Hasil pencarian
9874 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Final Piala Dunia Berujung Gempita dan Prahara
PERANG Dunia II membuat Eropa absen 16 tahun menggelar Piala Dunia. Turnamen paling banyak menyedot perhatian publik dunia itu baru kembali ke Eropa pada 1954 ketika Swiss menjadi tuan rumah. Partai final menjadi momen paling menyita perhatian. Laga yang mempertemukan Jerman Barat, negeri yang baru lahir setelah perang, melawan Hungaria, salah satu kekuatan adidaya sepakbola Eropa pada 1950-an, itu bukan semata soal pertarungan di lapangan. Kekalahan Hungaria 2-3 menimbulkan dampak dahsyat di dalam negerinya. Di atas kertas, Hungaria lebih superior. Dalam babak penyisihan, di mana kedua negara sama-sama menempati Grup 1, Hungaria dengan mudah membantai Jerman Barat 8-3. Oleh karena itu, kemenangan Jerman Barat di final yang berlangsung di Wankdorf Staduim, Bern itu mencetuskan ungkapan Wunder von Bern atau Keajaiban Bern dari publik Jerman.
- Masalah Sepatu Gagalkan Keikutsertaan India di Piala Dunia
BAGI banyak negara, jangankan membawa pulang trofi Piala Dunia, bisa tampil di ajang empat tahunan sepakbola itu saja merupakan impian. Gengsi Piala Dunia yang mengalahkan Olimpiade itulah yang membuat mereka rela saling “bunuh” untuk bisa tampil di dalamnya. Namun, hal itu tak berlaku bagi India. Tak lama setelah merdeka dari Inggris pada 1947, timnas India berhasil memukau di Olimpiade London 1948. Timnas India akhirnya memang kalah 1-2 dari Prancis, tapi permainan yang mereka tampilkan membuat banyak pihak memujinya. “India bisa mencetak lebih banyak peluang gol [ketimbang Prancis]. Setelah pertandingan usai, ratusan penonton memberi ucapan selamat atas tindakan sportif mereka di lapangan dan menyesal bahwa tim yang tampil lebih baik harus kalah,” kutip Paul Dimeo dan James Mills dalam Soccer in South Asia: Empire, Nation, Diaspora.
- Serba Pertama di Piala Dunia (Bagian I)
SEJAK advokat Prancis Jules Rimet dan anggota pelopor FIFA menghelat turnamen sepakbola empat tahunan bernama Piala Dunia pada 1930, jumlah penikmatnya selalu meningkat. Rimet ingin Piala Dunia bisa mengangkangi pamor Olimpiade. Saban menjelang penyelenggaraan, masyarakat dari berbagai penjuru bumi selalu menantikannya. Hampir saban penyelenggaraan Piala Dunia selalu melahirkan sejarah-sejarah baru. Piala Dunia 1930 Mengingat Piala Dunia 1930 sebagai yang pertama, semua yang lahir di dalamnya otomatis sebagai yang pertama dalam sejarah Piala Dunia. Uruguay menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah gelaran empat tahunan itu, terlepas dari gugatan sejumlah anggota FIFA asal Eropa.
- Serba Pertama di Piala Dunia (Bagian II)
SELALU ada sejarah baru dalam setiap gelaran Piala Dunia. Di Piala Dunia 2018 Rusia yang akan berlangsung Juni mendatang, belum lagi perhelatannya berjalan, dua sejarah sudah muncul. Pertama, untuk pertama kalinya semua (209) anggota FIFA terdaftar dalam kualifikasinya, walau akhirnya Indonesia dan Zimbabwe didiskualifikasi sebelum melakoni satu pertandingan pun. Kedua, Piala Dunia 2018 juga jadi momen pertama penggunaan video replay. Sejak kali pertama digelar di Uruguay pada 1930, Piala Dunia selalu melahirkan catatan unik. Sebelumnya, di bagian pertama kami sudah mengupas apa saja yang menjadi sejarah pertama dalam sejarah Piala Dunia sejak 1930 sampai 1958. Kali ini, kami menghadirkan sejarah baru dalam Piala Dunia mulai gelaran 1962 sampai yang terakhir di Brasil tahun 2014:
- Jalan Panjang Panama ke Piala Dunia
EUFORIA Piala Dunia 2018 di Rusia kian terasa. Dalam pesta sepakbola terbesar sejagat edisi ke-21 ini, Panama –dan Islandia– bakal unjuk gigi sebagai debutan. Panama memang “bocah” baru yang prestasi sepakbolanya masih segelintir. Selain juara ketiga (1948) dan juara pertama (1950) turnamen Confederacion Centroamericana y del Caribe de Futbol, pendahulu CONCACAF (Konfederasi Sepakbola Amerika Tengah dan Karibia), prestasi tertinggi Panama adalah masuk ke putaran final Piala Dunia 2018. Ketidakstabilan politik dan pergolakan dalam negeri menjadi faktor penting yang membuat Panama tak bertaji. Selain itu, popularitas sepakbola di negeri berpenduduk empat juta jiwa itu masih di bawah bisbol, tinju, dan basket. Publik Panama lebih kenal dan memuja maestro bisbol Mariano Rivera, Bruce Chen, Manny Sanguillen atau legenda tinju Roberto Duran ketimbang pesepakbola macam Luis Ernesto Tapia atau Rommel Fernandez. Perhatian pemerintah terhadap sepakbola pun tak besar. Panama baru punya induk organisasi sepakbola (FEPAFUT) pada 1937 atau 34 tahun setelah merdeka. Tak heran bila infrastruktur sepakbola Panama amat minim.
