Hasil pencarian
9804 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Batik ala Bung Karno
SUDAH rahasia umum apabila Presiden Sukarno bukan hanya cakap dalam berpolitik melainkan pula mumpuni dalam soal seni. Bakat seninya sudah tampak sejak kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Hampir semua bidang seni menjadi perhatian khusus Sukarno. Mulai dari seni dua dimensi seperti lukisan, batik, hingga seni tiga dimensi seperti patung dan karya arsitektur. Soal batik, Sukarno pernah melontarkan gagasan soal batik Indonesia. Bung Besar menginginkan batik yang menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa sekaligus menyuarakan pesan persatuan Indonesia; sehingga batik di kemudian hari tidak lagi dikenal sebagai batik dari daerah penghasil batik tetapi batik yang mencerminkan persatuan Indonesia. "Bung Karno memerintahkan kepada Go Tik Swan untuk menemukan batik Indonesia," kata Yuke Ardhiati, arsitek sekaligus pengajar di Universitas Pancasila, dalam diskusi virtual bertema "Bung Karno Sang Arsitek" yang dihelat Historia.ID, Selasa, 2 Juni 2020. Go Tik Swan atau Panembahan Hardjoanagoro semula adalah penari yang kemudian menjadi pengusaha batik di Surakarta.
- Pakde-Pakde Ari Wibowo
PIHAK Indonesia pernah terlibat penjualan senjata api ke Biafra, Nigeria, Afrika, yang dipakai untuk perang saudara dan juga ke Israel. Mayor Jenderal TNI Hartono Wirjodiprodjo, yang pernah menjadi Direktur Peralatan Angkatan Darat hingga 1965, adalah orang yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus ini. Ia diseret ke Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) pada 23 Agustus 1971. “Masyarakat amat menghargai putusan pimpinan Angkatan Darat untuk memajukan Mayor Jenderal Hartono ke depan Mahkamah Militer Tinggi. Dengan ini pemerintah membuktikan tidak pandang bulu,” puji Mochtar Lubis dalam Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya. Meski dipersalahkan, jenderal pendukung Presiden Soeharto itu, baik-baik saja. Menurut Harold Crouch dalam The Army and Politics in Indonesia, Hartono dihukum dua tahun penjara di mana ia menjalaninya di rumah.
- Beda UMNO dengan Golkar
KOTA Malaka di Negara Bagian Melaka, Federasi Malaysia merupakan kota bersejarah. Selain punya peran penting di Selat Malaka sejak zaman dulu, kota Malaka punya banyak museum. Salah satunya Muzium UMNO. Bersebelahan dengan Muzium Rakyat yang tak jauh dari Benteng Portugis A Famosa, di depan Muzium UMNO terpajang keretaapi lawas yang jadi salah satu pajangan Melaka Historical Vehicle Park. Uang masuk Muzium UMNO hanya dua Ringgit. Amat murah. UMNO, singkatan dari United Malays National Organisation alias Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu, di mata kebanyakan orang Indonesia identik dengan mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, yang meski sudah lebih dari 95 tahun usianya masih juga bisa terpilih. Organisasi tersebut kerap disamakan dengan Golongan Karya (Golkar) di Indonesia kendati banyak pula perbedannya.
- Lief Java dan Ismail Marzuki
PADA 1936, ketika masih berusia 17 tahun, Ismail Marzuki bergabung dengan orkes keroncong yang populer di Batavia. Lief Java mempertemukannya dengan musisi-musisi keroncong hebat pada masanya. Perkumpulan ini merupakan kawah candradimuka yang melambungkan banyak nama besar. Lief Java didirikan oleh Suwardi atau terkenal dengan sebutan Pak Wang pada 1918. Mula-mula orkes keroncong ini bernama Rukun Anggawe Santoso, kemudian berganti nama menjadi Lief Java pada 1923. Menurut Amir Pasaribu dalam Musik dan Selingkar Wilayahnja, kala itu kombinasi instrumen yang dipakai Lief Java cukup sederhana. Hanya viol (biola), suling, gitar, dan celo.
