Hasil pencarian
9658 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Brigitte Bardot yang Kontroversial
JIKA di industri film Hollywood ada Marylin Monroe –Norma Jeane Mortenson– yang jadi ikon sex symbol dunia, perfilman Prancis punya Brigitte Bardot. Keduanya sama-sama kondang pada era yang sama: 1950-an dan 1960-an. Bedanya, Monroe mati muda di usia 36 tahun pada 1962, sedangkan Bardot wafat di usia senja pada usia 91 tahun tak lama setelah Hari Natal, Minggu (28/12/2025). Bardot, ikon perfilman dan penyanyi itu, menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, La Mandrague di Saint-Tropez, Prancis di pangkuan suami keempatnya, Bernard d’Ormale. Terlepas dari kontroversi haluan politiknya di barisan sayap kanan yang anti-imigran, pemilik nama lengkap Brigitte Anne-Marie Bardot itu tetap dihormati, bahkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebutnya sebagai legenda. “Film-filmnya, suaranya. Ketenarannya yang gemilang, kepedihan-kepedihannya, perhatiannya kepada aktivisme hewan, wajahnya yang menjadi (simbol Republik Prancis) Marianne – Brigitte Bardot menginspirasi kehidupan dan kebebasan. Ikon eksistensi Prancis, sinarnya yang universal. Ia menyentuh hati kita. Kita berduka untuk seorang legenda abad ini,” ungkap Macron di akun X-nya, @EmmanuelMacron , Minggu (28/12/2025). Perempuan yang kemudian dikenal dengan inisial BB itu dilahirkan di Paris, 28 September 1934 sebagai anak sulung dari dua bersaudara anak pasangan Insinyur Louis Bardot dan Anne-Marie Mucel. Mereka tumbuh di tengah keluarga Katolik konservatif. Meski tumbuh dengan kekurangan fisik berupa ambliopia di mata kirinya, Bardot kecil sudah masuk dunia seni sebagai balerina ketika Jerman menduduki Prancis semasa Perang Dunia II (1939-1945). Dari panggung balet, di usia 15 tahun Bardot mulai beralih jadi model fesyen bersama majalah Elle dan Les Jardin des Modes, lalu dunia film meski kedua orangtuanya sempat melarangnya. Bardot meniti karier di perfilman sebelum perfilman Prancis dilanda booming “French New Wave”. “Di masa itu Bardot sudah jadi semacam ujung tombak pemberontakan global terhadap kemunafikan global di antara segmen besar para aktris muda. New Wave sendiri baru dimulai pada 1959 namun film-film Bardot sebelumnya juga sudah memberikan dampak lansung terhadap sinema dan kehidupan nyata. Bardot seolah jadi model yang ideal terkait perempuan dengan pemikiran independen,” ungkap Richard Neupert dalam A History of the French New Wave Cinema. Bardot memulai debutnya sebagai figuran lewat film Le Trou Normand (1952). Di film keduanya yang rilis di tahun yang sama, Manina, la fille sans voiles ( Manina, the Girl in the Bikini ), ia sudah jadi pemeran utama. Film tersebut kemudian jadi kontroversial karena saat itu bikini yang mulai populer masih dianggap vulgar dan tabu. Pun ia kembali tampil berani dengan bikininya di film Et Dieu...créa la femme ( And God Created Woman , 1956) Sejak 1952 hingga mundur dari industri perfilman di tahun 1973, total Bardot membintangi 48 film. Salah satu yang paling kondang adalah penampilannya di film Viva Maria! (1965). Di film komedi itu ia beradu akting dengan aktris legendaris Jeanne Moreau. Di film ini, Bardot mendapatkan nominasi aktris asing terbaik di BAFTA Awards 1967. Bardot pensiun dari dunia akting di usia yang relatif muda: 39 tahun. Ia juga mundur dari dunia model setahun setelahnya setelah menjalani sesi foto telanjang pamungkasnya bersama majalah Playboy sekaligus memperingati ulang tahun ke-40. “Pada 28 September nanti saya akan berusia 38 tahun (39, red. ). Jadi saya masih punya dua tahun lagi untuk mempersiapkan kehidupan saya yang lain. Saya sudah menemukan kedamaian dalam alam, di antara binatang-binatang. Saya menyenangi kehidupan para petani dan peternak. Mereka menyenangkan dan tidak munafik,” kata Bardot kepada harian L’Express , dikutip suratkabar Chicago Tribune , 4 Maret 1973. Brigitte Bardot meninggalkan dunia hiburan untuk terjun ke aktivisme lingkungan dan binatang (fondationbrigittebardot.fr) Ikon Fesyen hingga Politik Kanan Bardot memilih menyingkir dari dunia hiburan sebelum berusia 40 tahun. Sudah terlalu banyak kontroversi dan dampak yang ia rasakan. Maka, ia kemudian memilih jadi aktivis pecinta binatang. Pada 1977, dirinya bersama aktivis lingkungan Paul Watson mendirikan yayasan Sea Shepherd Conservation Society. Padahal selain jadi bintang di industri film, Bardot juga jadi ikon fesyen yang banyak ditiru para selebritis setelahnya. Selain ikut mempopulerkan bikini , Bardot dikenal mengglobalkan gaya rambut choucroute dan fesyen gingham dengan motif klasik kotak-kotak. Belum lagi gaun-gaun dengan garis leher khusus yang bahkan mengabadikan namanya, “Bardot Neckline”. Atau “Bardot’s Pose”, sebuah pose vulgar setengah telanjang dengan hanya mengenakan pantyhose dan menutupi buah dada dengan lutut yang juga diperkenalkan Bardot dan diikuti banyak selebriti di era modern dalam sejumlah pemotretan panas mereka, di antaranya Lindsay Lohan, Elle Macpherson, Gisele Bündchen, hingga Rihanna. “Bardot juga menarik perhatian para intelektual Prancis. Ia pernah jadi subyek dalam esai (pakar filsafat) Simone de Beauvoir tahun 1959, ‘The Lolita Syndrome’, yang menyebutkan Bardot sebagai lokomotif sejarah perempuan dan eksistensinya menjadi simbol kebebasan perempuan Prancis yang bebas pasca-Perang Dunia II,” tulis Ian Hartley, Paul G. Roberts, dan Samantha Mayfair dalam Style Icons Vol. 3: Bombshell. Namun, di balik ketenarannya sebagai bintang film di era keemasannya pada 1950-an dan 1960-an, ada banyak kepedihan yang ia rasakan. Di antaranya kontroversi perselingkuhan, perceraian, hingga percobaan bunuh diri. Kontroversi pahit sudah mengikutinya bahkan pada awal 1958 sesudah putus dengan kekasih perselingkuhannya yang juga aktor Prancis, Jean-Louis Trintignant. Bardot dikabarkan depresi hingga mencoba bunuh diri. “Trintignant sendiri masih berstatus suami aktris Stéphane Audran ketika berselingkuh dengan Bardot yang juga masih istri (suami pertama) Roger Vadim. Hubungan mereka (Bardot-Trintignant) juga rumit karena kemudian Trintignant sering meninggalkannya karena masuk militer. Kemudian Bardot main serong lagi dengan musisi Gilbret Bécaud. Pada akhirnya Bardot dan Trintignant putus dan ketika berlibur ke Italia justru depresi dan mencoba menenggak dua pil tidur meski kemudian dibantah manager humasnya,” sambungnya. Sensasi serupa terbit lagi tak lama kemudian. Bermula dari Bardot yang membintangi film La Vérité ( The Truth , 1960) garapan sutradara Henri-Georges Clouzot. Terlepas dari filmnya yang mendapat nominasi film asing terbaik di Academy Awards (Piala Oscar) 1961, Bardot justru bikin heboh dengan kisah asmara intim namun terlarang dengan lawan mainnya, Sami Frey. Padahal ketika itu status Bardot masih menikah dengan suami keduanya yang juga sineas Jacques Charrier. “Keretakan mereka terprovokasi bukan hanya karena Clouzot yang enggan berkompromi terkait adegan-adegan seks yang diprotes Charrier tetapi juga perselingkuhan Bardot dengan lawan mainnya, Sami Frey,” ungkap Sean French dalam biografi Bardot. Bardot ingin bunuh diri lagi karenanya. Terlebih setelah perselingkuhannya, ia tak diperkenankan merawat anaknya sendiri, Nicolas-Jacques Charrier. “Ketika itu saya ingin membebaskan diri saya. Saya ingin bebas tapi tidak bisa, karena saya menjadi terpenjara oleh ketenaran nama saya dan sifat posesif Jacques, terpenjara oleh tubuh saya, wajah saya, anak saya,” sesal Bardot dalam memoarnya, Initiales B.B . Setelah pensiun dan menepi dari dunia hiburan, Bardot memilih kehidupan sebagai aktivis pecinta binatang. Selain aktif di yayasan Sea Shepherd Conservation Society bersama Watson, Bardot mendirikan yayasannya sendiri, Brigitte Bardot Foundation pada 1986 dan menjadi vegetarian. Pada 1994, ia memprotes Menteri Pertanian Jean Puech terkait meningkatnya konsumsi daging kuda. Lima tahun berselang ia menyurati Presiden China Jian Zemin untuk memprotes penyiksaan beruang dan penyembelihan harimau hingga badak untuk industri obat kuat afrodisiak. Pada 2010 ia juga pernah menyurati Ratu Denmark Margrethe II terkait perburuan lumba-lumba di Kepulauan Faroe. Tidak hanya aktivisme lingkungan, kemudian Bardot juga kemudian ikut arus politik sayap kanan yang anti-imigran dan acap menyerang minoritas muslim di Prancis. Ia juga dikenal pendukung setia politikus sayap kanan Jean-Marie Le Pen. Dalam bukunya yang diterbitkan pada 2003, Un cri dans le silence ( A Cry in the Silence ), Bardot menyuarakan nada sumbang tentang percampuran rasial, imigrasi, peran perempuan dan politik, serta Islam. Setahun setelah bukunya terbit, ia didakwa atas ujaran kebencian dan divonis denda 5 ribu euro. “Itu keempat kalinya ia didakwa atas menciptakan ujaran kebencian yang sebagian besar ditujukan kepada kaum muslim yang ia sebut invasi asing di Prancis. Ia juga menyebut warga muslim di Pulau Réunion sebagai orang-orang tak beradab. Dalam buku terakhirnya yang terbit menjelang wafatnya, Mon Bbcédaire, Bardot menyatakan partainya Le Pen (Front National, kini Rassemblement National) adalah ‘satu-satunya solusi mendesak untuk penderitaan Prancis’, sebuah negara yang menurutnya ‘membosankan, menyedihkan, tertunduk, sedang sakit, hancur, poran-poranda, dan vulgar’,” tandas kolumnis Angelique Chrisafis di kolom The Guardian , Minggu (28/12/2025), “Brigitte Bardot’s image complicated by her controversial politics".*
