top of page

Hasil pencarian

9726 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cara Penduduk Batavia Melindungi Diri dari Penyakit

    BATAVIA pernah termasyhur sebagai Koningin van het Oosten atau Ratu dari Timur karena keindahannya yang memesona para pelancong maupun penduduk kota pada abad ke-18. Namun, Batavia kemudiandijuluki Graf der Hollanders atau kuburan orang Belanda. Pengarang asal Amerika Serikat, Willard A. Hanna dalam Hikayat Jakarta menulis bahwa pada puncak kejayaannya, Batavia justru mengalami kemerosotan. “Batavia pada abad ke-17 memang bukan merupakan daerah yang sehat, tetapi pada abad ke-18 mulai kelihatan sebagai tempat menyimpan mayat atau tulang-tulang (rumah mayat),” tulis Hanna.

  • Ambisi Jan Pieterszoon Coen Membangun Koloni di Batavia

    SELAIN mendirikan berbagai bangunan dan infrastruktur, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen menyadari bahwa Batavia yang ia bangun usai menghancurkan kota Jayakarta, juga memerlukan warga yang akan menghuni kota. Oleh karena itu, Coen mengajukan ide kolonisasi Eropa untuk Batavia. Peneliti dan akademisi Susan Blackburn menulis dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun, menurut Coen hal itu merupakan cara terbaik mendapatkan penduduk yang setia dan terampil serta dapat melakukan pekerjaan penting seperti akuntansi dan pembangunan kapal untuk VOC. Tak hanya itu, para penduduk Eropa di Batavia nantinya juga dapat bertindak sebagai garnisun lokal sehingga VOC dapat menghemat pengeluaran untuk pertahanan. Namun, gagasan Coen terkait koloni Eropa di Batavia tak menarik minat penduduk di Eropa. “Sedikit sekali orang Eropa yang ingin datang ke Batavia, sedangkan yang sudah ada di sana, mayoritas adalah ‘sampah masyarakat’ dalam pandangannya,” tulis Susan.

  • Batavia Selain Jakarta

    JAN Pieterszoon Coen dan pasukannya berhasil merebut kota Jayakarta pada 30 Mei 1619. Gubernur jenderal VOC ini segera membangun kota berbenteng yang kemudian dikenal dengan nama Batavia. Mulanya Coen ingin memberi nama Nieuw Hoorn untuk mengenang kota kelahirannya, Hoorn di Belanda. “Tetapi usul ini tidak digubris oleh para petinggi VOC di Amsterdam, yaitu De Heeren Seventien. Bahkan mereka lebih suka mengesahkan nama Batavia bagi kota yang baru didirikan Coen ini,” tulis Mona Lohanda, sejarawan dan arsiparis, dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Dalam buku Sedjarah Pemerintahan Kota Djakarta terbitan Kotapradja Djakarta Raya disebutkan nama Batavia telah diumumkan oleh Pieter Van Raay, pimpinan benteng, pada 12 Maret 1619. Nama Batavia dipakai untuk mengingatkan kepada Batavieren atau Bataven , yaitu orang-orang dari suku bangsa Jerman yang mula-mula menduduki dan menetap di Belanda. Mereka adalah nenek moyang bangsa Belanda. Pucuk pimpinan VOC di Belanda sudah sejak 31 Oktober 1617 memerintahkan gubernur jenderal dan Raad (dewan) agar tempat-tempat kedudukan VOC dinamai Batavia sebagai simbol dari bangsa Belanda.

