Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hendrick Arnold Koroh, Pejuang dari Timor
PROKLAMASI kemerdekaan Indonesia bergema. Tak ingin kehilangan jajahannya, Belanda mencoba melemahkan negara baru itu dengan membuat negara-negara federal pada 1946. Di wilayah Indonesia timur, Belanda mengundang raja-raja antero Timor hadir dalam Konferensi Malino pada 15-25 Juli 1946. Tujuannya mengajukan usulan pembentukan Negara Indonesia Timur. Rencana Belanda terhadang. Sebab, seorang raja Timor menolak usulan Belanda. Raja itu bernama Hendrick Arnold Koroh, seorang Raja Amarasi dari Timor. Koroh juga utusan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Timor, partai berhaluan nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di Timor. Koroh menginginkan wilayah timur Indonesia masuk Republik Indonesia.
- Cara Barat Memata-matai Soviet Lewat Tisu Toilet
SETELAH Nazi kalah dalam Perang Dunia II, Jerman diduduki negara-negara pemenang perang. Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis mengelola wilayah Jerman Barat, sementara Jerman Timur dikuasai Uni Soviet. Namun, ketegangan baru muncul antara Barat dan Timur yang menandai Perang Dingin. Masing-masing mengerahkan mata-mata untuk mendapatkan informasi pengembangan sistem keamanan dan pertahanan. Misi mata-mata Barat yang produktif dan berpengaruh adalah Operasi Tamarisk. Menurut Andrew Long dalam BRIXMIS and the Secret Cold War: Intelligence Collecting Operations Behind Enemy Lines in East Germany, Operasi Tamarisk adalah aksi mata-mata yang dilakukan dengan memilah sampah para tentara Soviet di wilayah Berlin Timur. Sampah-sampah itu umumnya robekan kertas yang digunakan serdadu Soviet untuk membersihkan diri setelah buang air besar.
- Ganden Sang Ksatria
MATAHARI masih bersinar ketika sekelompok orang Aceh membawa rotan dan melintas dekat bivak serdadu KNIL di Keumala Raja, Pidie, Aceh, pada 20 Juni 1907. Jumlah mereka sekitar 20 orang. Bivak kala itu sudah ditutup. Salah seorang Aceh itu lalu mendatangi petugas bivak dan menyerahkan sebuah izin. Rekan-rekannya kemudian langsung membuang rotan mereka. Terlihatlah bahwa mereka sedang memegang klewang yang sedari tadi disembunyikan di dalam rotan. Perlawanan rakyat Aceh terhadap militer Hindia Belanda masih berkobar di Keumala Raja. Belanda sudah mereka cap sebagai kafir. Para serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) tentu menjadi sasaran orang-orang Aceh itu.
- Kakek Glenn Fredly Disiksa Jepang
SEBELUM tentara Jepang datang, Peter Dominggus Latuihamallo adalah siswa Hoogere Theologische School (HTS) di Batavia. Peter masuk jenjang pendidikan itu setelah selesai belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Makassar. Menurut Karel Stenbrink dalam A History of Christianity in Indonesia, HTS berdiri di Bogor pada 1934 dan pindah ke Batavia pada 1936. Belakangan, sekolah ini menjadi Sekolah Tinggi Teologi (STT). Ketika Peter belajar di HTS, banyak pengajarnya orang Belanda. Karena itulah begitu Jepang menduduki Jawa pada Maret 1942, sekolah ini tak bisa berjalan lagi. Banyak pengajarnya ditawan oleh tentara Jepang.
- Angan-Angan “Kemenangan”
PAGI itu, pukul 10, Selasa, 20 November 1917, ratusan orang berkumpul di ruang sidang gedung Pengadilan Tinggi (Raad van Justitie) Semarang. Mereka hendak menyaksikan persidangan yang tidak biasa: seorang Belanda totok dimejahijaukan. Henk Sneevliet, nama pesakitan itu, diadili atas tuduhan persdelict (menghasut rakyat lewat tulisan untuk melawan pemerintah kolonial) melalui artikelnya yang berjudul Zegepraal (Kemenangan) yang dimuat De Indiers, 19 Maret 1917. Kisah pengadilan Sneevliet bermula dari kabar revolusi di Rusia. Pada 8 dan 9 Maret 1917 kaum buruh di Petrograd turun ke jalan, demonstrasi besar-besaran sambil menyanyikan Mareseillese. Tentara dikirim untuk membubarkan demonstrasi. Alih-alih menembaki demonstran, mereka malah berbalik mendukung. Revolusi Rusia meletus hari itu. Lewat secarik telegram pada 18 Maret 1917, Sneevliet menerima kabar revolusi di Rusia itu. Terinspirasi revolusi di Rusia, dia bergegas menulis artikel yang diberi judul Zegepraal (Kemenangan). Melalui artikelnya, Sneevliet mengajak kaum buruh di Hindia Belanda bangkit melawan kolonialisme dan imperialisme.
