Hasil pencarian
Search this site
9997 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Raja Larantuka Melawan Belanda
TAK banyak orang tahu Larantuka. Kecuali, di masa singkat pergantian abad kemarin saat Larantuka dipopulerkan lewat sebuah lagu band rock Boomerang asal Surabaya, yang mengabarkan gempa besar di daerah ujung timur-selatan Pulau Flores itu. Atau, saat Larantuka jadi pemberitaan nasional usai kota kecil itu jadi tempat pengungsian pasca-referendum Timor Timur. Tentu, tak banyak orang tahu bahwa Larantuka dulunya merupakan kerajaan Kristen. Larantuka punya kerajaan yang terpengaruh Portugis. Gelar raja-rajanya seperti penguasa Portugis, memakai gelar Don. Portugis pernah menguasai wilayah ini. Koehuan dkk. dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Nusa Tenggara Timur menyebut, pada 20 April 1859 Portugis menyerahkan wilayah Flores, termasuk Larantuka di dalamnya, kepada Belanda.
- Siapa Liang Tjiu Sia?
AKTRIS cantik Jenny Zhang Wiradinata mengaku tahu betul siapa Susi Susanti. Namun sebagaimana publik kebanyakan, dia tak tahu siapa orang di balik kesuksesan Susi. “Saya tahu Susi Susanti tapi enggak tahu pelatihnya siapa,” kata Jenny kepada Historia saat konferensi pers peluncuran trailer filmnya di XXI Metropole, Cikini, Rabu (18/9/2019). Jenny mengakui baru mengenal nama Liang Tjiu Sia (kadang dieja Liang Chiu Hsia/Liang Qiuxia), pelatih yang sukses mengantarkan Susi merebut medali emas badminton putri di Olimpiade 1992, saat menerima tawaran untuk memerankan sang pelatih di film biopik Susi Susanti: Love All. “Jujur enggak banyak info yang saya dapat tentang dia di media-media,” sambungnya. Dari keterlibatannya dalm film inilah ia bisa mendalami karakternya dan sedikit-banyak jadi paham keresahan sang pelatih terkait kebijakan diskriminatif era Orde Baru. “Dengan menerima peran ini saya juga bisa ketemu dan dapat cerita langsung. Menjadi suatu kebanggaan buat saya berperan menjadi sosok pelatihnya Susi Susanti,” ujarnya.
- Tuntutlah Kiprah sampai ke Negeri Cina
MATANYA masih awas. Gerakan para anak didiknya yang tak sesuai instruksinya akan langsung tertangkap olehnya. Kalau sudah begitu, dia buru-buru ke tengah lapangan untuk mengoreksi dan menyampaikan ulang instruksi. Begitulah kesibukan Liang Tjiu Sia saat menerima Historia di lapangan Pola Bugar Sport Club, Kedoya, 25 September 2019. Di masa senjanya, Liang Tjiu Sia kini sekadar melatih privat. Kendati matanya masih awas, kondisi kesehatannya menurun terutama sejak menjalani operasi kanker payudara pada 2015. Usia juga mempengaruhi daya ingatnya. Terlebih jika mengingat hal yang berkaitan dengan angka. Soal kapan dia mendapatkan kewarganegaraan, misalnya. “Aduh, kapan ya. Sudah lama banget soalnya. Nanti saya cek dokumen di rumah,” katanya kepada Historia.ID.
- Jurnalisme Kepiting Jakob Oetama
JAKOB Oetama masih bekerja di majalah Penabur, mingguan berhaluan Katolik, ketika pertama kali jumpa dengan Petrus Kanisius Ojong. Perkenalan mereka terjadi pada 1958. Jakob mengenal Ojong sebagai pemimpin redaksi majalah bermutu dan populer Star Weekly. Jakob datang berguru kepada Ojong. “Ketika terbetik berita Star Weekly akan ditutup, ia mendekati saya, apakah bersedia meneruskannya. Ia sempat ke Yogya, kami bersama menyaksikan Sendratari Ramayana di Prambanan,” tutur Jakob dalam Kompas, 2 Juni 1980. Jakob saat itu sedang menyelesaikan studi tahun terakhir pada Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada. Ojong lebih tua 11 tahun dari Jakob. Namun, mereka nyambung dalam bertukar pikiran karena sama-sama berlatar belakang sebagai guru. Pada awal 1960, Ojong sering bertemu dengan Jakob dalam gerakan asimilasi. Kemudian, mereka juga duduk dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Pada 1963, Ojong dan Jakob mendirikan majalah ilmu pengetahuan Intisari.
