top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gubernur Soerjo di Palagan Surabaya

    “Kita ini bangsa yang besar, tundukkan kompeni, kalahkan tentara Inggris. Kita harus menjaga kehormatan Bangsa Indonesia. Tunjukkan pada tentara Inggris bahwa kita bangsa Indonesia benar-benar ingin merdeka. Merdeka atau mati!”. Penggalan kalimat itu, sebagaimana dikutip Abdul Waid dalam Bung Tomo, dibacakan Bung Tomo di hadapan ribuan rakyat Surabaya pada pidato 10 November 1945, kala perang melawan Inggris pecah di Kota Pahlawan itu. Kepiawaian Bung Tomo memimpin rakyat Surabaya terbukti mampu membakar semangat perlawanan terhadap kaum penjajah dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dia juga dikenal sebagai pejuang terkemuka Surabaya, yang namanya kerap diidentikan dengan peristiwa 10 November 1945 di ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut.

  • Toleransi Beragama Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker

    PULUHAN gubernur jenderal ditunjuk selama masa kekuasaan VOC di Batavia. Dari 37 gubernur jenderal, 34 gubernur jenderal benar-benar terlibat langsung dalam urusan kota yang kini dikenal dengan nama Jakarta. “Di masa kekuasaan VOC tidak ada jabatan dan fungsi tertinggi dalam administrasi pemerintahan kota. Semuanya harus dilaporkan kepada pemerintah pusat yang dijabat oleh Gubernur Jenderal bersama-sama dengan Dewan Hindia berkantor di Kastil Batavia,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Calon gubernur jenderal dipilih di antara anggota Dewan Hindia (Raad van Indie), lalu dilaporkan kepada Dewan Tujuhbelas (Heeren Seventien). Untuk dapat diangkat sebagai gubernur jenderal, seseorang tak hanya harus menjadi anggota Dewan Hindia, tapi juga harus menduduki posisi opperkoopman atau pedagang utama dalam struktur kepegawaian VOC. Hal itu didasarkan pada esensi utama VOC yang merupakan perusahaan dagang, sehingga jenjang kepangkatan dalam organisasinya pun menggunakan kriteria dagang. Pangkat opperkoopman dapat diartikan sebagai pedagang paling senior.

  • Lima Walikota Jadi Gubernur dan Presiden

    DALAM Rakernas Korpri di Jakarta pada Selasa (3/10/2023), Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyinggung soal rekam jejak dirinya sebagai satu-satunya presiden yang berangkat dari walikota. Hal itu ia utarakan ketika membahas soal prioritas penggunaan anggaran. “Saya mengalami karena pernah jadi walikota (Solo) dua kali, pernah jadi gubernur (DKI Jakarta), pernah jadi presiden dua kali. Enggak ada di Indonesia seperti itu. Dari bawah, walikota, dua kali; gubernur; presiden, dua kali. Jadi saya mengalami betul, mengerti betul situasi di lapangan seperti apa,” kata Presiden Jokowi. Sejak Republik Indonesia berdiri, memang tidak ada presiden yang punya latar belakang menduduki jabatan eksekutif dari bawah selengkap Presiden Jokowi. Tapi di dunia internasional, rekam jejak demikian bukan hanya milik Jokowi. Berikut lima di antaranya:

  • Raihan Uber Cup Seharga Kain Brokat

    JELANG perang di pentas Thomas dan Uber Cup 2018 lalu, tim Indonesia sudah diguyur bonus rupiah. Pada 8 Mei 2018, Li-Ning selaku sponsor mengguyur Rp500 juta, Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga memberi santunan asuransi kepada masing-masing anggota tim putra dan putri Rp500 juta. Andai mereka menang di Bangkok, Thailand, 20-27 Mei 2018, mereka bakal makin “kuyup". Sayang, bonus tak berbanding lurus dengan prestasi. Tim Thomas Indonesia yang dikapteni Hendra Setiawan, gugur di semifinal. Tim Uber yang dikapteni Greysia Polii bahkan lebih parah, hanya bisa sampai perempatfinal. Alih-alih menyadari kegagalan itu, Manajer tim Susi Susanti malah menyatakan hasil tim Uber sudah sesuai target. Perbulutangkisan putri Indonesia jelas mundur. Banyaknya bonus justru membuat prestasi bulutangkis putri Indonesia melempem.

