top of page

Hasil pencarian

9915 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Operasi Batavia dan Ingatan Kemudian

    BERTOPI hitam dan t-shirt warna senada bertuliskan “Ambon Manise, Malintang Pata Pele Putus”, seniman berambut putih itu duduk tenang di barisan tengah kursi penonton di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Sambil menggenggam berlembar-lembar naskah, sesekali lelaki itu berbisik pada rekan seniman di sebelahnya kala memperhatikan para pemainnya di atas panggung. “Alex! Alex!” seru Anis de Jong, lelaki tadi, memerintahkan seorang pemainnya untuk merendahkan posisi bertumpu pada lututnya di satu adegan. Adegan itu menampilkan tokoh utama yang berpakaian lusuh, Moses, yang diperankan Alex Lekatompessy, terpaku mendengar sejoli pemeran Raja Willem dan Ratu Máxima memberi pernyataan permintaan maaf kepada bangsa Indonesia atas kekerasan Belanda di masa kolonial dan Perang Kemerdekaan Indonesia. Pun di beberapa babakan lain, Anis sebagai sutradara menginstruksikan dalam bahasa Belanda bahwa ada satu atau dua pemainnya yang lupa blocking atau menempatkan properti.

  • Operasi Khusus Subyakto

    KAPAL selam K-15 milik Koninklijk Marine (KM) atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda merapat di Tanjung Priok, Jakarta pada September 1945. Seorang awaknya memutuskan keluar untuk bergabung dengan Republik Indonesia yang baru merdeka. “Subyakto pergi setibanya di Tanjung Priok (Jakarta) September 1945,” kata Aart Hopman, perwira muda di K-15 dalam majalah Klaar voor Onderwater No. 117 tahun 2011. Letnan Laut Kelas Tiga R. Subyakto dan Perwira Administrasi Kelas Dua Washington Siahaan resmi keluar dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda terhitung sejak 1 Januari 1947 berdasarkan Koninklijk Besluit van 16 Januari 1947 No. 25, sebagaimana diwartakan koran Nederlandsche Staatscourant, 7 Maret 1947. Keduanya diterima oleh Republik Indonesia yang butuh banyak tenaga pendukung di bidang militer.

  • Cerita Sukabumi Saat Agresi

    SEBAGAI anak-anak, Hetty Kabir masih ingat situasi di Sukabumi pada 26 Juli 1947. Perempuan kelahiran tahun 1937 tersebut melukiskan bagaimana pagi itu belasan pesawat terbang melayang-layang di atas kota sambil melepaskan bom-bom yang menghancurkan beberapa tempat strategis. “Salah satunya Stasiun Kereta Api Sukabumi yang langsung porak poranda terkena bom Belanda,” kenang putri Mayor Harun Kabir, salah seorang perwira Divisi Siliwangi. Sadar akan bahaya mengancam, siang itu juga sebagian besar masyarakat Sukabumi mengungsi ke luar kota. Sementara itu, kekuatan Brigade Surjakantjana yang menjadi penanggung jawab kemananan wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur alih-alih melakukan perlawanan, mereka terpaksa mundur ke arah Nyalindung. Di kota yang terletak antara Cianjur dengan Sukabumi tersebut, TNI bekerjasama dengan para pejabat sipil, mereka lantas mendirikan pemerintahan darurat.

  • Anti Klimaks Sebuah Agresi

    IRING-iringan konvoi tentara Belanda itu menemui sialnya di jalan raya menuju Cikajang. Dari lima truk, para gerilyawan Republik hanya menyisakan dua truk yang berhasil kabur ke arah kota Garut dengan korban luka-luka dan beberapa serdadu tewas. Sersan Mayor (Purn) Odoy Soedarja (94) masih ingat, usai pertempuran salah satu kawannya menghampiri seorang serdadu bule yang tengah sekarat dan langsung menghabisi nyawanya dengan sekali tembakan pistol Vickers tepat di kepala. “Sebelum meninggal, anak muda itu masih berteriak-teriak: Mami! Mami!,” kenang eks anggota Batalyon Garuda Hitam tersebut.

