top of page

Hasil pencarian

9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Membesuk Sejarah Rumah Sakit Fatmawati

    Ibu Fatwamati, istri Presiden Sukarno dalam tugasnya sebagai ibu negara sering blusukan ke tengah masyarakat. Biasanya, Bu Fat –sapaan akrab Fatmawati– mengunjungi permukiman kumuh di kawasan pinggiran Jakarta. Di beberapa kampung yang sanitasi udaranya buruk, Bu Fat menyaksikan betapa banyak anak-anak terserang penyakit paru. Ibu Fat prihatin. Dia pun teringat pada ayahnya, Hasan Din yang juga penderita asma. “Ibu lihat banyak anak terserang TBC. Saat itulah terpikir oleh Ibu, alangkah membantunya jika ada rumah sakit khusus untuk anak-anak penderita TBC,” ujar Satyagraha, Pemimpin Redaksi Berita Minggu  kepada Kadjat Adra’i dalam Suka Duka Fatmawati Sukarno .

  • Sukarno Cemas Bu Fat Hilang di Cipanas

    MESKI kunjungannya ke Amerika Serikat pada 1956 secara umum menyenangkan, Presiden Sukarno menyimpan kegelisahan dalam kunjungan itu. Pasalnya, di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta saat itu Ibu Negara Fatmawati sedang terbaring tak berdaya. Pendarahan hebat membuat Fatmawati harus dioperasi. Beruntung, operasi yang dijalani ibu negara berjalan lancar. Fatmawati pun diizinkan pulang beberapa hari kemudian. Untuk memulihkan kondisinya, Bu Fat, sapaan akrab Fatmawati, berencana tinggal di tempat sejuk dan sepi.

  • Bu Fat Wafat

    FATMAWATI melahirkan anak terakhir pada 13 Januari 1953. Sukarno akan memberinya nama Taufan. Namun, Fatmawati tidak setuju, lebih suka dengan nama Guruh. Anak lelaki kedua setelah Guntur itu pun dinamai Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra. Fatmawati mengalami pendarahan ketika melahirkan Guruh. Oleh karena itu, dokter menyarankan sebaiknya Fatmawati tidak punya anak lagi karena berbahaya. “Sering saya kemudian ingat, betapa menderitanya Bu Fat. Beliau berhasil lolos dari risiko kematian akibat melahirkan, namun segera memasuki dunia penuh kepedihan dan kepahitan ketika rumah tangganya dirusak oleh sesama kaumnya,” kata Meutia Farida Hatta Swasono, putri Bung Hatta, dalam pengantar buku Suka Duka Fatmawati Sukarno  karya Kadjat Adra’i.

  • Fatmawati Suka Memasak

    DI suatu siang, wangi harum makanan tercium ke seantero ruangan di kediaman Fatmawati di Cilandak V No. 10, Jakarta Selatan. Ibu negara pertama itu tampak sibuk menyiapkan berbagai makanan. Orang-orang terdekat mengenal Fatmawati suka memasak. Siapa yang telah mencicipi masakannya tak ragu untuk memuji kelezatannya. Fatmawati senang memasak sejak muda. Memasak menjadi pelajaran tambahan yang didapatnya di sekolah HIS Muhammadiyah di Bukit Kecil, Palembang. “Di sekolah itu pula untuk pertama kali aku mendapat pelajaran membuat kroket, sup, bistik, ketupat, dan hutspot ,” kata Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno .

