakkan kaki di tanah Palestina. Namun, beberapa karyanya menyinggung soal geopolitik di Palestina dan Jazirah Arab, mulai Arab Saudi hingga kawasan Magreb (kini Maroko) di Afrika Utara. Dalam Yahudi Nasrani dalam Tinjauan Madilog (1948), misalnya. Tan menerangkan apa yang terjadi antara Palestina-Israel dari kerangka sistem politik dunia dan sejarahnya, bukan dari kerangka moral dan penderitaan kemanusiaan. “Lebih kurang pada tahun 1220 sebelum Nabi Isa, Bani Israel, Pahlawan Tuhan, menyerbu ke Palestina, dari Timur dan Selatan. Akhirnya lebih kurang tahun 1000 sebelum Nabi Isa, mereka bisa merebut pegunungan dekat Palestina, tetapi tiada bisa menaklukkan negara di pesisir. Juga kota yang besar-besar seperti Yerusalem, Heggida, Besan dan segalanya belum lagi dapat ditaklukkan. Pertarungan yang seru sengit dengan bangsa Kanaan, Bangsa Filisten dari pesisir dan bangsa Badui terus menerus saja berlaku,” tulisnya. “Setelah Nabi Musa meninggal, maka ‘Persatuan’ agama di bawah satu pimpinan menghadapi musuh yang banyak dan kuat tadi, tentulah tidak kurang dirasa perlunya. Pahlawan Tuhan Bani Israel sekarang tiada lagi bangsa pengembara semata-mata. Pemimpin tunggalnya tiada lagi kerjanya semata-mata buat mencari jalan di gunung atau gurun pasir atau pemuja Yahweh seperti pada masa Nabi Musa, Bani Israel sekarang sudah menjadi penakluk, perebut negara baru, jadi tani, penggembala dan serdadu,” sambungnya. Narasi tentang Bani Israel juga diutarakannya dalam bukunya yang lain, Pandangan Hidup (1948). Usai dipersekusi Firaun sebagai bangsa budak di tanah Mesir, Bani Israel dipimpin hijrah oleh Nabi Musa AS. “Karena tiada tahan lagi menderita serta penghinaan di tengah-tengah bangsa Mesir, maka suatu waktu bangsa Yahudi itu memutuskan, hendak pindah ke ‘Tanah susu dan madu’ yang menurut kepercayaan yahudi sudah dijanjikan oleh Tuhan. Tanah makmur penuh dengan susu dan madu yang dimaksudkan itu, ialah tanah Palestina yang sekarang menjadi tanah-rebutan antara Yahudi dan Arab itu,” tandas Tan.*

  • Cerita Sedih dari Bukittinggi

    BUKITTINGGI, 2008. Pagi baru saja menyeruak, ketika Sutan Iskandar berdiri mematung tepat di bawah Jam Gadang. Matanya seolah menyapu pemandangan sekeliling. Angin bulan Desember berdesir lembut, mengarahkan hawa sejuk pegunungan ke pori-pori tubuh. Dalam wajah sendu dan bibir agak gemetar, mulut Iskandar nampak komat-kamit membaca sebait doa. “Semoga ninik mamak kita yang sudah berpulang dan menjadi korban perang saudara di masa lalu diterima di haribaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Amiiinnn…” ujarnya, nyaris tak terdengar. Sutan Iskandar masih berusia 12 tahun ketika kejadian itu berlangsung. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan tentara-tentara pusat (sebutan orang-orang Minang saat itu kepada tentara pemerintahan Sukarno) menggiring ratusan orang dalam kelompok-kelompok kecil ke sekitar monumen Jam Gadang. Mereka mayoritas adalah laki-laki.

  • Menggali Harta Karun Jaap Kunst

    DALAM buku tahunan yang diterbitkan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Museum Nasional) tahun 1933, Jaap Kunst disebut menyerahkan sekitar 1000 alat musik koleksinya. Etnomusikolog itu juga meninggalkan banyak ‘harta karun’. Dari silinder lilin, positif kaca, hingga surat-surat korespondensi. Namun, hampir setengah abad koleksi Jaap Kunst di Museum Nasional tak teridentifikasi. Satu persatu peninggalan Jaap Kunts mulai terungkap pada 2004 ketika Museum Nasional hendak menggelar pameran alat musik. Saat itu, karena Museum Nasional tidak memiliki kurator musik, Nusi Lisabilla, Staf Seksi Koleksi Etnografi dan Ita Yulita, Staf Seksi Konservasi diminta berguru kilat kepada etnomusikolog Rizaldi Siagian. Selama dua hari, dari pagi hingga malam, Nusi dan rekan-rekannya dijejali ilmu tentang musik.

