Hasil pencarian
9804 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Terpukau “Tanaman Suci” Tembakau
EKSOTIS dan berkhasiat. “Dunia Baru” Columbus bukan hanya membawa gelombang demam emas dan mutiara, namun juga hasrat keingintahuan bangsa Eropa terhadap sejumlah hewan dan tanaman lokal untuk dapat memanfaatkannya, secara komersial maupun medis. Tak semua sampel tanaman komunitas Indian Amerika yang dibawa mampu beradaptasi dengan iklim Spanyol. Koka adalah salah satunya. Namun, tembakau bisa tumbuh dan melesat menjadi pusat perhatian. Adalah Nicolas Bautista Monardes, seorang figur medis Spanyol yang menanam sampel tembakau di kebunnya di Seville dan mengujicoba, khususnya daun tembakau, untuk merawat pasiennya. “Daun tembakau memiliki kemampuan menghangatkan dan mencairkan, menutup dan menyembuhkan luka baru, sementara luka lama perlahan menjadi bersih dan kembali dalam kondisi sehat… segala kebaikan tanaman obat ini akan kita bahas lebih lanjut, termasuk manfaatnya bagi semua orang,” tulis Monardes membanggakan tembakau dalam publikasinya yang terbit sekitar 1565-1574. Publikasinya dalam edisi bahasa Inggris terbit pada 1577 dengan judul Joyful News out of the New Found World.
- Wisata Berburu Manusia di Sarajevo
DARI singa hingga rusa. Hewan-hewan itu lazimnya jadi “trofi” paling prestis dalam olahraga-rekreasi berburu kalangan elite sejak dahulu. Namun seiring perjalanan waktu, muncul fenomena memuakkan, yakni orang-orang kaya dari Eropa Barat mencari tantangan baru berupa “wisata” berburu anak-anak, perempuan, hingga ibu hamil di Sarajevo ketika ibukota Bosnia dan Herzegovina itu sedang terkepung tiga dekade silam. Begitulah yang diungkap riset terakhir jurnalis investigasi Kroasia Domagoj Margetić yang dibukukan dengan tajuk Plati I Pucaj! Tajne Sarajevskih Ijudskih Safarija (Pay and Shoot! Secrets of Sarajevo’s Human Safaris) dan dirilis awal 2026. Bukunya turut dibedah dalam Pameran Buku Internasional Sarjevo, 22-27 April 2026. Sejatinya, buku itu bukan upaya pertama dalam menguak fenomena “Sarajevo Safari”. Isunya pertamakali jadi perhatian global sejak kemunculan dokumenter Sarajevo Safari (2022) garapan sutradara asal Slovenia, Miran Zupanić. Namun, sebagaimana dilansir Daily Mail, Rabu (6/5/2026), Margetić –yang meriset fenomena itu kurun 1996-2026– menyertakan wawancara dari berbagai pihak, baik militer Bosnia dan personel Amerika Serikat (AS) yang bertugas dalam NATO maupun para bekas pasukan Serbia. Sang jurnalis turut menyertakan arsip-arsip terbaru yang ia klaim didapat dari mantan perwira Bosnia, Nedžad Ugljen, sebelum perwira itu dibunuh pada 28 September 1996. Berkas-berkas arsip itu menguak bahwa sebuah unit pasukan Serbia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan pada pengepungan. Mereka menawarkan jasa “wisata” berburu manusia pada kalangan elite dari AS, Kanada, Inggris, Rusia, Jerman, Spanyol, dan Italia. Bahkan, ada beberapa dari mereka yang kabarnya anggota kerajaan negara tertentu. Para “turis” itu kemudian dipandu ke area-area terbatas untuk bisa bebas membidikkan senapan berburu mereka ke para warga Sarajevo. Jasa untuk mengantar dan memandu bidikan mereka pun bermacam-macam tarifnya, mulai dari 80 ribu marks (mata uang Jerman sebelum euro). Berkas-berkas itu juga mengungkapkan, untuk bidikan gadis cilik tarifnya 95 ribu marks dan yang paling mahal adalah ibu hamil yang dibanderol 110 ribu marks. “Menurut Margetić dalam bukunya, ‘Ugljen (dalam berkasnya, red.) juga menuliskan bahwa orang-orang asing itu saling bersaing untuk melihat siapa yang mampu menembak perempuan paling cantik,’” ungkap Daily Mail. Cuplikan dokumenter Sarajevo Safari menggambarkan warga berlarian mencari perlindungan dari tembakan sniper (IMDb) Upaya Menguak Fenomenanya Kawasan Balkan membara diterpa Perang Yugoslavia (1991-2001) yang memicu banyak perang di dalamnya, termasuk Perang Bosnia (1992-1995). Meski pada 1994 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO ikut campur, agresi Serbia terhadap Bosnia terus berlangsung. Salah satunya dalam Pengepungan Sarajevo (5 April 1992-29 Februari 1996). Pengepungan itu tercatat dalam sejarah modern sebagai pengepungan terlama terhadap sebuah ibukota. Dari sekitar 400 ribu penduduknya, sekira 11.500 meregang nyawa akibat pengepungan tersebut. Di Sarajevo yang seluas 141,5 kilometer persegi itu, terdapat sekitar 300-400 ribu warga sipil dan sekira 70 ribu personel Tentara Republik Bosnia dan Herzegovina (ARBiH). Sementara di segenap pinggiran kota, sekitar 18 ribu pasukan VRS melakukan pengepungan. Meski kalah jumlah, Serbia unggul dalam persenjataan berupa artileri berat dan tank-tank tempur. Itu membuat ARBiH kesulitan menembus blokade Serbia. PBB dan NATO pun hanya memberikan bantuan-bantuan logistik buat warga sipil via udara. Pada situasi kacau itulah sebuah unit paramiliter di bawah VRS memanfaatkannya untuk mencari cuan lewat wisata “Sarajevo Safari”. Menurut riset dan hasil investigasi Margetić, ide itu sebetulnya tak bermula di Sarajevo. Margetić menyebut pada mulanya ada keterlibatan mantan perwira intelijen Yugoslavia asal Kroasia, Zvonko Horvatincic, dalam pengorganisirannya. “Pasukan Kroasia dan Serbia sebenarnya saling berperan namun para perwira intelijen kedua pihak masih terus berkolaborasi untuk mendatangkan para sniper (penembak runduk) ke Sarajevo. Mereka juga menyelundupkan minyak, rokok, kopi, yang jaringannya terus dibuka seiring pertukaran tawanan,” kata Margetić kepada The Times, Selasa (5/6/2026). Peran Horvatincic adalah jadi perantara antara para “turis” kaya dari Italia yang hobi berburu dengan pasukan paramiliter Serbia di Sarajevo. Melalui jalur-jalur penyelundupan barang tadi, para pemburu itu masuk ke Sarajevo via pelabuhan-pelabuhan di Zadar dan Split (Kroasia). Mereka kemudian diantarkan ke sebuah kota kecil Knin (Serbia) lalu “diserah-terimakan” kepada paramiliter Serbia yang memandu ke Sarajevo. Info tersebut didapat Margetić dalam wawancaranya dengan mantan Perdana Menteri Kroasia (1990-1991) dan Ketua Parlemen Kroasia (1993-1994), Josip Manolić, sebelum wafatnya pada 2024. “Manolić bilang pada saya bahwa ia juga pernah mendapat laporan-laporan pertemuan orang-orang asing di sebuah hotel di Jastrebarsko dekat Zagreb sebelum berangkat ke Sarajevo. Manolić mengatakan presiden Kroasia saat itu, Franjo Tuđman (1990-1999), akan senang melihat Sarajevo terus dikepung karena ia yakin itu justru akan melemahkan Serbia,” lanjutnya. Lambat-laun, “turis asing” tak hanya dari Italia. Jutawan-jutawan dari AS, Kanada, Jerman, Spanyol, bahkan Rusia pun ikut berdatangan. Di wilayah yang diduduki Serbia, mereka biasanya dilayani dengan moda transportasi helikopter dan bermalam di Vogošća, sekitar 10 kilometer sebelah barat laut pusat kota Sarajevo, sebelum dan sesudah berburu warga sipil Sarajevo. Diduga kuat, unit paramiliter di bawah VRS yang melayani para turis asing itu merupakan pasukan di bawah pimpinan Slavko Aleksić. Pasukannya menguasai sebuah kompleks permakaman tua Yahudi di pinggir Pegunungan Trebević, sebelah utara perbatasan kota Sarajevo. Ke tempat itulah para turis kaya tadi dibawa dan dipandu untuk membidik siapapun warga sipil kota yang mereka kehendaki. Bisa dengan senapan mesin maupun senapan-senapan berburu. Pasukan paramiliter Serbia akan membimbing ke masing-masing sasaran sesuai tarif yang ditentukan: pria dan perempuan paruh baya rata-rata tarifnya 80 ribu marks, gadis cilik sekitar 85 ribu marks, dan ibu hamil 110 ribu marks. Bau busuk praktik biadab itu akhirnya tercium. Rumor tentang fenomena “Sarajevo Safari” sudah bermunculan sejak 1992, melalui media massa Italia hingga film dokumenter Serbian Epics (1992) garapan sineas Polandia Paweł Pawlikowski. Namun sayangnya, saaat itu belum mendapat