- Komponis dari Betawi
JAUH sebelum daerah Kwitang di Jakarta sesak dengan bangunan rumah, toko, dan gedung perkantoran, di sana pada 1900-an tinggallah sebuah keluarga Betawi berada. Pemiliknya, Marzuki, memiliki bisnis bengkel mobil. Dia tinggal bersama seorang anak lelakinya, Ismail, yang lahir pada 11 Mei 1914 –kelak nama sang ayah melekat pada namanya, menjadi Ismail Marzuki. Istrinya meninggal dunia saat Ismail berusia tiga tahun. Kepiawaian Marzuki dalam urusan kunci inggris dan oli rupanya tak menurun pada anaknya. Sedari kecil, Ismail yang kerap disapa Maing justru menaruh hati pada musik. Dia gemar mendengar alunan merdu dari gramafon milik keluarganya. Saat itu, dia pun mencoba bermain rebana, ukulele, dan gitar seperti kegemaran ayahnya bermain rebana dan kecapi serta handal melantunkan lagu bersyair Islam. Ismail menjalani sekolah formal di HIS Idenburg Menteng, sementara untuk urusan agama di Madrasah Unwanul Wustha. Ismail kemudian melanjutkan pendidikan ke MULO di Jalan Menjangan, Jakarta. Setelah lulus, dia bekerja di Socony Service Station sebagai kasir dengan gaji 30 gulden sebulan.
- Biarkan Batin Melayang
SUATU sore, karena keasyikan bermain petak umpet, S.K. Trimurti kecil pulang begitu malam tiba. Dia berjalan sendirian melalui lorong-lorong kecil dengan pepohonan besar di kiri-kanan jalan. Tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh berdebam. Dia kira buah nangka. Ternyata, sosok hitam kecil yang makin lama makin besar hingga setinggi pohon nangka. Dia lari sekuat tenaga. Ketika membantu ibunya membatik, Trimurti menceritakan pengalaman aneh itu. Saparinten, sang ibu, menjawab: “Itu memang suatu kemampuan yang hanya dimiliki almarhum kakekmu. Ternyata, kemampuan melihat badan halus itu diturunkan kepadamu.” Sejak itu, Trimurti percaya akan kekuatan makhluk halus. Keyakinan itu mendorong minatnya pada soal-soal kebatinan. Minatnya mengendap lama karena kesibukannya dalam politik. Baru pada 1958, dia bisa meluangkan waktu untuk mendalami kebatinan. Dia mengikuti kursus tertulis di Akademi Metafisika Surakarta di bawah pimpinan Dr. R. Parjana Surjadiputra, seorang dokter dan direktur Rumah Sakit Umum Semarang yang juga tokoh aliran kebatinan.
- S.K. Trimurti Menyalakan Api Kartini
BANGUNAN di Jalan Kramat Raya itu tak seberapa besar. Ia terhimpit di antara bangunan lainnya. Pagar besi menjadi pembatas antara jalan dan halaman kecil yang dihiasi tanaman dalam pot. Suasananya cukup tenang, sekalipun terletak tak jauh dari jalan utama yang sibuk. Beberapa perempuan renta, penghuni Panti Jompo Waluya Sejati Abadi, lalu-lalang. Sebagian penghuni panti menyimpan masa lalu yang kelam. Lestari, berusia 78 tahun, berjalan membungkuk. Pada 1967, dia ditangkap tentara dan ditahan selama sebelas tahun karena keikutsertaannya dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang dituding terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Dia masih bersemangat ketika berbicara mengenai Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) maupun Gerwani, nama yang kemudian dipakai. Lestari ikut kongres pertama Gerwis di Surabaya pada 1951, kala usianya masih sekira 21 tahun, dan diangkat menjadi ketua Gerwis cabang Bojonegoro, kota kelahirannya. “Salah satu isu yang diperjuangkan adalah pembatasan usia minimal perkawinan. Gerwis juga membuat TK Melati di tiap kecamatan yang berdiri anak cabangnya. Pemilihan simbol melati karena bunga ini harum namun berpenampilan sederhana dan bisa tumbuh di mana saja. Pembangunan TK ini dibiayai oleh kerelaan anggota dan dana sosial masyarakat,” ujarnya.
- S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno
LUKISAN itu berukuran 100 x 60 centimeter. Presiden Sukarno menyematkan penghargaan Bintang Mahaputra Tingkat III ke dada S.K. Trimurti. Wajahnya datar. Tak ada senyuman menghiasi bibirnya. Sementara Trimurti berusaha menahan diri agar mulut tak terbuka dan tertawa. Bagi Trimurti, kejadian ini lucu sekali. Kala itu hubungannya dengan Sukarno lagi renggang. Gara-garanya Trimurti mengkritik kebiasaan Sukarno yang doyan kawin. Dalam hati dia bertanya: “Bung Karno ini benci apa tidak kepada saya? Kok, selagi saya masih di-jothak (didiamkan), saya diberi bintang. Saya ini sebetulnya termasuk orang yang kurang ajar atau orang yang kelebihan ajar? Entahlah. Tapi ini pengalaman unik.” Hidupnya memang tak bisa lepas dari sosok Sukarno. Setelah melihat langsung pidato Sukarno dalam rapat umum Partindo di Purwokerto tahun 1932, Trimurti masuk Partindo dan sejak itu menjadi kader kesayangan Bung Karno. Hubungan guru-murid ini kemudian terputus ketika pemerintah kolonial menangkap dan membuang Sukarno ke Flores pada Agustus 1933, lalu dipindahkan ke Bengkulu pada 1938 hingga awal pendudukan Jepang. Sementara Trimurti pulang kampung dan melanjutkan perjuangan di Jawa Tengah.