- Macan Jawa di Final Piala Dunia
DARI tiap gelaran Piala Dunia, hingga kini Indonesia masih dalam tahap hanya bisa bermimpi untuk ikut di dalamnya. Di Piala Dunia 1958, Indonesia sebetulnya berpeluang besar lolos, namun politik luar negeri Indonesia menghentikannya. Alhasil, untuk sementara negeri ini hanya bisa menghibur diri dengan klaim keikutsertaan di Piala Dunia 1938 meski masih Hindia Belanda. Hanya barang-barang buatan Indonesia yang hingga kini bisa tampil di Piala Dunia. Yang jarang diketahui, keterlibatan Macan Jawa di Piala Dunia 1974. Macan Jawa itu bahkan eksis sampai di partai final yang dimainkan Jerman Barat (Jerbar) vs Belanda. Namun, macan itu hanyalah motif dalam sekeping koin yang digunakan wasit Jack Taylor, yang memimpin partai final, sebagai alat pengundi sebelum kickoff. Gambar panthera tigris atau macan Jawa mengisi bagian depan sementara Garuda Pancasila beserta tulisan “Bank Indonesia” mengisi bagian belakang koin perak tersebut.
- Preambul Piala Dunia Pertama Amburadul
PIALA Dunia 2018 di Rusia resmi buka tirai, Kamis, 14 Juni 2017. Negeri Beruang Merah sukses menggelar upacara pembukaan yang mewah dan meriah. Musisi tenar Robbie Williams dan penyanyi sopran Rusia Aida Garifullina turut menggoyang seisi Stadion Luzhniki, Moskva. “Kami sangat bahagia bisa menggelar Piala Dunia di negara kami. Sepakbola sangat dicintai di sini. Rusia adalah negara terbuka, ramah, dan bersahabat,” cetus Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidatonya ketika membuka Piala Dunia, dilansir BBC, Kamis (14/6/2018). Pembukaan Piala Dunia ini jelas jauh berbeda jika dibandingkan pembukaan Piala Dunia perdana, 88 tahun lampau. Piala Dunia Uruguay 1930 preambulnya amburadul. Selain baru kali pertama dihelat, turnamen itu gelar karpet di negeri Amerika Latin yang kondisi ekonomi, infrastruktur, dan sumber daya manusianya tak secanggih Eropa.
- Tinggi Badan Pas-pasan Tapi Jadi Jenderal
SETELAH memperbolehkan keturunan PKI dan menganulir tes keperawanan dalam pendaftaran masuk TNI, Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa mengambil kebijakan merevisi aturan dalam penerimaan taruna Akademi Militer (Akmil) tahun 2022. Andika menurunkan syarat tinggi badan calon taruna Akmil dari 163 cm –sempat 165 cm– menjadi 160 cm untuk laki-laki dan 157 cm menjadi 155 cm untuk wanita. Perubahan ini membuka kesempatan lebih besar bagi anak-anak di seluruh Indonesia yang rata-rata tingginya 160 cm untuk masuk Akmil di Magelang. Persyaratan tinggi badan belum menjadi persoalan pada awal kemerdekaan. Bahkan, tinggi badan tidak menjadi syarat masuk Akademi Militer Tangerang. Tata Usaha Markas Tentara Keamanan Rakyat Keresidenan Jakarta yang mengeluarkan pengumuman penerimaan calon taruna Akademi Militer pada 10 November 1945 hanya mensyaratkan: umur 18–25 tahun, badan sehat, kemauan sungguh untuk mempertahankan Indonesia tetap merdeka, dan serendah-rendahnya tamat SMP.