- Lomba Bercocok Tanam di Masa Silam
ISU ketahanan pangan akan selalu aktual dalam beberapa dekade mendatang. Lahan pertanian penghasil bahan makanan semakin berkurang. Sementara, populasi manusia terus bertambah. Jika hal ini dibiarkan, maka yang terjadi adalah krisis pangan. Di Indonesia, isu ketahanan pangan jadi persoalan hangat belakangan ini. Proyek food estate (lumbung pangan) pemerintah yang memakan biaya dan lahan besar, sampai saat ini masih belum menuai hasil signifikan. Targetnya memang untuk jangka panjang. Namun, sejumlah pihak, entah itu politisi, pengamat, maupun aktivis lingkungan, kadung menilainya sebagai proyek gagal. Di masa mendatang, proyek lumbung pangan ini tetap diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri.
- Residen Lampung Pertama Diturunkan Rakyat
PADA 9 September 1946, sekitar 15.000 orang turun ke jalan mendesak Residen Lampung pertama, Mr. Abdul Abbas melepaskan jabatannya. Ia hanya menjabat sekitar setahun. Abdul Abbas lahir di Binjai, Sumatra Utara pada 11 Agustus 1906. Setelah menamatkan pendidikan Recht Hogeschool (RHS) atau Sekolah Tinggi Hukum di Batavia pada 1938, ia melanjutkan studi hukum ke Universitas Leiden, Belanda. Sekembalinya ke Indonesia, ia bekerja sebagai pengacara di Lampung dan menjadi tokoh Parindra (Partai Indonesia Raya). Pada masa pendudukan Jepang, Abdul Abbas menjadi ketua Shu Sangi Kai, semacam dewan penasihat yang dibentuk Jepang di setiap keresidenan. Menyusul kekalahan Jepang pada 15 Agustus 1945, Komando Tantara ke-25 memilih tiga wakil Sumatra, yaitu Mr. Teuku Mohammad Hasan, Abdul Abbas, dan dr. Mohammad Amir, untuk mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta.
- Anjangsana Ahmad Subardjo di Negeri Persia
IRAN sebagai pewaris Peradaban Persia kembali jadi tolok ukur pendidikan Islam secara menyeluruh dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES). Negeri yang sedang dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel itu mampu bertahan berkat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. “Muslim Persia sudah menunaikan tugas kesejarahannya mengembangkan ilmu pengetahuan dan filsafat. Maka mungkin inilah saatnya atau paling lama abad depan, adalah giliran Muslim Asia Tenggara,” ujar cendekiawan Din Syamsuddin dalam sambutannya pada gala dinner GIHES di Jakarta, sebagaimana disiarkan akun Youtube gontortv, Sabtu (6/9/2026). Tokoh pendidikan dari Muhammadiyah itu merujuk pada sejarah masa keemasan Islam (abad ke-8-abad ke-14). Persia sendiri melahirkan banyak tokoh yang sampai sekarang masih jadi rujukan sampai ke negeri-negeri Barat. Di antaranya matematikawan Muhammad bin Musa al-Khwarizmi (780-850 Masehi) yang acap disebut “Bapak Aljabar” dan namanya diabadikan untuk “algoritma”. Lalu, Ibnu Sina (980-1037 Masehi) yang jadi pionir kesehatan modern. Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Muhammad Jusuf Kalla yang turut memberi sambutan di momen yang sama, mengamininya. Sosok yang akrab dengan sebutan JK itu merajut era keemasan itu dengan kondisi Iran sekarang yang pendidikan Islamnya tak melupakan pengembangan teknologi. Alhasil, Iran tak jua bertekuk lutut di hadapan AS yang terus menyerangnya sejak Februari 2026 meskipun banyak pemimpinnya gugur, termasuk Ayatollah Ali Khamenei. “Kita belajar dari Iran. Kenapa Iran bisa mengalahkan Amerika? Karena Persia meningkatkan ilmu pengetahuan teknologinya. Seperti Pak Din tadi sampaikan. Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, dari Iran. Sekiranya dia (Iran) tidak menguasai teknologi, memalukan benar umat ini. Untung ada Iran yang memperbaiki muka kita di kalangan Amerika. Lepas dia Syiah atau tidak. Bukan itu. Dia pertaruhkan semangatnya dan teknologinya dan tangannya untuk melawan kebiadaban (Presiden AS, Donald) Trump,” cetus JK. Iran sejak 1940-an sudah dirundung konflik meskipun modernisasinya yang diikuti pengembangan teknologi terus berjalan. Terutama di masa Mohammad Reza Pahlavi menjadi Shah Iran (1941-1979) menggantikan ayahnya, Reza Shah Pahlavi. Modernisasi Iran pada 1950-an disaksikan langsung oleh Ahmad Subardjo, menteri luar negeri Indonesia pertama, ketika ia mengunjungi Persia pada musim gugur 1952. Ahmad Subardjo (duduk, ketiga dari kanan) dalam jamuan di Kemenlu Iran (Repro: Kesadaran Nasional) Iran dalam Pengamatan Ahmad Subardjo Ahmad Subardjo mengalami reshuffle Kabinet Sukiman-Suwirjo (27 April-23 Februari 1952) dan mesti meletakkan jabatannya sebagai menteri luar negeri (menlu) pada 3 Februari 1952. Penyebabnya, ia menandatangani Mutual Security Act dengan AS. Ia kemudian digantikan Mr. Wilopo sebagai menlu ad-interim. Saat ditemui Historia.ID pada awal Agustus 2026, Hutomo Said Effendi, cucu Ahmad Subardjo, membantah Subardjo menandatangani MSA secara diam-diam dan menganggap kakeknya ditumbalkan pemerintah. Kabinet Sukiman sendiri jatuh 20 hari setelah Subardjo meletakkan jabatan sebagai menlu. “Enggak mungkin tanda tangan kerjasama dengan Amerika (tapi) kabinetnya enggak tahu apa-apa. Akhirnya Pak Subardjo mengundurkan diri tapi kabinetnya sendiri ikutan jatuh kan,” ujar Hutomo. Pada September 1952, ketika Kemenlu dipimpin Moekarto Notowidigdo, Subardjo mendapat tugas baru sebagai penasihat menlu sekaligus utusan resmi Kemenlu untuk menjalani tur ke negara-negara sahabat di Asia Barat, utamanya negara-negara Arab. “Ia pernah diutus pemerintah RI ke negara Timur Tengah dalam rangka misi persahabatan. Negara Mesir adalah tujuan Subardjo (yang pertama) karena Mesir adalah negara yang pertama sekali mengakui secara de facto Republik Indonesia. Setelah Mesir, Subardjo mengunjungi Turki, Arab Saudi, Libanon, Syria, Jordania, Iran, Irak, dan Jerusalem (Palestina, red.). Perjalanan ke wilayah Timur Tengah selain membawa misi persahabatan, ia juga mendapat berbagai pengalaman yang cukup berharga,” tulis Zulfikar Ghazali dkk. dalam Tokoh Pemikir Paham Kebangsaan: Prawoto Mangkusasmito, Wilopo, Ahmad Subarjo. Menlu Iran Hossein Fatemi (kiri) saat berbincang dengan Ahmad Subardjo (Repro: Kesadaran Nasional) Iran jadi salah satu negara yang wajib dikunjungi. Negeri para mullah itu mengakui kedaulatan RI pada Juli 1950. Setelahnya, kedua negara sama-sama mendirikan kedutaan besarnya di ibukota masing-masing. Rombongan Subardjo terdiri dari sekretarisnya dan pegawai senior kemenlu Utaryo Suryamihardja. Mereka tiba di Tehran selepas perjalanan dari Damaskus, Suriah. Mereka dijemput Duta Besar RI untuk Iran Dr. Mohammad Rasjidi. “Ia menjemput saya di lapangan udara dan membawa saya ke sebuah hotel di pusat kota Teheran. Saya diberi petunjuk mengenai situasi Iran yang Perdana Menterinya (PM) adalah Dr. Mossadegh. Dr. Roshidi menyarankan