- Secuplik Kesan Istri Nixon Ngetrip ke Indonesia
KERUMUNAN orang di pinggir landasan mulai bersorak ketika pesawat Lockheed Constellation milik Military Air Transport Service mendarat Bandara Kemayoran, Jakarta pada 21 Oktober 1953 sekira pukul 10 pagi. Setelah taxiing dan parkir, tamu kehormatan mulai turun dari tangga pesawat: Wakil Presiden (Wapres) Amerika Richard Nixon dan istri, Thelma “Pat” Nixon, serta anggota rombongannya. Rombongan Wapres Nixon lalu mendapat sambutan penghormatan dengan lantunan lagu kebangsaan Amerika, “The Star-Spangled Banner”. Wapres Nixon dan istri lantas saling bertegur sapa dan jabat tangan dengan rombongan penyambut, di antaranya Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan istri, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sunario Sastrowardojo, Walikota Jakarta Syamsuridjal, serta Duta Besar (Dubes) Amerika untuk RI Hugh Smith Cumming Jr. Tak langsung masuk ke mobil, setelahnya Wapres Nixon dan istri menympatkan bertegur sapa dengan warga sekitar yang berkerumun dari luar pagar. Tak ketinggalan ia melayani beberapa pertanyaan para kuli tinta yang mendekatinya. “Saya senang telah sampai di Indonesia, sekalipun tidak pada waktunya yang tepat seperti yang direncanakan (terlambat satu jam, red. ). Tiada lupa juga saya sampaikan salam rakyat Amerika Serikat kepada rakyat Indonesia dan terutama juga terima kasih atas penghargaan yang diberikan Presiden Soekarno kepadanya sebagai tamu negara,” cetus Wapres Nixon, dikutip majalah Merdeka edisi 24 Oktober 1953. Wapres Nixon datang dari Australia dalam agenda tur Timur Jauh. Orang nomor dua di “Negeri Paman Sam” setelah Presiden Dwight Eisenhower itu punya agenda empat hari ‘ ngetrip’ bersama istri dan rombongannya. Selain ke ibukota Jakarta, ia juga mengunjungi Bogor. Di kedua tempat itu, merekan dijamu langsung Presiden Sukarno dan Ibu Negara Fatmawati. Wapres Nixon dan istri juga beranjangsana ke Yogyakarta sebelum kembali lagi ke Jakarta untuk berangkat menuju Singapura. Wapres Nixon datang sebagai pejabat tertinggi Amerika yang mengunjungi Indonesia terlepas adanya kontroversi penandatanganan Mutual Security Act, medio 1952, antara Menlu Achmad Soebardjo dan Dubes Amerika untuk Indonesia Merle Cochran. Wapres Nixon mewakili Presiden Eisenhower ingin memastikan posisi Indonesia di masa Perang Dingin itu, sebagaimana 13 negara lain di Timur Jauh. “Nixon yang menjalani tur ke Asia menjadi pejabat terpilih Amerika paling senior yang mengunungi Indonesia dan kehadirannya menunjukkan keseriusan niat pemerintahan (Presiden Eisenhower) terhadap Jakarta. Misi wapres (Nixon) adalah untuk menyampaikan kepada para pemimpin Asia, termasuk Sukarno, bahwa Amerika sangat mengkhawatirkan tentang apa yang terjadi di Eropa,” tulis A Roadnight dalam United States Policy Towards Indonesia in the Truman and Eisenhower Years. Kesal Banyak Nyamuk Terlepas dari urusan politik, banyak cerita personal yang meninggalkan kesan bagi Wapres Nixon dan istrinya selama di Indonesia. Selain ke Istana Bogor, Wapres Nixon dan istrinya sempat diajak pelesiran ke Puncak, Bogor, hingga Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Dalam perjalanan ke Puncak, terjadi momen unik Wapres Nixon bareng Presiden Sukarno ‘ ngopi’ bareng di warung pinggir jalan di Cipanas. Maka secara pribadi Wapres Nixon begitu terkesan dengan sosok Sukarno. “(Presiden) Sukarno tampan dan sangat sadar kepada daya tariknya. Dengan suara bariton yang menggelegar serta pilihan kalimat sangat memukau, dia bagaikan memegang tongkat ajaib sehingga begitu berbicara, akan langsung memancing sorak-sorai puluhan ribu orang yang setia menunggu ucapannya,” kata Nixon, dikutip Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang. Hal senada juga disampaikan Pat Nixon. “Sukarno di Indonesia sungguh sosok yang dikagumi wanita. Selalu terdapat gadis-gadis paling cantik di sekelilingnya,” kenang Pat Nixon, dikutip Monica Crowley dalam Nixon in Winter. Istri sang wapres itu punya agenda tersendiri ketika suaminya punya urusan pembicaraan politik dengan Sukarno. Menurut harian De Vrije Pers edisi 22 Oktober 1953, Pat Nixon tak hanya bertemu Ibu Negara Fatmawati dan anak-anaknya di Istana Bogor tetapi juga punya agenda pertemuan dengan Women’s International Club dengan didampingi Nyonya Bradford dan Nyonya Kusna Paradiredja dan ke RSCM. Kendati demikian, ada saja yang menimbulkan memori dan kesan tak sedap. Selain cuaca panas dan kondisi udara lembab, Pat Nixon mengaku tak betah dengan akomodasi-akomodasinya. “Ya Tuhan, tidak ada pipa di dalam ruangan saat itu. Kamar mandi di luar. Dan kami harus tidur dengan dikelilingi kelambu nyamuk karena sangat lembab, dan masalah serangganya sangat buruk,” tambahnya. Namun, keramah-tamahan orang Indonesia mengubur semua kekurangan itu. Fatmawati dan anak-anaknya membuat istri Nixon begitu terkesan. Pat Nixon sampai ingat putra sulung Presiden Sukarno, Guntur Soekarnoputra, amat kagum pada film-film koboi yang dibintangi aktor Leonard Franklin Slye alias Roy Rogers. “Dia (Guntur) penggemar berat Roy Rogers dan menonton film-filmnya di Istana. Saya memberi janji akan mengirimkan kostum koboi Roy Rogers,” kata Pat Nixon, dikutip puterinya, Julie Nixon Eisenhower, dalam Pat Nixon: The Untold Story . Maka sepulangnya ke Amerika, Pat Nixon berupaya menunaikan janjinya untuk mengirimkan kostum koboi agar Guntur bisa menirukan adegan-adegan Roy Rogers. Namun, Pat tak menemukan kostum koboi dengan kualitas baik di Washington DC. Maka, pada Juli 1954 ia menulis surat kepada sahabatnya, yang tinggal di Beverly Hills, California, Helene Drown, untuk mencarikannya dan Pat akan mengganti uang pembelian serta pengirimannya. Ia mensyaratkan Helene bisa mendapatkan kostum koboi yang tidak terlalu tebal bahannya karena di Indonesia cuacanya sangat panas. “Dua bulan kemudian, Nyonya Sukarno mengucapkan terima kasih atas kostum Roy Rogers yang impresif, di mana Gunter (Guntur) langsung mencobanya. Momen-momen seperti bertemu Gunter yang berkesan itu ketika bercengkerama dengan ibunya, membuat kesan tersendiri dalam trip Pat Nixon yang signifikan,” tandas Eisenhower.*
- Jago Perang Denmark Cucu Tuan Kebun Deli
