top of page

Hasil pencarian

9814 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Habis Transmigrasi Datanglah Misi

    SETELAH lebih dari 30 tahun Lampung dijadikan tempat tujuan kolonisatie (transmigrasi kolonial) oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, permasalahan agama di daerah itu muncul di Volksraad (Dewan Rakyat). Lampung kala itu dikenal sebagai daerah yang penduduk aslinya penganut Islam. “Dikatakan bahwa pekerjaan misionaris di daerah kolonisasi di Lampong sekarang sangat intensif dan bahwa kegiatan misi tidak terbatas, atau hanya secara teori, pada perawatan orang sakit. Steller khawatir bahwa kegiatan misi akan mengurangi kecenderungan untuk beremigrasi, terlepas dari propaganda pemerintah,” kata Soeroso dalam sidang Volksraad di Batavia, seperti diberitakan De Post Sumatra, 18 Januari 1938. Kala itu, sebuah gereja telah berdiri di Pringsewu. Gereja itu sebagai akomodir atas kebutuhan umat Kristiani yang terus berkembang di daerah koloni. Antara 1905 (ketika program transmigrasi dimulai) hingga 1938, agama Kristen sudah dianut di daerah transmigrasi. Yang membawanya para misionaris.

  • Cerita Desa Transmigrasi Dinodai Seorang Haji

    SEORANG haji mestinya menjadi panutan di manapun dia berada. Namun tidak dengan Haji Soedjak. Ulahnya justru memancing kericuhan hingga membuat seorang pejabat Belanda sampai mesti turun tangan akibat ulahnya di suatu siang Desa Mataram. Desa Mataram adalah nama sebuah desa di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Desa ini baru dibuka sekitar tahun 1921 oleh para kolonis (kini transmigran) Jawa dalam program Kolonisatie (transmigrasi kolonial). Para penduduknya sibuk bertani sehingga konsentrasi mereka tidak terpecah ke hal-hal lain. Desa Mataram terus berkembang pun tenang. Namun, tidak pada tanggal 31 Mei 1926. Pada pukul empat sore hari itu, di Desa Mataram muncul Haji Soedjak. Penagih utang itu hendak mendatangi salah satu warga transmigran. Kemunculan Haji Soedjak sampai membuat seorang pejabat Belanda datang ke sana untuk menghampirinya dan menanyai surat-suratnya.

  • Habis Transmigrasi Terbitlah Korupsi

    ASISTEN Wedana Gadingrejo, Lampung Raden Pirngadi membuat gempar. Bukan karena dia seorang pejabat lumayan tinggi untuk ukuran orang bumiputra, tapi karena ulahnya menggelapkan uang. Tak hanya mencoreng nama baik dia dan keluarganya, ulahnya tentu mencoreng program Kolonisati (transmigrasi kolonial) yang dilancarkan pemerintah Hindia Belanda. Kolonisatie yang dirintis pemerintah kolonial sejak 1905 terbilang sukses kendati ada masalah di sana-sini. Munculnya desa-desa baru yang menghasilkan aneka bahan pangan dan perputaran ekonomi menjadi indikatornya. Bahkan, perkebunan-perkebunan yang tergolong modern pun muncul di Gisting. Munculnya desa-desa baru, apalagi yang tidak berada di bawah pengaruh kepala marga (semacam pasirah), tentu mempengaruhi sistem pemerintahan di Lampung. Hal itu menguntungkan aparat pemerintahan kolonial. Sebab, menurut Kian Amboro dkk. dalam Metro Tempo Dulu Sejarah Metro era Kolonisasi 1935-1942, sejak lama para pejabat Belanda seperti Residen Pruys van der Hoeven (berkuasa 1870-1873) sangat ingin menghilangkan pengaruh para keluarga marga di Lampung.

  • Lintah Darat di Kampung Transmigran

    SETELAH Gedong Tataan dibuka sebagai wilayah transmigrasi pada 1905, banyak daerah lain di Lampung yang mengikutinya dan dengan nama seperti nama-nama tempat di Jawa pula. Wates –yang dalam bahasa Jawa berarti batas atau pembatas– salah satunya, dengan penduduk juga kebanyakan orang Jawa. Anang dan Abdulrachman Hamim merupakan di antara transmigran asal dari Wates yang berada di dalam Gedong Tataan itu. Sebagai perantau, Anang tentu harus memulai hidup dari nol. Maka, kendati telah mendapat bekal modal berupa lahan, dia seperti banyak transmigran lain pun menganggap perlu meminjam uang untuk modal memulai putaran roda ekonomi kehidupannya. Het Nieuws van den dag, 26 September 1933, mengisahkan bahwa Anang pada awal 1928 meminjam uang sebesar 300 gulden pada Abdulrachman Hamim. Dari pinjaman sebesar itu, tiap bulannya Anang harus membayar uang pokok pinjamannya itu plus bunga sebesar 20 gulden.