perhatian besar. Di film itu, Pawlikowski turut menampilkan cuplikan penyair dan politikus sayap kanan Rusia Eduard Limonov. Limonov datang atas undangan Presiden Serbia (1992-1996) Radovan Karadžić. Limonov menembakkan senapan mesinnya yang berteropong ke arah kota Sarajevo dari sebuah bukit. Hal itu juga dikonfirmasi jurnalis dan fotografer Kroasia, Zoran Filipović, dalam artikelnya di Jurnal Index on Censorship, Vol. 23, No. 6, tahun 1994, “Sarajevo: With friends like these”. “Pihak Serbia yang mengorganisirnya jadi semacam hiburan. Siapapun yang ingin menembak di Sarajevo namun tak berani datang, kemudian bisa datang tanpa takut diinterogasi. Mereka menjadikannya hiburan bagi orang-orang dari seluruh dunia. Bahkan penyair Eduard Limonov, datang dari Rusia. Ia bersenang-senang menyemburkan Sarajevo dengan peluru-peluru senapan mesin yang direkam dengan kamera,” tulis Filipović. Kesaksian lain muncul dari pengakuan John Jordan, veteran Marinir AS, pada 2007. Dalam kapasitasnya sebagai saksi dalam persidangan terdakwa Jenderal Serbia Dragomir Milošević di pengadilan International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) di Den Haag, Belanda, Jordan mengaku saat Pengepungan Sarajevo berada di dalam kota sebagai sukarelawan pemadam kebakaran asing. Jordan sendiri pernah dua kali tertembak di bagian dadanya saat hendak menjawab panggilan darurat kebakaran dekat area Grbavica, salah satu kota satelit Sarajevo, pada November 1994. “Memang saya tak pernah melihat satupun dari para turis itu ketika menembak. Saya hanya melihat mereka (dengan binokular) dipandu untuk mendapatkan posisi-posisi menembak. Sangat jelas dari cara berpakaian dan senjata-senjata yang mereka bawa membuat saya meyakini mereka turis penembak,” ungkap Jordan, dikutip LADBible, Selasa (5/5/2026). Meski sempat meredup, isu tentang “Sarajevo Safari” kembali jadi perhatian setelah muncul dokumenter Sarajevo Safari (2022). Kegilaan itu membuat walikota Sarajevo bernama Benjamina Karić (2021-2024) mengajukan pembukaan kasusnya ke Kejaksaan Bosnia dan Herzegovina meskipun hingga kini kasusnya buntu karena terkendala akses terhadap arsip militer maupun pemanggilan para saksi. Fenomena itu kemudian jadi penelitian jurnalis investigasi asal Italia, Ezio Gavazzeni. Ia juga turut mengajukan pembukaan kasusnya ke Kejaksaan Kota Milan pada 28 Januari 2025. Kasus yang difokuskan terhadap para calon tersangka asal Italia baru mulai dibuka pada musim panas 2025. Pemanggilan para saksi mulai dilakukan pada November 2025. Beberapa hasil investigasi Gavazzeni pada Maret 2026 juga dibukukan dengan tajuk I checcini del weekend: L’inchiesta sui saari umani a Sarajevo. Baik nama komandan paramiliter VRS, Slavko Aleksić, maupun permakaman tua Yahudi dekat Sarajevo yang jadi tempat langganan untuk berburu nyawa manusia oleh para turis kaya juga terkonfirmasi dari keterangan saksi bernama Aleksander Licanin. Saksi yang didatangkan Jaksa kota Milan Alessandro Gobbis itu adalah eks-serdadu paramiliter Serbia. “Aleksić menguasai sebuah area terbatas di permakaman itu yang jaraknya 200 meter dari (pos) kami, di mana saya bisa melihat dengan jelas. Mereka (para turis kaya) mengenakan jaket-jaket kulit mahal dan saya diberitahu bahwa mereka orang Italia, Jerman, dan Inggris. Mereka dibantu untuk dicarikan target-target, dan menembak dari permakaman. Anda bisa menembak dengan leluasa. Orang-orang asing yang datang ke Sarajevo itu otaknya sudah gila. Saya yakin mereka takkan bermimpi buruk setelahnya,” tukas Licanin dalam kesaksiannya di persidangan, dilansir The Sun, 13 Februari 2026. Kendati begitu, tak satupun upaya hukum di atas membuahkan hasil. Sementara, para pejabat tinggi Serbia terus membantah fenomena itu. Kecuali Licanin, para veteran Serbia yang terlibat di Sarajevo turut mengecam film Sarajevo Safari (2022), yang juga dilarang untuk ditayangkan di Serbia.