ANDERS Lassen digambarkan sebagai ahli dalam membunuh lawan-lawannya, termasuk dengan tangan kosong atau tanpa senjata api dalam film The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024) arahan Guy Ritchie. Dia disebut-sebut sebagai “Palu Denmark” dalam film tentang Operasi Postmaster melumpuhkan kapal logistik pendukung U-Boat Jerman itu. Karakter Anders Lassen itu diperankan oleh Alan Ritchson. Baik Operasi Postmaster maupun karakter Anders Lassen adalah riil. Anders Frederik Emil Victor Schau Lassen (1920-1945) memang berasal dari Denmark, anak dari Emil Victor Schau Lassen and Suzanne Maria Signe Lassen. Ibunya seorang penulis dan ayahnya adalah kapten dalam bala keselamatan. Keluarga Lassen merupakan keluarga pemilik pertanian. Kakek Anders Lessen, Axel Frederik Julius Christian Lassen (1858-1925), orang kaya dari perkebunan. Rosekamp.dk mencatat, Axel Lassen melaut antara 1872 hingga 1877. Setelahnya, dia menjadi pebisnis kebun tembakau di Deli, Sumatra Utara pada 1877 hingga 1894. Bisnis tembakau itu membuatnya kaya. Axel Lassen berbisnis tembakau setelah satu dekade Jacobus Nienhuys (1837-1927) merintis perkebunan tembakau di sana. Dagblad van Zuidholland en de Gravenhage tanggal 11 April 1894 dan De Locomotief tanggal 23 Mei 1894 menyebut, Axel Lassen mengenali potensi tanah di daerah Deli dan Langkat. Potensi itu yang dimanfaatkannya. Setelah menanam di Deli, mereka terus menanam ke arah Langkat. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 daerah sekitar Medan dikenal dengan komoditas tembakau Delinya. komoditas itu lau digantikan karet dan kelapa sawit. Orang-orang Eropa kaya biasanya menjadi pemilik atau pengelola alias Administrateur atau Administrator pekerbunan yang sangat luas di sana. Para tuan di pekebunan-perkebunan itu memiliki kuasa besar di tanah perkebunan mereka. Jan Breman dalam Menjinakan Sang Kuli menggambarkan besarnya kuasa pengelola perkebunan terhadap kuli-kulinya yang kebanyakan berasal dari Jawa itu. Para kuli bisa dicambuk jika kabur dari perkebunan atau dibaluri sambal alat kelaminnya jika dianggap bersalah. Mereka bisa menghukum tanpa bantuan kepolisian atau aparat pemerintah lain. Di Deli, Axel Lassen tak sendiri. Adiknya, Christian Lassen, juga menjadi administrator perkebunan di Langkat Tabak Maatschappij. Setelah Axel lebih banyak berada di Denmark, Christian banyak berada di sana pada awal abad ke-20 ketika kota Medan mulai berkembang menjadi modern. Axel Lassen jelas berpengaruh di kalangan para kuli bumiputra yang dibayar rendah demi membesarkan tembakau-tembakau milik pengusaha perkebunan Eropa macam Axel Lassen dan lainnya. Harta yang terkumpul dari Deli itu membuat Axel menjadi kaya dan berpengaruh kampung halamannya. Keluarganya hidup nyaman karenanya tanpa tahu pasti derita kuli-kuli kebun tembakau di Langkat dan Deli. Termasuk Anders Lassen sang jagoan ini. Anders Lassen, sebut Gavin Mortimer dalam The Daring Dozen : 12 Special Forces Legends of World War II , adalah pria kelahiran Høvdingsgård, 22 September 1920. Sedari kecil, dia hobi berburu. Kemampuan berburunya mengagumkan. “Pada usia 12 tahun dikabarkan telah memburu dan membunuh seekor rusa jantan, hanya berbekal pisau berburu,” catat C.K. Smith dalam With the SBS and SAS in WW2: Corporal Ken Smith’s Wartime Service from the Royal Marines to the Special Forces . Begitu dewasa, Anders Lassen bekerja sebagai pelaut kapal niaga. Ketika pecah Perang Dunia II, dia sedang berada di Inggris dan mengetahui negerinya diduduki Jerman-Nazi. Ia segera mendaftar masuk militer Inggris. Dia berupaya melakukan apapun demi bisa membantu membebaskan negerinya dari pendudukan Nazi. “Demi setia melayani, bekerja di bawah otoritas apapun untuk melawan musuh yang menduduki tanah air,” sumpahnya kepada Raja Christian dari Denmark. Memulainya sebagai prajurit, pria penuh semangat itu diterjunkan dalam operasi-operasi berbahaya di Perang Dunia II setelah 1941. Serangkaian petualangan yang berhasil diembannya membawanya menjadi perwira di pasukan elite 1st SAS/1st SBS. Dia dianugerahi Military Cross three lines, penghargaan tertinggi ketiga militer Inggris, atas keberaniannya. Bersama pasukan elite Inggris itu, Lassen terus bergerak maju hingga mencapai sebuah pulau kecil di dekat kota kecil Comacchio, Italia pada paruh pertama 1945. Dia ditugaskan memimpin pasukan kecil, yang kelelahan, untuk membuat kekacauan pada garnisun Jerman di Comacchio yang begitu kuat pada 8 April 1945 malam. Bersama mereka, ada pasukan Ken Smith yang bergerak dari titik lain. Pada malam hari H itu, tembakan hebat menghujani tempat pasukan kecil Lassen mendarat tepat saat kano Ken mendekati pantai. Berbeda dari pasukan Lassen yang terus maju, kano yang ditumpangi Ken berbalik arah karena berada di perairan terbuka dan menjadi sasaran empuk lawan. Menurut Ken, tidak ada gunanya untuk terus berjuang karena dengan semua kekacauan itu, tujuan telah tercapai dan melanjutkannya akan menjadi tindakan bunuh diri. Sementara Ken berada di tempat aman di perairan seberang Comacchio, pasukan kecil Lassen bertaruh nyawa untuk terus mengacaukan garnisun Jerman. Dengan granatnya, Lassen menghancurkan posisi pertama garnisun Jerman berisi empat orang. Lassen lanjut ke posisi kedua di bawah tembakan perlindungan sisa pasukannya. Lebih banyak granat ia lemparkan hingga menewaskan dua prajurit lawan dan menawan dua lainnya hingga dua senapan mesin dibungkam. Posisi kedua lawan berhasil dikuasainya. Setelah mengumpulkan dan memberi briefing sisa pasukannya, Lassen memerintahkan mereka menyerang posisi ketiga. Begitu sudah berhasil menguasai posisi ketiga, Lassen berteriak memerintahkan lawan untuk menyerah. Saat berteriak itulah sebuah tembakan dari kiri posisinya menerjangnya hingga terluka parah dan jatuh. Namun, sebelum seluruh tubuhnya menyentuh tanah, Lassen sempat melemparkan granat ke arah lawan hingga melumpuhkan mereka dan membuat sisa pasukannya bisa menyerbu lawan di posisi terakhir. Lassen yang terluka parah menolak untuk dievakuasi. Hal itu demi melapangkan jalan bagi sisa pasukannya, yang sudah kehabisan peluru, untuk mundur. Lassen pun gugur. “Atas tindakannya malam itu, Lassen dianugerahi Victoria Cross secara anumerta, penghargaan tertinggi Inggris untuk keberanian. Salah satu cerita menyebutkan bahwa Victoria Cross-nya awalnya diblokir, karena Brigadir Tod bukanlah penggemar berat pria yang terkadang kasar itu. Namun, mantan komandan unit tersebut, Earl George Jellicoe, memiliki pengaruh di komando tinggi dan melewati beberapa jalur resmi,” sambung C.K. Smith.*
- Titi Papan dan Awal Tembakau Deli
DI usia 21 tahun, Ali Adjer menjadi saksi tuannya yang bertakhta di Kesultanan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa, didatangi tiga orang Eropa. Said Abdullah, orang kepercayaan sultan, yang membuat mereka datang ke Deli. Pembicaraan pun terjadi antara Sultan Mahmud dan ketiga orang Eropa tadi. Setelah pembicaraan itu, dua dari orang Eropa itu meninggalkan Deli. Satu yang tetap tinggal bernama Jacobus Nienhuys (1836-1927). Nienhuys baru saja gagal menanam tembakau yang baik di Tempeh, Lumajang, Jawa Timur. A. Hoynck van Papendrecht dalam Tabak Maatschappij Arendsburg 1877-1927 menyebut, uang dari firma Pieter van den Arend sebesar 36.000 gulden lenyap karena kegagalan itu. Namun Nienhuys tak patah arang dan berupaya kembali di tempat lain. Pieter van den Arend mendukung usaha Nienhuys. Nienhuys lalu mendapat izin untuk menanam tembakau di tepi Sungai Deli. Kebun tembakau itu tidak jauh rumah Ali Adjer, pemuda Melayu kelahiran 1842 yang merupakan salah satu pembantu Sultan Mahmud. Jarak rumah Ali dengan istana cukup jauh, belasan kilometer. Perkebunan itu membuat kampung tempat tinggal Ali menjadi ramai oleh orang-orang baru yang bukan orang Melayu. Nienhuys sering terlihat oleh Ali ketika mengurus tembakau di kebun dengan dibantu para kuli Tionghoa. Nienhuys menjadi administrateur yang mengelola perkebunan itu. Oleh karenanya, semua urusan kebun memenuhi pikirannya. Termasuk bangunan tempat tinggal untuk para kuli. Untuk menghubungkan kebun tembakaunya dan Klumpang dengan daerah Mabar, dia membangunkan sebuah jembatan. “Jembatan kayu pertama yang dibangun oleh Nienhuys berada di belakang rumahnya. Inilah asal mula nama Titi Papan saat ini,” catat A. Hoynck van Papendrecht dalam Tabak Maatschappij Arendsburg 1877-1927 . Jembatan itu dibuat dari balok-balok kayu sebagai rangkanya lalu papan-papan diletakkan di atasnya sebagai lantai jembatan. Dari sanalah nama Titi Papan berasal, untuk menamakan daerah sekitar jembatan itu. Setelah penanaman tembakau Nienhuys sukses, pada 1867 dia meninggalkan Deli untuk kembali ke Eropa. Perkebunan yang dikuasai Pieter van den Arend itu kemudian dikenal sebagai Arendsburg. Perusahaan perkebunan itu dikenal sebagai NV Arendsburg Tabak Maatschappij dan memiliki perkebunan tembakau di beberapa titik. Setelah tembakau, perusahaan tersebut berbisnis karet. Daerah di seberang sungai perkebunan tembakau pertama di Deli yang dekat rumah Ali Adjer itu pun jadi berkembang. Berdasarkan denah yang dibuat G. Nieuwenhuys berdasar pengakuan Ali Adjer, daerah seberang sungai kebun tembakau itu kemudian menjadi jalan umum bernama Gouvernement Weg (Jalan Pemerintah). Rel keretaapi kemudian dibangun di sana. Sebuah stasiun kecil yang menghubungkan kota Medan dengan Pelabuhan Belawan dibangun pada 1886 dan dinamai Titi Papan. Jaringan keretaapi itu dioperasikan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). Pada 1927, tahun di mana Ali Adjer tutup usia, bekas kebun tembakau Deli pertama itu sudah menjadi perkampungan. Perusahaan Arendsburg boleh hilang namanya di Medan, namun nama Titi Papan masih ada hingga sekarang. Saat ini, Titi Papan adalah nama salah satu kelurahan di Medan Deli, Kota Medan. Bekas perkebunan itu telah dipenuhi rumah. Jalan yang menghubungkan Klumpang dengan Stasiun Titi Papan kini bernama Jalan Platina. Jalan di sisi barat kebun tembakau yang dulu bernama Maryland, kini menjadi Jalan Marelan Raya. Berbeda dengan tahun 1927, Kini di tepi Sungai Deli di bekas perkebunan tembakau pertama Deli itu membentang Jalan Speksi Sungai Deli. Di seberangnya, membentang Jalan Yos Sudarso yang dulu bermama Gouvernement Weg. Stasiun Titi Papan pun masih ada.*