  • Ketika Wabah Kusta Melanda Batavia

    PENDUDUK Batavia pada masa-masa awal kota ini berdiri abad ke-17 menghadapi beragam ancaman. Selain peperangan dengan penguasa-penguasa lokal dan kejahatan di luar tembok kota, mereka juga menghadapi ancaman yang tak kalah mengerikan, yaitu wabah penyakit, salah satunya kusta. Penyakit ini menyebar dengan cepat hingga memicu kepanikan di kalangan penduduk. Jumlah korban yang terus bertambah mendorong didirikannya sebuah rumah khusus tahun 1666 untuk memisahkan mereka dari penduduk yang sehat. Joan Nieuhofs, pegawai VOC yang bermukim di Batavia pada 1660-an, mencatat dalam bukunya Gedenkwaerdige zee en Lantreize door de Voornaemste Landschappen van West en Oostindien , rumah yang berada di sepanjang jalan Angke itu dinamai Lazarus Huis . Di sana, orang yang terjangkit penyakit kusta dirawat dengan makanan, minuman, dan obat-obatan untuk disembuhkan semampunya. “Rumah ini diawasi dan dikelola oleh beberapa patriot tua dan terhormat,” tulis Nieuhofs.

  • Ambisi van Goens Membangun Batavia Baru di Ceylon

    KEMBALINYA Rijcklof van Goens ke Hindia Timur setelah bertemu dengan Dewan Tujuhbelas atau Heeren Zeventien di Belanda pada 1650-an membuka kesempatan untuk mewujudkan visinya mengenai imperium VOC di Asia, yaitu mengusir Portugis dari Ceylon dan menguasai wilayah tersebut. Di hadapan para direktur VOC, van Goens menjelaskan dengan menguasai Ceylon, kompeni dapat memberlakukan kebijakan monopoli kayu manis yang menguntungkan VOC. Menurut Kerry Ward dalam Networks of Empire: Forced Migration in the Dutch East India Company , ambisi van Goens menguasai wilayah Ceylon juga didasarkan pada keinginannya membangun markas besar baru bagi VOC yang sebelumnya berpusat di Batavia. Melalui rencananya itu, van Goens ingin menjadikan Ceylon sebagai pusat perdagangan tandingan bagi Batavia.

  • Membaca Karya-karya Sontoloyo

    PADA 1975, diadakan pameran lukisan dalam rangka pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang baru berdiri. Gubernur Ali Sadikin yang meninjau kesiapan pameran, tiba-tiba berhenti di depan sebuah lukisan karya Srihadi Soedarsono. Lukisan Srihadi menampilkan sebuah air mancur yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Gedung-gedung itu juga dipenuhi tulisan Hitachi, Toshiba, Banzai, Toyota, Sony, Dai Nippon, hingga Bakero. Lukisan yang diberi judul “Air Mancar” dan dibuat pada tahun 1973 itu menampilkan wajah ibu kota yang semrawut.

  • Asal Usul Kata Sontoloyo

    DALAM acara pembagian sertifikat lahan di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (23/10/2018), Presiden Joko Widodo menyebut “politikus sontoloyo” untuk cara-cara politik yang tidak beradab, tidak beretika, tidak bertata krama Indonesia. Cara-cara politik adu domba, memfitnah, memecah belah hanya untuk merebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Kata “sontoloyo” pun ramai diperbincangkan di media sosial. Lema ini mengingatkan pada tulisan Sukarno berjudul “Islam Sontoloyo” di Majalah Pandji Islam pada 1940. Tulisan itu lahir setelah Sukarno membaca berita kriminal di suratkabar Pemandangan , 8 April 1940. Berita itu tentang seorang guru agama yang dijebloskan ke penjara karena memperkosa salah seorang muridnya. Melalui tulisannya, Sukarno menegaskan bahwa guru agama itu sontoloyo, bukan Islamnya yang sontoloyo.

  • Nama Batavia Diresmikan

    PADA 4 Maret 1621, para direktur Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) meresmikan nama Batavia untuk benteng yang didirikan Gubernur Jenderal Jan Pietezoon Coen di dekat muara sungai Ciliwung. Coen mendirikan benteng itu pada 1617. Ketika Inggris datang pada 1618, Coen pergi ke Banda, Maluku, untuk mencari bantuan. Sementara anak buahnya berusaha menahan serangan Inggris yang bersekutu dengan Pangeran Jayawikarta. Menurut Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia , benteng Belanda itu selamat bukan karena kepahlawanan orang-orang yang mempertahankannya melainkan karena Inggris maupun Pangeran Jayawikarta masing-masing ingin menguasai benteng itu. Sementara Sultan Banten tidak mau membiarkan salah satu dari mereka memilikinya.