- Lagu “Akhir Cinta” Awali Panbers
SEBAGAI anak pegawai tinggi di Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang sering berpindah kantor cabang, hidup anak-anak dari keluarga JMM Pandjaitan harus berpindah-pindah. Setidaknya mereka pernah tinggal di Surabaya dan Palembang sebelum di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wajar jika anak-anak dari pasangan Drs. JMM Pandjaitan-Bosani Sitompul itu ada yang sedikit paham bahasa Palembang. Sebagai orang-orang Batak, mereka terbiasa dengan musik sejak bocah. Maka tak heran selepas masa remaja, anak-anak itu sudah bisa bermain alat musik. Terlebih JMM Pandjaitan sang ayah dengan posisi di kantornya setidaknya mampu membelikan alat-alat musik murah untuk sekadar “ngeband”. Portohan Bonetua Marangin Sitorduga Pandjaitan alias Hans sebagai anak tertua dari empat anak JMM Pandjaitan lalu membentuk sebuah band. Dirinya memainkan gitar melodi. Lalu ada Benny –lengkapnya Mimbar Porbenget Mual Hamonangan Pandjaitan– yang pada 1971 sudah 24 tahun, bisa juga bermain tamborin dan banjo. Benny sang anak kedua bermain keyboard sambil bernyanyi di band.
- Di Balik Dukungan Palestina terhadap Revolusi Kemerdekaan Indonesia
PERAN Amerika Serikat (AS) dan Palestina terhadap revolusi kemerdekaan Indonesia kembali jadi perdebatan panas. Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda berdebat keras dengan Prof. Ikrar Nusa Bakti terkait soal itu hingga berujung pada lontaran kata-kata tak pantas. Hal itu terjadi dalam sebuah program acara Rakyat Bersuara bertajuk “Krisis Gara-Gara Perang AS-Israel Vs Iran Menghawatirkan, Bagaimana Nasib Indonesia?” di stasiun televisi iNews TV, Selasa (10/3/2026). Dalam forum itu, influencer pro-Israel itu juga menghardik pengamat hukum tata negara Feri Amsari yang sempat menyinggung soal peran dan jasa Palestina terhadap revolusi kemerdekaan Indonesia. Feri mengungkit adanya sumbangan harta dari wartawan dan baron media Palestina. Permadi menyebut kisah itu hoaks belaka. “Kalau tidak ada bangsawan Palestina yang menyumbang kepada bangsa ini, melalui Haji Agus Salim, belum tentu juga kita merdeka. Jadi kalau main utang-utangan sejarah, sebenarnya kita punya utang besar terhadap Palestina, itu sebabnya seluruh presiden kita, kecuali Prabowo,” ujar Feri sebelum kata-katanya disela Permadi, sebagaimana terlihat di Youtube Official iNews, Rabu (11/3/2026).
- Kebrutalan Paman Sam dalam Pembantaian My Lai
AMERIKA SERIKAT (AS) bertanggung jawab atas serangan terhadap Sekolah Dasar (SD) Shajarah Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran 28 Februari 2026 lalu. Demikian bunyi hasil investigasi awal militer AS. Harian New York Times, 11 Maret 2026 mengungkapkan bahwa menurut beberapa pejabat pemerintah AS yang tak disebutkan namanya dan mengetahui temuan-temuan awal investigasinya, AS harus bertanggung jawab atas serangan misil Tomahawk ke SD Shajarah Tayyebeh. Sekitar 175 orang wafat, sebagian besar para siswi putri, serta 95 lainnya terluka. Sekolah itu dulunya merupakan bagian dari kompleks militer Korps Garda Revolusi Iran, IRGC. Bangunan itu lalu ditinggalkan dan kemudian dijadikan sekolah dasar dan area bermain anak. Sialnya, menurut temuan awal laporan tadi, Komando Pusat AS menggunakan data Defense Intelligence Agency yang sudah usang untuk melancarkan serangan.
