Hasil pencarian
9952 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Salam Nasional Pekik Merdeka
PADA 31 Agustus 1945, Presiden Sukarno menyampaikan maklumat pemerintah yang menetapkan pekik “Merdeka” sebagai salam nasional. Dalam maklumat itu, Sukarno menulis: “Sejak 1 September 1945 kita memekikkan pekik ‘Merdeka’. Dengungkan terus pekik itu sebagai dengungan jiwa yang merdeka! Jiwa merdeka yang berjuang dan bekerja! BERJUANG dan BEKERJA! Buktikan itu!” Setelah proklamasi kemerdekaan, muncul kebutuhan akan salam nasional. Oto Iskandar di Nata mengusulkan pekik “Merdeka”.
- Komunis yang Ingin Indonesia Merdeka
USIANYA baru akan 20 tahun ketika tiba di Indonesia pada 1947. Dia datang bukan untuk pelesir atau mencari sanak familinya, tapi untuk mengembalikan status quo di bekas Hindia Belanda yang saat itu sudah menjadi Republik Indonesia. Hovenkamp, nama pemuda itu, datang sebagai sukarelawan yang tergabung dalam kesatuan zeni di Divisi 7 Desember Koninklijk Landmatch (KL) alias Angkatan Darat Belanda. Divisi itu dikirim ke Jawa, Sumatra, dan tempat-tempat lain untuk memulihkan Hindia Belanda seperti sebelum perang. Katanya, waktu Belanda diduduki Jerman, dia masih seorang pencuri di Anloo, Drenthe, kampung halamanya. Dia dicap tidak berguna oleh orang sekampungnya. Oleh karenanya, menjadi sukarelawan yang mempertaruhkan nyawa di tanah orang mungkin bisa jadi “penebus” dosanya.
- Dari Srebrenica ke Palestina
SAAT dunia internasional disibukkan oleh persekongkolan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang Iran, perhatian untuk Palestina pun berpaling. Padahal Israel masih melancarkan genosidanya di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Kelompok aktivis Palestina Convoy pun berupaya menarik perhatian dunia lagi pada Palestina dengan rencana aksi konvoi darat dari Srebrenica di Bosnia-Herzegovina ke Palestina. Jika beberapa kelompok aktivis global lain berkali-kali mencoba menembus blokade Israel di Jalur Gaza via pelayaran-pelayaran Sumud Flotilla, kelompok Palestine Convoy bakal menggunakan kendaraan-kendaraan pribadi mereka untuk menuju tujuan akhir di Ramallah, Tepi Barat via Bosnia, Türkiye, Irak, dan Yordania. Mengutip laman resminya, mereka berangkat dari Srebrenica pada 26 Juli 2026. Perjalanannya direncanakan memakan waktu 20 hari dengan melewati 23 kota sebelum mencapai Ramallah. Terdapat ratusan aktivis dari 31 negara yang ikut serta. Antara lain dari Belgia, Bosnia, Jerman, Prancis, Mesir, Norwegia, Serbia, Spanyol, Inggris, dan Swiss. Di kota-kota yang dikunjungi, mereka akan mengadakan long march dan demonstrasi damai dengan empat tuntutan utama: kemerdekaan Palestina dari Sungai Yordania sampai Laut Mediterania; diakhirinya pendudukan terhadap Palestina, menuntut Israel mencabut hukuman mati bagi orang-orang Palestina, dan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan resolusi untuk menghentikan aneksasi dan ekspansi permukiman ilegal Israel di Palestina.