- Sulitnya Mundur dari Dinas Militer
MAYOR Inf. Agus Harimurti Yudhoyono, putra mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta dari Partai Demokrat. Untuk itu dia mengajukan pengunduran diri dari dinas ketentaraan. Pengajuannya diproses dengan cepat sehingga menjadi perbincangan di dunia maya. Pasalnya, proses itu biasanya memakan waktu lama. Setelah mendapat persetujuan dari matranya, seorang prajurit masih harus mendapatkan persetujuan dari Mabes TNI. Meski berbeda era dan aturan, Didi Kartasasmita, panglima Komandemen Jawa Barat, pernah mengalami sulitnya mundur dari dinas ketentaraan. Pengunduran Didi berawal dari ketidaksetujuannya atas langkah Presiden Sukarno memecat Letjen TNI Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf Oemoem TKR dan memberinya kedudukan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung. Didi menganggap itu merupakan bentuk pembuangan. Dia juga kecewa lantaran dilangkahi perwira-perwira eks KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) lulusan Bandung seperti T.B. Simatupang yang jauh lebih junior. Menurutnya, sesuai etika di lingkungan perwira KNIL, pelangkahan sama saja menganggap orang yang dilangkahi tak becus.
- Militer Myanmar Sewa Pesawat Indonesia
PADA 1948 pemerintah Indonesia membeli pesawat angkut Dakota DC-47 dengan sumbangan dari masyarakat Aceh. Sebagai pesawat kepresidenan, pesawat ini diberi nomor registrasi RI-001 dan dinamakan Seulawah artinya gunung emas untuk menghomati rakyat Aceh. Pesawat ini pernah digunakan menembus blokade Belanda untuk menyelundupkan senjata, peralatan komunikasi, dan obat-obatan dari Burma (kini Myanmar) ke Pangkalan Udara Blangbintang dan Loknga, Aceh. Pesawat ini kemudian punya kisah sendiri di Burma. Pada Desember 1948, pesawat RI-001 berada di India untuk menjalani overhaul (pemeriksaan/perbaikan) mesin dan pemasangan long range tank (tangki bahan bakar jarak jauh). Namun, pesawat ini tidak bisa kembali ke Indonesia karena Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Akhirnya, pesawat ini dioperasikan sebagai penerbangan sipil di luar negeri. Namun, pemerintah India tidak memberikan izin karena sudah memiliki Indian National Airways.
- Belanda Mulai Teliti Agresi Militernya ke Indonesia
SEORANG pria, kelihatan lebih dari 70 tahun, berdiri meminta waktu bicara, memperkenalkan diri sebagai veteran perang Belanda. Tidak ada pertanyaan darinya kecuali pernyataan keberatan istilah yang berulang kali digunakan oleh para pembicara: kejahatan perang (oorlogsmisdaden). Kamis malam tadi, pukul 20:00 waktu Belanda, veteran serdadu tersebut hadir di gedung Pakhuis De Zwijger, Amsterdam bersama sekitar duaratus orang peserta acara peluncuran program penelitian dekolonisasi lainnya. Remy Limpach, penulis buku De Brandende Kampongs van Generaal Spoor (Kampung-kampung yang Ter(di)bakar Jenderal Spoor) yang berhasil mengungkap kekerasan masa agresi militer Belanda di Indonesia tampil sebagai salah satu pembicara. Temuannya itu menggemparkan Belanda. Foto-foto kekerasan serdadu Belanda di Indonesia kurun tahun 1946 sampai 1949 yang ada dalam bukunya, terpampang di berbagai media massa. Mendorong para politikus Belanda membawa topik tersebut sebagai perdebatan di dalam parlemen dan, akhir tahun lalu keluar keputusan pemerintah untuk mendanai penelitian besar tersebut.
- Operasi Militer Amerika Terbodoh
DI BAWAH kabut pekat dan udara dingin yang nyaris membekukan, 600 personil Special Service Forces (SSF) Amerika Serikat (AS) mendayung perahu karet-perahu karet mereka untuk mencapai Pulau Kiska di Kepulauan Aleut. Pukul enam pagi 15 Agustus 1943, pasukan gabungan dari angkatan darat dan angkatan laut itu menginjakkan kaki di pantai. Setelah mengamankan garis pantai, mereka langsung merangsek ke bagian lebih dalam pulau. Tiga puluh menit kemudian, gelombang pertama pasukan utama tiba di pantai Kiska. Kabut pekat yang membuat jarak pandang nyaris nol meter membuat pergerakan mereka amat lambat. Namun, baik personil SSF maupun pasukan utama semua mengalami kebingungan di detik-detik awal Operasi Cottage –operasi amfibi yang dilakukan AS dan Kanada untuk merebut Pualu Kiska– itu.





