  • Wardiman Menyambut Kemerdekaan

    WAKTU tentara Jepang kalah dan Indonesia merdeka, Didi Kartasasmita berusaha mengumpulkan para bekas perwira tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang tersebar di Jawa. Banyak perwira KNIL Jawa yang dikenalnya. Salah satu tujuan Didi adalah Kapten Wardiman Wirjosapoetro di Songgom, perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Tidak sulit bagi Didi menemukannya di sana pada akhir 1945. “Di Songgom saya berhasil menemui Kapten Wardiman. Secara pribadi saya tidak mengenalnya, sebab usia Kapten Wardiman jauh di atas saya. Ketika saya masih berdinas di KNIL, ia sudah pensiun. Kabarnya Kapten Wardiman pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili para pensiunan KNIL. Akan tetap dia sudah lama tidak aktif di kemiliteran. Kapten Wardiman sangat antusias mendengarkan misi saya,” kenang Didi dalam Didi Kartasasmita: Pengabdian Kepada Kemerdekaan. Wardiman sudah 21 tahun absen di dunia militer. Masa dinas Wardiman sebagai perwira di KNIL, menurut catatan Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische Officieren uit het KNIL 1900-1950, dari 1910 hingga 1924 saja. Dia pensiun dini.

  • Doa yang Terkabul

    LAMA tak terlihat, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro masih terlihat bugar di usianya yang nyaris 90 tahun. Dia bercerita banyak hal ketika menyambangi redaksi Historia pada Rabu (13/9/2023) lalu. Termasuk tentang seseorang yang berpengaruh dalam dirinya dan muasal namanya. Selain ayah-ibunya, yakni Moetallip dan Wartinah, kakak dari ibunya yang disapanya Tante Par juga berpengaruh dalam hidup Wardiman. Tiap ibunya hendak melahirkan, kata Wardiman, Tante Par selalu ada membantu meski harus melakukan perjalanan jauh dari tempat asalnya di Purworejo. “Waktu di Madura, waktu ibu saya mulai mengandung, Beliau memanggil budhe saya. Namanya Tante Par. Supaya mendampingilah,” ujar Wardiman mengisahkan detik-detik menjelang dirinya dilahirkan pada 22 Juni 1934.

  • Ketika Wardiman Djojonegoro Dimarahi Bang Ali

    SEWAKTU menjadi Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin lekat dengan predikat pemarah. Emosinya kerap meluap-luap. Tidak jarang umpatan keluar dari tutur lisan gubernur yang akrab disapa Bang Ali ini. “Ali Sadikin jika marah sering mengumpat. Banyak pejabat yang pernah jadi sasarannya, termasuk saya,” kenang Wardiman Djojonegoro dalam memoarnya Sepanjang Jalan Kenangan: Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar. Wardiman pernah menjabat sebagai Kepala Biro Kepala Daerah Pemda DKI Jakarta antara 1966-1979. Selama itu pula, Wardiman mendampingi Ali Sadikin, terutama dalam menangangi tugas-tugas keprotokolan. Wardiman tahu persis bagaimana sikap Bang Ali kalau lagi jengkel bila tugas dan proyek Pemda DKI dijalankan tidak sebagaimana mestinya.

  • Ketika Ali Sadikin dan Hoegeng Menolak Permintaan Bung Karno

    DI puncak kekuasaannya, Presiden Sukarno memiliki serenceng gelar kebesaran. Mulai dari Proklamator Kemerdekaan, Pemimpin Besar Revolusi, hingga Penyambung Lidah Rakyat. Kendati demikian, dengan kuasa yang dimilikinya Bung Karno tidak selalu bisa berbuat sekehendaknya. Apalagi untuk kepentingan keluarganya. Ali Sadikin menjadi salah seorang pejabat yang berani menolak permintaan Sukarno. Pada periode 1964—1966, Ali Sadikin menjabat Menteri Koordinator Urusan Maritim dalam Kabinet Dwikora I. Sebagai menteri dalam kabinet, Ali Sadikin kerap kali berurusan dengan presiden. “Ada yang mengatakan bahwa dulu kemauan dan kehendak Bung Karno tidak bisa dicegah. Pengalaman saya, ya, bisa,” ujar Ali Sadikin dalam Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi yang disusun Ramadhan K.H.