hendaknya saya menyampaikan salam kepada Dr. Mossadegh setelah mengadakan pertemuan dengan pejabat-pejabat penting, Menteri Luar Negeri serta pejabat-pejabat tinggi pemerintah lainnya,” kenang Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional. Selain PM Mohammad Mosaddegh, para tokoh dan pejabat yang ditemui Subardjo antara lain Menlu Hossein Fatemi dan Ketua Parlemen Iran Sayyed Abu al-Qasem Kashani. Klimaksnya Subardjo mengadakan pertemuan dengan sang Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi. Beberapa bulan sebelum Subardjo berada di Iran, turbulensi politik melanda Iran yang klimaksnya pada Gerakan 21 Juli (1952). Penyebabnya adalah penolakan Shah Reza soal kewenangan militer diserahkan kepada PM Mosaddegh. Friksinya berlanjut ketika Mosaddegh mengundurkan diri. Ketua Parlemen Iran, Abu al-Qasem Kashani (kanan) yang turut ditemui Ahmad Subardjo (Repro: Kesadaran Nasional) Kashani turut menggalang aksi demonstrasi massa besar-besaran untuk menentang PM baru yang dianggap pro-Inggris, Ahmad Qavam. Inggris dan Iran saat itu masih bersengketa soal kebijakan nasionalisasi minyak Iran pada 1951 yang dilakukan Mosaddegh. “Ketegangan yang memuncak berakar dari kebangkitan sentimen nasionalisme. Mossadegh yang figur populer, jadi ujung tombak nasionalisasi industri minyak Iran pada 1951. Kebijakan ini ditentang entitas Inggris, Anglo-Iranian Oil Company. Demonstrasi publik, seperti Gerakan Juli 1952, lantang mendukung penentangan Mossadegh (terhadap Inggris),” tulis Shahab Hashtroudi dalam Legacy of a Shooting Star: Beyond Alcatraz. Di ambang kekacauan, Shah Reza akhirnya mendesak pengunduran diri Qavam. Mosaddegh lantas ditunjuk Shah Reza lagi untuk. membentuk pemerintahan baru dengan kewenangan militer di tangan Mosaddegh. “Sesungguhnya, saya sangat ingin bertemu dengan Dr. Mossadegh, yang telah menciptakan peristiwa sejarah berdasarkan kebijaksanaan-kebijaksanaannya yang gagal dalam menasionalisir Perusahaan Minyak Inggris-Iran yang begitu besar. Tindakan politik di dalam ruang lingkup situasi dunia yang berjalan pada waktu itu pada umumnya, dan hubungannya dengan situasi politik yang kemelut di Iran khususnya. Duta Besar Haji Roshidi menerangkan kepada saya bahwa hubungan antara Kepala Negara Iran dan Perdana Menteri Mossadegh berada dalam keadaan genting. Mereka tidak menyukai satu sama lain,” sambung Subardjo. Setelah disambut dan diterima Menlu Fatemi dan para pejabat Iran lain, agenda Subardjo adalah mengujungi Shah Reza terlebih dulu. Didampingi Dubes Rasjidi, Subardjo akhirnya diterima di sebuah kompleks istana tua di Tehran. Dalam otobiografinya, Subardjo hanya menyebut istananya punya lorong taman sepanjang 500 meter dengan tangga besar dengan pola klasik Prancis. Istana yang memiliki deskripsi itu tak lain adalah Istana Golestan, yang muasalnya bisa dilacak dari era Dinasti Timuriyah di abad ke-15. “Shahanshah menyampaikan rasa kepuasannya atas kunjungan kami ke Iran karena, demikian Shahanshah, melihat negeri Iran dengan mata kepala sendiri dan berhubungan langsung dengan rakyat adalah lebih baik daripada mengetahui negeri Iran dari buku-buku. Rupanya Sri Baginda Raja mengetahui secara mendalam bahwa saya adalah seorang penandatangan dari Perjanjian Perdamaian Jepang di San Francisco pada September 1951,” imbuhnya. Kehangatan pertemuan