  • Seabad First Lady Fatmawati

    SEABAD lalu, 5 Februari 1923, Fatmawati lahir dengan nama Fatimah dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah. Walaupun ia seorang wanita biasa dari suatu desa di Bengkulu, tapi ia memiliki semangat yang tinggi. Dimulai sejak remaja, ia sudah terjun ke masyarakat. Ia berkumpul bersama kaum wanita; remaja, anak-anak muda, dan ibu-ibu dari organisasi wanita Aisyiyah, karena ayahnya adalah pendiri Muhammadiyah di Bengkulu. Fatmawati suka mambaca buku terutama buku-buku sejarah perjuangan wanita. Ia juga pernah menjadi guru pada masa pendudukan Jepang. Setelah hubungan penguasa Jepang dengan Muhammadiyah membaik, berkat usaha seorang Tionghoa muslim, Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Fatmawati mengajar di sekolah Muallimat Muhammadiyah yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

  • Demam Telenovela di Indonesia

    ADA satu masa ketika lagu-lagu original soundtrack  Amerika Latin begitu digandrungi di Indonesia. Anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah pun ikutan mendendangkan potongan liriknya. Generasi pada zaman itu tentu masih ingat dengan intro dan penggalan lagu ini. Marimar... (diikuti teriakan) Aww! Costenita soy. (Marimar... Aww! Aku gadis pesisir pantai). Atau, Ay, amor, ay, amor, aquí está tu Rosalinda/ Rosalinda ay amor... ay amor ! (Oh sayang, oh sayang inilah Rosalinda-mu/ Rosalinda oh sayang... oh sayang!) Marimar  dan Rosalinda  adalah dua judul serial telenovela yang dibintangi artis dan penyanyi asal Meksiko Thalia Sodi Miranda. Kedua telenovela ini diproduksi oleh Televisa, rumah produksi telenovela Meksiko. Marimar tayang pada 1994 sedangkan Rosalinda pada 1999. Thalia lebih dulu membintangi serial Maria Mercedes , juga produksi Televisa, yang tayang pada 1992. Ketika Maria   Mercedes , Marimar , dan Rosalinda  tayang di Indonesia pada pertengahan 1990-an, pesona Thalia begitu memikat penonton Indonesia.

  • Tentang Tiga Tokoh Pemberontakan Kapal De Zeven Provincien

    MARTIN Marseha Paradja, salah satu tokoh pemberontakan kapal De Zeven Provincien , merupakan putra seorang pendeta di Timor yang berasal dari Pulau Sabu. Walaupun dia berasal dari keluarga terdidik, tapi tidak terlepas dari sejarah kampungnya di Messara, satu-satunya kampung yang berperang dengan Belanda pada 1905 di bawah pimpinan Mola Mone. “Agaknya sisa-sisa kebencian pada Belanda itu sudah tertanam sejak masa kecil, walau dia sendiri bekerja di Angkatan Laut Belanda,” kata Peter A. Rohi.

  • De Zeven Provincien Kapal Hukuman

    KAPAL perang De Zeven Provincien dibangun pada 1908 dan mulai digunakan dua tahun kemudian. Ia berbobot 6,530 ton, panjang 101,50 meter dan lebar 17,10 meter. Kapal tua ini telah naik dok untuk perbaikan besar-besaran pada 1919 dan 1920. Salah satu kapal terbesar di Hindia Belanda ini dilengkapi persenjataan berat, bahkan meriamnya yang terberat di seluruh Hindia Belanda. Namun, ketepatan tembakannya tak seberapa karena buruknya panel bidik, dan tak memiliki penangkis serangan udara. Kapal berkecepatan sedang ini digunakan sebagai kapal latih. Setelah menempuh pendidikanteori di Pendidikan Dasar Pelaut Pribumi (Kweekschool voor Inlandse Schepelingen atau KIS) di Makassar, para pelaut pribumi mendapatkan pendidikan praktik di kapal ini.

  • Mereka yang Masih Mengenang

    HENING di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta Selatan pecah pagi itu. Sekira 50 orang dari Ikatan Keluarga Nusa Tenggara Timur yang ada di Jakarta berarak menuju petak E-15. Di sana, di tengah barisan nisan dari pahlawan tak dikenal, terdapat satu makam bersama. Pada kepala nisan tertulis: Pahlawan Kapal Tudjuh. Pada makam tersebut terdapat 21 kerangka jenasah korban yang gugur di atas kapal Zeven Provincien , 10 Februari 1933.