  • Opposing the U.S. Nuclear Bomb Tests

    Nuclear testing took place on a massive scale during the Cold War (1947–1991). This was the result of tensions between the United States (the Western Bloc) and the Soviet Union (the Eastern Bloc), which were competing to develop nuclear weapons as part of their deterrence strategies. As part of the competition in weapons technology development, nuclear tests were conducted by countries such as the United States, the Soviet Union, the United Kingdom, and France in the regions of Asia, Africa, Latin America, and the Pacific. From the late 1940s through the 1950s, these two superpowers—followed by the United Kingdom and France—chose the Pacific region as a testing site because it was considered “remote.” The United States, for example, used the Marshall Islands, specifically Bikini Atoll and Eniwetok Atoll, as testing sites. As a result, between 1946 and 1958, Eniwetok Atoll alone experienced 43 nuclear explosions. Meanwhile, the United Kingdom tested its nuclear weapons in Australia and the Pacific. France, on the other hand, conducted tests in the Sahara and the South Pacific. These regions were turned into “nuclear laboratories” without regard for the safety of local residents. In fact, the impact of the explosions wasn't limited to the test sites alone. Radioactive exposure and the accumulation of hazardous waste posed a threat to much wider areas. The tests at Eniwetok, for example, could affect the environment of Halmahera Island, located approximately 3,800 km to its southwest.

  • Di Balik Kabut Deklarasi Kemerdekaan Palestina

    FISIK Kenan berbeda dari anak-anak Gaza, Palestina, lainnya. Kulit bocah 10 tahun itu putih pucat, rambutnya pirang keemasan. Kesamaannya dengan anak-anak Gaza yang lain, masih ada harapan dalam benak mereka kandati mereka amat terdampak gempuran membabi-buta Israel yang menghancurkan negerinya. “Satu-satunya mimpi saya sekarang adalah agar perang ini berakhir dan agar dunia mengirimkan kami roti,” kata Kenan dalam posting-an Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Dana Amal Anak-Anak UNICEF di akun X-nya, @UNICEF, Rabu (15/11/2023). Pernyataan Kenan mungkin juga mewakili anak-anak Palestina lain, baik di Jalur Gaza maupun di Tepi Barat, tepat di hari kemerdekaan negara itu, 15 November. Serangan tak pandang bulu Israel terhadap negerinya agar segera dihentikan dan bahwa mereka membutuhkan banyak bantuan kemanusiaan.

  • Cerita di Balik Jangkar Raksasa

    DESA Bontosunggu di Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Selayar dikenal pula dengan sebutan Desa Padang. Dikitari laut dan tambak, sejak dulu di desa ini sudah ada jangkar raksasa. Sekitar tahun 1995, dari tepi laut jangkar raksasa itu ditarik lebih jauh ke arah daratan. Warga desa itu mengerahkan 70 laki-laki kuatnya. Mereka menggeser jangkat dengan bantuan kayu penopang. “Satu orang hampir mati,” aku Abdulrachman, warga Bontosunggu yang kini berusia 53 tahun. Abdulrachman merupakan cucu Nurdin Tjoa, warga keturunan Tionghoa di Bontosunggu. Kala upaya pemindahan itu, Nurdin masih hidup. Setelah bekerja dengan susah payah, dua jangkar beserta tiga pucuk meriam kecil pun berpindah dari tempat semula sejauh kira-kira 300 meter. Kini, kelima benda bersejarah itu berada di dalam sebuah museum kecil di Bontosunggu.

  • Tiga Arca Selundupan Dikembalikan ke Indonesia

    JAKSA Wilayah Manhattan Cyrus Vance menyerahkan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) kepada pemerintah Indonesia yang diwakili Konsul Jenderal RI New York Arifi Saiman. Tiga arca perunggu dewa dan dewi itu diterima KJRI New York pada Rabu, 21 Juli 2021. Tiga arca itu berupa arca Siwa berukuran 6 x 4 x 8,25 inci, arca Parvati berukuran 5,5 x 5,4 x 7,5 inci, dan arca Ganesha berukuran 3x 2,5 x 4,5 inci. Pernyataan resmi KJRI New York menyebut estimasi masing-masing arca itu bernilai US$12.857, US$32.273, dan US$41.176. “Artefak yang dipulangkan hari ini adalah bagian dari kekayaan sejarah budaya Indonesia,” kata Peter C. Fitzhugh, Special Agent in Charge dari Homeland Security Investigations (HIS), New York, dalam rilis yang dipublikasikan Manhattan DA’s.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page