- Ahem Erningpraja Salah Satu Pejuang THR
SEDARI lama, masa menjelang lebaran selalu menjadi periode sulit bagi kebanyakan orang dengan ekonomi lemah. Terlebih pada dekade 1950-an. Dekade 1950-an adalah era penuh kesengsaraan bagi kaum buruh Indonesia, baik buruh di perkebunan maupun di pabrik-pabrik. Jelang lebaran dan tanpa pemasukan tambahan menjadi masa yang mencekik bagi para buruh. Tradisi lebaran tak bisa dihindari rakyat jelata di Indonesia. Fenomena yang terus berulang tiap tahun itu akhirnya menjadi perhatian Raden Ahem Erningpradja dan orang-orang sepertinya di Serikat Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri) yang berdiri sejak 1948. Bentuk perhatian ini pada gilirannya berubah menjadi aksi peduli.
- Nasib Pahit Kapal Perang Gegara Toilet
TERCANGGIH atau terbaru tak serta-merta menjadikan sebuah kapal perang bisa diandalkan setiap waktu. Kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS) contohnya. Kapal induk sepanjang 337 meter dan lebar dek terbang 78 meter serta bobot 100 ribu ton itu ditarik mundur dari Asia Barat gegara masalah toilet. Gerald R. Ford termasuk kapal induk terbaru dan terbesar AS. Biaya pembuatannya yang dimulai pada 2005 mencapai 13 miliar dolar Amerika (lebih dari Rp.220 triliun). Setelah dibangun di perusahaan Newport New Shipbuilding dan rampung pada 2013, kapal induk itu diberi nama Gerald R. Ford –mengabadaikan nama Presiden AS ke-38– dan ditugaskan di AL AS pada 2017 menggantikan pendahulunya, USS Enterprise (CVN-65), kapal induk AS pertama yang bertenaga nuklir (1961-2017). Ditenagai dua reaktor nuklir Bechtel A1B PWR yang menggerakkan empat baling-balingnya, Gerald R. Ford bisa berlayar dengan kecepatan maksimal 30 knot (56 kilometer per jam) dengan durasi 25 tahun sebelum proses mid-life refuel. Sebagai bandara terapung operasi udara, Gerald R. Ford mampu maksimal 75 pesawat berbagai jenis.
- Di Balik Tiga Koleksi Indonesia yang Dikembalikan dari Belanda
ENAM bulan pasca-Belanda mengembalikan artefak-artefak koleksi Eugene Dubois, termasuk fosil “Manusia Jawa”, upaya repatriasi terkini kembali menghasilkan pengembalian tiga benda lain. Ada Arca Siwa, Prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman, dan sebuah Al-Quran dari abad ke-19. Menurut laman resmi pemerintah Belanda, Selasa (31/3/2026), dua bendanya berasal dari Wereldmuseum Amsterdam, yakni arca Siwa dan Prasasti Damalung. Sementara yang berupa Al-Quran dari koleksi pemerintah kota Rotterdam yang disimpan di Wereldmuseum Rotterdam. “Penandatanganan persetujuan penyerahannya dilakukan Duta Besar Indonesia (untuk Belanda, red.) Laurentius Amrih Jinangkung, dan Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media Youssef Louakili, dilakukan pada 31 Maret di (kantor) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan,” bunyi pernyataan tersebut.