  • Kisah Dua Kapal Inaco

    BEBERAPA maskapai pelayaran nasional mengalami kesulitan keuangan pada 1950-an. Bahkan Indonesian Navigation Co (Inaco) bukan hanya dinyatakan pailit oleh pemerintah tapi juga harus dibubarkan.   Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Mr. M. Besar atas nama Menteri Kehakiman dalam suratnya kepada Menteri Pelayaran Komodor ALRI Moh. Nasir tertanggal 30 November 1957. Dia menyebut penyelesaian untuk PT Inaco, yang betul-betul pailit, insolvent (tidak mampu bayar utang): “hanya ada satu kemungkinan, yakni bubar.”  Isi surat Mr. M. Besar dipakai oleh Menteri Pelayaran untuk menjawab pertanyaan dari KH Muslich, anggota DPR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU), mengenai kondisi PT Djakarta Lloyd dan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Nasir menjawab surat KH Muslich pada 30 Oktober 1958 atau lebih dari setahun.

  • Membuka Tirai Panggung Olimpiade Musim Dingin

    GENAP tujuh dekade berlalu, Olimpiade Musim Dingin kembali dihelat di Cortina d’Ampezzo, Italia. Pegunungan indah di selatan Pegunungan Alpen itu pernah jadi host pada 1956. Pada edisi ke-25 yang digelar 6-22 Februari 2026 mendatang, akan banyak diramaikan partisipan debutan. Salah satunya negeri jiran, Singapura. Faiz Basha, atlet ski putra Singapura, mencetak sejarah dengan jadi wakil pertama “Negeri Singa” ke Olimpiade Musim Dingin 2026 di Cortina d’Ampezzo. Ia memastikan diri setelah lolos kualifikasi kategori slalom di cabang ski Alpen, cabang yang lazimnya didominasi atlet-atlet Eropa. “Dan di edisi olimpiade ini kualifikasinya paling sulit dalam sejarah. Maka keberhasilan pencapaian ini adalah hal yang sangat besar bagi saya. (Walaupun) Saya tidak terlalu merasakan tekanan karena saya menganggap (olimpiade) ini selayaknya kompetisi lain seperti yang saya ikuti di China, Turki, Swedia, dan Finlandia,” kata Faiz kepada CNA , 28 Januari 2026. Pencapaian “saudara” dari negeri Jiran itu semestinya bisa jadi motivasi bagi negara-negara tropis di Asia Tenggara lain, termasuk Indonesia, untuk mengukir nama di “peta” olahraga musim dingin yang berpuncak di Olimpiade Musim Dingin. Sebab, negara tetangga lain, Filipina, juga tercatat jadi negara Asia Tenggara pertama yang langganan berpartisipasi sejak 1972 atau Timor-Leste yang sudah hadir sejak 2014. Faiz Basha, atlet Singapura yang lolos ke Olimpiade Musim Dingin 2026 ( olympics.com ) Dari Meksiko hingga Timor-Leste Olimpiade Musim Dingin baru hadir pada 1924 di Chamonix, Prancis. Edisi pertama itu dihelat 28 tahun setelah olimpiade musim panas pertama berlangsung. Inisiatifnya datang dari seorang jenderal veteran Swedia, Viktor Gustaf Balck, yang juga mempelopori ajang olahraga musim dingin pertama bernama Nordic Games pada 1901. Balck sendiri tak hanya anggota lama Komite Olimpiade Internasional (IOC) namun juga kawan dekat pelopor Olimpiade modern, Pierre de Coubertin. “Jenderal Balck percaya olahraga-olahraga musim dingin patut mendapatkan momennya sendiri untuk bersinar meskipun mulanya banyak orang tak setuju dengannya. Nordic Games mungkin bukan ajang global tetapi itu adalah langkah berani pertama. Koneksi Balck dengan Coubertin memainkan peran besar olahraga-olahraga musim dingin mendapatkan pengakuan walau jalannya tidaklah mudah,” tulis