dengan PM Mohammad Mosaddegh (kanan) di tengah kunjungan Ahmad Subardjo (tengah) ke Iran pada September 1952 (Repro: Kesadaran Nasional) Setelahnya, Subardjo ditemani Rasjidi bersilaturahim ke kediaman PM Mosaddegh. Saat berbincang tentang ketertarikan perkembangan Indonesia pasca-Penyerahan Kedaulatan 1949, ketiganya beramah-tamah menggunakan bahasa Prancis. Mosaddegh pernah kuliah ilmu politik di Institut d’études politiques de Paris dan ilmu hukum di Université de Neuchâtel di Swiss. “Mossadegh juga mengajak melancong ke daerah perbatasan kota Teheran, terutama ke bagian Utara, ke tempat tanaman teh yang luas dekat Laut Kaspia,” tambah Subardjo. Subardjo menyayangkan Mosaddegh kembali didongkel dalam Kudeta Iran 1953. Meski kemudian Shah Reza memacu pembaharuan di berbagai bidang, Iran sejak saat itu lebih pro-Inggris dan AS. “Modernisasi Iran tidak bisa lepas dari kebijaksanaan Shah. Cara berpikirnya yang orisinil dan intuitif serta di atas segalanya ialah perangai keagamaannya sebagai seorang Muslim dan merupakan faktor penjunjang bagi Iran untuk mencapai kemajuan hanya dalam batas waktu puluhan tahun saja,” lanjutnya. Dari Iran, Subardjo melanjutkan perjalanan ke Irak, lantas Samarkand di Uzbekistan. Itu bukan satu-satunya kunjungan Subardjo ke Iran. Pada perayaan 2.500 tahun Kekaisaran Persia yang digelar secara mewah pada 12-16 Oktober 1971, Subardjo turut hadir sebagai undangan dan kembali bersua dengan Shah Reza. “Ya, ikut hadir diundang 2.500 tahun Iran, Pak Subardjo datang juga sama istri (R.A. Pudji Astuti),” tandas Hutomo.
- PON di Masa Perang
DALAM suatu upacara di Istana Kepresidenan Yogyakarta (Gedung Agung), Presiden Sukarno menyerahkan bendera Pekan Olahraga Nasional (PON). Barisan pembawa bendera PON dan bendera Merah Putih kemudian membawanya dengan jalan beranting menuju Solo. Sesampai di Solo, rombongan pembawa bendera disambut GPH Soerio Hamidjojo, ketua penyelenggara PON I. Keesokan harinya, 9 September 1948, barisan pembawa bendera tiba di Stadion Sriwedari, tempat upacara pembukaan PON I. Kendati di tengah situasi genting, upacara pembukaan berlangsung meriah. Sejumlah tamu penting hadir seperti Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sri Susuhunan Pakubuwono XI, dan Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman.
- Ahmad Subardjo di Palestina
ORGANISASI Kerja Sama Islam (OKI) mengeluarkan dua resolusi dalam Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri Luar Biasa ke-23 di Jeddah, Arab Saudi, pada 27 Agustus 2026. Salah satunya masih menyangkut Palestina. Indonesia punya ekspektasi lebih dari sekadar seruan dan kecaman semata. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta, yang turut menghadiri konferensi itu. Terorisme Israel lewat ekspansi dibarengi tindak kekerasan dan pembunuhan warga Palestina di Tepi Barat oleh para pemukim ilegal takkan berhenti hanya dengan seruan dan kecaman, ujarnya. “OKI harus mampu membangun wibawa organisasi, tidak dengan kecaman dan pernyataan tetapi melalui aksi nyata dan berkelanjutan. OKI harus memaksimalkan kemampuan dan mekanismenya untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas berbagai kejahatannya serta mengkategorikan tindakan kekerasan para pemukim ilegal sebagai aksi terorisme,” ungkap Anis seperti dimuat di laman resmi Kemlu RI, 27 Agustus 2026.