- Kisah Revolusi Kemerdekaan Indonesia dalam Pameran
KENDATI sudah lewat tujuh dasawarsa, revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949) masih menyisakan banyak cerita yang tercecer di balik narasi besar konflik antara republik yang baru berdiri dan Belanda yang ingin menancapkan lagi kuku-kuku kolonialismenya. Benar apa yang dikatakan pujangga Sutan Takdir, bahwa periode empat tahun revolusi itu tak hanya hadir dalam bentuk kekerasan, pertumpahan darah, atau pembumihangusan kota/desa, melainkan juga merupakan revolusi jiwa pemuda Indonesia itu sendiri dalam banyak aspek. Oleh karenanya, sejak 2018, Amir Sidharta dan Bonnie Triyana dari Indonesia berkolaborasi dengan Marion Anker dan Harm Stevens dari Belanda menyusun rencana Pameran “Revolusi Kemerdekaan Indonesia”. Selain tim kurator, Aminuddin Th Siregar, dosen FSRD ITB yang kini tengah menempuh studi doktoral di Universiteit Leiden dan sejarawan Remco Raben turut bergabung sebagai penasihat. Rencananya, pemeran akan dihelat di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda pada 11 Februari-6 Juni 2022 dan di Jakarta pada 2023 walau waktunya masih tentatif. Menjawab pertanyaan wartawan mengenai kaitan penyelenggaraan pameran dengan proyek riset dekolonisasi yang didukung dana pemerintah Belanda, kurator Harm Stevens mengatakan pameran ini tidak ada hubungan dengan proyek tersebut dan merupakan inisiatif Rijksmuseum sendiri.
- Aroma Kopi yang Menggugah Revolusi Dunia
SELAIN kaya rasa, kopi di Indonesia juga kaya cerita. Ia bisa dinikmati kapanpun, di manapun, dan oleh siapapun. Rakyat jelata di pinggir jalan dengan “Starling” andalan ataupun sang penguasa di istananya, semua menikmati kopi. Kaya rasa dan kaya cerita, itulah yang jadi tema pameran bertajuk “Coffee Revolution: From Coloniality to Equality” helatan Pasar Kopi di Posthoonrkerk, Amsterdam, Belanda. Perhelatan dari 1-7 September 2022 ini diprakarsai Roemah Indonesia dalam rangka memperkenalkan kopi-kopi asal Indonesia di negeri “Kincir Angin”. “Inti dari pameran ini memberikan penguatan informasi mengenai kopi Indonesia. Yang mau berbisnis tak hanya menikmati kopinya yang rasanya enak tapi juga narasi sejarah di balik kopi itu sendiri. Bahwa kopi Indonesia menjadi kaya rasa dan kaya cerita. Bagaimana kopi dimulai dari komoditi kolonial, lambat laun jadi komoditi yang bisa dinikmati siapapun,” terang sejarawan Bonnie Triyana dalam live tour pameran via Youtube Historia.ID, Senin (5/9/2022) malam WIB.
- Kapten Matheus Sihombing, Jago Revolusi dari Tapanuli
NAMA Matheus Sihombing mengisi halaman suratkabar Belanda sepanjang pekan terakhir bulan Oktober hingga awal November 1948. Pemberitaannya sehubungan dengan aksi kekerasan dan saling melucuti di antara pasukan TNI dan laskar. Banyak korban berjatuhan dalam pertempuran antara saudara sebangsa itu. Het Dagblad, 23 Oktober 1948, melaporkan bahwa Matheus Sihombing berhasil lolos dari upaya penangkapan. Ia bersama tokoh laskar lainnya macam Timur Pane yang tergabung dalam Divisi Banteng Negara disebut-sebut bertanggung jawab atas tindakan pelucutan terhadap Korps Polisi Militer di Tarutung. Mayor Bedjo, komandan Brigade B, yang ditugaskan untuk menangkap. Timur Pane dikabarkan tertangkap bersama pasukannya di Sibolga, Tapanuli Tengah. “Menurut informasi terakhir, Banteng Negara kini terkonsentrasi di Tapanuli Utara,” lansir Het Dagblad.