  • Nawaksara Ditolak, Terbit TAP MPRS XXXIII/1967

    SILATURAHMI kebangsaan yang dihadiri Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri dan perwakilan keluarga Presiden RI ke-1 Sukarno dihelat pimpinan MPR RI hari ini, Senin, 9 September 2024. Selain Megawati, hadir pula di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara V MPR/DPR/DPD RI itu Guntur Soekarnoputra sebagai perwakilan keluarga Bung Karno. Dalam pertemuan itu, Ketua MPR Bambang Soesatyo bersama pimpinan MPR lain menyerahkan surat pimpinan MPR tentang dicabutnya TAP MPRS Nomor 33/MPRS/1966. TAP MPRS Nomor 33 produk hukum yang mengakhiri kekuasan Sukarno sebagai presiden. Ia merupakan "kunci penyelesaian" kemelut politik tanah air yang membara sejak G30S meletus tahun 1965.

  • Coolen and Christianity in Java

    One day, two centuries ago, a Javanese commoner came to an elderly man of mixed Javanese-European descent in the village of Ngoro, Mojokerto. Singotaruno (Singo Stroeno), the Javanese commoner, had a riddle that had been passed down from his father. He then asked Coenrad Laurens Coolen (1773-1873), known as Mbah Coolen, a respected elderly man, about the riddle. “Sir, I have a riddle; whoever solves it for me, I will follow them, and I will accept their words unconditionally. The riddle goes as follows: ‘Within God there is God; this deepest God, what is His name?’” said Singotaruno.

  • Peternak Babi Pergi Gerilya

    CINLOK (Cinta lokasi), kata orang sekarang. Begitulah yang dialami serdadu muda dari Belanda bernama Anton Frederik Kokkelink saat ditugaskan ke Jawa. Dia terlibat hubungan asmara dengan Elisabeth Steiginga.   Namun di saat gejolak asmara muda-mudi itu tengah di puncak, keduanya mesti berpisah. Anton balik ke negaranya pada 1913. Elisabeth yang sedang hamil pun ditinggal di Jawa. Tanpa pernikahan, Elisabeth pada 17 Juni 1913 melahirkan Mauritz Christiaan di Ambarawa.

  • Buruh Sritex dari Timor Leste

    PERUSAHAAN tekstil Sritex (PT Sri Rejeki Isman Tbk.) dan tiga anak perusahaannya dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang pada 24 Oktober 2024. Sekitar 50.000 buruh terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan empat menteri untuk menyelamatkan buruh Sritex. Sritex didirikan oleh Loo Kie Hian atau H.M. Lukminto yang berawal dari UD Sri Redjeki, kios di pasar Klewer yang berdagang tekstil sejak tahun 1966. Pada 1980, UD Sri Redjeki berubah menjadi PT Sritex yang berkantor pusat di Sukoharjo, Jawa Tengah. Pabrik pertama Sritex diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 2 Maret 1992. Sritex berkembang pesat hingga menjadi pabrik tekstil terbesar di Asia Tenggara. Kesuksesan ini tak lepas dari dukungan penguasa Orde Baru. Pemegang sahamnya adalah Menteri Penerangan Harmoko, teman kecil Lukminto, dan keluarga Cendana, yaitu Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut, putri Presiden Soeharto, serta Angkatan Darat. Oleh karena itu, Sritex dengan mudah mendapatkan pesanan dari pemerintah. Pabrik garmen ini memproduksi baju militer, kepolisian, Korpri, dan atribut Partai Golkar yang ketuanya Harmoko.

bottom of page