- S.K. Trimurti di Tengah Tokoh Kiri
S.K. TRIMURTI kerap datang ke rumah Ahmad Subardjo, yang sudah jadi menteri luar negeri, di Jalan Cikini Raya untuk meminjam buku. Namun, dalam suatu kunjungan, Subardjo memperkenalkannya dengan seorang lelaki bernama Hussein, yang sejak berada di Jakarta melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh terkemuka Republik. Subardjo kemudian memberitahu nama sebenarnya pada bulan September. Kapan pertemuan pertama terjadi, Trimurti tak ingat. Dia hanya mengatakan, setelah perkenalan itu, dia sempat beberapa kali bertemu lagi dengan Hussein sebelum akhirnya tampil terbuka di muka umum dengan nama sebenarnya: Tan Malaka. Trimurti terkesan dengan kepribadian Tan Malaka. Menurutnya, Tan Malaka seorang manusia bersih, yang menyerahkan segala-galanya untuk cita-citanya, tanpa kepentingan pribadi, dan dengan tak kenal lelah bekerja untuk persatuan. Dia seorang yang jujur, tidak menjelek-jelekkan lawan-lawan politiknya dengan semena-mena melainkan selalu mendorong untuk memikirkan dan menganalisis masalah bersama-sama. Sebagaimana dikutip Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946, Trimurti menyebut, “Beliau seorang intelek, yang bukan termasuk ‘piringan hitam’ yang hanya mengulang-ulang. Dia berani mempertahankan pendapatnya dengan gigih, juga jika harus menghadapi oposisi berat.”
- 14 Februari 1946: Peristiwa Merah-Putih di Manado
DINI hari, 14 Februari 1946, kekuatan gabungan rakyat Manado menyerbu dan mengambil-alih tangsi militer Belanda yang berada di Teling, Manado. Mereka membebaskan pemimpin Republik dari tahanan, menawan perwira Belanda, dan mengibarkan bendera Merah-Putih. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Merah-Putih. Peristiwa Merah-Putih tak bisa dilepaskan dari berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang baru sampai ke telinga rakyat Sulawesi Utara empat hari kemudian. Meski sedikit terlambat, rakyat Sulawesi Utara menyambut dengan sukacita. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Pasukan Belanda atau Netherland Indies Civil Administration (NICA), dengan membonceng tentara Sekutu, tiba dan kembali menguasai Sulawesi Utara. Para pemuda-pejuang, termasuk anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari Minahasa, yang tergabung pada Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) bereaksi. Mereka menyusun rencana untuk menyerang dan mengambil-alih tangsi militer Belanda. Karena beberapa pemimpin pasukan ditangkap, termasuk Charles Choesj Taulu, rencana penyerangan dialihkan kepada Mambi Runtukahu.