  • Gisting Daerah Transmigrasi Indo Eropa di Lampung

    ALIH-ALIH beruntung dan bisa hidup enak, wajah dan perawakan mirip orang kulit putih justru membuat orang-orang Indo-Eropa “semakin” berat hidupnya. Mereka dipinggirkan alias tak diterima di mana-mana. Hal itu mendorong mereka acapkali mencari tempat baru yang bisa menerima. Maka setelah tahun 1905 banyak desa orang Jawa –menjadi transmigran dalam program Kolonisatie atau transmigrasi kolonial– terbentuk di Desa Bagelen dan sekitarnya di Kecamatan Gedong Tataan, Lampung, orang-orang Indo-Eropa yang termarjinalkan di Hindia Belanda pun tertarik membuka “koloni” atau daerah baru di Lampung. Indo-Europeesch Verbond (IEV) selaku organisasi orang Indo Eropa di Hindia menjadi sponsornya. “Saya datang ke sini tahun 1925,” kata Karl Emile August Kloer (1877-1966) dalam Winschoter Courant, 2 Juli 1949, “sebagai pemimpin kelompok kecil orang Indo-Eropa yang mencari kehidupan di sini sebagai kolonis. Kami mendapat pinjaman satu ton dan tanah itu dibagi menjadi 11 bidang tanah sewa selama 75 tahun.”

  • Haji Ghalib Transmigran Sukses

    SETELAH berjalan sekitar 20 tahun, kabar transmigrasi dari Jawa ke Lampung menggema di Pulau Jawa. Namun, kabar menarik itu tak langsung berhasil menarik orang-orang Jawa untuk mengikuti jejak para saudaranya di Sumatra. Kebanyakan orang Jawa takut menyebrangi lautan. Ghalib termasuk dari sedikit orang Jawa yang tidak takut menyeberangi lautan. Maka, dengan sukarela santri yang pernah berguru di Jombang, Jawa Timur ini menyeberangi lautan pada tahun 1920-an demi menggapai hidup yang lebih baik di Lampung. Usai menyeberangi Selat Sunda dengan Anak Krakataunya yang masih aktif, Ghalib akhirnya tiba di Lampung. Di sana dia lalu mengelola sawahnya. Sawahnya yang tadinya hanya menghasilkan padi untuk menghidupinya dan keluarganya, terus meluas. Hasil yang didapatnya pun lebih dari sekadar untuk mengenyangkan perut.

  • Gedong Tataan Lokasi Transmigrasi Pertama

    SEBELUM banyak orang Jawa mendatanginya, daerah ini sudah bernama Gedong Tataan. Sejak 1905, nama Gedong Tataan mulai disebut-sebut di koran-koran Hindia Belanda karena adanya kolonisatie (kolonisasi) atau kini disebut transmigrasi, dengan para pelakunya disebut kolonis. Setelah Trias Politik mulai dianut, pemerintah Hindia Belanda terpikir untuk membangun “koloni” Jawa di Lampung. Transmigrasi sendiri bagian dari Politik Etis yang –penerapannya bertolak dari Trias Politik– dijalankan pemerintah kolonial. Jawa sudah terlalu penuh dengan perkebunan, industri, dan ladang sehingga persawahan untuk rakyat harus dicari lagi. Persiapan pembukaan “koloni” dilakukan sebelum pendatang dari Jawa tiba. Pada 1904, Gedong Tataan dipilih sebagai daerah sasaran. Soerabaijasch Handelsblad, 14 Mei 1907, menulis, sejak 12 Mei 1905 dua mantri dari Jawatan Pengairan dan ahli ukur dikirim ke sana untuk memeriksa. Mereka memetakan daerah yang hendak dijadikan ladang dan permukiman. Setelah keluar kajian yang dilakukan HG Heijting, mantan asisten residen Sukabumi, pemerintah mengeluarkan Goverment Besluit 19 Oktober 1905 nomor 46.