- Minyak Venezuela Menggiurkan
PADA pesta malam tahun baru di kediamannya di Mar-a-Lago, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengutarakan resolusinya, “Damai. Damai di bumi.” Itu menjadi ironis karena tak sampai sepekan kemudian Trump menggerakkan militernya untuk melancarkan bombardir udara ke utara Venezuela, lalu menangkap Presiden Venezuela Nicolas Máduro di ibukota Caracas dan kemudian membawanya ke AS. Operasi militer bersandi “Operasi Absolute Resolve” itu disetujui Presiden Trump pada Jumat (2/1/2026) malam. Serangan terkoordinasinya dijalani pada pukul 2 dini hari waktu setempat, Sabtu (3/1/2026). Selain melancarkan serangan udara, pasukan khusus AS menangkap Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Serangan itu disebut turut menewaskan 80 jiwa dari kalangan pejabat dan militer Venezuela dan Kuba. Maduro dan istrinya diculik dan dibawa ke New York dengan kapal amfibi USS Iwo Jima , untuk diseret ke pengadilan di AS. Sudah cukup lama AS bersitegang dengan Venezuela dan menuduh narko-terorisme kepada Maduro yang dianggap berkaitan dengan organisasi narkoba Cartel de los Soles. Sebagaimana beberapa sekutunya, sejak pemerintahan Presiden Joe Biden AS tak mengakui Maduro sebagai presiden ketiga kalinya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Venezuela 2024. Pada pilpres itu, pemimpin oposisi Edmundo González Urrutia yang juga didukung oposan peraih Penghargaan Perdamaian Nobel María Corina Machado, mengklaim González yang menang namun Dewan Pemilu Nasional, CNE, menyatakan Maduro memenangi pilpresnya. Terlepas dari tuduhan dan dakwaan yang diarahkan pada Maduro, dunia internasional terhenyak. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres –melalui juru bicara yang tak disebutkan namanya– menyatakan aksi militer AS di Venezuela menimbulkan preseden berbahaya. Ia mendesak Dewan Keamanan (DK) PBB menggelar rapat darurat. Di Kremlin, Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam agresi AS itu dapat menimbulkan konsekuensi serius di kawasan Amerika Selatan. Sedangkan pemerintahan Presiden China Xi Jinping di Beijing juga mengutuk upaya penggulingan pemerintahan Venezuela dan menuntut pembebasan Maduro. Hal serupa juga diutarakan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim. “Pemimpin Venezuela dan istrinya diculik dalam sebuah operasi militer Amerika Serikat dalam lingkup yang tak biasa. Aksi seperti itu jelas pelanggaran hukum internasional karena menggunakan kekuatan militer terhadap sebuah negara yang berdaulat. Presiden Maduro dan istrinya mesti dibebaskan. Apapun alasannya, penggulingan paksa seorang kepala negara dengan aksi eksternal menimbulkan preseden berbahaya,” ungkap potongan pernyataannya di akun resmi X-nya, @anwaribrahim , Minggu (4/1/2026). Pun Kemenlu RI melalui utas pernyataan resmi di akun X @Kemlu_RI , Minggu (4/1/2026) menyerukan semua pihak – meski tak menyebut Amerika Serikat sama sekali – untuk menahan diri dan berharap hukum internasional dan Piagam PBB untuk dipatuhi. Adapun eks-Wamenlu RI (Juli-Oktober 2014) dan mantan Duta Besar RI untuk AS (2010-2013) Dino Patti Djalal menyebut tindakan AS mengabaikan hukum internasional. “Invasi militer dan penangkapan/penculikan Presiden Venezuela Maduro oleh AS menandakan bahwa hukum rimba telah gantikan hukum internasional. Negara yang kuat merasa berhak melakukan aksi ‘semau gue’ terhadap negara lain. Ini pertanda kita memasuki a dangerous world order. Bagaimana sikap DK PBB? Sikap G7? Bagaimana sikap Amerika Latin? Bagaimana sikap Indonesia? Ujian bagi politik luar negeri bebas aktif yang berlandaskan pada prinsip,” cuitnya di akun X-nya, @dinopattidjalal , Sabtu (3/1/2026). Nicolás Maduro Moros dalam penahanan Amerika Serikat ( dea.gov ) Dari Mene ke Petróleo Untuk sementara, Wapres Delcy Rodríguez diangkat jadi pelaksana tugas (plt.) Presiden Venezuela meski banyak diaspora Venezuela di banyak negara merayakan penangkapan Maduro yang dianggap pemimpin diktator. Pergantian rezim jadi ekspektasi tertinggi. Presiden Trump mengindikasikan itu. Dalam konferensi persnya di Mar-a-Lago pasca-penangkapan Maduro, ia menyatakan akan mengendalikan Venezuela sampai terjadinya transisi yang aman dan laik. Tak lupa, Trump pun blak-blakan menyinggung soal minyak dan ancaman lanjutan. “Kita akan memiliki perusahaan-perusahaan minyak AS yang besar, yang terbesar di dunia, masuk ke sana, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang sudah rusak, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara dan kami siap melancarkan serangan kedua dan lebih besar jika diperlukan,” tutur Presiden Trump, dikutip The Guardian , Minggu (4//2026). Menurut data organisasi negara-negara pengeskpor minyak bumi alias OPEC pada 2025, Venezuela adalah negara pemilik cadangan minyak bumi terbesar. Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak bumi lebih dari 303 miliar barel, di atas Arab Saudi (267 miliar barel), Iran (208 miliar barel), Kanada (163 miliar barel), dan Irak (145 miliar barel) di lima besar. Problemnya, cadangan minyak itu hampir seluruhnya didominasi pemerintah Venezuela melalui perusahaan minyak bumi dan gas negara Petróleos de Venezuela, S.A (PDVSA), pasca-nasionalisasi pada 1970-an dan Revolusi Bolivarian (1992-1998). Sekilas tentang sejarahnya, masyarakat pribumi di Venezuela sudah memanfaatkannya untuk banyak keperluan sebelum kedatangan bangsa Eropa. Setidaknya ada 30 kelompok pribumi yang dahulu mendiami wilayah Venezuela sekarang, di antaranya masyarakat Wayuu, Warao, Kali’na, Pemon, dan Paraujano. “Di wilayah utara Venezuela, masyarakat pribumi menemukan cairan-cairan hitam yang terdapat di genangan air laut dan seiring gelombang air, cairan hitam dan kental itu menggunung dan membesar. Mereka belum tahu itu zat apa dan mereka menyebutnya dengan ‘ mene ’,” ungkap pakar ekstraktif energi dan pertambangan Japhet Miano Kariuki dalam artikel “Uncovering the Hidden Histories: A Study of Venezuela’s Energy Landscape” di buku Energia Progresiva: An Intertemporal Analysis of Latin America and the Caribbean’s Energy Landscape in the Industrial Age. Para masyarakat pribumi itu, lanjut Kariuki, memberdayakannya dengan mengekstrak mene menggunakan selimut putih dari sumber-sumber rembesan minyak bumi. Hasilnya, mereka gunakan untuk pengobatan, memperbaiki dan menambal kano-kano mereka, untuk penerangan, dan bahkan untuk menjebak hewan-hewan buruan. Bangsa Eropa sendiri sudah menjejakkan kaki di Venezuela pasca-ekspedisi ketiga Christopher Colombus pada medio 1498. Akan tetapi catatan pertama tentang pertemuan bangsa Eropa dengan minyak bumi di Venezuela baru terjadi tak lama kemudian setelah Spanyol mendirikan kota koloni pertama, Nueva Cádiz di Pulau Cubagua mulai 1500. Bangsa Spanyol menyebut mene alias minyak mentah itu dengan sebutan ‘ petróleo ’ dari bahasa Latin, ‘ petroleum ’ yang aritnya minyak dari batu. “Ratu Spanyol, Juana, dalam sebuah suratnya (tertanggal 3 September 1536) dari ibukota Valladolid menuliskan kepada ‘para pejabat yang