- Eksperimen Penjara Berujung Malapetaka (Bagian I)
SIRINE mobil patroli kepolisian Palo Alto meraung ketika memasuki permukiman di kawasan California, Amerika Serikat, pada Agustus 1971. Sejumlah polisi masuk ke salah satu rumah untuk menangkap seorang pemuda yang dituding terlibat kasus perampokan bersenjata. Kejadian ini sangat mengejutkan, tidak hanya bagi warga, tetapi juga keluarga pemuda yang dikenal sebagai mahasiswa sebuah universitas itu. Pemuda itu tak mengira setelah mendaftarkan diri sebagai subjek penelitian ahli psikologi di Universitas Stanford, akan dimulai dengan proses penangkapan oleh petugas kepolisian. Kejadian ini belum seberapa buruk dibandingkan dengan yang akan dihadapinya ketika eksperimen di penjara. Apa yang terjadi pada pemuda itu juga dialami oleh sepuluh mahasiswa lain yang menjadi subjek penelitian psikolog Amerika Serikat, Philip G. Zimbardo, yang ingin meneliti dampak psikologis terhadap manusia di dalam penjara. Penelitian “Stanford Prison Experiment” itu merupakan salah satu eksperimen paling terkenal dan kontroversial pada 1970-an. Para mahasiswa yang berperan sebagai narapidana dijemput di rumahnya oleh polisi. Mereka diborgol, digeledah, dan dipaksa masuk ke dalam mobil, kemudian dibawa ke kantor polisi untuk didakwa melakukan tindak kriminal. Untuk itu, Zimbardo telah lebih dahulu negosiasi dan kerjasama dengan kepolisian agar proses penelitiannya berlangsung seperti realitas yang nyata. Setelah menjalani proses administrasi, diambil sidik jari, dan dicatat identitasnya untuk didaftarkan sebagai tahanan, para mahasiswa itu dibawa ke sel tahanan dengan mata tertutup. Tujuannya agar tidak mengetahui lokasi sel penjara mereka. Seorang mahasiswa yang ikut serta dalam eksperimen penjara Stanford ditangkap sebelum dibawa ke lokasi eksperimen. (Wikimedia Commons). Zimbardo menyusun rencana eksperimen dengan matang. Untuk mendukung jalannya penelitian, ia tidak hanya merekrut mahasiswa dan petugas tahanan, tetapi juga membangun penjara tiruan di lantai bawah Jordan Hall di Universitas Stanford. “Ide eksperimen ini berasal dari mata kuliah yang diajarkan Zimbardo di universitas. Beberapa mahasiswa memilih tema psikologi penahanan dan telah membuat simulasi kehidupan di penjara selama akhir pekan. Zimbardo terkejut dengan kesan mendalam yang ditinggalkan pengalaman singkat tersebut pada para mahasiswanya, dan memutuskan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki dampak dari eksperimen itu,” tulis Reto U. Schneider dalam The Mad Science Book. Thibault Le Texier dalam Investigating the Stanford Prison Experiment: History of a Lie menjelaskan, Zimbardo mengubah pintu tiga kantor di rubanah departemen psikologi Stanford dengan pintu berjeruji, dan kedua ujung koridor yang menghubungkan kantor-kantor tersebut ditutup. Salah satu sisi disulap menjadi tempat istirahat sipir, yang juga berfungsi sebagai ruang ganti mereka. Di sisi lain, sebuah ruangan disediakan untuk peneliti yang dapat melihat rekaman yang menyorot bagian koridor melalui celah kecil tersembunyi di balik tirai. “Salah satu koridor di area rubanah digunakan sebagai lokasi makan para tahanan, tempat mereka dipaksa berhitung oleh para petugas penjara, dan untuk sesi kunjungan. Sementara di sisi koridor yang berlawanan dengan sel terdapat lemari kecil bertuliskan ‘The Hole’, yang dimaksudkan sebagai sel isolasi. Kamar mandi terletak lebih jauh di sepanjang koridor, dan narapidana akan dibawa ke sana dengan mata tertutup,” tulis Le Texier. Mulanya Zimbardo, yang berumur 38 tahun, memasang iklan di Palo Alto Times yang memuat lowongan kerja paruh waktu di musim panas bagi mahasiswa yang berminat menjadi subjek penelitian psikologis terkait kehidupan di penjara. Mahasiswa tersebut akan dibayar $15 per hari selama 1-2 minggu. Eksperimen ini akan dijalankan pada 14 Agustus 1971. Peserta yang tertarik dapat mendaftarkan diri ke Ruang 248, Jordan Hall, Universitas Stanford. Ruang 248 di Jordan Hall segera menjadi tujuan para mahasiswa, yang tidak hanya tertarik dengan eksperimennya, tetapi juga iming-iming penghasilan. Dari 70 mahasiswa yang mendaftarkan diri, Zimbardo memilih 24 peserta yang sehat fisik dan mental, serta mampu beradaptasi dengan baik. Tim peneliti tengah menyaring calon peserta yang akan mengikuti eksperimen penjara Stanford. (Wikimedia