  • Kisah Perwira Luksemburg di Jawa

    LEBIH dari separuh hidupnya dihabiskan sebagai serdadu. Laki-laki kelahiran Fusange, Luksemburg (sebelah Negeri Belanda) pada 12 Agustus 1825 itu jadi serdadu saat berusia 19 tahun. Anak dari Michel Kohn dan Magdalena Lahaye itu memulainya dengan jadi milisi di Resimen Tombak Kedua. Ia sampai pangkat kopral di resimen itu. Lelaki itu, Jan Pieter Kohn, dipindahkan ke Resimen Dragonder pada 12 Oktober 1849. Pasukan berkuda ringan itu bisa bertempur seperti infanteri juga. Pieter lalu pergi ke luar negeri untuk menjadi serdadu lagi. Koran Het Nieuws van den Dag, 13 September 1905, menyebut pada 1856 dia sempat berdinas dalam Legiun Inggris-Jerman tak lebih dari setahun. Setelah itu, Pieter masuk militer Belanda. Dia kemudian dikirim ke Hindia Belanda. Studbook Stamboeken Officieren Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), 1815-1940 koleksi Arsip Nasional Belanda menyebut, dia memulai karier di kemiliteran Belanda dari prajurit rendahan. Selain di Ambon, dia pernah ditugaskan ke Madiun, Serang, dan Yogyakarta.

  • Pekik Merdeka di Ladang Huma

    SEKIRA akhir September 1945, keluarga besar Presiden Sukarno sempat “mengungsi” ke Bogor. Kepindahan itu terjadi karena di Jakarta teror tentara Belanda mulai merajalela. Namun ketika di Bogor pun, Fatmawati Sukarno merasakan hal serupa. Dia tidak merasa betah dengan situasi revolusiener yang tengah melanda kota hujan itu. “Bung Karno dan aku pulang kembali ke Jakarta, tetapi Guntur dan nenek-kakeknya tetap tinggal di Bogor (Jalan Ciwaringin No. 33), bersama keluarga Harun Kabir,” ujar Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I. Hingga kini sosok Harun Kabir dikenal sebagai tokoh pejuang di Jawa Barat. Namanya tertabalkan di tiga kota: Bogor (Jalan Kapten Harun Kabir yang lalu berganti menjadi Jalan Taman Safari), Cianjur (Jalan Mayor Harun Kabir) dan Sukabumi (Jalan Kapten Harun Kabir).

  • Membangun Ulang Pengetahuan Pasca Merdeka

    PROSES memerdekaakan diri tidak hanya dilakukan para pendiri negeri ini melalui perjuangan fisik. Upaya jauh lebih mendasar yang dilakukan ialah meningkatkan kualitas manusia melalui pendidikan dan membangun ilmu pengetahuan yang terbebas dari unsur penjajahan. Usai proklamasi, upaya menyebarkan pengetahuan pun dilakukan dalam berbagai aspek, seperti pembangunan institusi pendidikan tinggi atau pengembangan riset. Ada pula upaya memelihara dan mengembangkan pengetahuan untuk tujuan yang lebih praktis. Ilmu pengetahuan tersebut amat dibutuhkan setelah kemerdekaan untuk membangun negara dan mendidik warganya. “Dari pendekatan inilah proyek penelitian ini berjalan. Bagaimana Indonesia pasca-merdeka mencoba membangun kembali budaya pengetahuannya,“ kata Profesor Remco Raben dari Universitas Amsterdam dalam pembukaan seminar “The Construction of Indonesian Knowledge Culture since Independence” di UGM, Rabu, 5 Februari 2020.

  • Wawasan yang Menggugah Ahmad Subardjo

    RAMAI dan sibuknya kota Batavia (kini Jakarta) di tahun 1903 bikin hati bocah berusia tujuh tahun Ahmad Subardjo kian merasa kerdil. Bocah kelahiran Karawang yang datang merantau untuk mengenyam pendidikan Belanda itu pun jadi rindu kampung halamannya. Ia akhirnya nekat pulang untuk melepas kangen pada keluarganya. Di Batavia, Subardjo dan kakaknya, Abdul Rachman, dikirim ayahnya untuk bisa belajar di sekolah Belanda lantaran di Karawang belum ada satupun sekolah Belanda. Berbekal biaya dari orangtua dan kakek-nenek, mereka berangkat ke Batavia dan ‘ngekos’ di rumah-pondokan di Kwitang milik seorang Jawa, Suwandi. Suwandi menganggap Subardjo dan Rachman sebagai anak sendiri. Ia sempat khawatir ketika pada suatu hari Subardjo minta pulang ke Karawang. Pasalnya, Subardjo harus tertinggal setahun karena masih harus memperdalam bahasa Belanda, sementara Rachman yang sudah fasih bahasa Belanda, sibuk di sekolahnya. Namun, Subardjo tetap minta pulang meski sendiri. Suwandi yang iba lalu hanya bisa mengongkosinya pulang ke Karawang dengan keretaapi.

  • Solidaritas Prajurit India Untuk Indonesia Merdeka

    SUATU hari di bulan Maret 1971. Mayor Z.A. Maulani bersama rekannya dari KKo-AL, Mayor Suharmo Haryanto bertamu ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Pakistan. Saat akan memasuki pintu gerbang kedutaan, mereka berdua disambut dengan penghormatan “jaga jajar” dari para satpam KBRI. Begitu turun dari mobil, betapa terkejutnya kedua perwira itu saat melihat di saku kiri kameja para petugas satpam tersebut terpasang Bintang Gerilya. Itu nama medali penghargaan bagi seorang tentara Indonesia yang pernah terlibat aktif dalam Perang Kemerdekaan (1945-1949). “Setelah memberi salut secara sempurna kepada mereka, sebagai tanda hormat kepada senior, saya tidak dapat menahan diri untuk bertanya tentang Bintang Gerilya yang mereka kenakan,”ujar Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara era Presiden B.J. Habibie itu.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page