James Bren dalam The History of the Winter Olympics. Milestone pertamanya terjadi ketika cabang seluncur indah ( figure skating) ditambahkan sebagai cabang resmi yang dipertandingkan di Olimpiade Musim Panas London 1908. Lalu, pada Olimpiade Musim Panas 1912 di Stockholm, anggota IOC dari Italia Eugenio Brunetta d’Usseaux mengusulkan pekan khusus olahraga musim dingin untuk memancing perhatian lebih besar. Pada Olimpiade Musim Panas 1920 di Antwerp, giliran dua cabang –yakni figure skating dan hoki es– ditambahkan. “Pada 1921, IOC menggelar kongresnya. Salah satu keputusan besarnya untuk Olimpiade Musim Panas berikutnya di Prancis 1924, akan disertai event khusus untuk olahraga-olahraga musim dingin. Ajangnya akan disebut ‘International Winter Sports Week’ yang akan diampu langsung IOC. Kota Chamonix dipilih sebagai tuan rumah ajang baru ini. Ya, meski saat itu belum disebut Olimpiade Musim Dingin, akan tetapi itulah yang jadi ajang pertama resminya. Diikuti 16 negara dengan total 258 atlet –11 di antaranya putri. Mereka bertanding di cabang figure skating , speed skating , curling (gelincir batu), bobsled/bobsleigh (kereta selusur), dan aneka kategori ski,” tambahnya. Ajang di Chamonix itu sukses besar dan mengukir sejarah hingga kelak diakui sebagai Olimpiade Musim Dingin pertama. Maka setahun kemudian IOC memutuskan ajang-ajang olahraga musim dingin harus dipisahkan dari Olimpiade Musim Panas. Hasilnya, sejak 1928 Olimpiade Musim Dingin mendapatkan tempatnya sendiri sebagaimana impian Jenderal Balck. Atlet figure skating Sonja Henie asal Norwegia di Chamonix 1924 ( chamonix.com ) Kendati pada edisi-edisi berikutnya hingga sekarang lazim dihelat di negara-negara Eropa, Amerika Utara, atau negara-negara Asia dengan empat musim seperti Korea dan China, pesta olahraga itu tergolong inklusif. Banyak negara non-empat musim atau tak punya musim dingin pun ikut serta. Meksiko sebagai negara sub-tropis sudah berpartisipasi sejak Olimpiade Musim Dingin 1928 di St. Moritz, Swiss. Mereka tampil hanya dengan lima atlet di cabang bobsled, di mana hasilnya masih sekadar finis ke-11 dari 23 kontingen. Kelak, Meksiko baru ikut lagi di Olimpiade Musim Panas 1984 di Sarajevo. Bolivia jadi negara Amerika Selatan pertama yang tampil di Olimpiade Musim Dingin 1956. Pada edisi berikutnya tahun 1960 giliran Afrika Selatan yang jadi negara Afrika pertama yang berpartisipasi dengan mengirim empat atlet figure skating-nya. “Sepanjang 1960-an angka partisipannya kian bertambah, terlepas dari kondisi iklim, topografi, dan sejarah olahraga musim dinginnya. Meskipun eksistensi para atlet yang mewakilinya pada awalnya datang dari jalan-jalan yang tak biasa. Semisal wakil peratma India, Jeremy Bujakowski aslinya orang Polandia yang orangtuanya menetap di Kalkuta,” sebut David Goldblatt dalam The Games: A Global History of the Olympics. Atau seperti kasus atlet ski Alpin asal Filipina, Ben Nanasca dan sepupunya, Juan Cipriano. Goldblatt mencatat keduanya adalah pencari suaka dan kemudian diadopsi keluarga asal Selandia Baru yang kemudian tinggal di Pegunungan Andorra. Maka Nanasca dan Cipriano jadi dua wakil Filipina pertama yang berpartisipasi di Olimpiade Musim Dingin Sapporo 1972. “Dalam empat Olimpiade Musim Dingin berikutnya, Filipina mengirimkan