  • Bunga Mawar dari The Teng Chun

    SEBAGAI anak tertua dari pengusaha hasil bumi kaya bernama The Kim Le, The Teng Chun mestinya bisa meneruskan jejak ayahnya berdagang. Pada usia 18 tahun, dia bahkan dikirim ke Amerika untuk belajar ilmu dagang di New York. Tapi minat Teng Chun justru tercurah pada dunia film setelah, bersama Fred Young, seorang sutradara peranakan Tionghoa, belajar menulis skenario di Palmer Play Theatre. Lima tahun tinggal di New York, Teh Teng Chun, lahir di Surabaya pada 18 Juni 1902, singgah di Shanghai. Di sana dia makin intens mendalami dunia film. Salah satu karyanya, sebuah film bisu Whell of Desteny. Balik ke tanah air pada 1930, setelah sempat menekuni profesi sebagai importir film-film Mandarin, setahun kemudian Teng Chun memproduksi film garapannya sendiri, Boenga Roos dari Tjikembang, diangkat dari roman karya Kwee Tek Hoay. Dalam Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches, Leo Suryadinata mencatat Boenga Roos dari Tjikembang sebagai film Indonesia pertama yang hadir dengan suara. Di film ini Teng Chun memborong nyaris semua pekerjaan: produser, sutradara, penata fotografi, sekaligus penulis skenario. Sayang, film ini tak terlalu mendapat apresiasi dari media.

  • Dari Kolonialisme ke Nasionalisme: Warisan Mesin Ujaran Kebencian

    PADA 2023, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 18 Juni sebagai Hari Internasional Menentang Ujaran Kebencian (International Day for Countering Hate Speech). Bagi sebagian orang, hari ini mungkin terasa simbolik belaka. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ia menandai pengakuan global bahwa ujaran kebencian kini bukan lagi sekadar problem sosial, melainkan telah menjelma menjadi persoalan struktural dan politis. Ujaran kebencian sering kali dikaitkan dengan individu: warga biasa, buzzer politik, atau kelompok fanatik. Padahal, terlalu sedikit perhatian diberikan pada peran negara dalam mereproduksi –bahkan memanipulasi– ujaran kebencian demi kepentingannya sendiri. Dan di sinilah letak persoalan mendasarnya: nation-state modern, alih-alih menjamin perlindungan, justru kerap menjadi arsitek eksklusi sosial yang dilembagakan. Sebagian besar negara-bangsa yang ada hari ini adalah produk kolonialisme. Di Asia Tenggara, Afrika, hingga Timur Tengah, batas-batas negara ditentukan bukan oleh relasi kultural atau sejarah alami komunitas, melainkan oleh logika administrasi kolonial: siapa yang bisa dikendalikan, dan wilayah mana yang bisa dieksploitasi.

  • Selayang Pandang Tim Gajah Perang

    KENDATI sudah berusaha tampil spartan, ternyata Tim Nasional (Timnas) Thailand U-22 belum cukup membendung kedigdayaan Timnas Indonesia U-22 di final cabang sepakbola SEA Games 2023 yang dimainkan di Olympic Stadium, Phnom Penh, Kamboja, Selasa (16/5/2023) malam. Tim besutan Issara Sritaro itu frustrasi hingga memprovokasi yang menghasilkan tawuran antarkubu. Rasa frustrasi Jonathan Khemdee dkk. mungkin bisa dimaklumi. Setelah kecolongan lewat gol Muhammad Ramadhan Sananta di menit ke-20, tim berjuluk “Changsuek” atau “Gajah Perang” itu sempat tak terima gol kedua Sananta di menit 45+5 karena menganggap gol tersebut kontroversi. Kendati begitu, asa Thailand mencuat lagi di menit ke-65 usai Anan Yodsangwal memperkecil kedudukan, 1-2. Tensi pun makin memanas menjelang babak kedua berakhir. Arsitek tim Garuda Nusantara Indra Sjafri sempat keliru mendengar peluit wasit Kassem Matar al-Hatmi asal Oman yang disangkanya peluit panjang hingga melakoni selebrasi namun nyatanya sekadar peluit pelanggaran. Menolak terpancing emosi, tim Thailand pun melanjutkan laga. Tepat di menit 90+7, Yotsakorn Burapha memanfaatkan celah pertahanan Indonesia dan menyamakan skor, 2-2. Perpanjangan waktu pun digelar wasit.

  • Sepakbola Gajah dalam Piala AFF

    Piala AFF pertama kali digelar tahun 1996. Nama kejuaraannya Piala Tiger atau Tiger Cup, diambil dari sponsor utama, Tiger Beer, merek bir dari Singapura produksi Heineken. Turnamen antarnegara Asia Tenggara itu digelar 12 tahun setelah AFF berdiri pada 1984. Ironisnya, turnamen perdana Piala Tiger di Singapura dinodai skandal suap pengaturan skor. Skandal kembali terjadi dalam Piala Tiger ketiga tahun 1998. Tragisnya melibatkan timnas Indonesia yang hingga kini belum pernah menjadi juara, hanya lima kali menjadi runner-up. Retno Kustiati dan Fenty Effendy dalam biografi Agum Gumelar: Jenderal Bersenjata Nurani mengungkapkan insiden sepakbola gajah terjadi pada 31 Agustus 1998, tatkala timnas Indonesia meladeni timnas Thailand, juara Piala Tiger pertama, di partai terakhir Grup A. Dalam laga yang berjalan alot dengan kondisi lapangan Thống Nhất Stadium yang buruk, Indonesia sengaja kalah 2-3 dari Thailand.

