top of page

Hasil pencarian

9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pangeran Bernhard, dari Partai Nazi hingga Panglima Belanda

    SUDAH dua dekade Pangeran Bernhard mangkat (1 Desember 2004), namun masa lalunya terus menghantui publik Belanda. Sepanjang hidupnya, suami Ratu Juliana itu membantah pernah mengucap sumpah setia pada pentolan Nazi Jerman, Adolf Hitler. Tetapi bukti-bukti sahih berkata lain. Satu dari sekian bukti sahih itu adalah kartu keanggotaan Nationalsozialistische Deutsche Arbeitpartei (NSDAP) alias Partai Nazi atas nama Pangeran Bernhard. Bukti penting itu ditemukan Direktur Koninklijke Huisarchief (Arsip Kerajaan) Flip Maarschalkerweerd di koleksi arsip pribadi Pangeran Bernhard di Istana Soestdijk pada 2019. Maarschalkerweerd kemudian menuliskan kisah penemuannya itu dalam bukunya yang rilis 2023 lalu, De Achterblijvers. Kini, kartu keanggotaan Partai Nazi Pangeran Bernhard bersama beberapa dokumen lain dikembalikan ke Bundesarchiv atau Arsip Federal Jerman. Hanya salinan-salinannya semata yang tetap disimpan di Den Haag, Belanda.

  • Irawan Soejono Melawan Nazi Jerman

    DI sebuah sudut di bilangan Osdorp, pinggiran Amsterdam, terhampar sebuah jalan yang tak terlalu panjang. Jalan itu merentang 200 meter, menghubungkan Jalan Rudi Bloemgartensingel dengan Trijn Hullemanlaan dan diapit oleh dua jalan: Jacob Paffstraat dan Geertruide Lierstraat. Pemerintah Kota Amsterdam menamai jalan itu Irawan Soejonostraat. Irawan Soejono bukan sosok terkenal, terlebih bila dibandingkan tokoh-tokoh Indonesia lain yang dijadikan nama jalan di Belanda, seperti R.A. Kartini (Kartinistraat), Mohammad Hatta (Hattastraat), dan Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat). Nama Irawan diabadikan karena perjuangan dan pengorbanannya di negeri, yang ironisnya, menjajah tanah airnya. Jalan Irawan Soejonostraat diresmikan pada 4 Mei 1990, bersamaan dengan peringatan para pahlawan dan korban-korban pendudukan Nazi-Jerman.

  • Johanis Jan Nortier Kabur dari Nazi ke Front Pasifik

    KETIKA tentara Jerman menduduki Negeri Belanda sejak 10 Mei 1940, para taruna di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda sedang menjalani pendidikan. Termasuk empat taruna dari Indonesia: Soemiarto Abdurachman, Victor Louise Makatitta, Saleh Sadeli, dan Kanido Rachman Masjhur. "Saya sedang berlatih sebagai perwira infanteri KNIL di akademi militer di Breda ketika perang pecah," kata Joop Nortier alias Johanis Jan Nortier (1917-2002), dikutip De Telegraaf, 3 September 1988. Kala itu Nortier sudah berpangkat sersan kadet, harusnya tinggal sebentar lagi dia belajar di Breda dan kemudian menjadi perwira dalam tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Namun kedatangan Jerman menghalangi karier pria kelahiran Poortvliet, 6 Agustus 1917 ini.

  • Andi Azis Habis Lawan Nazi

    WAKTU Perang Dunia II mengganas di Eropa, Andi Abdul Azis tidak sedang berada di Sulawesi Selatan. Dia di tempat yang jauh dari kampung halamannya. Dia sedang berada di Negeri Belanda. Andi Azis menjadi anak angkat pensiunan pegawai kolonial Belanda yang pernah bertugas di kampung halamannya, Barru di Sulawesi Selatan. Ketika pejabat ini masih bertugas di Barru, seperti diceritakan Andi Idris, salah satu adiknya, Andi Azis kecil sering diajak pejabat ini berkunjung ke rumahnya di daerah perbukitan Barru.  Andi Azis sudah berada di Negeri Belanda sejak tahun 1935 ketika berusia sekitar sepuluh tahun. Dia pernah merasakan bangku sekolah menengah di Baarnsch Lyceum. Ben van Kaam dalam “De rebel die een bloedbad voorkwam” yang dimuat koran Trouw, 29 Maret 1980, menyebut Andi Azis adalah bocah yang ceria ketika masih bersekolah di sana. Dia bersekolah hingga kelas tiga tahun 1943.