  • Demi Minyak Pasukan Khusus Dikirim Ke Jambi

    CORNELIS Plaatzer masih berusia 20 tahun ketika mendaftar jadi relawan Angkatan Darat Kerajaan Belanda (Koninklijk Landmacht/KL) tak lama usai Perang Dunia II. Pemuda asal Putten, Belanda ini kemudian dikirim ke Indonesia yang baru merdeka guna mengembalikan kontrol Belanda yang lepas usai dikalahkan Jepang. Belanda harus menjalani perang melawan Indonesia demi merebut kembali wilayah yang dulu disebutnya Hindia Belanda itu. Cornelis Plaatzer datang ke Indonesia sebagai bagian dari Batalyon 2 Resimen 9 KL. Dia lalu terpilih masuk pasukan khusus penerjun payung berbaret merah. Akhir tahun 1948, dia tinggal di sekitar Bandung, dalam sebuah barak tentara. Kesatuannya adalah kompi para dari Regimen Special Troepen (RST), dia salah satu pasukan terjun. Pada 20 Agustus 1948, anak dari Jan Plaatzer dan Jannetje Kool ini mendapat pangkat kopral sementara.

  • Dara Puspita, The Beatles Perempuan

    WAKTU pulang tiba juga. “Jakarta sudah dekat,” batin Titiek Hamzah, gitaris dan vokalis utama Dara Puspita, ketika pesawatnya transit di Singapura. Dia sudah lama berpisah dengan ibunya hampir tiga setengah tahun. Saat di bandar udara Singapura, dia menelepon ibunya agar tak usah menjemput ke Kemayoran, Jakarta. “Sudah malam,” Titiek beralasan. Sang ibu menolak permintaan itu. Dia berangkat menuju bandara Kemayoran. Di sana riuh. Ratusan orang menunggu kedatangan Dara Puspita. Petugas bandara mengumumkan pesawat mereka sudah berangkat dari Singapura. Tak lama, pesawat tiba di Kemayoran. Keharuan meruap. Titiek memeluk ibunya. Penggemarnya merubung. Bergantian memeluk Titiek karena kangen. Namanya dielu-elukan. Perlakuan serupa juga diberikan kepada tiga personel Dara Puspita lainnya: kakak-adik Titiek Adjie Rachman dan Lies Adjie Rachman, serta Susi Nander.

  • Kasus Penipuan Buku Harian Adolf Hiltler

    ADOLF Hitler dikenal sebagai diktator paling tersohor di dunia. Meski Sang Führer penjahat perang, tetapi tak sedikit orang Jerman yang mengaguminya dan ingin mengetahui kehidupan pribadinya. Hal ini dimanfaatkan Konrad Kujau untuk mengeruk keuntungan melalui pemalsuan benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Adolf Hitler. Konrad Kujau lahir pada 1938 di Löbau, Jerman dari keluarga miskin. Ayahnya, Richard Kujau, merupakan seorang pembuat sepatu. Keluarga Kujau dikenal sebagai simpatisan Nazi, hal ini terlihat dari aktivitas Richard yang telah menjadi pendukung aktif Nazi sejak tahun 1933. Keyakinan ini menular kepada putranya, Conny, sapaan akrab Konrad, yang tumbuh dengan mengidolakan Adolf Hitler. Sejarawan Robert C. Williams menulis dalam The Forensic Historian, pada Juni 1957, Konrad melarikan diri dari Jerman Timur dan menetap di Berlin Barat. Ia kemudian tinggal di serangkaian kamp pengungsian dan tempat penampungan tunawisma di Jerman Barat. Dia memulai kariernya sebagai tukang kunci, pelukis, pekerja konstruksi dan pelayan, tetapi semua pekerjaan itu tak lama dijalankannya.

  • Ayah Chairil Anwar Dieksekusi Tentara Belanda dalam Pembantaian Rengat

    Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir Kami sekarang mayat Berilah kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi. Penggalan sajak berjudul “Krawang-Bekasi” di atas adalah karya sastrawan Chairil Anwar. Ditulis pada 1948, ketika perang mempertahankan kemerdekaan antara Indonesia dan Belanda tengah memuncak. Lewat puisi-puisi gubahannya, Chairil ikut menyalakan semangat heroisme para pejuang.

  • Menggali Peninggalan Kerajaan Sunda Kuno

    TAK banyak peninggalan arkeologis dari masa Kerajaan Sunda Kuno yang bisa disaksikan. Padahal, kerajaan ini diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-7 hingga abad ke-16 seiring kejatuhan Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-7 M. “Sedikit data yang ditinggalkan oleh Kerajaan Sunda sebelum abad ke-13 M,” tulis Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Siliwangi, Sejarah, dan Budaya Sunda Kuno. Dalam Tatar Sunda Masa Silam, Agus menyebut peninggalan berupa monumen atau bangunan belum dapat diketahui dengan lebih baik. Di Jawa bagian barat memang dijumpai banyak struktur atau monumen kuno. Namun, bangunan-bangun itu selalu dihubungkan dengan zaman yang lebih tua sebelum Kerajaan Sunda.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page