- Kerja Revolusioner di Tanah Jajahan
PERSETERUAN Henk Sneevliet dengan kaum sosialis moderat di Belanda membuatnya kehilangan pekerjaan. Dia dicopot sebagai ketua Serikat Buruh Kereta Api Belanda (NVSTP) yang berada di bawah kendali SDAP (Partai Buruh Sosial Demokrat) karena bergabung dengan pecahannya, SDP (Partai Sosial Demokrat) –kemudian menjadi Partai Komunis Belanda. Sneevliet meninggalkan SDAP karena kaum sosialis moderat itu menolak mendukung demonstrasi kaum buruh pelabuhan di Amsterdam. Tak ada lagi pekerjaan sejenis yang ditemukannya di Belanda. Kebanyakan swasta enggan mempekerjakan seorang penyulut api tersohor seperti dirinya. Dia memutuskan mencari peruntungan ke Hindia Belanda. “Sneevliet datang ke Indonesia hanya sekadar mencari pekerjaan, tetapi rasa panggilan revolusionernya membuatnya tak terhindarkan bahwa kegiatan utamanya ialah memberikan khotbah akan keyakinan politiknya,” tulis sejarawan Ruth T. McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia.
- Kolonel Junus Jamosir Digunjing Setelah G30S
SEBAGAI orang kedua di jajaran intelijen Angkatan Darat, Kolonel Junus Samosir selalu melaporkan informasi penting kepada atasannya Mayjen S. Parman. Apakah itu menyangkut keamanan dalam negeri maupun isu politik nasional yang sedang hangat. Pada Oktober 1964, Junus Samosir melaporkan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada Jenderal Parman. “Setelah laporan-laporan dari lapangan disaring, maka hasilnya disampaikan kepada Letnan Jenderal Yani pada tanggal 13 September 1965. Tetapi ketika disampaikan kepada Bung Karno, Yani mendapat teguran keras, ‘Yan, ojo phobi,’ kata Bung Karno,” seperti dicatat Payaman Simanjuntak dalam Keteladanan Mayor Jenderal TNI (Purn.) Junus Samosir dan Landasan Moral Pembangunan. Data intelijen yang dipasok Junus Samosir sehubungan dengan kedudukannya sebagai Wakil Asisten (Waas) I Menpangad. Sementara, Mayjen S. Parman menjabat Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen (SUAD I), sedangkan Letjen Ahmad Yani menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad).
- Junus Samosir, D.I. Panjaitan, dan G30S
SEKALI waktu, Kolonel Junus Samosir bertandang ke kediaman sahabatnya Brigjen Donald Isaac Pandjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran, Jakarta Selatan. Di dalam kamarnya, Pandjaitan memperlihatkan sebuah senapan kepada Junus Samosir. Keduanya memang sahabat seperjuangan sedari lama. “Lihat Lae (ipar), ini senjata untuk berjaga-jaga. Lae juga bikin seperti ini di rumah, apalagi kamu intel,” kata Pandjaitan kepada Junus Samosir seperti terkisah dalam biografi Keteladanan Mayor Jenderal TNI (Purn) Junus Samosir dan Landasan Moral Pembangunan yang ditulis Payaman Simanjuntak. Waktu itu, bulan September tahun 1965, beberapa hari menjelang peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Junus Samosir adalah Wakil Asisten (Waas) I/Intelijen Menpangad. Dalam jajaran SUAD I, Samosir merupakan orang nomor dua setelah Asisten I/Intelijen Menpangad Mayjen S. Parman. Sementara itu, Pandjaitan menjabat Asisten IV/Logistik Menpangad.