- Menyegarkan Kembali Historiografi Revolusi Indonesia
SETAHUN pasca-dirilisnya hasil penelitian Belanda tentang masa revolusi di Indonesia bertajuk “Onafhankelijkheid, dekolonisatie, geweld en oorlog in Indonesië, 1945-1950” (Kemerdekaan, dekolonisasi, kekerasan, dan perang di Indonesia, 1945-1950), tiga lembaga Belanda: KITLV (Koninklijk Instituut vor Taal, Land, en Volkenkunde), NIOD (Netherlands Instituut Oorlog Documentatie), dan NIMH (Netherlands Institute for Military History) mempublikasikannya lewat 14 buku. Dua di antaranya adalah Revolutionary Worlds: Local Perspectives and Dynamics During the Indonesian Independence War, 1945-1949; dan Onze Revolutie: Bloemlezing uit de Indonesische Geschiedshrijving over de Strijd voor de Onafhankelijkheid, 1945-1949. Sebagaimana proyek riset yang beranggaran 4,1 juta euro itu, dua buku tersebut juga disusun secara kolaboratif antara para peneliti dari tiga lembaga Belanda itu dengan sejumlah sejarawan dan akademisi Indonesia. Ada empat isu yang, menurut antropolog Ratna Saptari, dapat dipetik dari buku itu yang jarang dibicarakan publik selama ini lantaran begitu kompeksnya konflik yang terjadi baik di pihak Belanda maupun Indonesia. Yakni isu penulisan sejarah, bagaimana revolusi terbentuk dari struktur-struktur kekuatan yang berbeda, dan juga perbedaan di antara para subyek dan pelaku yang terlibat dalam perjuangan anti-kolonial. “Soal writing history, tentang siapa pelaku kekerasan, siapa pahlawan, siapa korban. Kenapa penulisan ini penting? Karena ini menjadi basis awareness sejarah. Ini juga jadi alasan kenapa terdapat ketidaksepahaman tentang bagaimana mestinya mempresentasikan sejarah yang terjadi. Buku ini juga memeriksa cita-cita yang berbeda, di mana konflik tidak hanya terjadi antara kekuatan kolonial dengan pergerakan nasionalis Indonesia tapi juga persaingan di dalam dua pihak ini, di mana terjadi perbedaan dan konflik internal,” kata Ratna di simposium bertajuk “Bridging the Narratives: Indonesian and Dutch Historians Re-Examine The Indonesian Independence War” yang dihelat di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, Kamis (2/2/2023) petang waktu setempat.
- Pemilu di Kediri Masa Revolusi
PEMILIHAN umum 1955 dianggap sebagai titik awal pelaksanaan pemilu di Indonesia. Pasalnya, pesta demokrasi yang berlangsung pada September dan Desember itu merupakan yang pertama kali digelar secara nasional. Meski begitu, jauh sebelumnya pemilu lokal telah diselenggarakan di beberapa wilayah, salah satunya di Kediri pada 1946. Pemilu itu berkaitan dengan pembentukan Badan Perwakilan Rakyat (BPR) Keresidenan Kediri. Dalam buku Propinsi Djawa-Timur terbitan Departemen Penerangan disebutkan pembentukan BPR Keresidenan Kediri diselenggarakan dengan cara pemilihan bertingkat yang terdiri dari dua bagian. Pemilihan pertama diselenggarakan untuk menentukan anggota Dewan-dewan Desa. Sedangkan pemilihan kedua digelar untuk memilih anggota-anggota BPR. Pemilihan pertama diselenggarakan di seluruh daerah Keresidenan Kediri pada Mei 1946, dan pada 8 Mei telah terpilih 26.073 anggota Dewan-dewan Desa. Setelah itu dilakukan persiapanuntuk menyelenggarakan pemilihan anggota BPR.
- Jaringan Kosmopolitan Islam dan Komunis dalam Arus Revolusi
STUDI tentang revolusi Indonesia acapkali merujuk pada karya sepasang Indonesianis terkemuka: George Mcturnan Kahin dan Bennedict Anderson. Keduanya adalah guru dan murid yang sama-sama berkhidmat di Cornel University. Karya mereka disebut-sebut sebagai kitab babon dalam kajian sejarah Indonesia periode 1945-1949 maupun nasionalisme di Asia Tenggara. Kahin dalam disertasinya, Nationalism and Revolution in Indonesia (alih bahasa: Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia), menekankan peran elite nasional seperti Sukarno, Hatta, dan Sjahrir dalam menentukan arah perjuangan revolusi Indonesia. Sementara itu, Ben Anderson dalam Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 (alih bahasa: Revolusi Pemuda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944—1946) lebih menonjolkan lakon kelompok-kelompok revolusioner pemuda, militer, dan partai politik di panggung revolusi.