  • Irawan Soejono Against Nazi Germany in the Netherlands

    IT is a street in Osdorp, a suburb of Amsterdam, but the name is quite distinctive. This street stretches around 200 meters, connecting Rudi Bloemgartensingel with Trijn Hullemanlaan and is flanked by two streets: Jacob Paffstraat and Geertruide Lierstraat. The Amsterdam municipality named the street Irawan Soejonostraat. Irawan Soejono isn't a famous figure, especially when compared to other Indonesian figures who were immortalized into street names in the Netherlands, such as R.A. Kartini (Kartinistraat), Mohammad Hatta (Hattastraat), and Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat). Irawan's name was immortalized because of his struggle and sacrifice in a country that, ironically, colonized his homeland. The Irawan Soejonostraat was inaugurated on May 4, 1990, in conjunction with the commemoration of the heroes and victims of the Nazi-German occupation.

  • Nyong Ambon Ditembak Nazi

    BERITA kematiannya muncul di koran Het Vaderland tanggal 24 April 1942. Koran itu menyebut bahwa dirinya meninggal dunia pada 9 April 1942 di Dijon, Perancis, daerah yang tengah dikuasai tentara Jerman-Nazi sebagaimana Belanda. Victor Lucas Makatita yang malang itu masih belum genap berusia 23 tahun ketika dieksekusi. Sebelum tentara Jerman menduduki Belanda, Victor adalah taruna di Akademi Militer Breda. Ketika tentara Jerman menginvasi pada Mei 1940, Victor sudah berpangkat Sersan Kadet. Menurut Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische Officieren uit het KNIL 1900-1950, Victor masuk akademi pada 15 September 1938 dan sejak Juli 1940 dia tak lagi menjadi taruna. Lulusan SMA di zaman Hindia Belanda umumnya anak pegawai bergaji tinggi. Keluarga Makatita sendiri pernah tinggal di Negeri Belanda pada 1930-an. Arsip-arsip Belanda menyebut Victor lahir di Batavia, pada 30 April 1919. Ia putra ketiga dari empat bersaudara pasangan Lucas Makatita, yang kelahiran 1874, dengan Maria Fransisca Kessler, yang kelahiran 1887. Victor termasuk orang Ambon yang lahir-besar di luar Kepulauan Lease, Maluku yang meliputi Pulau Ambon.

  • Resep Basi Ekonom Nazi

    KONSULTAN ekonomi pemerintah Indonesia, Hjalmar Schacht menyelesaikan laporan dalam bahasa Jerman pada 9 Oktober 1951. Laporan itu kemudian diterbitkan pemerintah Indonesia dalam bahasa Indonesia dan Jerman. Semua pejabat tinggi pemerintah mendapat salinan agar bisa mempelajarinya. Schacht membagi laporannya dalam tujuh bab. Bagian pertama menjelaskan latar belakang kedatangan dan tugasnya di Indonesia. Bagian kedua menyentuh keadaan umum seperti pemulihan keamanan, pembenahan birokrasi, bantuan luar negeri dan modal asing/swasta, serta peningkatan standar hidup dan prestasi kerja. Dan bab-bab berikutnya berturut-turut membahas dasar-dasar ekonomi, perdagangan dan perusahaan bank, keuangan negara, valuta, serta kesimpulan dan penutup. Laporannya kurang tersusun rapi. Pembahasannya tumpeng tindih dan kadang diulang-ulang. Tapi, kekurangan ini tentu tak mengurangi arti penting laporannya. “Dalam perjalanan pembangunan negara ini, pemerintah tidak sedikit menjalankan rekomendasi saya,” ujar Schacht dalam bukunya, The Magic of Money (1967).

  • Duet Masyumi-PSI Datangkan Menteri Nazi

    DI rumahnya di Bleckede, sebuah kota di distrik Luneburg, Lower Saxony, Jerman, Hjalmar Schacht menerima rombongan tamu dari Indonesia yang dipimpin Menteri Keuangan Jusuf Wibisono dari Partai Masyumi. Tujuan mereka cuma satu: apakah Schacht sudi datang ke Indonesia. Schacht bimbang sejenak. Indonesia adalah negeri yang jauh. Dia juga tak mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menimbang. Belum pula ada niat untuk bekerja dalam jangka waktu lama di negara asing. Tapi dia tertarik untuk berbagi pengalaman. “Karena itu saya mengatakan kepada utusan itu bahwa saya siap, pada waktu yang ditentukan, untuk memberikan pendapat ahli kepada pemerintah Indonesia, gratis, mengenai masalah ekonomi dan keuangan asalkan pemerintah bersedia menanggung biaya perjalanan dan hotel,” tulis Schacht dalam memoarnya My First Seventy-Six Years (1955).

  • Sersan Mas Soemitro Melawan Nazi di Belanda

    SEORANG pemuda Jawa, Mas Soemitro, tiba di Negeri Belanda pada 1914 bersama mantan asisten residen Belanda yang tinggal di Utrecht. Setahun sebelumnya, Mas Soepardji tiba di Belanda bersama istri asisten residen itu. “Kepada orang tua kedua pemuda itu, asisten residen berjanji akan menyekolahkan mereka di Negeri Belanda untuk menjadi pengawas pekerjaan umum, tetapi ternyata mereka dimanfaatkan sebagai pembantu rumah tangga,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda. Mas Soemitro dan Mas Soepardji kemudian melapor ke pihak berwenang. Dewan Perwalian pun turun tangan. Sehingga mereka terbebas dari mantan asisten residen itu. Atas permintaan mereka, Dewan Perwalian mengirim keduanya ke Kampen atau sekolah pendidikan bintara.