  • Tahi Gajah Pangeran Kamboja

    BILA ada Duta Besar (Dubes) Indonesia yang paling bahagia menjalankan tugasnya pada masa 1960-an, barangkali orang itu ialah Boediardjo. Perwira AURI ini ditunjuk menjadi Dubes RI pertama berkuasa penuh untuk Kamboja pada 1965. Saat itu, Kamboja dipimpin oleh Pangeran Norodom Sihanouk. Sebelum berangkat, Presiden Sukarno berpesan kepada Boediardjo. “Kamu saya tugaskan untuk jadi duta besar di negara yang kepala negaranya adalah saudara saya,” demikian kata Sukarno kepada Boediardjo yang terkisah dalam otobiografi Boediardjo, Siapa Sudi Saya Dongengi. Menurut Boediardjo Pangeran Sihanouk adalah pengagum berat Sukarno yang ingin menerapkan ajaran Nasakom di Kamboja. Ketika bertugas di Kamboja, Boediardjo mendapati bahwa Pangeran Sihanouk merupakan sosok yang royal dan flamboyan. Sang pangeran suka mengajak para dubes pergi ke pegunungan, mandi ramai-ramai di alam bebas. Malam hari, Sihanouk main saksofon sementara para dubes disuruh berdansa sampai pagi. Menjelang pukul 4 pagi, para dubes disuguhi makan bakmi. Begitulah cara Sihanouk “memomong” para dubes di negerinya.

  • Museum Gajah Bakal Merestorasi 817 Koleksi yang Rusak

    PASCA kebakaran yang melanda Museum Nasional Indonesia (MNI) atau Museum Gajah pada Sabtu (16/9/2023), pihak Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB) sebagai pengelola melakukan evakuasi, investigasi, dan assessment kerusakan yang ditimbulkan. Diketahui, Museum Gajah menyimpan sekitar 194 ribu koleksi benda bersejarah asli maupun replika. Mengutip rilis pers di laman resmi Museum Gajah pada Minggu (17/9/2023), Plt. Kepala BLU MCB Ahmad Mahendra mengatakan kebakarannya melanda enam dari 15 ruangan yang ada di Gedung A Museum Gajah. Koleksi-koleksi yang terdampak adalah koleksi replika. “Ruang pamer Gedung B dan C sama sekali tidak terdampak. Api tidak menyebar. Sebagian koleksi yang terdampak adalah replika, seperti di bagian prasejarah. Sisanya dipastikan dalam keadaan aman,” kata Mahendra.

  • Sepakbola Gajah demi Bumi Cendrawasih

    SEBAGAI klub yang ikut mendirikan PSSI, Persebaya Surabaya merupakan klub yang kaya sejarah. Prestasinya pun fenomenal dalam persepakbolaan tanah air. Sayang, tim berjuluk “Bajul ijo” (buaya hijau) itu acapkali tersangkut skandal. Dari sejumlah kasus yang pernah mencoreng kebesaran namanya, paling bikin geger adalah skandal “Sepakbola gajah” di kompetisi Perserikatan 1988. Aib yang berkalang dendam di satu sisi dan tujuan mulia di sisi lain itu menjadi skandal kecurangan pertama, jauh sebelum timnas Indonesia mengalah di Piala Tiger (kini AFF Cup) 1998 atau kasus PSIS Semarang di Liga Indonesia 2014. Dalam buku Sepak Bola Gajah Paling Spektakuler, Slamet Oerip Prihadi dan Abdul Muis mengungkapkan, kisahnya bermula dari laga Divisi Utama Wilayah Timur di mana Persebaya menjamu Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 November, 21 Februari 1988. Persebaya yang sangat berpotensi menang. Terlebih mereka tampil di hadapan dukungan penuh arek-arek Suroboyo.

  • Dari Merpati Putih untuk Gajah Putih

    PENCAK silat memberi kebanggaan besar pada Indonesia di Asian Games 2018. Sebagai penyumbang terbesar medali emas, pencak silat menjadi “juara” di rumah sendiri. Bukan hanya itu, olahraga beladiri asli Nusantara itu juga membanggakan lantaran semakin dikenal di kancah global. Para atlet Thailand, yang membawa pulang dua perak dan lima perunggu dari silat, empat di antaranya berasal dari Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong (PPS Betako) Merpati Putih (MP) asal Indonesia. Dua pelatihnya pun dari MP, Andy Zulkarnaen dan Ellvia Zahara. Tak heran bila usai pertandingan keempat pesilat Thailand selalu memberi hormat sama seperti yang dilakukan 1300 pesilat MP ketika memecahkan rekor dunia MURI dalam bentuk mematahkan 1000 besi pompa serentak di Pusdiksi Zeni, Bogor, 10 Februari 2018: tangan kanan mengepal ke arah jantung dan tiga jari tangan kiri mereka terlipat sementara dua jari lain mengacung ke arah kening.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page