- Debus dan Tarekat di Banten
TAJAMNYA golok tak mampu mengiris lidah pemain debus. Racun kalajengking tak mempan padanya. Linggis dari besi bengkok di tangannya. Kesaktian dan kekebalan pemain debus membuat beragam senjata tajam tak ada apa-apanya di tubuh mereka. Debus terkenal berasal dari Banten. Namun, atraksi ini juga dikenal di Cirebon, Maluku, Aceh, tersebar ke Perak, Semenanjung Melayu. Permainan ini berakar dari tarekat yang menyebar ketika Islam masuk ke Nusantara. “Itu semua tempat yang sering didatangi pedagang rempah. Debus ini menjadi indikasi pemakaian tarekat. Orang debus biasa membaca ratib dan sebagainya,” kata Martin van Bruinessen, ahli studi tentang Islam dari Utrecht University, Belanda, dalam diskusi daring bertema “Tradisi dan Jaringan Sufisme di Jalur Rempah: Mencari Akar Kosmopolitan Islam Nusantara”, Sabtu, 24 April 2021.
- Batik Romusha dari Banten Selatan
KETIKA menduduki Indonesia, Jepang mengerahkan ribuan orang terutama dari Jawa untuk menjadi romusha atau pekerja paksa. Mereka membangun proyek-proyek militer Jepang untuk menunjang kepentingan perang, seperti lapangan terbang, jalan, rel kereta api, gudang persenjataan, dan kubu pertahanan. Romusha dikirim ke berbagai daerah bahkan luar negeri. Salah satunya ke Bayah, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Mereka bekerja membangun rel kereta api Saketi–Bayah sepanjang 90 kilometer dan menggali batu bara. Tokoh revolusioner Tan Malaka pernah bekerja di Bayah. Pembangunan rel kereta api Saketi–Bayah menelan banyak korban romusha. Tan Malaka mendapat cerita tentang asal-usul Saketi. Kata Saketi berasal dari bahasa Sunda, yang artinya 100 ribu, mengacu pada ramalan korban pembuatan jalur kereta api Saketi–Bayah.
- Lapangan Banteng dari Hutan Jadi Taman
TERIK mentari, tiupan angin, dan tebaran debu tak menyurutkan semangat anak-anak berlatih sepakbola di Lapangan Banteng, Jakarta. Mereka menggiring bola melewati rintangan-rintangan sambil terus mendengarkan instruksi pelatih. “Sebenarnya pengen jamnya kita ubah, cuma masalahnya banyak tim lain yang sewa,” ujar Angela Handayani, sekretaris Sekolah Sepakbola Plus Football Academy. Sejak dijadikan taman kota oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1981, Lapangan Banteng menjadi area publik yang menarik buat warga kota. Nyaman untuk tempat bercengkerama, enak buat olahraga, bahkan aman untuk kencan ataupun transaksi prostitusi jalanan. Lapangan Banteng mulanya belantara dan rawa yang menjadi rumah bagi binatang buas, dari banteng hingga harimau. Konflik hewan-manusia kerap terjadi. Sampai-sampai Kongsi Dagang Belanda (VOC) pada 1762 memberi hadiah besar kepada seorang pemburu yang berhasil menaklukkan 27 ekor macan kumbang.
- Kedaulatan Ekonomi, Pesan Inti yang Terlupa dari KAA
KENDATI sudah 71 tahun berlalu, makna, pesan, hingga gaung Konferensi Asia-Afrika (KAA) belum usang untuk dibicarakan. Konflik yang terjadi di dunia selama tujuh dekade hingga kini adalah problem lama yang juga jadi perhatian di forum KAA di Bandung: neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang terus mencengkeram negara-negara dunia ketiga. Hal itu disampaikan sejarawan asal India Vijay Prashad dalam public lecture “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis” di peringatan ke-71 KAA, Minggu (19/4/2026) siang di Gedung Merdeka, Bandung. Event tersebut disiarkan secara daring di akun Youtube Historia.ID. Hingga kini pun, menurut Vijay, kolonialisme dan imperialisme Barat terus berusaha membungkam mayoritas dunia. Kolonialisme tidak hanya mencuri kekayaan. Hal dramatis tentang kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di abad ke-19 dan abad ke-20 adalah pembungkaman gagasan-gagasan dari masyarakat dunia ketiga dan negeri-negeri Selatan yang dianggap tidak penting. Negara-negara dunia ketiga dianggap tidak penting sebagai kontributor dari sejarah dunia. Dengan kata lain, mereka membuat sejarah dan negara-negara dunia ketiga hanya berpartisipasi di dalamnya.





