- Goresan Tinta Seniman Australia Merekam Revolusi Kemerdekaan
SEKILAS goresan-goresan tinta pena di atas kertas berukuran 16 x 20,2 cm itu tampak kasar. Namun, detail dari ilustrasinya begitu nyata: seonggok tank ringan M3 Stuart dengan seorang komandannya melongok dari palka kubah atas dan di samping tank terdapat dua sosok prajurit Inggris berhelm brodie mengawaki sepucuk senapan mesin Vickers. Sketsa karya seniman dan jurnalis perang asal Australia Tony Rafty itu diberi tajuk Tank in Surabaya. Karya sketsa versi reproduksi itu merupakan satu di antara sketsa dan narasi tentang keterlibatan orang-orang Australia dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) di pameran “Two Nations: A Relationship is Born” yang kembali digelar di Jakarta kurun 15 Agustus-1 September 2024. Kali ini bertempat di Ruang Serba Guna Ir. H. Djuanda di Museum Bahari, Jakarta Utara. Menurut Duta Besar (dubes) Australia untuk RI Penny Williams dalam pembukaan pameran, Selasa (13/8/2024), pameran yang dikurasi dengan kerjasamanya bersama Australian National Maritime Museum itu dihelat dalam rangka merayakan 75 tahun hubungan diplomatik RI-Australia sekaligus juga perayaan hubungan antar-masyarakat kedua negeri bertetangga itu. Indonesia-Australia punya irisan sejarah di masa revolusi kemerdekaan Indonesia.
- Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang Memicu Gerakan Global
DARI sekian banyak sejarawan asing atau Indonesianis yang meriset dan membukukan studinya tentang revolusi kemerdekaan Indonesia, David van Reybrouck mengambil perspektif berbeda yang selama ini jarang digali. Reybrouck yang seorang arkeolog dan pakar studi budaya asal Belgia “menjahit” setiap benang merah gerakan revolusi di Indonesia yang nyatanya menginspirasi perubahan dunia pasca-Perang Dunia II. Dengan mewawancarai hampir 200 saksi mata beragam peristiwa di seputar Perang Kemerdekaan RI (1945-1949) yang ia temui di Indonesia hingga Nepal, Reybrouck merangkumnya dalam sebuah buku tebal berbahasa Belanda dengan tajuk Revolusi: Indonesië en het ontstaan van de moderne wereld (2020). Pada 2024, hasil risetnya sepanjang enam tahun itu dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Irine Hiraswari Gayatri memandang buku itu penting untuk jadi suplemen generasi muda, utamanya pelajar. Pasalnya, tidak hanya menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia dari masa pra-kemerdekaan, tapi juga menonjolkan kisah pemuda yang terlibat dalam gerakan revolusi yang namanya selama ini tak pernah ada di buku-buku sejarah.
- Begini Naskah Proklamasi Dirumuskan
SEKIRA pukul 02.00 tanggal 17 Agustus 1945. Sukarno, Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo, mBah Soediro (sekretaris Subardjo), Sukarni, dan B.M. Diah; serta pihak Jepang terdiri dari Laksamana Tadashi Maeda, Shigetada Nishijima, Tomegoro Yoshizumi (dari Kaigun Bukanfu atau kantor Penghubung Angkatan laut dan Angkatan Darat); dan Miyoshi (Angkatan Darat Jepang), berkumpul di ruang makan rumah Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 Menteng Jakarta Pusat. “Sekarang meja bundar tersebut duduklah Sukarno, Hatta, Maeda dan Miyoshi, dan saya sendiri,” kata Subardjo dalam Lahirnya Republik Indonesia. Menurut Hatta, waktu panitia lima bekerja, Maeda mengundurkan diri ke tingkat kedua, mungkin ke kamar tidurnya. Sedangkan Miyoshi masih tinggal, duduk tidak jauh dari mereka. Dia mungkin mendengarkan segala yang dipersoalkan, tetapi dia diam saja. Dia pun mengerti bahwa penyusunan teks Proklamasi itu bukanlah hal yang harus dicampurinya.





