  • Mimpi Merdeka Raden Ajeng Kaida

    PADA bulan Oktober 1912, seorang wanita muda di keraton Paku Alam Yogyakarta memulai surat pertamanya kepada sahabat pena baru di Belanda. Raden Ajeng Kaida berumur delapan belas tahun dan terus berkomunikasi dengan teman barunya dari Belanda, Kaatje, selama kurang lebih empat tahun. Surat-suratnya, yang sekarang disimpan dalam arsip di Amsterdam, memberikan pengetahuan yang menarik tentang harapan Kaida untuk masa depannya. Surat-surat itu juga menunjukkan bahwa dia harus menghadapi banyak kekecewaan, karena tradisi priayi terkadang lebih kuat daripada mimpinya sendiri. Kisah Kaida memiliki banyak kesamaan dengan kisah Raden Ajeng Kartini (1879–1904). Keduanya berkorespondensi dengan wanita muda seusia mereka di Belanda. Kartini mulai menulis kepada teman penanya, Stella Zeehandelaar, pada tahun 1899, ketika dia berusia dua puluh tahun. Baik Kartini dan Kaida bergumul dengan keterbatasan tradisi dalam keluarga priayi mereka. Namun, ketika Kartini menjadi terkenal, kisah Kaida tidak diketahui. Surat-suratnya pada Kaatje menggambarkan pengalaman pribadi seorang wanita muda priayi di saat masyarakat Jawa sedang berubah dengan cepat. Tidak jelas bagaimana Kaida bisa berhubungan dengan sahabat pena Belandanya. Mungkin para gadis-gadis ini mulai bertukar surat karena guru Kaatje di Amsterdam, yang menghubungkan gadis Jawa dan Belanda satu sama lain. Berbeda dengan Kaatje yang duduk di bangku SMA, Kaida telah meninggalkan sekolah setelah lulus dari Sekolah Dasar berbahasa Belanda (Europese Lagere School) pada usia lima belas tahun. Dia menulis dan berbicara bahasa Belanda dengan lancar.

  • Di Balik Tewasnya Emod

    DIAM-diam, otoritas Belanda di Australia pada sekitar 6 November 1946 memindahkan 13 orang tawanannya di Kamp Casino, pedalaman New South Wales ke Batavia. Para tahanan itu adalah Gozali, Kemirin, Woworoentoe, Kamagi, Tala, Tuala, Karto, Praitano, Dengah, Moestari, Sahja, Lengkong, Jadi, dan Lantang. “Saya melaporkan peristiwa menghilangnya 13 orang tahanan secara rahasia kepada Menteri Calwell pada 7 November 1946 yang dibawa lari penguasa Belanda di Kamp Casino. Mereka dituduh Belanda telah membunuh Emod,” kenang Mohammad Bondan dalam Memoar Seorang Eks Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan . Tuduhan bahwa Emod dibunuh mereka tidak dipercayai orang Australia yang mendukung kemerdekaan Republik Indonesia, yang kebanyakan anggota kelompok sayap kiri yang kala itu berpengaruh di Australia. Koran Tribune ikut meributkannya di edisi Selasa, 3 Desember 1946. Koran itu menyebut penyidik dari pihak Australia menyebut Emod bunuh diri. Namun pihak Belanda terus berkeras bahwa ke-13 tahanan itu yang membunuh Emod.

  • Amat Jantan Indonesia

    AMAT, salah seorang anggota barisan pembantu prajurit Jepang (Heiho) di Angkatan Laut, dipuja bak pahlawan. Kisah keberanian dan pengorbanannya dipropagandakan melalui drama, film, hingga lagu. Pemerintah pendudukan Jepang memobilisasi para pemuda untuk bergabung dengan pasukan-pasukan semimiliter. Salah satunya Heiho, yang dibentuk pada April 1943. Syaratnya, pemuda berusia 18-25 tahun, berbadan sehat, berkelakuan baik, dan pendidikan minimal sekolah dasar. Mereka dijanjikan akan ditempatkan di Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang. Nyatanya, Heiho dimaksudkan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kasar di kesatuan-kesatuan angkatan perang Jepang. “Oleh karena barisan Heiho ini adalah barisan tenaga pekerja, maka umumnya tidak diberi senjata kepada mereka, kecuali satu taikeng (sangkur) yang merupakan satu bagian mutlak dari pakaian seragam yang lengkap,” tulis O.D.P. Sihombing dalam Pemuda Indonesia Menantang Fasisme Djepang .

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page