mengirimkan azeite petrolio (minyak mentah)” dari Nueva Cádiz, Cubagua, memerintahkan ‘sebanyak mungkin untuk mengirimkannya kepada saya dalam kapal-kapal yang datang dari pulau itu’. Sang ratu menyebutkan ‘air mancur’ minyak di Cubagua yang ‘sepertinya akan sangat menguntungkan’,” tulis Aníbal R. Martínez dalam Chronology of Venezuelan Oil. Peta Pulau Cubagua di Venezuela ( aapg.org ) Tetapi, baru tiga tahun berselang minyak pertama dikirimkan. Pada 30 April 1539, Don Francisco de Castellanos, bendahara Nueva Cádiz, mengirim satu barel minyak Venezuela dengan kapal Santa Cruz dalam pengiriman yang dipimpin Francisco Rodríguez de Covarrubia dan Bernardino de Fuentes. “Pengiriman ke Spanyol itu diperuntukkan bagi Charles V, Kaisar Romawi Suci – yang juga menguasai Spanyol, untuk mengobati encok yang dideritanya. Inilah yang menjadi ekspor minyak Venezuela pertama secara simbolis,” sambung Kariuki. Kendati demikian, eksplorasinya untuk kepentingan industri baru terjadi berabad-abad kemudian. Menurut Gustavo Coronel dalam The Nazionalization of the Venezuelan Oil Industry, adalah Presiden Juan Vicente Gómez sejak memerintah pada 1908, memberikan sejumlah konsesi untuk mengeksplorasi, memproduksi, dan menyuling minyak bumi kepada sejumlah korporat, salah satunya Barber Asphalt Company (kini General Asphalt). Barber Asphalt Company melalui anak perusahaannya, Caribbean Petroleum Company (CPC) yang mengeksplorasinya. Meski kemudian CPC dibeli sebagian sahamnya, 51 persen oleh Royal Dutch Shell senilai 1 juta dolar Amerika. “Pada 31 Juli 1914, CPC memulai eksploitasinya di sumur Zumaque-I, terletak di sisi timur Danau Maracaibo yang kemudian tercatat jadi sumur minyak komersial pertama di Venezuela. Sementara perusahaan-perusahaan minyak AS mulai tertarik dan berdatangan ke Venezuela pada 1919, atau setelah Perang Dunia I. Pada 1921, Standard Oil Company de Venezuela, anak perusahaan Standard Oil Company yang berbasis di New Jersey, didirikan. Lalu (pengekspor) Lago Petroleum Corporation juga dibentuk pada 1923, menjadi perusahaan AS pertama yang mengekspor minyak bumi dari Venezuela,” tulis Henry Jiménez Guanipa dalam Energy Law in Venezuela. Per 1932, minyak bumi Venezuela yang menggiurkan sudah mengundang setidaknya 11 kongsi dari tiga grup internasional besar dunia. Di antaranya Standard Group yang membawahi Standard Oil de Venezuela, Lago Petroleum Company, dan Orinico Oil Company. Ada pula The Gulf Group yang membawahi Venezuelan Gulf Oil Company. “Korporasi-korporasi besar ini bertahan setidaknya sampai terjadinya nasionalisasi pada 1975. Faktanya, perkembangan industri minyak bumi Venezuela, terlepas dari pro dan kontranya, selalu terkait dengan perusahaan-perusahaan asing,” tambah Guanipa. Nasionalisasi industrinya dilancarkan dalam program “La Gran Venezuela” yang diserukan Presiden Carlos Andrés Perez yang lantas melahirkan PDVSA pada 1976. Sedangkan perusahaan-perusahaan AS kemudian harus angkat kaki, seperti, Gulf Oil Company, dan Mobil Oil Corporations, dengan hanya menerima sejumlah kompensasi. Tersisa Chevron, ExxonMobil dan ConocoPhillips yang masih beroperasi. Pun kawasan kaya minyak bumi, Orinico Petroleum Belt, kemudian dikuasai PDVSA pasca-Revolusi Bolivar dan naiknya Presiden Hugo Chávez. Ia yang kemudian pada 2007 juga membuat ExxonMobil tersingkir dari Venezuela. Maka “kaki” AS dalam industri minyak bumi Venezuela menyisakan Chevron. Maduro yang pada 2013 naik kursi kepresidenan meneruskan kebijakan-kebijakan Chávez, setidaknya sampai ia ditangkap dan dibawa ke AS pada 3 Januari 2026 lalu. “Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan para pegawai kami, begitu juga integritas aset-aset kami. Kami tetap beroperasi dalam skala penuh dengan mengikuti hukum dan regulasi yang relevan,” tandas juru bicara Chevron, Bill Turenne, pasca-penangkapan Maduro, dilansir NPR , Minggu (4/1/2026).
- “Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran
KABAR beredar di sekitar Desa Timbang dan Sajana, Kabupaten Cirebon, seorang Indo-Belanda, Frans Emile Groeneveld, diangkat menjadi kuwu (kepala desa). Bukan hanya tak lazim --kepala desa adalah jabatan untuk orang yang disebut Indonesia asli atau pribumi, pengangkatan itu juga membuat geger. Kuwu Groeneveld --sebelumnya pernah magang sebagai teknisi laboratorium di pabrik gula Panggoengredjo dan kemudian bekerja di perkebunan Karet Limburg Estate. Dia sempat menjadi pengelola toko tembakau di Jamblang sebelum menjadi petani kecil dan kuwu-- pada Senin (14 November 1932) sore mengerahkan ratusan massa di Desa Timbang. De Indische Courant tanggal 21 November 1932 menyebut orang yang dikumpulkan itu jumlahnya sekitar 500 hingga 600 orang. Mereka, kata De Locomotief edisi 17 November 1932, diajak Kuwu Groeneveld untuk tidak perlu membayar obat pengendalian hama. Melihat upaya Kuwu Groeneveld yang meresakahkan itu, mantri dan wedana Cilimus turun tangan mengatasi provokasi si kuwu tadi. Namun para warga desa malah melempari batu kepada perangkat pemerintah kolonial itu. Pada pukul delapan malamnya, asisten residen dan bupati Cirebon datang ke desa itu dengan satu pasukan Veldpolitie (Polisi Lapangan). Mereka berupaya menegakkan ketertiban. Namun mereka justru menerima ancaman dan lemparan batu dari para warga. Mau-tak mau rombongan pejabat dan polisi itu pun mundur. Bala bantuan berupa polisi lapangan tambahan pun didatangkan untuk meredam kondisi yang tidak menyenangkan bagi pemerintah kolonial di desa itu. Asisten residen bersama polisi lapangan yang bersenjata maju lagi pada pukul 11 malam itu. Kerja alot para pejabat dan polisi kolonial itu baru berhasil pada pukul 3 dinihari Selasa, 15 November 1932, dengan tertangkapnya Kuwu Groeneveld. “Biarkan Kuwu kalian ditangkap begitu saja," kata Kuwu Groeneveld ketika ditangkap dengan disaksikan banyak warganya. Soerabaijasch Handelsblad tanggal 1 Februari 1934 memberitakan, Kuwu Groeneveld tampak ingin bertanggung jawab sekaligus ingin bicara kepada pemerintah. Maka pemberitaan tentang Kuwu Groeneveld pun menjadi ramai setelah tanggal 16 November 1932. Ada yang menyebut Kuwu Groeneveld sebagai Ratu Adil. Koran kiri Belanda De Tribune edisi 16 November 1932 bahkan menyebut Kuwu Groeneveld sebagai seorang petani kecil, bukan orang Indonesia, yang menempatkan dirinya di garis depan penduduk dan bersama-sama mereka membela desa dan memaksa penguasa. Pada awal 1930-an itu, ekonomi Hindia Belanda amat buruk akibat terimbas Depresi Ekonomi Dunia sejak 1929 ( Black Tuesday ). Saking sulitnya kehidupan masyarakat, muncul pelesetan zaman itu sebagai "Zaman meleset". “Peristiwa ini dengan jelas menunjukkan meningkatnya penderitaan penduduk Indonesia sebagai akibat dari krisis kapitalis,” sebut De Tribune edisi 16 November 1932. Berbeda dari De Tribune yang menyebut itu sebagai masalah kelas yang menderita, kebanyakan koran berbahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda justru menyalahkan kondisi itu pada Kuwu Groeneveld. Banyak koran Belanda sekadar menyebut Groeneveld sebagai pembuat onar. Groeneveld tentu saja ditahan dan diperiksa. Ketika ditahan di Penjara Cirebon, dirinya enggan untuk bicara. De Indische Courant menyebut, pada Kamis (17 November 1932) pagi, Groeneveld dibawa ke Batavia. Groeneveld tampil layaknya petani Jawa, memakai celana panjang dan kemeja dengan penutup kepala. Tak hanya diperiksa polisi, Groeneveld juga diperiksa ahli jiwa. Groeneveld dianggap tidak gila hingga dia kemudian bisa diadili. Bataviaasche Nieuwsblad tanggal 15 Oktober 1936 mengabarkan, dua pengikut Groeneveld, Amsar dan Abdoelgani, dijatuhi enam bulan penjara oleh Landraad Majalengka. Groeneveld sendiri dijatuhi hukuman satu setengah tahun penjara. Meski sudah ditahan, Groeneveld masih ingin meminta audiensi dengan gubernur. Dirinya ingin melaporkan keluhan masyarakat di wilayahnya menjadi kuwu. Koran Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 9 Oktober 1934 menyebut, laporannya menyertakan motto "Cari Adil, Dapat Bedil". Setelah bebas, Groeneveld tak bisa lagi kembali ke Cirebon. Menurut De Sumatra Post edisi 16 September 1937, pemerintah kolonial mengharuskan Groeneveld untuk tinggal di Surabaya demi Rust en Orde (keamanan dan ketertiban) di Cirebon.