Commons). Menurut Le Texier, Zimbardo dalam eksperimen psikologis ini dibantu Craig Haney, mahasiswa pascasarjana, dan Curt Banks. Mereka menyusun pertanyaan yang diajukan kepada calon peserta eksperimen. Melalui wawancara diagnostik dan tes psikologis, mereka menyaring calon peserta hingga mendapatkan 24 peserta. Para peserta itu merupakan mahasiswa dari seluruh Amerika Serikat dan Kanada yang berada di kawasan Stanford selama musim panas, banyak di antaranya baru saja menyelesaikan program musim panas di Berkeley atau Stanford, dan ingin mendapatkan uang tambahan. Pada semua aspek yang diuji dan diamati oleh tim Zimbardo, para peserta menunjukkan reaksi normal. Setelah dipilih oleh para peneliti, 24 mahasiswa sukarelawan dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok ditugaskan sebagai penjaga dan setengahnya sebagai narapidana. Para narapidana dijamin, meskipun beberapa hak dasar dibatasi selama eksperimen, mereka tidak akan disiksa secara fisik dan akan menerima makanan, pakaian, dan perawatan medis yang memadai. Meski begitu, mereka tidak diberi tahu apa yang diharapkan atau bagaimana bertindak. Sementara para penjaga diberi pengarahan tentang prosedur administratif, namun tidak dilatih secara khusus, dengan satu pengecualian dilarang menggunakan kekerasan atau hukuman fisik. Instruksi yang diberikan kepada mereka adalah “menjaga ketertiban di dalam penjara secara wajar agar penjara dapat berfungsi secara efektif”. Plakat yang menandai lokasi berlangsungnya eksperimen penjara Stanford. (Wikimedia Commons). Zimbardo mengadakan eksperimen karena melihat sistem pemasyarakatan yang memprihatinkan dan kegagalannya dalam merehabilitasi narapidana. Kondisi ini dikaitkan dengan hipotesis disposisional bahwa penyebab utama dehumanisasi karena karakteristik psikologis bawaan dari petugas lembaga pemasyarakatan dan narapidana. Zimbardo melakukan penelitian langsung untuk melihat apakah hipotesis tersebut benar. F. Neil Brady dan Jeanne M. Logsdon dalam “Zimbardo’s ‘Stanford Prison Experiment’ and the Relevance of Social Psychology for Teaching Business Ethics”, termuat di Journal of Business Ethics, Vol. 7 No. 9 (September 1988), menyebut tujuan eksperimen penjara Stanford untuk menguji hipotesis ini dengan menempatkan orang-orang yang memiliki kondisi “normal atau rata-rata” dalam penjara tiruan dan mengamati hasilnya. “Jika perilaku orang-orang normal tersebut sangat mirip dengan perilaku yang sebenarnya diamati di dalam penjara, hal ini akan mendukung ‘hipotesis situasional’ bahwa konteks sosial lebih memengaruhi perilaku daripada karakteristik psikologis individu,” tulis Brady dan Logsdon. Pada hari pertama dimulainya eksperimen penjara, Zimbardo melihat tidak banyak hal signifikan yang dapat diamati dari relasi antara petugas penjara dengan narapidana. Perubahan sikap juga belum menunjukkan tanda-tanda menyimpang di antara subjek eksperimen. Namun, hal ini tak berlangsung lama, pada hari-hari berikutnya eksperimen ini berubah menjadi bencana.*
- Kiprah S.K. Trimutri Menteri Bersandal
SUATU malam, di rumahnya di Yogyakarta, S.K. Trimurti kedatangan seorang tamu. Namanya Setiadjit, ketua Partai Buruh Indonesia (PBI). Dia bilang Presiden Sukarno meminta dirinya, Adnan Kapau (AK) Gani, dan Amir Sjarifoeddin untuk menyusun kabinet baru dalam waktu 14 jam. Dan sebagai anggota formatur kabinet, mereka akan membentuk Kementerian Perburuhan. Dia menanyakan apakah Trimurti bersedia mengisi pos itu. Spontan Trimurti menolak. “Saya merasa tidak mampu. Saya belum pernah menjadi menteri.” “Bung Karno juga belum pernah menjadi presiden.” Setiadjit mengingatkan Trimurti soal disiplin partai dan memberikan waktu untuk berpikir semalaman. Rencana pembentukan kabinet tak lepas dari kisruh politik di seputar Persetujuan Linggarjati. Karena dianggap merugikan posisi Indonesia, Kabinet Sjahrir III menuai kecaman, termasuk dari anggota partainya di dalam Sayap Kiri. Sjahrir akhirnya mundur sebagai perdana menteri pada 27 Juni 1947. Awalnya Sukarno menunjuk Amir Sjarifoeddin, Sukiman Wirjosanjoyo, A.K. Gani, dan Setiadjit sebagai formatur untuk membentuk kabinet koalisi tapi gagal karena Masyumi meminta jatah kursi-kursi penting. Sukarno lalu menunjuk Amir Sjarifoeddin, A.K. Gani, dan Setiadjit untuk membentuk kabinet nasional.





