lima wakilnya – tiga di ski Alpine dan masing-masing satu lainnya di figure skating dan luge (kereta salju). Hasil terbaik mereka diraih pada 1992 ketika atlet ski Alpine Michael Teruel finis di urutan ke-49 dari 119 peserta di event slalom putra,” catat John Grasso, Bill Mallon, dan Jeroen Heimans dalam Historical Dictionary of the Olympic Movement. Pemberitaan tentang tampilnya Ben Nanasca di Sapporo 1972 ( Manila Bulletin , 11 Februari 1972) Kendati begitu para peserta dari negara-negara non-musim dingin itu tampil bukan sekadar “makan angin”. Tak sedikit yang kemudian punya prestasi meski hingga kini belum satupun yang pulang dengan medali di tengah masih dominannya kontingen-kontingen Eropa dan Amerika Utara. Setidaknya kehadiran mereka membuktikan bahwa negara-negara tropis pun mampu bersaing. Termasuk negara-negara kawasan Asia Tenggara. Setelah Filipina, giliran Thailand pertamakali ikut Olimpiade Musim Dingin 2002 di Salt Lake City, Amerika Serikat atas nama atlet ski cross-country, Prawat Nagvajara. Negara tetangga, Malaysia, pun sudah tampil sejak Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, Korea Selatan. Dua atlet yang mewakilinya adalah Julian Yee (figure skating) dan Jeffrey Webb (ski Alpine). Malah negara yang masih muda seperti Timor-Leste sudah menjalani debutnya pada Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing, meski hanya mengirim satu atlet ski Alpine, Yohan Goutt Gonçalves. Bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia sendiri perkembangan olahraga-olahraga musim dingin terbilang lambat. Baru tahun lalu Indonesia debut di Asian Winter Games 2025 di Harbin, China. Pun pada Juni 2025 Indonesia juga baru mendaftarkan diri di ISF atau Federasi Snowboard Internasional untuk cabang snowboarding lewat atletnya, Zazi Betari Landman. “Keanggotaan ini bagian dari strategi besar Indonesia untuk memperluas partisipasi cabang olahraga musim dingin. Kami akan menjadikan ajang olahraga musim dingin sebagai bagian dari strategi pengembangan olahraga nasional. Ini adalah awal dari perjalanan panjang menuju panggung Olimpiade Musim Dingin dan sebagai negara tropis yang mampu berpartisipasi di multievent musim dingin,” kata Harry Warganegara, anggota komite eksekutif Komite Olimpiade Indonesia, dilansir RRI , 21 Juni 2025.

  • Geger Sampai ke Negeri Induk

    PEMBERONTAKAN awak kapal De Zeven Provincien dengan cepat menimbulkan berbagai reaksi, baik di Hindia Belanda maupun di Belanda. Di Batavia, kecaman datang dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda B.C. de Jonge yang dalam pidatonya pada 7 Februari 1933 menyebut aksi para matros kapal perang Hindia Belanda itu sebagai tindakan tak bertanggungjawab.   Pernyataan gubernur jenderal tersebut diamini oleh De Vaderlandse Club , sebuah perkumpulan warga Hindia Belanda beraliran konservatif sekaligus penyelenggara apel kesetiaan di mana de Jonge berpidato. Sebagaimana ditulis oleh Elly Touwen-Bouwsma dalam “Pemberontak atau Perintis Kemerdekaan: Tanggapan Indonesia terhadap Pemberontakan di Kapal De Zeven Provincien”, termuat di buku De Zeven Provincien: Ketika Kelasi Indonesia Berontak  (1933), ribuan penduduk Eropa, pribumi, dan Tionghoa hadir dalam pertemuan di Waterlooplein (kini Lapangan Banteng), Batavia itu.

bottom of page