- Bung Karno Berhadapan dengan Bos Preman Medan
SUMATRA UTARA menjadi daerah rawan kekerasan setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Di Kota Medan, kesatuan aksi massa antikomunis (KAP-Gestapu) bergerak secara masif memburu anggota dan simpatisan PKI. Pemuda Pancasila termasuk organisasi yang paling gencar menumpas PKI di bawah komando Angkatan Darat. Sejak KAP-Gestapu di Medan terbentuk pada 7 Oktober 1965, Pemuda Pancasila tak pernah absen dalam operasi menghancurkan basis-basis PKI maupun yang terafiliasi dengan PKI. Mulai dari penyerbuan ke kantor Sarbupri (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia), gedung SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), hingga pengambilalihan Gedung BAPERKI. Aksi-aksi itu kerap berujung pada penganiayaan dan pembunuhan terhadap pimpinan PKI setempat. “Pada peristiwa penyerbuan kantor Sarpubri itu, Ketua SOBSI Sumatra Utara, Zakir Sobo mati terbunuh oleh massa. Penyerbuan kantor Sarbupri itu mendapat pengawalan dari pasukan Kodam II Bukit Barisan,” catat tim penulis Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) dalam Pulangkan Mereka: Merangkai Ingatan Penghilangan Paksa di Indonesia . Tidak hanya menyasar PKI dan ormas-ormasnya, Konsulat Republik Rakyat Cina (kini RRT) juga digeruduk. Pada 10 Desember 1965, demonstrasi di depan Konsulat RRC berubah menjadi kerusuhan. Dalam huru-hara itu, seorang anggota IPTR (Ikatan Pemuda-Pelajar Tanah Rencong) tewas akibat tembakan peluru nyasar. Dari gedung konsulat, kerusuhan menjalar ke arah kekerasan rasial terhadap warga Tionghoa. Rumah-rumah mereka dilempari bahkan dibakar. Ketua Aksi Pemuda Effendi Nasution dari Pemuda Pancasila dianggap bertanggung jawab sebagai pemimpin gerakan. Selain Effendi, aparat keamanan juga menangkap tokoh komando aksi lainnya seperti S. Sinambela dari SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) dan Ahlimuddin Pulungan dari HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Aksi yang digerakan Effendi dan komplotannya terdengar sampai Istana Negara. Presiden Sukarno yang berang mengeluarkan surat perintah untuk memanggilnya ke Jakarta. Ketika menghadap Bung Karno di Istana, Effendi didampingi oleh Brigjen TNI Soekendro, sesepuh Partai IPKI yang membidani lahirnya Pemuda Pancasila. Dalam biografinya, The Lion of Noth Sumatra: Kisah Perjuangan H.M.Y. Effendi Nasution (Pendi Keling) yang ditulis Syamsul Bahri Nasution dan Saifuddin Mahyuddin, Effendi semula girang menyambut panggilan dari Presiden Sukarno. Ia berkeyakinan akan mendapat sesuatu yang menggembirakan seperti orang ketiban bintang dari langit. Paling tidak, kedatangannya ke Istana Negara bakal menaikan pamornya sebagai orang daerah yang berperan. Namun, kenyataan yang terjadi justru bertolak belakang dengan harapan. Ketika diterima oleh Bung Karno, suasana Istana sedang ramai. Banyak tetamu undangan sehingga Effendi harus menunggu lebih dulu. Setelah tiba waktunya, pengawal Istana mempersilakan Effendi masuk menghadap presiden. Tanpa tedeng aling-aling, Bung Karno meluapkan murkanya. “Kamu yang bernama Effendi, kamu ini cross boys dan rasialis ya,” bentak Bung Karno. Belum sempat Effendi menjawab, Bung Karno lanjut mencecar. “Hei, kamu kan yang memimpin Pemuda Pancasila yang mengganyang Cina di Sumatra Utara,” kata Bung Karno seraya telunjuknya mengarah ke muka Effendi di depan khalayak ramai. Bung Karno kian garang. Tangannya seolah-olah hendak menggampar Effendi. Diperlakukan demikian, Effendi merasa harga dirinya direndahkan. Jiwa preman dalam diri Effendi menyala-nyala. Andai kata Bung Karno menamparnya, timbul niat Effendi untuk membalas. Dengan emosi tertahan, Effendi memberanikan diri menjawab. “Tidak mungkin saya mengganyang Cina karena etnisnya Pak. Karena dalam barisan Pemuda Pancasila di Sumatra Utara ada yang berasal dari Cina, Arab, Keling, India, dan sebagainya Pak. Bapak boleh menanyakan kepada Gubernur Sumatra Utara atau Pangdam II/BB. Saya mengganyang Cina karena mereka terlibat G30S Pak,” sanggah Effendi dengan logat Medan yang khas. Bung Karno tampak meredakan amarahnya sejenak. Setelahnya, Effendi dan Soekendro dipersilakan duduk di kursi rotan di beranda Istana. Sejurus kemudian, Bung Karno melanjutkan pembicaraan. “Cara kamu bertindak sudah membikin kekacauan seperti yang dilakukan gerombolan,” ujarnya “Mungkin Pak,” sahut Effendi, “Tindakan saya seperti gerombolan tetapi sasaran kami di Sumatra Utara tetap pada orang-orang yang terlibat G30S Pak.” “Kamu memang bandel dan terlalu banyak bicara,” hardik Bung Karno. Soekendro menyadari amarah Bung Karno mulai naik lagi. Buru-buru tangannya menyolek Effendi sebagai isyarat agar tak usah berbantah-bantah. Setelah dua jam menghadap Bung Karno di Istana, Effendi dan Soekendro pamit undur diri. Di akhir pertemuan, Bung Karno berpesan kepada Effendi. “Jika kamu ingin menjadi seorang pemimpin jangan suka mengelak dari kenyataan dan tanggung jawab. Jika kamu memang salah, akui kesalahanmu,” Bung Karno memberi wejangan. “Baik Pak! Pesan Bapak akan saya ingat sebagai seorang guru kepada muridnya,” balas Effendi. “Tidak. Kamu bukan murid saya.” “Baik, kalau memang Bapak tidak menganggap saya sebagai murid, ya tak mengapa.” Effendi Nasution alias Pendi Keling dikenal sebagai preman legendaris dan mantan petinju yang memimpin Pemuda Pancasila Kota Medan. Ia kondang dengan panggilan Pendi Keling lantaran kulitnya gelap seperti orang India. Syamsul dan Saifuddin menyebut, di era 1950-an hingga 1970-an, hampir tak ada seorang pun pemuda di Medan yang tak mengenal nama Pendi Keling, terutama dalam dunia preman. Meski dirinya diakui sebagai bos preman, menurut Effendi, mencuri, merampok, dan tindak kejahatan lainnya haram bagi preman. Effendi sendiri tak keberatan disebut preman Medan asli. Dia menolak tegas stigma preman yang acap kali disebut sebagai penjahat. “Preman Medan itu mencari uang sebagai penanggung jawab keamanan pusat-pusat keramaian, di pasar atau bioskop. Ada juga yang menjaga keamanan bandar judi, atau menjadi pengawal pengusaha kaya. Pokoknya preman Medan mencari nafkah dengan cara yang terhormat. Yang penting preman itu bukan bandit,” terang Effendi dalam Kompas , 6 Febaruari 1994. Pada dekade 1980-an, Effendi Nasution dikenal sebagai ketua Pertina (Persatuan Tinju Nasional) Sumatra Utara. Ia wafat pada 22 Agustus 1997 di Medan, meninggalkan seorang istri, empat orang anak, dan tujuh orang cucu. Semasa hidupnya, Effendi dipandang sebagai sesepuh Pemuda Pancasila dan eksponen Angkatan ‘66 yang disegani di Kota Medan.*
- Sekilas Perjalanan Sukarno ke Venezuela
OPERASI militer Amerika Serikat yang melancarkan serangan udara ke Venezuela lantas menculik Presiden Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores pada Sabtu (3/1/2026) menggegerkan dunia internasional. Termasuk Indonesia yang mengkhawatirkan para Warga Negara Indonesia (WNI) di negeri dengan cadangan minyak bumi terbesar di dunia itu. Dalam pernyataannya sehari pasca-penculikan Presiden Maduro, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan keprihatinannya atas tindakan yang melibatkan penggunaan kekuatan militer di Venezuela. “Indonesia menyerukan kepada semua pihak agar mengendepankan dialog dan menahan diri, serta mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan hukum humaniter internasional khususnya perlindungan terhadap warga sipil, yang keselamatan dan kondisinya harus tetap menjadi prioritas utama,” demikian pernyataan Kemlu dalam utas di akun resmi X-nya, @Kemlu_RI , Minggu (4/1/2026). Hampir sepekan berlalu, situasi di Venezuela memang mulai berangsur pulih. Wakil Presiden Delcy Rodríguez sudah ditetapkan sebagai pelaksana tugas (Plt.) presiden Venezuela. Kendati begitu, Kemlu RI tetap memantau dan secara intensif berhubungan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Caracas, termasuk memantau keadaan 37 WNI yang ada di Venezuela. Kemlu juga sudah menyiapkan protokol evakuasi dan rencana evakuasi seandainya konflik bereskalasi lagi. “KBRI Caracas secara intensif juga berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memantau perkembangan situasi terkini. KBRI Caracas juga sudah mengaktifkan alat komunikasi cadangan in case terjadi black out (kembali). Kita sudah menyiapkan perangkat radio, telefon satelit, dan juga perangkat Starlink, untuk memastikan komunikasi dengan (pemerintah) pusat tidak terputus,” ujar Plt. Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah di gedung Kemlu, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026). Indonesia sendiri sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Venezuela sejak 1959. Diawali dari kunjungan singkat Presiden Sukarno ke negeri itu pada tahun tersebut. Ajakan Membuka Hubungan Diplomatik Bandara Aeropuerto Internacional de Maiquetía (kini Bandara Aeropuerto Internacional Simón Bolívar) di ibukota Caracas pagi, 27 Mei 1959, itu lebih sibuk dari biasanya. Ada banyak pejabat Venezuela dan satu batalion korps Infantería de Marina (Korps Marinir Venezuela) berjaga-jaga. Hari itu Venezuela kedatangan tamu negara dari jauh. Presiden Sukarno dari Indonesia tiba untuk singgah sesaat selepas kunjungannya dari Argentina. Kunjungan itu merupakan tambahan dari agenda tur singkat Presiden Sukarno ke Amerika Selatan. Sukarno jadi presiden pertama dari negara Asia yang mampir ke kawasan itu, untuk membawa pesan persahabatan dari rakyat Indonesia sekaligus merintis hubungan diplomatik. Lawatan Sukarno ke Amerika Selatan sejak Maret 1959 dilakukan usai rangkaian kunjungannya ke Eropa. Dalam turnya menggunakan pesawat carteran Boeing 707 milik maskapai Pan American (Pan Am) Airways itu, sejumlah menteri seperti Menteri Luar Negeri (Menlu) Dr. Soebandrio diajak pula. Sebelumnya, Presiden Sukarno bertandang ke Buenos Aires, Argentina. Pemerintah Argentina sampai harus mengerahkan sembilan pesawat jet tempur Gloster Meteor Fuerza Aérea Argentina (Angkatan Udara Argentina) demi memperkuat pengamanan menjelang pesawat Sukarno mendarat di Bandara Internasional Ezeiza (kini Bandara Internasional Ministro Pistarini). Kala itu, kondisi politik di ibukota tengah bergolak. “Kendaraan-kendaraan bus juga dibakar oleh para demonstran, berpuluh orang luka-luka dan pusat perdagangan di kota menjadi sepi. Pihak polisi mempergunakan beratus-ratus bom gas air (mata) untuk membubarkan demonstran-demonstran tersebut yang berusaha hendak mendekati gedung Negara di mana Presiden (Arturo) Frondizi hendak menerima kunjungan Presiden Sukarno,” tulis suratkabar Harian Umum , 23 Mei 1959. Dari Argentina, agenda resmi Sukarno dijadwalkan ke Meksiko. Namun sebelum ke Meksiko, Sukarno memilih singgah selama sehari di Caracas, Venezuela. Presiden Sukarno saat disambut barisan kehormatan ketika berkunjung ke Argentina ( kemlu.go.id ) Di Bandara Maiquetía, Presiden Sukarno dan delegasi disambut langsung oleh Presiden Venezuela Rómulo Betancourt. Kedatangannya disambut pula barisan pengawalan dan kehormatan dari 250 personel Marinir Venezuela pimpinan Mayor Felipe Testamarck. “Di Maiquetía ia (Presiden Betancourt) didampingi Menteri Luar Negeri Ignacio Luis Arcaya. Betancourt dan Sukarno turut menginspeksi satu batalyon barisan kehormatan Marinir. Lalu dilanjutkan tur sepanjang jalur pantai dengan mobil sebelum mengadakan pertemuan tertutup,” ungkap Eladio Rodulfo González dalam Rómulo Betancourt: Más de Medio Siglo de Historia . Dari Bandara Maiquetía, Presiden Betancourt mendampingi Sukarno menuju pusat kota melewati jalur-jalur pantai. Sesampainya di istana negara Palacio de Miraflores, Presiden Sukarno menerima sambutan penghormatan lagi dengan tembakan meriam sebanyak 21 kali. “Setelah makan siang dengan Presiden Rumulo Betancourt di Istana Miraflores, kepada pers Sukarno menyatakan harapannya supaya antara Indonesia dan Venzuela selekasnya ada perhubungan diplomatik,” tulis harian Merdeka , 29 Mei 1989. Selepas itu, Presiden Betancourt kembali mengantarkan Sukarno ke bandara. Bersama delegasi, Sukarno pun bertolak ke Meksiko. Selain menyatakan ajakannya dalam menjalin hubungan diplomatik, Sukarno terkesan dengan pencapaian Venezuela yang saat dikunjunginya tengah membangun jembatan terbesar di dunia pada masanya. Jembatan yang dimaksud adalah Jembatan General Rafael Urdaneta. Jembatan sepanjang 8,7 kilometer di atas Danau Maracaibo itu menghubungkan kota Maracaibo dengan kota-kota lain di Venezuela. Pembangunan jembatan tersebut baru rampung dan diresmikan Presiden Betancourt pada 1962. Jembatan itu menginspirasi Sukarno untuk mencanangkan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera melalui Selat Sunda. Ide jembatan di atas Selat Sunda sejatinya sempat digagas tokoh Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Sedyatmo pada 1960. Presiden Sukarno yang tertarik lantas meminta ITB untuk uji desain pada awal 1965. “Kalau Venezuela, negeri kecil bisa juga mengadakan jembatan yang sekarang ini terbesar, sampai sekarang, di dunia. Lho kenapa kita tidak! Untuk keperluan ekonomi kita, untuk kemegahan bangsa kita. Satu jembatan yang lebih besar daripada Venezuela itu antara Jawa dan Sumatera,” seru Sukarno dalam pidatonya dikutip buku Bung Karno dan Islam: Kumpulan Pidato tentang Islam, 1953-1966. Terlepas dari persoalan jembatan, Indonesia-Venezuela akhirnya membuka hubungan diplomatik secara resmi pada 10 Oktober 1959 atau lima bulan pasca-kunjungan Presiden Sukarno. namun KBRI baru dibuka di Caracas pada 1977 dan Kedutaan Venezuela dibuka di Jakarta pada 1981.*
- Sumitro Djojohadikusumo Ingin BNI Jadi Bank Sentral
SUMITRO Djojohadikusumo barangkali orang yang paling jengkel dengan hasil perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di bidang ekonomi. Sebagai pimpinan delegasi Indonesia untuk komisi ekonomi, Sumitro bisa dibilang kalah banyak dari delegasi Belanda. Selain harus membayar utang perang kepada Belanda, pihak Indonesia harus mengizinkan De Javasche Bank (DJB) beroperasi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. “Mengenai peran Bank Sentral, saya menginginkan agar BNI (Bank Negara Indonesia) menjadi Bank Sentral, itu adalah bank kita sendiri,” kenang Sumitro Djojohadikusumo dalam Pelaku Berkisah: Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an suntingan Thee Kian Wie. Dalam KMB, nasib Sumitro justru bertolak belakang dengan koleganya sesama delegasi, Kolonel Tahi Bonar Simatupang yang mengurusi bidang militer dan Angkatan Perang. Simatupang menuai sukses dengan ditetapkannya TNI sebagai tentara Republik Indonesia. Sementara itu, tentara KNIL yang menjadi alat pertahanan di masa kolonial Hindia Belanda mesti angkat kaki setelah perundingan KMB disetujui. Pada konteks itu, Sumitro agaknya “cemburu” pada Simatupang. “Seperti Simatupang yang menginginkan tentara Republik menjadi TNI dan bukan KNIL, begitulah saya menginginkan BNI menjadi Bank Sentral. Simatupang berhasil, sedangkan saya tidak! Betapapun primitifnya TNI, ia adalah tentara kita! Sama juga dengan BNI. Saya merasa, itu adalah bank kita,” beber Sumitro. Seperti KNIL, DJB yang dibentuk pemerintah kolonial telah berperan menjadi bank sentral dan bank sirkulasi sejak masa Hindia Belanda pada 1827. DJB punya banyak cabang di berbagai daerah di Hindia Belanda. Keberadaan cabang-cabang DJB disebabkan perannya selain sebagai bank sirkulasi juga sebagai bank umum. Ia mendistribusikan uang kertas dan menyediakan layanan perbankan kepada masyarakat dan perusahaan. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, peran DJB diambil alih Bank Negara Indonesia (BNI). Meski demikian, sepanjang masa revolusi kemerdekaan, DJB masih beroperasi sebagai agen kekuasaan kolonial, sedangkan BNI sebagai agen perjuangan Republik di bidang ekonomi. Antara tahun 1946–1949, BNI menjalankan tugasnya sebagai bank sentral dan bank sirkulasi di tengah situasi perang. Seperti disebut dalam 20 Tahun Indonesia Merdeka , BNI adalah pemegang kas negara hingga mampu memberi kredit kepada negara sampai jumlah 10 juta ORI (Oeang Republik Indonesia). Cabang-cabang BNI pada permulaan pendiriannya berada di Cirebon, Garut, Purwokerto, Malang, Solo, Madiun, Kediri, Bukittinggi, Kutaraja (Banda Aceh), Pekanbaru, Jambi, dan Sibolga. Pemerintah menugaskan BNI untuk mengatur peredaran ORI sebagai uang kertas pemerintah. Aktivitas BNI sebagai bank sentral dan pengatur sirkulasi ORI terhenti setelah hasil perundingan KMB diratifikasi pada akhir 1949. DJB pun kembali beroperasi. Tujuan ditunjuknya DJB sebagai bank sentral bagi Indonesia agar pembayaran utang pemerintah kepada pemerintah Belanda bisa berjalan lancar satu pintu. Kesepakatan ini menunjukkan dominasi Belanda atas sistem moneter dan perekonomian Indonesia terus berlanjut meskipun Belanda telah mengakui kedaulatan politik Indonesia. Persetujuan KMB terkait posisi DJB membuat Sumitro cukup terpukul. Sebab, BNI dengan segala kekurangan dan kelebihannya merupakan bank yang dipersiapkan oleh pemerintah Indonesia. Dari sudut sentimen pribadi, pendiri BNI adalah Margono Djojohadikusumo yang menjadi presiden direktur pertama, yang tak lain ayah dari Sumitro. Selain itu, keberadaan BNI dalam rentang waktu yang singkat telah mendapat dukungan dari rakyat Indonesia. Menurut Agus Setiawan, dkk. dalam Konferensi Meja Bundar: Jalan Menuju Terbentuknya Bank Sentral Republik Indonesia , berbagai program pemerintah Indonesia melalui BNI dan Departemen Keuangan selama masa revolusi senantiasa mendapat tanggapan positif dan dukungan nyata dari rakyat dalam upaya membendung manuver moneter NICA. Hal tersebut mengungkapkan kebanggaan dan jiwa nasionalisme rakyat Indonesia dalam mendukung perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan. Nilai-nilai tersebut menjiwai keberadaan BNI kendati secara pengalaman, profesionalisme, dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki, DJB jauh melebihi kapasitas BNI. Setelah persetujuan KMB, BNI tak lagi bertugas mencetak dan mengedarkan uang di wilayah Indonesia. Namun, umur DJB pun tak panjang. Pada 1951, pemerintah Indonesia menasionalisasi DJB yang kemudian melahirkan Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. Sjafruddin Prawiranegara menjadi gubernur BI yang pertama. Sementara itu, BNI beralih menjadi bank umum. Kendati demikian, pada 1950, BNI ditetapkan sebagai bank devisa yang bertugas untuk mendukung kegiatan ekspor dan mempunyai akses langsung terhadap kegiatan transaksi di luar negeri. Dalam perkembangan berikutnya, BNI memainkan peranan penting dalam mendukung Program Benteng. BNI menyediakan kredit kepada para importir nasional untuk menjalankan usaha yang umumnya kekurangan modal. Sumitro Djojohadikusumo saat menjabat menteri perdagangan membidani Program Benteng untuk membangun kelompok pengusaha nasional sebagai kekuatan ekonomi swasta pada 1950-an.*
- Tukang Jahit Jadi Raja
PULUHAN tahun silam, Larantuka pernah menjadi bahan berita yang memilukan Indonesia. Gempa melanda Larantuka dua minggu sebelum Natal, pada 12 Desember 1992. Sekitar 2.500 orang meninggal dunia. Band asal Surabaya yang pecahan dari AKA, yakni menamakan SAS, lalu mengabadikannya lewat lagu apik dengan judul "Larantuka". Belakangan, band asal Surabaya lain yang lebih junior juga membawakan lagu apik tersebut. Terlepas dari gempa tadi, Larantuka punya sejarah menarik. Larantuka adalah salah satu kerajaan Kristen di Indonesia. Kemunculannya punya kaitan dengan pengaruh Portugis yang kuat di sana, meski kemudian Belanda yang mendominasi. Dalam Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Nusa Tenggara Timur, Koehuan dkk. menyebut pada 20 April 1859 Portugis menyerahkan wilayah Flores, termasuk Larantuka, kepada Belanda. Kerajaan Larantuka pernah dipimpin oleh Don Lorenzo Dias Viera Godinho alias Don Lorenzo II. Menurut Karel Steenbrink dalam Catholics in Indonesia, 1808-1942: A Documented History, Belanda tak mengakuinya sebagai raja meski dia tetap dianggap raja oleh rakyatnya. Don Lorenzo II punya pembantu yang masih terhitung sepupu, yakni Louis Balantran de Rosario. Sepupu tersebut adalah putra dari Catherine Diaz Viera Godinho, saudari ayah Don Lorenzo II. Louis diberi jabatan sebagai wakil raja ketika masih muda. Louis muda suatu hari berselisih dengan istrinya. Perselihan itu memicu sebuah bedil menyalak. Bedil yang menyalak itu melukai istrinya hingga meninggal. Koran Algemeene Handelsblad tanggal 12 September 1904 memberitakan, Louis kemudian dihukum atas tindakannya itu dengan diasingkan di Kupang. Louis kembali ke Larantuka usai menjalani hukuman. Dia lalu menjadi tukang jahit. Langganannya para pejabat setempat. Pada pertengahan 1904, Don Lorenzo II dianggap Belanda sebagai biang kerok kerusuhan. Pemerintah kolonial lalu menangkapnya. “Pada tanggal 1 Juli, saya mengirim Raja Larantuka Don Lorenzo sebagai tahanan ke Kupang,” kata residen Timor di koran Het Vaderland tanggal 29 Agustus 1904. Don Lorenzo II tak hanya ditahan di Kupang tapi juga dibuang ke Yogyakarta. Anaknya, Servus Dias Viera Godinho, juga ikut ke Jawa dan dididik secara kristen di sana. Dia pernah bersekolah di Surabaya. Kekosongan kekuasaan itu membuat Louis harus berhenti menjadi tukang jahit. Maka dilantiklah Louis menjadi raja Larantuka. Dia lalu dikenal sebagai Don Louis. Sulit bagi raja di wilayah Hindia Belanda menolak kuasa dari pemerintah kolonial. Seperti nyaris kebanyakan raja lain di masanya, Don Louis pun menandatangani Korte Verklaring (Kontrak Pendek) yang menguatkan kuasa pemerintah kolonial. Kekuasaan Belanda di Larantuka pun menjadi lebih kuat. Namun, raja yang mantan tahanan dan tukang jahit itu tidak lama bertakhta. Pada 1906 dia meninggal dunia dan digantikan Joan Balantran de Rosario. Pada 1910, Don Lorenzo II di Yogyakarta meninggal dunia. Sementara, Joan juga tak lama memerintah, hanya memerintah hingga 1912 . Maka putra Don Lorenzo, Johannes Servus, kemudian naik menjadi raja. Seperti Don Louis, Don Servus pun menandatangani kontrak yang sama, demi menjaga dominasi pemerintah Hindia Belanda di sana. Namun orang-orang Belanda yang membatasi kekuasaan Don Servus masih mengeluhkan dirinya. Het Vaderland tanggal 10 Februari 1915 menyebut dirinya pemabuk dan gemar mencari hiburan dari perempuan. Orang Belanda merasa aneh dengan pria yang dididik misi Kristen namun dekat dengan dunia maksiat. Dia menjadi raja pada usia 21 tahun dan dianggap tidak cakap dan tidak berprinsip.*
- Awal Mula Kemunculan Permainan Scrabble
PERTUMBUHAN ekonomi Amerika Serikat yang begitu pesat di sepanjang tahun 1920-an mendorong banyak orang mengalihkan tabungan ke saham. Kala itu, harga saham meningkat lebih dari empat kali lipat dari titik terendah pada 1921 hingga puncaknya pada Agustus 1929. Tak hanya orang-orang dari kalangan atas, para pekerja biasa dari golongan kelas menengah juga meramaikan pasar saham yang berpusat di New York Exchange, Wall Street, New York City. Namun , kemakmuran yang dirasakan orang-orang Amerika di dekade 1920-an berujung pada krisis ekonomi yang dikenal dengan The Great Depression atau Depresi Besar . Disebut sebagai krisis ekonomi terburuk dalam sejarah modern, Depresi Besar melanda Amerika dari tahun 1929 hingga awal Perang Dunia II pada 1939. Gelombang PHK terjadi di mana-mana . S alah satu yang terdampak PHK adalah Alfred Mosher Butts, pekerja di sebuah firma arsitektur di New York City.
- Elvis Menyanyi Dangdut
PERNAH suatu masa celana cutbrai menjadi tren. Pedangdut Achmad Rafiq, yang meninggal 19 Januari lalu, didaulat sebagai orang yang mempopulerkannya. Dia memboyong goyang pinggul dan gaya kostum mencolok ke dangdut bersama celana panjang cutbrai khas yang dikenal sebagai “celana A. Rafiq.” Orang datang ke penjahit cukup bilang, “Tolong jahitin celana A. Rafiq. Orang (penjahit) sudah tahu. Itu tidak bisa hilang dalam sejarah,” kata A. Rafiq kepada Andrew N. Weintraub dalam Dangdut Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia.






