- Semaoen Pelopor Gerakan Buruh
KOTA Semarang menyimpan banyak catatan sejarah tentang ketokohan Semaoen. Kendati lahir di Jombang dan bertumbuh di Surabaya, Jawa Timur, Semaoen meninggalkan jejak pergerakan di Semarang, Jawa Tengah. Pada 1917, Semaoen menjadi ketua Sarekat Islam cabang Semarang. Sejak itu, reputasinya sebagai aktivis pergerakan dan propagandis serikat buruh mulai diperhitungkan pemerintah kolonial. Menurut sejarawan dari Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang, Rukardi Achmadi, ada beberapa tempat yang pernah ditinggali dan disinggahi Semaoen. Salah satunya rumah Semaoen di Kampung Suburan yang sempat ditumpangi Tan Malaka. Selain itu, gedung Sarekat Islam (SI) Semarang dan kantor pusat Serikat Buruh Kereta Api dan Trem (VSTP) juga lekat dengan Semaoen. “Ada lagi bekas kantor PKI di Tegalwareng, tapi sampai sekarang keberadaannya belum terlacak,” terang Rukardi kepada Historia.ID. “Kalau yang masih asli ya gedung SI dan eks kantor VSTP.”
- Akhir Tragis Sahabat Marie Antoinette
KEMARAHAN rakyat Prancis yang berujung pada gejolak revolusi tak hanya mengarah kepada Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette. Sejumlah bangsawan lain yang memiliki hubungan dekat dengan pasangan itu juga turut menjadi sasaran massa, salah satunya adalah Putri de Lamballe, teman dan pelayan yang setia kepada Marie Antoinette. Putri de Lamballe lahir di Turin, 8 September 1749, dengan nama Marie Thérèse de Savoie-Carignan, putri Pangeran Louis-Victor de Savoie-Carignan. Dia menikah dengan Louis-Alexandre-Stanislas de Bourbon, Pangeran de Lamballe, putra tunggal bangsawan Duc de Penthièvre. Keduanya masih belia saat pernikahan digelar pada 1767, Pangeran de Lamballe berusia 20 tahun, sedangkan sang pengantin wanita baru akan menginjak umur 18. Nahas, pernikahan ini tak berlangsung lama karena Pangeran de Lamballe meninggal dunia. Antonia Fraser dalam Marie Antoinette: The Journey menyebut pernikahan dengan Pangeran de Lamballe nantinya akan mempengaruhi kedudukan sang putri di Istana Versailles. “Dalam kasus Putri de Lamballe, peringkatnya di istana berasal dari pernikahannya dengan keluarga pangeran yang sah, bukan berdasar pada kelahirannya. Menikah lagi dengan orang yang pangkatnya lebih rendah mungkin akan mengorbankan pangkatnya sendiri,” tulis Fraser.
- Seberg Melawan Arus
KEKANGAN rantai yang membelenggu dirinya ke sebuah kayu membuat pikiran Jean Seberg (diperankan Kristen Stewart) melayang. Seiring mata kamera membidiknya makin dekat, napasnya kian berat. Histeria lantas melandanya kala api mulai membakar dirinya. Itu merupakan ending dari film Saint Joan (1957) yang jadi debut Jean di layar perak. Sineas Benedict Andrews merekonstruksinya sebagai “pintu masuk” political thriller garapannya mengenai sosok sang aktris, Seberg. Andrews seolah ingin mengidentikkan sosok Jean laiknya Joan of Arc yang mulanya dipuja namun akhirnya terbakar oleh keyakinannya sendiri melawan arus di sekitarnya. Alur cerita lalu melompat ke medio Mei 1968 ketika Jean sudah bertransformasi menjadi ikon new wave sinema Prancis. Kini ia siap kembali ke tanah airnya untuk menembus Hollywood. Namun dalam perjalanan di atas pesawat maskapai Pan Am, Jean berkenalan dengan aktivis HAM dan anti-rasisme Hakim Jamal (Anthony Mackie), sepupu mendiang Malcolm X.





