- Westerling Terkulai Dirudal Jerman
JAUH sebelum rudal ditembakkan pihak-pihak yang terlibat dalam perang di Teluk Persia sekarang, Jerman telah melakukannya waktu Perang Dunia II. Teknologi perang Jerman vital dalam memperkuat armada perang Adolf Hitler (1889-1945) menghadapi negara-negara Sekutu yang menjadi lawannya. Termasuk ketika Jerman telah melemah pada tahun-tahun terakhir perang. Di fase akhir perang, sebuah teknologi dipersiapkan Jerman. Ia adalah peluru kendali –lebih tepatnya roket dan sering disebut bom terbang– bernama Fieseler Fi 103, dikenal sebagai V-1 yang kemungkinan singkatan dari Vergeltungswaffe 1. Orang Jerman mengartikan Vergeltungswaffe 1 sebagai senjata balas dendam. Senjata dengan 1.870 pon bahan peledak ini, disebut Jean-Denis G.G. Lepage dalam An Illustrated Dictionary of the Third Reich, dikembangkan sejak Juni 1942 dan diproduksi massal Maret 1944. Dari sekitar 35.000 buah yang diproduksi, 9.251 buah ditembakkan ke Inggris dan 6.551 ditembakkan ke Antwerp, Belgia.
- Para Propagandis yang Nge-Troll Pasukan AS (Bagian I)
DIIRINGI musik santai, seorang perwira Iran yang mirip juru bicara militer Iran Letkol Ebrahim Zolfaghari berseluncur dengan papan luncur sambil berswafoto lalu minum jus delima. Di belakanganya tampak truk-truk militer dengan kamuflase gurun meluncurkan misil-misil. Begitulah salah satu video tentang Iran yang viral belakangan. Banyak warganet mengira itu video sungguhan. Padahal, itu sekadar klip video 25 detik berbasis Artificial Intelligence (AI). Diunggah pertamakali di akun resmi X milik Kedutaan Besar Iran untuk Afrika Selatan, @IraninSA, pada 27 Maret 2026. “Unggahan seru hari ini: Minum jus buah delima agar Anda bisa menghantam Tel Aviv dengan lebih akurat,” demikian bunyi tulisan unggahan itu. Video dalam unggahan itu jelas bertujuan untuk nge-troll (mengusik atau mengganggu secara usil sehingga menyebalkan) kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah melanggar dengan menyerang kedaulatan Iran sejak 28 Februari 2026. Propaganda ala kekinian untuk “menampar” klaim Presiden AS Donald Trump yang pada 20 Maret 2026 sesumbar telah memenangkan perang atas Iran meski masih belum rampung.
- Selamatkan Negarakertagama dari Aksi KNIL
AKHIR tahun 1894, tentara Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) sedang sibuk di Lombok. Pasukan Batalyon ke-2, Batalyon ke-6, Batalyon ke-7, dan Batalyon ke-9, seksi artileri gunung, dan satu seksi zeni KNIL di bawah pimpinan Jenderal Mayor Segov, pengganti Jenderal Mayor P.P.H. van Ham, selaku wakil panglima Ekspedisi Lombok, berusaha keras mengusai Lombok. Mereka juga ditugaskan mengejar para pelarian dari Bali. Koran Java-bode, 21 November 1894, memberitakan, sekitar 400 orang Bali yang melawan Belanda di Lombok antara lain dipimpin Brahmana Ida Wayan Jelantik. Pengejaran orang-orang Bali itu tidaklah mudah. Dalam pergerakannya, pasukan Batalyon ke-6 KNIL yang mengejar mereka harus melewati tumpukan puing dan pohon-pohon tumbang. Pasukan KNIL baru berhasil merebut Kampung Monjok pada 7 November.
- Para Propagandis yang Nge-Troll Pasukan AS (Bagian II)
BAIK Iran maupun Amerika Serikat (AS), keduanya sama-sama mengklaim kemenangan pasca-disepakatinya gencatan senjata selama dua pekan pada Rabu (8/4/2026). Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sesumbar mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran setelah sebelumya, 2 April 2026, serangan AS menghancurkan Jembatan Karaj B1 di Alborz. “Hari Selasa (7 April, red.) akan jadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semua jadi satu di Iran. Tidak akan ada hari itu!!! Buka selat sialan itu (Selat Hormuz), dasar para bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP”, kata Presiden Trump di akun media sosial Truth, @realDonaldTrump, 5 April 2026. Pada 2 April, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga melancarkan retorika serupa pasca-menyerang Jembatan Karaj B1. Katanya, AS siap membuat Iran kembali ke zaman batu. Namun, bukannya gentar, Iran justru nge-troll (meledek) balik ancaman-ancaman vulgar AS melalui mesin-mesin propagandanya. Baik via media massa maupun akun-akun media sosial kedutaannya di beberapa negara.





















